Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kualitas anak adalah cermin kualitas bangsa dan cermin peradaban dunia. Indikator
kesejahteraan suatu masyarakat atau suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari kualitas
hidup anak. Semula perhatian lebih ditujukan kepada daya hidup anak (child Survival)
dibanding kualitas hidup anak (quality of life) yang bersifat lebih integral dan komprehensif .
Pemenuhan gizi yang baik akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas, yaitu sehat, cerdas, dan memiliki fisik yang tangguh serta produktif. Namun saat
ini masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan dunia yang paling serius dan
merupakan kontributor utama kematian anak. Ini semua disebabkan oleh kenyataan bahwa
masalah gizi merupakan faktor dasar dari berbagai masalah kesehatan terutama pada bayi dan
anak-anak. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas anak, gizi harus mendapatkan
perhatian serius dari semua pihak (Anggraini, 2013).
Kualitas yang baik pada anak dapat dilakukan dengan upaya peningkatan kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM) yang harus dilakukan sejak dini, sistematis dan
berkesinambungan. Anak berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat merupakan salah
satu sumber daya manusia bangsa Indonesia yang kualitasnya harus ditingkatkan agar dapat
berperan, tidak hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga sebagai subyek pembangunan.
Keberadaan anak berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat secara nasional maupun
sebarannya pada masing-masing provinsi belum memiliki data yang pasti. Menurut WHO
jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia adalah sekitar 7% dari total jumlah anak usia
0-18 tahun atau sebesar 6.230.000 pada tahun 2007. Anak berkebutuhan khusus adalah anak
yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan
perkembangannya secara wajar, dan anak yang akibat keadaan tertentu mengalami kekerasan,
berada di lembaga permasyarakatan, di jalanan, di daerah terpencil/ bencana/konflik yang
memerlukan penanganan secara khusus (Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,
2010).
Autis dan ADHD atau anak hiperaktif merupakan contoh dari kelainan betumbuhan dan
pekembangan pada anak berkebutuhan khusus yang kasusnya semakin meningkat pada setiap
tahunnya. Anak yang mengalami kelainan seperti autis ini memerlukan perhatian yang
khusus dalam perawatannya terutama pemenuhan gizinya, karena asupan gizi akan
mempunyai pengaruh yang besar dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pada makalah
ini akan dibahas mengenai gizi untuk anak bekebutuhan khusus yang lebih difokuskan pada
anak autis.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana permasalahan autis di Indonesia?
2. Apa saja faktor penyebab autis dan gejala anak yang mengalami autis?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya autisme?
4. Bagaimana kebutuhan gizi untuk anak autis?

C. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan memahami tentang gizi untuk anak autis.
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui gambaran permasalahan autis di Indonesia.
2. Mahasiswa dapat mengetahui faktor penyebab autis dan gejala anak yang
mengalami autis.
3. Mahasiswa dapat memahami mekanisme terjadinya autisme.
4. Mahasiswa dapat mengetahui kebutuhan gizi anak yang mengalami autis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Permasalahan Autis di Indonesia


Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada
seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya
penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan
mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau tidak ada reaksi
sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan
mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya). Autisme adalah
perkembangan kekacauan otak dan gangguan pervasif yang ditandai dengan terganggunya
interaksi sosial, keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa,
perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, gangguan dalam perasaan sensoris,
serta tingkah laku yang berulang-ulang (Saputra, 2012).
Berdasarkan data CDC (Center for Diseases Control and Prevention) pada tahun 2006
menunjukkan peningkatan anak autisme sekitar 60 per 10.000 kelahiran, atau satu diantara
150 penduduk. Di Inggris saat ini perbandingan antara anak normal dan autisme 1:100. Pada
beberapa daerah di Amerika angka ini bisa mencapai satu diantara 100 penduduk. Angka
sebesar ini dapat dikatakan sebagai “wabah”, sehingga di Amerika autisme telah dinyatakan
sebagai national alarming. Berdasarkan data dari Departemen Pendidikan Amerika bahwa
angka peningkatan penyandang autisme di Amerika cukup mengerikan, yaitu sebesar 10%
sampai 17% pertahun. Jumlah penyandang autisme di Amerika saat ini sebanyak 1,5 juta
orang anak. Pada dekade berikut diperkirakan akan terdapat sekitar empat juta penyandang
autisme di Amerika (Saputra, 2012).
Ketua Yayasan Autisme Indonesia menyatakan adanya peningkatan yang luar biasa.
Pada tahun 1988 terdapat 1 dari 10.000 anak terkena autis Tahun 2.000, staf bagian Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak
penyandang autisme di Indonesia. Tahun 2003 penyandang autis 1 dari 1000 anak, tahun
2007 1 dari 166 anak. Pada tahun 2008 rasio anak autis 1 dari 100 anak atau setiap tahunnya
terdapat 9000 anak autis baru, maka di 2012 terjadi peningkatan yang cukup memprihatinkan
dengan jumlah rasio 1 dari 88 orang anak saat ini mengalami autisme. Di Indonesia, pada
2010, jumlah penderita autisme diperkirakan mencapai 2,4 juta orang. Hal itu berdasarkan
data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Pada tahun tersebut jumlah penduduk
Indonesia mencapai 237,5 juta orang dengan laju pertumbuhan 1,14 persen. Jumlah penderita
autisme di Indonesia diperkirakan mengalami penambahan sekitar 500 orang setiap tahun
(Sarianingsih, 2013).
Autisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang komunikasi, interaksi,
serta perilaku yang luas dan berat, dengan gejalanya mulai nampak sebelum anak berusia 3
tahun (Mujiyanti, 2011). Penyebab autis sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun
berdasarkan penelitian, diperkirakan penyebab munculnya gejala autis adalah dari bahan
metabolit sebagai hasil proses metabolism (asam organik) merupakan bahan yang dapat
menggangu fungsi otak dan keadaan tersebut biasanya didahului dengan gangguan
pencernaan dan gangguan perilaku (Mashabi dan Tajudin, 2009; Sofia, 2012). Dewasa ini
terjadi peningkatan jumlah penyandang autisme di dunia pada beberapa tahun terakhir.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Center For Disease Control And Prevention di
Amerika Serikat pada bulan Maret (2013) melaporkan bahwa prevalensi autisme meningkat
menjadi 1:50 dalam kurun waktu setahun terakhir. Hal tersebut bukan hanya terjadi di
negara-negara maju seperti Inggris, Australia, Jerman dan Amerika namun juga terjadi di
negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi autisme di dunia saat ini mencapai 15-20
kasus per 10.000anak atau berkisar 0,15- 0,20%, jika angka kelahiran di Indonesia 6 juta per
tahun maka jumlah penyandang autis di Indonesia bertambah 0,15% atau 6.900 anak per
tahunnya (Pratiwi, 2014; Ramadayanti, 2013; Putra, 2011).
Anak autisme memiliki resiko kekurangan gizi yang diakibatkan oleh beberapa faktor,
antara lain terapi diet ketat, gangguan perilaku makanan (picky eaters) seperti kesulitan
menerima makanan baru dan gerakan menguyah sangat pelan, asupan makan yang terbatas,
pengetahuan gizi orang tua dan pengaruh obat-obatan. Dengan adanya pemberian diet bebas
gluten dan kasein, anak autisme akan terbatas dalam mengkonsumsi makanannya sehari-hari
sehingga makanan yang dikonsumsi tidak bervariasi dan zat gizi makro maupun mikro yang
seharusnya tersedia juga berkurang sehingga akan berdampak pada status gizi anak, salah
satu faktor yang berpengaruh terhadap status gizi anak autisme adalah makanan atau terapi
diet. Dari beberapa jenis diet untuk anak autisme, diet yang umum dilakukan adalah Diet
Gluten Free Casein Free (GFCF). Pada umumnya, orang tua mulai dengan diet tanpa gluten
dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan
kasein. Hal ini tentunya juga berdampak pada status gizi anak autis (Sofia, 2012). Menurut
Pratiwi(2014), sebagian besar anak autis memiliki status gizi normal, namun juga ditemukan
pula anak autis dengan masalah gizi lebih maupun gizi kurang. Beberapa permasalahan
makan pada anak autis diantaranya picky eaters (memilih-milih makanan), kesulitan
menerima makanan baru, dan tantrum (mengamuk). Autisme digolongan menjadi dua jenis
yaitu perilaku eksesif (berlebihan) dan perilaku defisit (berkurangan). Perilaku eksesif atau
sering disebut sifat hiperaktif cenderung memiliki sifat tantrum (mengamuk) seperti menjerit,
mengepak, mengigit, mencakar, memukul dan termasuk juga menyakiti diri sendiri (self
abuse). Sementara perilaku defisit adalah perilaku yang menimbulkan gangguan bicara atau
kurangnya perilaku sosial seperti tertawa dan menangis tanpa sebab serta melamun (Pratiwi,
2013) perilaku autisme dapat ditangani dengan beberapa langkah diantaranya melalui
pengobatan medis, terapi psikologis, tata laksana perilaku, dan terapi pengaturan diet.
Menurut Cermak (2010) anak-anak dengan autisme sering digambarkan sebagai picky eaters
atau selektif dalam pemilihan makanan, menolak untuk mencoba atau makan berbagai
makanan yang baru. Perilaku pilih-pilih makanan tidak jarang terjadi pada anak-anak dalam
masa pertumbuhan baik normal atupun anak autis, pickiness (pilih-pilih makanan) pada anak
dengan gangguan autis mungkin jenis makanannya lebih sedikit karena sudah terbiasa sejak
anak usia dini yang makanannya sudah dibatasi, hal ini menjadi masalah penting karena dapat
berhubungan dengan gizi yang tidak memadai sebagai akibat dari diet yang dibatasi.
Anak autisme sering menolak makan, picky eaters (memilih-milih makanan), kesulitan
menerima makanan baru, tantrum dan gerakan mengunyah sangat pelan. Sebagian besar anak
autisme mempunyai pola makan idiosyncratic dan perilaku makan yang tidak biasa. Hal
tersebut dapat berupa sedikitnya variasi diet, keengganan pada tekstur makanan tertentu atau
sangat suka pada jenis makanan tertentu dan sulit menerima menu makanan baru, pemilihan
jenis makanan yang benar secara tidak langsung akan mempengaruhi status gizi anak
(Ramadayanti, 2013). Picky eater jika didiamkan dapat menyebabkan inadekuasi intake yang
dapat berujung pada terjadinya gangguan pertumbuhan anak. Penelitian Saraswati (2012)
menemukan bahwa anak yang mengalami picky eater lebih berisiko memiliki berat badan
rendah, terutama pada anak usia balita, perilaku picky eater yang tidak diatasi sedini mungkin
bisa menyebabkan anak terbiasa pilih–pilih makanandan bisa menyebabkan anak kekurangan
asupan nutrisi sehingga dapat mempengaruhi status gizinya juga dapat menggambarkan suatu
pola pembatasan makanan yang mungkin dapat berlanjut dan berperan dalam gangguan
perilaku makanan saat dewasa. Penerapan diet bebas gluten dan kasein dianggap dapat
meringankan kondisi anak autisme, namun hal ini dapat dikaitkan dengan risiko kesehatan,
yaitu peningkatan gizi kurang yang dikarenakan bahan makanan anak autis yang sudah
dibatasi sejak kecil harus bebas gluten bebas kasein.
B. Faktor Penyebab dan Gejala Autis
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab dari autis. Para ilmuan masih
mencoba memahami bagaimana dan mengapa autis dapat terjadi. Sebagian ilmuan
berpendapat autisme terjadi karena faktor genetika dan autis terjadi karena adanya problem
kompleks. Sementara Zulaika (2009) menjelaskan beberapa studi lain menduga autism timbul
karena berbagai penyebab,antara lain :
1. Genetis
Alergi banyak diakibatkan oleh protein, dan protein erat kaitannya dengan gen dalam
DNA manusia. Jadi memang erat kaitannya dengan keturunan, adanya gen yang
menyimpang akan mengakibatkan produksi protein yang aneh yang menjadi benda yang
asing, yang akan ditolak oleh tubuh, kondisi mana disebut alergi. Akan tetapi telah
diketahui bahwa alergi turunan tidak selalu berkembang menjadi autoimun. Pada pasien
autis biasanya terjadi autoimun. Yang dimaksud dengan autoimun adalah seseorang
memproduksi kekebalan baru yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri.
Sayangnya jenis kekebalan yang timbul justru merugikan tubuhnya sendiri.
Penderita autis menghasilkan kekebalan justru terhadap zat-zat gizi yang bermanfaat
dan penting untuk tubuh dan kemudian menghancurkanya sendiri sehingga tubuhnya
kekurangan zat gizi esensial. Zat gizi yang diperlukan tidak lagi dapat diserap dan dicerna
oleh tubuh, dan bahkan dimanfaatkan oleh beberapa jenis jamur yang merugikan di
lambung.
2. Akibat pemberian vaksin tertentu
Dalam preparasi vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) digunakan senyawa
pengaktifan vaksin, yaitu thimerosal. Thimerosal mengandung merkuri. Banyak ilmuwan
menduga teknik imunisasi MMR justru menjadi sumber infeksi otak sehingga
meningkatkan terjadinya autisme. Oleh karena itu, hindarkan diri dari vaksin-vaksin yang
masih menggunakan thimerosal atau merkuri sebagai pengawetnya, seperti vaksin MMR.
3. Terpapar racun dari lingkungan
Keracunan logam berat, seperti timbal (Pb), merkuri/raksa (Hg), cadmium (Cd), dan
Stibium (Sb). Kontaminasi logam ini dapat berasal dari polusi udara atau jika
mengkonsumsi ikan dari perairan yang sudah tercemar. Logam berat dapat menyebabkan
enzim DPP-4 tidak berfungsi. Enzim ini berfungsi sebagai pemecah gluten dan kasein.
Hal inilah yang dapat menyebabkan gluten dan kasein tidak tercerna dengan baik dalam
usus.
Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks berhubungan
dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak sebelum usia 3
tahun, bahkan autisme infantile gejalanya sudah ada sejak bayi. Autisme merupakan kesulitan
perkembangan otak yang kompleks dan mempengaruhi banyak fungsi. Tingkah laku anak
yang menderita gangguan autis menurut Zulaika (2009) biasanya ditunjukkan dengan gejala
sebagai berikut.
1. Bermasalah dalam berinteraksi, bermain, dan berhubungan dengan orang lain.
2. Perilaku menghindar dari eye contact serta tidak pernah perduli pada orang-orang yang
ada di sekelilingnya.
3. Tidak pernah benar-benar memperhatikan suatu objek, pada saat dia memerlukan objek
tersebut.
4. Suka melakukan gerakan-gerakan aneh seperti mengepakkan tangan seperti burung,
berputar-putar, atau mengetuk-ngetuk sesuatu.
5. Terjadinya kelambatan pada pertumbuhan dan perkembangannya.
6. Lebih suka bermain dengan satu mainan, hanya itu saja, atau selalu mengulang-ulang
kegiatan yang sama setiap harinya.
7. Tidak mampu menggunakan atau memahami bahasa.
8. Tampak cuek, dan tidak peduli sama sekali dengan segala sesuatu yang ada di
sekelilingnya.
Zulaika menambahkan gejala autis berbeda-beda pada setiap tahapan umur anak. Gejala
yang timbul pada setiap rentangan umur ditandai dengan sebagai berukut.
1. Usia 0-1 tahun
a. Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
b. Terlalu sensitive, cepat terganggu atau terusik
c. Gerakan tangan terlalu berlebihan terutama saat mandi
d. Tidak “babbling” (mengoceh)
e. Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
f. Tidak ada kontak mata di atas 3 bulan
2. Usia 1-2 tahun
a. Kaku bila digendong
b. Tidak mau bermain permainan sederhana
c. Tidak mengeluarkan kata-kata
d. Memperhatikan tangannya sendiri
3. Usia 2-3 tahun
a. Tidak tertarik bersosialisasi dengan anak lain
b. Melihat orang sebagai benda mati
c. Kontak mata terbatas
d. Tertarik dengan benda tertentu
4. Usia 3-4 tahun
a. Sering terdapat ekolalia (membeo)
b. Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
c. Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
d. Menyakiti diri sendiri, misal membenturkan kepala
e. Tentramen agresif

C. Mekanisme Terjadinya Autisme


Biasanya pasien autis mengalami kehilangan kemampuan sistem imunitas sehingga
terjadi inflamatory. Cytokine diproduksi secara berlebihan dalam darah putih, kadarnya
meningkat dan hal itu menyebabkan terjadinya abnormal neurology.
Percobaan telah dilakukan terhadap pengaruh asupan gluten dan kasein ke dalam
makanan yang akan dikonsumsi oleh anak normal dibandingkan dengan anak penderita autis.
Dalam kedua darah anak tersebut dianalisa kandungan cytokine-nya, ternyata kandungan
cytokine dalam darah penderita autis meningkat jauh lebih tinggi daripada darah anak
normal.
Peningkatan cytokine tersebut dapat menjadi penyebab secara genetik yang kelak akan
menyebabkan timbulnya penyakit autisme.
Reaksi Opioid adalah suatu reaksi yang paling merusak. Hal itu biasanya diakibatkan
oleh terjadinya kebocoran usus (leaky guts). Sekitar 50% pasien autis mengalami kebocoran
usus sehingga terjadi ketidakseimbangan flora usus.
Peptida hasil pemecahan gluten atau kasein dikirim ke otak dan kemudian ditangkap
reseptor opioid. Hal ini menyebabkan autisme, kondisi reaksi opioid menyerupai kondisi
seperti baru mengkonsumsi obat-obatan serupa morphin atau heroin.
Pada saat dalam kandungan ternyata penderita autis mengalami peningkatan jumlah
protein dalam darah, yaitu 3X lebih besar dari anak yang kemudian terlahir normal dan
setelah kelahiran terus meningkat hingga mencapai 10X normal. Pada anak normal tidak
terjadi mengalami kenaikan. Peningkatan jumlah protein darah yang abnormal pada penderita
ini dapat mengacaukan proses migrasi sel normal atau bahkan mematikan sel selama masa
perkembangan sistem saraf berlangsung. Perlu diingat bahwa pertumbuhan saraf selama
embrio penting untuk membentuk formasi sistem saraf pusat dan sel otak yang baru.

D. Kebutuhan Gizi Penderita Autis


Pada anak autisme terdapat beberapa jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi, hal
ini disebabkan karena adanya gangguan pada sistem pencernaan anak. Makanan yang
mengandung zat-zat gizi tinggi tidak selamanya dapat dicerna dan diterima oleh anak
penyandang autisme dimana gangguan saluran cerna yang dialami oleh anak autisme antara
lain seperti alergi makanan, intoleransi makanan, intoleransi gluten, intoleransi casein dan
sebagainya. Oleh karena itu anak autisme memerlukan diet khusus sebagai terapi
penyembuhan dan menghindari masalah kekurangan gizi yang berdampak pada
pertumbuhannya secara fisik dan perkembangannya.
1. Faktor penyebab gangguan makan pada anak autisme
Terdapat berbagai macam faktor dapat yang menyebabkan gangguan makan pada
autisme, antisipasi secara dini dapat dilakukan untuk menghindari hal-hal yang dapat
memperparah kondisi pada anak autisme. Menurut Ginting (2004), terdapat beberapa
faktor yang menjadi penyebab terjadinya gangguan makan pada autisme antaralain
sebagai berikut.
a. Gangguan pencernaan protein gluten dan kasein
Gluten adalah protein tepung terigu dan kasein adalah protein susu. Anak
dengan gangguan autisme sering mengalami gangguan mencerna gluten dan kasein.
Menurut P. Deufemia, anak dengan gangguan autisme banyak mengalami leaky guts
(kebocoran usus). Pada usus yang normal sejumlah kecil peptida dapat juga merembes
ke aliran darah, tetapi sistem imun tubuh dapat segera mengatasinya. Peptida berasal
dari gluten (gluteomorphin) dan peptida kasein (caseomorphin) yang tidak tercerna
sempurna, bersama aliran darah masuk ke otak lalu ke reseptor “opioid”. Peningkatan
aktivitas opioid akan menyebabkan gangguan susunan saraf pusat dan dapat
berpengaruh terhadap persepsi, emosi, perilaku dan sensitivitas. Opioid adalah zat
yang bekerjanya mirip morphine dan secara alami dikenal sebagai “beta endorphin”.
Endorphin adalah penekan/pengurang rasa sakit yang secara alami diproduksi
oleh tubuh. Pada anak dengan gangguan autisme, kadang-kadang endorphin bekerja
terlalu jauh dalam menekan rasa sakit sehingga anak akan tahan terhadap rasa sakit
yang berlebihan. Menurut ilmuwan Christopher Gillberg, pada anak autisme, kadar
zat semacam endorphin pada otak meningkat sehingga dapat menyebabkan gangguan
pada fungsi otak. Dari beberapa penelitian pemberian diet tanpa gluten dan kasein
ternyata memberikan respon yang baik terhadap 81% anak autisme.
b. Infeksi Jamur/yeast
Dalam usus terdapat berbagai jenis mikroorganisme misalnya bakteri dan jamur,
yang hidup berdampingan tanpa mengganggu kesehatan. Yeast yang dimaksud di sini
adalah sejenis jamur, berupa organisme bersel tunggal yang hidup pada permukaan
buah, sayuran, butir/bulir, kulit, dan usus. Candida albican adalah sejenis yeast yang
hidup dalam saluran cerna, yang dalam keadaan normal tidak mengganggu kesehatan.
Apabila keseimbangan dengan mikroorganisme lain terganggu, maka salah satu akan
tumbuh berlebihan dan dapat menyebabkan penyakit. Pemberian antibiotika seperti
amoxicillin, ampicillin, tetracycline, keflex yang terlalu lama dan sering akan
menyebabkan bakteri baik (lactobacillus) akan ikut terbunuh sehingga akan
mengganggu kesehatan. Antibiotik tidak membunuh candida, akibatnya jamur akan
tumbuh subur dan dapat mengeluarkan racun yang melemahkan sistem imun tubuh
sehingga mudah terjadi infeksi.
c. Alergi terhadap makanan
Intoleransi makanan merupakan reaksi negatif terhadap makanan dan
menimbulkan beberapa gejala, namun tidak melibatkan sistem imun tubuh. Intoleransi
makanan disebabkan kekurangan enzim untuk mencerna zat tertentu dalam makanan.
Misalnya toleransi susu dapat diakibatkan kekurangan enzim laktase yaitu enzim yang
memecah laktosa (gula susu). Makanan yang sering menimbulkan reaksi intoleransi
adalah susu, telur, gandum, dan kacang-kacangan, serupa dengan makanan yang dapat
menyebabkan masalah pada anak autisme. Untuk mendiagnosa alergi dan intoleransi
makanan tertentu, orangtua sering mengalami kesulitan karena reaksi dapat terjadi
segera atau sampai 72 jam setelah makan.
d. Keracunan logam berat
Logam berat merupakan racun keras terhadap susunan saraf pusat, terutama pada
anak karena metabolismenya lebih cepat. Keracunan logam berat juga dapat
menyebabkan masalah pada sistem organ tubuh. Misalnya, keracunan merkuri dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan sel-sel imun dalam tubuh, mengganggu respon
imun terhadap makanan, dan dapat mengakibatkan kekurangan seng dan selenium.
2. Penanganan gangguan makanan pada autis
Melakukan koreksi diet dan makanan dapat memberikan perbaikan yang sangat
signifikan dari penyakit autisme ini. Sebagaimana diketahui gejala dari autisme sangat
beragam, demikian juga pemicu dari penyakit ini, oleh karena itu pedoman diet bagi anak
autisme juga sangat bervariasi dan bersifat individu. Terapi diet harus disesuaikan dengan
gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh diet untuk anak autisme
menurut Zulaika (2009).
a. Diet tanpa gluten dan kasein
Gluten merupakan 80% campuran protein dari gliadin dan glutelin. Gluten
menyebabkan penyakit intoleransi terhadap gluten (celiac disease). Kondisi tersebut
ditandai dengan terjadinya radang mukosa usus halus sehingga mukosa tidak dapat
berfungsi secara normal.
Gluten terdapat pada komoditi pangan, seperti gandum, gandum hitam, dan barley.
Untuk menghindari konsumsi gluten dapat mengkonsumsi produk lain yang berasal dari
beras, jagung, oat, kedelai, serta biji bunga matahari.
Kasein merupakan komponen protein dalam susu. Dua jenis protein susu, yaitu kasein
yang terdapat dalam susu (bahan pembentuk keju) dan whey protein yang terdapat dalam
cairan whey (limbah keju).
Dalam kasein terdapat dua kelompok varian, yaitu kasein A (A1 dan A2) dan B.
Varian A1 yang sering mendatangkan banyak masalah, yaitu penyebab sudden infant
death syndrome; Ishemic heart disease, dan autisme.
Namun demikian perlu disampaikan bahwa pasien autis yang telah melakukan Diet
Gluten free atau Casein free dilaporkan berhasil dan menunjukkan kemajuan yang positif
bagi anak-anak penderita autisme.
Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam gandum/terigu,
havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu
dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang sehat,
mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu
timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok
orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Perbaikan/penurunan gejala
autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu.
Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet
tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya.
Makanan yang dihindari adalah:
1) Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat
dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-kue, cake, biscuit, kue kering,
pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya.
2) Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus
lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan
campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya.
3) Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju,
mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu.
4) Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget,
hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak
dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe
menggunakan fermentasi ragi.
5) Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.
Makanan yang dianjurkan adalah:
1) Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras,
singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan
sebagainya.
2) Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu
kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi,
tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan
kacang-kacangan lainnya.
3) Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat,
wortel, timun, dan sebagainya.
4) Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk,
semangka, dan sebagainya.
b. Diet Anti-yeast/ragi/jamur
Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka
makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur. Makanan yang perlu
dihindari adalah :
1) Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan
yeast.
2) Semua jenis keju.
3) Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-
lain.
4) Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium
glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau
makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing.
5) Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan
lain-lain.
6) Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain.
7) Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang
manis.
8) Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat
pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.
Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 1-2 minggu. Setelah itu, untuk
mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala, berarti
dapat dikonsumsi. Makanan yang dianjurkan adalah :
1) Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung,
dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung
terigu.
2) Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang
segar.
3) Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang
kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak
dianjurkan karena sering berjamur.
4) Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang
kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang,
kangkung, tomat, dan lain-lain.
5) Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas.
c. Diet untuk alergi dan inteloransi makanan
Anak autisme umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering
menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, coklat, gandum/terigu, dan bisa lebih
banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan,
pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga
menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi
terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan.
Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak,
makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, R.R. 2013. Persepsi Orang Tua terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (AKB).
(online) (http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu)
Anonim. http://eprints.ums.ac.id/43909/1/2%20BAB%20I.pdf diakses pada tanggal 9
September 2018 pukul 14.36 WITA.
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2010. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak
Di Sekolah Luar Biasa Bagi Petugas Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI. Bakti
Husada.
Ginting, S.A., Ariani, A., Sembiring, T.. 2004. Terapi Diet pada Autisme. Jurnal Sari
Pediatri. Vol. 6, No. 1, Juni 2004: 47-51.
Mashabi, N.A. 2009. Hubungan Antara pengetahuan gizi ibu dengan pola makan anak autis.
Makara, Kesehatan, Vol. 13, No. 2, Desember 2009: 84-8.
Saputra, A.N. 2012. Makalah Autisme. (online) (http://makalahkeperawatan.word-
press.com/about/)
Sarianingsih, C. 2013. Laju Perkembangan Autisme di Indonesia Terus Meningkat (online)
(http://lintasfakta.com)
Zulaika, S. 2009. Autisme dan Peran Pangan. (online)(http://digilib.unimus.ac.id/files/disk
1/148/jtptunimus-gdl-sitizulaik-7384-3-babii.pdf)
F.G. Winarno., Agustinah, Widya. 2008. Pangan dan Autisme. (online)(
www.academia.edu/8894118/PANGAN_dan_AUTISME) diakses pada tanggal 9
September 2018 pukul 14.36 WITA.