Anda di halaman 1dari 7

ARSITEKTUR KRISTEN AWAL

GEREJA diperkirakan berasal dari bahasa Spanyol yaitu igreya. Sebutan gereja di Indonesia sudah
demikian akrab dan menjadi identitas untuk bangunan suci bagi umat kristiani. Bangunan gereja dalam
imajinasi penulis adalah bangunan yang sangat konsisten dan cermat dalam mentransformasikan simbol
salib ke dalam bentuk horisontal (denah) maupun vertikal (tampak). Dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di dunia, bangunan gereja bukan hanya sebuah perlambang, namun
merupakan karya arsitektur sekaligus seni yang mewakili peradabannya.

Awal arsitektur Kristen dimulai pada sekitar 313 - 800 Masehi dan berkembang serta menonjol di
dataran Itali, kemudian merambah sampai ke wilayah Balkan dan Yunani. Kesulitan utama ketika itu
adalah memperoleh bangunan tempat ibadah, dikarenakan belum adanya catatan tentang persyaratan
maupun peraturan tentang bangunan gereja. Dari berbagai pertimbangan kriteria yang paling
menentukan rupanya adalah bangunan yang dapat menampung banyak orang.

Gedung Basilica merupakan bangunan peninggalan arsitektur Romawi yang ketika itu berfungsi sebagai
bangunan pengadilan, dipilih dan diputuskan sebagai bangunan gereja.

Bentuk dasar denah Basilica adalah segaris (linier) yang berbasis pada tiga ruang yaitu tengah (utama)
dan dua ruang samping yang mengapitnya. Pola ruang ini dengan jelas menampilkan interaksi antara
umat dengan imamnya -- sama dengan yang terjadi pada ruang pengadilan ataupun ruang kelas.

Gedung Basilica yang diadopsi untuk kepentingan peribadahan ketika itu merupakan peralihan fungsi
pengadilan masa Romawi, sehingga para pakar menyebutkan bahwa masa awal arsitektur Kristen adalah
perakitan arsitektur Romawi. Nilai-nilai kesombongan yang ditampilkan melalui skala bangunan di luar
skala manusia untuk berbagai fungsi bangunan ketika masa Romawi sangat tepat bagi peruntukan
gereja yang mengedepankan skala Tuhan yang agung, sakral, suci, magis, dan religius. Untuk menambah
kesan tersebut, oleh para arsitek masa itu interior bangunannya dilengkapi dengan dekorasi berupa
hiasan ornamen atau gambar tentang ceria tokoh/pemuka agamanya. Beberapa bangunan gereja yang
sangat terkenal ketika masa awal Arsitektur Kristen adalah S. Clemente, S. Appolinare, dan S. Petrus.

PENGARUH-PENGARUH

Perjalanan selanjutnya dari bangunan gereja setelah masa arsitektur Kristen awal diwarnai pengaruh
arsitektur Byzantium. Pengaruh yang mengedepan adalah adanya warna Asia berupa bentuk-bentuk
lengkung, busur, kubah, maupun dinding-dinding masif. Ciri dari pengaruh Byzantium pada bangunan
gereja adalah penggunaan dekorasi berupa fresco (teknik lukis cat air pada dinding basah), mozaik,
ataupun marmer pada ruang dalamnya. Ciri lainnya yang menjadi identitas dan pengenal utama,
digunakannya atap kubah dengan konstruksi pendentive.

Beberapa contoh yang sangat terkenal di dunia untuk karya Byzantium adalah Gereja S. Sophia di
Konstantinopel, Gereja S. Vitale di Ravena, dan Gereja S. Minerva Medica di Roma. Ketiga gereja ini
menggunakan bentuk dasar denah Salib Yunani (lengan atau transept-nya sama panjang) dengan
berbagai variasi setelah melampaui era arsitektur Byzantium bangunan gereja mengalir
perkembangannya ke era arsitektur Romanika yang berlangsung sekitar abad IX-XII. Ketika masa ini
berlangsung, arsitektur Byzantium masih memiliki peran yang sangat kuat. Terlebih lagi ketika itu
daerah-daerah yang dikuasai Roma melepaskan diri. Akibatnya, tradisi masing-masing daerah bangkit
kembali mewarnai corak dan ragam arsitekturnya. Menguatnya tradisi setempat ditimpali dengan
dibukanya jalur perdagangan laut dan darat ketika itu di Venesia, Ravenna, dan Marseilles. Ini berakibat
makin maraknya lintas budaya dengan berbagai pengaruhnya yang akhirnya bermuara pada
perkembangan arsitekturnya.

Bentuk dasar denah dengan patrun Salib Romawi merupakan identitas yang lahir dan berkembang pada
era Romanika. Citra lainnya yang menjadi identitas dari masa keemasan arsitektur Romanika adalah
adanya menara lonceng pada bagian depan maupun pada ujung bangunan, dekorasi hanya pada bagian
tampak depan saja, dan mulai diperkenalkannya penggunaan kolom majemuk. Arsitektur Romanika
berkembang dengan pesat di wilayah Itali, Perancis, dan Jerman. Karya yang menonjol dan terkenal
sampai dengan saat ini adalah S. Peter Roma di Itali.

SENI DAN ARSITEKTUR

Dengan semakin dekatnya unsur negara dan gereja, maka gedung pengadilan pemerintah Roma yaitu
gedung Basilika digunakan tidak hanya memperkarakan pengadilan sipil saja tetapi juga pengadilan
agama, akhirnya kekuasaan politik para kaisar pudar dan gereja berkembang. Selanjutnya Gedung
Basilika mejadi dasar perkembangan bentuk gereja di Roma. Seni yang lain juga dikembangkan dengan
gereja sebagai pusat perkembangan seni dan budaya serta keagamaan di tiap-tiap kota di Eropa. Kota-
kota di Eropa berlomba membangun kompleks gereja atau Katedral.

KARAKTER ARSITEKTUR

Bentuk dasar Arsitektur gereja Kristen Lama mengacu dari bentuk arsitektur Romawi, dimana arsitektur
Kristen Lama mengalami evaluasi dalam beberapa tahap. Pengaruh lain secara umum adalah pemakaian
altar, yang digunakan sebagai tempat untuk persembahan pada para dewa Romawi, pada masa Kristen
lama juga dipakai untuk persembahan suci.

Pemakaian model catacombe, yaitu makam umat Kristen yang terletak pada ceruk-ceruk bukit,
merupakan lorong-lorong panjang dan gelap (tempat ini digunakan untuk tempat peribadahan). Pada
waktu agama Kristen masih dilarang model ini digunakan bila membangun katedral, maka nama katedral
tersebut memakai nama orang yang disucikan dan dimakamkan di situ, sedangkan diatas makam
tersebut dibangun altar.

DENAH :

Bentuk denah Basilika yang dikembangkan dengan menghilangkan salah satu tribun yang berbentuk
setengah lingkaran, sehingga tribun yang tinggal dijadikan sebagai suatu pengakhiran yaitu Apse (apsis).
Jalan masuk dari tengah/sisi memanjang dipindah ke Barat, sehingga umat yang datang langsung
menghadap altar. Sedangkan Nave atau ruang induk (ruang peribadahan) dipisahkan oleh sederetan
tiang-tiang yang menopang entablature (balok dengan hiasan berbentuk segitiga diatasnya), atau kalau
bentangan lebar, maka deretan kolom memakai bentuk setengah lingkaran diatasnya.

Kemegahan dicapai melalui kesan perspektif memanjang ke arah Sanctuan (tempat altar) dan diakhiri
oleh Apse di mana tempat Imam berada. Hal yang demikian ini dikomposisikan dengan perbandingan
tinggi/rendahnya langit-langit sehingga proporsinya kelihatan lebih panjang dari yang sebenarnya.

Gereja basilica diberi kiblat sehingga pusat perhatian yaitu ½ lingkaran di dalam Apse (apsis) berada di
sisi timur ke arah Yerusalem. Pada perkembangan gereja selanjutnya yaitu perluasan dikedua sisi (navis),
sehingga denahnya berbentuk salib yang selanjutnya mengawali bentuk poko yang bertahan sampai
sekarang.

Meskipun dari luar tampak sederhana namun gereja-gereja yang dibangun masa Kaisar Constantinus
(sebelum memindahkan ibukota) memperindah keindahan interiornya. Agama Kristen Lama mengikuti
adat Ibrani, yang melarang pemujaan patung maka gerejanya tidak dihiasi patung sebesar manusia yang
sebelumnya banyak menghiasi basilica-basilika romawi.

ATAP :

Atap ditutup dengan konstruksi kayu yang sederhana, dimana hal ini merupakan tipikal dari arsitektur
Kristen Lama. Bentuk keseluruhan secara skyline adalah horizontal dan sederhana.

Dinding :

Pemakaian metode konstruksi dari Romawi, yaitu beton/batu yang diplester dan diberi hiasan ornamen
Mosaic yaitu pecahan batuan berwarna-warni memberikan efek estetis dan plastis, sehingga berkesan
cerah, merah dan biasanya hiasan tersut menceritakan tentang Nabi Isa As.

BANGUNAN-BANGUNAN PADA MASA KRISTEN LAMA

KRISTEN AWAL 0M-4M

SEJARAH

Bermula pada I Masehi saat kerajaan Romawi melemah, karena perekonomian negara dan
pemberontakan suku-suku bangsa yang ditaklukkan oleh bangsa Romawi. Kekaisaran Romawi pecah
menjadi Romawi Timur (dipimpin Konstantin yg masih betahan dengan wilayahnya) dan Romawi Barat
(bercerai-berai menjadi suku bangsa German).

Italia jatuh ke bangsa Ostrogoth pada abad VI, dan Bangsa France mengambil Bangsa Galia. Spanyol
dikuasai oleh Suku Wisigoth, dan suku Vandal menguasai wilayah Afrika Utara. Suku Merowing
mempersatukan semua suku bangsa Jerman yang berada di wilayah Prancis dan undang-undang
dasarpun dibuat untuk wilayah Barat, sehingga kekuatan dan kekuasaan di wilayah Laut Tengah
berpindah ke Utara dan berakhir pula kebudayaan zaman kuno.

Nilai-nilai yang terkandung pada masa klasik:

•Penghargaan terhadap nilai-nilai fisik, manusiawi, dan bersifat rasional

•Karya arsitektur memiliki skala manusia

•Karya seni menggambarkan kehidupan manusia waktu itu

•Munculnya nilai-nilai demokrasi

Periode Masa Kristen Awal:


1. Periode Pengejaran ( 0 —325 M )

Umat Kristiani mengalami perlakuan yang kejam dari bangsa Romawi.

Menolak pemujaan terhadap kaisar, kepentingan negara, dan upacara agama negara.

Adanya kebutuhan terhadap ruang untuk upacara keagamaan seperti kuburan korban penindasan
yang diletakkan dibawah tanah (catacomb) dan tempat berdoa atau pemujaan kepada Tuhan.

Karya Arsitektur

1. Bangunan bawah tanah

Dibuat secara darurat dan sederhana.

2. Ruang berbentuk lorong

Berfungsi sebagai tempat tinggal, kuburan dan tempat berdoa.

3. Karya Seni

Gaya (simbol) memiliki kesamaan dengan karya-karya seni masa Romawi namun subjek berbeda.

Subjek dalam lukisan zaman Romawi ditampilkan dalam bentuk pagan (berhala), zaman Kristen Awal
bertema seorang gembala dengan domba-dombanya.

Terjadi perubahan karya lukisan yang sangat signifikan dengan menghindari bentuk-bentuk alamiah
Greco Roman (denaturing).

2. Periode Pengakuan(325-395 M)

Akhirnya agama Kristen diakui sebagai agama Negara oleh kaisar Constantine, sehingga banyak unsur-
unsur Romawi yang masuk dalam agama Kristen. Karena semakin banyak umatnya dan diakui oleh
Negara, nilai-nilai kemanusiaan terhadap kaum nasrani diangkat dan instrospeksi lebih mementingkan
nilai-nilai spiritual.

3. Perpecahan Kerajaan Romawi (395 M)

Sesudah melewati suatu periode awal yang diwarnai penganiayaan, Kekristenan menjadi legal pada
abad ke-4. Konstantinus berperan penting dalam penyelenggaraan Konsili Nicea Pertama pada tahun
325, yang ditujukan untuk melawan bidaah Arianis medan merumuskan Kredo Nicea yang digunakan
oleh Gereja Katolik, Ortodoksi Timur, dan berbagai Gereja Protestan.

Tanggal 27 Februari 380 (Kaisar TeodosiusI) memberlakukan sebuah hukum yang menetapkan
Kekristenan Katolik sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi dan memerintahkan untuk menyebut yang
lain dari pada itu sebagai bidaah.

ARSITEKTUR KRISTEN AWAL

Seni pada masa ini merupakan kelanjutan dari senirupa kuno, romawi dan byzantium. Pada awalnya,
Kristen menolak adanya penggambaran pola-pola dekoratif yang menggambarkan hal-hal yang bersifat
agamis dan spiritualis.
Setelah abad ke empat, dibawah pengaruh imperialisme, awal arsitektural Kristen sangat dipengaruhi
oleh gaya kerajaan Romawi, yaitu bangunan berskala monumental. Gedung-gedung gereja dibagi
menjadi dua tipe; hall yang berbentuk longitudinal-Bassilica; bangunan terpusat-mausoleum atau
tempat pembaptisan.Eksterior gereja pada umumnya polos dan minus dekorasi yang kontras dengan
nuansa interiornya yang cenderung dekoratif dan glamour.

CONTOH PENINGGALAN ARSITEKTUR KRISTEN AWAL

Baptisterium des Laterans in Rom

PENINGGALAN-PENINGGALAN KRISTEN AWAL

1. Kredo Nicea

Ialah rangkuman keyakinan-keyakinan Gereja Katolik yang meyakini bahwa hanya ada satu Allah saja,
yang hadir dalam tiga pribadi: Allah Bapa, Yesus Sang Putera, dan Roh Kudus.

Ikon yang menggambarkan Para Bapa Suci dari Konsili Nicea Pertama memegang Kredo Nicea.

2. Basilika

Merupakan cikal bakal gereja yang mempunyai denah memanjang.


Basilika Kristen dibuat berdasarkan Basilika Romawi yang juga berfungsi sebagai tempat pertemuan.
Namun ada juga yang mengatakan, bahwa prinsip dasar Basilika Kristen adalah rumah tinggal gaya
Romawi yang memiliki atrium dibagian tengahnya dan dikombinasikan dengan gaya susunan gedung
pertemuan

Basilika Santa Maria Maggiore dikenal sebagai Basilika Liberian.

* Basilika Santo Paulus di Luar Tembok Vatikan atau dikenal sebagai Basilika Ostian

* Basilika Santo Petrus atau dikenal sebagai Basilika Vatikan


* Basilika Santo Yohanes Lateran atau dikenal sebagai Basilika Lateran

3. Mouseleum (Makam)

Berbentuk denah bulat, segi banyak bersifat konsentnis dan lebih mengutamakan bagian interior
(introspeksi), sedangkan ruang luar tidak diperhatikan karena tidak ada hubungannya dengan ruang
dalam. Ornamen sederhana yang hanya ditempatkan pada bagian interior seperti pada tampilan mozaik
dinding dengan pola gambar naturalis. Dinding terbuat dari bata, kuda-kuda dari kayu dan bagian atap
terbuat dari bahan genteng.

Mouseleum Paramore keluarga di Pemakaman Bellefontaine, St Louis, Missouri