Anda di halaman 1dari 27

Nama : Triantami Wijayenti

Kelas : Alpha 2014


NIM : 0411181419019

Learning Issue
Anatomi Otak

Otak adalah bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam cavum cranii,
dilanjutkan sebagai medulla spinalis setelah melalui foramen magnum. Seperti terlihat
pada gambar di atas, otak dibagi menjadi empat bagian:

1. Cerebrum (Otak Besar)\


Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan
nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian
otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia
memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan,
memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga
ditentukan oleh kualitas bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus.
Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai
parit disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah: Lobus Frontal,
Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus Temporal.
 Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak
Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan,
kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi
penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan
kemampuan bahasa secara umum.
 Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan
seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
 Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan
pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
 Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan
rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi
terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.
Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi menjadi
beberapa area yang punya fungsi masing-masing, seperti terlihat pada gambar di
bawah ini.
Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi

dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu
terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak
kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh.
Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri
untuk logika dan berpikir rasional.
Otak mengandung substansi abu-abu dan substansi putih. Substansi abu-abu
yang membentuk bagian luar otak (korteks). Substansi ini mengandung badan sel
neuron, serabut tak termielinasi, astrosit protoplasma, oligodendrosit, dan mikroglia.
Substansi putih yang membentuk bagian dalam otak. Kandungan pada substansi ini
didominasi oleh serabut termielinisasi, oligodendrosit, astrosit fibrosa, dan
mikroglia.
Substansia kelabu biasanya berada pada permukaan serebrum dan serebelum,
membentuk korteks serebral dan serebelar. Kumpulan badan sel neuron yang
membentuk pulau-pulau substansia kelabu yang dikelilingi oleh substansia putih
disebut nuclei. Pada korteks serebri, substansia putih terdiri atas 6 lapis sel dengan
bentuk dan ukuran yang berbeda. Neuron-neuron pada beberapa tempat di korteks
serebri mengatur impuls aferen (sensorik), sedangkan di tempat lain neuro eferen
(motorik) mengaktifkan impuls motorik yang mengatur pergerakan volunteer. Sel-
sel dari korteks serebri dihubungkan dengan informasi sensorik yang terintegrasi dan
permulaan respons motorik volunteer. Korteks serebri memiliki 3 lapisan, yaitu
lapisan molecular luar, lapisan tengah yang terdiri dari sel-sel Purkinye besar, dan
lapisan granular dalam. Sel-sel Purkinye memiliki badan sel yang mencolok dengan
dendritnya yang berkembang dengan sempurna sehingga menyerupai kipas. Dendrit
ini menempati hampir seluruh lapisan molecular dan menjadi alasan untuk jarangnya
nuclei pada lapisan itu. Lapisan granular disusun oleh sel-sel yang sangat kecil (sel
terkecil di tubuh kita) yang cenderung merata, berbeda dengan lapisan molecular
yang kurang padat sel.
Area fungsional korteks serebral meliputi area motorik primer, area sensorik
primer, dan area asosiasi atau sekunder yang berdekatan dengan area primer dan
berfungsi untuk integrasi dan interpretasi tingkat tinggi.
 Area motorik primer pada korteks
a. Area motorik primer terdapat dalam girus presental. Di sini, neuron
(piramidal) mengendalikan kontraksi volunter otot rangka. Aksonnya
menjalar dalam traktus piramidal.
b. Area promotorik korteks terletak tepat di sisi anterior girus presentral.
Neuron (ekstrapiramidal) mengendalikan aktivitas motorik yang terlatih dan
berulang, seperti mengetik.
c. Area Broca terletak di sisi anterior area premotorik pada tepi bawahnya.
Area ini mungkin hanya terdapat pada 1 hemisfer saja (biasanya sebelah
kiri) dan dihubungkan dengan kemampuan wicara.
 Area sensorik korteks
a. Area sensorik primer terdapat dalam girus postsentral. Di sini, neuron
menerima informasi sensorik umum yang berkaitan dengan nyeri, tekanan,
suhu, sentuhan, dan propriosepsi dari tubuh.
b. Area visual primer terletak dalam lobus oksipital dan menerima informasi
dari retina mata.
c. Area auditori primer terletak pada tepi atas lobus temporal, menerima
impuls saraf yang berkaitan dengan pendengaran.
d. Area olfaktori primer terletak pada permukaan medial lobus temporal,
berkaitan dengan indera penciuman.
e. Area pengecap primer (gustatori) terletak dalam lobus parietal dekat bagian
inferior girus postsentral, terlibat dalam persepsi rasa.

 Area asosiasi
a. Area asosiasi frontal, yang terletak pada lobus frontal, adalah sisi fungsi
intelektual dan fisik yang lebih tinggi.
b. Area asosiasi somatic (somestetik), yang terletak dalam lobus parietal,
berkaitan dengan interpretasi bentuk dan tekstur suatu objek dan keterkaitan
bagian-bagian tubuh secara posisional.
c. Area asosiasi visual (yang terletak pada lobus oksipital) dan area asosiasi
auditorik (yang terletak dalam lobus temporal) berperan untuk
menginterpretasi pengalaman visual dan auditori.
d. Area wicara Wernicke, yang terletak dalam bagian superior lobus temporal,
berkaitan dengan pengertian bahasa dan formulasi wicara. Bagian ini
berhubungan dengan area wicara Broca

2. Cerebellum (Otak Kecil)


Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan
ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak,
diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan,
koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan
serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil,
gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap
dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang
tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu
mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala
bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang
belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan,
denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan
sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya
bahaya.
Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena
itu, batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur
“perasaan teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya anda akan merasa tidak
nyaman atau terancam ketika orang yang tidak Anda kenal terlalu dekat dengan
anda.
Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
 Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian
teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil. Otak
tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata,
pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.
 Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri
badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol
funsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan
pencernaan.
 Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak
bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga
atau tertidur.
4. Sistem Limbik
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat
kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Bagian otak ini sama
dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia.
Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan
korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi
hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa
senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu
fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan
mana yang tidak. Misalnya Anda lebih memperhatikan anak Anda sendiri dibanding
dengan anak orang yang tidak Anda kenal. Mengapa? Karena Anda punya hubungan
emosional yang kuat dengan anak Anda. Begitu juga, ketika Anda membenci
seseorang, Anda malah sering memperhatikan atau mengingatkan. Hal ini terjadi
karena Anda punya hubungan emosional dengan orang yang Anda benci.
Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera.
Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta
dan kejujuran. Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai "Alam Bawah Sadar" atau
ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong
orang dan perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai
tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, penghargaan
dan kejujuran.

Fisiologi Otak
Jaras Sensorik dan Motorik
Sistem motorik merupakan sistem yang mengatur segala gerakan pada manusia. Gerakan
diatur oleh pusat gerakan yang terdapat di otak, diantaranya yaitu area motorik di korteks,
ganglia basalis, dan cerebellum. Jaras untuk sistem motorik ada dua, yaitu traktus piramidal
dan ekstrapiramidal. Traktus pyramidals terdiri dari tractus corticospinal dan tractus
corticobulbar. Tractus extrapyramidals dibagi menjadi lateral pathway dan medial pathway.
Lateral pathway terdiri dari tractus rubrospinal dan medial pathway terdiri dari tractus
vestibulospinal, tractus tectospinal dan tractus retikulospinal. Medial pathway mengontrol
tonus otot dan pergerakan kasar daerah leher, dada dan ekstremitas bagian proksimal
(Martini, 2006).
 Traktus piramidal s. Traktus Corticospinalis
Merupakan jaras motorik utama yang pusatnya di girus precentralis (area 4
Broadmann), yang disebut juga korteks motorik primer. Serabut tractus corticospinal
berasal dari sel pyramidal di cortex cerebri. Dua pertiga serabut ini berasal dari gyrus
precentralis dan sepertiga dari gyrus postcentralis. Serabut desendens tersebut lalu
mengumpul di corona radiata, kemudian berjalan melalui crus posterius capsula interna.
Pada medulla oblongata tractus corticospinal nampak pada permukaan ventral yang
disebut pyramids. Pada bagian caudal medulla oblongata tersebut 85% tractus
corticospinal menyilang ke sisi kontralateral pada decussatio pyramidalis sedangkan
sisanya tetap pada sisi ipsilateral walaupun akhirnya akan tetap bersinaps pada neuron
tingkat tiga pada sisi kontralateral pada medulla spinalis. Tractus corticospinalis yang
menyilang pada ducassatio akan membentuk tractus corticospinal lateral dan yang tidak
menyilang akan membentuk tractus corticospinal anterior (Snell, 2002). Impuls motorik
dari pusat motorik disalurkan melalui traktus piramidal berakhir pada cornu anterior
medulla spinalis.
Pusat jaras Motorik :
 Neuron Motorik Atas
Semua serabut saraf turun yang berasal dari sel pyramid cortex cerebri (Pusat
Supraspinal). Meliputi :
o Gangliabasalistractuscorticostriata
o Di-encephalontractuscortico-diencephalon
o Batangotakcorticobulbaris
Motorik atas terletak pada cortex cerebri, neuron yang ada dicortex cerebri sebagai
Neuron orde pertama (sel pyramidalis). Axon neuron pertama turun melalui corona
radiata  masuk crus posterior capsula interna  mesencephalon, pons, medulla
oblongata dan medulla spinalis bersinap dengan neuron orde kedua pada cornu anterior
subt.grisea medulla spinalis.
Asal Neuron Orde pertama :
o 1/3 berasal dari Area 4 Brodmann (pusat motorik primer) pada gyrus precentralis
o 1/3 berasal dari Area 6 Brodmann (pusat motorik sekunder) pada gyrus precentralis
o 1/3 berasal dari Area 3,2,1 Brodmann (pusat somastesi) pada gyrus postcentralis
 Neuron Motorik Bawah (Pusat Spinal)
Cornuanterius medulla spinalis (Pusat Spinal)tractuscorticospinalis.Letak
columna subt.grisea medulla spinalis terdapat dua neuron :
o Neuron orde kedua (neuron antara) terletak pada pangkal columna anterior
subt.grisea
o Neuron orde ketiga  axon neuron ketiga keluar dari medulla spinalis sebagai
radix anterior n.spinalis yang bergabung dengan radix posterior membentuk
n.spinalis dan akhirnya pergi ke efektor sadar

Gambar 3. Tractus Piramidalis


 Tractus Corticobulbar
Serabut tractus corticobulbar mengalami perjalanan yang hampir sama dengan tractus
corticospinal, namun tractus corticobulbar bersinaps pada motor neuron nervus cranialis III,
IV, V, VI, VII, IX, X, XI, XII. Tractus coricobulbar menjalankan fungsi kontrol volunter otot
skelet yang terdapat pada mata, dagu, muka dan beberapa otot pada faring dan leher. Seperti
halnya dengan tractus corticospinal, tractus corticobulbar pun mengalami persilangan namun
persilangannya terdapat pada tempat keluarnya motor neuron tersebut. (Martini, 2006).

 Traktus Ekstrapyramidal
Datang dari Batang Otak menuju Medulla Spinalis
1. Tractusreticulospinalis
Asal : Formatioreticulare yang terletak sepanjang mesencephalon, pons dan medulla
oblongata (neuron ordepertama).
Jalan :
 Dari neuron yang ada di pons, dikirmkan axon lurus kebawah : traktus
reticulospinlis pontinus
 Dari neuron di medulla oblongata, menyilang garis tengah baru turun ke medulla
spinalis : traktus reticulospinalis medulla spinalis
 Tujuan: cornuanterius medullaspinalis (pusat spinal: neuron ordekeduadanketiga)
 Fungsi : mengontrol neuron orde kedua dan ketiga dalam bentuk fasilitasi dan
inhibisi kontraksi otot skeletberkaitan dengan fungsi keseimbangan tubuh.

2. Tractus Tectospinalis
Asal : colliculus superior mes-encephalon (neuron ordepertama)
Jalan : menyilang garis tengah dan turun melalui pons, medulla oblongata. Jalannya
dekat sekali dengan fasciculus longitudinale medialis
Tujuan : cornuanterius medullaspinalis (pusat spinal) dan bersinaps dengan neuron
orde kedua dan ketiga
Fungsi :
1) terjadinya reflex pupilo dilatasi sbg. respon kalau lagi berada dalam ruang gelap
2) terjadinya reflex gerakan tubuh sbg. respon terhadap ransang penglihatan
3. Tractus Rubrospinalis
Asal : nucleus ruber (neuron ordepertama) pada tegmentum mesencephalon setinggi
coliculus superior.
Jalan : axon neuron orde pertama menyilang garis tengah turun kebawah melewati
pns, medulla oblongata menuju cornu anterior meulla spinalis subt. grisea (pusat spinal)
Fungsi : memacu kontraksi otot fleksor dan menghambat kontraksi otot ekstensor 
berkaitan dengan fungsi keseimbangan tubuh

4. Tractus vestibulospinalis
Asal : nuclei vestibularis = neuron ordepertama (dalam pons dan med. oblongata),
menerima akson dari auris interna melalui N.vestibularis dan cerebelum
Tujuan : cornuanterius medullaspinalis (pusat spinal)
Fungsi : memacu kontraksi otot ekstensor dan menghambat kontraksi otot fleksor 
berkaitan dengan fungsi keseimbangan tubuh
5. Tractus olivospinalis
Asal : nucleus olivariusinferius (neuron ordepertama), menerima axon dari : cortex
cerebrii, corpus striatum, nuceu ruber
Tujuan : cornuanterius med. spinalis (pusat spinal)
Fungsi : mempengaruhi kontraks iototskelet  berkaitan dengan fungsi
keseimbangan tubuh

Datang dari Cortex Cerebri menuju Batang Otak


a. Tractus Corticothalamus
 Asal : area brodmann 10, 11, 12
Tujuan : nucleus medialis thalami
 Asal : area brodmann 9 dan 11
Tujuan : nuclei septi thalami
 Asal : area brodmann 9
Tujuan : nucleus medialis et lateralis thalami
 Asal : area brodmann 6
Tujuan : nuclei septi thalami, nucleus medualis et lateralis thalami
 Asal : area brodmann 4
Tujuan : nuclei lateralis thalami
b. Tractuscorticohypothalamicus
Asal : cortechypocampi
Tujuan : hypothalamus
c. Tractuscorticosubthalamicus
Asal : area brodman 6
Tujuan : subthalamus
d. Tractus Corticonigra
Asal : area brodmann 4, 6 dan 8
Tujuan : substantianigra
e. Tractus yang berasal dari area brodmann 4 dan 6
Tujuan : tegmentum (mes-encephalon), nuclei pontis (pons), nucleus
olivariusinferius (medulla oblongata)

Sensorik
Reseptor adalah sel atau organ yang berfungsi menerima rangsang atau stimulus. Dengan
alat ini sistem saraf mendeteksi perubahan berbagai bentuk energi di lingkungan dalam dan
luar. Setiap reseptor sensoris mempunyai kemampuan mendeteksi stimulus dan mentranduksi
energi fisik ke dalam sinyal (impuls) saraf.
Menurut letaknya, reseptor dibagi menjadi:
 Exteroseptor : perasaan tubuh permukaan (kulit), seperti sensasi nyeri, suhu, dan
raba
 Proprioseptor : perasaan tubuh dalam, seperti pada otot, sendi, dan tendo.
 Interoseptor : perasaan tubuh pada alat-alat viscera atau alat-alat dalam, seperti
jantung, lambung, usus, dll.
Menurut tipe atau jenis stimulus, reseptor dibagi menjadi :
 Mekanoreseptor
Kelompok reseptor sensorik untuk mendeteksi perubahan tekanan, memonitor tegangan
pada pembuluh darah, mendeteksi rasa raba atau sentuhan. Letaknya di kulit, otot
rangka, persendn dna organ visceral. Contoh reseptornya : corpus Meissner (untuk rasa
raba ringan), corpus Merkel dan badan Paccini (untuk sentuhan kasar dan tekanan).
 Thermoreseptor
Reseptor sensoris unuk mendeteksi perubahan suhu. Contohnya : bulbus Krause (untuk
suhu dingin), dan akhiran Ruffini (untuk suhu panas).
 Nociseptor
Reseptor sensorik untuk mendeteksi rasa nyeri dan merespon tekaan yang dihasilkan
oleh adanya kerusakan jaringan akibat trauma fisik maupun kimia. Contoh reseptornya
berupa akhiran saraf bebas (untuk rasa nyeri) dan corpusculum Golgi (untuk tekanan).
 Chemoreseptor
Reseptor sensorik untuk mendeteksi rangsang kimiwa, seperti : bu-bauan yang diterima
sel reseptor olfaktorius dalam hidung, rasa makanan yang diterima oleh sel reseptor
pengecap di lidah, reseptor kimiawi dalam pembuluh darah untuk mendeteksi oksigen,
osmoreseptor untuk mendeteksi perubahan osmolalitas cairan darah, glucoreseptor di
hipotalamus mendeteksi perubahan kadar gula darah.
 Photoreseptor
Reseptor sensorik untuk mendeteksi perbahan cahaya, dan dilakukan oleh sel
photoreceptor (batang dan kesrucut) di retina mata.
Jaras somato sensorik yang dilalui oleh sistem sensorik adalah sebagai berikut :
A. Untuk rasa permukaan (eksteroseptif) seperti rasa nyeri, raba, tekan, dan suhu :
sinyal diterima reseptor → dibawa ke ganglion spinale → melalui radiks posterior
menuju cornu posterior medulla spinalis → berganti menjadi neuron sensoris ke-2
→ lalu menyilang ke sisi lain medulla spinalis → membentuk jaras yang berjalan ke
atas yaitu traktus spinotalamikus → menuju thalamus di otak → berganti menjadi
neuron sensoris ke-3 → menuju korteks somatosensorik yang berada di girus
postsentralis (lobus parietalis)

B. Untuk rasa dalam (proprioseptif) seperti perasaan sendi, otot dan tendo :
sinyal diterima reseptor → ganglion spinale → radiks posterior medulla spinalis →
lalu naik sebagai funiculus grasilis dan funiculus cuneatus → berakhir di nucleus
Goll → berganti menjadi neusron sensoris ke-2 → menyilang ke sisi lain medulla
spinalis → menuju thalamus di otak → berganti menjadi neuron sensoris ke-3 →
menuju ke korteks somatosensorik di girus postsentralis (lobus parietalis).

Analisis Masalah
1.1 Apa hubungan tidak sadar mendadak dengan kasus? (1,7)
Tn. Budi mengalami stroke hemoragik (ICH), akibat perdarahan pada otak yang
disebabkan oleh rupturnya pembuluh darah. Darah yang keluar melalui pembuluh darah
yang rupture ini akan membuat genangan yang disebut dengan hematoma pada otak.
Perdarahan yang terus menerus akan mengakibatkan hematoma semakin besar, sehingga
terjadi peningkatan tekanan intracranial di otak. Kompresi massa otak inilah yang
kemudian menyebabkan penurunan kesadaran Tn. Budi. Ciri khas dari peningktan
tekanan intracranial otak adalah sakit kepala, mual dan muntah, serta penurunan
kesadaran.

2.1 Apa dampak tidak mengonsumsi obat hipertensi secara teratur dengan kasus? (8,1)
1) Kerusakan pada pembuluh darah arteri
Apabila hipertensi tidak terkontrol dengan baik, dapat terjadi kerusakan dan
penyempitan arteri. Apabila plaque terbentuk dari zat berupa garam-garaman, akan
terbentuk arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah), dan apabila plaque berupa
lemak dalam dinding pembuluh darah, terbentuklah artherosklerosis (penyempitan
pembuluh darah). Hal ini akan menyebabkan sumbatan aliran darah, sehingga
meningkatkan potensi kebocoran pembuluh darah. Sumbatan pada pembuluh nadi
leher dapat menyebabkan berkurangnya suplai oksigen ke sel-sel otak. Apabila otak
mengalami kekurangan oksigen dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan
matinya sel-sel saraf otak (stroke iskemik).
Penyempitan pembuluh darah akan
menyebabkan pasien bisa nyeri dada, gagal jantung, serangan jantung, gagal jantung,
stroke, sumbatan arteri di lengan dan kaki, kerusakan mata sampai pada aneurisma
(kelemahan pada dinding arteri sehingga membentuk seperti bendungan dan apabila
pecah dapat menyebabkan kematian).
2) Kerusakan pada otak
Otak merupakan organ yang membutuhkan suplai oksigen dan nutrisi, sehingga bisa
bekerja normal. Hipertensi juga dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah
otak, maka akibat yang sering ditimbulkan adalah stroke. Pecahnya pembuluh darah
kapiler di otak akibat atherosclerosis dan arteriosclerosis menyebabkan pendarahan,
sehingga sel-sel saraf dapat mati, yang disebut stroke hemoragik (stroke pendarahan).

4.1 Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan neurologis pada kasus? (1, 10)
No. Hasil Pemeriksaan Neurologis Nilai Normal Interpretasi
1. Nervi kraniales (VII dan XII)
o Mulut mengot ke kiri Simetris Gangguan saraf kranialis
VII
o Plica nasolabialis kanan Simetris Gangguan saraf kranialis
datar VII
o Lagoftalmus (-) Tidak lagoftalmus Normal
o Kerutan dahi simetris Simetris Normal
o Bicara pelo Bicara tidak pelo Gangguan saraf kranialis
XII
o Lidah deviasi ke kanan Simetris Gangguan saraf kranialis
XII; parese kiri
2. Fungsi motorik
o Hemiparese dextra tipe Tidak ada hemiparese Lesi pada hemisper
spastik sinistra
o Refleks ekstremitas kanan Refleks normal
meningkat
o Refleks babinsky (+) (-)
pada kaki kanan

4.2.d Bagaimana mekanisme abnormalitas dari refleks fisiologi ektremitas kanan meningkat?
(5,1)
Pada kasus ini kemungkinan terjasi oklusi pembuluh darah pada arteri yang memperdarahi
gyrus precentralis (area motorik) yang menyebabkan keterbatasan gerak, berkurangnya
kekuatan otot (lemah) pada ektremitas superior et inferior dextra. Gangguan pada UMN juga
menjadi penyebab dari meningkatnya reflex fisiologis dan patologis ada.

4.3.a Bagaimana cara melakukan pemeriksaan neurologis nervi kraniales? (7,1)


PEMERIKSAAN NERVUS OLFAKTORIUS (N I)
Prosedur pemeriksaan nervus Olfaktorius (N I)
- Memberitahukan kepada penderita bahwa daya penciumannya akan diperiksa.
- Melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada sumbatan atau kelainan pada
rongga hidung.
- Meminta penderita untuk menutup salah satu lubang hidung.
- Meminta penderita untuk mencium bau-bauan tertentu (misalnya: ekstrak kopi, ekstrak
jeruk, vanili, atau tembakau) melalui lubang hidung yang terbuka.
- Meminta penderita menyebutkan jenis bau yang diciumnya.
- Pemeriksaan yang sama dilakukan juga untuk lubang hidung kontralateral.

Gambar 4. Pemeriksaan N I (diadaptasi dari Buckley, et al., 1980)


Syarat Pemeriksaan :
- Jalan nafas harus dipastikan bebas dari penyakit.
- Bahan yang dipakai harus dikenal oleh penderita.
- Bahan yang dipakai bersifat non iritating. Catatan:
- Bahan yang cepat menguap tidak boleh digunakan dalam pemeriksaan ini sebab bahan
tersebut dapat merangsang nervus trigeminus (N V) dan alat-alat pencernaan.
Interpretasi Hasil Pemeriksaan :
- Terciumnya bau-bauan secara tepat menandakan fungsi nervus olfaktorius kedua sisi
adalah baik.
- Hilangnya kemampuan mengenali bau-bauan (anosmia) yang bersifat unilateral tanpa
ditemukan adanya kelainan pada rongga hidung merupakan salah satu tanda yang
mendukung adanya neoplasma pada lobus frontalis cerebrum.
- Anosmia yang bersifat bilateral tanpa ditemukan adanya kelainan pada rongga hidung
merupakan salah satu tanda yang mendukung adanya meningioma pada cekungan
olfaktorius pada cerebrum. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari trauma ataupun pada
meningitis. Pada orang tua dapat terjadi gangguan fungsi indra penciuman ini dapat
terjadi tanpa sebab yang jelas. Gangguan ini dapat berupa penurunan daya pencium
(hiposmia). Bentuk gangguan lainnya dapat berupa kesalahan dalam mengenali bau yang
dicium, misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bawang goreng, hal ini disebut
parosmia.
- Selain keadaan di atas dapat juga terjadi peningkatan kepekaan penciuman yang disebut
hiperosmia, keadaan ini dapat terjadiakibat trauma kapitis, tetapi kebanyakan hiperosmia
terkait dengan kondisi psikiatrik yang disebut konversi histeri. Sensasi bau yang muncul
tanpa adanya sumber bau disebut halusinasi olfaktorik. Hal ini dapat muncul sebagai
aura pada epilepsi maupun pada kondisi psikosis yang terkait dengan lesi organik pada
unkus.
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN NERVUS OLFAKTORIUS
Skor

No Aspek Penilaian
0 1 2

1 Memberitahukan kepada penderita bahwa daya penciumannya


akan diperiksa.
2 Melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada sumbatan
atau kelainan pada rongga hidung.
3 Meminta penderita untuk menutup salah satu lubang hidung.
4 Meminta penderita untuk mencium bau-bauan tertentu
(misalnya: ekstrak kopi, ekstrak jeruk, vanili, atau tembakau)
melalui lubang hidung yang terbuka.
5 Meminta penderita menyebutkan jenis bau yang diciumnya.
6 Pemeriksaan yang sama dilakukan juga untuk lubang hidung
yang satunya.
7 Melaporkan hasil pemeriksaan n. olfaktorius.

JUMLAH SKOR

Penjelasan :

0 Tidak dilakukan mahasiswa


1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
14

PEMERIKSAAN NERVUS OPTIKUS (N II)


PEMERIKSAAN DAYA PENGLIHATAN (VISUS).
Pemeriksaan visus pada bagian neurologi pada umumnya tidak dikerjakan
menggunakan kartu Snellen tetapi dengan melihat kemampuan penderita dalam mengenali
jumlah jari-jari, gerakan tangan dan sinar lampu.
Prosedur pemeriksaan daya penglihatan (visus) :
1. Memberitahukan kepada penderita bahwa akan diperiksa daya penglihatannya.
2. Memastikan bahwa penderita tidak mempunyai kelainan pada mata misalnya, katarak,
jaringan parut atau kekeruhan pada kornea, peradangan pada mata (iritis, uveitis),
glaukoma, korpus alienum.
3. Pemeriksa berada pada jarak 1- 6 meter dari penderita.
4. Meminta penderita untuk menutup mata sebelah kiri untuk memeriksa mata sebelah
kanan.
5. Meminta penderita untuk menyebutkan jumlah jari pemeriksa yang diperlihatkan
kepadanya.
6. Jika penderita tidak dapat menyebutkan jumlah jari dengan benar, maka pemeriksa
menggunakan lambaian tangan dan meminta penderita menentukan arah gerakan tangan
pemeriksa.
7. Jika penderita tidak dapat menentukan arah lambaian tangan, maka pemeriksa
menggunakan cahaya lampu senter dan meminta penderita untuk menunjuk asal cahaya
yang disorotkan ke arahnya.
8. Menentukan visus penderita.
9. Melakukan prosedur yang sama untuk mata sebelah kiri.
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN DAYA PENGLIHATAN
Scor
e
No Aspek Penilaian
0 1 2
1 Memberitahukan kepada penderita bahwa akan diperiksa
daya penglihatannya.
2 Memastikan bahwa penderita tidak mempunyai kelainan
pada mata misalnya, katarak, jaringan parut atau kekeruhan
pada kornea, peradangan pada mata ( iritis, uveitis),
glaukoma, korpus alienum
3 Pemeriksa berada pada jarak 1- 6 meter dari penderita.
4 Meminta penderita untuk menutup mata sebelah kiri untuk
memeriksa mata sebelah kanan.
5 Meminta penderita untuk menyebutkan jumlah jari
pemeriksa yang diperlihatkan kepadanya.
6 Jika penderita tidak dapat menyebutkan jumlah jari dengan
benar, maka pemeriksa menggunakan lambaian tangan dan
meminta penderita menentukan arah gerakan tangan
7 pemeriksa.
Jika penderita tidak dapat menentukan arah lambaian tangan,
maka pemeriksa menggunakan cahaya lampu senter dan
meminta penderita untuk menunjuk asal cahaya yang disorotkan
ke arahnya.
8 Menentukan visus penderita.
9 Melakukan prosedur yang sama untuk mata sebelah kiri.
10 Melaporkan hasil pemeriksaan daya penglihatan.

JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
20
PEMERIKSAAN LAPANGAN PANDANG.
Pemeriksaan lapangan pandang bertujuan memeriksa batas-batas penglihatan bagian
perifer. Pemeriksaan ini dapat dikerjakan dengan 3 teknik, yaitu:
1. Test konfrontasi dengan tangan
2. Test dengan kampimeter
3. Test dengan perimeter.
Dalam latihan pemeriksaan nervus cranialis ini jenis test pertama yang akan dilatihkan,
sedangkan test kedua dan ketiga akan dilatihkan pada topik ophtalmologi.
Prosedur pemeriksaan lapangan pandang (test konfrontasi dengan tangan)
1. Meminta penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa pada jarak 1 meter.
2. Meminta penderita menutup mata kirinya dengan tangan untuk memeriksa mata kanan.
3. Meminta penderita melihat hidung pemeriksa
4. Pemeriksa menggerakkan jari tangannya dari samping kanan ke kiri dan dari atas ke
bawah.
5. Meminta penderita untuk mengatakan bila masih melihat jari-jari tersebut. Menentukan
hasil pemeriksaan.
6. Mengulangi prosedur pemeriksaan untuk mata sebelah kiri dengan menutup mata sebelah
kanan.

Gambar 6. Test konfrontasi (diadaptasi dari Buckley, et al, 1980)


Jenis-jenis kelainan lapangan pandang (visual field defect) :
- Total blindness : tidak mampu melihat secara total.
- Hemianopsia : tidak mampu melihat sebagian lapangan pandang (temporal; nasal;
bitemporal; binasal)
- Homonymous hemianopsia
- Homonymous quadrantanopsia
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN LAPANGAN PANDANG
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
Meminta penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa
1 pada
jarak 1 meter.
2 Meminta penderita menutup mata kirinya dengan tangan
untuk memeriksa mata kanan.
3 Meminta penderita melihat hidung pemeriksa
4 Pemeriksa menggerakkan jari tangannya dari samping kanan
ke kiri dan dari atas ke bawah.
Meminta penderita untuk mengatakan bila masih melihat
5 jari-
jari tersebut.
6 Menentukan hasil pemeriksaan.
Mengulangi prosedur pemeriksaan untuk mata sebelah kiri
7 dengan menutup mata sebelah kanan.
8 Melaporkan hasil pemeriksaan lapang pandang
JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
16
PEMERIKSAAN NERVI OKULARIS (N III, IV, VI)
Prosedur pemeriksaan gerakan bola mata :
- Memberitahukan penderita bahwa akan dilakukan pemeriksaan terhadap gerakan bola
matanya.
- Memeriksa ada tidaknya gerakan bola mata di luar kemauan penderita (nistagmus).
- Meminta penderita untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa yang digerakkan ke
segala jurusan. Mengamati ada tidaknya hambatan pada pergerakan matanya (hambatan
dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata).
- Meminta penderita untuk menggerakkan sendiri bola matanya.
Prosedur pemeriksaan kelopak mata :
- Meminta penderita untuk membuka kedua mata dan menatap kedepan selama satu menit.
- Meminta penderita untuk melirik ke atas selama satu menit.
- Meminta penderita untuk melirik ke bawah selama satu menit.
- Pemeriksa melakukan pengamatan terhadap celah mata dan membandingkan lebar celah
mata (fisura palpebralis) kanan dan kiri.
- Mengidentifikasi ada tidaknya ptosis, yaitu kelopak mata yang menutup.
Gambar 9. Pemeriksaan kelopak mata (diadaptasi dari Buckley, et al, 1980)
Prosedur pemeriksaan pupil :
- Melihat diameter pupil penderita (normal 3 mm).
- Membandingkan diameter pupil mata kanan dan kiri (isokor atau anisokor).
- Melihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak.
- Memeriksa refleks pupil terhadap cahaya direk :
o Menyorotkan cahaya ke arah pupil lalu mengamati ada tidaknya miosis dan
mengamati apakah pelebaran pupil segera terjadi ketika cahaya dialihkan dari
pupil.
- Memeriksa refleks pupil terhadap cahaya indirek :
o Mengamati perubahan diameter pupil pada mata yang tidak disorot cahaya
ketika mata yang satunya mendapatkan sorotan cahaya langsung.

Gambar 10. Pemeriksaan refleks pupil (diadaptasi dari Buckley et al, 1980)
- Memeriksa refleks akomodasi pupil.
o Meminta penderita melihat jari telunjuk pemeriksa pada jarak yang agak
jauh.
o Meminta penderita untuk terus melihat jari telunjuk pemeriksa yang
digerakkan mendekati hidung penderita.
o Mengamati gerakan bola mata dan perubahan diameter pupil penderita
(pada keadaan normal kedua mata akan bergerak ke medial dan pupil
menyempit).
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN NERVI OKULARIS
Skor
Aspek Penilaian
No 0 1 2
Pemeriksaan gerakan bola mata
1 Memberitahukan penderita bahwa akan dilakukan pemeriksaan
terhadap gerakan bola matanya.
2 Memeriksa ada atau tidaknya gerakan bola mata di luar
kemauan penderita (nistagmus)
3 Meminta penderita untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa
yang digerakkan ke segala jurusan.
4 Mengamati ada tidaknya hambatan pada pergerakan matanya
(hambatan dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata).
5 Meminta penderita untuk menggerakkan sendiri bola matanya.
Pemeriksaan kelopak mata
6 Meminta penderita untuk membuka kedua mata dan menatap
kedepan selama satu menit.
7 Meminta penderita untuk melirik ke atas selama satu menit
8 Meminta penderita untuk melirik ke bawah selama satu menit
9 Pemeriksa melakukan pengamatan terhadap celah mata dan
membandingkan lebar celah mata (fisura palpebralis) kanan
dan kiri.
10 Mengidentifikasi ada tidaknya ptosis, yaitu kelopak mata yang
menutup.
Pemeriksaan pupil
11 Melihat diameter pupil penderita (normal 3 mm).
12 Membandingkan diameter pupil mata kanan dan kiri (isokor
atau anisokor)
13 Melihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak.
Memeriksa refleks pupil terhadap cahaya direk :
Menyorotkan cahaya ke arah pupil lalu mengamati ada tidaknya
14
miosis dan mengamati apakah pelebaran pupil segera terjadi
ketika cahaya dialihkan dari pupil.
Memeriksa refleks pupil terhadap cahaya indirect
Mengamati perubahan diameter pupil pada mata yang tidak
15
disorot cahaya ketika mata yang satunya mendapatkan sorotan
cahaya langsung.
16 Memeriksa refleks pupil terhadap cahaya indirect
Memeriksa refleks akomodasi pupil.
- Meminta penderita melihat jari telunjuk pemeriksa pada jarak
yang agak jauh.
- Meminta penderita untuk terus melihat jari telunjuk
17
pemeriksa yang digerakkan mendekati hidung penderita.
- Mengamati gerakan bola mata dan perubahan diameter pupil
penderita (pada keadaan normal kedua mata akan bergerak ke
medial dan pupil menyempit)
Melaporkan hasil pemeriksaan nervi okularis
18
Jumlah Skor
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
34
PEMERIKSAAN NERVUS TRIGEMINUS (N V)
Pemeriksaan N V meliputi pemeriksaan motorik dan sensorik. Adapun prosedur
pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan fungsi motorik :
a. Meminta penderita untuk merapatkan gigi sekuat kuatnya.
b. Pemeriksa mengamati muskulus masseter dan muskulus temporalis (normal :
kekuatan kontraksi sisi kanan dan kiri sama).
c. Meminta penderita untuk membuka mulut.
d. Pemeriksa mengamati apakah dagu tampak simetris dengan acuan gigi seri atas dan
bawah (apabila ada kelumpuhan, dagu akan terdorong ke arah lesi).

Gambar 12. Pemeriksaan kekuatan muskulus masseter dan muskulus temporalis


(diadaptasi dari Buckley, et al, 1980)
Pemeriksaan fungsi sensorik :
a. Melakukan pemeriksaan sensasi nyeri dengan jarum pada daerah dahi, pipi, dan
rahang bawah.
b. Melakukan pemeriksaan sensasi suhu dengan kapas yang dibasahi air hangat pada
daerah dahi, pipi, dan rahang bawah.
Melakukan pemeriksaan refleks kornea :
a. Menyentuh kornea dengan ujung kapas (normal penderita akan menutup mata/
berkedip).
b. Menanyakan apakah penderita dapat merasakan sentuhan tersebut.

Gambar 13. Pemeriksaan refleks kornea (diadaptasi dari Buckley, et al, 1980)
4. Melakukan pemeriksaan refleks masseter :
a. Meminta penderita untuk sedikit membuka mulutnya.
b. Meletakkan jari telunjuk kiri pemeriksa di garis tengah dagu penderita.
c. Mengetok jari telunjuk kiri pemeriksa dengan jari tengah tangan kanan pemeriksa
atau dengan palu refleks.
d. Mengamati respon yang muncul : kontraksi muskulus masseter dan mulut akan
menutup.

Gambar 14. Pemeriksaan refleks masseter (diadaptasi dari Buckley, et al, 1980)
CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN NERVUS TRIGEMINUS
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
Pemeriksaan Motorik
1 Meminta penderita untuk merapatkan gigi sekuat kuatnya
2 Pemeriksa mengamati m. Maseter dan m. Temporalis (normal:
kekuatan kontraksi sisi kanan dan kiri sama).
3 Meminta penderita untuk membuka mulut
4 Pemeriksa mengamati apakah dagu tampak simetris dengan
acuan gigi seri atas dan bawah (apabila ada kelumpuhan,
dagu akan terdorong ke arah lesi).
Pemeriksaan Fungsi Sensorik
5 Melakukan pemeriksaan sensasi nyeri dengan jarum pada
daerah dahi, pipi, dan rahang bawah.
6 Melakukan pemeriksaan sensasi suhu dengan kapas yang
dibasahi air hangat pada daerah dahi, pipi, dan rahang bawah.
Melakukan pemeriksaan refleks kornea
7 Menyentuh kornea dengan ujung kapas (normal penderita
akan menutup mata / berkedip)
8 Menanyakan apakah penderita dapat merasakan sentuhan
tersebut.
Melakukan pemeriksaan refleks masseter
9 Meminta penderita untuk sedikit membuka mulutnya
10 Meletakkan jari telunjuk kiri pemeriksa di garis tengah dagu
penderita
11 Mengetok jari telunjuk kiri pemeriksa dengan jari tengah
tangan kanan pemeriksa atau dengan palu refleks.
12 Mengamati respon yang muncul : kontraksi m. masseter dan
mulut akan menutup.
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%


24
PEMERIKSAAN NERVUS FACIALIS (N VII)
Prosedur pemeriksaan nervus Fasialis
a. Pemeriksaan motorik
- Meminta penderita untuk duduk dengan posisi istirahat (rileks).
- Pemeriksa mengamati muka penderita bagian kiri dan kanan apakah simetris atau
tidak.
- Pemeriksa mengamati lipatan dahi, tinggi alis, lebar celah mata, lipatan kulit
nasolabial dan sudut mulut.
- Meminta penderita menggerakkan mukanya dengan cara sbb:
o mengerutkan dahi, bagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam. o
Mengangkat alis.
o Menutup mata dengan rapat, lalu pemeriksa mencoba membuka dengan tangan.
o Memoncongkan bibir atau nyengir.
o Meminta penderita menggembungkan pipinya, lalu pemeriksa menekan pipi kiri dan
kanan untuk mengamati apakah kekuatannya sama. Bila ada kelumpuhan maka
angin akan keluar dari bagian yang lumpuh.

Gambar 16. Pemeriksaan motorik N. VII (diadaptasi dari Buckley, et al., 1980)
b. Pemeriksaan viseromotorik (parasimpatis)
- Memeriksa kondisi kelenjar lakrimalis, basah atau kering
- Memeriksa kelenjar sublingualis
- Memeriksa mukosa hidung dan mulut.
c. Pemeriksaan sensorik
- Meminta pemeriksa menjulurkan lidah.
- Meletakkan gula, asam garam, atau sesuatu yang pahit pada sebelah kiri dan
kanan dari 2/3 bagian depan lidah.
- Meminta penderita untuk menuliskan apa yang dirasakannya pada secarik
kertas.
Catatan: Pada saat dilakukan pemeriksaan hendaknya:
o lidah penderita terus menerus dijulurkan keluar o
penderita tidak diperkenankan bicara
o penderita tidak diperkenankan menelan
CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN NERVUS FACIALIS
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
Pemeriksaan motorik
1 Meminta penderita untuk duduk dengan posisi istirahat (rileks)
2 Pemeriksa mengamati muka penderita bagian kiri dan kanan apakah
simetris atau tidak.
3 Pemeriksa mengamati lipatan dahi, tinggi alis, lebar celah mata,
lipatan kulit nasolabial dan sudut mulut.
4 Meminta penderita menggerakkan mukanya dengan cara sbb:
o Mengerutkan dahi, bagian yang lumpuh lipatannya tidak
dalam.
o Mengangkat alis,
o Menutup mata dengan rapat, lalu pemeriksa mencoba
membuka dengan tangan.
o Memoncongkan bibir atau nyengir,
o Meminta penderita menggembungkan pipinya, lalu
pemeriksa menekan pipi kiri dan kanan untuk mengamati
apakah kekuatannya sama. Bila ada kelumpuhan maka
angin akan keluar dari bagian yang lumpuh.
Pemeriksaan viseromotorik (parasimpatis)
5 Memeriksa kondisi kelenjar lakrimalis, basah atau kering
6 Memeriksa kelenjar sublingualis
7 Memeriksa mukosa hidung dan mulut.
Pemeriksaan sensorik
8 Meminta pemeriksa menjulurkan lidah.
9 Meletakkan gula, asam garam, atau sesuatu yang pahit pada
sebelah kiri dan kanan dari 2/3 bagian depan lidah.
10 Meminta penderita untuk menuliskan apa yang dirasakannya pada
secarik kertas.
11 Melaporkan hasil pemeriksaan n. facialis
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan
mahasiswa karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan
dalam skenario yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
22
PEMERIKSAAN NERVUS AKUSTIKUS (NVIII)
a. Pemeriksaan Fungsi Pendengaran.
1. Pemeriksaan Weber :
- Tujuan untuk membandingkan daya transport melalui tulang di telinga kanan dan
kiri penderita.
- Garputala diletakkan di dahi penderita.
Pada keadaan normal kiri dan kanan sama keras (penderita tidak dapat
menentukan di mana yang lebih keras).
- Bila terdapat tuli konduksi di sebelah kiri, misal oleh karena otitis media, pada tes
Weber terdengar kiri lebih keras. Bila terdapat tuli persepsi di sebelah kiri, maka
tes Weber terdengar lebih keras di kanan.
2. Pemeriksaan Rinne :
- Tujuan untuk membandingkan pendengaran melalui tulang dan udara dari
penderita.
Pada telinga sehat, pendengaran melalui udara di dengar lebih lama daripada
melalui tulang.
- Garputala ditempatkan pada planum mastoid sampai penderita tidak dapat
mendengarnya lagi, kemudian garpu tala dipindahkan ke depan meatus eksternus.
Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan tes positif, pada orang
normal atau tuli persepsi, tes Rinne ini positif. Pada tuli konduksi tes Rinne
negatif.
3. Pemeriksaan Schwabach :
- Tujuan membandingkan hantaran tulang penderita dengan hantaran tulang
pemeriksa (dengan anggapan pandengaran pemeriksa adalah baik)
- Garputala yang telah digetarkan ditempatkan di prosesus mastoideus penderita.
Bila penderita sudah tidak mendengar lagi suara garputala tersebut, maka segera
garputala dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa.
- Bila hantaran tulang penderita baik, maka pemeriksa tidak akan mendengar suara
mendenging lagi. Keadaan ini dinamakan Schwabach normal.
- Bila hantaran tulang si penderita kurang baik, maka pemeriksa masih mendengar
suara getaran garputala tersebut. Keadaan ini dinamakan Schwabach memendek.
b. Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan
1. Pemeriksaan dengan Tes Kalori :
Bila telinga kiri dimasukkan air dingin timbul nistagmus ke kanan. Bila telinga kiri
dimasukkan air hangat akan timbul nistagmus ke kiri.
Bila ada gangguan keseimbangan, maka perubahan temperatur air dingin dan hangat
ini tidak menimbulkan reaksi.
2. Pemeriksaan dengan Past Ponting Test :
Penderita diminta untuk menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya,
kemudian dengan mata tertutup penderita diminta untuk mengulangi, normal
penderita harus dapat melakukannya.
CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN NERVUS AKUSTIKUS
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
Pemeriksaan Fungsi Pendengaran
Pemeriksaan Weber
1 Melakukan pemeriksaan Weber dengan benar.
2 Menjelaskan interpretasi pemeriksaan Weber dengan benar.
Pemeriksaan Rinne
3 Melakukan pemeriksaan Rinne dengan benar
4 Menjelaskan interpretasi pemeriksaan Rinne dengan benar.
Pemeriksaan Schwabach
5 Melakukan pemeriksaan Schwabach dengan benar.
6 Menjelaskan interpretasi pemeriksaan Schwabach dengan
benar.
Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan
Pemeriksaan dengan Tes Kalori
7 Melakukan pemeriksaan tes kalori dengan benar.
8 Menjelaskan interpretasi pemeriksaan tes kalori dengan benar.
Pemeriksaan dengan Past Pointing Test
9 Melakukan pemeriksaan Past Pointing Test dengan benar.
10 Menjelaskan interpretasi pemeriksaan Past Pointing Test
dengan benar.
11 Melaporkan hasil pemeriksaan n. Akustikus dengan benar.
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
22
PEMERIKSAAN NERVUS GLOSOFARINGEUS (N IX)
Prosedur pemeriksaan Nervus Glosofaringeus :
- Penderita diminta untuk membuka mulutnya.
- Dengan penekan lidah, lidah hendaknya ditekan ke bawah, sementara itu penderita
diminta untuk mengucapkan ’a-a-a’ panjang.
- Maka akan tampak bahwa langit-langit yang sehat akan bergerak ke atas. Lengkung
langit-langit di sisi yang sakit tidak akan bergerak ke atas.
- Adanya gangguan pada m. stylopharingeus, maka uvula tidak simetris tetapi tampak
miring tertarik ke sisi yang sehat.
- Adanya gangguan sensibilitas, maka jika dilakukan perabaan pada bagian belakang
lidah atau menggores dinding pharyng kanan dan kiri, refleks muntah tidak terjadi.
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN NERVUS GLOSOFARINGEUS
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
1 Meminta pasien membuka mulutnya

2 Dengan penekan lidah, lidah ditekan ke bawah, penderita


diminta untuk mengucapkan ’a-a-a’ panjang.
3 Mengamati respon yang terjadi dan melaporkan hasil
pemeriksaan komponen motorik dari nervus glosofaringeus.
4 Meraba bagian belakang lidah atau menggores dinding
pharyng kanan dan kiri.
Mengamati respon yang terjadi dan melaporkan hasil
5
pemeriksaan komponen sensorik dari nervus glosofaringeus.
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
10
PEMERIKSAAN NERVUS VAGUS (N X)
Prosedur pemeriksaan Nervus Vagus :
- Buka mulut penderita, bila terdapat kelumpuhan maka akan terlihat uvula tidak di tengah
tetapi tampak miring tertarik ke sisi yang sehat.
- Refleks faring / refleks muntah tidak ada.
- Untuk memeriksa plica vokalis diperlukan laryngoscope. Bila terdapat kelumpuhan satu
sisi pita suara, maka pita suara tersebut tidak bergerak sewaktu fonasi atau inspirasi dan
pita suara akan menjadi atonis dan lama kelamaan atopi, suara penderita menjadi parau.
- Bila kedua sisi pita suara mengalami kelumpuhan, maka pita suara itu akan berada di
garis tengah dan tidak bergerak sama sekali sehingga akan timbul afoni dan stridor
inspiratorik.
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN NERVUS VAGUS
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
1 Minta penderita untuk membuka mulut

2 Melakukan dan melaporkan pemeriksaan inspeksi : bila


terdapat kelumpuhan nervus vagus, uvula tidak berada di
tengah, tampak miring tertarik ke sisi yang sehat.
3 Melakukan pemeriksaan refleks faring/muntah dengan
benar.
4. Mempersiapkan laryngoscope dan melakukan pemeriksaan
plica vokalis
5 Menilai dan melaporkan ada tidaknya kelumpuhan nervus
vagus : bila terdapat kelumpuhan satu sisi, pita suara tidak
bergerak waktu fonasi / inspirasi, atonis, atropi, suara
penderita parau.
Bila terdapat kelumpuhan dua sisi, pita suara berada di
tengah dan tidak bergerak, timbul afoni dan stridor
inspiratorik.
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
10
PEMERIKSAAN NERVUS AKSESORIUS (N XI)
Prosedur pemeriksaan Nervus Asesorius :
a. Untuk mengetahui adanya paralisis m. sternokleidomastoideus :
Penderita diminta menolehkan kepalanya kearah sisi yang sehat, kemudian kita raba
m. sternokleidomastoideus. Bila terdapat paralisis N. XI di sisi tersebut, maka akan
teraba m. sternokleidomastoideus itu tidak menegang.
b. Untuk mengetahui adanya paralisis m. trapezius :
Pada inspeksi akan tampak :
- Bahu penderita di sisi yang sakit adalah lebih rendah daripada di sisi yang sehat. -
Margo vertebralis skapula di sisi yang sakit tampak lebih ke samping daripada di
sisi yang sehat.
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN NERVUS ASESORIUS
No Aspek Penilaian Skor
0 1 2
Pemeriksaan paralisis m. sternokleidomastoideus

1 Penderita diminta menolehkan kepalanya ke arah sisi yang


sehat.
2 Meraba m. sternokleidomastoideus
3 Menilai dan melaporkan ada tidaknya paralisis N. XI : bila
terdapat paralisis N. XI di sisi tersebut, maka akan teraba m.
sternokleidomastoideus tidak menegang.
Pemeriksaan paralisis m. trapezius
4 Inspeksi m. trapezius
Menilai ada tidaknya paralisis N. XI : bila terdapat paralisis
5 N.
XI di sisi tersebut : bahu penderita di sisi yang sakit lebih
rendah daripada sisi yang sehat, margo vertebralis skapula di
sisi yang sakit tampak lebih ke samping daripada sisi yang
sehat.
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
10
PEMERIKSAAN NERVUS HIPOGLOSSUS (N XII)
Prosedur pemeriksaan Nervus Hipoglossus :
Kelumpuhan pada N. Hipoglossus akan menimbulkan gangguan pergerakan lidah.
- Akibat gangguan pergerakan lidah, maka perkataan-perkataan tidak dapat diucapkan
dengan baik, disebut dengan disartria.
- Dalam keadaan diam, lidah tidak simetris, biasanya bergeser ke daerah sehat karena
tonus di sini menurun.
- Bila lidah dijulurkan, lidah akan berdeviasi ke sisi sakit.
CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN NERVUS HIPOGLOSSUS
Skor
No Aspek Penilaian
0 1 2
1 Memeriksa adanya disartria
2 Meminta pasien membuka mulut dan melakukan inspeksi
lidah dalam keadaan diam, bila ada kelumpuhan lidah tidak
simetris, tertarik ke sisi yang sehat.
3 Meminta pasien menjulurkan lidah dan melakukan inspeksi
lidah dalam keadaan dijulurkan, bila ada kelumpuhan N. XII
lidah akan berdeviasi ke sisi yang sakit.
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa : Jumlah Skor x 100%
6

8. Bagaimana epidemiologi pada kasus? (1,8)


2.3.1. Distribusi Frekuensi Stroke Hemoragik
c. Menurut Orang
Di Amerika Serikat, sekitar 28% penderita stroke berusia lebih dari 65 tahun.20
Hasil penelitian Aliah A. dan Widjaja D. di empat Rumah Sakit di Makasar (2000)
dengan desain Case Series diperoleh bahwa proporsi penderita stroke pada
kelompok umur < 40 tahun sebesar 3%, kelompok umur 40-49 tahun sebesar 20%,
kelompok umur 50-59 tahun sebesar 26%, kelompok umur 60-69 tahun sebesar 41%
dan kelompok umur ≥ 70 tahun sebesar 10%. Jumlah penderita stroke laki-laki
sebanyak 58 orang dan penderita stroke wanita sebanyak 42 orang.21 Penelitian
Syahdani di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (2003) dengan desain Case Series
menunjukkan bahwa proporsi penderita stroke terbesar pada kelompok umur > 59
tahun yaitu sebesar 50,5% dan sebagian besar penderitanya adalah lakilaki sebesar
65,5%.
d. Menurut Tempat
Dari data penelitian tahun 1994 pada populasi masyarakat didapatkan angka
prevalensi penyakit stroke pada daerah urban sekitar 0,5% dan angka insidensi
penyakit stroke pada daerah rural sekitar 50/100.000 penduduk.
e. Menurut Waktu
Menurut WHO (2005), stroke menjadi penyebab kematian dari 5,7 juta jiwa
diseluruh dunia dan diperkirakan meningkat menjadi 6,5 juta penderita pada tahun
2015 dan 7,8 juta penderita pada tahun 2030.24 Berdasarkan penelitian Wiwid di
Rumah Sakit Stroke Nasional Bukit Tinggi Tahun 2005-2007, menunjukkan bahwa
jumlah penderita stroke hemoragik tahun 2005 sebanyak 66 0rang, tahun 2006
sebanyak 54 orang, tahun 2007 sebanyak 59 orang.

https://www.scribd.com/doc/191712501/Menjelaskan-Jaras-Motorik-Dan-Sensorik
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30235/3/Chapter%20II.pdf
http://fk.uns.ac.id/static/file/GABUNGAN_MANUAL_SEMESTER_3-2012-ED.pdf