Anda di halaman 1dari 1

a.

Gambaran dilema profit dan not for profit dari industri pelayanan kesehatan

Salah satu ciri dari pelayanan kesehatan adalah not for profit yaitu idealnya mencari
keuntungan bukan merupakan tujuan utama bagi pelayanan kesehatan, namun fungsi sosial yang
harus diutamakan. Banyak orang yang salah menganggap bahwa sektor kesehatan adalah sektor not
to profit, dimana pelayanan kesehatan dilarang untuk mencari keuntungan dari orang yang sakit.
Sebenarnya, Di Indonesia sendiri alat kesehatan sebagian besar masih di impor yang berarti terkena
bea masuk barang mewah sebesar 30%+pajak penjualan 10% sementara obat kena pajak penjualan
sebesar 10%. Otomatis yang menanggung semuanya adalah pengguna akhir alias pasien.

Rumah sakit dituntut tidak boleh mencari keuntungan, namun RS swasta pada khususnya
harus mempunyai uang untuk membeli alat mahal tersebut. Otomatis, pihak RS harus menghitung
dengan cermat berapa biaya alat dan berapa biaya pemeriksaan yang harus ditanggung oleh pasien
serta berapa jumlah pasien/hari hingga untungnya cukup untuk mengganti biaya alat yang mahal
tadi.

Tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, dan lain-lain juga memerlukan gaji yang
cukup. Kenyataan di negara lain dokter digaji setara dengan DPR namun di Indonesia sendiri hanya
1/30 dari pendapatan mereka dalam setahun. Otomatis keadaan inilah yang menuntut tenaga
kesehatan untuk mencari orang-orang yang membutuhkan perawatan kesehatan.

Jadi bisa ditarik kesimpulannya bahwa pelayanan kesehatan itu bersifat not for profit itu
mustahil terlaksana dengan keadaan yang seperti ini. Kenyataannya saat ini pemerintah kurang
membantu sektor kesehatan.