Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS MASALAH

3.2 He also said that in the previous month he had productive cough with a
lot of phlegm, mild fever, loss of apetite, rapid loss of body weight
(previous weight:70kg), and shortness of breath. Since a week ago, he felt
his symptoms were worsening.

3.2.4 Bagaimana penyebab dan mekanisme sesak nafas dan


pendek?(10,13)

Infeksi bakteri Mycoplasma tuberculosis -> kerusakan parenkim paru yang


luas (konsolidasi, fibrosis, atau sisa cavitas) dan kelainan saluran nafas
(radang mukosa,penyempitan maupun penimbunan sekret) -> gangguan
fungsi ventilasi -> jumlah oksigenke alveolus berkurang -> sesak nafas

3.2.5 Mengapa gejalanya memburuk sejak seminggu terakhir? (11,1,13)

3.3 From further interview, Mr.Y have similar symptoms 6 years


ago, he was given medication after consulting with doctor at
that time. But stop the treatment after 2 weeks because he was
feeling better.

3.3.1 Bagaimana hubungan pengobatan yang tidak tuntas dengan gejala


yang di alami sekarang? (13,3,10)

3.4 General appearance: he looked severely sick and pale. Body


height: 175cm, Body weight: 55kg BP: 100/70mmHg, HR:
112x/min, RR: 36x/minute, temp 37,6C.
There was a tattoo on the chest.In chest auscultation there
was an increase of vesicular sound at the right apex lung
with moderate rales.
3.4.1 Apa saja bunyi paru yang normal?(10,13)

1
Suara Paru-Paru Normal

Pada suara paru-paru normal, dapat dibagi lagi menjadi 4 bagian.


Pembagian ini didasarkan pada posisi stetoskop pada saat auskultasi
(Ramadhan, M,Z. 2012).. Pembagian yang dimaksud adalah sebagai berikut
:

1. Tracheal Sound, yaitu suara yang terdengar pada bagian tracheal,


yaitu pada bagian larik dan pangkal leher.
2. Bronchial Sound, yaitu suara yang terdengar pada bagian
bronchial, yaitu suara pada bagian percabangan antara paru-
paru kanan dan paru-paru kiri.
3. Bronchovesicular Sound, suara ini didengar pada bagian ronchus,
yaitu tepat pada bagian dada sebelah kanan atau kiri.
4. Vesicular Sound, suara yang dapat didengar pada bagian
vesicular, yaitu bagian dada samping dan dada dekat perut.

Gambar 2.3 suara paru-paru berdasarkan

lokasi auskultasi (Ramadhan, M,Z., 2012)

3.4.2 Bagaimana interpretasi dan mekanisme dari HB?(13,3)

2
1. Hemoglobin 8.5 g % 14-16 % Anemia, disebabkan oleh
hemaptoe massif.
a. Hemoglobin rendah
Mengindikasikan terjadinya anemia yang kemungkinan akibat dari
terganggunya proses erithropoietin dan hemoptisis yang dialami pasien
tersebut. Anemia pada tuberkulosis dapat dikarenakan terjadinya
gangguan pada proses eritropoesis oleh mediator inflamasi. Respon
imun yang muncul karena reaksi infeksi dan inflamasi menyebabkan
dilepasnya protein yang disebut sitokin. Protein ini membantu dalam
proses penyembuhan dan melawan infeksi, tetapi juga dapat
mempengaruhi fungsi tubuh yang normal. Pada anemia penyakit
kronik, sitokin mengganggu kemampuan tubuh dalam mengabsorbsi
dan menggunakan Fe.
i. Sitokin interferon-γ (dari sel T), TNF-α, IL-1, IL-6 dan IL-10
(dari monosit dan makrofag).
Interferon-γ, lipopolisakarida, dan TNF-α meningkatkan
regulasi DMT1, dan terjadi kenaikan pemasukan Fe dalam
makrofag.Rangsangan proinflamatory ini menyebabkan retensi
Fe pada makrofag dengan menurunkan reaksi ferropotin,
sehingga mengurangi pelepasan Fe dari sel ini.Feroportin
adalah suatu pengirim Fe transmembran, yang berperan dalam
absorbsi Fe dari duodenum menuju sirkulasi.Sitokin anti
inflamasi seperti IL-10 juga menyebabkan anemia melalui
stimulasi pengambilalihan Fe oleh makrofag dan stimulasi
translasi dari produksi ferritin.
ii. IL-6 dan lipopolisakarida
Menstimulasi produksi hepcidin fase akut, yang menurunkan
absorbsi Fe dari duodenum.
iii. Sitokin IL-10
Meningkatkan ekspresi reseptor transferrin dan meningkatkan
pemasukan transferin ke dalam monosit.

3
Dengan demikian terganggunya homeostasis dan terbatasnya
kapasitas Fe untuk sel progenitor eritroid menyebabkan terganggunya
proses biosintesis heme.pemendekan masa hidup eritrosit, gangguan
metabolism besi, adanya malabsorbsi dan ketidakcukupan zat gizi.
Buruknya status nutrisi pada pasien tuberkulosis juga berhubungan
dengan munculnya anemia, dimana status nutrisi pasien dapat diukur
dengan menghitung BMI dan memeriksa kadar albumin.12 Albumin
dapat digunakan sebagai indicator klasik keadaan malnutrisi. Albumin
adalah protein utama yang dihasilkan hepar selama sehat dan sepertiga
dari albumin yang dapat dipertukarkan terdapat di dalam ruang
intravaskular.Kadar albumin yang kurang dari normal menunjukkan
prognosis yang lebih buruk.
Baik anemia penyakit kronik maupun anemia defisiensi besi dapat
terjadi pada penderita tuberkulosis.

3.5 Tempelate

3.5.6 Patogenesis(10,13)

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan


oleh Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung.
Mycobacterium tuberculosis termasuk bakteri gram positif dan berbentuk
batang. Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang paru dan
sebagian kecil organ tubuh lain. Kuman ini mempunyai sifat khusus, yakni
tahan terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi
dahak secara mikroskopis sehingga disebut sebagai basil tahan asam
(BTA). Mycobacterium tuberculosis cepat mati dengan matahari langsung,
tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan lembab. Kuman
dapat dormant atau tertidur sampai beberapa tahun dalam jaringan tubuh.

Penyakit tuberkulosis ditularkan melalui udara secara langsung dari


penderita TB kepada orang lain. Dengan demikian, penularan penyakit TB
terjadi melalui hubungan dekat antara penderita dan orang yang tertular
(terinfeksi), misalnya berada di dalam ruangan tidur atau ruang kerja yang
sama. Penderita penyakit TB sering tidak tahu bahwa ia menderita sakit

4
tuberkulosis (Djojodibraoto, 2009). Sumber penularan adalah pasien
dengan TB BTA (+) yang pada saat batuk atau bersin, pasien menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk dahak (droplet nuclei). Sekali batuk pasien
tersebut dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya
penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan / partikel dahak berada
dalam waktu yang lama. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan
di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Ventilasi dapat
mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari dapat langsung
membunuh kuman.

Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman


yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang
memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi
percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Gerdunas-
TB, 2007).
Jika droplet tadi terhirup oleh orang lain yang sehat, droplet akan
terdampar pada dinding saluran pernapasan. Droplet besar akan terdampar
pada saluran pernapasan bagian atas, droplet kecil akan masuk ke dalam
alveoli di lobus mana pun; tidak ada prediksi lokasi terdamparnya droplet
kecil. Pada tempat terdamparnya, basil tuberkulosis akan membentuk suatu
focus infeksi primer berupa tempat pembiakan basil tuberkulosis tersebut
dan tubuh penderita akan memberikan reaksi inflamasi. Basil TB yang
masuk tadi akan mendapatkan perlawanan dari tubuh, jenis
perlawanan tubuh tergantung kepada pengalaman tubuh, yaitu pernah
mengenal basil TB atau tidak pernah sama sekali.
Kuman tuberkulosis tersebut juga dapat menyebar dari paru
kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular. Seseorang terinfeksi
tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut.

5
Secara klinis, tuberkulosis dapat terjadi melalui infeksi primer dan
pasca primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman
tuberkulosis untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran
pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini
disebabkan oleh kuman tuberkulosis yang berkembang biak dengan cara
pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi hingga pembentukan
komplek primer adalah sekitar 4-6 minggu. Kelanjutan infeksi primer
tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan respon daya tahan
tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TB dengan cara
menyelubungi kuman dengan jaringan pengikat. Ada beberapa kuman
yang menetap sebagai “persister” atau “dormant”, sehingga daya tahan
tubuh tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya
yang bersangkutan akan menjadi penderita tuberkulosis dalam beberapa
bulan. Pada infeksi primer ini biasanya menjadi abses (terselubung) dan
berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi pada
orang-orang dengan sistem imun lemah dapat timbul radang paru hebat,
ciri-cirinya batuk kronik dan bersifat sangat menular. Infeksi pasca primer
terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer. Ciri khas
tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan
terjadinya efusi pleura. Risiko terinfeksi tuberkulosis sebagian besar
adalah faktor risiko eksternal, terutama adalah faktor lingkungan seperti
rumah tak sehat, pemukiman padat dan kumuh. Sedangkan risiko menjadi
sakit tuberkulosis, sebagian besar adalah faktor internal dalam tubuh
penderita sendiri yang disebabkan oleh terganggunya sistem kekebalan
dalam tubuh penderita seperti kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, dan
pengobatan dengan immunosupresan. Penderita tuberkulosis paru dengan
kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa
mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus
kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan obat antituberkulosis
(OAT) tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis.
Resistensi terhadap OAT terjadi umumnya karena penderita yang

6
menggunakan obat tidak sesuai atau patuh dengan jadwal atau dosisnya.
Resistensi ini menyebabkan jenis obat yang biasa dipakai sesuai pedoman
pengobatan tidak lagi dapat membunuh kuman.

3.5.9 Tatalaksana farmako dan non farmako(13,3)

Penderita tuberkulosis paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh
(BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali
dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan obat
antituberkulosis (OAT) tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan
simtomatis. Resistensi terhadap OAT terjadi umumnya karena penderita yang
menggunakan obat tidak sesuai atau patuh dengan jadwal atau dosisnya.
Resistensi ini menyebabkan jenis obat yang biasa dipakai sesuai pedoman
pengobatan tidak lagi dapat membunuh kuman.(?)

LI: 1.ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAFASAN(1,4,7,10,13)

DAFTAR PUSTAKA

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2009/11/aspek_hematologi_tuberkulosis.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/42834/3/Chapter%20II.pdf

7
8