Anda di halaman 1dari 10

KAJIAN PEMANFAATAN KULTUR JARINGAN DALAM PERBANYAKAN

TANAMAN BEBAS VIRUS

Arie Hapsani Hasan Basri

Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Medan

ABSTRACT

Provision of plant seeds to production processes is a very important aspect. The production process for large-scale
such farms and plantations, needed of seeds in large quantities. The resulting seedlings are expected to have improved
varieties, uniform, free of pests and pathogens as well as continuous provision.
Tissue culture is one techniquethat can be applied to produce virusfree seed in large quantities and a relatively short
time. Apical meristem culture and callus culture method as an potential to eliminate virus that infects systemically
because of the proliferation of cells of the apical meristem faster than the spread of the virus. In addition, the cells of
the apical meristem havenot plasmodesmata. Utilization of tissue culture propagation as seedlings of virus-free plants
is an alternative effective control and should be applied to a large scale.

Keywords : tissue culture, propagation of virus-free plants

PENDAHULUAN mengisolasi bagian dari tanaman seperti


protoplasma, sel, jaringan dan organ yang
Penyediaan bibit sebagai upaya ditumbuhkan dalam kondisi aseptik, sehingga
pengembangan suatu tanaman dalam suatu proses bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri
produksi merupakan aspek yang sangat penting. dan beregenerasi menjadi tanaman yang utuh
Proses produksi untuk skala besar seperti pertanian lagi.Prinsip utama dari teknik kultur jaringan ialah
dan perkebunan, membutuhkan bibit dalam jumlah perbanyakan tanaman menggunakan bagian
banyak seperti varietas unggul, seragam, bebas vegetatif tanaman pada media buatan yang
hama dan patogen serta penyediaan yang dilakukan pada tempat steril.
kontinyu.Pada umumnya perbanyakan tanaman
biasanya dilakukan secara konvensional yaitu Metode kulturjaringan dapat menghasilkan
menanam dari biji, stek, cangkok dan lain bibit dalam jumlah yang banyak tanpa memerlukan
sebagainya.Metode-metode tersebut seperti jumlah induk yang banyak dan waktu yang relatif
singkat. Metode ini selain digunakan untuk
diketahui adalah metode perbanyakan tanaman
yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk perbanyakan tanaman, juga digunakan untuk
mengeliminasi virus. Parmessur et al., (2002)
memperoleh bibit dalam jumlah banyak.Teknik
perbanyakan secara konvensional menghadapi dalam penelitiannya melaporkan bahwa metode in
banyak kendala, baik teknis di lapangan, waktu, vitro kultur kalus mampu mengeliminasi virus
penyebab penyakit garis kuning (Sugarcane yellow
maupun kualitas. Oleh sebab itu, teknik
kulturjaringan menjadi pilihan dalam upaya leaf virus) mencapai 100% dan kultur meristem
penyediaan bibit suatu tanaman. apikal mampu mengeliminasi virus tersebut
sebesar 64%. Balamuralikrishnan et al., (2002)
Bioteknologi tanaman adalah budidaya melaporkan bahwa eliminasi virus mosaik tebu
jaringan tanaman secara in vitro yang memiliki (Sugarcane mosaic virus) menggunakan kultur
kesejajaran dengan budidaya tanaman secara meristem tip yang dikombinasikan dengan
konvensional (Watimena et al., 1992).Kultur khemoterapi ribavirin pada 50 ppm mampu
jaringantanaman diusahakan untuk menanam mengeliminasi virus tersebut sebesar95%
eksplan berupa bagian tanaman, jaringan sel, sub dibandingkan kultur meristem tanpa kombinasi.
selular secara in vitro untuk tujuan tertentu. Teknik
kulturjaringan adalah suatu teknik untuk
Kajian Pemanfaatan Kultur Jaringan Dalam Perbanyakan... (Arie Hapsani Hasan Basri) 65

Aplikasi teknik kultur jaringan bertujuan sangat sulit karena tanaman yang masih muda
untuk eliminasi suatu penyakit atau produksi bibit mengandung senyawa fenol yang sangat tinggi
bebas penyakit, kelestarian plasma nutfah, sehingga akan mengakibatkan browning dan pada
memperoleh varietas unggul dan produksi senyawa akhirnya eksplan akan mati. Sedangkan apabila
metabolit sekunder. Oleh karena itu, teknik kultur tanaman yang akan digunakan untuk eksplan
jaringan sangat penting di terapkan dalam berumur tua akan sulit untuk tumbuh. Hal itu
perbanyakan tanaman baik untuk tanaman disebabkan karena tanaman berada pada masa
pertanian maupun tanaman perkebunan. matur/pertumbuhan yang lanjut sehingga sifat
totipotensi pada sel tersebut sangat sedikit sekali
atau bahkan tidak ada. Contohnya pada tanaman
KULTUR JARINGAN tebu, eksplan yang digunakan sebaiknya berumur
sekitar 4–5bulan (Basri, 2009).
Kultur in-vitro adalah suatu teknik
b. Aseptisitas pekerja
mengisolasi bagian tanaman seperti protoplas, sel,
jaringan dan organ, yang kemudian Kebersihan pekerja juga perlu diperhatikan
menumbuhkannya dalam media buatan dengan didalam perkembangbiakan secara kultur in vitro.
kondisi aseptik dan terkendali (Gunawan, Apabila pekerja dalam kondisi yang aseptis maka
l988).Teknik ini pada awalnya digunakan dalam akan memperkecil kemungkinan terjadinya
usaha perbanyakan tanaman secara cepat, namun kontaminasi.Keadaan pekerja yang kurang aseptik
saat ini telah berkembang menjadi sarana akan memungkinkan terjadinya kontaminasi. Jadi
pendukung program perbaikan sifat tanaman didalam perkembangbiakan secara kultur in vitro,
(Mashudi,1998). Teknik ini dapat menghasilkan kesterilan pekerja juga sangat diperlukan untuk
bibit dalam jumlah yang besar tanpa memerlukan menunjang keberhasilan penanaman (Basri, 2009).
jumlah induk yang banyak dan waktu yang relatif
c. Sterilisasi alat dan bahan
singkat. Kulturin vitro selain digunakan untuk
perbanyakan tanaman, juga digunakan untuk Peralatan yang harus steril adalah laminar air
mengeliminasi virus. flow, alat-alat, tabung kultur. Pada laminar sudah
dilengkapi dengan blower, lampu UV sehingga
Tahapan-Tahapan dalam Kultur Jaringan
dapat mensterilkan ruangan dalam laminar.Akan
1. Pembuatan media tetapi sebelum menggunakan laminar sebaiknya
disemprot menggunakan alkohol 70 %. Alat-alat
Media merupakan faktor terpenting dalam
diseksi juga perlu disterilisasi, apabila alat-alat
pelaksanaan kulturjaringan. Media yang digunakan
tersebut tidak disterilisasi kemungkinan terjadinya
biasanya mengandung bahan-bahan pendukung
kontaminasi akan besar karena bekas-bekas
seperti agar, hormon, garam mineral, vitamin, gula
eksplan ataupun media yang tersisa pada alat-alat
dan zat-zat yang diperlukan tanaman untuk tumbuh
diseksi akan mejadi sumber kontaminan.Oleh
dan berkembang (zat pengatur tumbuh).
karena itu alat-alat diseksi juga perlu disterilisasi.
2. Inisiasi Sterilisasi tabung dilakukan menggunakan oven
Kontaminasi sering terjadi pada proses atau autoclave.
inisiasi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor 3. Sterilisasi
yaitu :
Sterilisasi yang dimaksud dalam kegiatan ini
a. Keadaan eksplan adalah bahwa semua alat, bahan, kondisi
Ekspan yang akan ditanam harus bebas dari laboratorium, eksplan, tempat inisiasi dan pekerja
hama, penyakit maupun mikroorganisme lain yang harus dalam kondisi aseptis.
kurang menguntungkan untuk tanaman. Umur 4. Multiplikasi
tanaman juga mempengaruhi dalam pertumbuhan
Tahapan multiplikasi dilakukan untuk
tanaman.Tanaman atau eksplan yang digunakan
mendapatkan jumlah planlet yang lebih banyak.
untuk kultur jaringan sebaiknya berada pada umur
rata-rata dimana tanaman tersebut tidak terlalu 5. Pengakaran
muda dan juga tidak terlalu tua. Hal ini disebabkan
Pengakaran adalah proses yang di lakukan
apabila tanaman berumur terlalu muda maka
pada pada tanaman yang bertujuan untuk
kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang
membentuk akar pada tanaman yang dikulturkan.
66 Agrica Ekstensia. Vol. 10 No. 1 Juni 2016: 64-73

6. Aklimatisasi karena perbedaan kontrol genetik dari masing-


masing varietas serta jenis kelamin tanaman induk.
Aklimatisasi adalah proses pemindahan
planlet dari botol kultur ke lapangan. Biasanya 2. Media Kultur
planlet terlebih dahulu di tanam di dalam polybag
Perbedaan komposisi media, komposisi zat
agar planlet beradaptasi dengan lingkungan
pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan
sebelum di pindahkan ke lapangan.
akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
Faktor-Faktor yang Mendukung Keberhasilan regenerasi eksplan yang dikulturkan.
Kultur Jaringan
a. Komposisi Media
Kultur jaringan dalam pelaksaannya tidak
Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan
terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi
komposisi garam-garam anorganik, senyawa
tingkat keberhasilannya.Faktor-faktor tersebut
organik, zat pengatur tumbuh sangat
berperan penting dalam mendukung pertumbuhan
mempengaruhi respon eksplan saat
dan perkembangan eksplan.Faktor-faktor yang
dikulturkan.Perbedaan komposisi media biasanya
mempengaruhi keberhasilan teknik kultur in vitro,
sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan
antara lain: sumber bahan tanam yang digunakan
regenerasi eksplan.Meskipun demikian, media
sebagai eksplan, genotip tanaman, lingkungan
yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku
tumbuh eksplan, unsur-unsur hara yang diperlukan
untuk satu jenis eksplan dan tanaman
bagi pertumbuhan eksplan, dan pelaksanaan kerja
saja.Beberapa jenis formulasi media bahkan
(Sofia, 2007).
digunakan secara umum untuk berbagai jenis
1. Genotip Tanaman eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS.
Namun ada juga beberapa jenis media yang
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi
diformulasikan untuk tanaman-tanaman tertentu
pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam
misalnya WPM, VW dll. Media-media tersebut
kultur in-vitro adalah genotip tanaman asal eksplan
dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti
diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan
perkecambahan biji, kultur pucuk, kultur kalus,
bahwa respon masing-masing eksplan tanaman
regenerasi kalus melalui organogenesis dan
sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan
embriogenesis. Media yang dibutuhkan untuk
varietas, tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh
perkecambahan biji, perangsangan tunas-tunas
genotip ini umumnya berhubungan erat dengan
aksilar umumnya lebih sederhana dibandingkan
faktor-faktor lain yang mempengaruhi
dengan media untuk regenerasi kalus baik melalui
pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi,
organogenesis maupun embryogenesis.
zat pengatur tumbuh, lingkungan kultur, dll. Oleh
karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh b. Komposisi Hormon Pertumbuhan
dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan
Komposisi dan konsentrasi hormon
oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi
pertumbuhan yang ditambahkan dalam media
meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan
sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan
sama.
regenerasi eksplan yang dikulturkan.Hormon
Perbedaan respon genotip tanaman tersebut pertumbuhan yang digunakan untuk perbanyakan
dapat diamati pada perbedaan eksplan masing- secara in-vitro adalah golongan auksin, sitokinin,
masing varietas untuk tumbuh dan beregenerasi. giberelin, dan growth retardan. Auksin yang
Masing-masing varietas tanaman berbeda umum dipakai adalah IAA (Indole Acetic Acid),
kemampuannya dalam merangsang pertumbuhan IBA (Indole Butyric Acid), NAA (Naphtalena
tunas aksilar, baik jumlah tunas maupun kecepatan Acetic Acid dan 2,4-D (2,4-dichlorophenoxy
pertumbuhan tunas aksilarnya. Hal serupa juga Acetic Acid). Selain itu beberapa peneliti pada
terjadi pada pembentukan kalus, laju pertumbuhan beberapa tanaman menggunakan juga CPA
kalus serta regenerasi kalus menjadi tanaman (Chlorophenoxy Acetic Acid).Sitokinin yang
lengkap baik melalui pembentukan organ-organ banyak dipakai adalah Kinetin (Furfuryl Amino
adventif maupun embrio somatik.Regenerasi dan Purine), BAP/BA (Benzyl Amino Purine/Benzyl
perkembangan organ adventif dan somatic embrio Adenine), 2i-P (2-isopentenyl Adenin).Beberapa
juga sangat ditentukan oleh varietas tanaman sitokinin lainnya yang juga digunakan adalah
induk.Perbedaan pengaruh genetik ini disebabkan Zeatin, Thidiazuron dan PBA (6(benzylamino)-9-
(2-tetrahydropyranyl)-9H-purine). Hormon
Kajian Pemanfaatan Kultur Jaringan Dalam Perbanyakan... (Arie Hapsani Hasan Basri) 67

pertumbuhan golongan giberellin yang paling kultur in vitro lebih tinggi dari kondisi suhu in
umum digunakan adalah GA3, selian itu ada vivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat
beberapa peneliti yang menggunakan GA4 dan pertumbuhan dan morfogenesis eksplan.
GA7, sedangkan growth retardant yang sering
Pada sebagian besar laboratorium, suhu yang
digunakan adalah Ancymidol, Paraclobutrazol dan
digunakan adalah konstan, yaitu 25C (kisaran
TIBA, AbA dan CCC.
suhu 17 - 32C).Tanaman tropis umumnya
c. Keadaan Fisik Media dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi
Media yang umum digunakan dalam kultur dari tanaman empat musim, yaitu 27C (kisaran
jaringan adalah medium padat, medium semi padat suhu 24 - 32C). Bila suhu siang dan malam diatur
dan medium cair. Keadaan fisik media akan berbeda, maka perbedaannya umumnya adalah 4 -
mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan 8C, variasi yang biasa dilakukan adalah 25C
pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik siang dan 20C malam, atau 28C siang dan 24C
media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain malam. Meskipun hampir semua tanaman dapat
karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam tumbuh pada kisaran suhu tersebut, namun
media serta ketersediaan oksigen bagi kebutuhan suhu untuk masing-masing jenis
pertumbuhan eksplan yang dikulturkan. tanaman umumnya berbeda-beda.Tanaman dapat
tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya. Pada
Media yang umum digunakan dalam
suhu ruang kultur dibawah optimum, pertumbuhan
mikropropagasi adalah semi-solid (semi padat)
eksplan lebih lambat, namun pada suhu diatas
media dengan cara menambahkan agar. Media
optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat
semi padat ini digunakan karena beberapa alasan
abibat tingginya laju respirasi eksplan.
antara lain 1) eksplan yang kecil mudah terlihat
dalam media padat, 2) selama kultur eksplan tetap b. Kelembaban Relatif
berada pada orientasi yang sama, 3) eksplan berada Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan
di atas permukaan media sehingga tidak diperlukan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi,
teknik aerasi tambahan pada kultur, 4) orientasi yaitu berkisar antara 80 - 99%. Jika mulut botol
pertumbuhan tunas dan akar tetap, dan 5) kalus ditutup agak longgar maka kelembaban relatif
tidak pecah seperti jika ditempatkan pada media dalam botol kultur dapat lebih rendah dari 80%.
cair. Namun penambahan agar dalam beberapa Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur
kasus dapat menghambat pertumbuhan karena 1) umumnya adalah sekitar 70%. Jika kelembaban
agar mungkin mengandung senyawa penghambat relatif ruang kultur berada dibawah 70% maka
yang dapat menghambat morfogenesis beberapa akan mengakibatkan media dalam botol kultur
kultur atau memperlambat pertumbuhan kultur, 2) (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan
eksudasi fenolik dari eksplan terserap oleh media kering sehingga eksplan dan plantlet yang
yang menempel dengan eksplan sehingga dapat dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun
mempengaruhi pertumbuhan eksplan, 3) agar harus kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu
dicuci bersih dari akar sebelum diaklimatisasi, dan tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal
4) perlu waktu yang lebih banyak untuk mencuci yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-
gelas kultur misalnya botol-botol harus diautoclave kecil namun terlampau sukulen. Kondisi tanaman
untuk melarutkan agar sebelum dicuci. demikian disebut "vitrifikasi" atau
3. Lingkungan Tumbuh "hiperhidrocity". Sub-kultur ke media lain atau
menempatkan planlet kecil ini dalam botol dengan
a. Suhu
tutup yang agak longgar, tutup dengan filter, atau
Tanaman umumnya tumbuh pada lingkungan menempatkan silica gel dalam botol kultur dapat
dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya membantu mengatasi masalah ini.
pada siang dan malam hari tanaman mengalami
c. Cahaya
kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar.
Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur in Seperti halnya pertumbuhan tanaman dalam
vitro dengan mengatur suhu siang dan malam di kondisi in-vivo, kuantitas dan kualitas cahaya,
ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan yaitu intensitas, lama penyinaran dan panjang
selama ini mengatur suhu ruang kultur yang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan
konstant baik pada siang maupun malam hari. eksplan dalam kultur in-vitro. Pertumbuhan organ
Umumnya temperatur yang digunakan dalam atau jaringan tanaman dalam kultur in-vitro
68 Agrica Ekstensia. Vol. 10 No. 1 Juni 2016: 64-73

umumnya tidak dihambat oleh cahaya, namun kultur berbeda-beda tergantung tujuan
pertumbuhan kalus umumnya dihambat oleh pengkulturannya.
cahaya.
Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap
Pada perbanyakan tanaman secara in-vitro, kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan
kultur umumnya diinkubasikan pada ruang beregenerasi.Umumnya eksplan yang berasal dari
penyimpanan dengan penyinaran. Tunas-tunas jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih
umumnya dirangsang pertumbuhannya dengan mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan
penyinaran, kecuali pada teknik perbanyakan yang dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut.
diawali dengan pertumbuhan kalus. Sumber cahaya Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang
pada ruang kultur ini umumnya adalah lampu aktif membelah dengan dinding sel yang belum
flourescent (TL). Hal ini disebabkan karena lampu kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi
TL menghasilkan cahaya warna putih, selain itu dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh
sinar lampu TL tidak meningkatkan suhu ruang karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan
kultur secara drastis (hanya meningkat sedikit). dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-
Intensitas cahaya yang digunakan pada ruang kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum
kultur umumnya jauh lebih rendah (1/10) dari dewasa, dll. Jika eksplan diambil dari tanaman
intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman dalam dewasa, rejuvenilisasi tanaman induk melalui
keadaan normal. Intensitas cahaya dalam ruang pemangkasan atau pemupukan dapat membantu
kultur untuk pertumbuhan tunas umumnya berkisar untuk memperoleh eksplan muda agar kultur lebih
antara 600 - 1000 lux .Perkecambahan dan inisiasi berhasil.
akar umumnya dilakukan pada intensitas cahaya
Ukuran eksplan juga mempengaruhi
lebih rendah.
keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil
Selain intensitas cahaya, lama penyinaran atau lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan
photoperiodisitas juga mempengaruhi ruang serta media yang banyak, namun
pertumbuhan eksplan yang dikulturkan. Lama kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil
penyinaran umumnya diatur sesuai dengan sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks
kebutuhan tanaman sesuai dengan kondisi untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya
alamiahnya. Periode terang dan gelap umumnya semakin besar eksplan, maka semakin besar
diatur pada kisaran 8 - 16 jam terang dan 16 - 8 kemungkinannya untuk membawa penyakit dan
jam gelap tergantung varietas tanaman dan eksplan makin sulit untuk disterilkan, membutuhkan ruang
yang dikulturkan. Periode siang/malam dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran
(terang/gelap) ini diatur secara otomatis eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis
menggunakan timer yang ditempatkan pada tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan
skaklar lampu pada ruang kultur. Dengan teknik ini pengkulturannya.
penyinaran dapat diatur konstan sesuai kebutuhan
tanaman.
VIRUS TANAMAN
4. Kondisi Eksplan
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur Virus adalah suatu nukleoprotein yang dapat
jaringan sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan memperbanyak diri hanya dalam sel yang hidup
tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain dan memiliki kemampuan menyebabkan
faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di penyakit.Virus berukuran sangat kecil dengan
atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi diameter yang bervariasi dari 20–300nm dan
keberhasilan kultur adalah jenis eksplan, ukuran, membutuhkan bantuan mikroskop elektron untuk
umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan mengamatinya (Agrios, 2005).Virus tersusun atas
sebagai eksplan. asam nukleat dan protein (kapsid).Protein tersebut
berfungsi sebagai pelindung yang berada
Meskipun masing-masing sel tanaman
disekelilingi asam nukleat (Yuwono, 2005).
memiliki kemampuan totipotensi, namun masing-
masing jaringan memiliki kemampuan yang Virus memiliki perbedaan dibandingkan
berbeda-beda untuk tumbuh dan beregenerasi dengan semua patogen tanaman, tidak hanya dalam
dalam kultur jaringan. Oleh karena itu, jenis ukuran dan bentuk tetapi juga pada susunan kimia
eksplan yang digunakan untuk masing-masing dan struktur fisik, cara penularan, perbanyakan,
Kajian Pemanfaatan Kultur Jaringan Dalam Perbanyakan... (Arie Hapsani Hasan Basri) 69

translokasi dalam jaringan inang, penyebaran dan tanaman.Gejala yang ditimbulkannya disebut
gejala yang disebabkan pada tanaman inang. gejala sistematik.Tapi untuk virus tertentu dan
Ekspresi genetik virus juga dilakukan dengan pada tanaman tertentu, gejala serangnya bersifat
menggunakan sistem enzim yang terdapat dalam lokal dengan timbulnya gejala nekrosa ditempat
tubuh inangnya (Agrios, 2005). terjadinya infeksi oleh virus.Gejala semacam ini
disebut gejala lokal.
Virus tanaman pada umumnya terdiri dari
asam nukleat dan protein.Akan tetapi, beberapa Tipe gejala penyakit virus yang banyak
virus ada yang tersusun atas lebih dari satu ukuran terdapat pada tanaman ialah mozaik, kuning dan
asam nukleat dan protein, dan lainnya mengandung bercak bercincin atau bercak bergaris.Gejala
enzim dan lapisan lipid.Asam nukleat yang lainnya ialah penghambatan pertumbuhan, kerdil,
terkandung pada virus dapat mencapai 5–40 % dan daun menggulung, mengkerut atau berubah seperti
60–95 % sisanya adalah protein.Persentase asam tali sepatu, roset, nekrosis, floem batang berlekuk-
nukleat tertinggi terdapat pada virus yang lekuk, buah berlekuk-lekuk, tumor, inesiasi,
berbentuk bulat dan yang terendah terdapat pada percabangan berbentuk sapu dan sebagainya.
virus yang berbentuk panjang.(Agrios,
2. Gejala Internal (Dalam)
2005).Infeksi virus pada suatu tanaman bergantung
kepada sintesa virus karena infeksi tidak akan Selain gejala yang tampak dari luar, serangan
terjadi bila virus tak dapat bermultiplikasi dalam virus juga dapat menimbulkan gejala internal.
inang. Gejala internal yang ditimbulkan oleh berbagai
virus akan berbeda tergantung dari penyebaran
virus tersebut dalam tanaman, virus dari kelompok
Ciri-Ciri Serangan Virus Pada Tanaman mosaik tidak terbatas pada jaringan tanaman
tertentu tapi tersebar dalam tubuh tanaman. Pada
Tanaman yang terserang virus menunjukkan
penyakit tersebut bagian yang berwarna hijau
adanya perubahan bentuk atau morfologi tanaman
berkembang dengan cepat sedangkan bagian yang
dan nekrosis (kerusakan jaringan.Keadaan
berwarna kuning tertahan pertumbuhannya.Dengan
fisiologis tanaman juga terganggu ikut terganggu
terjadinya pertumbuhan yang tidak merata,
seperti berkurangnya kegiatan fotosintesa,
permukaan daun bergelombang atau menggulung.
kecepatan respirasi bertambah, terjadinya
akumulasi senyawa nitrogen seperti senyawa
amida, dan penurunan aktivitas zat pengatur
Faktor Yang Mempengaruhi Gejala Penyakit
pertumbuhan dan sebagainya. Gejala serangan
Pada Tanaman
virus dapat dibedakan ke dalam dua kelompok
yaitu gejala eksternal dan gejala internal. Keadaan tumbuhan berpengaruh pada
perkembangan gejala penyakit. Pada umumnya
1. Gejala Eksternal (Luar)
gejala penyakit virus jelas sekali terlihat pada
Gejala eksternal merupakan gejala penyakit bagian tanaman yang pertum-buhannya cepat.Jika
yang tampak yang terjadi pada daun, batang, terjadi infeksi pada bagian tanaman yang sudah tua
bunga, buah, biji, akar dengan berbagai tipe gejala biasanya perkembangan penyakit tidak begitu
penyakit tergantung dari macam virus yang sempurna, kecuali pada bagian-bagian tanaman
menyerang dan tanaman inangnya. Gejala penyakit yang masih muda yang tumbuh kemudian.
yang umum dari infeksi virus ialah terhambatnya Tanaman yang terkena infeksi virus ada yang
pertumbuhan yang mengakibatkan menurunnya menunjukkan gejala penyakit ringan atau sama
hasil dan tanaman lebih cepat mati.Gejala penyakit sekali tidak menampakkan gejala penyakit.
yang ditimbulkannya dapat sangat berat atau Tanaman tersebut dinamakan pembawa yang tidak
sangat ringan sekali sehingga tidak tampak menimbulkan gejala dan virus tersebut disebut
jelas.Gejala yang paling jelas biasanya terdapat virus laten.
pada daun seperti timbulnya mozaik.Tetapi ada
Tanaman yang biasanya memperlihatkan
sejumlah virus yang dapat menimbulkan gejala
gejala penyakit jika terinfeksi oleh suatu virus
penyakit pada batang, buah, akar dan sebagainya
tertentu tetapi pada keadaan lingkungan tertentu
tapi tidak terlihat pada daun.
(temperatur tinggi atau rendah) gejala penyakitnya
Kebanyakan penyakit virus tanaman bersifat untuk sementara tidak tampak, maka gejala
sistematik dan virus terdapat diseluruh bagian semacam ini disebut gejala tersamar.Jika keadaan
70 Agrica Ekstensia. Vol. 10 No. 1 Juni 2016: 64-73

lingkungannya berubah kembali maka gejala menginfeksi tanaman dengan beberapa cara yaitu
penyakitnya terlihat lagi.Dengan adanya gejala dengan kontak antara tanaman sakit, melalui luka
yang tersamar ini dapat menimbulkan banyak mekanis, dan melalui bibit tanaman. Virus yang
kesulitan dalam melakukan eradiksi terhadap terbawa oleh bibit tanaman biasanya sulit
tanaman yang telah terkena infeksi. dikendalikan karena virus sudah terbawa ke dalam
DNA atau RNA tanaman. Hal ini terjadi karena
Dalam hubungan dengan keadaan lingkungan,
virus memanfaatkan asam amino, ribosom dan
gejala penyakit virus tidak begitu jelas, jika
transfer RNA dari inang untuk digunakan sebagai
tanaman yang terinfeksi berada dilingkungan
blueprint (messenger RNA) virus. Protein yang
gelap, dibawah peneduh atau pada tanaman tanah
dibentuk kemudian digunakan sebagai selubung
yang lebih kering seperti terjadi pada penyakit
virus.Ekspresi genetik virus juga dilakukan dengan
mosaik dan penyakit bergaris pada tebu. Pada
menggunakan sistem enzim yang terdapat dalam
umumnya keadaan hara tanah yang baik untuk
tubuh inangnya (Agrios, 2005).Oleh sebab itu,
pertumbuhan tanaman akan baik pula untuk
pengendalian pada bibit tanaman yang telah
perkembangan virus dan timbulnya gejala
terinfeksi penyakit virus sangat susah
penyakit. Peningkatan dosis nitrogen dan fosfor
dikendalikan.
baik untuk perkembangan gejala penyakit virus
sedangkan kalium memberikan akibat yang Cara pengendalian yang dianggap mampu
sebaliknya. mengurangi bahkan menghilangkan virus dari bibit
tanaman adalah dengan teknik kultur jaringan.
Diantaranya faktor lingkungan, efek
Teknik-teknik kultur jaringan baik kultur kalus,
temperatur telah banyak dipelajari.Temperatur
meristem tip, dan meristem apikal serta kultur
yang optimum untuk perkembangan gejala
jaringan yang dikombinasikan dengan beberapa
penyakit biasanya lebih rendah daripada
pemanasan dan bahan kimia tertentu telah di teliti
temperatur optimum untuk pertumbuhan tanaman.
yang semuanya bertujuan untuk mengeliminasi
Temperatur yang sama seringkali mempunyai efek
atau mengeradikasi virus pada proses pembibitan.
yang berlainan untuk berbagai virus. Adakalanya
temperatur tertentu menyamarkan gejala virus Teknik ini pada awalnya digunakan dalam
yang satu, tapi untuk virus yang lainnya malah usaha perbanyakan tanaman secara cepat, namun
memberikan gejala yang lebih jelas saat ini telah berkembang menjadi sarana
tampaknya.Walaupun gejala penyakit virus tidak pendukung program perbaikan sifat tanaman
tampak, tetapi hal ini tidak selalu berarti telah (Mashudi,1998). Metode kultur jaringan dapat
terjadi penyembuhan pada tanaman sakit. menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak
tanpa memerlukan jumlah induk yang banyak dan
waktu yang relatif singkat. Metode ini selain
digunakan untuk perbanyakan tanaman, juga
PEMBAHASAN digunakan untuk mengeliminasi virus. Penelitian
yang dilakukan Parmessur et al., (2002)
Penyediaan bibit sebagai upaya melaporkan bahwa metode in vitro kultur kalus
pengembangan suatu tanaman dalam suatu proses mampu mengeliminasi virus penyebab penyakit
produksi merupakan aspek yang sangat penting. garis kuning (Sugarcane yellow leaf virus)
Proses produksi untuk skala besar seperti pertanian mencapai 100% dan kultur meristem apikal
dan perkebunan, membutuhkan bibit dalam jumlah mampu mengeliminasi virus tersebut sebesar 64%.
banyak. Bibit yang dihasilkan diharapkan Hal ini juga di dukung dengan penelitian
memilikivarietas unggul, seragam, bebas hama dan Balamuralikrishnan et al., (2002) melaporkan
patogen serta penyediaan yang kontinyu.Akan bahwa eliminasi virus mosaik tebu (Sugarcane
tetapi, bibit yang beredar di lapangan sering mosaic virus) menggunakan kultur meristem tip
terinfeksi virus. yang dikombinasikan dengan khemoterapi
Virus adalah mikroorganisme yang terdiri dari ribavirin pada 50 ppm mampu mengeliminasi virus
RNA atau DNA saja.Virus adalah suatu tersebut sebesar95% dibandingkan kultur meristem
nukleoprotein yang dapat memperbanyak diri tanpa kombinasi.
hanya dalam sel yang hidup dan memiliki Pengestuti (2013) melaporkan bahwa
kemampuan menyebabkan penyakit (Yuwono, eliminasi virus pada bawang merah menggunakan
2005). Dalam budidaya tanaman, virus serang kombinasi kultur meristem batang dan
Kajian Pemanfaatan Kultur Jaringan Dalam Perbanyakan... (Arie Hapsani Hasan Basri) 71

elektroterapi 5 mA selama 10 menit menghasilkan ditunjukkan dengan munculnya gejala mosaik pada
nilai efisiensi terapi tertinggi sebesar 28,57 %. daun setek batang nilam sampai tanaman berumur
Meristem batang merupakan sumber eksplan 2 bulan setelah persemaian. Munculnya gejala
terbaik untuk perlakuan eliminasi virus baik dari mosaik lebih lamadibandingkan setek batang pada
kemampuan eliminasi virusnya maupun tanpa HWT. Hal inimenunjukkan bahwa HWT
pertumbuhan eksplan pasca perlakuan eliminasi mampu memperlambat munculnya gejala mosaik
virus.Penggunaan elektroterapi dapat pada tanaman nilam. Hal ini juga di dukung
meningkatkan persentasi eksplan bebas virus tanpa dengan penelitianDamayanti et al. (2010)
menyebabkan kemunduran pertumbuhan eksplan. melaporkan bahwa titik inaktivasi suhu untuk
Sugarcane streak mosaic virus(SCSMV) adalah
Penelitian lain yang mendukung keberhasilan
antara 55 sampai 60ºC dan lebih tinggi dari titik
kultur jaringan dalam mengeliminasi atau
suhu kematian tanaman tebu. Semua perlakuan
mengeradikasi virus dilakukan oleh Noveriza dan
panas tidak sepenuhnya menghilangkan SCSMV,
kawan-kawan. Noveriza et al., (2012) melaporkan
namun HWT pada suhu 53ºC selama 10 menit
bahwa kultur jaringan dengan teknik meristem
secara drastis mengurangi keparahan penyakit dan
apikal pada tanaman nilam berpotensi untuk
tetap menjaga viabilitas tanaman 100%.
menghasilkan stek yang bebas virus. Tanaman
nilam yang diperbanyak dari kultur meristem Berdasarkan penelitian diatas dapat dipastikan
apikal dengan ukuran eksplan 0,5 – 1 mm bahwa salah satu cara pengendalian virus yang
menghasilkan 33,3 – 99,9 % tanaman bebas virus paling efektif adalah dengan menggunakan kultur
(Potyvirus). Perlakuan stek batang nilam yang jaringan baik dengan teknik kultur kalus maupun
direndam dalam air panas dengan suhu 50 – 600 C dengan meristem apikal. Seperti yang diketahui
selama 10 – 30 menit tidak dapat mengeliminasi virus yang telah masuk ke dalam sel inang,
Potyvirus yang menginfeksi ketiga varietas nilam kemudian akan berpindah dari satu sel ke sel
(varietas nilam Sidikalang, Lhokseumawe, dan lainnya dan memperbanyak diri.Perpindahan virus
Tapak tuan) yang diuji. dari sel yang satu ke sel yang lain melalui
plasmodesmata. Plasmodesmata berfungsi sebagai
Pengujian dengan perendaman tanaman yang
penghubung sel yang berdekatan.Virus yang
terserang virus kedalam air panas (Hot Water
mencapai jaringan pengangkut akan bersama-sama
Treatment) pada suhu tertentu ataupun perlakuan
dengan asimilat masuk ke dalam floem atau buluh
udara panas pada suhu tertentusudah lama
ayak dan menyebar secara pasif ke bagian
dilakukan untuk mengendalikan penyakit. Menurut
tumbuhan yang menggunakan asimilat seperti akar,
Copes dan Blythe (2009), perendaman setek
bagian tumbuhan yang muda dan sedang
batang azalea (Rhododendron) pada air panas suhu
berkembang serta buah. Virus kemudian kembali
500C selama 21 menit efektif untuk mengeliminasi
memasuki jaringan parenkim dan bergerak
Rhizoctonia AG P (anastomosisgroup P). Selain
perlahan-lahan dari sel ke sel.Proses
itu, Hot Water Treatment (HWT) pada suhu 500C
memperbanyak diri virus terjadi pada setiap sel
selama 30 menit efektif mengeliminasi cendawan
parenkim.Virus berkembang sekitar 1 milimeter
pathogen dan endofit pada jaringan setek anggur
atau 8 – 10sel perhari dalam sel parenkim
(Crouset al., 2001).Akan tetapi pengendalian
daun.Virus membutuhkan 2 – 5 hari atau lebih
dengan cara ini di rasa kurang efektif karena hanya
untuk berpindah dari daun yang terinfeksi.Virus
berfungsi meningkatkan ketahanan tanaman
menyebar secara sistemik diseluruh tanaman dan
dibandingkan menghilangkan atau memusnahkan
masuk kembali ke sel parenkhim yang berbatasan
virus dari tubuh tanaman.
dengan floem dan terus ke plasmodemata (Bos,
Ketahanan tanaman yang baik akan 1990; Agrios, 2005).
mengurangi gejala penyerangan virus pada tubuh
Penggunaan metode kultur meristem apikal
tanaman. Hal ini sesuai dengan penelitian Noveriza
sangat potensialsebagai upaya untuk
et al., (2012), melaporkan bahwa Perlakuan
mengeliminasi virus yang menginfeksisecara
perendaman setek batang nilam varietas
sistemik karena proliferasi sel-sel meristem
Sidikalang, Lhokseumawe, dan Tapak Tuan, yang
apikallebih cepat dibandingkan penyebaran virus.
terinfeksi oleh Potyvirus pada suhu 50oC selama
Selain itu, padasel-sel meristem apikal belum ada
10 menit, belum mampu mengeliminasi virus,
plasmodesmata. Hal ini sesuaidengan pernyataan
tetapi dapat mempertahankan daya tumbuh
Barahima (2003), regenerasi tunasmeristem apikal
(viabilitas) setek nilam 63,6-90,9%. Hal tersebut
menghasilkan plantlet bebas virus dapatterjadi
72 Agrica Ekstensia. Vol. 10 No. 1 Juni 2016: 64-73

karena proliferasi sel-sel meristem tunas apikal Balamuralikrishnan, M., S. Doraisamy, T.


lebihcepat dibandingkan dengan penyebaran Ganapathy, dan R.Viswanathan. 2003.
partikel virussehingga setiap saat terdapat sel-sel Impact of serial thermotherapy on
yang belum terinvasivirus. Plantlet yang dihasilkan Sugarcane mosaic virustitre and
dari sel-sel yang tidakterinvasi virus menghasilkan regeneration in sugarcane. Arch.
planlet bebas virus. Sehingga dapat dinyatakan Phytopathol. And Plant Protect. 36: 173-
bahwa pemanfaatan kultur jaringan sebagai 178.
perbanyakan bibit tanaman bebas virus merupakan
Barahima, W.P. 2003. Eliminasi Sweet Potato
salah satu alternatif pengendalian yang efektif dan
Feathery Mottle Virus (SPFMV) pada empat
harus di terapkan untuk skala besar.
kultivar ubi jalarunggul lokal asal Papua
melalui teknik kulturmeristem. Bul. Agron.
31(3): 81-88.
Basri, A. H. H. 2009. Eliminasi Virus Mosaik
KESIMPULAN
Bergaris Tebu (Sugarcane Streak Mosaic
Virus) Melalui Teknik Kultur In Vitro.
Penyediaan bibit tanaman dalam suatu proses
Tesis. Fakultas Pertanian, Universitas
produksi merupakan aspek yang sangat penting.
Brawijaya Malang.
Proses produksi untuk skala besar seperti pertanian
dan perkebunan, membutuhkan bibit dalam jumlah Basri, A. H. H. 2015. Bioekologi Virus Mosaik
banyak. Bibit yang dihasilkan diharapkan memiliki Bergaris Tebu (Sugarcane Streak Mosaic
varietas unggul, seragam, bebas hama dan patogen Virus) dan Cara Pengendaliannya. Agrica
serta penyediaan yang kontinyu. Ekstensia Volume 9 (1) : 50-57 ISSN 1978 –
5054. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian
Kultur Jaringan merupakan salah satu teknik
Medan. Medan.
yang digunakan untuk menghasilkan bibit bebas
virus dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif Boss, L. 1990. Pengantar Virologi Tumbuhan.
singkat. Penggunaanmetode kultur meristem apikal Gadjah Mada University
dan kultur kalus sangat potensialsebagai upaya Press.Yogyakarta.226 p.
untuk mengeliminasi virus yang menginfeksisecara
Copes, W.E. and E.K. Blythe. 2009. Chemical and
sistemik karena proliferasi sel-sel meristem
Hot Water Treatments to Control
apikallebih cepat dibandingkan penyebaran virus.
Rhizoctonia AG P infesting Stem Cuttings
Selain itu, padasel-sel meristem apikal belum ada
of Azalea. HortScience. 44(5): 1370-1376.
plasmodesmata.Pemanfaatan kultur jaringan
sebagai perbanyakan bibit tanaman bebas virus Crous, P.W., L. Swart, and S. Coertze. 2001. The
merupakan salah satu alternatif pengendalian yang Effect of Hot Water Treatment on Fungi
efektif dan harus di terapkan untuk skala besar. Occurring in Apparently Healthy Grapevine
Cuttings. Phytopathol. Mediterr. 40(S): 464-
466.

Damayanti, T.A., L.K. Putra, and Giyanto. 2010.


DAFTAR PUSTAKA Hot water Treatment of Cutting Cane
Infected With Sugarcane streak mosaic
Agrios, G. N. 2005. Plant Pathology.Fifth Edition. virus (SCSMV). J. ISSAAS 16(2): 17-25.
Elsevier Academic Press. London. 948 p.
Gunawan, L. W. 1988. Teknik Kultur Jaringan
Balamuralikrishnan, M., S. Doraisamy, T. Tumbuhan. Laboratorium Kultur Jaringan
Ganapathy, dan R. Viswanathan. 2002. Tumbuhan Pusat Antar Universitas (PAU).
Combined Effect of Chemotherapy and Bioteknologi.Institut Pertanian Bogor.
Meristem Culture on Sugarcane Mosaic Bogor. 304 Hal.
Virus Elimination in Sugarcane. Sugar
Hadiastono, T. 2001. Dasar-dasar Perlindungan
TechVol. 4 (1&2): 19-25.
Tanaman. Lembaga Penerbitan Fakultas
www.springerlink.com. Tanggal akses 11
Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. 86
November 2008.
Hal.
Kajian Pemanfaatan Kultur Jaringan Dalam Perbanyakan... (Arie Hapsani Hasan Basri) 73

Mashudi, M. F. dan A.D. Ambarwati, 1998.Seleksi


In vitro Tanaman Padi Tahan kekeringan
dengan Teknik Kultur Jaringan.Buletin
Pertanian, Volume 13 (1) : 10-14.
Noveriza, R., G. Suastika, S. H. Hidayat, U.
Kartosuwondo. 2012. Eliminasi Potyvirus
Penyebab Penyakit Mosaik Pada Tanaman
Nilam Dengan Kultur Meristem Apikal Dan
Perlakuan Air Panas Pada Setek Batang.
Jurnal Littri 18(3) : 107-114 ISSN 0853 –
8212.
Pangestuti, R. 2013. Eliminasi Virus Pada Bawang
Merah Dengan Elektroterapi Secara In
Vitro. Tesis. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.http://etd.repository.ugm.ac.id/i
ndex.php?mod=penelitian_detail&sub=Pene
litianDetail&act=view&typ=html&buku_id=
60911Tanggal akses 26 Februari 2016
Parmessur, Y., S. Aljanabi, S. Saumtally dan A.
Dookun-Saumtally. 2002. Sugarcane yellow
leaf virus and Sugarcane yellows
phytoplasma: Elimination by Tissue Culture.
Mauritius sugar Industry Reasearch Institute.
Mauritius. CD-ROM Perpustakaan
Brawijaya.Plant Pathology 51,561-566.
Tanggal akses 3 september 2008.
Sastrahidayat, I. R. 1984. Epidemiologi Penyakit
Tumbuhan. Laboratorium Fitopatologi
Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya.
Malang. 336 Hal
Sofia, D. 2007. Pengaruh Berbagai Konsentrasi
Benzyl Amino Purine dan Cycocel terhadap
Pertubuhan Embrio Kedelai (Glicine max. L
Merr) secara In Vitro. Karya Tulis.
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara.
Wattimena, G. A., L. W. Gunawan, N. A. Mattjik,
E. Syamsudin, N. M. A. Wiendi, dan A.
Ernawati. 1992. Bioteknologi Tanaman.
Deparemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat
Antar Universitas Bioteknologi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. 307 Hal.
Yuwono, T. 2005. Teori dan Aplikasi Polymerase
Chain Reaction. Penerbit Andi.
Yogyakarta.239 Hal.