Anda di halaman 1dari 14

Di Jakarta atau di Indonesia pada umunya, penyakit ini sering muncul setelah banjir.

Genangan air merupakan salah satu


media penyebar bakteri leptospira yang dikeluarkan oleh tikus lewat air kencingnya. Apabila kulit terluka dan terkena
genangan air yang terkontaminasi bakteri leptospira, maka proses penularan penyakit ini mulai terjadi
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit zoonosis, yang bisa menular dari hewan ke manusia. Ada banyak serovar
dilapangan diantaranya Leptospira canicola, L. pomona. L. icterohaemorrhagiae, L. bataviae, L. harjo dan L.
javanica. Pengobatannya sebenarnya relatif cukup mudah, namun apabila terlambat dapat berakibat sangat fatal. Organ
yang diserang terutama adalah ginjal. Hati, paru-paru, sistem pembuluh darah dan syaraf juga merupakan target serangan
bakteri leptospira ini.
Pada hewan hampir semua jenis hewan dapat terserang leptospirosis, terutama anjing. Masa inkubasi antara 4 – 7 hari.
Gejala awal biasanya anjing tidak mau makan, tampak lesu, kemudian diikuti demam, muntah dan dehidrasi. Kadang diare
berdarah, sesak nafas dan selaput lendir kekuningan (icterus). Air kencing sangat kuning dan pekat, kadang berdarah .
Apabila kerusakan ginjal cukup parah ( bisa dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium terhadap fungsi ginjal yaitu ureum
kreatinin ) biasanya sangat sulit diatasi, dan anjing penderita akan mati.
Apabila penyakit ini terdeteksi sejak dini, pengobatan dengan antibiotika golongan penicillin masih cukup efektif dan bisa
sembuh. Namun biasanya pemilik terlambat membawa anjing penderita ke dokter, sehingga pengobatan pun lambat
diberikan. Vaksinasi sebenarnya salah satu cara efektif untuk pencegahan. Namun sayangnya vaksin yang tersedia hanya
mengandung 2 – 3 jenis leptospira ( L. canicola & L. icterohaemorrhagiae ), sementara serovar di lapangan tak kurang dari
16 serovar. Dan jenis bakteri yang sering ditemukan dilapangan adalah L. bataviae, L. javanica, L canicola dan L.
icterohaemorrhagiae.
Jadi walaupun anjing anda sudah diberikan vaksinasi terhadap leptospirosis, anda harus tetap waspada terhadap leptospirosis
ini. Dan yang penting anda harus lebih waspada lagi karena penyakit ini dapat menular ke manusia dan bisa berakibat fatal.
Membasmi tikus dan menghindari genangan air adalah salah satu trik pencegahan leptospirosis selain vaksinasi tentunya.
(Drh. Amir Mahmud - KlinikHewan.co

Cara penularan
Manusia terinfeksi bakteri leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori
oleh air seni hewan penderita leptospirosis. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput
lendir(mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi oleh urin hewan
terinfeksi leptospirosa. Masa inkubasi dari bakteri ini adalah selama 4 – 19 hari.
[sunting] Gejala klinis leptospirosis
[sunting] Stadium pertama
 Demam tinggi, menggigil
 Sakit kepala
 Malaise (Lesu/Lemah)
 Muntah
 Konjungtivitis (radang mata)
 Rasa nyeri otot betis dan punggung
 Gejala gejala diatas akan tampak antara 4 – 9 hari
[sunting] Stadium kedua
 Terbentuk antibodi di dalam tubuh penderita
 Gejala yang timbul lebih bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama
 Apabila deman dan gejala gejala lain timbul, kemungkinan akan terjadi meningitis
 Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat
[sunting] Komplikasi leptospirosis
 Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6
 Pada Ginjal : Gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.
 Pada Jantung : Berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat menyebabkan
kematian mendadak
 Pada paru paru : Batuk darah, nyeri dada, sesak napas
 Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernapasan, saluran pencernaan,
ginjal, saluran genitalia, dan mata ( konjungtiva )
 Pada kehamilan : Keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati
[sunting] Pencegahan
 Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus
 Mencuci tangan, dengan sabun sebelum makan
 Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/ sampah/
tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya
 Melindungi pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas kebersihan, petani, petugas
pemotong hewan dan lain lain ) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan.
 Menjaga kebersihan lingkungan
 Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah
 Membersihkan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
 Menghindari adanya tikus didalam rumah atau gedung.
 Menghindari pencemaran oleh tikus.
 Melakukan desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh tikus.
 Meningkatkan penangkapan tikus .
[sunting] Pengobatan
 Pengobatan dini sangat menolong karena bakteri Leptospira mudah mati dengan antibiotik yang banyak
dipasaran, seperti : Penicillin dan turunannya (Amoxylline)
 Streptomycine, Tetracycline, Erytromycine, Doxycycline
 Segera berobat ke dokter terdekat

Leptospirosis itu apa?


Leptospirosis adalah penyakit manusia dan hewan dari kuman dan disebabkan kuman Leptospira yang
ditemukan dalam air seni dan sel-sel hewan yang terkena.
Gejalanya apa saja?
Gejala dini Leptospirosis umumnya adalah demam, sakit kepala parah, nyeri otot, merah, muntah dan
mata merah. Aneka gejala ini bisa meniru gejala penyakit lain seperti selesma, jadi menyulitkan diagnosa.
Malah ada penderita yang tidak mendapat semua gejala itu.
Ada penderita Leptospirosis yang lebih lanjut mendapat penyakit parah, termasuk penyakit Weil yakni
kegagalan ginjal, sakit kuning (menguningnya kulit yang menandakan penyakit hati) dan perdarahan
masuk ke kulit dan selaput lendir. Pembengkakan selaput otak atau Meningitis dan perdarahan di paru-
paru pun dapat terjadi. Kebanyakan penderita yang sakit parah memerlukan rawat inap dan Leptospirosis
yang parah malah ada kalanya merenggut nyawa.
Dampak jangka panjangnya apa?
Penyembuhan penyakit Leptospirosis ini bisa lambat. Ada yang mendapat sakit mirip kelelahan menahun
selama berbulan-bulan. Ada pula yang lagi-lagi sakit kepala atau tertekan. Ada kalanya kuman ini bisa
terus berada di dalam mata dan menyebabkan bengkak mata menahun.
Cara tersebarnya?
Kuman Leptospira biasanya memasuki tubuh lewat luka atau lecet kulit, dan kadang-kadang lewat selaput
di dalam mulut, hidung dan mata. Berbagai jenis binatang bisa mengidap kuman Leptospira di dalam
ginjalnya. Penyampaiannya bisa terjadi setelah tersentuh air kencing hewan itu atau tubuhnya. Tanah,
lumpur atau air yang dicemari air kencing hewan pun dapat menjadi sumber infeksi.
Makan makanan atau minum air yang tercemar juga kadang-kadang menjadi penyebab penyampaiannya.
Binatang apa saja yang umumnya terkena?
Berbagai binatang menyusui bisa mengidap kuman Leptospira. Yang paling biasa adalah jenis tikus,
anjing, binatang kandang dan asli, babi kandang maupun hutan, kuda, kucing dan domba. Binatang yang
terkena mungkin sama sekali tak mendapat gejalanya atau sehat walafiat.
Siapa yang menghadapi bahaya?
Yang menghadapi bahaya adalah yang sering menyentuh binatang atau air, lumpur, tanah dan tanaman
yang telah dicemari air kencing binatang. Beberapa pekerjaan memang lebih berbahaya misalnya
pekerjaan petani, dokter hewan, karyawan pejagalan serta petani tebu dan pisang. Aneka kegemaran yang
menyangkut sentuhan dengan air atau tanah yang tercemar pun bisa menularkan Leptospirosis misalnya
berkemah, berkebun, berkelana di hutan, berakit di air berjeram dan olahraga air lainnya.
Caranya diagnosa?
Seorang dokter mungkin mencurigai Leptospirosis pada seorang yang bergejala, biasanya 1-2 minggu
setelah terkena. Peneguhan penyakit ini biasanya dengan contoh darah yang akan menyatakan apakah
terkena kuman ini. Untuk diagnosa
pada umumnya diperlukan 2 kali contoh darah selang 2 minggu. Ada kalanya kuman bisa dibiakkan dari
darah, cairan tulang punggung ke otak dan air seni.
Pengobatannya ada?
Pada umumnya Leptospirosis diobati dengan antibiotika seperti doxycycline atau penicillin. Berhubung
ujicobanya makan waktu dan penyakitnya mungkin parah, dokter mungkin mulai memberi antibiotika itu
sebelum meneguhkannya dengan
ujicoba. Pengobatan dengan antibiotika dianggap paling efektif jika dimulai dini.
Cara mencegah Leptospirosis bagaimana?
Yang pekerjaannya menyangkut binatang:
• Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air.
• Pakailah pakaian pelindung misalnya sarung tangan, pelindung atau perisai mata, jubah kain dan sepatu
bila menangani binatang yang mungkin terkena, terutama jika ada kemungkinan menyentuh air seninya.
• Pakailah sarung tangan jika menangani ari-ari hewan, janinnya yang mati di dalam maupun digugurkan
atau dagingnya.
• Mandilah sesudah bekerja dan cucilah serta keringkan tangan sesudah menangani apa pun yang
mungkin terkena.
• Jangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin terkena. Cuci dan keringkan
tangan sebelum makan atau merokok.
• Ikutilah anjuran dokter hewan kalau memberi vaksin kepada hewan.
Untuk yang lain:
• Hindarkanlah berenang di dalam air yang mungkin dicemari dengan air seni binatang.
• Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan tanah, lumpur
atau air yang mungkin dicemari air kencing binatang.
• Pakailah sepatu bila keluar terutama jika tanahnya basah atau berlumpur.
• Pakailah sarung tangan bila berkebun.
• Halaulah binatang pengerikit dengan cara membersihkan dan menjauhkan sampah dan makanan dari
perumahan.
• Jangan memberi anjing jeroan mentah.
• Cucilah tangan dengan sabun karena kuman Leptospira cepat mati oleh sabun, pembasmi kuman dan
jika tangannya kering.
Jika sampai jatuh sakit, bagaimana?
Jika jatuh sakit dalam minggu-minggu setelah mungkin terkena air seni binatang atau berada di
lingkungan tercemar, laporkanlah hal itu kepada dokter.
Apa orang bisa ketularan lebih dari sekali?
Karena terdapat banyak jenis kuman Leptospira yang berlainan, mungkin saja seorang terkena jenis yang
lain dan mendapat Leptospirosis lagi.
Apa pengidap Leptospirosis bisa menulari orang lain?
Leptospirosis dapat ditularkan kepada orang lain misalnya penularan lewat kelamin atau air susu ibu,
meskipun jarang. Kuman Leptospira dapat ditularkan lewat air seni selama berbulan-bulan setelah
terkena.
sumber: NSW Department of Health
Leptospirosis
Posted by Dokter Sehat in Penyakit Berbahaya on 01 2nd, 2007 | no responses

Saya jadi ingat salah satu teman saya yang meninggal gara2 penyakit ini, penyakit ini rentan sekali bagi
yang ada di Indonesia, sebenarnya penyakit ini tidak akan berbahaya kalau penangannya tidak terlambat.
Well, mari kita mencoba sedikit mengetahui tentang penyakit ini dan mencegah hal itu terjadi kembali.

Leptospirosis itu apa?


Leptospirosis adalah penyakit manusia dan hewan dari kuman dan disebabkan
kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni dan sel-sel hewan yang terkena.

Gejalanya apa saja?


Gejala dini Leptospirosis umumnya adalah demam, sakit kepala parah, nyeri otot,
gerah, muntah dan mata merah. Aneka gejala ini bisa meniru gejala penyakit lain
seperti selesma, jadi menyulitkan diagnosa. Malah ada penderita yang tidak
mendapat semua gejala itu.
Ada penderita Leptospirosis yang lebih lanjut mendapat penyakit parah, termasuk
penyakit Weil yakni kegagalan ginjal, sakit kuning (menguningnya kulit yang
menandakan penyakit hati) dan perdarahan masuk ke kulit dan selaput lendir.
Pembengkakan selaput otak atau Meningitis dan perdarahan di paru-paru pun
dapat terjadi. Kebanyakan penderita yang sakit parah memerlukan rawat inap dan
Leptospirosis yang parah malah ada kalanya merenggut nyawa.

Dampak jangka panjangnya apa?


Penyembuhan penyakit Leptospirosis ini bisa lambat. Ada yang mendapat sakit
mirip kelelahan menahun selama berbulan-bulan. Ada pula yang lagi-lagi sakit
kepala atau tertekan. Ada kalanya kuman ini bisa terus berada di dalam mata dan
menyebabkan bengkak mata menahun.

Cara tersebarnya?
Kuman Leptospira biasanya memasuki tubuh lewat luka atau lecet kulit, dan
kadang-kadang lewat selaput di dalam mulut, hidung dan mata. Berbagai jenis
binatang bisa mengidap kuman Leptospira di dalam ginjalnya. Penyampaiannya
bisa terjadi setelah tersentuh air kencing hewan itu atau tubuhnya. Tanah, lumpur
atau air yang dicemari air kencing hewan pun dapat menjadi sumber infeksi.
Makan makanan atau minum air yang tercemar juga kadang-kadang menjadi
penyebab penyampaiannya.

Binatang apa saja yang umumnya terkena?


Berbagai binatang menyusui bisa mengidap kuman Leptospira. Di Australia, yang
paling biasa adalah jenis tikus, anjing, binatang kandang dan asli, babi kandang
maupun hutan, kuda, kucing dan domba. Binatang yang terkena mungkin sama
sekali tak mendapat gejalanya atau sehat walafiat.

Siapa yang menghadapi bahaya?


Yang menghadapi bahaya adalah yang sering menyentuh binatang atau air,
lumpur, tanah dan tanaman yang telah dicemari air kencing binatang. Beberapa
pekerjaan memang lebih berbahaya misalnya pekerjaan petani, dokter hewan,
karyawan pejagalan serta petani tebu dan pisang. Aneka kegemaran yang
menyangkut sentuhan dengan air atau tanah yang tercemar pun bisa menularkan
Leptospirosis misalnya berkemah, berkebun, berkelana di hutan, berakit di air
berjeram dan olahraga air lainnya.
Pada umumnya Leptospirosis jarang terjadi di Australia kecuali di wilayah yang
hangat dan lembab seperti NSW dan Queensland bagian timur laut. Ada sekitar
200 kejadian yang diteguhkan tiap tahun dalam taraf nasional, tapi mungkin masih
banyak lagi yang ‘kelewatan’. Pria lebih sering terkena daripada wanita.

Caranya diagnosa?
Seorang dokter mungkin mencurigai Leptospirosis pada seorang yang bergejala,
biasanya 1-2 minggu setelah terkena. Peneguhan penyakit ini biasanya dengan
contoh darah yang akan menyatakan apakah terkena kuman ini. Untuk diagnosa
pada umumnya diperlukan 2 kali contoh darah selang 2 minggu. Ada kalanya
kuman bisa dibiakkan dari darah, cairan tulang punggung ke otak dan air seni.

Pengobatannya ada?
Pada umumnya Leptospirosis diobati dengan antibiotika seperti doxycycline atau
penicillin. Berhubung ujicobanya makan waktu dan penyakitnya mungkin parah,
dokter mungkin mulai memberi antibiotika itu sebelum meneguhkannya dengan
ujicoba. Pengobatan dengan antibiotika dianggap paling efektif jika dimulai dini.

Cara mencegah Leptospirosis bagaimana?


Ada banyak cara mencegah Leptospirosis.

Yang pekerjaannya menyangkut binatang:


• Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air.
• Pakailah pakaian pelindung misalnya sarung tangan, pelindung atau perisai
mata, jubah kain dan sepatu bila menangani binatang yang mungkin
terkena, terutama jika ada kemungkinan menyentuh air seninya.
• Pakailah sarung tangan jika menangani ari-ari hewan, janinnya yang mati di
dalam maupun digugurkan atau dagingnya.
• Mandilah sesudah bekerja dan cucilah serta keringkan tangan sesudah
menangani apa pun yang mungkin terkena.
• Jangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin
terkena. Cuci dan keringkan tangan sebelum makan atau merokok.
• Ikutilah anjuran dokter hewan kalau memberi vaksin kepada hewan.

Untuk yang lain:


• Hindarkanlah berenang di dalam air yang mungkin dicemari dengan air seni
binatang.
• Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air terutama sebelum
bersentuhan dengan tanah, lumpur atau air yang mungkin dicemari air
kencing binatang.
• Pakailah sepatu bila keluar terutama jika tanahnya basah atau berlumpur.
• Pakailah sarung tangan bila berkebun.
• Halaulah binatang pengerikit dengan cara membersihkan dan menjauhkan
sampah dan makanan dari perumahan.
• Jangan memberi anjing jeroan mentah.
• Cucilah tangan dengan sabun karena kuman Leptospira cepat mati oleh
sabun, pembasmi kuman dan jika tangannya kering.

Jika sampai jatuh sakit, bagaimana?


Jika jatuh sakit dalam minggu-minggu setelah mungkin terkena air seni binatang
atau berada di lingkungan tercemar, laporkanlah hal itu kepada dokter.

Vaksinnya ada?
Bagi manusia tidak ada vaksin melawan Leptospirosis yang diizinkan di Australia.
Ada vaksin guna mencegah Leptospirosis pada binatang (hewan, babi dan anjing)
tetapi binatang yang sudah diberi vaksin pun masih rentan terhadap jenis lainnya
yang tidak tercakup oleh vaksin ini.
Apa orang bisa ketularan lebih dari sekali?
Karena terdapat banyak jenis kuman Leptospira yang berlainan, mungkin saja
seorang terkena jenis yang lain dan mendapat Leptospirosis lagi.

Apa pengidap Leptospirosis bisa menulari orang lain?


Leptospirosis dapat ditularkan kepada orang lain misalnya penularan lewat
kelamin atau air susu ibu, meskipun jarang. Kuman Leptospira dapat ditularkan
lewat air seni selama berbulan-bulan setelah terkena.

Sedikit tambahan dari salah seorang teman saya mengenai penyakit ini:

“Gejalanya memang agak susah dikenali tapi kalo yang klasik yang khas itu ada nyeri otot yang hebat
yang biasanya terutama di daerah otot gastroknemius (betis). Jadi kalo betisnya dipencet sakit banget.

Leptospirosis sesungguhnya tergolong penyakit hewan yang bisa menjangkiti manusia juga , atau disebut
zoonosis. Penyebabnya kuman leptospira. Kuman ini hidup dan berbiak di tubuh hewan. Semua hewan
bisa terjangkiti. Paling banyak tikus dan hewan pengerat lainnya, selain hewan ternak. Hewan piaraan,
dan hewan liar pun bukan tak mungkin bisa terjangkit juga.

Masa tunas leptospirosis sekitar 10 hari. Dua pekan sehabis banjir reda di Jakarta, saat korban banjir
membersihkan bekas endapan banjir, kasus leptospirosis muncul. Boleh jadi kuman ada dalam air kotor
yang disisakan banjir.

Pada kasus-kasus awal mungkin dokter tidak menduga ada leptospirosis. Penyakit ini tidak lazim dan
mungkin terlupakan, sebab belum tercatat ada jangkitannya di Jakarta. Itu sebab pada kasus-kasus awal
bisa bisa jadi dokter luput mendiagnosis, sehingga pasien terlambat diberi antibiotika. Jika terlambat
diobati, komplikasi leptospirosis merusak ginjal, selain hati dan otak.

Menyerupai Flu

 Pada hewan yang terjangkit mungkin tak muncul gejala apa-apa pada manusia menyerupai gejala
flu (flu-like symptom).

Dimulai dengan demam menggigil, pegal linu, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, batuk kering , mual-
muntah, sampai mencret-mencret. Jika pada tahapan ini tidak diobati gejala bertambah parah dan tampak
lebih khas.

Oleh karena menyerang hati, pada stadium lanjut muncul gejala penyakit kuning. Kulit dan putih mata
menjadi kekuningan , selain tampak pula mata merah layaknya sedang sakit mata. Demam, kuning dan
mata merah, dianggap khas pada leptosprirosis. Adakalanya terjadi perdarahan. Dokter mendengar bunyi
para-paru abnormal, dan kemungkinan kulit meruam merah.

Seseorang yang dicurigai leptospirosis jika pemeriksaan laboratorium urin dan darahnya menunjukkan
hasil abnormal. Fungsi ginjal dan hati terganggu, selain sel darah putih menurun. Namun yang lebih pasti
diperoleh dari hasil pemeriksaan serologis (di Jakarta Rp 50.000 sekali periksa). Memang bisa juga
dilakukan pembiakan kuman dari urin, darah, atau cairan otak. Namun perlu waktu dua minggu, dan
kumannya sendiri tergolong bersifat lamban bertumbuh. Maka paling praktis memang masih pemeriksaan
darah.

Gejala leptospirosis menjadi lebih berat jika tidak diobati atau obatnya salah alamat. Selain komplikasi ke
hati menimbulkan gejala penyakit kuning, komplikasi ke selaput otak menimbulkan gejala nyeri kepala,
kejang-kejang, leher kaku, dan penurunan kesadaran. Komplikasi ke ginjal umumnya bersifat fatal. Angka
kefatalan penyakit leptospirosis mencapai 5 persen, artinya 5 dari setiap 100 kasus bisa tewas.

Mudah Diobati

 Leptospirosis bukan penyakit ganas. Obatnya mudah didapat dan murah.

Hanya saja karena di awal-awal kasusnya mungkin luput didiagnosis, saking tidak lazim dan terlupakan,
pengobatan yang tepat mungkin terlambat diberikan. Namun kini, ketika Jakarta tengah dijangkiti
penyakit ini, dokter terfokus untuk berpikir dan melacak penyakit ini.

Begitu juga yang harus dipikirkan jika ada keluhan dan gejala yang mengarah pada leptospirosis di
daerah-daerah pascabanjir lain. Setiap keluhan dan gejala flu harus dicurigai sebagai awal leptospirosis.

Pada beberapa kasus, nyeri sendi, nyeri otot, bisa lebih menonjol. Susahnya, pada flu pun bisa begitu juga.
Bedanya pada kasus leptospirosis hati dan limpa ikut membengkak juga, sedang pada flu tidak. Maka
setiap kali ada pasien memperlihatkan tanda-tanda dan gejala flu di wilayah yang tengah berjangkit
leptospirosis, harus lebih mencurigai kemungkinan leptospirosis. Leptospirosis sudah harus dipikirkan
sebab bisa fatal jika tidak tepat diobati.

Selain antibiotika golongan penicilline, kuman juga peka terhadap streptomycine, chloramphenicol dan
erythromycine. Harga jenis antibiotika klasik ini tergolong tidak tinggi, selain mudah didapat, bahkan di
Puskesmas sekali pun.

Jika diobati selagi masih dini, prognosis leptospirosis umumnya baik. Bisa lain nasib pasien jika terapi
terlambat diberikan. Sudah disebut komplikasi leptospirosis paling jelek jika sudah merusak ginjal , selain
hati, dan otak.

Cara Pencegahan

 Kuman leptospira mampu bertahan hidup bulanan di air dan tanah, dan mati oleh desinfektans
seperti lisol.

Maka upaya "lisolisasi" seluruh permukaan lantai , dinding, dan bagian rumah yang diperkirakan tercemar
air kotor banjir yang mungkin sudah berkuman leptospira, dianggap cara mudah dan murah mencegah
"mewabah"-nya leptospirosis.

Selain sanitasi sekitar rumah dan lingkungan, higiene perorangannya dilakukan dengan menjaga tangan
selalu bersih. Selain terkena air kotor, tangan tercemar kuman dari hewan piaraan yang sudah terjangkit
penyakit dari tikus atau hewan liar. Hindari berkontak dengan kencing hewan piaraan.

Biasakan memakai pelindung, seperti sarung tangan karet sewaktu berkontak dengan air kotor, pakaian
pelindung kulit, beralas kaki, memakiai sepatu bot, terutama jika kulit ada luka, borok, atau eksim.
Biasakan membasuh tangan sehabis menangani hewan, trenak, atau membersihkan gudang, dapur, dan
tempat-tempat kotor.

Hewan piaraan yang terserang leptospirosis langsung diobati , dan yang masih sehat diberi vaksinasi.
Vaksinasi leptospirosis tidak berlaku bagi manusia. Di AS sejak Desember 2000 lalu, ada anjuran bagi
orang yang berisiko terjangkit leptospirosis diberikan seminggu antibiotika (dipilih golongan doxycycline)
sebagai upaya pencegahan.

Tikus rumah perlu dibasmi sampai ke sarang-sarangnya. Begitu juga jika ada hewan pengerat lain. Jangan
lupa bagi yang aktivitas hariannya di peternakan, atau yang bergiat di ranch. Kuda, babi, sapi, bisa
terjangkit leptospirosis, selain tupai, dan hewan liar lainnya yang mungkin singgah ke peternakan dan
pemukiman, atau ketika kita sedang berburu, berkemah, dan berolahraga di danau atau sungai.
Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien. Kencing hewan berpenyakit leptospirosis di
air, makanan, dan tanah, yang menjadi ajang penularan penyakit hewan ini terhadap tubuh manusia.

Waspadai Leptospira di Gudang Makanan

 Kebersihan perorangan menentukan terjangkit tidaknya seseorang di tengah ancaman lingkungan


rumah sehabis banjir.

Jika tangan tidak dibasuh sebelum memegang makanan, kuman dalam kencing tikus yang terbawa air
banjir memasuki rumah bisa mencemari jemari tangan. Dengan cara begitu kuman leptospira memasuki
tubuh manusia.

Bisa juga terjadi, makanan dan minuman sendiri sudah tercemar kencing tikus berpenyakit. Makanan
minuman di gudang, di warung-warung, toko kelontong, supermarket, dan dapur berpeluang dikencingi
tikus. Jika tikusnya berleptospira, kencing yang mencemari makanan minuman kita itu yang akan
menularkan penyakitnya.

Jika tidak secara langsung tertelan atau terminum, kemungkinan kencing yang mencemari tutup minuman
kaleng, misalnya. Kita terbiasa menenggak langsung setelah membuka tutup kaleng minuman tanpa
membersihkannya lebih dulu. Berarti kencing yang berkuman leptospira di penutup kaleng itu langsung
tertelan.

Kemungkinan lain dari gula pasir. Jika karung goni gula pasir juga dikencingi tikus berpenyakit, dan itu
bisa terjadi semasih di gudang, ada bagian gula pasir yang tercemar kuman leptospira. Kalau gula pasir
berkuman ini dikonsumsi mentah bisa berpotensi menimbulkan leptospirosis. *

http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=79&Itemid=3

Mengenal
Leptospirosis
Wednesday, 07 February 2007

Halal Guide -- Sejak bulan Januari 2004 lalu kita dikagetkan dengan merebaknya penyakit
demam berdarah dengue (DBD). Tidak sedikit anak, cucu, saudara kita yang terenggut hidupnya. Penyakit tersebut
terus berlanjut, kabar berjangkitnya kita baca di koran, kita dengar di radio dan televisi dari seluruh nusantara.

Di saat seluruh pikiran kita tertuju pada DBD terbetik berita ada beberapa saudara kita di Kota Jakarta yang
menderita penyakit ”kencing tikus”. Dikabarkan pula ada yang keadaannya parah dan dirawat di rumah sakit.
Penyakit apa pula ini? Apakah jenis penyakit baru? Tulisan ringkas ini dimaksudkan untuk memberi gambaran
tentang penyakit leptospirosis, gejala yang ditimbulkannya, dan cara pencegahannya.

Penyakit ”kencing tikus” atau nama sebenarnya adalah penyakit leptospirosis adalah suatu penyakit infeksi akut
yang disebabkan suatu jasad renik tertentu yang dinamakan Leptospira sp.. Leptospirosis dapat menyerang
manusia atau hewan dan digolongkan sebagai penyakit zoonosis, artinya menular dari hewan ke manusia, dan
penularan ini sering terjadi secara kebetulan. Penyakit leptospirosis ini masih menjadi permasalahan kesehatan
masyarakat terutama di negara tropis dan sub-tropis di negara berkembang. Hal ini akibat antara lain curah hujan
tinggi, kesehatan lingkungan yang kurang baik, terutama terkait dengan masalah sampah. Kejadian leptospirosis di
Indonesia cukup tinggi dan angka kematian karena penyakit ini cukup besar. Indonesia menempati peringkat ketiga
di dunia.

Kuman penyebab

Penyebab penyakit leptospirosis adalah spesies Leptospira interrogans yang mampu menyebabkan penyakit
(patogen) pada manusia. Ada pula spesies lain yang tidak patogen, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk
spiral dengan ukuran 0,1 mm x 6 - 20 mm, selalu bergerak, dapat hidup di air tawar selama kurang lebih 1 bulan,
biasanya cepat mati di air asin. Setiap spesies leptospira terbagi menjadi puluhan serogrup dan terbagi lagi menjadi
puluhan, bahkan ratusan serovar. Saat ini, Leptospira interrogans yang bersifat patogen telah dikenal lebih dari 200
serovar.

Jasad renik ini biasanya hidup di dalam ginjal hewan pejamu (inang) dan dikeluarkan melalui air kencing (urin) saat
berkemih. Hewan pejamu tersebut antara lain tikus, babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, kelelawar, tupai
dan landak. Tikus sering menjadi pejamu bagi berbagai serovar leptospira.

Cara penularan

Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung, sedangkan penularan dari
manusia ke manusia sangat jarang. Penularan langsung biasanya terjadi dari hewan yang mengandung leptospira
kepada mereka yang pekerjaannya merawat, memotong hewan seperti peternak, dokter hewan, peneliti yang
memakai binatang percobaan, pekerja di rumah potong hewan dan umumnya terjadi secara kebetulan.

Penularan tidak langsung (pada manusia) terjadi melalui air atau tanah yang tercemar urin hewan yang
mengandung leptospira. Sering terjadi pada saat banjir, di selokan atau sungai, di danau yang tercemar serta
mereka yang bekerja sebagai pembersih selokan, sungai, pekerja perkebunan tebu, dan daerah rawa. Kuman
tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang terluka atau melalui selaput lendir mata, selaput lendir di
mulut, saluran pernafasan.

Gejala klinik

Gejala penyakit leptospirosis amat bervariasi mulai dari yang paling ringan mirip orang sakit influenza, sampai yang
berat dan berakhir dengan kematian. Setelah 2 sampai 26 hari kuman memasuki tubuh manusia, maka mulailah
timbul gejala. Masa antara masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh dan mulai timbul gejala dinamakan masa
inkubasi. Walaupun rentang masa inkubasi cukup lebar, tapi rata-rata sekitar 10 hari.

Secara umum gejala leptospirosis, antara lain demam (ringan atau tinggi), nyeri kepala yang bisa menyerupai nyeri
kepala pada DBD, seringkali disertai tubuh yang menggigil, nyeri otot terutama di daerah betis, punggung dan paha
sehingga penderita sukar berjalan, mual, muntah dan nafsu makan menurun, radang pada mata, dan pada kasus
berat dapat terjadi mata berwarna kuning, gangguan faal ginjal, radang paru dan radang otak.

Gejala klinik tersebut dapat menyerupai penyakit infeksi lain yang bergejala demam akut, sehingga penyakit ini
perlu selalu dicurigai terutama pada orang yang mempunyai risiko untuk tertular. Ada beberapa periode dalam
perjalanan penyakit leptospirosis. Pada minggu pertama demam tinggi disertai nyeri otot, nyeri kepala, mual,
muntah dan berbagai gejala lainnya. Pada masa ini, leptospira dapat ditemukan dalam darah. Pada minggu
selanjutnya, leptospira menghilang dari darah dan menetap di ginjal, sehingga teridentifikasi di urin.

Penyakit leptospirosis ada juga yang disertai warna kuning (tipe ikterik). Warna kuning dapat dikenali pada mata,
selaput lendir mulut, dan bahkan pada badan. Namun, ada juga yang tidak disertai warna kuning (tipe anikterik).
Leptospirosis yang berat dan sering mematikan kebanyakan dari tipe ikterik, dan dinamakan penyakit Weil.

Penyakit ‘Weil’

Penyakit Weil adalah satu jenis leptospirosis yang sering ditemukan di Indonesia dan tampilan klinisnya berat.
Penyakit ini akibat Leptospira interrogans, serovar icterohaemorrhagica. Penyakit ini ditandai dengan mata kuning
atau dapat dijumpai di seluruh badan, gangguan faal ginjal, perdarahan, dan angka kematian yang tinggi.

Kelainan faal hati yang dapat dilihat berupa mata kuning selalu ditemukan pada penyakit ini. Warna kuning
biasanya timbul pada hari kelima, kondisi makin berat setelah 4 atau 5 hari kemudian dan dapat berlangsung
selama satu bulan.

Lantas terjadi pendarahan. Walaupun pendarahan bisa juga terjadi pada leptospirosis tipe anikterik, tetapi pada tipe
ikterik lebih sering terjadi. Jenis pendarahan yang biasa terjadi adalah pendarahan di bawah kulit seperti bintik
merah seperti pada DBD dan kebiru-biruan, mimisan, pendarahan pada mata, pendarahan gusi dan dapat pula
batuk berdarah seperti penderita TBC paru. Bila pendarahan terjadi di otak biasanya berakhir dengan kematian.
Penyakit Weil sering kali disertai gangguan faal ginjal berupa gagal ginjal akut. Kelainan ini sering demikian
beratnya sehingga membawa maut. Biasanya jumlah urin yang diproduksi dapat mulai berkurang pada minggu
kedua sakit, walaupun bisa pula terjadi pada hari kelima. Penderita menjadi tidak mau makan, muntah-muntah,
mengalami gangguan orientasi dan kesadaran. Pada kasus berat, seringkali disertai kejang-kejang untuk
selanjutnya koma.

Pengobatan

Penderita leptospirosis sebaiknya menjalani rawat inap di rumah sakit. Untuk mematikan leptospira, dapat diberikan
antibiotika seperti penisilin, ampisilin, tetrasiklin dan beberapa jenis antibiotika baru lainnya.

Pada penyakit Weil selain antibiotika, diperlukan juga pengobatan pendukung seperti bila terjadi gagal ginjal akut.
Dalam hal ini, mungkin diperlukan cuci darah (dialisis). Bila terjadi gagal nafas mungkin perlu pemasangan mesin
bantu nafas (respirator) dan tindakan lainnya sesuai dengan kebutuhan penderita.

Pencegahan leptospirosis di negara maju untuk golongan berisiko tinggi terhadap leptospirosis, seperti pekerja
tambang, tentara yang akan bertugas ke daerah endemik, pernah dicoba pemberian antibiotika doksisiklin sekali
seminggu. Pemakaian antibiotika secara luas untuk tindakan pencegahan leptospirosis tidak dianjurkan.

Pencegahan yang lebih baik tentu dengan menjaga kebersihan lingkungan kita, karena kita tahu bahwa
penularannya, antara lain, melalui binatang seperti tikus.

Leptospirosis adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan Leptospira interrogans yang terdiri atas lebih dari
200 serovar. Manusia tertular secara kebetulan karena kontak dengan air atau tanah yang tercemar. Tampilan klinik
bervariasi dari yang ringan sampai berat, ada yang disertai ikterik (penyakit Weil) dan ada pula tanpa ikterik.
Penyakit Weil sering berat dan tidak jarang berakhir dengan kematian. Pengobatan berupa pemberian antibiotika
yang sesuai dan tindakan tambahan lainnya.***
Majegan, 19 April
2011
Untuk:
Temanku Handra
Di Nanggulan Kulon Progo

Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Halo, bagaimana keadaanmu? Saya harap
Handra dalam keadaan baik-baik saja.
Keadaan saya di Klaten, Alhamdulillah sehat.
Handra, lama sekali kita tidak bertemu,
mungkin sekitar satu tahun ini. Maklumlah,
saya sekarang duduk di kelas VI, jadi saya
harus belajar dengan sungguh-sungguh agar
dapat lulus ujian SD dan dapat diterima di
SMP favoritku.
Saya selalu teringat saat kita bermain
bersama-sama teman-teman di Nanggulan
Kulon Progo. Kadang pagi-pagi kita berjalan
menyusuri pematang sawah melihat
indahnya pemandangan sawah di pagi hari,
atau kita bersepeda ke pasar atau bermain
kasti di halaman Kakekku.
Insya Allah, libur akhir tahun pelajaran ini,
kira-kira akhir bulan Juni 2011, saya akan
berlibur ke rumah Kakekku. Saya akan
berkunjung ke rumahmu, dan kita bias
bermain-main bersama. Jangan lupa ajak
teman-temanmu ya.
Wah, tak terasa hari sudah larut malam,
saya harus segera tidur, karena besok saya
harus berangkat sekolah pagi-pagi. Sampai
ketemu bulan Juni ya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.

Temanmu,
Ilham

SAMBUTAN PERPISAHAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua

Bapak Kepala Sekolah beserta ibu bapak guru yang kami hormati
Para orang tua siswa yang kami hormati
Teman-teman dan adik-adik yang saya sayangi

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahuwataala, atas semua karunia
dan nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga dapat hadir dalam acara
perpisahan.

Perkenankanlah pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mewakili siswa-siswi kelas enam
menyampaikan sepatah dua patah kata.

Pertama, kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah, ibu dan bapak guru SDN 2
Majegan, atas segala bimbingannya, sehingga kami dapat menyelesaikan kegiatan belajar
mengajar di SD tercinta ini dengan baik. Dan apabila dalam menimba ilmu selam enam tahun
ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf sebesar-besarnya.
Kedua, kami mohon doa restu kepada para hadirin semua, agar kami semua dapat melanjutkan
sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan tentunya kami tidak akan melupakan sekolah tercinta
ini karena telah memberikan kenangan tersendiri bagi kami semua.

Ketiga, kepada adik-adik, kakak berpesan agar kalian semua belajar yang rajin dan selalu
mengikuti nasihat ibu bapak guru untuk mewujudkan cita-citamu.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, apabila dalam bergaul di sekolah ini, terdapat
kesalahan, kakak-kakakmu minta maaf dan marilah kita saling mendoakan

Akhirnya, demikian yang dapat kami sampaikan, apabila dalam penyampaian sambutan ini
terdapat hal-hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekian dan
terimakasih

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

SUDIRMAN
Karya cipta Novita Chintami Sucipto

Sudirman ………..
Kaulah pahlawanku
Pejuang dan pembela bangsaku
Jiwammu kukuh
Tak mudah runtuh

Sudirman ……….
Gelora semangatmu
Ibarat ombak di lautan
Sakit badan
Tak kau hiraukan
Musuh datang
Segera kau lawan