Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

STARTER RESISTOR SEKUNDER


“MOTOR SLIPRING”

Disusun oleh :

Amanda Dwi Sulistadriya (1741150059)


Arif Setiadi (1641150016)
Bagus Ilham Pratama (1741150080)
Dewanda Hilmanyah Purna Dwitama (1741150073)

Dibimbing oleh Drs.Abdul Manaf, M.MT

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

PROGRAM STUDI D-IV SISTEM KELISTRIKAN

POLITEKNIK NEGERI MALANG

SEPTEMBER 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Motor induksi terdiri dari dua bagian utama, yaitu stator atau bagian yang diam dan
rotor atau bagian yang berputar. Motor induksi tiga fasa memiliki tiga lilitan stator yang
dihubungkan ke sumber tegangan ac tiga fase, sedangkan rotornya tidak dihubungkan secara
listrik ke sumber tegangan tetapi arus rotor diperoler dari induksi medan putar stator,
sehingga disebut dengan motor induksi.

Untuk memperoleh torsi mula yang cukup besar kedua jenis motor listrik baik rotor
sangkar maupun rotor gelung membutuhkan arus start yang cukup besar mulai dari lima
sampai dengan sepuluh kali lipat arus nominal. Peninggkatan arus secara tiba-tiba dapat
mengakibatkan tegangan jatuh pada suatu system tenaga listrik. Sehingga menyebabkan
fliker muncul saat motor baru start. untuk menjaga motor tetap bekerja dan kontaktor tidak
beroperasi, tegangan tidak boleh jatuh lebih dari 70% dari tegangan nominal. Batasan
tegangan jatuh pada kontaktor motor listrik adalah paling rendah 30% dan yang paling tinggi
adalah 70% dari tegangan nominal, tergantung dari tipe, ukuran dan pabrikan kontaktor
tersebut. Kontaktor mungkin akan mengalami jatuh tegangan dari ¾ sampai dengan 12
cycles.

Saat kondisi start motor listrik memerlukan arus yang besar, hal ini berlangsung untuk
beberapa lama. Kemudian arus yang dibutuhkan akan turun pada kondisi locked rotor. Dan
nilai arus yang dibutuhkan akan tetap saat kondisi beban normal. Dari karakteristik arus mula
ini kita bisa menentukan karakteristik dan setting relay proteksi yang di butuhkan untuk
melindungi peralatan ini.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengatasi strating motor induksi yang membutuhkan arus
yang sangat besar dengan metode starter resitor sekunder (motor slip ring).
2. Untuk mengetahui karakteristik dan prinsip kerja motor induksi dengan metode satrter
resitor sekunder (motor slip ring)
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Salah satu metode untuk menurunkan arus starting adalah dengan
menggunakan tahanan (R) yang dihubungkan pada rangkaian rotor. Starting ini hanya
dapat dipakai untuk motor induksi motor rotor lilit (motor slip ring).
Motor induksi rotor lilit juga disebut motor induksi cincin geser (slipring),
rotornya mempunyai lilitan yang dihubungkan ke tahanan luar. Pada waktu starting,
motor dihubungkan dengan tahanan (Rheostat) dengan harga R yang maksimum.
Setelah motor running, maka rheostat dihubung singkat.

Gambar 2.1 Rangkaian Rotor Slip Ring

2.2 Karakteristik
Motor Slip Ring pada dasarnya mirip dengan motor induksi cage standar,
namun pada motor slip ring belitan pada rotor memiliki belokan yang jauh lebih
banyak. Pengoperasian motor slip ring sama dengan motor induksi cage standar dalam
torsi yang dihasilkan oleh interaksi medan stator dan medan rotor. Medan rotor yang
dihasilkan oleh arus yang mengalir di rotor yang disebabkan oleh slip antara rotor dan
bidang stator.
Starter resistensi sekunder terdiri dari kontaktor untuk mengganti stator dan
serangkaian resistor yang diterapkan ke rotor dan secara bertahap berkurang nilainya
saat motor berakselerasi ke kecepatan penuh. Nilai-nilai resistor digunakan untuk
menyediakan profil torsi yang diperlukan untuk menghilangkan kekuatan slip selama
start. Resistor sekunder dapat berupa resistor logam atau resistor pelat, asalkan
memiliki massa termal yang cukup untuk menyerap total kehilangan slip selama start.
Untuk memilih nilai-nilai resistor, perlu diketahui tegangan frame dan arus hubung
singkat.

2.3 Prinsip Kerja


Prinsip kerja starter motor slip ring sama dengan motor induksi cage standar
dalam torsi yang dihasilkan oleh interaksi medan stator dan medan rotor. Kurva
kecepatan torsi dan kurva kecepatan saat ini dapat diubah oleh terminasi rotor berliku.
Nilai resistansi yang sangat tinggi pada penghentian rotor akan memberikan arus rotor
terkunci yang sangat rendah dan akan mengurangi hambatan pengakhiran, sehingga
akan meningkatkan arus rotor yang terkunci dan torsi rotor yang terkunci hingga titik
di mana torsi maksimum tersedia dalam kondisi rotor terkunci. Pengurangan lebih
lanjut dari resistensi pengakhiran akan mengurangi torsi rotor yang terkunci dengan
menggeser maksimum (Pull Up) dari kecepatan nol menuju kecepatan sinkron. Sirkuit
pendek di rotor akan menghasilkan torsi maksimum yang terjadi pada slip yang sangat
rendah,sehingga motor akan menarik arus yang sangat tinggi (biasanya sekitar
1400%) dan menghasilkan torsi yang sangat kecil (biasanya sekitar 50%) dan
kemungkinan besar akan berhenti. Sangat penting bahwa harus ada hambatan dalam
sirkuit rotor motor slip ring selama start jika setiap torsi awal harus dikembangkan
pada arus awal yang realistis. Biasanya, motor slip ring dimulai oleh starter
multistage, berkembang setinggi 300% torsi pada arus 250%.
Beban Inersia motor slip ring umumnya menggunakan beban inersia tinggi
karena efisiensi awal yang superior dan kemampuannya untuk menahan inersia beban
ketika beban dimulai. Dengan motor induksi sangkar tipe standar, hanya ada beberapa
motor yang dapat digunakan pada beban inersia tinggi. Sebagian besar akan
mengalami kerusakan rotor karena daya yang dihamburkan oleh rotor. Dengan motor
slip ring, resistor sekunder dapat dipilih untuk memberikan kurva torsi optimal dan
dapat diukur untuk menahan beban energi tanpa kegagalan. Memulai beban inersia
tinggi dengan motor cage standar akan membutuhkan antara 400% hingga 550% start
saat ini hingga 60 detik, sedangkan memulai mesin yang sama dengan motor slip ring
akan membutuhkan arus sekitar 200% selama sekitar 20 detik, sehingga lebih efisien.
Memendekkan cincin pada motor slip ring dengan beban inersia tinggi bukan
merupakan pilihan yang tepat karena energi beban harus didisipasikan di rotor berliku
selama start. Ini akan menyebabkan kegagalan isolasi di sirkuit rotor.

Gambar 2.2 Wiring Starter Resistor Sekunder (Motor Slip Ring)


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Motor induksi cincin geser (slipring), rotornya mempunyai lilitan yang dihubungkan
ke tahanan luar. Pada waktu starting, motor dihubungkan dengan tahanan (Rheostat) dengan
harga R yang maksimum. Setelah motor running, maka rheostat dihubung singkat.
Pengoperasian motor slip ring sama dengan motor induksi cage standar dalam torsi yang
dihasilkan oleh interaksi medan stator dan medan rotor. Medan rotor yang dihasilkan oleh
arus yang mengalir di rotor yang disebabkan oleh slip antara rotor dan bidang stator.
Kurva kecepatan torsi dan kurva kecepatan saat ini dapat diubah oleh terminasi rotor
berliku. Dengan motor slip ring, resistor sekunder dapat dipilih untuk memberikan kurva torsi
optimal dan dapat diukur untuk menahan beban energi tanpa kegagalan.
DAFTAR RUJUKAN

Manaf, Abdul. 2017. Desain Instalasi Listrik I. Malang: Politeknik Negeri Malang
www.insinyoer.com/prinsip-kerja-motor-induksi-3-fasa
www.academia.edu/12524051/Starting_Motor_Induksi_3_Fasa
www.lmphotonics.com/slipring.htm
www.lmphotonics.com/m_start.htm
www.insinyoer.com/prinsip-kerja-motor-induksi-3-fasa
www.academia.edu/8196296/INSTALASI_MOTOR_LISTRIK-XI-3