Anda di halaman 1dari 7

- Masalah Penelitian - Pada umumnya penelitian berangkat dari suatu masalah tertentu,

karena penelitian bertujuan memecahkan masalah yang ada. Penelitian yang sistematis
dimulai dengan suatu permasalahan atau persoalan. John Dewey mengatakan bahwa
langkah pertama pada suatu metode ilmiah adalah pengakuan adanya kesukaran,
hambatan atau pun masalah yang membingungkan peneliti (Ary, Jacobs, dan Razavieh,
1982: 73). Bagaikan sebuah percakapan tanya jawab, masalah merupakan pertanyaannya
sedangkan jawaban dari masalah akan dicari pada proses penelitian. Meneliti merupakan
usaha untuk mendapatkan jawaban dari masalah yang sedang dihadapi.

Rasa ingin tahu atau coriusity merupakan sifat alamiah yang dimiliki oleh manusia,
sehingga merka selalu mencari tahu tentang apa saja yang tidak diketahu olehnya.
Masalah mencerminkan ketidaktahuan seorang manusia. Sedangkan penelitian
merupakan suatu cara atau usaha manusia untuk mengatasi ketidaktahuan, sehingga
masalah itu bisa berubah menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang telah diperoleh melalui
aktivitas penelitian akan mempersempit wilayah ketidaktahuan mereka karena telah
menjadi pengetahuan manusia itu sendiri.

Kedudukan masalah di dalam kegiatan penelitian sangatlah penting. Pemecahan masalah


separuhnya ditentukan oleh kebenaran dan ketepatan dalam perumusan masalah tersebut.
Pemecahan masalah tidak bisa diharapkan dari pertanyaan-pertanyaan masalah yang
salah. Pertanyaan masalah nantinya akan menentukan metode penelitian, cara
pengumpulan data jenis data dan teknik analisis data yang akan dipakai. Oleh karena itu,
bagian ini dibahas mengenai masalah dan perumusan masalah di dalam suatu penelitian.

PENGERTIAN MASALAH
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pada dasarnya penelitian dilaksanakan
dengan tujuan agar mendapatkan data, yang antara lain bisa dipakai untuk memecahkan
suatu masalah. Oleh sebab itu, setiap penelitian yang hendak dilakukan harus selalu
berawal dari masalah. Seperti yang telah dinyatakan oleh Emory (1985), bahwa baik itu
penelitian murni maupun terapan, kesemuanya itu berangkat dari masalah, hanya pada
penelitian terapan saja yang hasilnya dapat langsung dipakai untuk membuat suatu
keputusan.

Jadi, setiap penelitian yang hendak dilaksanakan harus selalu berangkat dari masalah,
meskipun banyak yang mengakui bahwa memilih masalah penelitian sering kali menjadi
tahap yang paling susah dalam proses penelitian (Tuckman, 1985). Jika dalam penelitian
peneliti telah mampu menemukan masalah yang benar - benar masalah, maka
sesungguhnya pekerjaan dari penelitian itu telah selesai sebesar 50%. Hal tersebut
diperkuat oleh pernyataan Sugiyono (2013) yaitu menemukan masalah dalam penelitian
merupakan pekerjaan yang tidak gampang, akan tetapi setelah masalah bisa ditemukan,
maka pekerjaan penelitian akan segera bisa dilaksanakan.

Masalah berkaitan erat dengan kesenjangan (gap) yang harus diisi atau setidaknya
kesenjangan tersebut dipersempit. Masalah juga dapat memunculkan suatu celah (void)
ruang ketidaktahuan. Masalah dapat disimpulkan sebagai suatu kesenjangan antara
harapan (das sollen) dengan kenyataan (das sein), antara yang seharusnya (what should
be) dengan yang ada (what it is), antara kebutuhan dengan yang tersedia (Suryabrata,
1994: 60). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menutup kesenjangan (what can be)
tersebut.

Kesenjangan masalah menimbulkan kebutuhan, untuk menutup kebutuhan itu maka


dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan yang memunculkan kesenjangan
tersebut. Kegiatan untuk menutup kesenjangan dilakukan dengan jalan suatu penelitian.
Sehingga dapat pula dikatakan, bahwa penelitian suatu kegitan mencari suatu jawaban
yang masih belum diketahui, memenuhi kebutuhan yang masih belum tersedia, dan
menyediakan yang belum ada. Hal tersebut sejalan dengan pernytaan Purwanto
(2010:108-109), bahwa penelitian diharapkan bisa memecahkan masalah atau setidak -
tidaknya memperkecil kesenjangan yang ditimbul oleh masalah tersebut.

SUMBER MASALAH
Sumber masalah dalam suatu penelitian bisa berasal dari berbagai sumber. Menurut Mac
Millan dan Schumacher (Hadjar, 1996: 40-42), masalah bisa bersumber dari observasi,
hasil deduksi dari suatu teori, ulasan kepustakaan, masalah sosial yang saat ini sedang
terjadi, situasi praktis dan juga bisa bersumber dari pengalaman pribadi. Masing - masing
sumber dapat dijelaskan sebagaimana berikut:
1) Observasi
Observasi adalah sumber yang paling kaya akan masalah penelitian. Kebanyakan
keputusan praktis didasarkan atas praduga yang tidak didukung oleh data empiris.
Masalah penelitian bisa diangkat dari hasil observasi terhadap suatu hubungan tertentu
yang masih belum memiliki dasar penjelasan yang memadai dan cara - cara rutin yang di
dalam melakukan suatu tindakan didasarkan atas tradisi atau otiritas. Penyelidikan
kemungkinan dapat menghasilkan teori yang baru, rekomendasi pemecahan masalah
praktis dan mengidentifikasi variabel yang belum ada dalam bahasan litelatur.
2) Deduksi dari teori
Teori itu sendiri merupakan konsep - konsep yang masih berupa prinsip - prinsip umum
yang penerapannya belum bisa diketahui selama belum dialkukan pengujian secara
empiris. Penyelidikan terhadap suatu masalah yang diangkat berasal dari teori bermanfaat
untuk memperoleh penjelasan secara empiris praktik tentang teori tersebut.
3) Kepustakaan
Hasil dari penelitian kemungkinan dapat memberikan rekomendasi akan perlunya
dilakukan suatu penelitian ulang (replikasi), baik dengan ataupun tanpa variasi. Replikasi
bisa meningkatkan validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk digeneralisasikan
secara lebih luas. Laporan penelitian tidak jarang juga menyampaikan suatu rekomendasi
kepada peneliti lain mengenai apa saja yang perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut.
Hasil penelitian ini juga dapat menjadi sumber untuk menentukan masalah yang perlu
diangkat untuk dilakukan suatu penelitian.
4) Masalah sosial
Masalah sosial bisa juga menjadi sumber masalah penelitian. Seperti seringnya terjadi
perkelahian siswa antar sekolah, bisa memunculkan pertanyaan tentang efektivitas
pelaksanaan pendidikan agama dan moral serta pembinaan sikap disiplin di lingkungan
sekolah. Banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi juga dapat memunculkan
pertanyaan tentang kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan masyarakat.
5) Situasi praktis
Pada tahap pembuatan suatu keputusan tertentu, tidak jarang mendesak untuk
dilakukannya suatu penelitian evaluatif. Hasil penelitian ini sangat diperlukan guna
dijadikan dasar dalam pembuatan keputusan yang lebih lanjut.
6) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi bisa memunculkan masalah yang membutuhkan jawaban empiris
guna mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.(Purwanto, 2010:109-111)

Macam-Macam Hipotesis Penelitian


Berdasarkan tiga macam masalah penelitian (deskriptif, komparatif dan asosiatif), maka ada tiga
macam hipotesis penelitian (Ha), yaitu:
a. Hipotesis Deskriptif yaitu hipotesis yang tidak membandingkan dan menghubungkan dengan
variabel lain atau hipotesis yang dirumuskan untuk menentukan titik peluang, hipotesis yang
dirumuskan untuk menjawab permasalahan taksiran (estimatif).
Contoh:

1. Panen udang windu di Tambak Udang Kalinyar-Bangil mencapai 3 ton/ha.


2. Motivasi belajar siswa SDN Melayu 5 mencapai 80% dari kriteria rata-rata nilai ideal
yang ditetapkan.
3. Gaya mengajar dosen statistik mencapai 70% dari kriteria rata-rata nilai ideal.

b. Hipotesis Komparatif dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang


bersifat membedakan.

1. Ada perbedaan besarnya motivasi belajar antara mahasiswa prodi Administrasi


pendidikan dengan mahasiswa PGSD.
2. Ada perbedaan kesenangan bagi anak-anak SD antara menonton TV dengan membaca
buku, bahwa menonton TV lebih disukai daripada membaca buku.
3. Ada perbedaan kemampuan berbahasa asing antara lulusan pondok pesantren Yapi
Bangil dengan lulusan SMU Darul Ulum Jombang, yaitu lulusan pondok pesantren Yapi
Bangil lebih baik daripada lulusan SMU Darul Ulum Jombang.

c. Hipotesis Asosiatif dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang


bersifat hubungan. Sedangkan menurut sifat hubungannya hipotesis penelitian (Ha) ada tiga
jenis, yaitu:
1. Hipotesis hubungan simetris ialah hipotesis yang menyatakan hubungan yang bersifat
kebersamaan antara kedua variabel atau lebih, tetapi tidak menunjukan sebab akibat.
Contoh:
a) Ada hubungan antara berpakaian mahal dengan penampilan.
b) Ada hubungan yang positif antara banyaknya penonton sepak bola dengan tingkat
kerusuhan.
2. Hipotesis hubungan sebab akibat (kausal) ialah hipotesis yang menyatakan hubungan yang
bersifat mempengaruhi antara dua variabel atau lebih.
Contoh:
a) Motivasi belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.
b) Disiplin guru yang tinggi berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja.
3. Hipotesis hubungan interaktif ialah hipotesis hubungan antara dua variabel atau lebih yang
bersifat saling mempengaruhi.
Contoh:
a) Terdapat pengaruh timbal balik antara kreativitas siswa dengan hasil belajar.
b) Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara status sosial ekonomi dengan terpenuhi
gizi keluarga.

http://ayo-nambah-ilmu.blogspot.co.id/2016/06/masalah-penelitian-pengertian-sumber.html

Konsep Hipotesis
Awalnya, istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu “hupo”
artinya sementara dan “thesis” berarti pernyataan atau teori. Karena hipotesis adalah
pernyataansementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya. Menurut
Kerlinger (Riduan, 2010:35) hipotesis ditafsirkan sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua
variabel atau lebih. Sedangkan Sudjana (Riduan, 2010:35) mengartikan hipotesis adalah asumsi
atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut
untuk melakukan pengecekannya.
Dari definisi ahli di atas dapat dsimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban atau dugaan
sementara yang harus diuji lagi kebenarannya melalui penelitian ilmiah.
Hipotesis kerja (Hipotesis Alternatif Ha atau H1) yaitu hipotesis yang dirumuskan untuk
menjawab permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang relevan dengan masalah
penelitian dan belum berdasarkan fakta dan dukungan data yang nyata di lapangan. Hipotesis
alternatif (Ha) dirumuskan dengan kalimat positif.

http://www.asikbelajar.com/2015/10/hipotesis-penelitian-pengertian-konsep.html

Hipotesis Alternatif (H1)


adalah pernyataan yang sama dengan parameter populasi yang sama dengan yang digunakan dalam
hipotesis nol. Biasanya hipotesis ini merupakan pernyataan yang menyatakan bahwa parameter populasi
tersebut memiliki nilai yang berbeda dari pernyataan yang telah disebutkan dalam hipotesis nol.

Hipotesis Nol (Ho)


yaitu hipotesis yang akan diuji. Biasanya, hipotesis ini merupakan pernyataan yang menunjukkan bahwa
suatu parameter populasi memiliki nilai tertentu.

http://www.academia.edu/14926169/HIPOTESIS_NOL_DAN_HIPOTESIS_ALTERNATIF

Dalam menaksir paramater populasi berdasarkan data sampel, kemungkinan akan


terdapat dua kesalahan, yaitu :
1. Kesalahan Tipe I adalah kesalahan dalam menolak hipotesis Ho yang benar
(seharusnya diterima). Dalam hal ini tingkat kesalahan.
2. Kesalahan Tipe II adalah kesalahan dalam menerima hipotesis yang salah
(seharusnya ditolak).

Berikut dapat dilihat tabel hubungan antara keputusan menolak atau menerima Ho :

Tabel 1. Hubungan Antara Keputusan Menolak dan Menerima Hipotesis

1. Keputusan menerima hipotesis Ho yang benar, berarti tidak terjadi kesalahan.


2. Keputusan menerima hipotesis Ho yang salah, berarti terjadi kesalahan tipe II
(Beta).
3. Keputusan menolak hipotesis Ho yang benar, berarti terjadi kesalahan tipe I
(Alpha).
4. Keputusan menolak hipotesis Ho yang salah, berarti tidak terjadi kesalahan.

Tingkat kesalahan ini selanjutnya dinamakan tingkat signifikansi / taraf signifikansi /


level of significant (lihat Taraf Significant). Dalam prakteknya tingkat signifikansi
telah ditetapkan oleh peneliti terlebih dahulu. Dalam pengujian hipotesis kebanyakan
digunakan kesalahan tipe I yaitu berapa persen kesalahan untuk menolak hipotesis nol
yang benar (biasa menggunakan nilai Alpha).

http://www.jam-statistic.id/2014/01/kesalahan-dalam-menguji-hipotesis.html

SKALA NOMINAL (SKALA LABEL)

Skala ini menempatkan angka sebagai atribut objek. Tidak memiliki efek evaluatif karena hanya
menempatkan angka ke dalam kategori tanpa struktur, tidak memiliki peringkat dan tidak ada
jarak.

Contoh Data Variabel :

 Ya = 1 dan Tidak = 0
 Pria = 1 dan Wanita = 0
 Hitam = 1, Abu-abu = 2, Putih = 2

Analisis Statistik :
Angka tidak bermakna matematika. Analisis statistik yang dapat digunakan berada dalam
kelompok non-parametrik yaitu frekuensi dan tabulasi silang dengan Chi-square.

SKALA ORDINAL (SKALA PERINGKAT)

Skala ordinal memiliki peringkat, tapi tidak ada jarak posisional objektif antar angka karena
angka yang tercipta bersifat relatif subjektif. Skala ini menjadi dasar dalam Skala Likert.

Contoh Data Variabel :

 Sangat Tidak Setuju = 1


Tidak Setuju = 2
Tidak Tahu = 3
Setuju = 4
Sangat Setuju = 5

 Pendek = 1
Sedang = 2
Tinggi = 3

 Tidak enak = 1
Ragu-ragu = 2
Enak = 3
Analisis Statistik :

Angka 1 lebih rendah dari angka 2 dalam peringkat, tapi tidak bisa dilakukan operasi
matematika. Data ordinal menggunakan statistik non-parametrik mencakup frekuensi, median
dan modus, Spearman rank-order correlation dan analisis varian.

SKALA INTERVAL (SKALA JARAK)

Skala interval adalah skala ordinal yang memiliki poin jarak objektif dalam keteraturan kategori
peringkat, tapi jarak yang tercipta sama antar masing-masing angka.

Contoh Data Variabel :

 Umur 20-30 tahun = 1


Umur 31-40 tahun = 2
Umur 41-50 tahun = 3

 Suhu 0-50 Celsius = 1


Suhu 51-100 Celsius = 2
Suhu 101-150 Celsius = 3

Analisis Statistik :
Angka 3 berarti lebih tua atau lebih panas dari angka 2 setara dengan angka 2 terhadap angka 1,
bisa operasi penjumlahan dan pengurangan. Statistik parametrik yaitu deviasi mean dan standar,
korelasi r, regresi, analisis varian dan analisis faktor ditambah berbagai multivariat.

SKALA RASIO (SKALA MUTLAK)

Skala rasio adalah skala interval yang memiliki nol mutlak.

Contoh Data Variabel :

 0 tahun, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, ..... dst.


 ..... -3C, -2C, -1C, 0C, 1C, 2C, 3C, ..... dst.
 ..... 0,71m ..... 5,38m ..... 12,42m ..... dst.

Analisis Statistik :

Berlaku semua operasi matematika. Analisis statistik sama dengan skala interval.

https://tu.laporanpenelitian.com/2014/11/24.html