Anda di halaman 1dari 5

Pembangunan kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia No HK.02.02/Menkes/52/2015 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan


dan kemampuan hidup sehat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai
salah satu unsur kesejahteraan umum. Rumah sakit merupakan salah satu bagian dalam
pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan. Menurut
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 286/Menkes/SK/VI/1990, rumah
sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan serta dapat
dimanfaatkan untuk pendidikan dan penelitian, upaya pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat
inap, pelayanan gawat darurat, pelayanan medis dan pelayanan non medis. Saat ini, rumah sakit
telah mengalami transformasi yang besar.Rumah sakit dituntut untuk meningkatkan kinerja dan
daya saing sebagai badan usaha dengan tidak mengurangi misi sosial didalamnya. Dengan
adanya perubahan tuntutan dari masyarakat berupa kenyamanan dan kemudahan dalam
pelayanan, rumah sakit memerlukan pengembangan terutama dalam sistem manajemen
informasinya. Pengelolaan data di rumah sakit merupakan salah satu komponen penting untuk
mewujudkan suatu sistem manajemen yang baik.
Menurut Rustiyanto (2010), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS) adalah
suatu rangkaian kegiatan yang mencakup semua pelayanan kesehatan (rumah sakit) disemua
tingkatan administrasi yang dapat memberikan informasi kepada pengelola untuk proses
manajemen pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan yang termasuk didalamnya adalah
Pelayanan Utama (Front Office) dan Pelayanan Administasi (Back Office). Sebelum adanya
teknologi seperti saat ini, rumah sakit masih menggunakan sistem manajemen secara
konvensional atau manual. Segala hal yang berhubungan dengan manajemen rumah sakit
dilakukan secara tertulis seperti proses input data, perpindahan atau mutasi barang, hingga
pencatatan biaya perawatan. Pengelolaan data rumah sakit seperti data medis pasien dan data
administrasi yang cukup besar dan kompleks bila dikelola dengan sistem konvensional akan
mengakibatkan beberapa hal seperti (Handiwdijojo, 2009):
a. Redudansi Data, pencatatan data medis yang sama dapat terjadi berulang-ulang sehingga
menyebabkan duplikasi data dan ini berakibat membengkaknya kapasitas penyimpanan data.
Pelayanan menjadi lambat karena proses retrieving (pengambilan ulang) data lambat akibat
banyaknya tumpukan berkas
b. Unintegrated Data, penyimpanan dan pengelolaan data yang tidak terintegrasi menyebabkan
data tidak sinkron, informasi pada masing-masing bagian mempunyai asumsi yang berbeda-beda
sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit
c. Out of date Information, dikarenakan dalam penyusunan informasi harus direkap secara
manual maka penyajian informasi menjadi terlambat dan kurang dapat dipercaya kebenarannya
d. Human Error, kelemahan manusia adalah kelelahan, ketelitian dan kejenuhan hal ini berakibat
sering terjadi kesalahan dalam proses pencatatan dan pengolahan data yang dilakukan secara
manual terlebih lagi jika jumlah data yang dicatat atau di olah sangatlah besar. Pemasukan data
yang tidak sinkron untuk pasien atau barang yang sama tentu saja akan meyulitkan pengolahan
data dan tidak jarang berdampak pada kerugian materi yang tidak sedikit bagi rumah sakit.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, maka pengelolaan data dengan cara manual
dapat digantikan dengan suatu sistem informasi manajemen berbasis komputer. Dalam Undang
Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 63 dijelaskan perlunya pengembangan Sistem
Informasi Kesehatan yang mantap agar dapat menunjang sepenuhnya pelaksanaan manajemen
dan upaya kesehatan dengan menggunakan teknologi dari yang sederhana hingga yang mutakhir
disemua tingkat administrasi kesehatan. Sistem informasi manajemen berbasis komputer
merupakan sarana pendukung yang sangat penting dan mutlak diperlukan dalam operasional
rumah sakit. Dengan sistem berbasis komputer, pelayanan kesehatan dapat lebih
dikonsentrasikan pada asuhan keperawatan dan tindakan medis lain. Sistem informasi dapat
digunakan sebagai sarana strategis untuk memberikan pelayanan luas yang berorientasi kepada
kepuasan pelanggan. Menurut Laudon dalam Mukti dkk. (2013) pembangunan sistem informasi
rumah sakit berbasis komputer akan membentuk rumah sakit digital yang dapat dipahami dengan
merujuk pada definisi perusahaan digital dimana hampir semua proses bisnis dan hubungan
dengan pelanggan, pemasok, mitra kerja dan pihak internal perusahaan, serta pengelolaan aset-
aset perusahaan yang meliputi properti intelektual, kompetensi utama, keuangan dan sumber
daya manusia (SDM) dilakukan secara digital. Sistem informasi manajemen berbasis komputer
harus mampu mengurangi beban kerja masing-masing unit pelayanan. Namun, Handiwdijojo,
(2009) menyatakan secara umum ada beberapa kelebihan dari penggunaan SIM RS berbasis
komputer, antara lain:
a. Mengurangi beban kerja berbagai unit, terutama unit rekam medis dalam menangani berkas
rekam medis pasien. Kegiatan yang dilakukan mulai pada unit rekam medis antara lain
prosescoding, indexing, assembling, hingga filing. Dengan adanya SIM RS berbasis komputer,
maka bagian ini diubah menjadi rekam medis elektronik (RME). Sehingga semua proses diatas
dilakukan secara otomatis dengan komputer.
b. Mengurangi pemakaian kertas (paperless). Dengan adanya sistem ini, maka sudah seharusnya
pemakaian kertas dapat dikurangi dan bila perlu dihilangkan. Sistem ini harus mampu
memangkas pemakaian kertas seperti:
• Lembar-lembar rekam medis yang tidak berhubugan dengan masalah autentikasi atau aspek
hukum.
• Laporan masing-masing unit pelayanan (semua laporan sudah dikelola oleh sistem).
• Rekap Laporan yang dikirim ke Dinas Kesehatan setempat
c. Mendukung pengambilan keputusan bagi para direktur dan manajer rumah sakit karena sistem
mampu menyediakan informasi yang cepat, akurat serta akuntabel. Untuk keperluan ini sistem
harus mampu menyediakan laporan yang bersifat executive summary bagi mereka.
Menurut Oetomo dalam Handwidojo (2009) pembangunan sistem informasi berbasis
komputer bukan sekedar mengotomatisasikan prosedur lama, tetapi menata dan memperbarui
aliran data baru yang lebih efisien, sistematis, sederhana, dan efektif. Saat ini telah banyak
dikembangkan aplikasi-aplikasi yang dapat menunjang proses manajemen informasi di rumah
sakit, namun masih ada beberapa rumah sakit menggunakan dua sistem sekaligus, yaitu
pencatatan secara manual kemudian memasukkannya ke dalam sistem komputer . Salah satunya
adalah RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali yang telah menggunakan komputer sebagai alat
pendukung dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. Input data saat registrasi pasien dilakukan
secara komputerisasi didukung aplikasi dengan memasukkan identitas pasien. Namun hal ini
dirasa kurang maksimal karena sering mengalami system error, sehingga pengolahan dan
penyajian data untuk pelaporan ke pihak manajemen masih dilakukan secara manual dengan
spreadseheet yaitu Microsoft Office Excel. Kegiatan registrasi yang dilakukan berupa penerimaan
data, penyimpanan data dan penyebaran ke pihak terkait dilakukan dengan aplikasi berbasis web
yang bernama Sistem Informasi Rumah Sakit Umum Asy-Syifa. Selain memasukkan data dalam
sistem, petugas juga mencatat data pada buku register pasien. Namun disisi lain, program
aplikasi ini membantu petugas dalam kegiatan input data pasien seperti jenis kelamin, agama,
pendidikan, wilayah, jenis pasien, jenis kunjungan, poli/bagian, cara bayar menjadi lebih mudah
dan praktis karena cukup dengan memilih tanpa perlu mengetik lagi. Sistem akan secara otomatis
mengolah data dalam database, akan tetapi petugas perlu melakukan pemilahan secara manua
kembali karena data yang dihasilkan tidak sesuai dengan data yang disimpan (Prasaja, 2014).
Pengolahan dan penyajian data secara manual tersebut menyebabkan laporan belum bisa tersedia
secara mudah, cepat dan akurat sehingga perlu adanya perbaikan dan pengembangan terhadap
aplikasi yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Handiwidjojo, W. 2009. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. Jurnal Eksplorasi


Karya Sistem Informasi dan Sains. Vol. 02, No. 02: 32-38.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No HK.02.02/Menkes/52/2015.

Muhyarsyah. 2007. Sistem Informasi Manajemen Dalam Rumah Sakit. Jurnal Riset
Akuntansi dan Bisnis. Vol. 07,No. 01:67-90.

Mukti, E.B., Migunani, Effendi, R. 2013. Perancangan Sistem Informasi Pelayanan


Rawat Jalan Berbasis Desktop (Studi Kasus Pada Puskesmas Brati Kab. Grobogan). Jurnl
Teknologi Informasi dan Komunikasi. ISSN: 20870868, Vol. 04, No. 02: 57-64.

Prasaja, H.S. 2014. Analisis Sistem Informasi Registrasi Pasien di Rumah Sakit Umum
Asy-Syifa Sambi Boyolali. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, Keputusan Menteri


Kesehatan Republik IndonesiaNo HK.02.02/Menkes/52/2015.

Rustiyanto,E. 2010. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Yang Terintegrasi.


Yogyakarta: Goysen Publishing.

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 286/Menkes/SK/VI/1990.

Undang Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 63.