Anda di halaman 1dari 9

Laboratorium Patologi Anatomi

A. Histopatologi
1. Loket Pendaftaran dan Penerimaan Jaringan
Pencocokan jaringan dengan keterangan pada formulir yang diserahkan,
pemberian nomor sesuai dengan urutan serta aturan yang berlaku pada
laboratorium, pemberian identitas dan jumlah jaringan yang diterima.

2. Pengolahan Jaringan
a. Kamar potong basah
Prinsip pemotongan : Mengambil bagian yang representatif dengan jumlah
sesuai dengan kategorik spesimen dan mewakili setiap bagian yang berbeda
Prosedur pemotongan :
1) Jaringan yang didapat dicuci untuk mehilangkan darah yang ada pada
sample jaringan
2) Jaringan dipotong seukuran dengan kaset
3) Melakukkan pencatatan secara makroskopik meliputi, ukuran, warna,
konsistensi, bentuk permukaan, jumlah potongan dan daerah potongan.

b. Tissue Processing

Proses tissue processing dilakukan dengan metode otomatisasi


menggunakan Alat Leica ASP300,yang program yang digunakan dalam alat
meliputi :
1) Fiksasi yaitu proses yang bertujuan agar jaringan mati (menghentikan
proses – proses hidup serta mengawetkan semua isi sel) secepatnya
sehingga tidak terjadi perubahan pasca kematian sehingga struktur
jaringan dapat dipertahankan seperti keadaan masih hidup. Pada alat
proses ini dilakukan dengan buffer formalin 10% selama 1 jam.
2) Dehidrasi bertujan menarik air dari jaringan agar dimasukkan larutan
yang dapat bercampur atau larut dalam parafin yang digunakan sebagai
alat dimana jaringan akan ditanam. Proses ini dilakukkan dengan
perendaman jaringan pada larutan alkohol bertingkat. Pada alat ini
proses dilakukkan dengan menggunakan Alkohol 70% selama 1 jam,
Alkohol 80% selama 1 jam, Alkohol 96% selama 1 jam dan Alkohol
Absolut selama 1 jam
3) Clearing, dilakukkan untuk menghilangkan bahan kimia dehidrasi.
Bahan clearing yang digunakan mempunyai sifat mampu menggantikkan
bahan kimia dehidrasi dan mampu melarutkan parafin. Xylol merupakan
bahan yang sering digunakan dalam proses clearing, karena xylol dapat
berfungsi menjernihkan jaringan dari alkohol dan dapat berfungsi
sebagai zat antara yang dapat larut dalam alkohol sekaligus dalam
parafin. Pada alat ini proses dilakukan dengan menggunakan Xylol I, II
dan III yang mana waktu keseluruhan pada proses ini selama 1 jam
4) Impregnasi, proses memasukkan parafin ke dalam sample jaringan untuk
menggantikan xylol, sehingga sample tidak rusak pada waktu
pemotongan dengan mikrotom. Pada alat ini proses dilakukan dengan
menggunakan Parafin I, II dan III yang mana waktu keseluruhan pada
proses ini selama 1 jam.

c. Pembuatan blok parafin (Embedding)


Proses embedding merupakan proses penutupan sampel jaringan
dengan medium (parafin) yang mana bentuk solidnya memudahkan
jaringan untuk dipotong tipis. Harus disiapkan cetakan untuk memblok
parafin yang akan ditanam dengan sample jaringan. Proses pembuatan blok
parafin dilakukan dengan metode semi-otomatisasi menggunakan Alat
Leica.

d. Proses pemotongan blok jaringan

Proses pemotongan atau pengirisan blok jaringan dengan menggunakan


mikrotom. Sampel yang dipotong tebalnya sekitar 3 – 4 mikron. Pemotongan
akan berhasil jika pisau tidak tumpul, tidak berkarat, dan tidak terdapat sisa-
sisa parafin dari hasil pemotongan sebelumnya dan posisi sampel lurus dan
baik. Proses mikrotomi dilakukan dengan menggunakan mikrotom otomatis
Leica RM2255 dengan prosedur sebagai berikut :
1) Blok dijepit pada mikrotom kemudian dipotong dengan pisau mikrotom
2) Hasil pemotongan (berupa pita/irisan tipis yang saling bersambung)
dimasukkan kedalam waterbath yang diisi air yang sudah dihangatkan
50 0 C, kemudian diambil dengan kaca objek (Meletakkan potongan di
waterbath tidak boleh terbalik).

e. Frozen section

Teknik frozen section adalah teknik pengelolaan jaringan dengan cara


membekukan dengan cepat suatu jaringan segar yang selanjutnya akan
masuk pada proses fiksasi dan embedding didalam medium yang sesuai.
Teknik ini umumnya digunakan dalam mendiagnosa keganasan pada
durante operasi atau pasien masih dalam meja operasi untuk ditentukan
langkah selanjutnya yang tepat bagi pasien. Pada proses ini digunakan alat
otomatis Leica CM1950.

3. Proses Pewarnaan

Proses ini merupakan suatu prosea dimana sampel diwarnai dengan


menggunakan zat warna. Tujuannya yaitu untuk mewarnai jaringan
sehingga mudah diamati di mikroskop. Tahapan staining terdiri dari proses
deparafinasi atau penarikan parafin dari dalam jaringan. Proses rehidrasi
atau pemasukan molekul air ke dalam jaringan yang dilakukan secara
bertahap dengan menggunakan alkohol bertingkat dari konsentrasi tinggi
ke konsentrasi rendah. Proses ini sebagai media penghantar zat warna ke
jaringan. Selanjutnya proses infiltrasi zat warna. Menggunakan
haematoxilin untuk mewarnai sitoplasma dan eosin untuk mewrnai inti sel.
Lalu dehidrasi kembali yang bertujuan untuk mencegah kerusakan pada
jaringan karena mengakibatkan terjadinya pembusukan. Setelah parafin
dikeluarkan dengan menggunakan xylen, preparat dikeringkan dan ditetesi
dengan entelan dan ditutup dengan deck glass. Kemudian diamati di
bawah mikroskop. Prosedur pada proses pewarnaan ini meliputi :
1) Oven : 15 – 20 menit
2) Xylol I : 5 menit
3) Xylol II : 5 menit
4) Alkohol 96% : 10 kali celup
5) Alkohol 80% : 10 kali celup
6) Alkohol 70% : 10 kali celup
7) Air : 3 menit
8) Hematoxyline : 5 menit
9) Air : 5 menit
10) Lithium karbonat : 10 kali celup
11) Air : 10 kali celup
12) Eosin : 1-3 menit
13) Alkohol 96% : 10 kali celup
14) Alkohol 96% : 10 kali celup
15) Alkohol Absolut : 10 kali celup
16) Xylol I : 10 kali celup
17) Xylol II : 10 kali celup

4. Mounting
Prosedur pada proses mounting ini meliputi :
a. Sediaan preparat diteteskan 1 tetes entelan lem mounting medium, lalu
celupkan kedalam xylol.
b. Selanjutnya, tutup sediaan preparat dengan menggunakan deck glass.
c. Sediaan preparat siap untuk dilakukkan pemeriksaan diatas mikroskop.

5. Labelling
Tahap akhir labelling ini dilakukan sesuai dengan formulir, labelling
dilakukan dengan teliti untuk menghindari tertukarnya slide pemeriksaan.

B. Sitopatologi
1. Loket Pendaftaran dan Penerimaan sampel
Pada tahap ini dilakukan pencocokan sampel dengan keterangan pada formulir
yang diserahkan, pemberian nomor sesuai dengan urutan serta aturan yang berlaku
pada laboratorium, pemberian identitas dan jumlah sampel yang diterima

2. Processing sampel

a. Sampel bahan cairan yang kental seperti prostat, mamae dan saluran genital
wanita dan dahak yang mana biasanya mengandung sejumlah sel yang
cukup tinggi. Oleh karena itu bahan-bahan ini dapat menyebar secara
langsung pada obyek glass.
b. Sampel bahan cairan yang lebih encer seperti air seni, cairan bilas saluran
pencernaan atau bronchus dan eksudat yang mana biasanya mengandung
sedikit sel. Biasanya terhadap bahan-bahan ini perlu dilakukan sentrifugasi
(pemusingan) dalam waktu tertentu sehingga tampak endapan dengan
cairan yang jernih. Pada tahap ini proses sentrifugasi dilakukan dalam
waktu 10-15 menit dengan kecepatan 1800 rpm atau 2500 rpm dalam waktu
5 menit. Kemudian cairan ini secara hati-hati dibuang. Endapannya
dipisahkan ke objek glass dengan pipet atau alat yang serupa kemudian
dilakukan apusan dengan menggunakan salah satu sisi objek glass yang
lain.

3. Buat Apusan
Prosedur pembuatan apusan pada sitopatologi meliputi :
a. Dilakukkan pada sampel yang tebal atau cairan
b. Letakkan sampel di atas kaca dan buat hapusan dengan slaid lain pada sudut
30-40˚
c. Slide kedua tempelkan pada sampel, lalu dengan cepat di dorong agar
terbentuk hapusan

4. Pewarnaan

Pewarnaan papaniculou merupakan proses penting yang dilakukkan pada proses


pembuatan preparat sitopatologi. Terutama dalam melakukkan pemeriksaan
terhadap detail dari morfologi untuk memeriksa inti sel, untuk melihat apakah sel
tersebut sel normal, sel noeplasma jinak atau ganas. Prosedur pewarnaan pada
tahap ini meliputi :
a. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan pada proses pewarnaan.
b. Sediaan preparat dimasukkan kedalam alkohol 96%, 70%, dilanjutkan
kedalam alkohol 50%, dan aquadest masing- masing selama 10 kali celup.
Proses ini dilakukkan dengan prinsip rehidrasi sebelum dilakukkan
pewarnaan dengan Hematoxylin.
c. Sediaan preparat dilakukkan pewarnaan dengan pewarna Hematoxylin
selama 5 menit dan bersihkan dengan air mengalir.
d. Sediaan preparat selanjutnya memasuki tahap dehidrasi. Proses dehidrasi ini
dilakukkan dengan memasukkan kedalam alkohol dengan konsentrasi 50%,
70%, dan 96% masing-masing sebanyak 10 kali celup. Proses dehidrasi
pada tahap ini dilakukkan karena pelarut OG-6 yang merupakan alkohol.
e. Pewarnaan OG-6 dilakukkan pada sediaan preparat selama 5 menit.
f. Sediaan preparat dibilas dengan menggunakan alkohol 96% sebanyak 2 kali
dan masing-masing pembilasan dilakukkan dengan cara mencelupkan
sebanyak 10 kali celup.
g. Sediaan preparat dilakukkan pewarnaan dengan menggunakan EA-50
selama 5 menit.
h. Sediaan preparat dibilas dengan menggunakan alkohol 96% sebanyak 2
kali dan masing-masing pembilasan dilakukkan dengan cara mencelupkan
sebanyak 10 kali celup.
i. Selanjutnya, sediaan preparat dimasukkan kedalam xylol I dan xylol II .
Tahap ini perlu dilakukkan karena pelarut lem mounting yang akan
digunakan untuk menutup sediaan preparat adalah xylol.

5. Labelling
Tahap akhir labelling ini dilakukan sesuai dengan formulir, labelling
dilakukan dengan teliti untuk menghindari tertukarnya slide pemeriksaan