Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tonsilitis merupakan peradangan tonsil yang sering terjadi pada anak-anak,

dan angka kejadiannya cukup tinggi, yakni sebesar 47 %. Dan komplikasi yang

diakibatkan apabila terlambat penanganan adalah abses peritonsil yang dapat

mengakibatkan obstructive sleep apneu ataupun berkembang menjadi tonsillitis kronis.

Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin

Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam

rongga mulut yaitu: tonsil laringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsila faucial), tonsila

lingual (tonsila pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/

Gerlach’s tonsil). Peradangan pada tonsila palatine biasanya meluas ke adenoid dan tonsil

lingual. Penyebaran infeksi terjadi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman.

Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak.

Tonsilitis kronis merupakan salah satu penyakit yang paling umum dari daerah

oral dan ditemukan terutama di kelompok usia muda. Kondisi ini karena peradangan

kronis pada tonsil. Data dalam literatur menggambarkan tonsilitis kronis klinis

didefinisikan oleh kehadiran infeksi berulang dan obstruksi saluran napas bagian atas

karena peningkatan volume tonsil. Kondisi ini mungkin memiliki dampak sistemik,

terutama ketika dengan adanya gejala seperti demam berulang, odynophagia, sulit

menelan, halitosis dan limfadenopati servikal dan submandibula.

Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang

menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca,
kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat.

Dengan adanya referat ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka

kejadian dan komplikasi tonsillitis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan

ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsila faringeal

(adenoid), tonsil palatina dan tonsila lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran

yang disebut cincin Waldeyer. Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi

melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada cincin Waldeyer menjadi hipertrofi

fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan tonsil pada usia 5

tahun, dan kemudian menjadi atrofi pada masa pubertas. Tonsil palatina yang biasanya

disebut tonsil saja terletak didalam fossa tonsil. Pada kutub atas tonsil sering kali

ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa kantong pharynx yang kedua. Kutub

bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah.1

Terdapat tiga macam tonsil, yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina dan

tonsil lingual. Tonsil palatina yang biasa disebut tonsil saja terletak didalam fossa tonsil.

Tonsil dibatasi oleh pilar anterior yang berisi m. Palatoglossus, pilar posterior yang berisi
m. Palatopharingeus dan bagian lateral dibatasi oleh m. Constrictor pharingeus superior.

1.1 Anatomi Tonsil

Tonsil berbentuk oval, tipis terletak pada bagian samping belakang orofaring

dalam fossa tonsilaris atau sinus tonsilaris. Bagian atas fossa tonsilaris kosong
dinamakan fossa supratonsiler yang merupakan jaringan ikat longgar. Berat tonsil

pada laki-laki berkurang dengan bertambahnya umur, sedangkan pada wanita berat

bertambah pada masa pubertas dan kemudian menyusut kembali.

Permukaan lateral tonsil meletak pada fascia faring yang sering juga disebut

capsula tonsil. Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai

celah yang disebut kriptus. Epitel yang melapisi tonsil adalah epitel squamous yang

juga meliputi kriptus. Didalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel

yang terlepas, bakteri dan sisa makanan. Kripta pada tonsil palatina lebih besar,

bercabang dan berlekuk-lekuk dibandingkan dengan sistem limfoid lainnya, sehingga

tonsil palatina lebih sering terkena penyakit. Selama peradangan akut, kripta dapat

terisi dengan koagulum yang menyebabkan gambaran folikuler yang khas pada

permukaan tonsil.

I. Peredaran Darah Tonsil


Tonsil mendapatkan peredaran darah dari arteri tonsilaris yang merupakan

cabang dari arteri maksilaris eksterna dan arteri palatina asenden. Arteri tonsilaris
berjalan ke atas pada bagian luar m. konstriktor faringeus superior. Arteri palatina

asenden masuk tonsil melewati pinggir atas atas m. konstriktor faringeus. Tonsil juga

mendapatkan peredaran darah dari arteri lingualis dorsalis dan arteri palatina

desenden.

II. Persarafan Tonsil

Persarafan tonsil berasal dari saraf trigeminus dan saraf glossopharingeus.

Nervus trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui cabangnya yang

melewati ganglion sphenopaltina yaitu n. palatina. Bagian bawah tonsil dipersarafi n.

glossopharingeus.

TONSILITIS

1. Tonsilitis Akut

Tonsilitis adalah peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan

tonsila yang biasanya disertai dengan pengumpulan leukosit, sel-sel epitel mati, dan

bakteri pathogen dalam kripta.


Tonsilitis bakterial supurativa akut paling sering disebabkan oleh

stretokokus beta hemolitikus grup A. Meskipun pneumokokus, stafilokokus dan

Haemophilus influenzae juga virus patogen dapat dilibatkan. Kadang-kadang


streptokokus non hemolitikus atau streptokokus viridans, ditemukan pada biakan,

biasanya pada kasus-kasus berat.

Infeksi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan

reaksi radang berupa keluarnya lekosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus.

Detritus ini merupakan kumpulan lekosit, bakteri yang mati, dan epitel yang terlepas.

Secara klinis detritus ini mengisi kripta tonsil dan tampak sebagai bercak kuning.

Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis

folikularis, bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka

akan terjadi tonsillitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk

membrane semu (Pseudomembran) yang menutupi tonsil.

Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorokan, nyeri

waktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lelu, rasa nyeri pada
sendi-sendi, tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Rasa nyeri di telinga ini karena

nyeri alih melalui n Glosofaringeus. Seringkali disertai adenopati servikalis disertai

nyeri tekan. Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat
detritus berbentuk folikel, lakuna, atau tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula

membengkak dan nyeri tekan.

Pada umumnya penderita dengan tonsillitis akut serta demam sebaiknya tirah

baring, pemberian cairan adekuat serta diet ringan. Analgetik oral efektif untuk mengurangi

nyeri. Terapi antibiotik dikaitkan dengan biakan dan sensitivitas yang tepat. Penisilin masih

merupakan obat pilihan, kecuali jika terdapat resistensi atau penderita sensitive terhadap

penisilin. Pada kasus tersebut eritromisin atau antibiotik spesifik yang efektif melawan

organisme sebaiknya digunakan. Pengobatan sebaiknya diberikan selama lima sampai

sepuluh hari. Jika hasil biakan didapatkan streptokokus beta hemolitikusterapi yang adekuat

dipertahankan selama sepuluh hari untuk menurunkan kemungkinan komplikasi non

supurativa seperti nefritis dan jantung rematik.

2. Tonsilitis Kronis

Definisi

Tonsilitis kronis adalah peradangan kronis tonsila palatina lebih dari 3 bulan, setelah

serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Terjadinya perubahan

histologi pada tonsil. Dan terdapatnya jaringan fibrotik yang menyelimuti mikroabses dan

dikelilingi oleh zona sel-sel radang.

Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak

jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang tonsil diluar serangan terlihat membesar
disertai dengan hiperemi rigan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan

keluar detritus.3,4

Epidemiologi

Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak, namun jarang terjadi pada anak-anak

muda dengan usia lebih dari 2 tahun. Tonsilitis yang disebabkan oleh spesies Streptococcus

biasanya terjadi pada anak usia 5-15 tahun, sedangkan tonsilitis virus lebih sering terjadi

pada anak-anak muda. Data epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit Tonsilitis Kronis

merupakan penyakit yang sering terjadi pada usia 5-10 tahun dan dewasa muda usia 15-25

tahun. Dalam suatu penelitian prevalensi karier Group A Streptokokus yang asimptomatis

yaitu: 10,9% pada usia kurang dari 14 tahun, 2,3% usia 15-44 tahun, dan 0,6 % usia 45

tahun.

Kelompok umur 14-29 tahun, yakni sebesar 50 % . Sedangkan Kisve pada

penelitiannya memperoleh data penderita Tonsilitis Kronis terbanyak sebesar 294 (62 %)

pada kelompok usia 5-14 tahun. 2 Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT pada 7

provinsi (Indonesia) pada tahun 1994-1996, prevalensi tonsillitis kronik sebesar 3,8%

tertinggi kedua setelah nasofaringitis akut (4,6%). Di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo

Makassar jumlah kunjungan baru dengan tonsillitis kronik mulai Juni 2008–Mei 2009

sebanyak 63 orang. Apabila dibandingkan dengan jumlah kunjungan baru pada periode yang

sama, maka angka ini merupakan 4,7% dari seluruh jumlah kunjungan baru.11
a. Etiologi

Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penelitian dari Commission on

Acute Respiration Disease yang bekerja sama dengan Surgeon General of the Army,

dimana dari 169 kasus didapatkan 25 % disebabkan oleh Streptokokus hemolitikus yang

pada masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum

penderita. Kemudian 25 % disebabkan oleh Streptokokus lain yang tidak menunjukkan

kenaikan titer Sreptokokus antibodi dalam serum penderita dan sisanya adalah

Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influensa.4

Ada pula yang menyebutkan etiologi terjadinya tonsilitis antara lain Streptokokus

hemolitikus Grup A, Hemofilus influenza, Streptokokus pneumonia, Stafilokokus

(dengan dehidrasi, antibiotika), dan Tuberkulosis (pada immunocompromise). Beberapa

faktor predisposisi timbulnya kejadian tonsilitis kronis, yaitu rangsangan kronis (rokok,

makanan), higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang

berubah-ubah), alergi (iritasi kronis dari alergen), keadaan umum (gizi jelek, kelelahan

fisik), pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

Adapun faktor predisposisi dari tonsillitis kronis antara lain rangsangan kronis

seperti rokok dan makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca (udara dingin,

lembab, suhu. Yang berubah-ubah), alergi (iritasi kronis dari alergen), keadaan umum

(gizi jelek, kelelahan fisik), dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.2,5
b. Patofisiologi

Tonsillitis berawal dari penularan yang terjadi melalui droplet dimana kuman

menginfiltrasi lapisan epitel. Adanya infeksi berulang pada tonsil menyebabkan pada suatu

waktu tonsil tidak dapat membunuh semua kuman sehingga kuman kemudian bersarang di

tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang

infeksi (fokal infeksi) dan suatu saat kuman dan toksin dapat menyebar ke seluruh tubuh

misalnya pada saat keadaan umum tubuh menurun. Bila epitel terkikis maka jaringan limfoid

superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit

polimorfonuklear. Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa

juga jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga

kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus

sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di

sekitar fossa tonsilaris. Pada anak disertai dengan pembesaran kelenjar limfa

submadibularis.3,5

c. Faktor Predisposisi

Sejauh ini belum ada penelitian lengkap mengenai keterlibatan faktor genetik maupun

lingkungan yang berhasil dieksplorasi sebagai faktor risiko penyakit Tonsilitis Kronis. Pada

penelitian yang bertujuan mengestimasi konstribusi efek faktor genetik dan lingkungan

secara relatif penelitiannya mendapatkan hasil bahwa tidak terdapat bukti adanya

keterlibatan faktor genetik sebagai faktor predisposisi penyakit Tonsilitis Kronis.


Beberapa Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik yaitu:

1 Rangsangan menahun (kronik) rokok dan beberapa jenis makanan

2 Higiene mulut yang buruk

3 Pengaruh cuaca

4 Kelelahan fisik

5 Pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat

2.4 Manifestasi Klinis


Pasien dengan tonsilitis kronis sering kali mengeluhkan adanya penghalang di tenggorokan,

terasa kering dan pernapasan berbau, rasa sakit terus menerus pada kerongkongan dan sakit

waktu menelan.

Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil yang mungkin tampak :

1 Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan sekitar,

kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju.

2 Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti

terpendam di dalam tonsillar bed dengan tepi yang hiperemis, kripte yang melebar dan

ditutupi eksudat yang purulen.

Gambar 3. Tonsilitis Kronis

Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara

kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi

pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :


a. T0 (tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat).

b. T1 (<25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial

tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior- uvula).

c. T2 (25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial

tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterior-uvula).

d. T3 (50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial

tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterior-uvula).


e. T4 (>75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil

melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih).4,5,6

Gambar 4. Rasio Perbandingan Tonsil Dengan Orofaring

3 Diagnosis

Diagnosis untuk tonsillitis kronik dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis secara

tepat dan cermat serta pemeriksaan fisis yang dilakukan secara menyeluruh untuk menyingkirkan

kondisi sistemik atau kondisi yang berkaitan yang dapat membingungkan diagnosis. Anamnesa

ini merupakan hal yang sangat penting, karena hampir 50 % diagnosa dapat ditegakkan dari

anamnesa saja.
Pada anamnesis, penderita biasanya datang dengan keluhan tonsillitis berulang berupa

nyeri tenggorokan berulang atau menetap, rasa ada yang mengganjal ditenggorok, ada rasa

kering di tenggorok, napas berbau, iritasi pada tenggorokan, dan obstruksi pada saluran cerna

dan saluran napas, yang paling sering disebabkan oleh adenoid yang hipertofi. Gejala-gejala

konstitusi dapat ditemukan seperti demam, namun tidak mencolok. Pada anak dapat ditemukan

adanya pembesaran kelanjar limfa submandibular.


4 Pemeriksaan Fisik

Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian kripta

mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta tersebut. Pada

beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju/dempul amat banyak terlihat pada

kripta. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya membuat

lekukan dan seringkali dianggap sebagai “kuburan” dimana tepinya hiperemis dan sejumlah kecil

sekret purulen yang tipis terlihat pada kripta.

5 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita Tonsilitis Kronis:

a Mikrobiologi

Penatalaksanaan dengan antimikroba sering gagal untuk mengeradikasi kuman

patogen dan mencegah kekambuhan infeksi pada tonsil. Kegagalan mengeradikasi organisme

patogen disebabkan ketidaksesuaian pemberian antibiotika atau penetrasi antibiotika yang

inadekuat. Gold standard pemeriksaan tonsil adalah kultur dari dalam tonsil. Kuman

terbayak yang ditemukan yaitu Streptokokus beta hemolitikus diukuti Staflokokus aureus.

b Histopatologi
Diagnosa tonsilitis kronis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi dengan

tiga kriteria histopatologi yaitu ditemukan ringan- sedang infiltrasi limfosit, adanya Ugra’s

abses dan infitrasi limfosit yang difus. Kombinasi ketiga hal tersebut ditambah temuan

histopatologi lainnya dapat dengan jelas menegakkan diagnosa tonsilitis kronis.4

6 Diagnosa Banding

Diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah :


1 Penyakit-penyakit yang disertai dengan pembentukan pseudomembran yang menutupi

tonsil (tonsilitis membranosa)

a. Tonsilitis difteri

Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang yang terinfeksi

oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titer

antitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas.

Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala akibat eksotoksin. Gejala

umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan,

badan lemah, nadi lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa tonsil

membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk

pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah.

Gejala akibat eksotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung

dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan

kelumpuhan otot palatum dan otot pernapasan serta pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria.

b. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulseromembranosa)

Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema. Gejala pada penyakit ini

berupa demam sampai 30ºC, nyeri kepala, badan lemah, rasa nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi

dan gusi mudah berdarah. Pada pemeriksaan tampak mukosa dan faring hiperemis, membran

putih keabuan diatas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau

(foetor ex ore) dan kelenjar submandibular membesar.

c. Mononukleosis infeksiosa

Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral.Membran semu yang menutup ulkus

mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak dan
regio inguinal.Gambaran darah khas, yaitu terdapat leukosit mononukleosis dalam jumlah besar.

Tanda khas yang lain adalah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah

merah domba (Reaksi Paul Bunnel).

d. Faringitis
Merupakan peradangan dinding laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi,

trauma dan toksin.Infeksi bakteri dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena

bakteri ini melepskan toksin ektraseluler yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan

katup jantung, glomerulonephritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya

kompleks antigen antibody. Gejala klinis secara umum pada faringitis berupa demam, nyeri

tenggorok, sulit menelan, dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring

dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul

bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa anterior membesar, kenyal, dan nyeri

pada penekanan.

e. Faringitis Leutika

Gambaran klinik tergantung pada stadium penyakit primer, sekunder atau tersier. Pada

penyakit ini tampak adanya bercak keputihan pada lidah, palatum mole, tonsil, dan dinding

posterior faring. Bila infeksi terus berlangsung maka akan timbul ulkus pada daerah faring yang

tidak nyeri. Selain itu juga ditemukan adanya pembesaran kelenjar mandibula yang tidak nyeri

tekan.

f. Faringitis Tuberkulosis

Merupakan proses sekunder dari tuberculosis paru. Gejala klinik pada faringitis

tuberculosis berupa kedaan umum pasien yang buruk karena anoresia dan odinofagia. Pasien

mengeluh nyeri hebat ditenggorok, nyeri ditelinga atau otalgia serta pembesaran kelanjar limfa

servikal.5,6,7

7 Komplikasi

Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar
atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai komplikasi

yang kerap ditemui adalah sebagai berikut :

1. Komplikasi sekitar tonsila

a. Peritonsilitis. Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus

dan abses.

b. Abses Peritonsilar (Quinsy). Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil.

Sumber infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi,

menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.


c. Abses Parafaringeal. Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah

bening atau pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal,

adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.

d. Abses Retrofaring Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya

terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi

kelenjar limfe.

e. Kista Tonsil. Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan

fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa

cekungan, biasanya kecil dan multipel.

f. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil). Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat

dalam jaringan tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur.

2. Komplikasi Organ jauh

a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik

b. Glomerulonefritis

c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis

d. Psoriasiseritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura

e. Artritis dan fibrositis.3,8

8 Penatalaksanaan

Medikamentosa

Terapi ini ditujukan pada hygiene mulut dengan cara berkumur atau obat isap, pemberian

antibiotik, pembersihan kripta tonsil dengan alat irigasi gigi atau oral.1 Pemberian antibiotika

pada penderita Tonsilitis Kronis eksaserbasi akut Cephaleksin ditambah metronidazole,


klindamisin (terutama jika disebabkan mononukleosis atau abses), amoksisilin dengan asam

klavulanat (jika bukan disebabkan mononukleosis).

Operatif

Untuk terapi pembedahan dilakukan dengan mengangkat tonsil (tonsilektomi).

Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil. Tindakan ini

dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal

untuk meringankan gejala-gejala.


Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina.

Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring

yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.

Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan

prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi

diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama

adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil.

Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi

tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi relatif

tonsilektomi pada keadaan non emergency dan perlunya batasan usia pada keadaan ini

masih menjadi perdebatan. Sebuah kepustakaan menyebutkan bahwa usia tidak

menentukan boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi.

Indikasi Absolut

a Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat,

gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner

b Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase

c Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam

d Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

Indikasi Relatif

a Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat

b Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis
c Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan

pemberian antibiotik β-laktamase resisten

d Pada keadaan tertentu seperti pada abses peritonsilar (Quinsy), tonsilektomi dapat

dilaksanakan bersamaan dengan insisi abses.


e Saat mempertimbangkan tonsilektomi untuk pasien dewasa harus dibedakan apakah

mereka mutlak memerlukan operasi tersebut atau hanya sebagai kandidat. Dugaan

keganasan dan obstruksi saluran nafas merupakan indikasi absolut untuk tonsilektomi.

Tetapi hanya sedikit tonsilektomi pada dewasa yang dilakukan atas indikasi tersebut,

kebanyakan karena infeksi kronik. Akan tetapi semua bentuk tonsilitis kronik tidak sama,

gejala dapat sangat sederhana seperti halitosis, debris kriptus dari tonsil (“cryptic

tonsillitis”) dan pada keadaan yang lebih berat dapat timbul gejala seperti nyeri telinga

dan nyeri atau rasa tidak enak di tenggorok yang menetap. Indikasi tonsilektomi mungkin

dapat berdasarkan terdapat dan beratnya satu atau lebih dari gejala tersebut dan pasien

seperti ini harus dipertimbangkan sebagai kandidat untuk tonsilektomi karena gejala

tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup walaupun tidak mengancam nyawa.6,8

Kontraindikasi relatif

a Palatoschizis,

b Radang akut, termasuk tonsilitis,

c Poliomielitis epidemika,

d Umur kurang dari 3 tahun. Tetapi umur disini masih menjadi perdebatan

mengenai kontraindikasi.

2 Kontraindikasi absolut

a Diskariasis darah, leukemia, purpura, anemia aplastik, hemofilia,

b Penyakit sistemis yang tidak terkontrol seperti diabetes melitus, penyakit

jantung, dan sebagainya.6


9 Prognosis

Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristrahat dan pengobatan suportif.

Menangani gejala-gejala yang timbul dapat membuat penderita Tonsilitis lebih nyaman. Bila

antibiotika diberikan untuk mengatasi infeksi, antibiotika tersebut harus dikonsumsi sesuai

arahan demi penatalaksanaan yang lengkap, bahkan bila penderita telah mengalami perbaikan

dalam waktu yang singkat. Gejala-gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita

mengalami infeksi saluran nafas lainnya, infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi pada telinga

dan sinus. Pada kasus-kasus yang jarang, Tonsilitis dapat menjadi sumber dari infeksi serius

seperti demam rematik atau pneumonia.8


Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih

kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membrane semu.

Membrane ini dapat meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring,laring, trakea, dan

bronkus yang dat menyumbat saluran nafas. Membrane semu ini melekat erat pada

dasarnya, sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Pada perkembangan penyakit

ini bila infeksinya berjalan terus, kelenjar limfe leher akan membengkak sedemikian

besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck) atau disebut juga

BurgemeesterS hals.

Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan

menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis

samapi decompensasio cordis, mengenai saraf cranial menyebabkan kelumpuhan otot

palatum dan otot-otot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminoria.

Diagnosa tonsillitis difteri ditegakakan berdasarkan gambaran klinik dan

pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah

membrane semu dan didapatkan kuman coryne bacterium diphteriae.


DAFTAR PUSTAKA

1. Ashae, R. 2005. http://www.kidsource.com/ASHA/otitis.html. What is

Tonsilitis?

2. Gates, G.A. 2005. http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp.

Journal of Tonsilitis.

3. Ramsey, D.D. 2003. http://www.illionisuniv.com/infection/Midear.html.

Tonsilitis

4. Djaafar, Z. 2001. Kelainan Telingan Tengah. Buku Ajar Ilmu Penyakit

Telinga, Hidung dan Tenggorok. Edisi ke-5. Jakarta: 49-62

5. Wikipedia. 2005. http://en.wikipedia.org/wiki/Ear. Wikipedia Ecyclopedia

6. Robertson, J.S. 2004. http://www.emedicine.com/emerg/topic351.htm.

Journal of Tonsilitis.