Anda di halaman 1dari 39

Pengendalian Resistensi

Antibiotika dalam Industri


Layanan Kesehatan

Rizka Humardewayanti
FK KMK
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2018
LATAR BELAKANG
• Resistensi terhadap antimikroba (AMR) telah menjadi masalah kesehatan
di seluruh dunia, dengan berbagai dampak yang merugikan yang dapat
menurunkan mutu dan meningkatkan risiko biaya dan keselamatan pasien.
• Rumah sakit merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan.
• UU tentang sistim kesehatan nasional menyatakan bahwa RS mempunyai
fungsi utama menyelenggarakan kesehatan bersifat penyembuhan dan
pemulihan penderita serta memberikan pelayanan yang tidak terbatas
pada perawatan di dalam rumah sakit saja, tetapi memberikan pelayanan
rawat jalan, serta perawatan di luar rumah sakit.
Latar belakang
• Untuk memenuhi tuntutan penyembuhan, seringkali kemudian
digunakan antibiotik yang mungkin tidak diindikasikan, sehingga
dapat meningkatkan masalah resistensi antimikroba
• Selain itu meningkatnya resistensi antimikroba dapat disebabkan
akibat penyebaran mikroba resisten dari pasien ke lingkungannya
karena tidak dilaksanakannya praktik pengendalian dan pencegahan
infeksi dengan baik
UN meeting on antibiotics resistance, 2016
World economic forum, 2013
Impact of Antimicrobial resistance on
Stakeholders related to health

Patient pays more. Patient / Payer


Patient, Hospital Hospital loses on pays more.
and Clinician all revenue from new Hospital spends
adversely affected patient more on antibiotics

Ref: Goff DA. Current Opinion in Infectious Diseases 2011, 24 (suppl 1):S11–S20
Improve
Usaha untuk Reduce Reservoir
resistance
diagnostics

mengontrol
resistensi Antimicrobial
Stewardship

Research and Education


public policy Develop new drug
and vaccine
PERAN RS DALAM AMR
Langkah dasar dalam ASP
• Dua langkah dasar dalam ASP
• Kebijakan Penggunaan antibotik AB di RS
• Guideline antibiotik terapetik dan profilaksis

• Kebijakan dan guideline berdasar pada :


• Penggunaan umum antibiotika
• Guideline praktek klinis
• Antibiogram lokal
Tahap inisiasi
• Identifikasi infrastruktur RS
• Identifikasi kebijakan dan guideline terkait ASP:
• Guideline penyakit Infeksi
• Guideline penggunaan antibiotika terapetik dan profilaksis
• Guideline pengambilan dan pemeriksaan sample mikrobiologi
• Guideline pemeriksaan dan melaporkan hasil pemeriksaan mikrobiologi
• Guideline pengendalian dan pencegahan infeksi
Tahap implementasi
• Peningkatan pemahaman penerimaan :
• Sosialisasi KPRA
• Sosialisasi kebijakan dan guideline terkait ASP
• ”Pilot project” implementasi ASP:
• Memilih unit/departement/KSM sebagai “pilot project”
• Memilih seseorang yang diserahi untuk menjalankan “pilot project”
• Pelaksanaan ASP di unit terpilih selama 1 tahun
• Implementasi ASP
• Workhsop guidelinepenggunaan AB terapetik dan profilaksis
• Evaluasi
Evaluasi : Key performance Index
• Perbaikan penggunaan AB secara kuantitatif
• Terjadi penurunan penggunaan AB
• Perbaikan penggunaan AB secara kualitatif, dengan alur Geyssens
• Angka rasionalitas penggunaan AB naik
• Terjadi peningkatan kepekaan AB
• Angka MDRO menurun
• Terjadi penurunan HAI’s akibat kuman MDRO : MRSA; ESBL
• Perbaikan manajemen penyakit infeksi secara multidisiplin
ALUR GEYSSENS
Progam PRA

Pilar :

•Penggunaan AB secara bijak (PPRA)


•Pencegahan penyebaran (KPI)
Progam PRA :

1. Kebijakan

2. Pembatasan dan kendali penggunaan AB


- Non restricted
- Restricted
- Automatic Stop Order
3. Membuat Panduan Penggunaan AB
- Terapi empirik
- Profilaksis
Lanjutan...

4. Membuat laporan pola mikroba per tahun


- Diinfokan ke semua KSM
5. Membuat pola kuman MDRO
- MRSA dan ESBL
6. Evaluasi penggunaan antibiotik
- Kuantitatif
- Kualitatif
7. Analisis ekonomi
Idealnya
Spesimen dari darah

Pengecatan Gram positif


gram
Contoh Pilihan AB Amikasin Imipenem Sulfamethoxazole Clindamisin
PPAB Dosis 1 gram tiap 12 jam 1 gram tiap 8 jam

Dosis pada Sesuai CCT Sesuai CCT Sesuai CCT Sesuai CCT
gangguan
fungsi  ≥60 mL/menit, 1  ≥71 mL/menit,  >50 mL/menit  >50 mL/menit
ginjal g tiap 8 jam 250 mg tiap 8  5-10 mg/kg 600-900 mg i.v.
 40-60 mL/menit, jam BB/hari dibagi setiap 8 jam
1g tiap 12 jam  41-70mL/menit, dalam 6-8 jam  10-50 mL/menit
 20-40 mL/menit, 125mg tiap 6  < 30 mL/menit
Tidak ada
1g tiap 24 jam 2,5-5 mg/kg
perubahan
jam  21-40 mL/menit, BB/hari dibagi
 <20 mL/menit, 250 mg tiap 12 dalam 8-12 jam  < 10 mL/menit
1g tiap 48-72 jam  Hemodialisis Tidak ada
jam  6-20 mL/menit, intermitten 5- perubahan
125 mg tiap 12 10 m/kg BB/hari
jam dibagi dalam 6-8
jam

Dosis pada Tidak ada reducing Tidak ada reducing Tidak ada reducing Tidak ada reducing
gangguan dose dose dose dose
fungsi hati
berat

Lama Hingga hasil biakan Hingga hasil biakan Hingga hasil biakan Hingga hasil biakan
pemberian dan kepekaan dan kepekaan dan kepekaan dan kepekaan
kuman dasar luka kuman dasar luka kuman dasar luka kuman dasar luka
muncul, muncul, muncul, muncul,

Atau jika secara Atau jika secara Atau jika secara Atau jika secara
klinis tidak klinis tidak klinis tidak klinis tidak
membaik/memburuk membaik/memburuk membaik/memburuk membaik/memburuk
dapat diganti dapat diganti dapat diganti dapat diganti

Pedoman ini dibuat berdasarkan pola kepekaan kuman pada kasus Infektive endocarditis di RSUP dr
Sardjito selama tahun 2014-2017, dan hanya didasarkan pada jumlah isolat <30.
Sardjito selama tahun 2014-2017, dan hanya didasarkan pada jumlah isolat <30.

Pengecatan gram Gram negatif

Pilihan AB - -

Dosis - -

Dosis pada gangguan fungsi - -


ginjal

Dosis pada gangguan fungsi hati - -


berat

Lama pemberian - -

Tidak di dapatkan pertumbuhan kuman gram negative dari sediaan darah

Pedoman ini dibuat berdasarkan pola kepekaan kuman pada kasus Infektive endocarditis di RSUP dr
Sardjito selama tahun 2014-2017, dan hanya didasarkan pada jumlah isolat <30.
Contoh evaluasi AB
PPRA RSUP Dr Sardjito

HASIL AUDIT ANTIBIOTIK z


TERHADAP PEDOMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS Evaluasi
DI BIDANG GASTROHEPATOLOGI TH 2010
Penggunaan
Dilakukan audit terhadap penggunaan antibiotik profilaksis di bidang Antibiotika Profilaksis
gastrohepatologi, di SMF Ilmu Penyakit Dalam selama 1 September -31 Desember 2010.
Selama periode tersebut didapatkan 31 episode rawat inap penderita Chirosis Pada Pembedahan
Hepatis, dengan jumlah penderita sebanyak 24 orang, 2 orang masuk rawat inap 2x, 1
orang masuk rawat inap 4x, akan tetapi status yang dapat dilakukan audit hanya 20 orang
(dengan episode rawat inap 27), 4 orang pasien catatan medisnya belum selesai diproses
di Instalasi Catatan Medik.

Hasil audit didapatkan sebagai berikut:


- Yang mendapatkan antibiotik sesuai indikasi (sesuai pedoman penggunaan AB): 1
orang (3,7%) dengan menggunakan ceftriakson 1gr/24 jam; bila indikasi dilihat
tanpa melihat AB yang digunakan 92,59%.
- Yang mendapatkan antibiotik tanpa indikasi 2 orang (7,4%)
- Yang mendapatkan antibiotik tidak tepat/tidak sesuai dengan pedoman:
o Jenis : 12 orang (44,44%) untuk injeksi cefotaxim dan 3 orang untuk jenis
ciprofloksasin (11,11%), 5 orang (18,5%) untuk ceftazidim
o Dosis : 1 orang (injeksi ceftriaxone 1 gr/12 jam) (11,11%)
o Rute : semua secara iv, tidak ada yang diberikan peroral
o Lama pemberian : tidak cocok 10 orang untuk jenis antibiotik cefotaxim
(37,07%) dan 2 orang untuk golongan ciprofloksasin (7.407%)
- Yang ada indikasi tetapi tidak diberikan 2 orang (7,407%)
- DDD/100 patients day Antibiotik yang digunakan : Cefotaxim 30.776;
Ceftazidim 1.701; Ceftriakson 0.34; ciprofloksasin 20.408; Adapun rujukan DDD
Antibiotik berdasarkan WHO Collaborating Centre 2010 Cefotaxim 4 gram;
ceftazidim 4 gram; ceftriaxon 2 gram dan ciprofloksasin 1 gram.

Auditor Internal

dr. Rizka Humardewayanti, SpPD-KPTI


GRAFIK KUMAN MDRO RSUP DR SARDJITO

30

25

20

% MDRO 15

10

0
TAHUN 2014 TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017
MRSA 2,11 1,53 1,47 1,69
ESBL 29,76 27,79 22,29 22,45
PANRESISTEN 0,21 0,04 0,04 0,35
Restriksi AB
Carmeli score
• diantara kriteria A, B atau C
Intepretasi :
1. Infeksi komunitas, risiko resistensi AB rendah
2. Infeksi yg berhubungan dg Yankes, risiko resistensi
AB sedang
3. Infeksi Nosokomial, risko resistensi AB tinggi
Tingkat keparahan 3 (RISIKO Acinetobacter dan
pseudomonas)

• Amikasin • Cefepim
• Meropenam • Piperacilline /Tazobact
• Tigecyclin • Nitrofurantoin
• Ertapenem • Linezolid
• Netilmicin
• Vancomycine
• Imipenem
• Rifampicine
• Ofloxacin
• Ceftazidim *
• Fosfomisin
Tingkat keparahan 2 (RISIKO ESBL)

• Ampicillin-Sulbactam
• Amoxicillin-Clavulanat
• Ciprofloxacin
• Levofloxacin
• Gentamisin
• Cloramfenikol
Keparahan tingkat 1
• Tobramycin • Cefoxitin
• Cefpirome • Cefotaxime
• Tetracycline • Ceftriaxone
• Azitromisin • Aztreonam
• Doxycycline • Kanamycin
• Trimetoprim • Cefaclor
• Cefuroxime • Ampicillin
• Cefazolin
• Cefixime
Automatic Stop Order ....

 Kebijakan untuk mengendalikan lama pemberian antibiotik


 Klinisi dapat melakukan pemikiran ulang, dengan cara pemberian
antibiotik dihentikan untuk indikasi :
 Profilaksis : 1 x 24 jam
 Terapi empirik : 3 x 24 jam
 Extended empiric : 2 x (3 x 24 jam)
 Terapi definitif : 7 x 24 jam
 Infeksi spesifik : tergantung protokol terapi
 Uji klinik : tergantung protokol penelitian

36
Streamline antibiotics

1. Parenteral ke oral
2. Diganti
• Lebih efektif
• Spektrum lebih sempit
• Kurang toksik

37
Pengendalian
Resistensi
Penggunaan
Pencegahan Antibiotik
1 Seleksi secara
bijak

Pencegahan Ketaatan thd


2 Penyebaran prinsip dasar
Pengendalian
infeksi
38