Anda di halaman 1dari 4

Refleksi Kasus : Skabies

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Mengikuti Kepanitraan Klinik Bagian Stase Kulit Kelamin
Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada Yth :


dr. Nafiah Chusniyati, Sp. KK., M.Sc

Disusun Oleh :
Maricella Eka Rusdiantina
20174011003

BAGIAN STASE KULIT KELAMIN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018
1. RANGKUMAN KASUS
Seorang perempuan berusia 19 tahun datang ke poliklinik Kulit dan Kelamin
dengan keluhan gatal terutama di sela jari tangan, telapak tangan dan sekitar
selangkangan sejak 5 minggu yang lalu. Pasien juga mengatakan bahwa gatal
terutama pada malam hari. Sebelumnya sudah periksa ke layanan primer tapi tidak
membaik, obat yang diberikan di layanan primer Scabimite. Selain pasien, di rumah
yang mengalami hal serupa adalah adik pasien, pasien sering bertukar pakaian dengan
adik pasien. Sebelum berobat, gatal berupa ‘plenting’ berair dan kemerahan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda vital dalam batas normal, TD =118/ 76
mmHg, Nadi = 85x/menit, BB = 48 kg.

Pada inspeksi regio palmar kanan dan kiri tampak papul dengan dasar eritema, milier,
multiple tersebar. Pada inspeksi region genital ekterna tampak papul eritema,
kanalikuli, multiple.
Pasien didiagnosa dengan skabies dan diberikan terapi berupa:

R/ Scabimite gr 30
S 1 dd ue (dioleskan sekali oles dihabiskan untuk seluruh tubuh pada malam hari)
R/ Loratadine mg 10 No. X
S 0-0-1

2. PERASAAN TERHADAP PENGALAMAN


Pada pengalaman ini saya merasa ingin tahu lebih lanjut mengenai skabies dan
bagaimana menanggapi kasus ini sebagai dokter umum.

3. EVALUASI
Menurut Permenkes No. 5 tahun 2014, tingkat kemampuan dokter umum dalam
menangani kasus skabies adalah 4A yaitu mampu untuk mendiagnosis, melakukan
diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan memutuskan dan mampu
menangani kasus secara mandiri hingga tuntas.
Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit oleh tungau
Sarcoptes scabei dan produknya. Penularan dapat terjadi karena kontak langsung kulit
dengan kulit penderita scabies, seperti berjabat tangan, hubungan seksual, tidur
bersama. Maupun kontak tidak langsung (melalui benda), seperti penggunaan
perlengkapan tidur bersama dan saling meminjam pakaian, handuk dan alat-alat
pribadi lainnya.
4. ANALISIS
- Bagaimana cara penegakkan diagnosis skabies?
- Bagaimana penatalaksanaan pada skabies?

Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit oleh tungau
Sarcoptes scabiei dan produknya. Penyakit ini berhubungan erat dengan higiene yang
buruk. Prevalensi skabies tinggi pada populasi yang padat. Dari hasil penelitian di
Brazil, prevalensi skabies dua kali lebih tinggi di daerah kumuh perkotaan yang padat
penduduk daripada di masyarakat nelayan dimana mereka tinggal di tempat yang
lebih luas. (1,2) Lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli) berwarna putih atau abu-
abu dengan panjang rata-rata 1 cm. Ujung terowongan terdapat papul, vesikel, dan
bila terjadi infeksi sekunder, maka akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dan
sebagainya.Pada anak-anak, lesi lebih sering berupa vesikel disertai infeksi sekunder
akibat garukan sehingga lesi menjadi bernanah. (2,3) Lesi timbul di stratum korneum
yang tipis, seperti di sela jari, pergelangan tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola
mammae dan di bawah payudara (pada wanita) serta genital eksterna (pria). (2)
Faktor risiko terjadi scabies yaitu pada masyarakat yang hidup dalam kelompok yang
padat seperti tinggal di asrama atau pesantren, higiene yang buruk, sosial ekonomi
rendah, dan hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas. (2)
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terdapat 4 tanda
kardinal untuk diagnosis skabies, yaitu (1,2)

1. Pruritus nokturna.
2. Penyakit menyerang manusia secara berkelompok.
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna
putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, rata-rata
panjang 1 cm, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel.
4. Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda tersebut.
Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis adalah dengan pemeriksaan
mikroskopis dari kerokan kulit untuk menemukan tungau. (2)
Diagnosis banding antara lain adalah dermatitis kontak iritan, dermatitis atopik,
insect bite, pyoderma, impetigo, pediculosis corporis. (1,2)
Penatalaksanaan
 Menjaga higiene perorangan dan lingkungan, dengan : (2, 4)
o Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama dan alas
tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita skabies.
o Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies
 Pemakaian obat secara benar dan kepada seluruh orang yang kontak secara
serempak.(4)
 Dekontaminasi pakaian dan alas tidur dengan mencuci pada suhu 60°C atau
disimpan dalam kantung plastik tertutup selama beberapa hari. Karpet, kasur,
bantal, tempat duduk terbuat dari bahan busa atau berbulu perlu dijemur di
bawah terik matahari setelah dilakukan penyedotan debu. (3)
 Terapi tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus
serentak dan menyeluruh pada seluruh kelompok orang yang ada
di sekitar penderita skabies. Terapi diberikan dengan salah satu
obat topikal (skabisid) di bawah ini:
o Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3 hari berturutturut, dipakai
setiap habis mandi.
o Krim permetrin 5% di seluruh tubuh. Setelah 10 jam, krim
permetrin dibersihkan dengan sabun. (2)
 Antihistamin oral untuk sedasi dan mengurangi gatal. (3)

5. KESIMPULAN
Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabei
yang dapat menular secara kontak langsung maupun tidak langsung. Sebagai dokter
umum harus memberikan edukasi sebaik mungkin terhadap pasien mengenai
higienitas dan hal-hal yang dapat menyebabkan penularan infeksi parasit ini, dan
memberitahu pasien mengenai penatalaksanaan yang tepat dan menyeluruh agar
tungau tidak menginfeksi kembali.

6. DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia edisi ke 6. 2011. Hal 122-125.
2. Permenkes. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer. 2015.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Panduan Praktik Klinis. Jakarta. 2017.
4. Sungkar S. Skabies etiologi, patogenesis, pengobatan, pemberantasan, dan
pencegahan. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016.