Anda di halaman 1dari 7

TUTORIAL KLINIK

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. R IDENTITAS MAHASISWA
Jenis Kelamin : Perempuan Nama : Maricella Eka Rusdiantina
Usia : 29 tahun NIPP : 20174011003
Alamat : Yogyakarta Bagian : Kulit dan Kelamin
Tanggal Periksa : 24-7-2018 Perceptor : dr. Nafiah Chusniyati. Sp. KK ,M.Sc

Case Analysis

Problem Hipotesis Mekanisme Data Tambahan Tujuan Belajar


Diagnosis Klinis: Rencana Tata laksana 1. Apakah dermatitis
a.Keluhan utama: gatal di dada dan selangkangan Dermatitis oleh Dokter Muda: intertrigo?
b. RPS: Intertrigo R/ Desonid 1% cr 15gr 2. Apakah penyebab
Pasien perempuan usia 29 tahun datang dengan keluhan S 2 dd ue dan factor
kulit gatal di dada dan selangkangan sejak 2 minggu Diagnosis pencetus
yang lalu. Keluhan dirasakan sejak haid terakhir, pada Banding: R/ Mikonazole cr 10gr dermatitis
haid terakhir pasien menggunakan pembalut dengan -Tinea Corporis S 2 dd ue intertrigo?
merk berbeda dari sebelumnya. Pasien keputihan, warna -Dermatitis 3. Bagaimana
jernih, tidak berbau. Pasien merasa sangat terganggu Kontak Alergi R/Cetirizine tab 10 mg penatalaksanaan
oleh rasa gatal. -Candidiasis no. X Dermatitis
c. RPD: S 0-0-1 Intertrigo?
Keluhan serupa : disangkal 4. Bagaimana
Riwayat atopik : disangkal Kontrol setelah 2 minggu edukasi kepada
Alergi : disangkal pasien ?
d. RPK:
Keluhan serupa : disangkal
Riwayat atopik : disangkal
Alergi : disangkal

f. Riw. Personal Sosial:


Pasien pekerja swasta, akhir-akhir ini aktivitas semakin
banyak.
Keadaan Umum:
Tidak tampak kesakitan
Kesadaran: CM
Vital Signs:
BP = 125/70 mmHg
HR = 80 bpm
RR = 20 bpm

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Kompos mentis
Tekanan Darah : tidak ada kelainan
Nadi : tidak ada kelainan
Pernapasan : tidak ada kelainan
Suhu : tidak ada kelainan
Mata : tidak ada kelainan
THT : tidak ada kelainan
Thoraks : tidak ada kelainan
Abdomen : tidak ada kelainan
Ekstremitas : tidak ada kelainan
Status Dermatologis
Pada regio inframammae : tampak macula, patch eritem,
hiperpigmentasi, multiple.
Pada region inguinal : macula, patch hiperpigmentasi,
multiple.
PEMECAHAN MASALAH
1. Apakah dermatitis intertrigo?

Dermatitis ialah kelainan kulit yang subyektif ditandai oleh rasa gatal dan secara klinis terdiri atas ruam polimorfi yang umumnya
berbatas tidak tegas. Gambaran klinisnya sesuai dengan stadium penyakitnya. Kadang-kadang terjadi tumpang tindih penggunaan istilah
eksim dengan dermatitis. Sebagian ahli menyamakan arti keduanya, sebagian lain mengartikan eksim sebagai salah satu bentuk
dermatitis, yakni dermatitis atopik tipe infantil. Untuk itu, istilah dermatitis tampak lebih tepat. 11

Intertrigo merupakan istilah umum untuk kelainan kulit di daerah lipatan/intertriginosa, yang dapat berupa inflamasi maupun
infeksi bakteri atau jamur. Sebagai faktor predisposisi ialah keringat/kelembaban, kegemukan, gesekan antar permukaan kulit dan oklusi.
Dalam kondisi seperti ini, mudah sekali terjadi superinfeksi oleh Candida albicans, yang ditandai oleh eritema berwarna merah-gelap,
dapat disertai papulpapul eritematosa di sekitarnya (lesi satelit).

2. Apakah penyebab terjadinya dermatitis?


Penyebab dermatitis tidak diketahui dengan pasti, diduga disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan (multifaktorial).
Faktor intrinsik berupa predisposisi genetik, kelainan fisiologi dan biokimia kulit, disfungsi imunologis, interaksi psikosomatik dan
disregulasi/ketidakseimbangan sistem saraf otonom, sedangkan faktor ekstrinsik meliputi bahan yang bersifat iritan dan kontaktan,
alergen hirup, makanan, mikroorganisme, perubahan temperatur, dan trauma.
Mikroorganisme utamanya adalah Staphylococcus aureus (SA). Pada penderita DA didapatkan perbedaan yang nyata pada jumlah
koloni Staphylococcus aureus dibandingkan orang tanpa atopik. Adanya kolonisasi Staphylococcus aureus pada kulit dengan lesi ataupun
non lesi pada penderita dermatitis atopik, merupakan salah satu faktor pencetus yang penting pada terjadinya eksaserbasi, dan merupakan
faktor yang dikatakan mempengaruhi beratnya penyakit.
Faktor-faktor risiko terjadinya dermatitis secara umum antara lain predisposisi genetik, sosioekonomi, polusi lingkungan, jumlah
anggota keluarga. Sedangkan faktor-faktor pencetus terjadinya dermatitis secara umum antara lain alergen, bahan iritan, infeksi, faktor
psikis dan lainlain.
Faktor-faktor yang umum terkait dengan dermatitis yaitu :
1) Suhu dan Kelembaban Lingkungan terdapat beberapa potensial bahaya yang perlu diperhatikan seperti kelembaban udara dan
suhu udara. Kelembaban udara dan suhu udara yang tidak stabil dapat mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak. Kelembaban
rendah menyebabkan pengeringan pada epidermis.
2) Usia Kulit manusia mengalami degenerasi seiring bertambahnya usia. Sehingga kulit kehilangan lapisan lemak diatasnya dan
menjadi lebih kering. Kekeringan pada kulit ini memudahkan bahan kimia untuk 16 menginfeksi kulit, sehingga kulit menjadi
lebih mudah terkena dermatitis. Kondisi kulit mengalami proses penuaan mulai dari usia 40 tahun. Pada usia tersebut, sel kulit
lebih sulit menjaga kelembapannya karena menipisnya lapisan basal. Produksi sebum menurun tajam, hingga banyak sel mati
yang menumpuk karena pergantian sel menurun.
3) Jenis kelamin adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam hal
penyakit kulit perempuan dikatakan lebih berisiko mendapat penyakit kulit dibandingkan dengan pria. Dibandingkan dengan pria,
kulit wanita memproduksi lebih sedikit minyak untuk melindungi dan menjaga kelembapan kulit, selain itu juga kulit wanita lebih
tipis daripada kulit pria sehingga lebih rentan untuk menderita penyakit dermatitis, terlihat dari beberapa penelitian.
4) Ras Faktor individu yang meliputi jenis kelamin, ras dan keturunan merupakan pendukung terjadinya dermatitis. Ras Manusia
adalah karakteristik luar yang diturunkan secara genetik dan membedakan satu kelompok dari kelompok lainnya. Bila dikaitkan
dengan penyakit dermatitis, ras merupakan salah satu faktor yang ikut berperan untuk terjadinya dermatitis. Kulit putih lebih
rentan terkena dermatitis dibandingkan dengan kulit hitam.
5) Riwayat Penyakit Kulit Sebelumnya Dalam melakukan diagnosis dermatitis kontak dapat dilakukan dengan berbagai cara
diantaranya adalah dengan melihat sejarah dermatologi termasuk riwayat keluarga, aspek pekerjaan atau tempat kerja, sejarah
alergi (misalnya alergi terhadap obat-obatan tertentu) dan riwayat penyakit sebelumnya.
6) Personel Hygiene Kebersihan Perorangan adalah konsep dasar dari pembersihan, kerapihan dan perawatan badan. Kebersihan
perorangan dapat mencegah penyebaran kuman dan penyakit, mengurangi paparan pada bahan kimia dan kontaminasi, dan
melakukan pencegahan alergi kulit, kondisi kulit dan sensitifitas terhadap bahan kimia. Kebersihan perorangan yang dapat
mencegah terjadinya dermatitis kontak antara lain:
a. Mandi. Personal hygiene dapat digambarkan melalui kebiasaan membersihkan diri. Kebiasaan kuantitas dan kualitas
berpengaruh terhadap kulit.
b. Mencuci tangan. Tangan adalah anggota tubuh yang paling sering kontak. Kebiasaan mencuci tangan yang buruk justru
dapat memperparah kondisi kulit yang rusak.
c. Pakaian. Kebersihan pakaian kerja juga perlu diperhatikan. Sisa kotoran yang menempel di baju dapat menginfeksi tubuh
bila dilakukan pemakaian berulang kali.
3. Bagaimana penatalaksanaan Dermatitis Intertrigo?
 Mengoreksi faktor-faktor penyebab intertrigo sangat penting.
 Intertrigo sederhana dapat diobati dengan agen pengeringan (menjaga lipatan tetap kering), sementara intertrigo yang terinfeksi harus
diobati dengan kombinasi agen antimikroba yang sesuai dan steroid topikal potensi rendah.
 Secara umum prinsip terapi berupa steroid topical

4. Bagaimana edukasi kepada pasien ?


 Bersihkan kulit setiap hari menggunakan sabun dan air untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran agar jamur tidak mudah tumbuh
 Jika memungkinkan hindari penggunaan baju dan sepatu yang dapat menyebabkan kulit selalu basah seperti bahan wool dan bahan
sintetis yang dapat menghambat sirkulasi udara
 Sebisa mungkin hindari menggunakan pakaian ketat
 Apabila pasien obesitas, diedukasi untuk penurunan berat badan
 Kontrol glukosa (pada pasien dengan diabetes)
 Menjaga kebersihan yang baik, dan kebutuhan untuk perawatan dan pemantauan harian.
 Tindakan pencegahan untuk mengurangi gesekan dan kelembapan kulit dapat membantu dalam pengelolaan intertrigo saat ini dan
mencegah episode mendatang.
Daftar Pustaka

1. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Penerbit Hipokrates. 2015


2. SW Menaldi, Bramono K, Indriantmi W et al. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin (edisi ketujuh). Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2016.
3. Hay RJ, Moore MK. Mycology Rook’s Textbook of Dermatology. 7th Ed. Blackwell Publishing Company. 2004.
4. Verma S, Heffernan MP. Superficial fungal infection: dermatophytosis, onychomycosis, tinea nigra, piedra. 7th ed. McGraw Hill. 2008.
5. Pakhaira Varas, et al. Medline. Intertrigo Treatment and Management. 2018.