Anda di halaman 1dari 15

I.

Tujuan
Setelah mempelajari dan melakukan pengukuran aliran tunak pada saluran terbuka
mahasiswa mampu :
1. Mempelajari tentang aliran tunak pada saluran terbuka.
2. Mengisi lembar data pengukuran dan melakukan perhitungan.
3. Menemukan faktor koreksi untuk bendung persegi empat dan bentuk V.
4. Menggambarkan kurva kalibrasi aliran fluida yang melalui bendung.

II. Dasar Teori


Aliran tunak atau aliran permanen (permanent flow) adalah kondisi dimana komponen
aliran tidak berubah terhadap waktu. Contohnya adalah aliran di saluran/sungai pada
kondisi tidak ada perubahan aliran (tidak ada hujan, tidak banjir, dll). Kondisi tersebut
dinyatakan dalam persamaan matematika berikut :

δf : perubahan komponen aliran


δt : perubahan terhadap waktu
f : komponen aliran (viskositas, tekanan, rapat massa, kedalaman, debit, dll.)

Apabila suatu aliran menemui hambatan/benturan didalam pengalirannya,maka


kecepatan partikel-partikel air disekitar hambatan tersebut tidak sama,hal ini akan
berubah sifat aliran dari uniform menjadi non uniform atau dari suatu aliran yang bersifat
laminar menjadi turbulen.
2.1 Saluran Terbuka dan Sifat-sifatnya

2.1.1 Jenis Aliran Terbuka


Saluran Terbuka : Saluran yang mengalirkan air dengan permukaan
bebas.
Klasifikasi saluran terbuka :
· Saluran Alam (Natural Channel)
Contoh : sungai-sungan kecil di daerah hulu hingga sungai di daerah
muara.
· Saluran Buatan(Artificial Channel)
Contoh :saluran darinase tepi jalan, saluran irigasi untuk mengaliri persawahan,
saluran pembuangan, saluran untuk membawa air untuk pembangkit listrik tenaga air,
saluran banjir.
2.1.2 Macam-macam Saluran Terbuka
1. Berdasarkan Aspek Waktu. :
· Aliran Tunak / Steady Flow :
Kecepatan aliran di suatu titik di dalam ruangan tidak bervariasi
menurut waktu.
· Aliran Taktunak / Unsteady Flow :
Kecepatan aliran dalam suatu ruangan yang berubah terhadap waktu.
2. Berdasarkan Aspek Ruang :
· Aliran Seragam / unfrom :
Aliran seragam merupakan aliran yang tidak berubah menurut tempat.
Konsep aliran seragam dan aliran kritis sangat diperlukan dalam
peninjauan aliran berubah dengan cepat atau berubah lambat laun.
· Aliran Tidak Seragam / non uniform :
o Aliran Berubah Cepat (Rapidly Varied Flow)
o Aliran Berubah Lambat (Gradually varied flow)
didefinisikan sebagai aliran yang mempunyai debit bervariasi
sepanjang jarak longitudinal.
3. Berdasarkan Aspek Kecepatan Rata-rata :
a) Mengalir : u < Ukr
b) Keritik : u = Ukr
c) Meluncur : u>Ukr
Keterangan:
ukr = kedalaman
u = tinggi kecepatan air

2.1.3 Keadaan Aliran


1. Laminer :
Laminer adalah aliran partikel-partikel fluida yang bergerak secara paralel
(tidak saling memotong), atau aliran berlapis. contohnya: aliran lambat dari
cairan kental. Perlu diingat: suatu aliran fluida (gas / cair) dapat berupa aliran
laminer atau turbulen ditentukan (dihitung) berdasarkan angka Reynold
(reynold number).
2. Trubulen :
Kecepatan aliran yang relatif besar akan menghasilkan aliran yang tidak
laminar melainkan komplek, lintasan gerak partikel saling tidak teratur antara
satu dengan yang lain. Sehingga didapatkan Ciri dari lairan turbulen: tidak
adanya keteraturan dalam lintasan fluidanya, aliran banyak bercampur,
kecepatan fluida tinggi, panjang skala aliran besar dan viskositasnya rendah.
Karakteristik aliran turbulen ditunjukkan oleh terbentuknya pusaran-pusaran
dalam aliran, yang menghasilkan percampuran terus menerus antara partikel
partikel cairan di seluruh penampang aliran

Banyaknya fluida yang melalui saluran terbuka sering diukur dengan menggunakan
suatu bendung (weir). Dengan bendung, aliran akan mengalir lewat suatu celah. Bentuk
celah biasanya berbentuk persegi empat, segitiga atau trapesium, dan dapat dipasang pada
aliran air sesuai yang dikehendaki. Untuk menganalisis suatu bendung perlu dilakukan
asumsi berikut ini :
 Tekanan pada aliran leher atas dan bawah sama yaitu tekanan atmosfer.
 Plat bendung pada posisi tegak lurus dengan aliran hulu yang rata dan aliran menuju
plat normal.
 Puncak bendung (celah) runcing dan aliran menuju puncak bendung dalam kondisi
normal.
 Tekanan yang hilang diabaikan pada waktu aliran melalui bendung (weir).
 Saluran seragam dengan sisi hulu dan hilir bendung.
 Kecepatan aliran menuju bendung seragam dan tidak ada gelombang permukaan.
Jelas bahwa model matematis dengan asumsi di atas tidak menampilkan kondisi aliran
yang nyata di dalam bendung. Meskipun demikian, hal ini diperbolehkan untuk
perhitungan aliran yang melintas bendung (sebagai pendekatan). Hasil yang diperoleh,
kemudian dapat diubah agar sesuai dengan hasil aliran yang diperoleh dari percobaan.
Persamaan yang digunakan dalam pendekatan tersebut adalah
a. Celah U
2 3
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = √2. 𝑔 𝑥 𝐵 𝑥 𝐻 2
3
Keterangan :
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = laju alir volume teoritis [m3/s]
𝐵 = lebar celah [m]
𝐻 = tinggi permukaan air dari dasar celah [m]
𝑔 = percepatan gravitasi [m/s2]
Persamaan di atas tidak memberikan hasil yang akurat bila diterapkan pada pola
aliran aktual dibendung. Supaya dalam perhitungan sesuai dengan analisa maka
persamaan tersebut biasanya dikalikan dengan suatu koefisien debit yang ditentukan dari
hasil percobaan (𝐶𝑑). Persamaannya menjadi
2 3
𝑄𝑎𝑐𝑡 = 𝐶𝑑 𝑥 √2. 𝑔 𝑥 𝐵 𝑥 𝐻 2
3
Keterangan :
𝑄𝑎𝑐𝑡 = laju alir volume hasil percobaan [m3/s]
𝐶𝑑 = koefisien debit

b. Celah V
Untuk jumlah aliran yang kecil, bendung bentuk V banyak digunakan. Karena pada
celah V terdapat sudut 𝛼 maka persamaan debitnya menjadi
8 5
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = √2. 𝑔 𝑥 𝐻 2 𝑥 tan 𝛼
15
Keterangan :
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = laju alir volume teoritis [m3/s]
𝐻 = tinggi permukaan air dari dasar celah [m]
𝑔 = percepatan gravitasi [m/s2]
𝛼 = besar sudut celah V [o]
Persamaan di atas tidak memberikan hasil yang akurat bila diterapkan pada pola
aliran aktual dibendung. Supaya dalam perhitungan sesuai dengan analisa maka
persamaan tersebut biasanya dikalikan dengan suatu koefisien debit yang ditentukan
dari hasil percobaan (𝐶𝑑). Persamaannya menjadi
8 5
𝑄𝑎𝑐𝑡 = 𝐶𝑑 𝑥 √2. 𝑔 𝑥 𝐻 2 𝑥 𝑡𝑎𝑛 𝛼
15
Keterangan :
𝑄𝑎𝑐𝑡 = laju alir volume hasil percobaan [m3/s]
𝐶𝑑 = koefisien debit

B B

 H
H

Celah U
Celah V
III. ALAT DAN BAHAN
Peralatan utama yang digunakan dalam pengukuran aliran tunak pada saluran terbuka
adalah
1. Instalasi pengujian pompa, yaitu menggunakan pompa turbin.
2. Celah bentuk U dan V.
3. Stopwatch.
4. Meter Hook dan Point.

1V. PROSEDUR PERCOBAAN


a. Persiapan
1. Pasang pompa turbin.
2. Hidupkan pompa dan biarkan air mengisi saluran dan jika air mulai mengalir
melewati bendung, matikan pompa, dan biarkan kelebihan air melewati bendung.
Ini merupakan level dasar celah bendung.
3. Atur vernier Hook Point gage ke posisi nol.
b. Prosedur Pengujian
1. Operasikan salah satu pompa dari pompa roda gigi, pompa turbin, atau pompa
sentrifugal pada putaran tertentu.
2. Atur laju aliran (debit) air.
3. Ukur debit riil dari tangki volumetrik dengan mengukur jumlah volume air pada
tangki dan catat waktu yang diperlukan dengan menggunakan stopwatch.
4. Pada waktu yang bersamaan ukur ketinggian air H dan lebar (B) pada bendung.
5. Ukur kurang lebih 10 pengukuran dengan jumlah volume yang berbeda, gunakan
katup kontrol untuk mengaturnya.
6. Dapatkan faktor koreksi untuk bentuk celah yang berbeda dengan membandingkan
2 pengukuran volume yang berbeda.
V. DATA PERCOBAAN
5.1 Penguiian menggunakan celah V
Putaran 1000 rpm
tan
H Q Perhitungan Q Nyata
No. α Cd
(m) (m^3/s) (m^3/s) 45°
1 0,034 0,0005 0,000417 1 0,828
2 0,036 0,00058 0,000417 1 0,717
3 0,037 0,00062 0,000417 1 0,67
4 0,0375 0,00064 0,000385 1 0,598
5 0,0375 0,00064 0,000385 1 0,598
6 0,037 0,00062 0,000357 1 0,574
7 0,036 0,00058 0,000263 1 0,453
8 0,03 0,00037 0,000227 1 0,617
9 0,0255 0,00025 0,000147 1 0,6
10 0,023 0,00019 0,000098 1 0,517
Rata-rata 0,03335 0,0005 0,0003112 1 0,6171

5.2 Penguiian menggunakan celah persegi


Putaran 1050 rpm B= 0,05 m
B H Q Perhitungan Q Nyata
No. Cd
(m) (m) (m^3/s) (m^3/s)
1 0,05 0,0319 0,000841229 0,00042 0,499
2 0,05 0,0315 0,000825456 0,00042 0,509
3 0,05 0,0315 0,000825456 0,00042 0,509
4 0,05 0,0315 0,000825456 0,00042 0,509
5 0,05 0,0315 0,000825456 0,00042 0,509
6 0,05 0,03 0,000767203 0,00042 0,547
8 0,05 0,0275 0,000673329 0,00042 0,624
7 0,05 0,028 0,000691776 0,00039 0,564
9 0,05 0,025 0,000583631 0,00031 0,531
10 0,05 0,0265 0,000636938 0,0002 0,314
Rata-rata 0,05 0,02949 0,000749593 0,000384 0,512
VI. PERHITUNGAN
6.1 Bentuk V
a. Percobaan 1
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,034 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,0005 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000417 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,828
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,0005 𝑚3 ⁄𝑠
b. Percobaan 2
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,036 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00058 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000417 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,717
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00058 𝑚3 ⁄𝑠
c. Percobaan 3
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,037 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00062 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000417 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,670
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00062 𝑚3 ⁄𝑠
d. Percobaan 4
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,0375 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00064 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000385 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,598
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00064 𝑚3 ⁄𝑠
e. Percobaan 5
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,0375 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00064 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000385 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,598
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00064 𝑚3 ⁄𝑠

f. Percobaan 6
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,037 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00062 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000357 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,574
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00062 𝑚3 ⁄𝑠
g. Percobaan 7
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,036 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00058 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000263 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,453
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00058 𝑚3 ⁄𝑠

h. Percobaan 8
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,03 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00037 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000227 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,617
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00037 𝑚3 ⁄𝑠
i. Percobaan 9
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,0255 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00025 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000147 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,6
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00025 𝑚3 ⁄𝑠
j. Percobaan 10
8 5
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐻 ⁄2 . tan 𝛼
15
8 𝑚 5
= √2 𝑥 9,81 2 𝑥 (0,023 m) ⁄2 𝑥 1
15 𝑠
= 0,00019 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,000098 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,517
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00019 𝑚3 ⁄𝑠

6.2 Bentuk Persegi


k. Percobaan 1
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,0319 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,00084 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄 0,00042 𝑚3⁄𝑠
𝐶𝑑 = 𝑄 = 0,000841 𝑚3 ⁄𝑠 = 0,499
𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙

l. Percobaan 2
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (00,315 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,00082 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,00042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,509
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,000825 𝑚3 ⁄𝑠
m. Percobaan 2
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,0315 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,00082 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,00042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,505
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,00082 𝑚3 ⁄𝑠
n. Percobaan 3
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (00,315 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,00082 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,00042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,509
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,000825 𝑚3 ⁄𝑠
o. Percobaan 4
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,0315 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,00082 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,00042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,509
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,000825 𝑚3 ⁄𝑠
p. Percobaan 5
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,0315 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,00082 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 0,00042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,509
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 0,000825 𝑚3 ⁄𝑠
q. Percobaan 6
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,03 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,000767 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 0,0042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,547
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 0,000767 𝑚3 ⁄𝑠
r. Percobaan 7
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,0275 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,000673 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 0,00042 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,624
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 0,000673 𝑚3 ⁄𝑠
s. Percobaan 8
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,028 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,0006911 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 0,00039 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,564
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 0,000692 𝑚3 ⁄𝑠
t. Percobaan 9
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,025 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,000637 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 0,00031 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,531
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 0,0006911 𝑚3 ⁄𝑠
u. Percobaan 9
2 3 2 𝑚 3
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = √2. 𝑔. 𝐵. 𝐻 ⁄2 = √2 𝑥 9,81 2 𝑥 0,05 m . (0,02949 m) ⁄2
3 3 𝑠
= 0,000749 𝑚3 ⁄𝑠
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 0,00031 𝑚3 ⁄𝑠
𝐶𝑑 = = = 0,314
𝑄𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 0,0006911 𝑚3 ⁄𝑠
VII. Analisa Data

KURVA KALIBRASI
0.9
y = 512.1x + 0.4578
0.8
R² = 0.3468
0.7
0.6 Bentuk V
Cd

0.5 Bentuk Persegi


0.4 Linear (Bentuk V)
0.3 Linear (Bentuk Persegi)
y = 820.19x + 0.1965
0.2
R² = 0.5794
0.1
0
0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005
Qnyata

Berdasarkan kurva kalibrasi dalam bentuk V diatas, terlihat bahwa kurva tersebut
tidak linier. Hal ini disebabkan karena nilai koefisien debit yang tidak stabil, artinya nilai
koefisien debitnya mengalami kenaikan dan penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada
percobaan 4 yaitu sebesar 0,072. Sedangkan kenaikan terbesar terjadi pada percobaan 8
yaitu sebesar 0,164. Koefisien determinasi (R2) pada kurva kalibrasi bentuk V sebesar
0,3468.
Berdasarkan kurva kalibrasi dalam bentuk persegi diatas, terlihat bahwa kurva
tersebut tidak linier. Hal ini disebabkan karena nilai koefisien debit yang tidak stabil,
artinya nilai koefisien debitnya mengalami kenaikan dan penurunan. Penurunan terbesar
terjadi pada percobaan 8 yaitu sebesar 0,06. Sedangkan kenaikan terbesar terjadi pada
percobaan 7 yaitu sebesar 0,095. Koefisien determinasi (R2) pada kurva kalibrasi bentuk
V sebesar 0,5794.
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa koefisien debit
atau discharge coefficient (𝐶𝑑) pada pengujian menggunakan celah U (𝐶𝑑𝑐𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑉 𝑟𝑎𝑡𝑎 −
𝑟𝑎𝑡𝑎 = 0,512) lebih kecil daripada pengujian menggunakan celah V
(𝐶𝑑𝑐𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = 0,6171).
Untuk aliran fluida inkompressibel, laju alir volume atau debit bernilai konstan
sedangkan kecepatan alirnya berubah terhadap bentuk geometri saluran. Dari persamaan
kontinuitas 𝑄 = 𝑣. 𝐴, dapat diketahui bahwa laju alir volume berbanding lurus dengan
luasan hidrolik saluran (𝑄 ~ 𝐴). Sehingga apabila luasan hidrolik semakin besar maka
laju alir volume juga akan semakin besar.
Pada pengujian yang telah dilakukan, untuk setiap putaran impeler pompa laju alir
volume sebenarnya (𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 ) tidak mengalami perubahan nilai baik pada celah persegi
maupun celah V. Tetapi debit yang didapat secara perhitungan teoritis (𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 )
untuk celah persegi lebih besar daripada celah V. Hal ini disebabkan oleh luasan hidrolik
celah persegi lebih besar daripada celah V. Oleh karena itu, discharge coefficient (𝐶𝑑 =
𝑄𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎
) celah persegi lebih kecil daripada celah V.
𝑄𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛
VIII. Kesimpulan
Dari hasil analisa dan perhitungan yang telah dilakukan dapat diambil beberapa
kesimpulan, yaitu :
1. Koefisien debit atau discharge coefficient (𝐶𝑑) rata-rata pada pengujian
menggunakan celah persegi adalah 0, 512.
2. Koefisien debit atau discharge coefficient (𝐶𝑑) rata-rata pada pengujian
menggunakan celah V adalah 0, 6171.
3. Laju alir volume berbanding lurus dengan luasan hidrolik saluran.
4. Kurva kalibrasi pada edua bentuk bendungan tidak linier karena nilai koefisien
debitnya tidak stabil, artinya nilai koefisien debitnya mengalami kenaikan dan
penurunan
DAFTAR PUSTAKA

http://hadirohmanto.blogspot.co.id/2014/11/aliran-pada-saluran-terbuka.html (Diakses tanggal


3 Desember 2016 pukul 22.15)
http://documents.tips/documents/laporan-pengukuran-aliran-tunak-di-saluran-terbuka.html
(Diakses tanggal 3 Desember 2016 pukul 22.25)