Anda di halaman 1dari 35

PRINSIP PRINSIP DASAR ASURANSI

PERHATIAN
Materi Asuransi ini bersumber dari buku, makalah, catatan yang didapat dari tulisan secara
nyata maupun tulisan elektronik dari sumber-sumber yang umum.
Materi Asuransi ini hanya untuk dipergunakan secara intern PT Asuransi Dayin Mitra Tbk,
dalam rangka meningkatkan pengetahuan asuransi bagi karyawan yang membutuhkannya.
Untuk itu, Materi Asuransi ini sama sekali tidak dibuat untuk tujuan komersil

1
(JD 2018)

2
ASURANSI

ASURANSI ATAU PERTANGGUNGAN ADALAH PERJANJIAN ANTARA DUA


PIHAK ATAU LEBIH, DENGAN MANA PIHAK PENANGGUNG
MENGIKATKAN DIRI KEPADA TERTANGGUNG, DENGAN MENERIMA
PREMI ASURANSI, UNTUK MEMBERIKAN PENGGANTIAN KEPADA
TERTANGGUNG KARENA KERUGIAN, KERUSAKAN ATAU KEHILANGAN
KEUNTUNGAN YANG DIHARAPKAN, ATAU TANGGUNG JAWAB HUKUM
KEPADA PIHAK KETIGA YANG MUNGKIN AKAN DIDERITA TERTANGGUNG,
YANG TIMBUL DARI SUATU PERISTIWA YANG TIDAK PASTI, ATAU UNTUK
MEMBERIKAN PEMBAYARAN YANG DIDASARKAN ATAS MENINGGAL
ATAU HIDUPNYA SESEORANG YANG DIPERTANGGUNGKAN

BAB 1 PASAL 1 AYAT 1


UNDANG UNDANG R.I NO.2 TAHUN 1992
TENTANG USAHA PERASURANSIAN

3
PERUSAHAAN ASURANSI KERUGIAN

PERUSAHAAN ASURANSI KERUGIAN ADALAH PERUSAHAAN YANG


MEMBERIKAN JASA DALAM PENANGGULANGAN RISIKO ATAS
KERUGIAN, KEHILANGAN MANFAAT, DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM
KEPADA PIHAK KETIGA, YANG TIMBUL DARI PERISTIWA YANG TIDAK
PASTI.

PERUSAHAAN ASURANSI JIWA

PERUSAHAAN ASURANSI JIWA ADALAH PERUSAHAAN YANG


MEMBERIKAN JASA DALAM PENANGGULANGAN RISIKO YANG
DIKAITKAN DENGAN HIDUP ATAU MENINGGALNYA SESEORANG YANG
DIPERTANGGUNGKAN.

BAB I AYAT 5 & 6


UNDANG UNDANG R.I NO.2 TAHUN 1992
TENTANG USAHA PERASURANSIAN

PERUSAHAAN PIALANG ASURANSI


4
PERUSAHAAN PIALANG ASURANSI ADALAH PERUSAHAAN YANG
MEMBERIKAN JASA KEPERANTARAAN DALAM PENUTUPAN ASURANSI
DAN PENANGANAN PENYELESAIAN GANTI RUGI ASURANSI DENGAN
BERTINDAK UNTUK KEPENTINGAN TERTANGGUNG.

AGEN ASURANSI

AGEN ASURANSI ADALAH SESEORANG ATAU BADAN HUKUM YANG


KEGIATANNYA MEMBERIKAN JASA DALAM MEMASARKAN JASA
ASURANSI UNTUK DAN ATAS NAMA PENANGGUNG

BAB I AYAT 8 & 10


UNDANG UNDANG R.I NO.2 TAHUN 1992
TENTANG USAHA PERASURANSIAN

5
BEDA ASURANSI DENGAN JUDI

ASURANSI JUDI
Ada atau tidaknya asuransi, risiko
Risiko baru ada setelah ada perjanjian
tetap ada. Adanya perjanjian untuk mengadakan permainan judi,
asuransi hanyalah alat untuk Kalau perjanjian tidak diadakan, risiko
memindahkan akibat risiko itu itu tidak ada sama sekali.
kepada orang lain, dan berusaha
untuk mengurangi atau
menghilangkannya.

Akibatnya pasti terjadi, tapi


Risikonya dapat terjadi atau tidak
risikonya belum pasti terjadi
terjadi, tapi akibatnya belum pasti
(tergantung siapa yang menang dan
terjadi
siapa yang kalah)

Tidak ada pihak yang untung atau Satu pihak akan untung sedangkan
rugi. pihak lainnya akan rugi.

Risiko yang terjadi tidak diinginkan Risiko yang terjadi justru diinginkan
oleh kedua belah pihak yang oleh salah satu pihak yang
melakukan kontrak perjanjian melakukan kontrak perjanjian.

Besarnya jumlah penggantian yang Jumlah yang akan diperoleh pada


akan diberikan, umumnya belum umum-nya telah diketahui lebih
diketahui dengan pasti lebih dahulu. dahulu.

6
PERIL, HAZARD, LOSS, RISK

PERIL

Dalam pengertian umum perasuransian, biasanya diartikan dengan : PERISTIWA.

Suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian, kerusakan, tuntutan pihak


ketiga, gangguan kesehatan, luka-luka, kematian dan sebagainya.

HAZARD

Dalam pengertian umum perasuransian, biasanya diartikan dengan : BAHAYA.

Adalah suatu keadaan atau kondisi yang dapat memperbesar terjadinya suatu
peril.

LOSS

Dalam pengertian umum perasuransian, biasanya diartikan dengan : KERUGIAN.

Kerugian adalah menurunnya atau hilangnya nilai ekonomi yang tidak diharapkan,
akibat terjadinya suatu peristiwa.

RISK

Dalam pengertian umum perasuransian, biasanya diartikan dengan : KETIDAK


PASTIAN, YANG DAPAT MENDATANGKAN KERUGIAN.

Ketidak pastian akan terjadinya suatu peristiwa (UNCERTAINTY OF LOSS) yang


dapat menimbulkan kerugian keuangan (FINANCIAL LOSS).

7
JENIS – JENIS HAZARD ASURANSI

PHYSICAL HAZARD

Suatu keadaan atau kondisi yang bersumber dari karestiristik phisik suatu
obyek yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peristiwa (Peril)
ataupun dapat memperbesar terjadinya suatu kerugian (Loss).

Contoh :
- Mengemudikan mobil yang tidak terawat akan lebih berbahaya
daripada mengemudikan mobil yang terawat.
- Pasar memiliki bahaya kebakaran yang lebih besar, jika
dibandingkan dengan rumah tinggal.

MORAL HAZARD

Suatu keadaan atau kondisi yang bersumber dari diri seseorang yang
berkaitan dengan mental, pandangan hidup, kebiasaan, tingkah laku, gaya
hidup.

Contoh :
- Mengemudi sambil menggunakan handphone akan mungkin
mengalami kecelakaan , dibanding dengan yang tidak sambil
menggunakan handphone.
- Kebiasaan orang merokok dikamar tidur bisa mendatangkan bahaya
kebakaran yang lebih besar, orang yang biasa merokok diluar kamar
tidur.
-

8
MORALE HAZARD

Suatu kedaan atau kondisi dari diri seseorang yang merasa memiliki
jaminan yang aman atas dirinya maupun memiliki jaminan atas harta
bendanya, maka orang tersebut jadi berlaku tidak hati-hati, ceroboh dan
mengabaikan bahaya yang mungkin terjadi.

Contoh :
- Seseorang yang telah memiliki asuransi pencurian atas mobilnya,
maka dengan sengaja memarkir mobilnya ditempat yang rawan
pencurian.
- Rumah yang telah diasuransikan terhadap asuransi kebakaran,
kemudian pemiliknya secara sembarangan memasang peralatan-
peralatan listrik yang tidak sesuai standard.

LEGAL HAZARD

Adanya Menggunakan peraturan atau perundang-undangan untuk


melindungi masyarakat, namun malah seringkali diabaikan sehingga
membuka peluang terjadinya bencana.

Contoh :
Misalnya asuransi kecelakaan kerja yang harus disediakan oleh pemberi
kerja untuk menjamin keselamatan pekerjanya. Namun pada kenyataannya
pengadaan fasilitas keselamatan kerja justru sering diabaikan oleh
penyedia kerja. Inilah yang dapat meningkatkan terjadinya bencana.

9
PRINSIP DASAR ASURANSI

I. INSURABLE INTERST

II. UTMOST GOOD FAITTH

III. INDEMNITY

IV. SUBROGATION

V. CONTRIBUTION

VI. PROXIMATE CAUSE

10
I. INSURABLE INTEREST

THE LEGAL RIGHT TO INSURE ARISING OUT OF A FINANCIAL


RELATIONSHIP RECOGNISED AT LAW BETWEEN THE INSURED AND THE
SUBJECT MATTER OF INSURANCE.

HAK MENGASURANSIKAN YANG TIMBUL DARI SUATU HUBUNGAN


KEUANGAN YANG DIAKUI SECARA HUKUM ANTARA TERTANGGUNG DAN
OBYEK PERTANGGUNGAN.

11
UNSUR UNSUR POKOK DALAM
INSURABLE INTEREST

1. HARUS ADA BENDA, HAK, JIWA, KEMUNGKINAN TIMBULNYA


TANGGUNG GUGAT DAN PERBUATAN YANG MEMBAHAYAKAN
YANG DAPAT DISURANSIKAN

2. BENDA, HAK, JIWA DAN KEMUNGKINAN TIMBULNYA TANGGUNG


GUGAT DAN PERBUATAN YANG MEMBAHAYAKAN TERSEBUT
HARUS MERUPAKAN POKOK PERTANGGUNGAN

3. TERTANGGUNG AKAN MEMPEROLEH MANFAAT, BILA POKOK


PERTANGGUNGAN TERSEBUT TIDAK MENGALAMI KERUSAKAN.

SEBALIKNYA TERTANGGUNG AKAN MENDERITA KERUGIAN BILA


POKOK PERTANGGUNGAN MENGALAMI KERUGIAN/KERUSAKAN
YANG DAPAT DINILAI DENGAN UANG.

4. HARUS ADA HUBUNGAN YANG LEGAL ( SAH MENURUT HUKUM )


ANTARA TERTANGGUNG DENGAN POKOK PERTANGGUNGAN.

12
II. UTMOST OF GOOD FAITH

A POSITIVE DUTY TO VOLUNTARY DISCLOSE ACCURATELY AND FULL


ALL FACT MATERIAL TO THE RISK BEING PROPOSED, WHETER ASK FOR
THEM OR NOT.

KEWAJIBAN YANG POSITIF UNTUK MENGUNGKAPKAN DENGAN


SUKARELA SECARA LENGKAP DAN PENUH SEMUA FAKTA MATERIAL
SEHUBUNGAN DENGAN RESIKO YANG AKAN DIASURANSIKAN, APAKAH
ITU DIPERTANYAKAN ATAU TIDAK

UNSUR UNSUR POKOK DALAM


UTMOST OF GOOD FAITH
13
1. KEWAJIBAN YANG POSITIF

SUATU KEWAJIBAN YANG SIFATNYA POSITIF YANG ARTINYA KITA


AKTIF DALAM MEMENUHI KEWAJIBAN TERSEBUT.

2. DIUNGKAPKAN DENGAN SUKARELA

PENGUNGKAPAN YANG DILAKUKAN DENGAN PERASAAN


SUKARELA, TANPA ADA UNSUR PAKSAAN.

3. SECARA LENGKAP DAN PENUH

YANG DIUNGKAPKAN HARUSLAH DENGAN DETAIL YANG SEJELAS


JELASNYA, TANPA ADA LAGI HAL-HAL YANG DISEMBUNYIKAN.

4. FAKTA MATERIAL

SEMUA FAKTA ATAU KEADAAN YANG DAPAT MEMPENGARUHI


PERTIMBANGAN DARI SEORANG UNDERWRITER YANG
BIJAKSANA DALAM MENENTUKAN PREMI ATAU DALAM
MEMPERTIMBANGKAN APAKAH DIA AKAN MENGAKSEP RESIKO
TERSEBUT ATAU TIDAK.

PELANGGARAN TERHADAP PRINSIP


UTMOST OF GOOD FAITH BREACH OF
UTMOST OF 14GOOD FAITH
1. TIDAK MENGUNGKAPKAN FAKTA ( WITH HOLDING )

- TIDAK SENGAJA ( NON DISCLOSURE )


- DENGAN SENGAJA / MENYEMBUNYIKAN FAKTA
(CONCEALMENT )

2. MEMBUAT PERNYATAAN SALAH ( IN ACCURATE )

- TIDAK SENGAJA ( INNOCENT MISREPRESENTATION )


- DENGAN SENGAJA / DENGAN TUJUAN MENIPU
(FRAUDULENT MISREPRESENTATION).

III. INDEMNITY

15
AN EXACT FINANCIAL COMPENSATION SUFFICIENT TO PLACE THE
INSURED IN THE SAME FINANCIAL POSITION AFTER A LOSS AS HE
ENJOYED IMMEDIATELY BEFORE IT OCCURED.

KOMPENSASI KEUANGAN YANG PASTI YANG CUKUP UNTUK


MENEMPATKAN TERTANGGUNG DALAM POSISI KEUANGAN YANG SAMA
SESUDAH KERUGIAN, SEPERTI YANG DINIKMATI SESAAT SEBELUM
KERUGIAN TERJADI.

UNSUR UNSUR POKOK


DALAM INDEMNITY

16
1. MENGEMBALIKAN TERTANGGUNG PADA KEADAAN KEUANGAN
YANG SAMA, SETELAH TERJADI KERUGIAN, SEBAGAIMANA
DINIKMATINYA SESAAT SEBELUM TERJADI KERUGIAN.

2. MEMBERIKAN KOMPENSASI KEPADA ORANG YANG MENDERITA


KERUGIAN, TETAPI TIDAK DIMAKSUDKAN UNTUK MEMBERIKAN
KEUNTUNGAN DARI MUSIBAH KEMALANGAN TERSEBUT.

3. GANTI RUGI / KOMPENSASI YANG DIBERIKAN KEPADA


TERTANGGUNG SETELAH TERJADI KERUGIAN, TIDAK AKAN LEBIH
BURUK / LEBIH BAIK DARI SESAAT SEBELUM TERJADI KERUGIAN.

IV. SUBROGATION

17
THE RIGHT OF ONE PERSON HAVING INDEMNIFIED ANOTHER UNDER A
LEGAL OBLIGATION TO DO SO TO STAND IN THE PLACE OF THAT OTHER
AND AVAIL HIMSELF OF ALL RIGHT AND REMEDIES OF THAT OTHER
WHETHER ALREADY ENFORCED OR NOT.

HAK SESEORANG YANG TELAH MEMBAYAR GANTI RUGI PADA ORANG


LAIN KARENA KEWAJIBAN HUKUMNYA UNTUK MENGGANTIKAN ORANG
LAIN ITU SERTA MENGGUNAKAN SEMUA HAK DAN UPAYA HUKUMNYA
ORANG LAIN ITU, APAKAH TELAH DILAKSANAKAN ATAU BELUM.

UNSUR UNSUR POKOK


DALAM SUBROGATION

18
1. MENCEGAH TERTANGGUNG MEMPEROLEH GANTI RUGI GANDA

2. APABILA PENANGGUNG TELAH MEMBAYAR TERTANGGUNG,


MAKA JUMLAH YANG DITERIMA DARI PIHAK KETIGA MENJADI HAK
PENANGGUNG.

3. BILA TERTANGGUNG TELAH MENERIMA GANTI RUGI DARI PIHAK


KETIGA, MAKA PENANGGUNG BERHAK MEMPERHITUNGKAN
PEMBAYARAN KLAIM DENGAN JUMLAH UANG YANG TELAH
DITERIMA OLEH TERTANGGUNG.

4. MENCEGAH PIHAK KETIGA MEMPERKAYA DIRI KARENA TIDAK


MEMBAYAR GANTI RUGI ATAS KERUGIAN YANG DITIMBULKANNYA.

V. CONTRIBUTION

19
THE RIGHT ON AN INSURER TO CALL UPON OTHERS SIMILARLY, BUT
NOT NECESSARILY EQUALLY LIABLE TO THE SAME INSURED TO SHARE
THE COST OF AN INDEMNITY PAYMENT.

HAK DARI SEORANG PENANGGUNG UNTUK MENAGIH PENANGGUNG


LAINNYA YANG SAMA-SAMA IKUT MENANGGUNG, TETAPI TIDAK HARUS
SAMA KEWAJIBANNYA TERHADAP TERTANGGUNG UNTUK IKUT
BERBAGI PAMBAYARAN KLAIM.

UNSUR UNSUR POKOK


DALAM CONTRIBUTION

20
1. PENANGGUNG YANG MENERIMA PENGAJUAN / TUNTUTAN KLAIM
TERSEBUT HARUS MEMENUHI KEWAJIBANNYA SEBATAS
TANGGUNG JAWABNYA, DAN ATAS DASAR COMMON LAW DAPAT
MEMINTA KONTRIBUSI DARI PENANGGUNG LAIN SETELAH IA
MEMBAYAR SELURUH JUMLAH KLAIM.

2. PENANGGUNG HANYA BERTANGGUNG JAWAB SEBATAS


SHARENYA SAJA DAN TERTANGGUNG MASIH HARUS MENUNTUT
KLAIM KEPADA PENANGGUNG LAINNYA.

21
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBATASI
INDEMNITAS (GANTI RUGI)

A. Sum Insured (Nilai Uang Pertanggungan)

B. Average

C. Deductible / Own Risk

D. Excess

E. Limit

22
A. Sum Insured (Nilai Uang Pertanggungan)
Nilai Uang Pertanggungan merupakan batas maksimum tanggung jawab
perusahaan Penanggung terhadap Nilai kerugian yang terjadi.
(Maximum Liability of the Insurer)

B. Average (Under Insured dan Over Insured)

Sum Insured
Formula : ------------------- X Loss
Value at Risk

Under Insured :

Suatu pertanggungan dikatakan Under Insured, apabila Nilai Pertanggungan


atas obyek yang dipertanggungan Lebih Kecil daripada Nilai Sebenarnya obyek
pertanggungan tersebut pada saat kerugian terjadi.

Contoh :

Sebuah Mobil A keluaran tahun 2015 diasuransikan dgn harga pertanggungan


sebesar Rp 100,000,000,-
Namun pada saat terjadi kerugian, harga mobil tersebut dipasaran adalah
sebesar Rp 125,000,000,-

Besarnya kerugian yang terjadi adalah Rp 6,000,000,- (dalam asuransi, ini


disebut Kerugian Sebagian atau Partial Loss ).

Maka besarnya penggantian kerugian tersebut adalah sebagai berikut :

100.000.000
Penanggung : ----------------- x Rp. 6.000.000 = Rp. 4,800,000,-
125.000.000

25.000.000
Tertanggung : ---------------- x Rp. 6.000.000 = Rp. 1,200,000,-
125.000.000 _____________

Rp. 6,000,000,-

23
Jika terjadi Kerugian Keseluruhan atau Total Loss, maka :

Penanggung ……………………………..………………. Rp. 100,000,000,-


Tertanggung ……………………………………………… Rp. 25,000,000,--

Rp. 125.000.000,--

Over Insured :

Suatu pertanggungan dikatakan Over Insured, apabila Nilai Pertanggungan atas


obyek yang dipertanggungan Lebih Besar daripada Nilai Sebenarnya obyek
pertanggungan tersebut pada saat kerugian terjadi.

Contoh :

Sebuah Mobil A keluaran tahun 2015 diasuransikan dgn harga pertanggungan


sebesar Rp 125,000,000,-
Namun pada saat terjadi kerugian, harga mobil tersebut dipasaran adalah
sebesar Rp 100,000,000,-

Apabila terjadi kerugian Rp. 6,000,000,-- (kerugian sebagian atau Partial Loss)
Maka Penanggung akan memberikan ganti rugi sesuai kerugian yang diderita-
nya, yaitu sebesar Rp. 6,000,000,-

Jika Kerugian Keseluruhan/Total Loss, maka :


Maka Penanggung akan memberikan ganti rugi sesuai kerugian yang diderita-
nya, yaitu sesuai dengan harga pasar (Market Value), sebesar
Rp. 100,000,000,-

24
c. Deductible / Own Risk,
Penanggung tidak akan memberikan ganti rugi, apabila nilai kerugian tersebut
masih berada dibawah atau sama dengan jumlah nilai tertentu yang menjadi
tanggungan Tertanggung.

contoh :
Asuransi Kendaraan bermotor dengan risiko sendiri sebesar Rp. 250,000,--
setiap kerugian
Maka apabila terjadi kerugian dibawah atau sama dengan Rp. 250,000,--,
Penanggung tidak akan membayar apapun atas kerugian tersebut.
Apabila besarnya kerugian diatas ketentetuan Deductible/Own Risk, misalnya
kerugian adalah Rp. 1,000,000,- , maka ganti rugi yang diterima adalah Rp.
1,000,000,- dikurang Rp. 250,000,- , yaitu Rp. 750,000,-

d. Excess
Apabila Nilai Kerugian lebih kecil dari Nilai Excess yang ditetapkan, maka
kerugian tersebut tidak dijamin dalam polis (kerugian menjadi beban
Tertanggung itu sendiri).
Apabila Nilai Kerugian lebih besar dari Nilai Excess yang ditetapkan, maka
kerugian dibayar 100 % Nilai kerugian.

contoh :
Nilai pertanggungan Rp. 100.000.000,- Excess = 10% = Rp. 10,000,000,-
Nilai kerugian dibawah Rp. 10,000,000,- (misal :Rp. 9,900,000,-) ,Maka kerugian
tidak dijamin
Nilai kerugian Rp. 20,000,000,- Maka kerugian yang dijamin seluruhnya, yaitu
Rp. 20,000,000,-

e. Limit
Adalah suatu batasan tertentu yang menjadi tanggung jawab seorang
Penanggung dalam hal kerugian yang terjadi.

contoh :
Limit pertanggungan untuk Liability Insurance (Asuransi tanggung jawab hukum,
atau asuransi kepada pihak ketiga) sebesar : Rp. 100.000.000,--
Tertanggung menderita kerugian akibat adanya tuntutan dari pihak ketiga
sebesar Rp. 250.000.000,-- .
Maka tanggung jawab Penanggung maksimum sebesar Rp. 100.000.000,--

25
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERBESAR
INDEMNITAS (GANTI RUGI)

a. Reinstatement

b. New For Old

c. Agreed Additional Cost

d. Agreed Value Policy

26
a. Reinstatement.
Kadang-kadang penutupan asuransi dilakukan berdasarkan Nilai Pemulihan
Kembali (Reinstatement), jika terjadi suatu kerugian yang dijamin dalam polis,
maka ganti-rugi adalah sebesar jumlah kerugian yang benar-benar dideritanya
tanpa dikurangi dengan Wear & Tear dan atau Depresiasi, sampai maksimum
sebesar Nilai Pertanggungan.
Hal ini berarti bahwa Tertanggung akan menerima pembayaran ganti-rugi yang
lebih besar daripada perhitungan ganti-rugi berdasarkan Indemnitas.

Reinstatement Value Clause

Dengan melekatkan klausul pemulihan nilai: Reinstatement Value Clause anda


berhak atas ganti rugi harga baru (new replacement value) atas harta benda
yang mengalami kerugian atau kerusakan tanpa potongan depresiasi atau
penyusutan
Andapun tidak dikenakan tambahan premi untuk Reinstatement Value Clause
tersebut alias free of charge yang perlu anda lakukan hanyalah menyesuaikan
harga pertanggungan dengan harga baru (new)

Berapa besarnya depresiasi yang dikenakan? Tergantung “life time” dari harta
benda tersebut, dan metode depresiasi yang digunakan. Gedung misalnya
mempunyai life time 50 s/d 100 tahun sehingga dikenakan depresiasi atau
penyusutan sebesar 2% per tahun untuk gedung (bangunan) atau 1% per tahun
untuk high rise building, untuk furniture dan peralatan elektronik tingkat
depresiasi bisa mencapai 5% s/d 10% per tahun sedangkan untuk mesin-mesin
bisa mencapai 5% per tahun.

Contoh :
Contoh sebuah rumah yang dapurnya mengalami kebakaran total, mendapat
penggantian berupa pembangunan kembali dapurnya dengan kondisi total baru,
tanpa memperhitungkan depresiasinya.

27
b. New for Old.
Jika terjadi kerugian dibawah polis asuransi “New for Old” , maka benda yang
rusak akan diganti dengan benda yang baru sama sekali.
Kadangkala, benda yang rusak ternyata sulit untuk diperbaiki, maka diputuskan
untuk menggati benda yang rusak tersebut dengan benda yang baru.

misal : dalam asuransi Kendaraan bermotor, pembayaran ganti-rugi tanpa


dikurangi atau diperhitungkan dengan unsur Wear & Tear. Hal ini berarti bahwa
Tertanggung akan menerima pembayaran ganti-rugi yang lebih besar daripada
perhitungan ganti-rugi berdasarkan Indemnitas.

Contoh :
Sebuah mobil tahun 2015, mengalami kecelakaan dan mengalami kerusakan
pada bumpernyanya yang mana sulit untuk diperbaiki.
Maka diputuskan bahwa bumper kendaraan tersebut diputuskan untuk diganti
dengan bumper yang baru.

c. Agreed Additional Cost.


Dalam asuransi Kebakaran, Tertanggung sering mengeluarkan biaya-biaya
tambahan karena terjadinya kebakaran atau kerusakan objek pertanggungan
lainnya.

Contoh :
Biaya-biaya pembersihan puing-puing (Debris of Removal), Biaya-biaya
konsultasi, biaya-biaya arsitek dan lain-lain.
Biaya-biaya tersebut diatas dapat dimasukkan dalam jaminan polis.
Jaminan terhadap biaya-biaya ini akan mengakibatkan meningkatnya
pembayaran ganti-rugi berdasarkan indemnitas.

28
d. Agreed Valued Policy.
Dalam Agrred Valued Policy, nilai barang atau benda yang diasuransikan telah
ditetapkan secara sepakat antara Tertanggung dengan Penanggung (Agreed
Value), pada saat asuransi ditutup atau diadakan.

Nilai tersebut mungkin saja ternyata lebih besar daripada nilai sebenarnya pada
waktu kerugian terjadi. Jika kerugian yang terjadi adalah “Total Loss” dan nilai
pertanggungan berdasarkan agreed value tersebut lebih besar dari nilai
sebenarnya pada waktu kejadian (Value at Risk), maka Tertanggung berhak
mendapatkan ganti-rugi sebesar Nilai Pertanggungan yang lebih besar dari
ganti-rugi apabila berdasarkan Reinstatement murni.

Contoh :
Sebuah lukisan diasuransikan dan kemudian terbakar.
Harga ganti rugi adalah sebesar harga yang telah disepakati sebelumnya oleh
kedua belah pihak yang tertuang dalam kondisi polis.
Kalau tidak menggunakan Agreed Value Policy, maka harga ganti rugi utk lukisan
tersebut adalah hanya sebesar harga bingkai lukisan dan canvaz lukisannya saja
.

Alasan untuk menerapkan Agreed Value Basis, adalah :


- Obyek pertanggungan sulit dinilai dengan pasar.
- Obyek pertanggungan dipengaruhi oleh nilai sentimental/histories.
- Menghindari dispute bila terjadi kerugian.

29
CARA PEMBAYARAN GANTI RUGI
PEMBAYARAN GANTI RUGI :
Penanggung berhak untuk menentukan cara pelaksanaan pembayaran ganti-rugi
kepada Tertanggung, adalah :

a. C a s h.
Pada umumnya pembayaran penggantian kerugian dibayarkan secara Cash
atau Tunai sesuai dengan jumlah yang telah disepakati antara Tertanggung dan
Penanggung.

b. R e p a i r.
Penggantian kerugian secara repair atau perbaikan atas kerusakan objek
pertanggungan tersebut sepanjang kerusakan yang terjadi tersebut masih bisa
diperbaiki dan besarnya biaya perbaikan tersebut tidak lebih besar dari 75% nilai
sebenarnya.

c. Replacement.
Penggantian kerugian secara penempatan kembali (Replacement) atas kerugian
atau rusaknya barang-barang yang dipertanggungkan, dengan barang baru yang
kondisinya tidak lebih baik dari kondisi barang pada saat sesaat sebelum
kerugian terjadi. Hal ini khusus ditujukan untuk barang-barang yang umumnya
dapat dilaksanakan dengan penempatan kembali tersebut.

misal: Kaca, dimana apabila kerugian terjadi maka kaca-kaca tersebut akan
diganti oleh perusahaan kaca atas nama Penanggung.

d. Reinstatement.
Penggantian kerugian secara pemulihan kembali (Reinstatement) atas kerugian
atau rusaknya barang-barang yang dipertanggungkan, dengan barang baru yang
kondisinya tidak lebih baik dari kondisi barang pada saat sesaat sebelum
kerugian terjadi dan harus telah diselesaikan dalam batas waktu tidak lebih dari
12 bulan setelah kerugian terjadi.

30
Hal ini khusus ditujukan untuk barang-barang yang umumnya dapat
dilaksanakan dengan penemulihan kembali.
misal : sebuah rumah dengan tiang kayu ukiran Jepara, maka apabila kerugian
terjadi, tiang kayu ukiran jepara akan diganti dengan yang sama.

VI. PROXIMATE CAUSE

THE ACTIVE, EFFICIENT CAUSE THAT SETS IN MOTION A TRAIN OF


EVENTS WHICH BRINGS ABOUT A RESULT, WITHOUT THE INTERVENTION
OF ANY FORCE STARTED AND WORKING ACTIVELY FROM A NEW AND
INDEPENDENT SOURCE.

PENYEBAB AKTIF, EFISIEN YANG BERLANGSUNG DALAM SUATU


RANGKAIAN YANG MENIMBULKAN SUATU AKIBAT, TANPA ADANYA
INTERVENSI DARI SETIAP KEKUATAN, YANG DIMULAI DAN BEROPERASI
SECARA AKTIF DARI SUMBER / SEBAB BARU YANG BERDIRI SENDIRI.

31
UNSUR UNSUR POKOK DALAM
PROXIMATE CAUSE

1. IT IS THE DOMINANT CAUSE

ADALAH PENYEBAB DARI SUATU RENTETAN PERISTIWA YANG


TIDAK TERPUTUSKAN.

2. OR THE EFFICIENT OR OPERATIVE CAUSE

a. APAKAH BAHAYA DARI PENYEBAB PERTAMA MASIH


MELEKAT

KALAU MASIH MELEKAT, BERARTI PERNYEBAB PERTAMA


ADALAH PROXIMATE CAUSE

KALAU SUDAH HILANG, DIANGGAP PROXIMATE CAUSE ITU


SUDAH BERHENTI DISITU.

b. APAKAH ADA USAHA UNTUK MENGHILANGKAN BAHAYA ITU.

KALAU ADA DAN USAHA ITU GAGAL, MAKA PENYEBAB


PERTAMA ADALAH PROXIMATE CAUSE.

32
Contoh kasus hukum Proximate Cause berdasarkan class of business

a.Marine

Leyland Shipping v Norwich Union (1918).


Sebuah kapal dagang terkena tembakan torpedo dan mengalami kebocoran.
Kemudian oleh nakoda kapal, kapal tersebut diarahkan ke sebuah pelabuhan
untuk dipebaiki. Pada saat mendekati pelabuhan, oleh syahbandar diperintahkan
agar kapal tersebut tidak boleh mendekat ke pelabuhan karena dikhawatirkan
akan tenggelam dan menutup jalan masuk pelabuhan.
Pada saat kembali keluar pelabuhan, kapal tersebut diterpa badai yang akhirnya
tenggelam.
Ancaman atau bahaya tenggelamnya kapal karena torpedo merupakan
penyebab yang dominan, dan ancaman tersebut sudah berlalu sehingga bukan
dianggap sebagai penyebab tenggelamnya kapal.

b.Kebakaran

Gaskarth v Law Union Insurance Co (1876).

Perusahaan asuransi, Law Union, mengeluarkan kebijakan kebakaran kepada


orang yang diasuransikan yang meliput kebakaran, tetapi bukan badai atau
topan, dll. Ada kebakaran di tempat yang diasuransikan sebagai akibat dari
tembok yang kehilangan kekuatan, namun tetap berdiri. Beberapa hari kemudian
terjadi badai yang membuat dinding jatuh. Tertanggung mengajukan klaim atas
kebakaran.

Perusahaan asuransi tersebut menolak klaim tersebut karena kerugian tersebut


disebabkan oleh badai dan bukan kebakaran. Perselisihan tersebut diajukan ke
pengadilan. Dianggap bahwa penyebab langsung kerugian adalah badai dan,
oleh karena itu perusahaan asuransi berhak untuk menolak klaim tersebut.

Roth v South Eastrope Farmers (1918).


Petir merusak bangunan dan sesaat kemudian timbul angin kencang sehingga
timbul kerusakan.
Kasus ini diputuskan bahwa seluruh kerusakan adalah akibat petir.
Hal yang penting di sini adalah apakah risiko/peril orisinil masih berfungsi dan
merupakan faktor yang dominan dalam kerugian.
Dalam kasus pertama terbukti bahwa tembok itu tahan api, sedangkan dalam
kasus kedua tidak demikian halnya dan angin kecang bertiup sebelum upaya
perbaikan dilakukan.

33
Johnston v West of Scotland Ins. Co. (1928)
Sebuah bangunan yang terbakar terlihat akan roboh.
Karena dikawatirkan robohnya akan berbahaya dan juga kalau tidak dirobohkan
akan membuat api kebakaran menjalar, maka diputuskan utk merobohkan
dengan sengaja terhadap bangunannyang terbakar dan akan roboh tersebut.
Dalam proses perobohan tembok itu ternyata menimpa rumah disebelahnya.
Rumah yang tertimpa tersebut diputuskan mendapat ganti rugi akibat kebakaran,
karena rumah yang tertimpa bangunan roboh tersebut masih masuk dalam satu
peristiwa kebakaran dan proses mencegah kebakaran/kerugian yang lebih besar
lagi.
Tootal Broadhurst Lee Co Vs London and Lancashire Fire Insurance Co
(1908)
Terjadi peristiwa gempa bumi, kemudian pada sebuah rumah ada kompor yang
jatuh sehingga menumpahkan minyak yang ada dalam kompor tersebut dan
menyebabkan kebakaran pada rumah tersebut.
Kebakaran rumah tersebut merambat kegedung disebelahnya dan merambat
lagi kegedung-gedung lainnya sampai kegedung yang berajarak 500 yard dari
rumah pertama yang terbakar.
Dari kejadian ini, yang dianggap sebagai penyebab utama (Proximate Cause)
dari kejadian kebakaran ini adalah gempa bumi.

c.Asuransi Personal Accident

Etherington v Lanchashire and York Accident Ins. Co. (1909).


Seorang pria yang menunggang kuda di tempat yang berbukit-bukit jatuh dari
atas kuda, mendapat cedera dan tetap tidak sadar sepanjang malam di bawah
paparan dingin yang parah.
Keesokan paginya dia ditemukan oleh beberapa orang dan dibawa kerumah
sakit, namun akhirnya meninggal karena Pneumonia (radang paru paru yang
mengakibatkan paru-paru terinfeksi dan terisi cairan).

Di sini penyebab langsung kematiannya adalah kecelakaan atau jatuh dari kuda
(bukan karena penyakit), alasannya adalah bahwa, cedera yang menyebabkan
ketidaksadaran, paparan dingin yang parah dan kemudian pneumonia adalah
semua peristiwa alam berkembang secara bertahap satu demi satu tanpa benar-
benar diintervensi oleh yang baru atau independen.
Dalam kasus ini, memutuskan bahwa perusahaan asuransi harus membayar
klaim asuransinya.

34
Coxe v Employers’ Liability Assurance Corp. (1916).
Seseorang tentara memiliki polis asuransi kecelakaan, yang didalamnya
mengecualikan risiko akibat tidak langsung dari perang.
Dalam tugasnya sebagai perwira militer yang sedang menginspeksi rel kereta
api, ia tertabrak kereta api dan meninggal.
Oleh pengadilan diputuskan bahwa penyebab utama dari kejadian ini adalah
perang, sehingga perusahaan asuransi tidak wajib membayar ganti rugi atas
peristiwa kecelakaan ini.

d.Asuransi Harta Benda Lainnya

Marsden v City and Country Assurance (1865).


Pada saat terjadi kebakaran, kemudian bangunan sekitarnya rusak (kaca pecah)
yang disebabkan oleh ulah orang-orang yang menonton kebakaran tersebut.
Dalam hal ini oleh pengadilan diputuskan bahawa kerugian rumah rusak
disekitarnya itu bukan disebabkan oleh kebakaran, sehingga perusahaan
asuransi tidak bertanggung jawab utk menmenberkan ganti rugi.

e.Liability policies

Vandyke v Fender (1970).


Seorang pegawai mengalami kecelakaan sewaktu ia pulang dari kantor tetapi
tidak melalui route sebagaimana mestinya karena dalam perjalanan itu ia
memang bermaksud mempunyai tujuan lain.
Walaupun majikan memberikan jaminan (asuransi kecelakaan) untuk
pegawainya dalam menjalankan tugas pekerjaan, termasuk pulang dan pergi ke
kantor, tetapi dalam kasus ini pegawai tersebut tidak dapat mengklaim karena
tidak sedang dalam rangka menjalankan tugas.

35