Anda di halaman 1dari 7

HAL: 52

NO 1. Tahap I

Mikroba patogen bergerak menuju tempat yang menguntungkan (pejamu/penderita) melalui


mekanisme penyebaran (mode of transmission). Semua mekanisme penyebaran mikroba patogen
tersebut dapat terjadi di rumah sakit, dengan ilustrasi sebagai berikut.

1. Penularan langsung Melalui droplet nuclei yang berasal dari petugas, keluarga/pengunjung, dan
penderita lainnya. Kemungkinan lain melalui darah saat transfusi darah.

2. Penularan tidak langsung

Seperti yang telah diuraikan , penularan tidak langsung dapat terjadi sebagai berikut.

a) Vehicle-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen melalui benda-benda mati (fotnite)


seperti peralatan medis (instrument), bahan-bahan/material medis, atau peralatan makan/minum untuk
penderita.

Perhatikan pada berbagai tindakan invasif seperti pemasangan kateter, vena punctie, tindakan
pembedahan (bedah minor, pembedahan di kamar bedah), proses dan tindakan medis
obstetri/ginekologi, dan lain-lain.

b) Vector-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen dengan perantara vektor seperti lalat.
Luka terbuka (open wound), jaringan nekrotis, luka bakar, dan gangren adalah kasus-kasus yang rentan
dihinggapi lalat.

c) Food-borne, yaitu penyebaran/penularan mikroba patogen melalui makanan dan minuman yang
disajikan untuk penderita. Mikroba patogen dapat ikut menyertainya sehingga menimbulkan gejala dan
keluhan gastrointestinal, baik ringan maupun berat.

d) Water-borne, kemungkinan terjadinya penularan/penyebaran penyakit infeksi melalui air kecil sekali,
mengingat tersedianya air bersih di rumah sakit sudah melalui uji baku mutu.

e,) Air-borne, peluang terjadinya infeksi silang melalui media perantara ini cukup tinggi karena
ruangan/bangsal yang relatif tertutup, secara teknis kurang baik ventilasi dan pencahayaannya. Kondisi
ini dapat menjadi lebih buruk dengan jumlah penderita yang cukup banyak.
Dari semua kemungkinan penyebaran/penularan penyakit infeksi yang telah diuraikan di atas, maka
penyebab kasus infeksi nosokomial yang sering dilaporkan adalah tindakan invasif melalui penggunaan
berbagai instrumen medis (vehicle-borne).

b. Tahap II

Upaya berikutnya dari mikroba patogen adalah melakukan invasi ke jaringan/organ pejamu (penderita)
dengan cara mencari akses masuk untuk masing-masing penyakit (port d’entree) seperti adanya
kerusakan/lesi kulit atau mukosa dari rongga hidung, rongga mulut, orificium urethrae, dan lain-lain.

1. Mikroba patogen masuk ke jaringan/organ melalui lesi kulit. Hal ini dapat terjadi sewaktu melakukan
insisi bedah atau jarum suntik. Mikroba patogen yang dimaksud antara lain virus Hepatitis B (VHB).

2. Mikroba patogen masuk melalui kerusakan/lesi mukosa saluran urogenital karena tindakan invasif,
seperti:

a) tindakan kateterisasi, sistoskopi;

b) pemeriksaan dan tindakan ginekologi (curretage);

c) pertolongan persalinan per-vaginam patologis, baik dengan bantuan instrumen medis, maupun tanpa
bantuan instrumen medis.

3. Dengan cara inhalasi, mikroba patogen masuk melalui rongga hidung menuju saluran napas. Partikel
in feksiosa yang menular berada di udara dalam bentuk aerosol. Penularan langsung dapat terjadi
melalui percikan ludah (droplet nuclei) apabila terdapat individu yang mengalami infeksi saluran napas
melakukan ekshalasi paksa seperti batuk atau bersin. Dari penularan tidak langsung juga dapat terjadi
apabila udara dalam ruangan terkontaminasi. Lama kontak terpapar (time of exposure) antara sumber
penularan dan penderita akan meningkatkan risiko penularan. Contoh: virus Influenza dan Al.
tuberculosis.

4. Dengan cara ingesti, yaitu melalui mulut masuk ke dalam saluran cerna. Terjadi pada saat makan dan
minum dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Contoh: Salmonella, Shigella, Vibrio, dan
sebagainya.

c. Tahap III

Setelah memperoleh akses masuk, mikroba patogen segera melakukan invasi dan mencari jaringan yang
sesuai (cocok). Selanjutnya melakukan multiplikasi/berkembang biak disertai dengan tindakan destruktif
terhadap jaringan, walaupun ada upaya perlawanan dad pejamu. Sehingga terjadilah reaksi infeksi yang
mengakibatkan perubahan morfologis dan gangguan fisiologis/ fungsi jaringan.

Reaksi infeksi yang terjadi pada pejamu disebabkan oleh adanya sifat-sifat spesifik mikroba patogen.

a. Infeksivitas

kemampuan mikroba patogen untuk berinvasi yang merupakan langkah awal melakukan serangan ke
pejamu melalui akses masuk yang tepat dan selanjutnya mencari jaringan yang cocok untuk melakukan
multiplikasi.

b. Virulensi

Langkah mikroba patogen berikutnya adalah melakukan tindakan destruktif terhadap jaringan dengan
menggunakan enzim perusaknya. Besar-kecilnya kerusakan jaringan atau cepat lambatnya kerusakan
jaringan ditentukan oleh potensi virulensi mikroba patogen.

c. Antigenitas

Selain memiliki kemampuan destruktif, mikroba patogen juga memiliki kemampuan merangsang
timbulnya mekanisme pertahanan tubuh pejamu melalui terbentuknya antibodi. Terbentuknya antibodi
ini akan sangat berpengaruh terhadap reaksi infeksi selanjutnya.

d. Toksigenitas

Selain memiliki kemampuan destruktif melalui enzim perusaknya, beberapa jenis mikroba patogen
dapat menghasilkan toksin yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan penyakit.

e. Patogenitas

Sifat-sifat infeksivitas, virulensi, serta toksigenitas mikroba patogen pada satu sisi, dan sifat antigenitas
mikroba patogen pada sisi yang lain, menghasilkan gabungan sifat yang disebut patogenitas. Jadi sifat
patogenitas mikroba patogen dapat dinilai sebagai “deralat keganasan” mikroba patogen atau respons
pejamu terhadap masuknya kuman ke tubuh pejamu.

Reaksi infeksi adalah proses yang terjadi pada pejamu sebagai akibat dari mikroba patogen
mengimplementasikan ciri-ciri kehidupannya terhadap pejamu. Kerusakan jaringan maupun gangguan
fungsi jaringan akan menimbulkan manifestasi klinis, yaitu manifestasi klinis yang bersifat sistemik dan
manifestasi klinis yang bersifat khusus (organik).
Manifestasi klinis sistemik berupa gejala (symptom) seperti domain, merasa lemah dan terasa tidak enak
(malaise), nafsu makan menurun, mual, pusing, dan sebagainya. Sedangkan manifestasi klinis khusus
akan memberikan gambaran klinik sesuai dengan organ yang terserang. Contoh:

• Bila organ paru terserang, maka akan muncul gambaran klinik seperti batuk,sesak napas,nyeri dada,
gclisah, dan sebagainya.

• Bila organ alat pencernaan makanan terserang, maka akan muncul gambaran klinik seperti mual,
muntah, kembung, kejang perut, dan sebagainya.

Mikroba patogen yang telah bersarang pada jaringan/organ yang sakit akan terus berkembang biak,
sehingga kerusakan dan gangguan fungsi organ semakin meluas. Demikian seterusnya, di mana pada
suatu kesempatan, mikroba patogen ketuar dari tubuh pejamu (penderita) dan mencari pejamu baru
dengan cara menumpang produk proses metabolisme tubuh atau produk proses penyakit dari pejamu
yang sakit.

NOMOR 2

Dolor

Dolor adalah rasa nyeri, nyeri akan terasa pada jaringan yang mengalami infeksi. Ini terjadi karena sel
yang mengalami infeksi bereaksi mengeluarkan zat tertentu sehingga menimbulkan nyeri menangis.
Rasa nyeri mengisyaratkan bahwa terjadi gangguan atau sesuatu yang tidak normal [patofisiologis] jadi
jangan abaikan rasa nyeri karena mungkin saja itu sesuatu yang berbahaya.

Kalor

Kalor adalah rasa panas, pada daerah yang mengalami infeksi akan terasa panas. Ini terjadi karena tubuh
mengkompensasi aliran darah lebih banyak ke area yang mengalami infeksi untuk mengirim lebih
banyak antibody dalam memerangi antigen atau penyebab infeksi.

Tumor

Tumor dalam kontek gejala infeksi bukanlah sel kanker seperti yang umum dibicarakan tidak boleh tapi
pembengkakan. Pada area yang mengalami infeksi akan mengalami pembengkakan karena peningkatan
permeabilitas sel dan peningkatan aliran darah.
Rubor

Rubor adalah kemerahan, ini terjadi pada area yang mengalami infeksi karena peningkatan aliran darah
ke area tersebut sehingga menimbulkan warna kemerahan.

Fungsio Laesa

Fungsio laesa adalah perubahan fungsi dari jaringan yang mengalami infeksi. Contohnya jika luka di kaki
mengalami infeksi maka kaki tidak akan berfungsi dengan baik seperti sulit berjalan atau bahkan tidak
bisa berjalan.

NOMOR 3

kulit dingin atau lembab kulit pucat pernapasan dangkal dan cepat denyut jantung cepat sedikit atau
tidak ada urin yang dihasilkan kebingungan kelemahan nadi lemah bibir biru dan kuku rasa melayang
hilang kesadaran

Jika terjadi pendarahan internal, maka akan disertai dengan gejala berikut: sakit perut darah dalam tinja
BAB warna hitam (melena) darah dalam urin muntah darah sakit dada perut membesar

NOMOR 4

 Posisikan pasien berbaring dengan kaki ditinggikan sekitar 12 inci (lebih tinggi dari dada).
 Jangan gerakkan kepala dan bagian leher apabila dicurigai terdapat cedera pada kepala, leher,
atau punggung.
 Menyelimuti pasien untuk menjaga kehangatan agar terhindar dari hipotermia. Dan jaga selalu
agar tetap nyaman.
 Jangan memberikan pasien cairan melalui mulut. Dikhawatirkan dengan kesadaran yang sudah
menurun pasien bisa tersedak.
 Jika ada pisau, pecahan kaca, panah, atau benda tajam lainnya yang tertancap jangan mencoba
untuk mecabutnya. Dikhawatirkan akan menyebabkan pendarahan yang hebat.
 Apabila terlihat ada luka berdarah, maka tutuplah dengan kain bersih dan tekan, pertahankan
untuk mengurangi perdarahan.
 Hindari membubuhkan serbuk kopi atau lainnya pada luka, ini malah akan membuat luka
menjadi kotor dan menyulitkan dokter dalam penanganan selanjutnya.

HALAMAN 53

NOMOR 1.

Perbedaan budaya dapat menyebabkan tekanan emosional antara pasien dan pemberi layanan
kesehatan atau penyedia. Komunikasi yang efektif sangat penting dalam mengobati pasien dan
mempromosikan pemulihan cepat mereka. Namun ketika dua orang berkomunikasi budaya yang
berbeda terkadang banyak kesalahpahaman terjadi karena perbedaan latar belakang pengalaman sikap
asumsi dan harapan. Merawat orang-orang dari latar belakang budaya yang beragam dapat melibatkan
banyak kompleksitas. Sebagai perawat Anda perlu mengembangkan pendekatan untuk mengakui dan
menghormati budaya pasien dari budaya yang berbeda.

NOMOR 2

masyarakat menganggap bahwa sakit adalah keadaan individu mengalami serangkaian gangguan fisik
yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel, sering
menangis dan tidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan
nafsu makan, atau "kantong kering" (tidak punya uang). Selanjutnya masyarakat menggolongkan
penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu :

1. Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia

2. Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.

3. Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.). Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam
golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan
makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan
dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan
mereka terhadap penyebab sakit

NOMOR 3

A. Mempertahankanbudaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
Perencanaan dan implementasi keperawatan
7 diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat
meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap
pagi

B. Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat
membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung
peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau
amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain

C. Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan.
Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak
merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih Model konseptual yang
dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya
digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model). Model ini menyatakan bahwa
proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan
solusi terhadap masalah klien. Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.