Anda di halaman 1dari 16

1

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam


kehidupan sehari-hari. Pentingnya Bahasa sebagai identitas manusia, tidak
bisa dilepaskan dari adanya pengakuan manusia terhadap pemakaian Bahasa
dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Untuk menjalankan tugas
kemanusiaan, manusia hanya punya satu alat, yakni Bahasa. Dengan Bahasa,
manusia dapat mengungkapkan apa yang ada di benak mereka. Sesuatu yang
sudah dirasakan sama dan serupa dengannya, belum tentu terasa serupa,
karena belum terungkap dan diungkapkan. Hanya dengan Bahasa, manusia
dapat membuat sesuatu terasa nyata dan terungkap.

Era globalisasi dewasa ini mendorong perkembangan Bahasa secara


pesat, terutama Bahasa yang datang dari luar atau Bahasa Inggris. Bahasa
Inggris merupakan Bahasa Internasional yang digunakan sebagai pengantar
dalam berkomunikasi antar bangsa. Dengan ditetapkannya Bahasa Inggris
sebagai Bahasa Internasional (Lingua Franca), maka orang akan cenderung
memilih untuk menguasai Bahasa Inggris agar mereka tidak kalah dalam
persaingan di kancah Internasional sehingga tidak buta akan informasi dunia.

Tak dipungkiri memang pentingnya mempelajari Bahasa asing, tapi


alangkah jauh lebih baik bila kita tetap menjaga, melestarikan dan
membudayakan Bahasa Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui, Bahasa
merupakan identitas suatu bangsa. Oleh karena itu, peranan Bahasa
Indonesia menjadi sangat penting.
2

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting yang


tercantum didalam:

1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, “Kami putra dan putri
Indonesia menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
2. Undang-undang dasar Republik Indonesia 1945 BAB XV (bendera,
Bahasa, dan lambing negara serta lagu kebangsaan). Pasal 36
menyatakan bahwa “Bahasa negara ialah Bahasa indonesia”.

Dengan begitu, kedudukan Bahasa Indonesia dibagi menjadi:

1. Bahasa Nasional
Kedudukannya berada diatas Bahasa-bahasa daerah. Hasil perumusan
seminar politik Bahasa nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada
tanggal 25-28 Februari 1975 menegaskan bahwa dalam kedudukannya
sebagai Bahasa nasional, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut:
a. Lambang kebanggaan nasional
Sebagai lambang kebanggaan, Bahasa Indonesia mencerminkan
nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita.
b. Lambang identitas nasional
Sebagai lambang identitas nasional, Bahasa Indonesia merupakan
lambang bangsa Indonesia. Dengan demikian, Bahasa Indonesia
dapat mengetahui identitas seseorang yaitu sifat, tingkah laku, dan
watak sebagai bangsa Indonesia.
c. Alat pemersatu berbagai suku bangsa
d. Alat penghubung antar budaya dan antar daerah
Dengan Bahasa Indonesia seseorang dapat saling berhubungan satu dengan
yang lain sedemikian rupa sehingga kesalah pahaman sebagai akibat
perbedaan latar belakang sosial budaya dan Bahasa dapat dihindari.
3

2. Bahasa Negara (Bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)


Dalam hasil perumusan seminar politik Bahasa nasional yang
diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 dikemukan
bahwa didalam kedudukannya sebagai Bahasa negara, Bahasa Indonesia
berfungsi sebagai:
a. Bahasa resmi kenegaraan
b. Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
c. Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan
d. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
e. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

A. Sejarah Bahasa Indonesia


Sejarah Bahasa Indonesia tidak lepas dari Bahasa melayu. Ki Hajar
Dewantara pernah mengemukakan gagasannya yang berbunyi: “Yang
dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ yaitu Bahasa Melayu yang sungguh pun
pokoknya berasal dari ‘Melayu Riau’, akan tetapi yang sudah ditambah, diubah
atau dikurangi menurut keperluan zaman dan alam baharu, hingga Bahasa itu
lalu mudah dipakai oleh rakyat di seluruh Indonesia; pembaharuan Bahasa
Melayu hingga menjadi Bahasa Indonesia itu harus dilakukan oleh kaum ahli
yang beralam baharu, ialah alam kebangsaan Indonesia”
Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Penggunaan istilah
“Bahasa Melayu” telah dilakukan pada masa sekitar 683-686 M, yaitu angka
tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno dari
Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa
atas perintah raja kerajaan Sriwijaya. Awal penamaan Bahasa Indonesia
sebagai jati diri bangsa bermula dari sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober
1928 di sana pada kongres nasional. Kedua di Jakarta diumumkanlah
penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa untuk negara Indonesia
pasca-merdeka. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, yaitu Bahasa
4

Jawa (yang sebenarnya juga Bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau
memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang
dituturkan di Riau.
Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai Bahasa persatuan Negara Republik
Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1. Jika Bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau golongan lain
di Republik Indonesia akan merasa di jajah oleh suku Jawa yang
merupakan golongan mayoritas di Republik Indonesia.
2. Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari di bandingkan dengan
Bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan Bahasa halus, biasa, dan kasar
yang digunakan untuk orang yang berbedah dari segi usia, derajat,
ataupun pangkat.
3. Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu
Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Maluku, Jakarta (Betawi)
ataupun Kutai, dengan pertimbangan: pertama, suku Melayu berasal
dari Riau, Sultan Malaka yang terakhir pun lari ke Riau selepas
Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, sebagai lingua franca, Bahasa
Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari
Bahasa Tionghoa Hokkien, ataupun dari Bahasa lainnya.
4. Penggunaan Bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik
Indonesia. Pada 1945, penggunaan Bahasa Melayu selain Republik
Indonesia yaitu Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II 1945 di Medan, antara lain


menyatakan bahwa Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari Bahasa
Melayu yang sejak zaman dahulu sudah digunakan sebagai lingua franca
(Bahasa perhubungan). Bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga
hampir di seluruh Asia Tenggara sejak abad ke VII. Bukti yang menyatakan itu
adalah ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit, berangka 683 M
5

(Palembang), Talang Tuwo, berangka 684 M (Palembang), Kota Kapur,


berangka 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi, berangka 688 M (Jambi).
Prasasti itu bertuliskan Pra-Nagari berbahasa Melayu Kuno. Bahasa Melayu
Kuno tidak hanya digunakan pada zaman Sriwijaya, karena di Jawa Tengah
juga ditemukan prasasti tahun 832 M dan di Bogor tahun 942 M yang
menggunakan Bahasa Melayu kuno.

Bahasa Melayu menyebar kepelosok Nusantara bersamaan dengan


menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah
diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai Bahasa perhubungan antar
pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa, dan antar kerajaan karena
tidak mengenal tingkat tutur. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah
Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah.
Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai Bahasa, terutama dari
Bahasa Sanskerta, Persia, Arab, dan Bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu
pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.
Perkembangan Bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan
mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.

Secara sosiologis, dapat dikatakan bahwa Bahasa Indonesia bisa


diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Dimana para pemuda
Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar
mengangkat Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia, yang menjadi Bahasa
persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia. Secara yuridis, pada tanggal 18
Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya dan
ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 36. Meskipun demikian, hanya sebagian
dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakan bahasa Indonesia
dengan baik dan benar, karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi
masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan Bahasa daerahnya masing-
6

masing, seperti Bahasa Madura, Bahasa Jawa, Bahasa Sumbawa dan lain-
lain.

B. Bahasa Negara
Sebagaimana kedudukannya sebagai Bahasa nasional Bahasa
Indonesia sebagai Bahasa negara/resmi pun mengalami perjalanan sejarah
yang panjang. Secara resmi adanya Bahasa Indonesia dimulai sejak Sumpah
Pemuda, 28 Oktober 1928. Ini tidak berarti sebelumnya tidak ada. Ia
merupakan sambungan yang tidak langsung dari Bahasa Melayu. Dikatakan
demikan, sebab pada waktu itu Bahasa Melayu masih juga digunakan dalam
lapangan pemakaian yang berbeda. Bahasa Melayu digunakan sebagai
Bahasa resmi kedua oleh pemerintah jajahan Hindia Belanda, sedangkan
Bahasa Indonesia digunakan di luar situasi pemerintahan tersebut oleh
masyarakat yang mendambakan persatuan Indonesia dan yang menginginkan
kemerdekaan Indonesia. Demikianlah pada saat itu Indonesia terjadi dualisme
pemakaian bahasa yang sama tubuhnya, tetapi berbeda jiwanya: jiwa colonial
dan jiwa nasional

Bersamaan dengan diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada


tanggal 17 Agustus 1945, diangkat pulalah Bahasa Indonesia sebagai Bahasa
negara. Hal itu dinyatakan dalam UUD 1945, Bab XV, pasal 36. Fungsi bahasa
Indonesia sebagai Bahasa negara/resmi menurut Seminar Politik Bahasa
Nasional pada tanggal 25 s/d 28 Februari 1975 sebagai berikut:

1. Bahasa resmi kenegeraan


2. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan
3. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk
kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta
pemerintah
7

4. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan


ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Adapun fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukan sebagai bahasa


nasional manurut hasil perumusan seminar politik bahasa Indonesia pada
tanggal 25-28 Februari 1975 bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional yang berfungsi sebagai berikut:

a. Lambang kabanggaan nasional


b. Lambang identitas nasional
c. Alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar
belakang sosial dan bahasanya
d. Alat perhubungan antar budaya dan antar daerah

C. Bahasa Persatuan
Bahasa mencerminkan identitas suatu bangsa. Dan pula, bahasa pada
dasarnya unik. Bahasa yang satu tentu berbeda dengan bahasa yang lain,
serta memiliki ciri khas sendiri sebagai bentuk keunikannya. Begitu pula
bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga dinamis, yang berarti terus
menghasilkan kosakata baru, baik melalui penciptaan ataupun penyerapan
dari bahasa daerah dan asing.
Bahasa Melayu memang telah digunakan sebagai bahasa perantara
(lingua franca) atau bahasa pergaulan. Bahasa Melayu yang menjadi dasar
bahasa Indonesia, sebagian besar mirip dengan dialek-dialek bahasa Melayu
Kuno. Bahkan menurut sejarahnya, kerajaan Sriwijaya yang dulu merupakan
kerajaan yang maju di wilayah Asia Tenggara menggunakan bahasa Melayu
Kuno sebagai bahasa perantara dengan kerajaan-kerajaan dan negara-negara
di sekitarnya.
8

Pada masa kejayaan kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu telah berfungsi


sebagai:
1. Bahasa kebudayaan, yaitu bahasa masyarakat dalam kehidupan
dan bersastra.
2. Bahasa perhubungan, yaitu bahasa penghubung antarsuku di
Nusantara.
3. Bahasa perdagangan, yaitu bahasa antar pedagang dalam transaksi
jual beli baik antar pedagang dari dalam ataupun antar pedagang
dari luar nusantara.
4. Bahasa resmi kerajaan, yaitu bahasa yang digunakan di lingkungan
kerajaan.

Melalui hasil pemikiran para tokoh pergerakan pada masa penjajahan


Belanda tentang bahasa persatuan yang sangat diperlukan sebagai sarana
komunikasi dan sarana pergaulan dalam kehidupan sehari-hari, akhirnya
dipilih bahasa Melayu dengan pertimbangan bahwa bahasa Melayu telah
dikenal dan dipakai sebagian besar rakyat Nusantara pada saat itu.
Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional merupakan usulan dari
Mohammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah.

Mohammad Yamin (dalam Akhsanitaqwim Lalu, 2012) mengatakan


bahwa: “Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di
Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan
menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua
bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa
pergaulan atau bahasa persatuan”.

Begitu pesatnya perkembangan bahasa Melayu di Indonesia hingga


penyebarannya mencakup ke seluruh pelosok Nusantara mendorong rasa
persatuan bangsa Indonesia. Para pemuda yang bergabung dalam
9

pergerakan kemudian secara sadar mencetuskan bahasa Melayu sebagai


bahasa Indonesia melalui ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Pada saat
itulah bahasa Indonesia resmi diakui. Namun secara Yuridiis bahasa Indonesia
diakui pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan Indonesia.

Ada empat faktor yang menyebabkan bahasa melayu diangkat menjadi


bahasa Indonesia, yaitu:

1. Bahasa Melayu sejak dulu telah menjadi lingua franca atau bahasa
pengantarbdi Indonesia.
2. Bahasa Melayu memiliki sistem yang sederhana serta mudah dipelajari
karena bahasa Melayu tidak mengenal tuturan.
3. Suku-suku lain di Indonesia sukarela mengakui dan menerima bahasa
Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia.
4. Bahasa Melayu memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai bahasa
kebudayaan.

Setelah lama menjadi lingua franca di kawasan tanah air, dan karena
bahasa Melayu mudah dipelajari dilihat dari kesedarhanaan sistem tata bunyi,
tata kata, dan tata kalimat akhirnya bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa
persatuan. Selain alasan itu, kesadaran dari seluruh bangsa yang ada di
Indonesia akan pentingnya kesatuan dan persatuan dan adanya kesanggupan
pada bahasa Melayu untuk dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti
luas, dan akan berkembang menjadi bahasa persatuan.

D. Bahasa Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni


Sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, bahasa
Indonesia wajib digunakan sebagi bahasa pengantar diseluruh lembaga
pendidikan. Sebagai konsekuensi logisnya semua jenjang pendidikan di
Indonesia, wajib mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia ini dari taman
kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Dan untuk itu beberapa
10

hukumnya sudah jelas, mulai dari UUD 1945, UU NO 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas, Permen No 22 tentang Standar Isi sampai dengan SK Dirjen Dikti
No 43 Tahun 2006 tentang mata kuliah pengembangan kepribadian.
Sebagai konsekuensi pemakaian Bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar di lembaga pendidikan tersebut, maka materi pelajaran yang
berbentuk media cetak hendaknya juga berbahasa Indonesia. Hal ini dapat
dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing atau
menyusunnya sendiri. Apabila hal ini dilakukan, sangatlah membantu
peningkatan perkembangan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek). Dalam kedudukannya sebagai bahasa
ilmu, Alex dan Ahmad HP menyampaikan bahwa Bahasa Indonesia berfungsi
sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan
pembangunan nasional. Penyebarluasan teknologi dan pemanfaatannya
kepada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Negara dilakukan
dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Sunaryo (2000:6) berpendapat bahwa tanpa adanya bahasa IPTEK
tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu Bahasa Indonesia di dalam
struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu
sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana
berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan
dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Bahasa Indonesia memiliki dua
kedudukan yaitu sebagai bahasa Nasional dan sebagai bahasa negara sesuai
dengan UUD 1945.

Seni dan bahasa memainkan peranan yang besar dan signifikan dalam
perkembangan satu sama lain. Bahkan kedua-dua bidang itu saling
mempengaruhi dan menyumbang terhadap perkembangan satu sama lain.
Atas dasar itu, tidak terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa kemunduran
11

salah satu bidang tersebut akan berpengaruh pada bidang yang lain. Secara
umum, seni sebagai hasil pantulan adab, adat dan budaya menggunakan
bahasa sebagai wadah menyampaikan gagasan, teknik serta falsafah seni.
Namun begitu, sebagai sebuah bidang yang bersifat figurative dan abstrak,
seniman memerlukan sebuah wahana yang bersifat non-figuratif untuk
mendukung hasil karya mereka. Bahasa menyumbang terhadap
perkembangan seni melalui keupayaannya untuk melaksanakan tugas utama
yang diperlukan seni, yakni sebagai pendukung konsep dan makna terhadap
gambaran abstrak seni.

Fungsi bahasa Indonesia sebagai seni beberapa fungsi bahasa dalam


kesenian masyarakat adalah:

1. Fungsi pemersatu, yaitu menghubungkan semua penutur berbagai


bahasa
2. Pemberi kekhasan (unik) yaitu untuk membedakan bahasa yang satu
dengan bahasa yang lain.
3. Pembawa wibawa yaitu penutur yang mahir berbahasa dengan baik dan
benar memperoleh wibawa di mata orang lain.
4. Sebagai kerangka acuan yaitu bahasa memiliki norma dan kaidah yang
dijadikan tolak ukur bagi benar atau tidaknya bahasa seseorang.

E. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu fungsi bahasa
secara umum dan fungsi bahasa secara khusus.
 Fungsi bahasa secara umum yaitu:
1. Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan
Mampu mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, dan
perasaan. Melalui bahasa kita dapat menyatakan secara terbuka
segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita.
12

2. Sebagai alat komunikasi


Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai komunikasi, berarti
memiliki tujuan agar para pembaca atau pendengar menjadi sasaran
utama perhatian seseorang. Bahasa yang dikatakan komunikatif
karena bersifat umum.
3. Sebagai alat berinteraksi dan beradaptasi sosial
Pada saat beradaptasi di lingkungan sosial, seseorang akan memilih
bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang
dihadapi. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa memudahkan
seseorang untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa.
4. Sebagai alat kontrol sosial
Yang mempengaruhi sikap, tingkahlaku, serta tutur kata seseorang.
kontrol sosial dapat diterapkan pada diri sendiri dan masyarakat,
buku-buku pelajaran, ceramah agama, orasi ilmiah, mengikuti
diskusi serta iklan layanan masyarakat. Contoh lain kontrol sosial
yang sangat muda diterapkan adalah sebagai alat peredam rasa
marah yaitu menulis.
 Fungsi bahasa secara khusus
1. Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari
Manusia adalah makhluk sosial yang tak terlepas dari hubungan
komunikasi dengan makhluk sosial lainnya. Komunikasi yang
berlangsung dapat menggunakan bahasa formal dan non formal.
2. Mewujudkan seni (sastra)
Bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui
media seni, seperti syair, puisi, prosa dan lain-lain. Terkadang
bahasa yang digunakan yang memiliki bahasa denotasi atau makna
yang tersirat.
13

3. Mempelajari bahasa kuno


4. Mengeksploitasi IPTEK
Selain itu bahasa Indonesia juga mempunyai empat fungsi sebagai
berikut:
1. Sebagai lambang kebangsaan negara
2. Lambang identitas negara
3. Alat penghubung antar warga, antar daerah, antar budaya.
4. Alat yang menyatukan berbagai suku bangsa dengan latar belakang
sosial budaya yang berbeda.

F. Peran Bahasa Dalam Pembangunan Bangsa


Pernyataan sikap “bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa
satu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”
dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan perwujudan politik
bangsa Indonesia yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai
lapisan masyarakat ke dalam satu-kesatuan bangsa Indonesia. Bahasa
Indonesia mencapai puncak perjuangan politik sejalan dengan perjuangan
politik bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya bahasa Indonesia
sebagai bahasa negara (pada pasal 36 UUD 1945, dan juga hasil amandemen
UUD, Agustus 2002).
Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara telah
menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni (IPTEKS). Ipteks berkembang terus sejalan dengan perkembangan
yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Bahasa
Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu yang belum pernah dijadikan
sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari
14

berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi, karena bahasa
Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif,
berdampingan dan bersama-sama dengan bahasa daerah yang ada di
Nusantara dalam mengembangkan dan melancarkan berbagai aspek
kehidupan dan kebudayaan, termaksud pengembangan bahasa-bahasa
daerah.
Ditingkat nasional sudah ada Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional sebagai lembaga yang mendapat mandat dari pemerintah untuk
melakukan perencanaan bahasa. Pada tingkat provinsi dan Kabupaten/kota
dibentuk lembaga perpanjangan penyelengaraan Pusat Bahasa berupa balai
atau kantor-kantor bahasa yang berfungsi untuk membina dan
mengembangkan bahasa dan sastra.
15

DAFTAR PUSTAKA

Akhsanitaqwin Lalu. 2012. Sejarah Bahasa Indonesia. Makalah Bahasa


Indonesia. Prodi S1 Teknik Sipil. Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik.
Universitas Mataram.
Ambarwati D.A. 2012. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam
Pembangunan Bangsa. Jurusan Teknik Imformatika. Sekolah Tinggi
Teknik Qomarrudin.Gresik.
Anonym. 2013. Makalah Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia.
(http://selidiki86.blogspot.com/2013/03/makalah-sejarah-perkembangan-
bahasa_9.htmlV).
Fajar Fitrianto. 2010. Sejarah Singkat Bahasa Indonesia sebagai Bahasa
Negara/Resmi dan sebagai Bahasa Nasional. Makalah Bahasa Indonesia
(https://fajarfitrianto.blogspot/2010/makalah-bahasa-indonesia.html)
Halima Amran.1979. Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Halima Amran.1980. Politik Bahasa Indonesia I.Jakarta: Balai Pustaka
Http://abdurachman.blog.wordpress.com/2015/fungsi bahasa sebagai bahasa
seni
Http://ambar.dewy.lotus.blogspot.com/2013/02/26/makalah-fungsi-dan-
peranan-bahasa-Indonesia-dalam-pembangunan
Kridaleksana, Karimurti. 1980. Fungsi dan Sikap Bahasa. Flores: Nusa Indah
Mudhofar, M.2010. Kapita Selekta Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya:
Pustaka Gama
Samsuri. 1976. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga
16