Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gangguan penyesuaian adalah reaksi maladaptif jangka pendek terhadap apa
yang disebut oleh orang awam sebagai nasib malang pribadi atau apa yang disebut oleh
dokter psikiatrik sebagai stresor psikososial.1
Menurut Schneiders (1964) mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah proses
kecakapan mental dan tingkah laku seseorang dalam menghadapi tuntunan-tuntunan
baik dari dalam diri sendiri maupun lingkungannya. Penyesuaian ditentukan oleh
bagaimana seseorang dapat bergaul dengan diri orang lain secara baik. Tanggapan-
tanggapan terhadap orang lain atau lingkungan sosial pada umumnya dapat dipandang
sebagai cermin apakah seseorang dapat mengadakan penyesuaian dengan baik atau
tidak.2
Manson (dalam Meichati, 1974) mengemukakan terdapat tujuh faktor yang
mempengaruhi penyesuaian diri yaitu kecemasan, depresi, kepekaan sosial, sentimen,
kegagalan, kesepian, dan hubungan pribadi. Faktor-faktor ini selanjutnya dikembangkan
oleh Manson untuk menyusun skala penyesuaian diri yang disebut “The Manson
Evaluation”. Menurut Tallent (1978) bahwa ada individu yang berhasil dalam
melakukan penyesuaian diri tetapi ada yang terhambat penyesuaian dirinya.
Penyesuaian diri yang baik akan memberikan kepuasan yang lebih besar bagi kehidupan
seseorang. Hanya individu yang mempunyai kepribadian kuat yang mampu
menyesuaikan diri secara baik. Salah satu kepribadian yang penting adalah harga diri.2
Dalam satu penelitian, 5 persen perawatan di rumah sakit selama periode tiga
tahun diklasifikasikan sebagai menderita gangguan penyesuaian. Gangguan paling
sering didiagnosa pada remaja tetapi dapat terjadi pada setiap usia. Menurut DSM-5
prevalensi gangguan penyesuaian pada orang dewasa di Amerika Serikat dalam kurun
waktu 1 tahun belakangan adalah sekitar 1.5%. Sedangkan prevalensi berdasarkan jenis
kelamin menunjukkan laki-laki memiliki prevalensi lebih besar dibandingkan wanita

1
2

yaitu 1.6% da 1.4%.1,3


Menurut DSM-5 pada gangguan penyesuaian mengusulkan beberapa revisi
terhadap kriteria diagnostik. Kelainan ini membutuhkan gejala yang dimulai dalam
waktu 3 bulan sebagai respons terhadap stresor yang dapat diidentifikasi (durasi onset
yang lebih lama untuk kehilangan). Gejala akan berkurang dalam waktu 6 bulan setelah
stressor dan menghilang atau ketika adaptasi baru terjadi. Untuk subtipe kematian,
gejala mungkin timbul dalam 12 bulan untuk orang dewasa dan 6 bulan untuk anak-
anak setelah kematian kerabat dekat atau teman.4

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menguraikan teori-teori tentang
gangguan penyesuaian mulai dari definisi, diagnosis, penatalaksanaan dan
prognosisnya. Penyusunan laporan kasus ini sekaligus untuk memenuhi persyaratan
pelaksanaan kegiatan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

1.3. Manfaat
Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:
1. Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik
Hasil penulisan ini dapat digunakan untuk menambah informasi serta sebagai bahan
tambahan untuk meningkatkan kemampuan pemeriksaan dalam mengetahui gambaran
gangguan penyesuaian.
2. Institusi Akademik
Makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan serta data untuk mengevaluasi
materi yang telah disampaikan kepada mahasiswa kedokteran.
3. Keluarga dan Pasien
Keluarga dan pasien diharapkan dapat menambah wawasan mengenai gambaran
gangguan penyesuaian serta pemeriksaan apa saja yang dibutuhkan untuk menegakkan
gangguan penyesuaian.
3

4. Penulis
Laporan kasus ini semoga dapat memberikan tambahan wawasan dan pemahaman
kepada penulis dalam menentukan jenis pemeriksaan yang tepat serta dapat
mengevaluasi gambaran gangguan penyesuaian sehingga dapat mencegah komplikasi
yang nantinya tidak diinginkan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Gangguan penyesuaian adalah reaksi maladaptif jangka pendek terhadap apa
yang disebut oleh orang awam sebagai nasib malang pribadi atau apa yang disebut oleh
dokter psikiatrik sebagai stresor psikososial. Gangguan penyesuaian diharpkan sembuh
dengan spontan segera setelah stresor dihilangkan atau, jika stresor menetap, dicapai
tingkat adaptasi yang baru. Respons adalah maladaptif karena adanya gangguan dalam
fungsi sosial atau pekerjaan atau karena gejala atau perilaku adalah di luar respons yang
normal, lazim, atau yang diperkirakan terhadap stresor tersebut.1

2.2. Epidemiologi
Data berbasis populasi besar tentang gangguan penyesuaian jarang terjadi.
Survei epidemiologis yang ketat secara metodologis seperti Epidemiological Catchment
Area, Survei Komorbid Nasional, dan Survei Morbiditas Psikiatri Nasional tidak
mengevaluasi gangguan penyesuaian. Namun, beberapa upaya telah dilakukan untuk
menilai prevalensi gangguan penyesuaian. The Outcome of Depression International
Network (ODIN) menunjukkan kelainan penyesuaian pada kurang dari 1% populasi.
Sebuah studi baru-baru ini pada populasi umum menemukan bahwa prevalensi
gangguan penyesuaian menjadi 0,9%, ketika kriteria penurunan signifikan secara klinis
dipertimbangkan. 1,4% sampel lebih lanjut didiagnosis dengan gangguan penyesuaian
tanpa memenuhi kriteria penurunan klinis.4,5
Gangguan penyesuaian biasanya terlihat pada keadaan perawatan primer dimana
prevalensi 1 tahun bervariasi dari 11% sampai 18% dari mereka yang memiliki
gangguan kejiwaan klinis. Sebuah survei cross-sectional baru-baru ini terhadap 3815
pasien dari 77 pusat kesehatan primer ditemukan prevalensi gangguan penyesuaian
menjadi 2,94%. Sebuah studi terhadap pasien yang diobati melalui keadaan darurat
psikiatri menunjukkan bahwa 7,1% orang dewasa dan 34,4% remaja memiliki gangguan

4
5

penyesuaian pada saat masuk, meskipun diagnosis pada beberapa pasien berubah
selama rehospitalisasi. Sebuah studi dari Belgia oleh Bruffaerts dkk. menemukan
gangguan penyesuaian pada 17,1% pasien yang hadir dalam keadaan darurat psikiatri.
Di antara pasien yang dirawat di unit rawat inap psikiatri sektor publik selama periode 6
bulan, gangguan penyesuaian didiagnosis pada 9% pasien (diagnosis paling umum
ketiga setelah penyakit psikotik pada 62% dan gangguan mood pada 24%).4,5
Kursus dan hasil juga telah dipelajari untuk gangguan penyesuaian. Setelah 5
tahun follow-up dari 100 pasien, 71% orang dewasa dan 44% remaja dengan gangguan
penyesuaian menjadi lebih baik. Kelompok dewasa menderita gangguan depresi berat
dan melakukan penyalahgunaan alkohol sementara remaja mengembangkan gangguan
kejiwaan yang lebih luas seperti skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan kepribadian
antisosial, penyalahgunaan obat terlarang, dan gangguan depresi berat. Prediktor hasil
yang buruk adalah kronisitas dan gangguan perilaku. Risiko bunuh diri dalam gangguan
penyesuaian ditemukan sebesar 4%, sebagian besar seiring dengan adanya
penyalahgunaan alkohol. Interval antara niat dan tindakan bunuh diri adalah kurang dari
1 bulan dalam gangguan penyesuaian, yang lebih rendah dibandingkan dengan
gangguan lainnya (depresi 3 bulan, gangguan bipolar 30 bulan, dan skizofrenia 47
bulan). Satu studi baru-baru ini tentang otopsi psikologis tentang bunuh diri
menemukan bahwa 15% memiliki gangguan penyesuaian.4,5

2.3. Etiologi
Gangguan penyesuian dicetuskan oleh satu atau lebih stresor. Beratnya stresor
atau stresor-stresor tidak selalu meramalkan keparahan gangguan penyesuaian; beratnya
stresor adalah fungsi yang kompleks dari konteks derajat, kuantitas, durasi,
reversibilitas, lingkungan dan personal. Sebagai contoh, kematian orang tua adalah
berbeda bagi orang yang berusia 10 tahun dan 40 tahun. Organisasi kepribadian dan
norma dan nilai-nilai kultural atau kelompok berperan terhadap ketidakseimbangan
respon terhadap stresor.
Stresor mungkin tunggal, seperti perceraian atau kehilangan pekerjaan, atau
multipel seperti kematian orang yang penting yang terjadi dalam waktu yang sama
6

dengan penyakit fisik yang kehilangan pekerjaan yang dialami orang tersebut. Stresor
mungkin rekuren, seperti kesulitan bisnis musiman, atau kontinu, seperti penyakit
kronis atau hidup dalam kemiskinan. Hubungan dalam keluarga yang tidak sesuai
mungkin mengakibatkan gangguan penyesuaian yang mempengaruhi keseleruhan
sistem keluarga. Atau gangguan mungkin terbatas pada pasien, seperti jika pasien
merupakan korban tindakan kriminal, atau menderita penyakit fisik. Sering kali
gangguan penyesuaian terjadi dalam lingkungan kelompok atau masyarakat, dan stresor
mempengaruhi beberapa orang, seperti pada bencana alam atau penganiayaan rasial,
sosial, atau keagamaan. Stadium perkembangan tertentu seperti awal masuk sekolah,
meninggalkan rumah, menikah, menjadi orang tua, gagal mencapi tujuan pekerjaan,
anak terakhir meninggalkan rumah dan pensiun sering kali disertai gangguan
penyesuaian.1

2.4. Tanda dan Gejala


Gangguan penyesuaian didiagnosis saat seseorang memiliki gejala kejiwaan saat
menyesuaikan diri terhadap keadaan baru.7
Gejala-gejala yang muncul bervariasi, misalnya depresi, kecemasan, atau
campuran di antara keduanya. Gejala campuran ini yang paling sering ditemukan pada
orang dewasa. Berikut adalah gabungan dari beberapa gejala gangguan penyesuaian:
 Gejala psikologis. Meliputi depresi, cemas, khawatir, kurang konsentrasi, dan
mudah tersinggung.
 Gejala fisik. Meliputi berdebar-debar, nafas cepat, diare, dan tremor.
 Gejala perilaku. Meliputi agresif, ingin menyakiti diri sendiri, alcohol abuse,
penggunaan obat-obatan yang tidak tepat, kesulitan sosial, dan masalah
pekerjaan.7

Gejala-gejala tersebut muncul bertahap setelah adanya kejadian yang penuh


tekanan, dan biasanya berlangsung dalam waktu sebulan (ICD-10) atau 3 bulan (DSM
IV). Gangguan ini jarang terjadi lebih dari 6 bulan. Contoh kejadian yang penuh
7

tekanan antara lain putusnya hubungan, pemutusan hubungan kerja, perselisihan dalam
pekerjaan, kehilangan, sakit dan perubahan besar. 7
8

Seseorang yang menderita gangguan penyesuaian akan memiliki kesulitan


dalam fungsi sosial dan pekerjaan; kerja dan hubungan antara sesama akan terganggu
akibat stress yang berlangsung atau kurangnya konsentrasi. Bagaimanapun juga
kesulitan yang terjadi tidak akan mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang sampai
level yang signifikan. Gejala tidak selalu menghilang segera setelah stressor menghilang
dan jika stressor berlanjut, gangguan mungkin akan menjadi kronik.7

2.5. Diagnosis
1. DSM-V-TR
a. Perkembangan gejala emosi maupun perilaku yang muncul sebagai respon
terhadap stresor yang dapat diidentifikasi, terjadi dalam/tidak lebih dari 3 bulan
setelah onset dari stresor tersebut.
b. Gejala atau perilaku tersebut secara klinis bermakna sebagaimana ditunjukkan
berikut ini:
a. Penderitaan yang nyata melebihi apa yang diperkirakan, saat
mendapatkan paparan stressor.
b. Gangguan yang bermakna pada fungsi sosial atau pekerjaan, termasuk
dalam bidang akademik.
c. Gangguan yang berhubungan dengan stres tidak memenuhi kriteria untuk
kelainan Axis I secara spesifik dan bukan merupakan eksaserbasi dari kelainan
Axis I atau II yang ada sebelumnya.
d. Gejalanya yang muncul tidak mencerminkan kehilangan (Bereavement)
e. Jika stressor (atau sequence-nya) telah berhenti, gejala tidak muncul lagi untuk
tambahan 6 bulan ke depan.
Tentukan jika:
Akut: Jika gangguan terjadi selama kurang dari 6 bulan
Kronik: Jika gangguan terjadi selama 6 bulan atau lebih lama, gangguan penyesuaian
dikode berdasarkan pada sub tipenya, yang dipilih berdasarkan gejala yang predominan.
Stresor yang spesifik dapat ditentukan dalam axis IV
309.0 Dengan mood terdepresi
9

309.24 Dengan kecemasan


309.28 Dengan campuran kecemasan dan mood terdepresi
309.3 Dengan gangguan konduksi
309.4 Dengan campuran gangguan emosi dan konduksi
309.9 Tidak ditentukan 1,3

2. PPDGJ-III:
a. Diagnosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara:
 bentuk, isi, dan beratnya gejala
 riwayat sebelumnya atau corak kepribadian
 kejadian, situasi yang penuh stres, atau krisis kehidupan
b. Adanya ketiga faktor di atas harus jelas dan mempunyai bukti yang kuat bahwa
gangguan tersebut tidak akan terjadi bila tidak mengalami hal tersebut.
c. Manifestasi gangguan bervariasi dan mencakup afek depresi, anxietas, campuran
depresi dan anxietas, gangguan tingkah laku disertai adanya disabilitas dalam
kegiatan rutin sehari-hari.
d. Biasanya mulai terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya kejadian yang penuh
stres, dan gejala-gejala biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan kecuali dalam
hal reaksi depresi berkepanjangan.
e. Karakter kelima :
F43.20 = reaksi depresi singkat
F43.21 = reaksi depresi berkepanjangan
F43.22 = reaksi campuran anxietas dan depresi
F43.23= dengan predominan gangguan emosi lain
F43.24= dengan predominan gangguan perilaku
F43.25= dengan gangguan campuran emosi dan perilaku
F43.28= dengan gejala predominan lainnya YDT.6
10

2.6. Diagnosa Banding


a. Gangguan depresi berat
Jika seseorang mempunyai gejala yang memenuhi kriteria untuk gangguan
depresi berat dengan adanya stressor, diagnosis gangguan penyesuaian tidak dapat
dilakukan. Bentuk dan jenis gejala gangguan depresi berat membedakan penyakit itu
sendiri dengan gangguan penyesuaian.
b. Gangguan stress pasca trauma dan gangguan stress akut
Pada gangguan penyesuaian, stresornya dapat berasal dari berbagai sumber,
yang berbeda dari stressor yang harus memenuhi kriteria A pada gangguan stress pasca
trauma dan gangguan stress akut. Gangguan penyesuaian dapat segera didiagnosa dan
bertahan hingga 6 bulan setelah adanya kejadian traumatik, sedangkan pada gangguan
stress akut, diagnosa hanya terjadi di antara 3 hari setelah kejadian hingga 1 bulan
setelah trauma terjadi, dan gangguan stress pasca trauma hanya dapat didiagnosa setelah
1 bulan dari waktu terjadinya trauma. Gangguan penyesuaian dapat dibedakan dari
gejalanya dan dari diagnosanya yang dapat ditegakkan baik dengan atau tanpa kejadian
traumatik.
c. Gangguan kepribadian
Beberapa orang gangguan kepribadian dapat sangat rentan terhadap suatu
masalah yang menyerupai gangguan penyesuaian. Riwayat penyakit terdahulu
mengenai kepribadian dapat memberikan informasi mengenai diagnosa yang akan
ditegakkan. Gangguan penyesuaian pada orang dengan gangguan kepribadian juga
dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria dan stress yang terjadi akibat adanya stressor
melampaui apa yang terdapat pada gangguan kepribadian.
d. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis yang lain
Pada faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis, hal ini dapat
menyebabkan, memperparah atau mengakibatkan seseorang jatuh pada keadaan sakit.
Pada sisi lain, gangguan penyesuaian hanya terjadi jika terdapat stressor, seperti
keadaan sakit.
11

e. Reaksi stress normatif


Ketika suatu hal yang tidak baik terjadi, kebanyakan orang akan merasa sedih
ataupun kecewa. Hal ini bukanlah suatu gangguan penyesuaian. Diagnosis hanya dapat
ditegakkan bila stress yang terjadi melampaui batas yang normal (yang dapat berbeda
berdasarkan budaya).6

2.7. Terapi
a. Psikoterapi
Intervensi psikoterapi pada gangguan penyesuaian bertujuan untuk mengurangi
efek dari stressor, meningkatkan kemampuan mengatasi (coping) stressor yang tidak
bisa dikurangi, dan menstabilkan status mental dan system dukungan untuk
memaksimalkan adaptasi. Psikoterapi dapat berupa: terapi perilaku-kognitif, terapi
interpersonal, upaya psikodinamik atau konseling.7
Tujuan utama dari psikoterapi ini untuk menganalisa stressor yang mengganggu
pasien kemudian dihilangkan atau diminimalkan. Sebagai contoh, amputasi kaki dapat
menghancurkan perasaan seseorang tentang dirinya, terutama jika individu tersebut
adalah seorang atlet lari. Perlu diperjelas bahwa pasien tersebut tetap memiliki suatu
kemampuan besar, dimana ia dapat menggunakannya untuk pekerjaan yang berguna,
tidak perlu kehilangan hubungan yang berharga, dapat bereproduksi, dan ini tidak
berarti bagian tubuh yang lain juga akan hilang. Jika tidak, pasien tersebut dapat
berfantasi (bahwa semuanya hilang) dan stressor (amputasi) dapat mengambil alih,
membuat disfungsional (pekerjaan, seks) pada pasien, dan menyebabkan disforia yang
menyakitkan atau kecemasan. 7
Beberapa stressor dapat menyebabkan reaksi yang berlebihan (misalnya, pasien
memutuskan untuk bunuh diri atau melakukan pembunuhan setelah ditinggalkan oleh
kekasihnya). Pada kasus seperti reaksi berlebihan dengan perasaan, emosi atau perilaku,
terapis akan membantu individu menempatkan perasaan dan kemarahannya melalui
kata-kata daripada melakukan tindakan destruktif dan memberikan perspektif. Peran
verbalisasi dan gabungan afek dan konflik yang tidak berlebihan dalam upaya
12

mengurangi stressor dan meningkatkan coping. Obat-obatan dan alkohol tidak


dianjurkan. 7
Psikoterapi, konseling krisis medis, intervensi krisis, terapi keluarga, terapi
kelompok, terapi perilaku-kognitif, dan terapi interpersonal semua mendorong individu
untuk mengekspresikan pengaruh, ketakutan, kecemasan, kemarahan, rasa tidak
berdaya, dan putus asa terhadap stressor. Mereka juga membantu individu untuk menilai
kembali realitas dalam beradaptasi. Sebagai contoh, hilangnya kaki bukan berarti
kehilangan nyawa. Tetapi itu adalah kerugian besar. Psikoterapi singkat berusaha untuk
membingkai makna stressor tersebut, cara meminimalkannya dan mengurangi defisit
psikologis terhadap kejadian tersebut.1, 7

b. Farmakoterapi
Pemakaian medikasi yang bijaksana dapat membantu pasien dengan
penyesuaian, tetapi harus diberikan dalam periode yang singkat. Pasiennya mungkin
dengna merespons terhadap obat ansietas atau terhadap suatu anti depresan tergantung
pada jenis gangguan penyesuaian. Pasien dengan kecemasan berat yang hampir menjadi
panik atau dekompensasi mungkin mendapatkan manfaat dari dosis kecil medikasi
antipsikotik. Pasien dalam keadaan menarik diri atau terinhibisi mungkin mendapatkan
manfaat dari medikasi psikostimulan singkat. Beberapa kasus gangguan penyesuaian
jika ada, dapat diobati secara adekuat oleh medikasi saja. Pada sebagian besar kasus,
psikoterapi harus ditambahkan pada regimen pengobatan.1

2.7. Prognosis
Meskipun data longitudinal masih terbatas, penelitian menunjukkan bahwa
orang dewasa dengan gangguan penyesuaian memiliki prognosis jangka panjang yang
lebih baik, remaja lebih berisiko tinggi untuk berkembang menjadi gangguan kejiwaan
di kemudian hari. Tidak ada korelasi yang jelas antara gangguan penyesuaian dan
mortalitas. Namun, temuan penelitian menunjukkan bahwa morbiditas dan mortalitas
meningkat pada pasien dengan gangguan penyesuaian.8
BAB 3
KESIMPULAN

Gangguan penyesuaian didefinisikan sebagai gejala-gejala emosional atau


perilaku yang bermakna secara klinis dan terjadi sebagai respons terhadap suatu stressor
dan menghilang dalam waktu 6 bulan setelah tak ada stressor. Gangguan ini dapat
dijumpai pada semua usia dan lebih sering pada remaja. Gangguan penyesuaian
diperkirakan tidak akan terjadi tanpa adanya stressor. Walaupun adanya stressor
merupakan komponen esensial dari gangguan penyesuaian, namun stress adalah salah
satu dari banyak faktor yang menentukan berkembangnya, jenis dan luasnya
psikopatologi.
Berdasarkan DSM IV, gangguan penyesuaian ditandai dengan gejala
berdasarkan beberapa kriteria. Gejala emosional dan perilaku bisa muncul dalam
jangka waktu 3 bulan setelah onset stressor dan seharusnya pulih dalam jangka waktu 6
bulan setelah stressor hilang. Menurut PPDGJ-III, gangguan penyesuaian dapat
terdiagnosis jika gejala muncul 1 bulan setelah onset stressor dan biasanya tidak
bertahan melebihi 6 bulan.
Pada gangguan penyesuaian, dapat diberikan psikoterapi atau farmakoterapi atau
kombinasi kedua terapi. Psikoterapi adalah pilihan utama; dengan tujuan untuk
menganalisa stressor yang mengganggu pasien kemudian dihilangkan atau
diminimalkan. Psikoterapi, konseling krisis medis, intervensi krisis, terapi keluarga,
terapi kelompok, terapi perilaku - kognitif, dan terapi interpersonal semua mendorong
individu untuk mengekspresikan pengaruh, ketakutan, kecemasan, kemarahan, rasa
tidak berdaya, dan putus asa terhadap stressor. Farmakoterapi diberikan dalam waktu
singkat, dan tergantung dari tipe gangguan penyesuaian, dapat diberikan penggolongan
obat yang efektif.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan - Sadock Sinopsis Psikiatri. Edisi kedua.
Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher. 2010. h 251-8.
2. Rohmah FA. Pengaruh Pelatihan Harga Diri terhadap Penyesuaian Diri pada
Remaja. Indonesian Psychologycal Journal. 2004; 1(1): 53-63.
3. Jeste DV, Lieberman EJA, Fassler D, Peele R. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders. Edisi ke-5. Washington: American Psychiatric Association. h 286-9.
4. Patra BN, Sarkar S. Adjustment Disorder: Current Diagnosis Status. Indian J Psychol
Med. 2013; 35(1): 4-9.
5. Carta MG, Balestrieri M, Murru A, Hardoy MC. Adjustment Disorder:
Epidemiology, Diagnosis and Treatment. Clinical Practice and Epidemiology in Mental
Health. 2009; 5(1): 1-15.
6. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III
dan DSM-5. Edisi ke-2. Jakarta: PT Nuh Jaya. h 79-80.
7. Kay J, Tasman A. Essentials of Psychiatry. Edisi ke-2. England: John Wiley & Sons
Ltd. h 778-83.
8. Frank BJ. Adjustment Disorder. Medscape. 2016. Diunduh dari: https://emedicine.
medscape.com/article/2192631-overview#a6. Diakses pada 27 Desember 2017.

14