Anda di halaman 1dari 16

KARYA TULIS ILMIAH

SEJARAH MASJID CHENG HOO PANDAAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Praktik Sejarah Kebudayaan Islam

Disusun Oleh :
Nama : Moh Syaifur Rohim
Kelas : XI – IPS 4
Absen : 25

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KABUPATEN PATI


MADRASAH ALIYAH NEGERI 02 PATI
TAHUN PELAJARAN 2017/ 2018
Jalan Ratu Kalinyamat Gang Melati II Tayu – Pati
Telp. (0295) 452635. Fax. 454047 Kode Pos 59155
Web : http://www.man02pati.sch.id
Email : man02pati@yahoo.com

1
HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis yang berjudul “Sejarah Masjid Cheng Hoo Pandaan” telah
disahkan dan disetujui pada :

Hari :
Tanggal :

Disetujui Oleh :
Wali Kelas Pembimbing

Hj. Ummi Istiqomah, S.Ag Rumaisah S.Pd


NIP. 19710409 199603 2 002

Mengetahui,
Kepala MAN 2 PATI

Drs. H. Sutarmo
NIP. 19590706 198603 1 003

2
ABSTRAK

Kemunculan Masjid Cheng Hoo Pandaan terinspirasi oleh sikap Laksamana


Cheng Hoo yang menghargai keberagaman agama dan kepercayaan. Berdasarkan
observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis di Masjid Cheng Hoo Pandaan,
terdapat percampuran atau kombinasi seni hias Islam dan Tionghoa. Terakhir,
penulis menyarankan agar kaum Muslim di Indonesia mengedepankan
perdamaian dan toleransi jika berhubungan dengan penganut agama lain karena
memang hal inilah yang diperintahkan dalam Al-Quran.
Masalah yang diteliti dalam tugas ini adalah : 1. Bagaimana sejarah
didirikannya Masjid Cheng Hoo Pandaan?, 2. Bagaimana seni arsitektur Masjid
Cheng Hoo Pandaan?, 3. Bagaimana daya tarik Masjid Cheng Hoo Pandaan?.
Kesimpulan yang diambil dari tugas ini adalah Masjid Cheng Hoo di
Pandaan adalah sebuah bangunan berupa Masjid yang berarsitektur Tionghoa. Di
dalam bentuk bangunan masjid juga terdapat beberapa unsur antara lain Islam dan
Cina. Bentuk dasar Masjid Cheng Hoo di Pandaan, berupa kelenteng yang
biasanya terdapat di negeri Cina dan berfungsi sebagai tempat bersembahyang
bagi orang yang beragama Kong Hucu.

Kata Kunci : Ragam Hias, Bangunan, Masjid.

3
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala


berkat, rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas praktik Sejarah Kebudayaan Islam.
Dalam penyusunan laporan perjalanan ini, penulis memperoleh banyak bantuan
dari berbagai pihak dan tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Drs. H. Harir Sutarmo, selaku Kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Pati.
2. Rumaisah, S.Pd., selaku Wali Kelas XI – IPS 4.
3. Rizka Ni’amah, S.Pd.I selaku Pembimbing yang telah memberikan
bimbingannya.
4. Bapak dan Ibu Guru MAN 2 Pati, yang telah mendidik memberikan
ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat.
5. Teman teman kelas XI IPS 4 yang telah membantu menyelesaikan
laporan perjalanan ini.
Peulis menyadari bahwa laporan perjalanan ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar laporan perjalanan ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis
berharap laporan perjalanan ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan
kepada para pembaca dan khususnya kepada penulis sendiri.

Tayu, 05 Juni 2018

Penulis

4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... ii
ABSTRAK ............................................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................ 2
1.4 Manfaat Penulisan .............................................................................. 2
BAB II METODE PENELITIAN
2.1 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 3
2.2 Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 3
BAB III HASIL PENELITIAN
3.1 Sejarah Masjid Cheng Hoo Pandaan .................................................. 4
3.2 Seni Arsitektur Masjid Cheng Hoo Pandaan ..................................... 5
3.3 Daya Tarik Masjid Cheng Hoo Pandaan ............................................ 7
BAB III PENUTUP
4.1 Simpulan ............................................................................................ 9
4.2 Saran ................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN FOTO

5
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masjid Cheng Ho dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang
memiliki nama dan nuansa Muslim Tionghoa. Sejak berabad-abad lalu islam
menyebar dan berkembang di bumi Indonesia, berakulturasi dengan beragam
etnis budaya yang ada. Salah satu bukti perpaduan islam dengan etnis budaya
lain di Nusantara yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah Masjid
Muhammad Cheng atau Masjid Cheng Hoo. Dari namanya saja tentu bisa
diterka masjid ini memiliki pengaruh budaya Tionghoa yang kuat. Nama
masjid di ambil dari nama pelaut muslim Tionghoa tersehor, yang bernama
Laksamana Cheng Ho.
Masjid Cheng Ho di bangun sebagai bentuk penghormatan kepada
laksamana Cheng Ho yang dahulu telah berjasa dalam misi politik perdamaian
bahari antara Tiongkok dan Nusantara, perdagangan, serta penyebaran islam
di Indonesia.
Bukti adanya teori Cina salah satunya adalah adanya masjid-masjid tua yang
bernilai arsitektur Tiongkok dan didirikan oleh komunitas Cina di berbagai
tempat terutama di Pulau Jawa. Agama Islam disebarkan melalui perdagangan,
perkawinan, kesenian, budaya, dan pondok pesantren sehingga mempengaruhi
berbagai bidang sosial dan politik di Indonesia (Sudirman, 2014:154-156).
Adanya agama Islam di Indonesia, membawa pengaruh terhadap perubahan
dalam masyarakat terutama bidang sosial dan budaya.Hasil kebudayaan Islam
di Indonesia menurut Soekmono (1973) bisa dilihat dari peninggalan masjid,
makam, seni ukir, dan kesusasteraan.
Salah satu hasil kebudayaan Islam yang paling banyak ditemui di Indonesia
adalah bangunan masjid. Oleh sebab itu, dalam karya tulis ini akan membahas
tentang hasil kebudayaan Islam berupa masjid, khususnya sejarah kebudayaan
Masjid Cheng Hoo di Pandaan yang merupakan hasil akulturasi budaya islam
dengan Tiongkok.

6
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah
ini sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah didirikannya Masjid Cheng Hoo Pandaan?
2. Bagaimana seni arsitektur Masjid Cheng Hoo Pandaan?
3. Bagaimana daya tarik Masjid Cheng Hoo Pandaan?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini
sebagai berikut :
1. Menjelaskan sejarah didirikannya Masjid Cheng Hoo di Pandaan.
2. Menjelaskan seni arsitektur Masjid Cheng Hoo di Pandaan.
3. Menjelaskan daya tarik Masjid Cheng Hoo Pandaan.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah :
1. Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman wawasan yang umum dan
luas.
2. Melatih ketrampilan menulis.

7
BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat : Masjid Muhammad Cheng Hoo
2. Waktu Penelitian
Hari : Sabtu
Tanggal : 14 April 2018
Waktu : 12.30 – 13. 30 WIB

2.2 Teknik Pengumpulan Data


1. Dokumentasi
Penulis mengambil gambar sebagai dokumentasi penelitian di
Masjid Cheng Hoo Pandaan.
2. Observasi
Penulis melakukan observasi tentang Masjid Cheng Hoo secara
langsung kepada informan yang sekaligus sebagai panitia pengurus Mesjid
Cheng Hoo. Penulis melakukan wawancara bersama informan dan anggota
kelompok yang lainnya. Dalam proses wawancara, penulis berbagi tugas
dengan yang lainnya. Ada yang melakukan wawancara, ada yang menulis
informasi dari informan, dan ada juga yang mendokumentasikan.

8
BAB III
HASIL PENELITIAN

3.1 Sejarah Masjid Cheng Hoo Pandaan


Catatan China menyebutkan bahwa di daerah pesisir seperti Tuban,
Gresik, dan Surabaya merupakan daerah yang banyak ditinggali masyarakat
Tionghoa Muslim (Munif, 2013:12). Mereka membuat pemukiman muslim di
sekitar pantai. Adanya pemukiman ini menyebabkan interaksi sosial
masyarakat semakin erat. Mereka membuat tempat ibadah (masjid) bercorak
Tiongkok di pemukiman tersebut.

Salah satu masjid yang bercorak Tiongkok di Indonesia adalah Masjid


Cheng Hoo Pandaan. Masjid Cheng Hoo yang berada di daerah Pandaan,
Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Lokasinya mudah dituju karena berada di
tepi jalan raya utama pada pertigaan arah menuju Pasuruan, Malang dan
Surabaya. Atau sekitar 300 meter dari terminal Pandaan (Fitrianto, 2014).
Nama Cheng Hoo diambil dari laksamana terkenal asal Tiongkok yang
melakukan ekspedisi bersejarah pada 1404-1443. Cheng Hoo alias Zheng He
alias Sam Pok Kong waktu itu memimpin sedikitnya 300 kapal dengan 27 ribu
pelaut ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika. Di sela-sela
ekspedisi, Muhammad Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam kepada
penduduk setempat. Cheng Hoo sangat dihormati, bukan saja oleh muslim
Tionghoa, tapi warga Tionghoa pada umumnya (Patic, 2011).

9
Masjid Cheng Hoo di Pandaan, Pasuruan adalah satu dari tiga masjid besar
di Indonesia yang mengabadikan nama besar Laksamana Cheng Hoo sebagai
nama tempat ibadah. Para inisiator pembangunan Masjid Cheng Hoo
Pasuruan, demikian juga Masjid Cheng Hoo di Surabaya dan Masjid Cheng
Hoo Palembang, adalah komunitas Muslim Tiongkok yang sudah lama
bermukim di Indonesia untuk mengenang jasa pengembara asal Negeri Tirai
Bambu ini dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia (Abadi, 2015).
Abadi (2015) menjelaskan bahwa Cheng Hoo lahir pada tahun 1371 di
Provinsi Yunan, Tiongkok dan ia beragama Islam karena ayahnya adalah
keturunan suku Hui yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji di Mekah.
Waktu umur 10 tahun Cheng Hoo kecil ditangkap oleh tentara kerajaan
Tiongkok, lalu dikebiri dan dijadikan tentara. Selanjutnya Cheng Hoo
mengabdi kepada Kaisar Yongle dari Dinasti Ming dan atas perintahnya
Cheng Hoo berlayar ke berbagai tempat di dunia sebagai utusan Kerajaan
Tiongkok, dan mulai melakukan ekspedisinya ke Banda Aceh, Cirebon,
Semarang, dan Jawa Timur.
Oleh sebab itu, terdapat simbol untuk mengenang kehadiran Cheng Hoo di
kota-kota tersebut didirikan monumen ataupun bangunan seperti Klenteng
Sam Pok Kong di Semarang ataupun Masjid Cheng Hoo di Palembang dan
Surabaya. Tujuan pembangunannya adalah untuk mengenang jasa Laksamana
Cheng Hoo dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur dan juga sebagai
salah satu tempat berkumpulnya Komunitas Tionghoa Muslim Indonesia di
Jawa Timur (Utomo, 2015). Masjid Cheng Hoo Pandaan dianggap sebagai
kembaran Masjid Cheng Hoo di Surabaya, namun ada hal yang membedakan
kedua masjid tersebut.

3.2 Seni Arsitektur Masjid Cheng Hoo Pandaan


Masjid Cheng Hoo mulai didirikan pada tahun 2003 oleh Pemerintah
Kabupaten Pasuruan, Masjid Cheng Hoo Pandaan yang dibangun di atas tanah
kosong milik Perhutani. Pembangunanya membutuhkan biaya hingga Rp. 3,2

10
Milyar lebih dari anggaran pemerintah daerah, dan diresmikan pada tanggal 27
Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan yaitu H. Jusbakir Aldjufri.

Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 6.000 meter persegi, dengan luas
bangunan masjid 550 meter persegi. Masjid ini memiliki dua lantai, lantai
bawah untuk ruang pertemuan dan lantai atas khusus untuk sholat (Utomo,
2015).
Lantai dasar Masjid Cheng Hooo Pandaan digunakan sebagai ruang
pertemuan yang kadang kala juga disewakan untuk acara petemuan. Sisi
depan bagian atas terdapat ornamen yang bertuliskan lafalz Allah. Sedangkan
pada atapnya berbentuk seperti atap pada bangunan pagoda.
Beberapa bagiannya terdapat ornamen berupa lampion dengan pendar dan
cahayanya yang khas. Pilar-pilar bangunan berbentuk silinder yang cukup
besar dan kokoh. Dinding bangunan umumnya berupa jalusi atau sekat
berongga dan ornamen ukiran yang berwarna emas. Bagian tengah di belakang
pintu depan terdapat sebuah jam lonceng yang berbentuk klasik.
Melangkahkan kaki menuju ke lantai dua terdapat ruangan sembahyang
utama dengan warna dinding yang didominasi oleh warna merah dan putih
dengan karpet yang berwarna hijau. Pilar-pilar pada ruangan utama ini
berwarna emas dan bentuknya cukup tinggi sehingga mengesankan ruangan
tersebut sangat lapang dan lega. Jendela yang bermotif mozaik dan berupa Art
Glass memberi tampilan yang cukup indah pada masjid itu. Serta beberapa
jendela bertuliskan lafalz-lafalz Islami (Fitrianto, 2014).

11
Menurut Utomo (2015), arsitektur bangunan masjid yang mirip rumah
peribadatan Khing Hu Chu, hal ini terlihat unik dan artistik dengan
memadukan unsur-unsur budaya Islam, Jawa dan Tiongkok.
Masjid dicat dengan sentuhan warna-warna cerah seperti warna terang
hijau, kuning, dan merah. Interior Masjid juga memiliki motif dan ornamen
yang merupakan perpaduan dari tiga unsur Islam, Jawa dan Tiongkok.
Perpaduan tersebut diaplikasikan pada langit-langit yang menjulang tinggi
mengikuti bentuk struktur atap yang ditunjang tiang-tiang yang dicat kuning
keemasan. Bagian atap menampakkan gaya arsitektur khas bangunan menara
di Tiongkok yang berlapis-lapis. Cat hijau muda di genting dan warna merah
pada setiap tepian atap serta warna emas di puncaknya menjadikan bangunan
terlihat mencolok dan atraktif.

3.3 Daya Tarik Masjid Cheng Hoo Pandaan


Lampion umumnya menjadi ornamen dan lampu penerang di kelenteng,
tempat peribadatan atau rumah warga beretnis Tionghoa. Tetapi di daerah
Pandaan, ternyata ada masjid yang menggunakan lampion sebagai ornamen
dan lampu penerangnya. Masjid itu juga cukup unik karena bentuk
bangunannya yang khas ala bangunan kelenteng. Warnanya juga didominasi
oleh warna merah, hijau dan kuning ala warna bangunan kelenteng.
Keberadaan masjid itu menjadi masjid kembaran dengan bangunan serupa
yang ada di kota Surabaya, masjid ini bernama Masjid Cheng Hoo Pandaan,
tetapi berbeda dengan masjid yang ada di Surabaya yang berukuran kecil
dengan lahan yang terbatas, masjid di Pandaan ini justru sebaliknya (Fitrianto,
2014).
Gaya arsitektur Masjid Cheng Hoo Pandaan mengadopsi bentuk dan
desain bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah lebih dulu menjadi
ikon pariwisataa (Fitrianto, 2014). Umumnya masjid-masjid di Indonesia
memiliki corak dan ciri khas asli dari daerah yang menyebarkan agama Islam,
namun ternyata di Indonesia khusunya wali songo dalam menyebarkan agama
Islam juga berperan aktif dalam menyebarkan agama Islam. Masjid Cheng

12
Hoo memiliki daya tarik tersendiri. Masjid Cheng Hooo Pandaan ini
dilengkapi dengan fasilitas Perpustakaan dan aula sebagai tempat
berlangsungnya kegiatan keagamaan seperti akad nikah dan belajar mengaji
(Utomo, 2015).
Jadi, masyarakat sekitar bisa memanfaatkan sarana tersebut untuk mengisi
waktu luang dan untuk menambah pengetahuan.

13
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Fungsi masjid Cheng Ho lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini
menghelat kegiatan-kegiatan agama dan kemasyarakatan, dan telah menjadi
sebuah tujuan wisata, yang menarik para pengunjung dari Malaysia,
Singapura, Taiwan dan bahkan Rusia. Masjid Cheng Ho menjadi bukti bahwa
di Indonesia ada ruang bagi para warga untuk mengekspresikan identitas unik
mereka – percampuran tradisi dan budaya Tionghoa dan Islam dalam konteks
lokal Indonesia.
Arsitektur bangunan masjid yang mirip rumah peribadatan Khong Hu Chu
terlihat unik dan artistik dengan memadukan unsur-unsur budaya Islam, Jawa
dan Tiongkok. Masjid dicat dengan sentuhan warna-warna cerah seperti warna
terang hijau, kuning, dan merah. Selain itu, interior masjid juga memiliki
motif dan ornamen yang merupakan perpaduan dari tiga unsur Islam, Jawa
dan Tiongkok.
Masjid itu juga cukup unik karena bentuk bangunannya yang khas ala
bangunan kelenteng. Masjid ini memiliki pasar tradisional yang menjual
khusus buah-buahan dan hasil bumi, dan pernak-pernik, serta terdapat warung-
warung makan.

4.2 Saran
Bagi masyarakat dan pengunjung sudah seharusnya untuk tetap menjaga
hasil kebudayaan Indonesia dan tidak merusak sarana dan fasilitas yang ada
dalam masjid ini. Tetap menjaga kebersihan masjid agar tetap terjaga
kebersihan di masjid ini. Masyarakat harus bangga dengan hasil kebudayaan
Islam ini karena merupakan akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayaan
Tiongkok, sebab hanya tiga daerah saja di Indonesia yang memiliki masjid
unik ini. Saran yang bersifat membangun, sangat kami harapkan demi
perbaikan kedepannya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Chryssanto Septian. 2015. Melongok Tiga Budaya di Masjid Cheng Hoo,
Pasuruan, (Online), (http://www.pegipegi.com/travel/masjid-cheng-ho/)

Fitrianto, Heri Agung. 2015. Masjid Muhammad Cheng Hoo Yang Indah Di
Pandaan, (Online), (www.kompasiana.com/jelajah_nesia/masjid-
muhammad-cheng-hoo-yang-indah-di-
pandaan_551f5300813311186e9de130)

Hidayatullah, Muhammad Syarif. 2013. Teori-Teori Masuknya Islam ke Wilayah


Timur Indonesia, (Online), (http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20368968-
MK-Muhammad%20Syarif%20Hidayatullah.pdf)

15
LAMPIRAN FOTO

Masjid Cheng Hoo Pandaan

16