Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

“PEMERIKSAAN VISUS”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2

Dosen pengampu : Ns. Siti Nuryanti, S.Kep.,M.Pd

Disusun oleh:

Kelompok 2

Anita Cintya Rahayu P07220116083

Fanny Fatmawaty P07220116095

Hernita Ajeng Cahyarini P07220116099

Manda Pingki Halenia P07220116100

Qolifatussakdiyah P07220116113

Sarmila P07220116115

Siti Normah P07220116116

Yulpianti Annisa P07220116120

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang membahas tentang
“PEMERIKSAAN VISUS” dapat selesai tepat pada waktunya sebagai salah satu
tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2.

Terimakasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam


proses penyusunan makalah ini, baik yang terlibat secara langsung maupun yang
tidak.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena
keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya makalah yang
lebih baik lagi.

Balikpapan, 22 Agustus 2018

Kelompok

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ 1

DAFTAR ISI ............................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 3

A. Latar Belakang Masalah ................................................................................ 3

B. Tujuan ............................................................................................................ 3

C. Sistematika Penulisan .................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN TEORI ...................................................................................... 5

A. Pemeriksaan Visus ........................................................................................ 5

1. Pengertian .................................................................................................. 5

2. Tujuan ........................................................................................................ 5

3. Indikasi....................................................................................................... 5

4. Kontra Indikasi .......................................................................................... 5

5. Hal – Hal Yang Harus Diperhatikan .......................................................... 5

6. Langkah – Langkah Prosedur .................................................................... 5

BAB III PENUTUP .................................................................................................... 9

A. Kesimpulan .................................................................................................... 9

B. Saran .............................................................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 10

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik


dengan memakai indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk
mendeteksi masalah kesehatan klien.Untuk pemeriksaan fisik perawat
menggunakan teknik inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi (Craven & Hirnle,
2000; Potter & Perry, 1997; Kozier et al., 1995).

Tujuan pemeriksaan fisik yaitu: untuk mengumpulkan dan memperoleh


data dasar tentang kesehatan klien, untuk menambah, mengkonfirmasi, atau
menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat keperawatan, untuk
mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan, untuk membuat
penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan penatalaksanaan
dan untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan keperawatan.

Tidak semua orang mempunyai visus yang sama. Visus dipergunakan


untuk menentukan penggunaan kacamata. Visus penderita bukan saja memberi
pengertian tentang optiknya (kaca mata) tetapi mempunyai arti yang lebih luas
yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya fungsi mata secara
keseluruhan.

Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan


penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata
yang mengakibatkan turunnya visus. Visus perlu dicatat pada setiap mata yang
memberikan keluhan mata.

B. Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

a. Mengetahui dan memahami pengertian dari pemeriksaan visus.


b. Mengetahui dan memahami tujuan dari pemeriksaan visus.
c. Mengetahui dan memahami indikasi dari pemeriksaan visus.
d. Mengetahui dan memahami kontra indikasi dari pemeriksaan visus.

3
e. Mengetahui dan memahami hal-hal yang harus diperhatikan dari
pemeriksaan visus.
f. Mengetahui dan memahami langkah-langkah prosedur dari pemeriksaan
visus.

C. Sistematika Penulisan

Kami membagi penulisan makalah ini menjadi 3 bab, yang terdiri dari :

BAB I : PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, serta sistematika


penulisan.

BAB II : TINJAUAN TEORI

Terdiri dari pengertian, tujuan, indikasi, kontra indikasi, hal-hal yang


harus diperhatikan, serta langkah-langkah prosedur dari pemeriksaan
visus.

BAB III : PENUTUP

Terdiri dari kesimpulan dan saran.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pemeriksaan Visus

1. Pengertian
Prosedur ini digunakan untuk mengukur ketajaman penglihatan
individu. Prosedur pemeriksaan mata ini dilakukan dengan menggunakan
Kartu Snellen dengan pencahayaan yang baik.

2. Tujuan
Tujuan dari pengujian ketajaman penglihatan adalah untuk
menentukan ketajaman visual terbaik dari setiap mata. Untuk itu dapat
digunakan grafik Snellen standar yang dicetak (digunakan dengan jarak 20
kaki atau 6m).

3. Indikasi
a. Klien yang ingin menentukan penggunaan kacamata.
b. Klien yang ingin mengetahui keterangan tentang baik buruknya fungsi
mata secara keseluruhan.
c. Gangguan penglihatan (miopia, hipermetropia, presbiopia dan
astigmatisma).

4. Kontra Indikasi
Pasien yang tidak mengalami gangguan pada mata.

5. Hal – Hal Yang Harus Diperhatikan


a. Hubungan baik.
b. Letak bingkai uji coba tepat okuler.

6. Langkah – Langkah Prosedur

5
Kegiatan
NO. ASPEK PENILAIAN Tidak
Dilakukan
Dilakukan

A. PENGKAJIAN

1. Cek catatan perawat/medis tentang kondisi klien

2. Persiapan perawat dan lingkungan

B. PERENCANAAN

3. Mengidentifikasi hasil yang diharapkan

4. Mempersiapkan alat: Optotype snellen dan


penlight

5. Memberikan privasi

C. IMPLEMENTASI

6. Mencuci tangan

7. Memberikan salam dan memperkenalkan diri

8. Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada


pasien

9. Menggunakan kartu Snellen dan penerangan


cukup

10. Pasien didudukkan jarak 6 meter, paling sedikit


jarak 5 meter dari kartu Snellen.

11. Kartu Snellen di digantungkan sejajar setinggi /


lebih tinggi dari mata pasien.

12. Pemeriksaan dimulai pada mata kanan terlebih


dahulu, mata kiri ditutup. Pasien disuruh membaca
huruf SNELLEN dari baris paling atas ke bawah.
Hasil pemeriksaan dicatat, kemudian diulangi
untuk mata sebelahnya.

Hasil dapat sebagai berikut misal :

VOD (visus okula dextra) 6/6

6
VOS (visus okula sinistra) 6/6

 6/6 pasien dapat membaca seluruh huruf


dideretan 6/6 pada snellen chart
 6/12 pasien bisa membaca sampai baris 6/12
pada snellen chart
 6/30 pasien bisa membaca sampai baris 6/30
pada snellen chart
 6/60 pasien bisa membaca barisan huruf 6/60
biasanya huruf yang paling atas.
 Visus yang tidak 5/5 atau yang tidak 6/6
dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan memakai
try lens.

13. Apabila tidak bisa membaca huruf Snellen pasien


diminta menghitung jari pemeriksa.

 5/60 pasien bisa hitung jari pada jarak 5 meter.


 1/60 pasien bisa hitung jari pada jarak 1 meter.
14. Apabila pasien tidak bisa juga hitung jari, maka
dilakukan pemeriksaan selanjutnya dengan menilai
gerakkan tangan didepan pasien dengan latar
belakang terang. Jika pasien dapat menentukan arah
gerakan tangan pada jarak 1 m, maka tajam
penglihatan dicatat.

 VISUS 1/300 (Hand Movement/HM) kadang

7
kala sdh perlu menentukan arah proyeksinya.
15. Jika tidak bisa melihat gerakan tangan dilakukan
penyinaran dengan penlight ke arah mata pasien.

16. Apabila pasien dapat mengenali saat disinari dan


tidak disinari dari segala posisi
(nasal,temporal,atas,bawah) maka tajam V=1/~
proyeksi baik (Light Perception/LP).

 Jika tidak bisa menentukan arah sinar maka


penilai an V = 1/ ~ (LP, proyeksi salah) .
 Jika sinar tidak bisa dikenali maka tajam
penglihatan dinilai V= 0 (NLP).
D. EVALUASI

9. Apa yang saudara obersevasi setelah pemeriksaan


fisik?

10. Bagaimana respon klien terkait dengan tindakan


yang telah saudara lakukan?

11. Apa rencana tindak lanjut yang sudah saudara


lakukan berkaitan dengan tindakan?

12. Melakukan pendokumentasian tindakan dan hasil


pemeriksaan fisik.

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Visus dipergunakan untuk menentukan penggunaan kacamata. Visus


penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kaca mata) tetapi
mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik
buruknya fungsi mata secara keseluruhan.

Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan


penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata
yang mengakibatkan turunnya visus. Visus perlu dicatat pada setiap mata yang
memberikan keluhan mata.

B. Saran

Dengan terselesaikannya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat


memahami Pemeriksaan visus dengan baik serta hubungannya dengan ilmu
keperawatan yang tengah ditekuni. Hal tersebut ditujukan agar mahasiswa dapat
memiliki kompetensi yang tinggi dalam perawatan terhadap pemeriksaan visus.
Serta mampu untuk menjalankan peranan keperawatan baik untuk sasaran
perorangan ataupun komunitas.

9
DAFTAR PUSTAKA
Bickley, Lynn S. (2009). Buku Ajar Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan Bates
Ed 8. Jakarta: EGC

Ilyas, S. (2003). Dasar Teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakita Mata. Jakarta :
FKUI

Ilyas, Sidarta. (2009). Ilmu Penyakit Mata. ed.3. Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia

T. Juwono. (1996). Pemeriksaan Klinik Neurologik dalam Praktek. Jakarta: EGC

10