Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya, akhirnya makalah ini dapat
penulis selesaikan dengan baik.

Adapun tujuan penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk


memaparkan “Kasus Kegawatdaruratan Pada kasus Trauma Tulang Belakang atau
Trauma Vertebra”. Makalah ini juga penulis susun sebagai bukti fisik proses
pembelajaran khususnya mata kuliah Askep Gadar 1.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis juga dibantu oleh berbagai pihak
dan dorongan dari orang-orang terdekat penulis seperti dosen pembimbing,
teman-teman, serta orang tua. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga makalah ini dapat penulis
selesaikan tepat waktu.

Penulis menyadari, bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari


kesempurnaan, sesuai dengan peribahasa “Tiada Gading Yang Tak Retak”. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun dengan cara yang benar dari
pembaca sangat penulis harapkan.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, 31 Agustus 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I ...................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II ..................................................................................................................... 3

PEMBAHASAN ..................................................................................................... 3

2.1 Konsep Trauma Tulang Belakang ............................................................ 3

2.1.1 Definisi Trauma Tulang Belakang .................................................... 3

2.1.2 Etiologi Trauma Tulang Belakang .................................................... 3

2.1.3 Manifestasi Klinis Trauma Tulang Belakang ................................... 5

2.1.4 Klasifikasi Trauma Tulang Belakang ............................................... 7

2.1.5 Pathway Trauma Tulang Belakang ................................................. 12

2.1.6 Pemeriksaan DiagnostikTrauma Tulang Belakang ......................... 12

2.1.7 Penatalaksanaan Medis Trauma Tulang Belakang ......................... 14

2.1.8 KOMPLIKASI TRAUMA TULANG BELAKANG ..................... 15

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Ttauma Tulang Belakang ............ 16

2.2.1 Pengkajian Trauma Tulang Belakang ............................................. 16

2.2.2 Diagnosa Keperawatan Trauma Tulang Belakang .......................... 16

2.2.3 Intervensi Keperawatan Trauma Tulang Belakang ......................... 17

2.2.4 Implementasi Keperawatan Trauma Tulang Belakang ................... 17

ii
2.2.5 Evaluasi Keperawatan Trauma Tulang Belakang ........................... 17

BAB III ................................................................................................................. 18

PENUTUP ............................................................................................................. 18

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 18

3.2 Saran ............................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 19

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma merupakan keadaan dimana individu mengalami cidera oleh suatu


sebab keran kecelakaan baik lalu lintas, olahraga, industri, jatuh dari pohon,
dan penyebab utama terjadinya trauma pada tulang belakang atau vertebra.
Selain itu trauma dapat terjadi karena tertimpa beban berat atau terjatuh dari
ketinggian yang menyebabkan gerakan fleksi yang hebat, sedangkan kompresi
fraktur terjadi kerena hiperektensi.

Akibatnya trauma tulang belakang atau spinal cord injury akan mengalami
cidera dan mengakibatkan disfungsi neuromuskuler pada daerah yang cidera.
Trauma vertebra meliputi spinal collumna maupun spinal cord, dapat mengenai
elemen tulang, jaringan lunak, dan struktur saraf pada cervicalis, vertebralis
dan lumbalis. Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas,
kecelakaan olah raga, terjatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja.

Data yang didapat dari bulan Juli-Desember pada tahun 2017 di RSUD
Wangaya didapatkan pasien dengan ganguan muskuloskeletal sebanyak 566
kasus, dari bermacam-macam kasus tersebut, kasus vertebrata thorakal
sebanyak 8 orang (1,23%), sedangkan pada tahun 2017 bulan Januari-Juli
sebanyak 323 kasus gangguan muskoskeletal terdapat 7(2,16%) kasus fraktur
vertebra thorokal yang mengalami fraktur thorokal.

Peningkatan yang terjadi pada tahun 2017 ini disebabkan karena


peningkatan kecelakaan lalu lintas, karena kurangnya peran serat masyarakat
yang masih belum sadar akan tertib berlalu lintas dijalan raya, walaupun
pemakaian sabuk pengaman dan helm digalakkan, sehingga kecelakaan belum
dapat dicegah

1
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimanakah Konsep Dasar Trauma Tulang belakang?


1.2.2 Bagaimanakah Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
Trauma Tulang Belakang?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui Konsep Dasar Trauma Tulang Belakang


1.3.2 Untuk mengetahui Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
Trauma Tulang Belakang

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Trauma Tulang Belakang

2.1.1 Definisi Trauma Tulang Belakang

Trauma pada tulang belakang (spinal cors injury) merupakan cedera yang
mengenai servikal, vertebralis, dan lumbalis dari suatu trauma yang mengenai
tulang belakang (Mutttaqin, 2008).

Spinal cord injury atau trauma tulang belakang adalah


injuri/cedera/trauma yang terjadi pada spinal, meliputi spinal collumna
maupun spinal cord, dapat mengenai elemen tulang, jaringan lunak, dan
struktur saraf pada cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma berupa
jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olah raga, dan
sebagainya (Price, 2005).

Trauma tulang belakang, khususnya vertebra servikalis dapat disebabkan


oleh trauma hiperekstensi, hiperfleksi,ekstensi rotasi, fleksi rotasi, atau
kompresi servikalis. Sedangkan vertebra thorakal bagian atas dan tengah
jarang terjadi, kecuali bila trauma berat atau ada osteoporosis. Karena kanalis
spinal di daerah ini sempit, maka sering disertai gejala neurologis (Brunner &
Suddarth,2001)

2.1.2 Etiologi Trauma Tulang Belakang

Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas,


kecelakaan olah raga, terjatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja. Lewis (2000)
berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup
kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan
oleh beberapa hal yaitu:

3
a. Fraktur akibat peristiwa trauma
Fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang
dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau
penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada
tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak.
Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut
rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan
menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak
yang luas.
b. Fraktur akibat kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan
benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering
dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet,
penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak
jauh.
c. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang
tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut
sangat rapuh.

Sedangkan menurut Reeves (2011) fraktur vertebra, khususnya vertebra


servikalis dapat disebabkan oleh trauma hiperekstensi, hiperfleksi,ekstensi
rotasi, fleksi rotasi, atau kompresi servikalis. Fraktur vertebra thorakal bagian
atas dan tengah jarang terjadi, kecuali bila trauma berat atau ada osteoporosis.
Karena kanalis spinal di daerah ini sempit, maka sering disertai gejala
neurologis. Mekanisme trauma biasanya bersifat kompresi atau trauma
langsung. Pada kompresi terjadi fraktur kompresi vertebra, tampak korpus
vertebra berbentuk baji pada foto lateral. Pada trauma langsung dapat timbul
fraktur pada elemen posterior vertebra, korpus vertebra dan iga di dekatnya.
Fraktur dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:

a. Kecelakaan

4
Kebanyakan fraktur terjadi karena kecelakaan lalu lintas
b. Cidera olah raga
Saat melakukan olah raga yang berat tanpa pemanasan sehingga
terjadi cedera olah raga yang menyebabkan fraktur
c. Osteoporosis
Lebih sering terjadi pada wanita usia di atas 45 tahun karena terjadi
perubahan hormone menopause
d. Malnutrisi
Pada orang yang malnutrisi terjadi deficit kalsium pada tulang
sehingga tulang rapuh dan sangat beresiko sekali terjadi fraktur
e. Kecelakaan
Kecerobohan di tempat kerja biasa terjadi, yang dapat
menyebabkan fraktur.

2.1.3 Manifestasi Klinis Trauma Tulang Belakang


Manifestasi klinis trauma tulang belakang secara umum :
a. Edema/pembengkakan
b. Nyeri: spasme otot akibat reflek involunter pada otot, trauma
langsung pada jaringan, peningkatan tekanan pada saraf sensori,
pergerakan pada daerah fraktur.
c. Spasme otot: respon perlindungan terhadap injuri dan fraktur
d. Deformitas
e. Echimosis: ekstravasasi darah didalam jaringan subkutan
f. Kehilangan fungsi
g. Crepitasi: pada palpasi adanya udara pada jaringan akibat trauma
terbuka
1) Manifestasi klinis fraktur vertebra pada cervical
a. C1-C3 : gangguan fungsi diafragma (untuk pernapasan)
b. C4 : gangguan fungsi biceps dan lengan atas
c. C5 : gangguan fungsi tangan dan pergelangan tangan
d. C6 : gangguan fungsi tangan secara komplit
e. C7 : gangguan fungsi jari serta otot trisep

5
f. C8 : gangguan fungsi jari

Gangguan motoriknya yaitu kerusakan setinggi servical


menyebabkan kelumpuhan tetraparese

2) Manifestasi klinis fraktur vertebra pada torakal, antara lain:


a. T1 : gangguang fungsi tangan
b. T1-T8 : gangguan fungsi pengendalian otot abdominal,
gangguan stabilitas tubuh
c. T9-T12 : kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang
tubuh
3) Manifestasi klinis fraktur vertebra pada lumbal, antara lain:
Gangguan motorik yaitu kerusakan pada thorakal sampai dengan
lumbal memberikan gejala paraparese.
a. L1 : Abdominalis
b. L2 : Gangguan fungsi ejakulasi
c. L3 : Quadriceps
d. L4-L5 : Ganguan Hamstring dan knee, gangguan fleksi kaki dan
lutut
4) Manifestasi klinis fraktur vertebra pada sakral
Gangguang motorik kerusakan pada daerah sacral menyebabkan
gangguan miksi & defekasi tanpa para parese. Cedera pada segmen lumbar
dan sakral dapat mengganggu pengendalian tungkai, sistem saluran
kemih dan anus. Selain itu gangguan fungsi sensoris dan motoris,
cedera vertebra dapat berakibat lain seperti spastisitas atau atrofi otot.
a. S1 : Gangguan pengendalian tungkai
b. S2-S4 : Penile Erection
c. S2-S3 : Gangguan system saluran kemih dan anus

6
2.1.4 Klasifikasi Trauma Tulang Belakang

Trauma tulang belakang dapat diklasifikasikan sesuai dengan


level,beratnya defisit neurologi, spinal cord syndrome, dan morfologi:

1. Level

Level neurologis adalah segmen paling kaudal dari medulla


spinalis yang masih dapat ditemukan keadaan sensoris dan motoris
yang normal dikedua sisi tubuh. Apabila level sensoris digunakan, ini
menunjukan kearah bagian segmen kaudal medulla spinalis dengan
fungsi sensoris yang normal pada kedua bagian tubuh. Level motoris
dinyatakan seperti sensoris, yaitu daerah paling kaudal dimana masih
dapat ditemukan motoris dengan tenaga 3/5 pada lesi komplit,
mungkin masih dapat ditemukan fungsi sensoris maupun motoris di
bawah level sensoris/motoris. Ini disebut sebagai daerah dengan
“preservasi parsial” Penentuan dari level cedera pada dua sisi adalah
penting. Terdapat perbedaan yang jelas antara lesi di bawah dan di
atas T1. Cedera pada segmen servikal diatas T1 medulla spinalis
menyebabkan quadriplegia dan bila lesi di bawah level T1
menghasilkan paraplegia. Level tulang vertebra yang mengalami
kerusakan, menyebabkan cedera pada medulla spinalis. Level kelainan
neurologis dari cedera ini ditentukan hanya dengan pemeriksaan
klinis. adang-kadang terdapat ketidakcocokan antaralevel tulang dan
neurologis disebabkan nervus spinalis memasuki kanalis spinalis
melalui foramina dan naik atau turun didalam kanalis spinalissebelum
benar-benar masuk kedalam medulla spinalis. Ketidakcocokan
akanlebih jelas kearah kaudal dari cedera Pada saat pengelolaan awal
level kerusakan menunjuk pada kelainan tulang, cedera yang
dimaksudkan level neurologis

2. Beratnya Defisit Neurologis Trauma Tulang belakang dapat


dikategorikan sebagai paraplegia tidak komplit, paraplegia komplit,
kuadriplegia tidak komplit, dan kuadraplegia komplit. Sangat penting
untuk menilai setiap gejala dari fungsi medulla spinalis yang masih
7
tersisa. Setiap fungsi sensoris atau motoris dibawah level cedera
merupakan cedera yang tidak komplit. Yang termasuk dalam cedera
tidak komplit adalah sensasi (termasuk sensasi posisi) atau gerakan
volunter pada ekstremitas bawah. Sakra l sparing, sebagai contoh:
sensasi perianal, kontraksi sphincterani secara volunter atau fleksi jari
kaki volunter. Suatu cedera tidak dikualifikasikan sebagai tidak
komplit hanya dengan dasar adanya reservasi refleks sacral saja,
misalnya bulbocavernosus, atau anal wink. Refleks tendon dalam juga
mungkin di preservasi pada cedera tidak komplit.

3. Spinal Cord Syndrome, beberapa tanda yang khas untuk cedera


neurologis kadang-kadang dapat dilihat pada penderita dengan trauma
tulang belakang. Pada Central cord syndrome yang khas adalah bahwa
kehilangan tenaga pada ekstremitas atas, lebih besar dibanding
ekstremitas bawah, dengan tambahan adanya kehilangan adanya
sensasi yang bervariasi. Biasanya hal ini terjadi cedera hiperekstensi
pada penderita dengan riwayat adanya stenosis kanalis sevikalis
(sering disebabkan oleh osteoarthritis degeneratif). Dari anamnesis
umumnya ditemukan riwayat terjatuh ke depan yang menyebabkan
tumbukan pada wajah yang dengan atau tanpa fraktur atau dislokasi
tulang servikal. Penyembuhannya biasanya mengikuti tanda yang khas
dengan penyembuhan pertama pada kekuatan ekstremitas bawah
Kemudian fungsi kandung kemih lalu kearah proksimal yaitu
ekstremitas atas dan berikutnya adalah tangan.Prognosis
penyembuhannya sentral cord syndrome lebih baik dibandingkan
cedera lain yang tidak komplit. Sentral cord syndrome diduga
disebabkan karena gangguan vaskuler pada daerah medulla spinalis
pada daerah distribusi arteri spinalis anterior. Arteri ini mensuplai
bagian tengah medulla spinalis. Karena serabut saraf motoris ke
segmen servikal secara topografis mengarah ke senter medulla
spinalis, inilah bagian yang paling terkena. Anterior cord syndrome
ditandai dengan adanya paraplegia dan kehilangan dissosiasi sensoris
terhadap nyeri dan sensasi suhu Fungsi kolumna posterior (kesadaran
8
posisi, vibrasi, tekanan dalam) masih ditemukan. Biasanya anterior
cord syndrome disebabkan oleh infark medulla spinalis pada daerah
yang diperdarahi oleh arteri spinalis anterior Sindrom ini mempunyai
prognosis yang terburuk diantara cidera inkomplit. Brown Sequard
Sydrome timbul karena hemiksesi dari medulla spinalis dan akan
jarang dijumpai. Akan tetapi variasi dari gambaran klasik cukup
sering ditemukan. Dalam bentuk yang asli syndrome ini terdiri dari
kehilangan motoris opsilateral (traktus kortikospinalis) dan kehilangan
kesadaran posisi (kolumna posterior) yang berhubungan dengan
kehilangan disosiasi sensori kontralateral dimulai dari satu atau dua
level dibawah level cedera (traktus spinotalamikus). Kecuali kalau
syndrome ini disebabkan oleh cedera penetrans pada medulla spinalis,
penyembuhan (walaupun sedikit) biasanya akan terjadi.

4. Morfologi, cedera tulang belakang dapat dibagi atas fraktur, fraktur


dislokasi,cedera medulla spinalis tanpa abnormalitas radiografi
(SCIWORA), atau cedera penetrans. Setiap pembagian diatas dapat
lebih lanjut diuraikan sebagai stabil dan tidak stabil. Walaupun
demikian penentuan stabilitas tipe cedera tidak selalu sederhana dan
ahlipun kadang-kadang berbeda pendapat. Karena itu terutama pada
penatalaksanaan awal penderita, semua penderita dengan defisit
neurologis, harus dianggap mempunyai cedera tulang belakang yang
tidak stabil. Karena itu penderita ini harus tetap diimobolisasi sampai
ada konsultasi dengan ahli bedah saraf/ ortopedi. Klasifikasi fraktur
dapat mengambil berbagai bentuk tergantung dari besar kecilnya
kerusakan anatomis atau berdasarkan stabil atau tidak stabil. ‘Major
Fracture’ bila fraktur mengenai pedikel, lamina atau korpus vertebra .
‘Minor Fraktur’ bila fraktur terjadi pada prosesus transversus,
prosesus spinosus atau prosesus artikularis. Suatu fraktur disebut
’stable’, bila kolumna vertebralis masih mampu menahan beban fisik
dan tidak tampak tanda – tanda pergeseran atau deformitas dari
struktur vertebra dan jaringan lunak. Suatu fraktur disebut ’unstable’,
bila kolumna vertebralis tidak mampu menahan beban normal,
9
kebanyakan menunjukkan deformitas dan rasa nyeri serta adanya
ancaman untuk terjadi gangguan neurologik. Cedera yang mengenai
kolumna spinalis akan diuraikan dalam urutan anatomis, dari cranial
mengarah keujung kaudal tulang belakang:

1) Dislokasi atlanto – oksipital (atlanto-occipital dislocation),


cedera ini jarang terjadi dan timbul sebagai akibat dari trauma
fleksi dan distraksi yang hebat. Kebanyakan penderita
meninggal karena kerusakan batang otak. Kerusakan neurologis
yang berat ditemukan pada level saraf kranial bawah. kadang-
kadang penderita selamat bila resusitasi segera dilakukan di
tempat kejadian.

2) Fraktur atlas (C-1), atlas mempunyai korpus yang tipis dengan


permukaan sendi yang lebar. Fraktur C-1 yang paling umum
terdiri dari burst fraktur (fraktur Jefferson). Mekanisme
terjadinya cedera adalah axial loading, seperti kepala tertimpa
secara vertikal oleh benda berat atau penderita terjatuh dengan
puncak kepala terlebih dahulu. Fraktur Jefferson berupa
kerusakan pada cincin anterior maupun posterior dari C-1,
dengan pergeseran masa lateral. Fraktur akan terlihat jelas
dengan proyeksi open mouth dari daerah C-1 dan C-2dan dapat
dikomfirmasikan dengan CT Scan. Fraktur ini harus ditangani
secara awal dengan Neck Collar .

3) Rotary subluxation dari C-1, cedera ini banyak ditemukan pada


anak-anak Dapat terjadi spontan setelah terjadi cedera berat/
ringan, infeksi saluran napas atas atau penderita dengan
rematoid arthritis. Penderita terlihat dengan rotasi kepala yang
menetap. Pada cedera ini jarak odontoid kedua lateral mass C-1
tidak sama, jangan dilakukan rotasi dengan paksa untuk
menaggulangi rotasi ini, sebaiknya dilakukan imobilisasi. Dan
segera rujuk.

10
4) Fraktur aksis (C-2), Aksis merupakan tulang vertebra terbesar
dan mempunyai bentuk yang istimewa karena itu mudah
mengalami cedera.

5) Fraktur odontoid, kurang 60% dari fraktur C-2 mengenai


odontoid suatutonjolan tulang berbentuk pasak. Fraktur ini dapat
diidentifikasi dengan foto ronsen servikal lateral atau buka
mulut.

6) Fraktur dari elemen posterior dari C-2, fraktur hangman


mengenai elemen posterior C-2, parsinter artikularis 20% dari
seluruh fraktur aksis fraktur disebabkan oleh fraktur ini.
Disebabkan oleh trauma tipe ekstensi, dan harus dipertahankan
dalam imobilisasi eksternal.

7) Fraktur dislocation ( C-3 sampai C-7), fraktur C-3 sangat jarang


terjadi, hal ini mungkindisebabkan letaknya berada diantara
aksis yang mudah mengalami cedera dengan titik penunjang
tulang servikal yang mobile, seperti C-5 dan C-6, dimana terjadi
fleksi dan ekstensi tulang servikal terbesar.

8) Fraktur vertebra torakalis ( T-1 sampai T-10), fraktur vertebra


Torakalis dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori : (1) cedera
baji karena kompresi bagian korpus anterior, (2) cedera bursi,
(3) fraktur Chance, (4) fraktur dislokasi. Axial loading disertai
dengan fleksi menghasilkan cedera kompresi pada bagian
anterior. Tip kedua dari fraktur torakal adalah cedera burst
disebabkan oleh kompresi vertikal aksial. Fraktur dislokasi
relatif jarang pada daerah T-1 sampai T-10.

9) Fraktur daerah torakolumbal - fraktur lumbal (T-11 sampai L-1),


fraktur di daerah torakolumbal tidak seperti pada cedera tulang
servikal, tetapi dapat menyebabkan morbiditas yang jelas bila
tidak dikenali atau terlambat mengidentifikasinya. Penderita
yang jatuh dari ketinggian dan pengemudi mobil memakai sabuk

11
pengaman tetapi dalam kecepatan tinggi mempunyai resiko
mengalami cedera tipe ini. Karena medulla spinalis berakhir
pada level ini , radiks saraf yang membentuk kauda ekuina
bermula pada daerah torakolumbal.

Tingkat cedera didefinisikan oleh ASIA (American Spinal Injury


Association) menurut Penurunan Skala (dimodifikasi dari klasifikasi
Frankel), dengan menggunakan kategori berikut :

a. A = Cedera Saraf Lengkap: Terjadi kehilangan fungsi motorik


dan sensori lengkap (Complet Loss) khususnya di segmen S4-S5.

b. B = Cedera Saraf Tidak Lengkap: Fungsi motorik hilang, fungsi


sensori utuh, kadang terjadi pada segmen S4-S5.

c. C = Cedera Saraf Tidak Lengkap: Fungsi motorik ada tetapi secara


praktis tidak berguna (dapat menggerakan tungkai tetapi tidak bisa
berjalan) dan tingkat kekuatan otot dibawah 3.

d. D = Cidera Saraf Tidak Lengkap: fungsi motorik terganggu (dapat


berjalan tetapi tidak dengan normal) tingkat kekuatan otot sama atau
diatas 3.

e. E = Normal: Fungsi sensorik dan motorik normal.

2.1.5 Pathway Trauma Tulang Belakang

Terlampir

2.1.6 Pemeriksaan DiagnostikTrauma Tulang Belakang


1. Pemeriksaan radiologi.
Sebagai penunjang,pemeriksaan yang penting adalah pencitraan
menggunakan sinar Rongent (Sinar-X). Untuk mendapatkan
gambaran tiga dimensi dari keadaan dan kedudukan tulang yang
sulit, kita memerlukan dua proyeksi, yaitu AP atau PA dan lateral.
Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) jika
ada indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari
karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan sinar-
12
X harus atas dasar indikasi kegunaan. Selain foto polos sinar- X
(plane X-ray) mungkin diperlukan teknik khusus, seperti hal – hal
berikut:
a. Tomografi menggambarkan tidak hanya satu struktur saja,
tetapi juga struktur tertutup yang sulit divisualisasikan.
Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang
kompleks, tidak hanya pada satu struktur saja, tetapi
pada struktur lain yang juga mengalami kerusakan.
b. Mielografi menggambarkan cabang – cabang saraf
spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebra yang
mengalami kerusakan akibnat trauma.
c. Artrografi menggambarkan jaringan ikat yang rusak karena
rudapaksa.
d. Computed Tomography – Scanning menggambarkan
potongan secara tranversal dari tulang tempat
terdapatnya struktur tulang yang rusak. pemeriksaan ini
sifatnya membuat gambar vertebra menjadi 2 dimensi.
Pemeriksaan vertebra dilakukan dengan melihat irisan-irisan
yang dihasilkan CT scan.
2. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang lazim
digunakan untuk mengetahui lebih jauh kelainan yang terjadi
meliputi hal – hal sebagai berikut:
a. Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada
tahap penyembuhan tulang.
b. Fosfatase alkali meningkat pada saat kerusakan tulang dan
menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
c. Enzim otot seperti kreatinin kinase, laktat
dehidrogenase (LDH – 5), aspartat amino transferase
(AST), dan .. meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.

13
3. Pemeriksaan Lain – lain
a. Pada pemeriksaan kultur mikroorganisme dan tes
sensitivitas didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi
b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya, pemeriksaan ini
sama dengan pemeriksaan di atas, tetapi lebih diindikasikan
bila terjadi infeksi.
c. Elektromiografi: terdapat kerusakan konduksi saraf akibat
fraktur.
d. Artroskopi: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek
karena trauma yang berlebihan.
e. Indium imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya
infeksi pada tulang.
f. MRI: menggambarakan semua kerusakan akibat
fraktur. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang
frekuensiradio untuk memberikan informasi detail mengenai
jaringan lunak di aerah vertebra. Gambaran yang akan
dihasilkan adalah gambaran 3 dimensi . MRIsering
digunakan untuk mengetahui kerusakan jaringan lunak
pada ligament dan diskus intervertebralis dan menilai
cedera medulla spinalis.

2.1.7 Penatalaksanaan Medis Trauma Tulang Belakang

Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat


kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat.. Yang pertama ialah
immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal; dengan menggunakan
’cervical collar’. Cegah agar leher tidak terputar (rotation). Baringkan
penderita dalam posisi terlentang (supine) pada tempat/alas yang keras.
Pasien diangkat/dibawa dengan cara ”4 men lift” atau menggunakan
’Robinson’s orthopaedic stretcher’.
a. Stabilisasi Medis
Terutama sekali pada penderita tetraparesis/ tetraplegia, lakukan :

14
a) Periksa vital signs segera normalkan ’vital signs’.
Pertahankan tekanan darah yang normal dan perfusi jaringan
yang baik. Berikan oksigen, monitor produksi urin, bila perlu
monitor AGD (analisa gas darah), dan periksa apa ada
neurogenic shock.
b) Pasang ’nasogastric tube’
c) Pasang kateter urin
d) Pemberian megadose Methyl Prednisolone Sodium Succinate
dalam kurun waktu 6 jam setaleh kecelakaan dapat
memperbaiki konntusio medula spinalis.
b. Mempertahankan posisi normal vertebra ”Spinal Alignment” Bila
terdapat fraktur servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield tong atau
Gardner-Wells tong dengan beban 2.5 kg perdiskus. Bila terjadi
dislokasi traksi diberikan dengan beban yang lebih ringan, beban
ditambah setiap 15 menit sampai terjadi reduksi.
c. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal bila terjadi ’realignment’ artinya
terjadi dekompresi. Bila ’realignment’ dengan caran tertutup ini gagal
maka dilakukan ’open reduction’ dan stabilisasi dengan ’approach’
anterior atau posterior.
d. Rehabilitasi, mungkin. termasuk dalam program ini adalah ‘bladder
training’, ’bowel training’, latihan otot pernafasan, pencapaian
optimal fungsi-fungsi neurologik dan program kursi roda bagi
penderita paraparesis/paraplegia.

2.1.8 KOMPLIKASI TRAUMA TULANG BELAKANG

a. Neurogenik shock

b. Hipoksia

c. Gangguan paru-paru

d. Instabilitas paru-paru

e. Orhostatic hipotensi

f. Ileus paralitik
15
g. Kontraktur

h. Inkotinensia bleder

i. Konstipasi

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Ttauma Tulang Belakang

2.2.1 Pengkajian Trauma Tulang Belakang

1. Primery Survey

a. Airway : Lakukan kontrol servikal untuk mengetahui


adanya desakan otot diafragma dan interkosta sehingga
mengganggu jalan nafas

b. Breathing : Control ventilasi

c. Circulation : Pantau Tekanan darah, Pantau adanya


Bradikardi atau poikilotermi

d. Disability : Kaji sebagian atau keseluruhan kemampuan


bergerak, kehilangan sensasi, dan kelemahan otot

2. Secondary Survey

a. Kaji riwayat trauma

b. Kaji tingkat kesadaran

c. Ukur tanda vital

d. Pemeriksaan fisik head to toe

2.2.2 Diagnosa Keperawatan Trauma Tulang Belakang

Menurut NANDA (2020) :

1. Ketidakefektifan Pola Nafas

2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer

3. Nyeri Akut

16
2.2.3 Intervensi Keperawatan Trauma Tulang Belakang

Terlampir

2.2.4 Implementasi Keperawatan Trauma Tulang Belakang

Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat


kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat.. Yang pertama ialah
immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal; dengan menggunakan
’cervical collar’. Cegah agar leher tidak terputar (rotation). Baringkan
penderita dalam posisi terlentang (supine) pada tempat/alas yang keras.
Pasien diangkat/dibawa dengan cara ”4 men lift” atau menggunakan
’Robinson’s orthopaedic stretcher’.

2.2.5 Evaluasi Keperawatan Trauma Tulang Belakang

Evaluasi adalah membandingkan suatu hasil / perbuatan dengan standar


untuk tujuan pengambilan keputusan yang tepat sejauh mana tujuan tercapai.

1. Evaluasi keperawatan : membandingkan efek / hasil suatu tindakan


keperawatan dengan norma atau kriteria tujuan yang sudah dibuat.

2. Tahap akhir dari proses keperawatan.

3. Menilai tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak.

4. Menilai efektifitas rencana keperawatan atau strategi askep.

5. Menentukan efektif / tidaknya tindakan keperawatan dan


perkembangan pasien terhadap masalah kesehatan.

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Spinal cord injury atau trauma tulang belakang adalah


injuri/cedera/trauma yang terjadi pada spinal, meliputi spinal collumna
maupun spinal cord, dapat mengenai elemen tulang, jaringan lunak, dan
struktur saraf pada cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma berupa
jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olah raga, dan
sebagainya

Penanganan gawat darurat pertama yang bisa dilakukan adalah dengan


tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat kejadian/kecelakaan
sampai ke unit gawat darurat.. Yang pertama ialah immobilisasi dan stabilkan
leher dalam posisi normal; dengan menggunakan ’cervical collar’.

3.2 Saran

Dengan dibuatnya makalah ini, semoga dapat memberikan manfaat untuk


pembaca khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat lebih memahami
konsep dasar dari konsep dasar dan asuhan keperawatan trauma tulang
belakang.

18
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Ed. 8. Vol 2. Jakarta: EGC

Lewis. 2000. Medical Surgical Nursing: Assesment and Management of Clinical


Problems. Philadelphia: Mosby

Muttaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan.


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Price, S. A. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses. Penyakit. Ed.6.


Jakarta: EGC

Reeves, C. J. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika

19