Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum dapat dikatakan evaluasi pengajaran adalah penilaian atau
penafsiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang
telah di tetapkan oleh hukum. Penilaian ini dapat dikatakan secara kuantitatif maupun
kualitatif .
Yang dievaluasi dalam proses belajar mengajar sebenarnya bukan hanya siswa,
tetapi juga sistem pengajarannya. Karena itu dalam proses belajar mengajar terdiri dari
rangkai tes yang dimulai dari tes awal untuk mengetahui mutu atau isi pelajaran apa yang
sudah diketahui oleh siswa dan apa yang belum, terhadap rencana pelajaran yang akan
diajarkan.
Proses dan hasil evaluasi sangat dipengaruhi oleh beragam pengamatan, latar
belakang dan pengalaman praktis evaluator itu sendiris. Pada hakikatnya evaluasi adalah
suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kuaitas (nilai dan arti)
dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan
keputusan.
Membahas tentang evaluasi berarti mempelajari bagaimana proses pemberian
pertimbangan mengenai kualitas sesuatu.Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan
konsekuensi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Proses tersebut tentu dilakukan
secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana, sesuai dengan prosedur dan
prinsip serta dilakukan secara terus-menerus.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi dalam Pengajaran

Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan
menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif
keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978 : 5). Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap
kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk
memproleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu
keputusan. Sudah tentu informasi atau data yang dikumpulkan itu haruslah data yang sesuai
dan mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan. Sebagai contoh, seorang pemuda berusah
memperoleh informasi tentang berbagai hal mengenai diri pacarnya. Ia menanyakan
pendidikan pacarnya, keadaan dan kehidupan keluarganya, pekerjaan orang tuanya, dan
sebagainya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Adapun data yang
menyangkut pribadi dan sifat-sifat pacarnya diteliti melalui pergaulan sehari-hari diantara
mereka berdua. Semua ini dilakukan karena pemuda tersebut ingin mengambil suatu
keputusan, “apakah pacarnya itu merupakan idola yang cocok dengan dirinya untuk segera
dijadikan teman hidupnya atau tidak”. Apa yang telah dilakukan pemuda tersebut adalah
salah satu contoh dari kegiatan evaluasi. Contoh lain banyak terdapat di dalam kehidupan
kita sehari-hari. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh kegiatan di dalam kehidupan
kita adalah melakukan kegiatan evaluasi, baik secara disengaja ataupun tidak.

Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E. Gronlund (1976)


merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut : “Evaluation.....a systematic process of
determining the extent to which intructional objectives are achieved by pupils “.(Evaluasi
adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai
sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.)

Dengan kata-kata yang berbeda, tetapi mengandung pengertian yang hampir sama,
Wrightstone dan kawan-kawan (1936 : 16) mengemukakan rumusan evaluasi pendidikan
sebagai berikut : Educational evaluation is the estimation of the growth and progress of
pupils toward objectives or values in the curriculum”.(Evaluasi pendidikan ialah penafsiran
terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah
ditetapkan di dalam kurikulum).

Dari rumusan-rumusan tersebut di atas sedikitnya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan
untuk memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran,yaitu:

1. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi dalam
pengajaran merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan.
Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup dari suatu program
tertentu, melainkan merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program
berlangsung, dan pada akhir program setelah program itu dianggap selesai.Yang
dimaksud dengan program di sini adalah program satuan pelajaran yang akan
dilaksanakan dalam suatu pertemuan atau lebih, program catur wulan ataupun program
satu semester, dan juga program pendidikan yang dirancang untuk satu tahun ajaran (D
1), empat tahun ajaran (seperti S1), atau enam tahun ajaran (seperti SD), dan sebagainya.
2. Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut
objek yang sedang di evaluasi. Dalam kegiatan pengajaran, data yang dimaksud mungkin
berupa perilaku atau penampilan siswa selama mengikuti pelajaran, hasil ulangan atau
tugas-tugas pekerjaan rumah, nilai ujian semester pertama, nilai ujian semester kedua dan
sebagainya. Berdasarkan data itulah selanjutnya diambil suatu keputusan sesuai dengan
maksud dan tujuan evaluasi yang sedang dilaksanakan. Perlu dikemukakan bahwa
ketepatan keputusan hasil evaluasi sangat bergantung kepada kesahihan dan objektivitas
data yang digunakan dalam pengambilan keputusan.
3. Setiap kegiatan evaluasi, khusunya evaluasi pengajaran tidak dapat dilepaskan dari
tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Tanpa menentukan atau merumuskan
tujuan-tujuan terlebih dulu, tidak mungkin menilai sejauh mana pencapaian hasil belajar
siswa. Hal ini adalah karena setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu kriteria tertentu
sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian objek yang dinilai. Adapun tujuan
pengajaran merupakan kriteria pokok dalam penialian.

Dalam hubungannya dengan keseluruhan proses belajar-mengajar, tujuan pengajaran dan


proses belajar-mengajar serta prosedur evaluasi saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan
satu dari yang lain. Bahan atau materi pengajaran apa yang akan diajarkan dan metode apa
yang akan digunakan sangat bergantung pada tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
Demikian pula bagaimana prosedur evaluasi harus dilakukan serta bentuk-bentuk tes atau
alat evaluasi mana yang akan dipakai untuk menilai hasil pengajaran tersebut harus dikaitan
dan mengaju kepada bahan dan metode mengajar yang digunakan dan tujuan pengajaran
yang telah dirumuskan.

Yang dievaluasi dalam proses belajar-mengajar sebenarnya bukan hanya siswa, tetapi
juga sistem pengajarannya karena itu dalam proses belajar-mengajar terdiri dari rangkaian tes
yang dimulai dari (tes awal) atau entering behavior untuk mengetahui mutu atau isi pelajaran
apa yang sudah diketahui oleh siswa dan apa yang belum, terhadap rencana pelajaran yang
akan diajarkan. Tes awal untuk mengukur kemampuan siswa ke dalam kelompok
kemampuan yang kurang (slow learners), sedang yang pandai (fast learners) pada saat
pelajaran dalam pelaksanaan (dalam proses) diperlukan evaluasi formatif untuk mengetahui,
apakah proses belajar-mengajar yang sedang berlangsung sudah betul atau belum.
Misalnya,apakah sistem pengajaran dan metodenya sudah cocok, apakah siswanya mampu
atau tidak, apakah media yang digunakan tidak salah pilih, dan sebagainya. Jadi, data yang
diperolh dari evaluasi formatif digunakan untuk pengembangan. Sedangkan pada akhir
pelajaran diadakan evaluasi sumatif untuk mengetahui, apakah yang diajarkan efektif atau
tidak. Kalau pada awal (sebelum pelajaran diajarkan) diberikan tes awal, maka pada akhir
pelajaran perlu diberikan tes akhir untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan,
keterampilan, atau sikap siswa bertambah. Apabila orientasi evaluasi hanya diarahkan kepada
TIK saja (artinya, apakah TIK yang sudah ditentukan bisa dicapai atau belum), maka evaluasi
tersebut hanya mengukur penguasaan siswa terhadap TIK. Hasil ini dijadikan dasar untuk
menentukan, apakah siswa boleh melanjutkan ke pokok bahasan selanjutnya atau harus
mengulang.

B. Hubungan Antara Pengajaran dan Evaluasi

Peran sekolah dan guru-guru yang pokok adalah menyediakan dan memberikan
fasilitas untuk memudahkan dan melancarkan cara belajar siswa. Guru harus dapat
membangkitkan kegiatan-kegiatan yang membantu siswa meningkatkan cara dan hasil
belajarnya. Namun, di samping itu kadang-kadang guru merasa bahwa evaluasi itu
merupakan sesuatu yang bertentangan dengan pengajaran. Hal ini timbul karena seruing kali
terlihat bahwa adanya kegiatan evaaluasi justru merisaukan dan menurunkan gairah belajar
pada siswa. Jdai, seolah-olah kegiatan evaluasi bertentangan dengan kegiatan pengajaran.
Pendapat yang demiakian itu pada hakikatnya tidak benar. Memang, evaluasi yang dilakukan
secara tidak benar dapat mematikan semangat siswa dalam belajar. Sebaliknya, evaluasi yang
dilakukan dengan baik dna benar seharusnya dapat meningkatkan mutu dan hasil belajar
karena kegiatan evaluasi itu membantu guru untuk memperbaiki cara mengajar dan
membantu siswa dalam meningkatkan cara belajarnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa
evaluasi tidak dapat dilepaskan dari pengajaran.

Mehrens dan Lehmann (1978 : 10) mengutip suatu ungkapan yang berbunyi : “to
teach withuot testing in unthinkable”(mengajar tanpa melakukan tes tidak masuk akal).
Ungkapan ini menunjukkan betapa erat kaitan antara pengajaaran dan evaluasi. Demikian
pula, Parnel mengemukakan sebagai berikut : Pengukuran adalah langkah awal dari
pengajaran. Tanpa pengukuran, tidak dapat terjadi penilaian. Tanpa penilaian, tidak akan
terjadi umpan balik. Tanpa umpan balik, tidak akan diperoleh pengetahuan yang baik tentang
hasil. Tanpa pengetahuan tentang hasil, tidak dapat terjadi perbaikan yang sistematis dalam
belajar.

Kutipan di atas makin jelas menujukkan kepada kita bahwa evaluasi merupakan suatu
komponen yang sangat erat berkaitan dengan kompenen-komponen lain di dalam pengajaran. Dapat
dikatan bahwa evaluasi dan pengajaran iru saling membantu. Evaluasi haruslah membantu
pengajaran dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Pengajaran Evaluasi
1. Pengajaran itu efektif jika mengarah 1. Evaluasi itu efektif jika dapat
kepada perubahan yang diinginkan di membuktikan sampai dimana
dalam diri siswa. perubahan itu terjadi di dalam diri
siswa.
2. Pola tingkah laku baru akan dipelajari
2. Evaluasi sangat berguna (kondusif)
siswa dengan baik jika
bagi pelajar jika ia mendorong dan
ketidakcocokan perilaku yang
membangkitkan siswa untuk
sekarang dimengerti dan
mengevaluasi diri.
kebermaknaan perilaku yang baru
menjadi jelas karenanya.
3. Pola-pola tingkah laku baru dapat 3. Evaluasi itu berguna (kondusif) bagi
lebih dikembangkan secara efektif pengajaran yang baik jika ia
oleh guru-guru yang mengetahui mengemukakan tipe-tipe pokok dari
pola-pola tingkah laku yang ada pada tingkah laku yang tidak sesuai dan
individu siswa dan alasan-alasannya. sebab-sebab yang mendukungnya.
4. Belajar ditimbulkan oleh masalah- 4. Evaluasi sangat bermakna di dalam
masalah dan kegiatan-kegiatan yang belajar jika ia memungkinkan dan
menuntut pemikiran dan atau mendorong latihan atas inisiatif
perbuatan dari individu siswa masing- individu.
masing.
5. Kegiatan-kegiatan dan latihan-latihan
5. Kegiatan-kegiatan yang memberi
yang dikembangkan untuk tujuan
dasar bagi mengajar dan belajar
pengevaluasian tingkah laku tertentu
tingkah laku tertentu juga kegiatan
juga berguna bagi mengajar dan
yang sangat cocok bagi pembangkitan
belajar tingkah laku tersebut.
dan penilaian terhadap kecocokan
tingkah laku tersebut.

C. Fungsi Evaluasi dalam Proses Belajar-Mengajar

Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu
sendiri.Di dalam batasan tetang evaluasi pewndidikan yang telah dikemukakan dimuka
tersirat bahwa tujuan evaluasi pendidikan ialah untuk mendapat data pembuktian yang akan
menunjukkan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian
tujuan-tujuan kulikuler. Di samping itu,juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para
pengawas pendidikanuntuk mengukur atau menilai sampai di mana keefektipan pengalaman-
pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang
digunakan. Dengan demikian, dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi evaluasi itu
dalam proses belajar-mengajar.

Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat
dikelompokkan menjadi empat fungsi yaitu :
1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah
mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi
yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa
(fungsi formatif) dan atau untukmengisi rapor atau surat tanda tamat belajar, yang berarti
pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus tidaknya seorang siswa dari suatu
lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).
2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai
suatusistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain.
Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan, materi atau bahan pengajaran,
metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta alat
evaluasi.
3. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling (BK). Hasil-hasil evaluasi yang telah
dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data
bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya, antara lain
:
- Untuk membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kekurangan atau
kemampuan siswa.
- Untuk mengetahui dalam hal-hal apa seseorang atau sekelompok siswa memerlukan
pelayanan remedial.
- Sebagai dasar dalam menangani kasus-kasus tertentu di antara siswa.
- Sebagai acuan dalam melayani kebutuhan-kebutuhan siswa dalam rangka bimbingan
karier.
4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Seperti telah dikemukakan di muka, hampir setiap saat guru melaksanakan kegiatan
evaluasi dalam rangka menilai keberhasilan belajar siswa dan menilai program
pengajaran, yang berrati pula menilai isi atau materi pelajaran yang terdapat di dalam
kurikulum. Seorang guru yang dinamis tidak akan begitu saja mengikuti apa yang tertera
di dalam kurikulum; ia akan selalu berusaha untuk menentukan dan memilih materi-
materi mana yang sesuai dengan kondisi siswa dan situasi lingkungan serta
perkembangan masyarakat pada masa itu. Materi kurikulum yang dianggap tidak sesuai
lagi dengan perkembangan dan kebutuhan masyarkat akan ditinggalkannya dan diganti
dengan materi yang dianggap sesuai. Benar apa yang dikatakan oleh para pakar
kurikulum bahwa pada hakikatnya kurikulum sekolah ditentukan oleh guru.
Meskipun pada umumnya di Indonesia kurikulum sekolah disusun secara nasional dan
berlaku untuk semua sekolah yang sejenis dan setingkat, guru-guru dapat ikut serta
menyusun kurikulum, atau duduk dalam panitia penyusun kurikulum, atau setidak-tidaknya
memberikan saran dan pendapatnya. Sebaliknya, panitia penyusun kurikulum biasanya
mencari masukan-masukan dari para pelaksana kurikulum di lapangan, termasuk para
pengawas,kepala sekolah dan guru-guru. Demikianlah betapa penting peranan dan fungsi
evaluasi bagi pengembangan dan perbaikan kurikulum.

D. Syarat-syarat Umum Evaluasi

Dalam menyelenggarakan atau mengadakan kegiatan evaluasi kita perlu memprhatikan


syarat-syarat yang harus dipenuhi kegiatan evaluasi tersebut. Syarat-syarat umu yang harus
dipenuhi dalam mengadakan kegiatan evaluasi dalam proses pendidikan terurai sebagai
berikut :

a. Kesahihan

Kesahihan menggantikan kata validitas (validity) yang dapat diartikan sebagai ketepatan
evaluasi mengevaluasi apa yang seharusnya di evaluasi. Kesahihan dapat diterjemahkan
pula sebagai kelayakan interpretasi terhadap hasil dari suatu instrumen evaluasi atau tes,
dan tidak terhadap instrumen itu sendiri (Gronlund,1985:57). Dengan demikian, akan
kurang tepat bila mengatakan “kesahihan evaluasi” lebih tepat bila mengatakan “
kesahihan interpretasi yang dibuat dari hasil evaluasi “. Kesahihan juga dapat dikatakan
lebih menekankan pada hasil/perolehan evaluasi, bukan pada kegiatan evaluasinya.
Dengan kata lain, kesahihan diperuntukkan menjawab pertanyaan “ apakah hasil eveluasi
sahih? “.

Untuk memperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan instrumen yang


memiliki/memenuhi syarat-syarat kesahihan suatu instrumen evaluasi. Kesahihan
instrumen evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Dari dua
cara tersebut diperoleh empat macam kesahihan yang terdiri dari: (i) kesahihan isi,(ii)
kesahihan konstruksi,(iii) kesahihan ada sekarang, (iv) kesahihan prediksi. (Arikunto,
1990:64).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesahihan hasil evaluasi meliputi :

1. Faktor instrumen evaluasi itu sendiri. Hal-hal yang barang kali menyebabkan atau
yang mempengaruhi kesahihan hasil evaluasi yang ada dalam instrumen evaluasi,
diantaranya ketidakjelasan petunjuk, tingkat kesulitan kosa kata dan struktur kaliamat
instrumen evaluasi, ketidaklayakan tingkat kesulitan item evaluasi, susunan item
evaluasi yang kurang baik, item evaluasi yang terlalu pendek, dan dapat dikenalinya
pola jawban instrumen evaluasi.
2. Faktor-faktor administrasi evaluasi, juga merupakan faktor-faktor yang mempunyai
suatu pengaruh yang mengganggu kesahihan interpretasi hasil evaluasi. Dalam kasus
instrumen evaluasi guru, faktor-faktor terseut di antaranya berupa waktu yang tidak
cukup untuk menyelesaikan evaluasi, bantuan secara tak wajar kepada individu siswa
yang meminta pertolongan, mencontek saat ujian dan jawaban essay yang tidak dapat
diperoleh karean cenderung ke arah kesahihan yang rendah. Dalam hal evaluasi yang
diterbitkan oleh lembage tertentu, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah kesalahan
dalam mengikuti petunjuk dan batasan waktu, memberikan bantuan yang tidak sah
kepada siswa. Sedangkan untuk semua instrumen evaluasi (baik yang dibuat oleh
guru maupun bukan ), kondisi fisik dan psikis yang tidak menguntungkan pada saat
evaluasi juga mempunyai pengaruh negatif.
3. Faktor-faktor dalam respons-respons siswa merupakan faktor-faktor yang lebih
banyak mempengaruhi kesahihan dari pada faktor yang ada dalam instrumen evaluasi
atau pengadministrasiannya. Faktor-faktor dalam respons-respons siswa di antaranya
adalah kecendrungan untuk merespons secara tepat daripada secara
tepat,kecendrungan merespons secara coba-coba, dan penggunaan gaya tertentu
dalam merespons item evaluasi easi. (Gronlund, 1986: 79-81).
b. Keterandalan

Syarat umum yang juga sama pentingnya dengan kesahihan adalah keterandalan evaluasi.
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat
kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrumen evaluasi mampu
memberikan hasil yang tepat (Arikunto, 1990 : 81). Untuk memperjelas tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi keterandalan, akan diuraikan berikut ini:
1. Panjang tes. Panjang tes berhubungan dengan banyaknya butir tes, pada umumnya
lebih banyak butir tes lebih tinggi keterandalan evaluasi. Hal ini terjadi karena makin
banyak soal tes makin banyak sampel yang diukur, proporsi jawaban benar makin
banyak, dengan demikian faktor tebakan (guessing) makin rendah. Karean pengertian
tes dilakukan dengan tidak banyak menebak, maka keterandalan hasil evaluasi
semakin tinggi.
2. Sebaran skor (spread of scores). Koefisien keterandalan secara langsung dipengaruhi
oleh sebaran skor dalam kelompok tercoba. Dengan kata lain, besarnya sebaran skor
akan membuat perkiraan keterandalan yang lebih tinggi akan terjadi menjadi
kenyataan. Karena koefisien keterandalan yang lebih besar dihasilkan pada saat orang
perorang tetap pada posisi yang relatif sama dalam satu kelompok dari satu pengujian
ke pengujian lainnya, itu berarti selisih yang dimungkinkan dari perubahan posisi
dalam keolmpok juga menyumbang memperbesar koefisien keterandalan.
3. Tingkat kesulitan tes (difficuly of tes). Tes acuan norma yang paling mudah atau
paling sukar untuk anggota-anggota kelompok yang mengerjakan, cenderung
menghasilkan skor tes keterandalan yang rendah. Ini disebabkan anatara hasil tes
yang mudah dan yang sulit keduanya dalam satu sebaran skor yang terbatas. Untuk
tes yang mudah, skor akan berada bersama-sama pada bagian atas dan akhir skala
penilaian. Sedangkan untuk tes yang sulit, skor mengelompokkan bersama-sama pada
bagian akhir bawah skala penilaian. Untuk kedua tes (mudah dan sukar), perbedaan
antar orang perorang kecil sekali dan cenderung tidak dapat dipercaya.Tingkat
kesulitan tes yang ideal untuk meningkatkan koefisien keterandalan adalah tes yang
menghasilkan sebaran skor berbentuk genta atau kurva normal.
4. Objektivitas. Objektivitas suatu tes menunjuk kepada tingkat skor kemampuan yang
sama (yang dimiliki oleh siswa satu dengan siswa yang lain). Memperoleh hasil yang
sama dalam mengerjakan tes. Dengan kata lain, apabila ada siswa yang memiliki
tingkat kemampuan yang sama dengan tingkat kemampuan siswa yang lain maka
dapt dipastikan akan memperoleh hasil tes yang sam pada saat mengerjakan tes yang
sama. Objektivitas prosedur tes yang tinggi akan menghasilkan keterandalan hasil tes
yang tidak dipengaruhi oleh prosedur penskoran.
c. Kepraktisan
Dalam memilih tes dan instrumen evaluasi yang lain, kepraktisan merupakan
syarat yang tidak dapat diabaikan kepraktisan evaluasi terutama dipertimbangkan pada
saat memilih tes atau instrumen evaluasi lain yang dipublikasikan oleh suatu lembaga.
Kepraktisan evaluasi dapat diartikan sebagai kemudahan-kemudahan yang ada pada
instrumen evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan,
menginterpretasikan/memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpanya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepraktisan instrumen evaluasi meliputi :

1. Kemudahan mengadministrasi. Jika instrumen evaluasi diadministrasikan oleh guru


atau orang lain dengan kemampuan yang terbatas, kemudahan pengadministrasian
adalah suatu kualitas penting yang diminta dalam instrumen evaluasi. Untuk
memberikan kemudahan pengadministrasiaan instrumen dapat dilakukan dengan
jalan memberikan petunjuk yang sederhana dan jelas, subtes sebaiknya relatif sedikit,
dan pengaturan tempo tes sebaiknya tidak menimbulkan kesulitan.
2. Waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi. Kepraktisan dipengaruhi pula
oleh faktor waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi. Waktu antara 20
menit sampai 60 menit yang disediakan untuk melancarkan evaluasi merupakan
waktu ysng cukup untuk memberikan kepraktisan.
3. Kemudahan menskor. Secara tradisional, hal yang membosankan dan aspek yang
mengganggu dalam melancarkan evaluasi adalah penskoran. Guru seringkali bekerja
berat berjam-jam untuk melaksanakan tugas ini. Kenyataan ini jelas mengurangi
kepraktisan instrumen evaluasi. Untuk memberikan kemudahan penskoran diperluakn
pengembangan berupa perbaikan petunjuk untuk penskoran dan lebih memudahkan
kunci penskoran, pemisahan lembar jawaban dari lembar soal, dan penskoran
menggunakan mesin.
4. Kemudahan interpretasi dan aplikasi. Dalam analisis terakhir, keberhasilan atau
kegagalan evaluasi diterjemahkan secara tepat dan diterapkan secara efektif, hasil
evaluasi akan mendukung terhadap keputusan-keputusan pendidikan yang lebih tepat.
Untuk memudahkan interpretasi dan aplikasi hasil evaluasi diperlukan petunjuk yang
jelas. Semakin mudah interpretasi dan aplikasi hasil evaluasi, semakin meningkatkan
kepraktisan evaluasi.
5. Tersedianya bentuk instrumen evaluasi yang ekuivalen atau sebanding. Untuk
berbagai kegunaan pendidikan, bentuk-bentuk ekuivalen untuk tes yang sama
seringkali diperlukan. Bentuk-bentuk ekuivalen dari sebuah tes mengukur aspek-
aspek perilaku melalui butir-butir tes yang memiliki kesamaan dalam isi, tingkat
kesulitan, dan karakteristik lainnya. Dengan demikian, satu bentuk suatu tes dapat
menggantikan yang lain. Sedangkan instrumen evaluasi yang sebanding adalah
instrumen evaluasi yang memiliki kemungkinan dibandingkan makna dari skala skor
umum yang dimiliki, sehingga untuk tes berseri cukup menggunakan satu skala sor.
Adanya bentuk-bentuk yang ekuivalen atau sebanding dari instrumen evaluasi akan
mempraktiskan dalam melancarkan evaluasi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Salah satu komponen penting juga merupakan tugas profesional guru dalam
pembelajaran adalah melaksanakan evaluasi pembelajaran. Istilah “ evaluasi” digunakan
untuk membedakannya dengan istilah “penilaian”. Alasannya pembelajaran sebagai suatu
sistem tidak hanya terdiri atas hasil belajar tetapi juga komponen-komponen penting
lainnya, seperti guru, strategi, dan media.
Hasil evaluasi pembelajaran selain untuk mengisi buku rapor peserta didik juga
dapat feedback bagi guru untuk melakukan proses pelaksanaan pembelajaran. Dengan
demikian, setiap saat guru dapat meningkatkan kinerjanya sehingga secara bertahap tapi
pasti mutu pendidikan dapat ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin Zaenal, Evaluasi Pembelajaran, PT. Remaja Rosdakarya Offset, Bandung,2009


Purwanto M. Galim, Prinsip-prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran, PT. Remaja Rosdakarya
Offset, Bandung, 2001
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, PT. Asdi Mahasatya, Jakarta, 2006
Dimyati & Mudjiono, Belajar Dan Pembelajaran, PT. Asdi Mahasatya, Jakarta, 2006