Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS KINERJA INDUSTRI

(Dosen Drs. Hanafi. M.Si)

KELOMPOK :

1) Riski Sari Indah


2) Sahang Nauli Skb
3) Siti Hartina
4) Ummi Kalsum

Semester : V-C
Mata Kuliah : Ekonomi Industri
Program Studi : Pendidikan Ekonomi

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


TAPANULI SELATAN
2016

i
Kata Pengantar

Puji syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Dengan pembuatan makalah ini bermaksud untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Ekonomi Industri.
Dan tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa malakah ini
masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kami menerima kritik dan saran
yang membangun untuk memperbaiki pembuatan makalah selanjutnya.

Padangsidimpuan, 17 Oktober 2016

Penyusun

ii i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. i


Daftar Isi........................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan Makalah ...................................................................................... 2
1.3 Landasan Teori ....................................................................................... 2
BAB II Pembahasan ......................................................................................... 5
2.1 Kondisi Perbankan di Indonesia ............................................................. 5
2.2 Analisis Kinerja Industri Perbankan di Indonesia .................................. 5
2.2.1 Analisis Berdasarkan Kemajuan dan Inovasi Teknologi ................. 5
2.2.2 Analisis Efisiensi ............................................................................. 9
2.3 Peran Industri Perbankan Terhadap Perekonomian Indonesia ............... 9
BAB III Kesimpulan ........................................................................................ 11
Daftar Pustaka ..................................................................................................

iii
ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam nomor satu di
dunia, yang sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi negara maju. Tapi
sayangnya banyak hambatan-hambatan yang mengahalangi kemajuan tersebut.
Salah satu faktornya adalah kondisi keuangan yang sampai saat ini menjadi
masalah yang sangat serius.
Perbankan sendiri merupakan perantara keuangan dari dua pihak, yakni
pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Hal tersebut
tercermin pada UU RI no. 10 tahun 1998, tanggal 10 November 1998 yang
menjelaskan mengenai Perbankan. Menurut UU RI no. 10 tahun 1998 yang
dimaksud Bank adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana dari masyarakat dalam bentuk
kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak”. Seperti pada pengertiannya, yang pada intinya perbankan merupakan
badan usaha yangmenghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya
kembali ke masyarakat. Dari pengertian di atas dapat terlihat sekilas mengenai
peranan perbankan yang diharapkan dapat memajukan perekonomian di
Indonesia. Dua hal tersebut merupakan tugas inti dari sebuah Bank Umum.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, tugas dari Bank Umum kini
semakin berkembang, diantaranya yaitu:
1. Penciptaan uang giral, yaitu alat pembayaran lewat mekanisme pemindah
bukuan (kliring). Kemampuan bank umum mencipatakam uang giral
menyebabkan posisi dan fungsinya dalam pelaksanaan kebijakan moneter.
2. Mendukung Kelancaran Mekanisme Pembayaran. Fungsi lain dari bank
umumyang juga sangat penting adalah mendukung kelancaran mekanisme
pembayaran.Hal ini dimungkinkan karena salah satu jasa yang ditawarkan
bank umum adalah jasa-jasa yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran.
Beberapa jasa yangamat dikenal adalah kliring, transfer uang, penerimaan
setoran-setoran, pemberianfasilitas pembayaran dengan tunai, kredit, fasilitas-

1
fasilitas pembayaran yangmudah dan nyaman, seperti kartu plastik dan sistem
pembayaran elektronik
3. Penghimpunan Dana Simpanan Masyarakat. Dana yang paling banyak
dihimpun oleh bank umum adalah dana simpanan. Di Indonesia dana
simpanan terdiri dari atasgiro, deposito berjangka, sertifikat deposito,
tabungan atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.
Kemampuan bank umum menghimpun dana jauh lebih besar dibandingkan
dengan lembaga-lembaga keungana lainnya. Dana-dana simpanan yang
berhasil dihimpun akan disalurkan kepada ppihak-pihak yang membutuhkan,
utamanya melalui penyaluran kredit.
4. Mendukung Kelancaran Transaksi Internasional. Bank umum juga sangat
dubutuhkan untuk memeudahkan dan atau memperlancar transaksi
internasional, baik transaksi barang/jasa maupun transaksi modal.
Beberapa hal diatas telah sedikit menggambarkan peranan perbankan dalam
perekonomian disuatu negara khususnya di Indonesia. Karenanya segala upaya
dilakukan oleh Bank Sentral Indonesia dalam hal ini Bank Indonesia dan masing
masing perusahaan perbankan untuk memacu kinerja perusahaannya. Untuk itu
menarik untuk di analisis bagaimana struktur, perilaku dan kinerja industri
perbankan di Indonesia.

1.2 Tujuan Makalah


Setelah mengetahui sedikit gambaran peranan dan fungsi perbankan
didalam perekonomian suatu negara selanjutnya hal menarik yang akan dibahas
adalah mengenai analisa kelompok kami terkait kinerja industri perbankan di
Indonesia. Disamping itu, makalah ini disusun untuk melengkapi syarat penilaian
Mata Kuliah Ekonomi Industri yang diwajibkan bagi mahasiwa semester V-C.
Mason dan Joe Bain menurut Shepherd (1990) berusaha menjawab
pertanyaan tersebut dengan mengembangkan teori SCP. Hanya saja apa yang
dikembangkan oleh keduanya memiliki tujuan yang berbeda dengan
perkembangan teori SCP pada saat ini. Pada awalnya, teori SCP dimanfaatkan
untuk membantu pemerintah mengurangi bahaya perusahaan yang kurang
kompetitif. Adapun teori SCP pada saat ini bermanfaat sebagai manajemen
strategis perusahaan. Dasar paradigma SCP dicetuskan oleh Mason (1939) yang

2
mengemukakan bahwa struktur (structure) suatu industri akan menentukan
bagaimana para pelaku industry berperilaku (conduct) yang pada akhirnya
menentukan keragaan atau kinerja (performance) industri tersebut. Struktur
biasanya diukur dengan rasio konsentrasi. Perilaku antara lain dilihat dari tingkat
persaingan ataupun kolusi antar produsen. Keragaan atau kinerja suatu industri
diukur antara lain dari derajat inovasi, efisiensi dan profitabilitas. Hubungan SCP
dapat digambarkan sebagai berikut:
Variabel yang dapat digunakan dalam mengukur kinerja suatu industri
adalah Profit. Hubungan SCP telah lama menjadi isu yang menantang dan
kontroversial sebab isu inilah yang membedakan antar kelompok strukturalist dan
behaviorist.
Menurut Joe Bain dalam Grether (1970), variabel struktur lebih penting
dari variabel kinerja, sebab kinerja pasar dapat dijelaskan dengan baik hanya
dengan variabel struktur, seperti concentration ratio dan barrier to entry. Lebih
jauh, Joe Bain mengatakan bahwa perilaku pasar hanya merupakan kinerja pasar
atau bahkan merupakan cerminan dari sifat bersaing pada suatu pasar. Selain itu
perilaku pasar sering mengalami kesulitan untuk diobservasi, dengan katalain sulit
untuk menemukan ukuran yang obyektif.
Namun demikian, dalam bentuk umum, substansi dasar teori SCP menurut
Dennis dan Perloff (2000), adalah struktur pasar dan perilaku perusahaan sebagai
sumber kinerja perusahaan. Teori SCP berusaha menjelaskan bagaimana,
perusahaan dalam suatu struktur pasar tertentu yang melingkupinya, (structure=S)
akan berperilaku (conduct=C) sehingga tercipta suatu kinerja tertentu
(performance=P). Secara lebih khusus, Martin (1994), mengemukakan bahwa
struktur pasar dengan tingkat konsentrasi yang tinggi akan mendorong perusahaan
untuk berperilaku kolusi daripada bersaing satu sama lain. Struktur dan perilaku
ini akan mempengaruhi kinerja yang tercermin dalam harga, efisiensi, atau tingkat
inovasi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Perbankan di Indonesia


Dalam era globalisasi saat ini perkembangan industri perbankan sangat
pesat. Industri perbankan memiliki peran yang strategis karena fungsinya sebagai
perantara atau melaksanakan fungsi intermediasi, yaitu memobilisasi dana dari
pihak yang kelebihan dana (penabung) kepada pihak yang membutuhkan dana
(pelaku usaha). Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang No.10 Tahun
1998, bank adalah badan proyek yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit
dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.
Bisnis perbankan di Indonesia di era tahun 1960-an dan 70-an merupakan
bisnis yang belum begitu terkenal. Kesan bank masih angker, bank tidak perlu
mencari nasabah, tetapi sebaliknya nasabahlah yang datang mencari bank.
Kemudian era tahun 80-an dan era 90-an kesan Dunia perbankan menjadi terbalik,
karena di era ini justru perbankan mulai aktif mengejar nasabah. Bahkan dengan
keluarnya pakjun 83, pakto 88 tahun 1988 dan UU No. 7 tahun 1992, Perbankan
di Indonesia tumbuh subur, puluhan bank baru berdiri. Hal ini disebabkan
kesempatan yang diberikan oleh pemerintah untuk mendirikan bank begitu mudah
misalnya dengan modal Rp.50.000.000,- setiap orang dapat mendirikan BPR,
akibatnya setiap orang dengan mudah dapat mendirikan bank baru padahal
mereka sebelumnya tidak mengenal bank secara baik (Kasmir, 2004). Selanjutnya
awal tahun 1997 sampai tahun 2000 merupakan kehancuran dunia perbankan di
Indonesia. Puluhan bank dilikuidasi atau dibubarkan dan puluhan lagi di merger
akibat terus menerus menderita kerugian baik bank milik Pemerintah maupun
milik Swasta Nasional. Kebobrokan dunia perbankan Indonesia adalah akibat
salah dalam pengelolaannya. Hancurnya dunia perbankan tersebut merupakan
pelajaran yang berharga bagi para bankir di Indonesia khususnya (Kasmir, 2004).
Bahkan pada masa krisis tersebut rasio kredit macet Non Performing Loans (NPL)
industri perbankan nasional mencapai 60% (Kompas dalam Mudrajad, 2008).

4
Kini industri perbankan Indonesia masih belum pulih sepenuhnya akibat
hantaman krisis ekonomi tersebut. Pada tahun 2003 salah satu indikator
perbankan seperti Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada posisi 50-60% dan
saat ini menjadi 76%. Kemudian struktur dana pihak ketiga yang masih
didominasi oleh dana jangka pendek seperti giro dan tabungan, menunjukkan
bahwa perbankan belum dapat menjalankan fungsi utamanya dalam sistem
perekonomian, yaitu fungsi intermediasi. Namun demikian, seiring dengan
program penyehatan perbankan yang didorong oleh Bank Indonesia, industri
perbankan mulai menunjukkan kinerja yang meningkat dari posisi keterpurukan
selama krisis ekonomi, walaupun belum mencapai tingkat kinerja seperti sebelum
krisis (Taufik, 2004).

2.2 Analisis Kinerja Industri Perbankan di Indonesia


2.2.1 Analisis Berdasarkan Kemajuan dan Inovasi Teknologi
Analisis kinerja industri perbankan di Indonesia pertama terkait kemajuan
teknologi dan inovasi perbankan indonesia. Ada Tiga hal akan mencirikan
perbankan di masa depan, moneles, brancheles, dan bankerles. Semakin sedikit
uang kontan karena transaksi akan dilakukan secara elektronis, kantor-kantor
cabang juga akan berkurang karena setiap nasabah yang dilengkapi dengan PC,
bisa langsung melakukan transaksi virtual dan kemajuan teknologi
memungkinkan pekerjaan pada banker akan digantikan dengan mesin.
Dewasa ini perkembangan industri keuangan baik lembaga perbankan
maupun non perbankan berjalan sangat pesat. Kemajuan TI telah memungkinkan
pula lembaga-lembaga yang dulunya bergerak disektor industri non keuangan
mengalihkan atau mendefinisikan bisnisnya ke sector keuangan. Implikasinya
persaingan makin ketat.
Semakin majunya teknologi di dunia transaksi perbankanpun mulai
mengunakan teknologi berbasis komputer untuk mempermudah transaksi dengan
nasabah. yang tadinya melayani nasabah dengan harus bertemu atau nasabah
datang ke cabang-cabang bank yang disediakan oleh bank yang dia gunakan untuk
menabung/infertasi menjadi lebih mudah karena bank mulai mengunakan
teknoligi berbasis komputer dan sekarang sudah bisa mengakses lewat internet
bahkan dengan mobile "HP" dengan SMS sudah banyak diterapkan bank.

5
Dalam dunia perbankan, perkembangan teknologi informasi membuat para
perusahaan mengubah strategi bisnis dengan menempatkan teknologi sebagai
unsur utama dalam proses inovasi produk dan jasa seperti :
 Adanya transaksi berupa Transfer uang via mobile maupun via teller.
 Adanya ATM ( Auto Teller Machine ) pengambilan uang secara cash secara
24 jam.
 Penggunaan Database di bank – bank.
 Sinkronisasi data – data pada Kantor Cabang dengan Kantor Pusat Bank.
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perbankan nasional
relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. Berbagai jenis teknologinya
diantaranya meliputi Automated Teller Machine, Banking Application System,
Real Time Gross Settlement System, Sistem Kliring Elektronik, dan internet
banking.
Jenis-Jenis Teknologi E-Banking
1) Automated Teller Machine (ATM).
Terminal elektronik yang disediakan lembaga keuangan atau perusahaan
lainnya yang membolehkan nasabah untuk melakukan penarikan tunai dari
rekening simpanannya di bank, melakukan setoran, cek saldo, atau pemindahan
dana.
2) Computer Banking.
Layanan bank yang bisa diakses oleh nasabah melalui koneksi internet ke
pusat data bank, untuk melakukan beberapa layanan perbankan, menerima dan
membayar tagihan, dan lain-lain.
3) Debit (or check) Card.
Kartu yang digunakan pada ATM atau terminal point-of-sale (POS) yang
memungkinkan pelanggan memperoleh dana yang langsung didebet (diambil)
dari rekening banknya.
4) Direct Deposit.
Salah satu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh organisasi (misalnya
pemberi kerja atau instansi pemerintah) yang membayar sejumlah dana
(misalnya gaji atau pensiun) melalui transfer elektronik. Dana ditransfer
langsung ke setiap rekening nasabah.

6
5) Direct Payment (also electronic bill payment).
Salah satu bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk
membayar tagihan melalui transfer dana elektronik. Dana tersebut secara
elektronik ditransfer dari rekening nasabah ke rekening kreditor. Direct
payment berbeda dari preauthorized debit dalam hal ini, nasabah harus
menginisiasi setiap transaksi direct payment.
6) Electronic Bill Presentment and Payment (EBPP).
Bentuk pembayaran tagihan yang disampaikan atau diinformasikan ke
nasabah atau pelanggan secara online, misalnya melalui email atau catatan
dalam rekening bank. Setelah penyampaian tagihan tersebut, pelanggan boleh
membayar tagihan tersebut secara online juga. Pembayaran tersebut secara
elektronik akan mengurangi saldo simpanan pelanggan tersebut.
7) Electronic Check Conversion.
Proses konversi informasi yang tertuang dalam cek (nomor rekening,
jumlah transaksi, dll) ke dalam format elektronik agar bisa dilakukan
pemindahan dana elektronik atau proses lebih lanjut.
8) Electronic Fund Transfer (EFT).
Perpindahan “uang” atau “pinjaman” dari satu rekening ke rekening
lainnya melalui media elektronik.
9) Payroll Card.
Salah satu tipe “stored-value card” yang diterbitkan oelh pemberi kerja
sebagai pengganti cek yang memungkinkan pegawainya mengakses
pembayaraannya pada terminal ATM atau Point of Sales. Pemberi kerja
menambahkan nilai pembayaran pegawai ke kartu tersebut secara elektronik.
10) Preauthorized Debit (or automatic bill payment).
Bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk mengotorisasi
pembayaran rutin otomatis yang diambil dari rekening banknya pada tanggal-
tangal tertentu dan biasanya dengan jumlah pembayaran tertentu (misalnya
pembayaran listrik, tagihan telpon, dll). Dana secara elektronik ditransfer dari
rekening pelanggan ke rekening kreditor (misalnya PLN atau PT Telkom).

7
11) Prepaid Card.
Salah satu tipe Stored-Value Card yang menyimpan nilai moneter di
dalamnya dan sebelumnya pelanggan sudah membayar nilai tersebut ke
penerbit kartu.
12) Smart Card.
Salah satu tipe stored-value card yang di dalamnya tertanam satu atau
lebih chips atau microprocessors sehingga bisa menyimpan data, melakukan
perhitungan, atau melakukan proses untuk tujuan khusus (misalnya validasi
PIN, otorisasi pembelian, verifikasi saldo rekening, dan menyimpan data
pribadi). Kartu ini bisa digunakan pada sistem terbuka (misalnya untuk
pembayaran transportasi publik) atau sistem tertutup (misalnya Master Card
atau Visa networks).
13) Stored-Value Card.
Kartu yang di dalamnya tersimpan sejumlah nilai moneter, yang diisi
melalui pembayaran sebelumnya oleh pelanggan atau melalui simpanan yang
diberikan oleh pemberi kerja atau perusahaan lain. Untuk single-purpose stored
value card, penerbit (issuer) dan penerima (acceptor) kartu adalah perusahaan
yang sama dan dana pada kartu tersebut menunjukkan pembayaran di muka
untuk penggunaan barang dan jasa tertentu (misalnya kartu telpon).
Tujuan pengembangan TI bagi bank adalah tercapainya efisiensi, efektifitas
dan produktifitas usaha yang optimal untuk memaksimalkan provitabilitas sebagai
salah satu manifestasi pencapai goal setting perusahaan. Bank yang tidak mampu
adiktif terhadap perubahan lingkungan usaha (internal dan eksternal), terutama
perkembangan TI sebagai salah satu bentuk keunggulan komperatif, cepat atau
lambah akan hilang dari peredaran, karena kalah bersaing. Namun yang perlu
diperhatikan, bagaimanapun canggihnya teknologi, tetap berpotensi mengundang
kerawanan-kerawanan terjadinya tindak criminal yang baik dilakukan oleh oknum
bank dengan pihak luar, pihak lian yang menguasai system dan prosedur operasi
teknologi tersebut yang mampu melihat celah-celah kelemahan (loop holes)
semua ini tergolong ke dalam praktek white coller crime.
Inovasi yang ditawarkan beberapa bank saat ini yaitu PT. Bank CIMB
Niaga Tbk meluncurkan Digital Lounge. Digital Lounge CIMB Niaga dilengkapi

8
dengan teknologi terkini, menyediakan sejumlah fasilitas dan layanan perbankan,
dari mesin ATM model terbaru, mesin setor tunai, hingga layanan Video Banking
dengan layar sentuh untuk bertransaksi dan layar besar yang menampilkan Video
Banking Agent/petugas bank secara live yang siap membantu nasabah dalam
melakukan transaksi perbankannya. Selain tarik dan setor tunai, informasi produk,
transfer dana, pembelian pulsa, dan pembayaran tagihan (kartu kredit, listrik,
telepon, dan lainnya), Digital Lounge juga melayani pembukaan rekening maupun
aplikasi kartu kredit dengan konsep paperless (tanpa kertas).
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meluncurkan Electronic Banking Centre
(EBC) untuk mempermudah para nasabah mengakses segala layanan informasi
perbankan dan layanan non finansial. Melalui EBC, nasabah dapat mengakses
berbagai informasi seperti promo BCA, simulasi cicilan, produk dan layanan BCA
dengan menggunakan teknologi layar sentuh yang interaktif.
PT. BRI Tbk meluncurkan BRI Hybrid Lounge dengan kecepatan dan
kemudahan pembukaan rekening dan one stop transaction. nasabah dapat
melakukan pembukaan rekening sendiri melalui mesin self service banking, hanya
dalam waktu 4 menit, dengan menggunakan KTP elektronik.
2.2.2 Analisis Efisiensi
Analisis kinerja perbankan selanjutnya terkait pengaruh Loan to Deposit
Ratio (LDR) terhadap profit (laba). Perbankan adalah lembaga intermediasi yang
berperan menggali dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali ke masyarakat
melaui pembiayaan. Sehingga dalam hal ini dapat disimpukan bahwa untung
ruginya bisnis bank diukur dari sejauh man bank dapat menyalurkan kreditnya.
Untuk memperoleh laba, tidak hanya diperoleh melalui ekspnsi kredit maupun
peningkatan NIM. Laba bank juga dapat dicapai melalui efisiensi sert pendapatan
non operasional seperti Fee Based Income (FBI) yang antara lain meliputi komisi,
dan foreign exchange misalnya selisih kurs.

2.3 Peran Industri Perbankan Terhadap Perekonomian Indonesia


Peran perbankan nasional dalam membangun ekonomi kerakyatan
perbankan merupakan salah satu sektor yang diharapakan berperan aktif dalam
menunjang kegiatan pembangunan nasional atau regional. Peran itu diwujudkan
dalam fungsi utamanya sebagai lembaga intermediasi atau institusi perantara

9
anatar debitor dan kreditor. Dengan demikian pelaku ekonomi yang membutuhkan
dana untuk menunjang kegiatannya dapat terpenuhi dan kemudian menunjang
kegiatannya dapat terpenuhi dan kemudian roda perekonomian bergerak. Dalam
mendukung perbankan yang sehat harus dilakukan pendektan yang terdiri dari tiga
piar, yaitu pengawasan, internal governance dan disiplin pasar. Pentingnya
pengawasan juga disebabkan karakteristik usaha bank. Berbeda dengan
perusahaan jasa keuangan lainnya bank menyediakan produk berupa penerimaan
simpanan dan pemberian kredit.
Stuktur perbankan Indonesia yang terdiri dari sejumlah bank dengan jumlah
kepemilikan aset yang berbeda dapat berdampak pada perbedaan respon yang
diberikan terhadap perubahan kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi bank yaitu berpalingnya nasabah
tradisional bank kepada sumber pembiayaan lain karena tersedianya banyak
alternatif sumber dana bagi perusahaan-perusahaan besar yaitu antara lain dari
perusahaan modal ventura, perusahaan leasing, perusahaan hire-purchase, dan lain
lain.
Peranan perbankan yang lainnya adalah menunjang kegiatan UKM
walaupun porsinya masih kecil sebagai alternatif pembiayaan. Perbankan
merupakan urat nadi perekonomian diseluruh bangsa. Perbankan di Indonesia
memunyai peranan yang sangat penting. Lembaga perbankan mempunyai peran
yang strategis dalam menggerakan roda perekonomian suatu neagara. Bahkan
dengan keputusan-keputusan yang gemilang telah menjangkau diluar batas negara
melalui kegiatan perusahan multinasional.

10
BAB III
KESIMPULAN

Perbankan yang mempunyai peran sangat srategis dalam perekonomian


suatu bangsa diharapkan mampu menjadi penggerak perekonomian dengan
pinjaman dana. Stuktur industri perbankan Indonesia yang merupakan oligopoli
longgar tetap membutuhkan pengawasan serta pengaturan yang ketat dari
pemerintah melalui Bank Indonesia agar tidak muncul perilaku-perilaku yang
tidak sehat , yang merugikan nasabah atau masyarakat Indonesia. Bank Indonesia
juga dapat terus mendorong perbankan di Indonesia agar lebih berkontribusi
terhadap perkembangan sektor riil karena fungsi perbankan sebagai “Agen
Pembangunan”. Sebagai badan usaha, bank tidaklah semata-mata mengejar
keuntungan (profit oriented), tetapi bank turut bertanggung jawab dalam
pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.
Dalam hal ini bank juga memiliki tanggung jawab sosial.
Selain itu industri perbankan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas
kredit terhadap masyarakat (sektor riil). Perbankan di Indonesia juga diharapkan
mampu mengurangi margin bunga bersih-nya (net interest margin) karena akan
sangat kontradiktif apabila perbankan disatu sisi ingin meningkatkan jumlah
kreditnya namun disisi lain masih membebankan bunga kredit yang tinggi
terhadap debitur.
Kinerja yang dicapai suatu bank dan upaya manajemen perbankan dalam
mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi pada lingkungan baik nasional
maupun global dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap bank itu
sendiri. Agar suatu bank dapat tumbuh dan berkembang, tentunya harus
mempunyai kinerja keuangan yang baik dan informasi yang disajikan dalam
kinerja keuangan ini dapat digunakan oleh pihak-pihak terkait. Suatu bank yang
berhasil memenangkan kompetisi adalah bank yang mampun memberikan jasa
atau layanan lebih baik dari kompetitornya, sekaligus mampu beradaptasi dengan
segala perubahan lingkungan.

11
Daftar Pustaka
Wikipedia Bahasa Indonesia. “Sistem Perekonomian”. 8 Oktober 2014.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_perekonomian.
Thertina, Martha. “Ekonom: Perilaku Perbankan Indonesia Mirip Kartel”.
12 Oktober 2014.
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/10/087583784/Ekonom-Perilaku-
Perbankan-Indonesia-Mirip-Kartel.
Pusat Data Kontan. “Bunga Deposito”. 7 Oktober 2014.
http://pusatdata.kontan.co.id/bungadeposito/.
Bank Indonesia. “Suku Bunga Dasar”. 6 Oktober 2014.
http://www.bi.go.id/id/perbankan/suku-bunga-dasar/Default.aspx.
Wijaya, Leo Sukma. “Syarat – Syarat Pendirian Bank Lokal dan Bank Asing di
Indonesia”. http://leosukmawijaya.wordpress.com/2011/04/17/syarat-syarat-
pendirian-bank-lokal-dan-bank-asing/.
Sururudin, “Peran Teknologi Informasi Dalam Industri Perbankan”. 15
Oktober 2014. http://sururudin.wordpress.com/2008/09/18/peran-teknologi-
informasi-dalam-industri-perbankan/.

12