Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat suatu kesan yang abstrak
yang dapat diorganisir menjadi simbol - simbol yang nyata, sedangkan konsep
keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu kerangka konseptual atau
model keperawatan.
Teori adalah hubungan beberapa konsep atau kerangka konsep atau definisi yang
memberikan suatu pandangan sistematis atau gejala-gejala atau fenomena-
fenomena dengan menentukan hubungan spesifik antara konsep-konsep tersebut
dengan menguraikan, menerangkan, atau mengendalikan suatu fenomena.
Keperawatan Dasar adalah hal yang penting dalam perawatan manusia
yang saling berhubungan. Kehidupan setiap hari berhubungan dengan sesama
manusia dan bagaimanapun kita akan bertanggung jawab terhadap orang-orang
yang berada dalam jaringan lingkungan sosial yang relatif kecil itu. Kita sendiri
kadang-kadang juga tergantung pada orang lain.
Perawatan dasar sebenarnya bersumber pada “Tugas dasar ketiga dari
kemanusiaan”. Sebagai manusia yang berada bersama dengan manusia lain.
Manusia memperoleh pengalaman dalam pengembangan kepribadiannya, justru
karena berhubungan dengan orang lain. Karena perawatan dari orang lain,
manusia dapat berkembang dari seorang bayi menjadi orang dewasa.
Perawatan Dasar yang diberikan orang lain terhadap kita, secara perlahan
kita pelajari dan mengambil alih untuk kemudian dijadikan perawatan diri.
Keterangan selanjutnya dari pengertian “Perawatan Dasar” berasal dari Prof.
Hattinya Veschure yaitu semua perawatan yang diberikan dan diterima seseorang
dalam batas “ lingkungan sosial yang kecil diman individu tersebut termasuk
didalamnya, didasarkan pada keinginan membantusatu sama lain”. Jadi, syarat
perawatan dasar adalah adanya suatu struktur lingkungan sosial yang kecil dan
kesediaan untuk melakukan sesuatu bagi mereka.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi dari Dorothy Jonhson?
2. Bagaimana konsep utama teori Dorothy Jonhson?
3. Bagaimana asumsi-asumsi dalam tingkah laku menurut Dorothy Jonhson?
4. Bagaimana proses keperawatan menurut Johnson?
5. Bagaimana hubungan model konseptual keperawatan dengan proses
keperawatan menurut Johnson?
6. Bagaimana aplikasi model konseptual keperawatan menurut Jonhson?
7. Apa kelebihan dan kelemahan Teori Dorothy Jonhson?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui bagaimana biografi dari Dorothy Jonhson
2. Mengetahui konsep utama teori Dorothy Jonhson
3. Mengetahui asumsi-asumsi dalam tingkah laku menurut Dorothy Jonhson
4. Mengetahui proses keperawatan menurut Johnson
5. Mengetahui bagaimana hubungan model konseptual keperawatan dengan
proses keperawatan menurut Johnson
6. Mengetahui aplikasi model konseptual keperawatan menurut Jonhson
7. Mengetahui kelebihan dan kelemahan Teori Dorothy Jonhson

1.4 Manfaat Penulisan


Dengan adanya penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberikan
manfaat, baik bagi penulis maupun yang membacanya. Bagi penulis sendiri
sebagai sarana untuk memperluas ilmu, wawasan serta pengalaman dalam
melakukan suatu penulisan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai landasan
awal untuk penulisan selanjutnya.

2
1.5 Metodologi Penulisan
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penulisan ini
adalah dengan studi kepustakaan, sebagai langkah awal penulis mengumpulkan
sumber-sumber yang sesuai dengan fokus kajian penelitian yang diperoleh dari
berbagai sumber atau literatur. Baik dari buku, internet, dan berbagai sumber
lainnya yang relevan dengan topik kajian yang dibahas, sehingga diharapkan bisa
memperkaya isi dari karya ilmiah ini. Setelah itu penulis menganalisis setiap
sumber yang diperoleh dengan membandingkan antara sumber yang satu dengan
sumber yang lain, sehingga diperoleh data-data yang penulis anggap otentik,
kemudian data-data tersebut penulis paparkan dalam bentuk karangan deskriptif-
naratif berupa penulisan makalah ini.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Dorothy Jonhson


Dorothy Johnson dilahirkan di Savannah, Georgia pada tahun 1919. Dia
seorang sarjana muda dalam ilmu pengetahuan keperawatan dari Universitas
Vanderbilt, Nashville, Tennesse dan tentang Ilmu Kesehatan dari Harvard. Dia
memulai penerbitan idenya tentang keperawatan segera setelah wisuda dari
Vanderbilt. Kebanyakan waktunya untuk berkarier sebagai guru di universitas dari
California, Los Angles. Dia mengerjakan tugasnya seperti guru besar dan pensiun
pada tanggal 1 Januari 1978, dan setelah itu berada di Florida.
Dorothy Johnson mempengaruhi profesinya melalui penerbitan karyanya
sejak tahun 1950. Sepanjang kariernya, Johnson telah menekan kepentingan dari
penelitian yang mendasari ilmu perawatan oleh perawat kepada klien. Johnson
merupakan pencetus awal dari keperawatan sebagai satu pengetahuan seperti
halnya suatu seni. Johnson adalah seorang perawat yang mempunyai satu
pengetahuan yang mencerminkan keduanya, yaitu pengetahuan dan seni. Johnson
mengajukan bahwa ilmu pengetahuan dari keperawatan penting bagi perawatan
yang dilaksanakan oleh perawat secara efektif yang meliputi satu konsep kunci
yang diambil dari dasar dan ilmu terapan.
Pada tahun 1968, Johnson mengusulkan model keperawatannya sebagai
wujud perkembangan dari "efisien dan fungsi tingkah laku yang efektif pada
pasien untuk mencegah penyakit”. Dalam posisi ini johnson mulai
mengintegrasikan konsep berhubungan ke model sistem pekerjaannya, selanjutnya
digambarkan oleh pernyataan dari kepercayaan bahwa keperawatan dikaitkan
dengan satu orang sebagai satu keutuhan yang terintegrasi dan pada pengetahuan
spesifik dari objek yang kita perlukan. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan
dan mempedulikan keutamaan klien.
Teori sistem perilaku johnson tumbuh dari keyakinan Nightingale, yaitu
tujuan perawatan adalah membantu individu-individu untuk mencegah atau
mengobati dari penyakit atau cidera. Ilmu dan seni merawat harus berfokus pada
pasien sebagi individu dan bukan pada entitas yang spesifik. Johnson

4
memanfaatkan hasil kerja ilmu perilaku dalam psikologi, sosiologi dan etnologi
untuk membangun teorinya .

2.2 Konsep Utama Teori Dorothy Jonhson


Dorothy E. Johnson meyakini bahwa asuhan keperawatan dilakukan untuk
membantu individu memfasilitasi tingkah laku yang efektif dan efisien untuk
mencegah timbulnya penyakit. Manusia adalah makhluk yang utuh dan terdiri dari
dua sistem yaitu sistem biologi dan tingkah laku tertentu. Lingkungan termasuk
masyarakat adalah sistem eksternal yang berpengaruh terhadap perilaku
seseorang. Seseorang diakatan sehat jika mampu berespon adaptif baik fisik,
mental, emosi, dan sosial terhadap lingkungan internal dan eksternal dengan
harapan dapat memelihara kesehatannya. Menurut Johnson ada empat tujuan
asuhan keperawatan kepada individu, yaitu agar tingkah lakunya sesuai dengan
tuntutan dan harapan masyarakat, mampu beradaptasi terhadap perubahan fungsi
tubuhnya, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain atau produktif serta mampu
mengatasi masalah kesehatan yang lainnya.
Teori keperawatan Dorothy E. Johnson diukur dengan ‘’behavioral sistem
theory’’. Johnson menerima definisi perilaku seperti diyatakan oleh para ahli
perilaku dan biologi, output dari struktur dan proses-proses intra-organismik yang
keduanya dikoordinasi dan diartikulasi dan bersifat responsif terhadap perubahan-
perubahan dalam stimulasi sensori. Johnson memfokuskan pada perilaku yang
dipengaruhi oleh kehadiran aktual dan tak langsung makhluk sosial lain yang
telah ditunjukkan mempunyai signifikansi adaptif utama.
Dengan memakai definisi sistem oleh rapoport tahun 1968, johnson
menyatakan , ” a system is a whole that functions as a whole by virtue of the
interpedence of it’s part.” (system merupakan keseluruhan yang berfungsi
berdasarkan atas ketergantungan antar bagian-bagiannya). Johnson menerima
pernyataan Chin yakni tedapat “organisasi, interaksi, interpedensi dan integrasi
bagian dan elemen-elemen” disamping itu, manusia berusaha menjaga
keseimbangan dalam bagian-bagian ini melalui pengaturan dan adapatasi terhadap
kekuatan yang mengenai mereka.

5
A. System Perilaku (Behavioral System).

System perilaku mencakup pola, perulangan, dan cara-cara bersikap


dengan maksud tertentu. Cara-cara bersikap ini membentuk unit fungsi
teroraganisasi dan terintegrasi yang menentukan dan membatasi interaksi
antara seseorang dengan lingkunganya dan menciptakan hubungan seseorang
dengan obyek, peristiwa, dan situasi dengan lingkunganya. Biasanya sikap
dapat digambarkan dan dijelaskan. Manusia sebagai system perilaku berusaha
untuk mencapai stabilitas dan keseimbangan dengan pengaturan dan adaptasi
yang berhasil pada beberapa tingkatan untuk efisiensi dan efektifitas suatu
fungsi. System biasanya cukup fleksibel untuk mengakomodasi pengaruh
yang diakibatkan.

B. Subsistem.

Karena behavioral system memiliki banyak tugas untuk dikerjakan,


bagian-bagian system berubah menjadi subsistem-subsistem dengan tugas
tertentu. Suatu subsistem merupakan “system kecil dengan tujuan khusus
sendiri dan berfungsi dapat dijaga sepanjang hubunganya dengan subsitem
lain atau lingkungan tidak diganggu. Tujuh subsistem yang di identifikasi
oleh Johnson bersifat terbuka, terhubung dan saling berkaitan (interealated).
Motivasi mengendalikan langsungaktifitas subsistem-subsistem ini yang
berubah secara kontinyu dikarenakan kedewasaan, pengalaman dan
pembelajaran. System yang dijelaskan tampak ada cross-culturally dan di
control oleh faktor biologis, psikologi dan sosiologi, tujuh elemen yang
diidentifikasi adalah attachment-affiliative, dependency, ingestive,
eliminative, sexual, achievement dan aggressive.

1.Subsitem Attachement-Affiliative.

Subsistem attacement-afiliative mungkin merupakan yang paling


kritis, karena subsistem ini membentuk landasan untuk semua organisasi

6
social. Pada tingktan umum, hal itu memberikan kelangsungan (survival)
dan keamanan (security). Sebagai konsekuensinya adalah inklusi social,
kedekatan (intimacy) dan susunan serta pemeliharaan ikatan social yang
kuat.

2. Subsistem Dependency

Dalam hal paling luas, subsistem dependency membantu


mengembangkan perilaku yang memerlukan respon pengasuhan.
Konsukuensinya adalah bantuan persetujuan, perhatian atau pengenalan,
dan bantuan fisik. Pengembanganya, perilaku dependency berubah dari
hamper, bergantung total kepada orang lain ke arah bergantung total
kepada orang lain, ke arah bergantung kepada diri sendiri dengan derajat
yang lebih besar. Jumlah interpedency tertentu adalah penting untuk
kelangsungan kelompok social.

3. Subsistem Biologis

Subsistem biologis ingestion dan eliminasi “berkaitan dengan


kapan, bagaimana apa, berapa banyak dan dengan kondisi apa kita makan
dan kapan, bagaimana dan dengan komodisi apa kita makan dan dengan
kondisi apa kita buang.” Respon-respon ini dikaitkan dengan social dan
psikologis seperti halnya pertimbangan biologis.

4. Subsistem Seksual

Subsistem seksual memiliki fungsi ganda yakni hasil (procreation)


dan kepuasan (gratification), termasuk courting dan mating, tetapi system
ini tidak dibatasi, system respon ini dimulai dengan perkembangan
identitas jenis kelamin dan termasuk (dalam cakupan yang luas) perilaku-
perilaku berdasar prinsip jenis kelamin.

7
5. Subsistem Agresif

Adalah perlindungan (protection) dan pemeliharaan (preservation).


Hal ini mengikuti garis pemikiran ahli ethologi seperti Lorenz dan
Feshback bukanya dengan bantuan pemikiran perilaku sekolah, dianggap
perilaku agresif tidak hanya di pelajari tapi memiliki maksud utama
membahayakan yang lain. Bagaimanapun, masyarakat meminta batasan-
batasan tersebut diletakkan pada mode perlindungan diri dan orang-orang
serta harta milik mereka dihormati dan dilindungi.

6. Subsistem achievement

Subsistem achievement berusaha memanipulasi lingkungan.


Berfungsinya mengontrol atau menguasai aspek pribadi atau lingkungan
pada beberapa standar kesempurnaan . Cakupan perilaku prestasi termasuk
kemampuan intelektual , fisikis, kreatif, mekanis dan social.

Johnson kemudian mengidentifikasi konsep-konsep lain yang


menggambarkan lebih jauh teori manusia sebagai system perilaku (behavioral
system). Hal yang membedakan antara apa yang ada di dalam dan apa yang di luar
system adalah ikatan (boundary). Ini merupakan titik (point) dimana system
memiliki control kecil atau pengaruh pada hasil-hasil. Equilibrium didefinisikan
sebagai kondisi akhir yang stabil tetapi lebih atau kurang kekal, dimana di
dalamnya individu berada dalam keselarasan dengan dirinya dan dengan
lingkunganya. Homeostasis adalah proses menjaga stabilitas dalam system
perilaku. Stabilitas adalah pemeliharaan suatu level atau daerah perilaku tertentu
yang dapat diiterima. Ketidakstabilan (instability) terjadi saat system mengalami
overcompensate berkaitan dengan strees (tekanan). Ketika output energi tambahan
digunakan untuk menjaga stabilitas dikosongkan. Stressor adalah stimulan
eksternal dan internal yang menghasilkan tegangan (tension) dan menyebabkan
ketidakstabilan. Tensi adalah kondisi dalam keadaan tegang atau kendor . Ia
disebabkan karena disequilibrium dan merupakan sumber potensi perubahan.

8
2.3 Asumsi-Asumsi Dalam Tingkah Laku
1). Perawatan (nursing).
Perawatan seperti yang dipandang Johnson adalah tindakan eksternal
untuk memberikan organisasi perilaku pasien ketika pasien dalam kondisi
stres dengan memakai mekanisasi pengaturan yang berkesan atau dengan
penyediaan sumberdaya. Seni dan ilmu memberikan eksternal baik sebelum
dan selama gangguan keseimbangan sistem dan karenanya membutuhkan
pengetahuan tentang order, disorder dan kontrol. Aktivitas perawatan tidak
bergantung pada wewenang medis tetapi bersifat pelengkap (komplementer)
bagi medis atau pengobatan.
2). Orang (person).
Johnson memandang manusia sebagai sistem perilaku dengan pola,
pengulangan dan cara bersikap dengan maksud tertentu yang menghubungkan
dirinya dengan lingkungannya. Pola-pola respon spesifik manusia
membentuk keseluruhan yang terorganisasi dan terintegrasi. Manusia adalah
sistem dari bagian-bagian yang membutuhkan beberapa aturan dan
pengaturan untuk menjaga keseimbangan.
Johnson lebih jauh menganggap bahwa behavioral system adalah penting
untuk manusia dan apabila ada tekanan yang kuat atau ketahanan yang rendah
mengganggu keseimbangan sistem perilaku, integritas manusia terancam.
Usaha-usaha mausia untuk membangun kembali keseimbangan
membutuhkan pengeluaran energi yang luar biasa, yang menyisakan sedikit
energi untuk membantu proses-proses biologis dan penyembuhan.
3). Kesehatan (health).
Johnson memandang kesehatan sebagai suatu kondisi yang sulit
dipahami dan dinamis yang dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis,
psikologis dan sosial. Kesehatan menjadi suatu nilai yang diinginkan oleh
para pekerja kesehatan dan memfokuskan pada manusia bukan pada penyakit.
Kesehatan direfleksikan oleh organisasi, interaksi, saling ketergantungan
subsistem–subsistem dari sistem perilaku. Manusia berusaha mencapai
keseimbangan dalam sistem ini yang akan mengarah ke perilaku fungsional.
Keseimbangan yang kurang baik dalam persyaratan struktural atau fungsional

9
yang cenderung mengarah ke memburuknya kesehatan. Ketika sistem
membutuhkan sejumlah energi minimum untuk pemeliharaan, suplai energi
yang lebih besar yang tersedia mempengaruhi proses biologi dan
penyembuhan.
4). Lingkungan
Dalam teori Johnson, lingkungan terdiri dari seluruh faktor yang bukan
bagian sistem perilaku individu tetapi hal itu mempengaruhi sistem dan dapat
dimanipulasi oleh perawat untuk mencapai kesehatan yang menjadi tujuan
pasien. Individu menghubungkan dirinya untuk berinteraksi dengan
lingkungannya. Sistem perilaku berusaha menjaga equilibrium dalam respon
terhadap faktor lilngkungan dengan mengatur dan adaptasi terhadap kekuatan
yang menyertainya. Gaya lingkungan yang kuat secara berlebihan
mengganggu keseimbangan sistem perilaku dan mengancam stabilitas
seseorang jumlah energi yang tidak tentu dibutuhkan supaya sistem
membangun kembali eqilibrium dalam menghadapi tekanan-tekanan
berikutnya. Ketika lingkungan stabil, individu dapat melanjutkan dengan
perilaku-perilaku yang baik.
Ilmu keperawatan memadukan sintesis dan penerapan pengetahuan
ilmu biofisik, perilaku, dan humanistik di sertai dengan studi tentang
hubungan perawat dengan klien dan lingkungan dalam konteks kesehatan.
Dasar pengetahuan ini dengan cepat berubah dan meluas karena di tunjang
oleh penelitian dan teori baru yang menyediakan informasi tambahan.
Perawat menerapkan dasar pengetahuan yang luas ini melalui berpikir kritis,
keterampilan psikomotor dan tindakan interpersonal untuk membantu klien
mencapai potensi kesehatannya yang optimum.
Proses keperawatan adalah aktivitas yang mempunyai maksud yaitu
praktik keperawatan yang dilakukan dengan cara sistematik. Selama proses
keperawatan, perawat menggunakan dasar pengetahuan yang komprehensif
untuk mengkaji status kesehatan klien, membuat penilain yang bijaksana dan
diagnosis, mengidetifikasi hasil akhir kesehatan yang diinginkan klien dan
merencanakan menerapkan serta mengefaluasi tindakan keperawatan yang
tepat guna mencapai hasil akhir tersebut.

10
2.4. Proses Keperawatan Menurut Johnson
Grubbs mengembangkan satu alat penilaian berlandaskan tujuh subsistem
Johnson. Satu subsistem dia tambahkan "penyembuhan", yang difokuskan pada
aktivitas sehari-hari. Aktivitas sehari-hari meliputi area seperti pola dari sisa,
kebersihan, dan rekreasi. Satu diagnosa dapat dibuat berhubungan dengan
ketidakcukupan atau pertentangan pada satu subsistem atau di antara subsistem.
Perencanaan untuk implementasi dari kekhawatiran keperawatan harus mulai pada
taraf subsistem dengan hasil terakhir dari fungsi secara cenderung tingkah laku
dari keseluruhan sistem. Implementasi oleh perawat kepada klien merupakan satu
kekuatan eksternal untuk memanipulasi dari subsistem kembali status dari
equalibrium. Evaluasi hasil dari implementasi ini kemungkinan siap jika posisi
seimbang yang telah didefinisikan selama tahap perencanaan yang terjadi
sebelum implementasi.

2.5 Hubungan Model Konseptual Keperawatan dengan Proses


Keperawatan
1. Penilaian
Pada tahap penilaian dari proses keperawatan, terkait ke area subsistem
spesifik yang dikembangkan. Holaday, Little, dan Damus mengajukan
bahwa fokus penilaian pada subsistem berhubungan dengan penulisan
masalah kesehatan. Satu penilaian berlandaskan subsistem tingkah laku
tidak mudah bagi perawat untuk mengumpulkan keterangan terperinci
tentang sistem biologi. Penilaian terkait ke subsistem affiliative yang
difokuskan pada satu pebuatan nyata yang berpengaruh pada pada sistem
sosial lain dimana perorangan merupakan satu anggota.
Pada penilaian dari subsistem ketergantungan, perhatian adalah
bagaimana memahami perbuatan seseorang perlu mengenal secara
signifikan terhadap hal lain, sehingga nyata berpengaruh pada lingkungan
sekitarnya sehingga dapat membantu individu dalam menemui kebutuhan
itu. Penilaian dari subsistem ingestive akan membahas masalah masukan
makanan dan cairan, yang meliputi lingkungan sosial dimana makanan dan

11
cairan dicernakan. Subsistem eliminasi menghasilkan pertanyaan yang
berhubungan ke pola pembuangan air besar dan urinaria serta dimana proses
tersebut terjadi.
Ada banyak celah tentang keterangan seluruh individu jika model
sistem tingkah laku johnson hanya memandukan penilaian. Pola hubungan
keluarga hanya disinggung pada affiliative dan subsistem ketergantungan.
Keterangan dasar yang berhubungan dengan status pendidikan, status
ekonomi, dan jenis tempat tinggal juga berhubungan cukup besar dengan
komponen-komponen subsistem. Faktor ini dengan jelas diidentifikasi
sebagai satu aspek penting dari semua subsistem.
2. Diagnosa
Berdasarkan teori sistem perilaku menurut Johnson yang
mengambarkan diagnosa cukup rumit. Diagnosa cenderung umum ke satu
subsistem sedikit spesifik terhadap satu masalah. Grubbs telah mengajukan
empat katagori dari sistem tingkah laku Johnson, yaitu:
1) Ketidakcukupan satu status yang mana berada ketika satu subsistem
tertentu bukan berfungsi atau mengembangkan ke kapasitas paling
penuh ini sehubungan dengan kekurangan dengan kebutuhan
fungsional.
2) Pertentangan satu perilaku itu tidak menjumpai gol dimaksud.
Incongruency biasanya membohongi di antara aksi dan gol dari
subsistem, walau cocok dan pilihan betul-betul mempengaruhi aksi
tidak efektif.
3) Ketidakcocokan gol atau perilaku dari dua subsistem pada keadaan
yang sama menilai dengan satu sama lain ke kerusakan dari
perorangan.
4) Kekuasaan perilaku di subsistem sesuatu dipergunakan lebih dari lain
subsistem dengan tanpa melihat keadaan kerusakan dari subsistem
yang lain.

12
3. Perencanaan
Perencanaan intervensi keperawatan juga dikaitkan langsung dengan
model konseptual keperawatan. Intervensi dengan menyesuaikan pada pola
intervensi dari model konseptualyang digunakan.
4. Implementasi
Melaksanakan rencana intervensi berdasarkan pengetahuan ilmiah yang
bukan merupakan bagian dari model keperawatan. Model keperawatan
menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh perawat yang langsung
mempengaruhi intervensi keperawatan yang direncanakan, tetapi tidak
menunjukkan pada perawat bagaimana menerapkan rencana itu.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan fungsi perawatan yang berlanjut. Evaluasi
berhubungan dengan bagaimana cara klien beradaptasi dan bereaksi,
kebutuhan klien serta tujuan klien. Jika perawat sudah dapat menjawabnya,
akan membantu perawat menilai keefektifan dari proses perawat secara
keseluruhan dan model keperawatan.
Pengembangan teori dari sebuah perspektif filosofis, Johnson
menulis bahwa perawatan merupakan konstribusi penyediaan fungsi
perilaku efektif pada pasien sebelum, selama, dan sesudah penyakit. Ia
memakai konsep dari disiplin ilmu lain seperti sosialisasi, motivasi,
stimulus, kepekaan, adaptasi, dan modifikasi perilaku untuk
mengembangkan teorinya.
2.6 Aplikasi Model Konseptual Keperawatan Menurut Jonhson
Perawat masa kini dituntut untuk menggunakan metode pendekatan
pemecahan masalah ( problem solving approach ) didalam memberikan asuhan
keperawatan kepada klien. Metode ini dilaksanakan dengan cara menggunakan
proses keperawatan dalam semua aspek keperawatan. Untuk dapat menerapkan
proses keperawatan maka perawat harus mempunyai pengetahuan dan
keterampilan, tindakan diagnosa keperawatan, memformulasi rencana, dan
melaksanakan tindakan keperawatan dengan cara membuat evaluasi.
Pengkajian merupakan langkah awal dalam proses keperawatan
pengkajian fisik dalam keperawatan pada dasarnya dapat diperoleh dengan jalan :

13
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pengkajian fisik pada prinsipnya
dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang berfokus pada prinsipnya
dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang berfokus pada respon yang
ditimbulkan pasien akibat adanya masalah kesehatan atau pengkajian fisik
keperawatan harus mencerminkan diagnosa klien yang meliputi fisik atau bio -
psiko - sosio dan spiritual tindakan untuk mengafosinya.
Untuk mendeterminasi tujuan pengkajian fisik dari keperawatan kita harus
yakin bahwa data yang akan kita kumpulkan benar - benar kita butuhkan dan kita
mempunyai alternatif tindakan terhadap masalah yang muncul pada data tersebut.
Tetapi bila pegkajian fisik tersebut bertujuan hanya untuk bahan laporan kepada
tim medis yang lain (dokter) sebaiknya perawat menyerahkan bagian tersebut
pada tim medis tersebut

2.7 Kelebihan dan Kelemahan Teori Dorothy Jonhson


 Kekuatan:
1. Jonhson memberikan kerangka acuan bagi perawat yang bersangkutan
dengan perilaku klien tertentu.
2. Model perilaku johnson dapat digeneralisasikan di seluruh jangka
hidup dan lintas budaya
 Kelemahan :
1. Ketidakjelasan hubungan antara konsep dan subsistemnya.
2. Kurangnya definisi yang jelas untuk hubungan timbal balik antara
subsistem membuat sulit untuk melihat seluruh sistem perilaku sebagai
suatu entitas.
3. Kurangnya keterkaitan yang jelas antara konsep menciptakan kesulitan
dalam mengikuti logika kerja Johnson.

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dorothy E. Johnson meyakini bahwa asuhan keperawatan
dilakukan untuk membantu individu memfasilitasi tingkah laku yang efektif
dan efisien untuk mencegah timbulnya penyakit. Menurut Johnson ada empat
tujuan asuhan keperawatan kepada individu yaitu :
1. Agar tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan dan harapan
masyarakat.
2. Mampu beradaptasi terhadap perubahan fungsi tubuhnya.
3. Bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (produktif).
4. Mampu mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya.

3.2 Saran
Profesi keperawatan adalah profesi yang kompleks. Dalam
melaksanakan prakteknya, perawat harus mengacu pada model konsep dan teori
keparawatan yang sudah dimunculkan. Konsep keperawatan sendiri berarti ide
untuk menyusun suatu kerangka konseptual atau model keperawatan.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://jabbarbtj.blogspot.co.id/2014/09/teori-keperawatan.html

http://ilmukeperawatan021.blogspot.co.id/2013/11/makalah-tentang-ilmu-
keperawatan-dasar.html

http://adillariska.blogspot.co.id/2015/11/konsep-keperawatan-dorothy-johnson.html

http://thomaz1945.blogspot.co.id/2013/11/teori-keperawatan-dorothy-e-
johnson_28.html

http://wiryakora-kora.blogspot.co.id/2009/02/konsep-dorothy-e-jhonson.html (

http://lailybajangmasruri.blogspot.co.id/2014/05/model-konseptual-dorothhi-e-
jhonson.html

16