Anda di halaman 1dari 15

Analisis Bidang Runtuh Planar

Saifuddin Arief

1. Pendahuluan

Longsoran dengan bidang gelinciran berbentuk sebuah bidang runtuh planar dapat
terjadi jika terdapat perpotongan dari bidang takmenerus dengan permukaan lereng.
Bidang takmenerus tersebut dapat berupa bidang perlapisan, retakan, sesar dan
sebagainya. Analisis bidang runtuh planar merupakan analisis dua dimensi dengan
dengan menganggap massa gelinciran merupakan suatu irisan yang mempunyai satu
satuan tebal, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Model Bidang Runtuh Planar

Kondisi geometri yang harus dipenuhi agar keruntuhan tipe ini dapat terjadi adalah
sebagai berikut:
 Jurus dari permukaan lereng sejajar atau hampir sejajar dengan jurus bidang
gelinciran, dimana perbedaan sudut dari kedua jurus tersebut lebih kecil dari 20o.
 Sudut kemiringan lereng harus lebih besar dari pada sudut kemiringan bidang runtuh.
 Terdapat bidang gelincir pada sisi-sisi vertikal dari massa gelinciran.
Analisis Bidang Runtuh Planar - 2

Gambar 2. Bidang gelinciran dan bidang lepas

Asumsi lainnya yang digunakan dalam analisis ini yaitu massa gelinciran hanya
mengalami perpindahan translasi ke bawah sepanjang bidang gelinciran.

Dalam analisis bidang runtuh planar, faktor keamanan lereng dihitung dengan
menggunakan persamaan kesetimbangan gaya. Perhitungan faktor keamanan dalam
analisis tipe ini sangat sederhana dan dapat dilakukan secara manual. Berdasarkan
geometri lereng, analisis kestabilan lereng dibedakan menjadi dua yaitu analisis bidang
runtuh planar tanpa retakan tarik dan analisis bidang runtuh dengan retakan tarik

2. Bidang runtuh planar tanpa retakan tarik

Model bidang runtuh planar tanpa retakan tarik diberikan dalam Gambar 4. Dengan
menggunakan geometri, persamaan untuk panjang bidang runtuh (A) dan berat irisan
(W) dapat dinyatakan sebagai berikut:
H sin    
A [1]
sin  sin    

H 2 sin     sin    
W [2]
2 sin 2  sin    

Dengan menggunakan kesetimbangan gaya dalam arah tegak lurus bidang gelinciran
diperoleh persamaan untuk gaya normal efektif (N’) yang bekerja pada bidang runtuh
adalah sebagai berikut:
N '  W cos  k sin    U [3]
Analisis Bidang Runtuh Planar - 3

(a)

(b)

Gambar 3. Analisis bidang runtuh planar tanpa retakan tarik,


(a) Geometri lereng, (b) Diagram Benda Bebas

Definisi dari variabel-variabel yang digunakan pada gambar di atas sebagai berikut:
H = Tinggi lereng
X = Jarak horisontal dari kaki lereng ke puncak lereng
A = Panjang bidang runtuh
W = Berat blok
Sm = Gaya penahan yang diperlukan agar blok berada dalam kondisi tepat
setimbang
N’ = Gaya normal efektif
U = Gaya hidrostatik
k = koefisien seismik
 = sudut kemiringan lereng
 = sudut kemiringan lereng pada bagian belakang
 = sudut kemiringan bidang runtuh
Analisis Bidang Runtuh Planar - 4

Gaya geser yang diperlukan agar blok berada dalam kondisi tepat setimbang yaitu
S m  W sin   k cos  [4]
Berdasarkan kriteria Mohr-Coulomb, tahanan geser maksimum yang tersedia (Sa) dapat
dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
S a  cA  N ' tan  [5]

Faktor keamanan (F) lereng adalah perbandingan antara tahanan geser maksimum yang
tersedia dengan gaya geser yang diperlukan agar lereng berada dalam kondisi tepat
setimbang. Sehingga faktor keamanan lereng adalah
Sa
F [6]
Sm
cA  N ' tan 
F [7]
W sin   k cos 
cA  W cos  k sin    U  tan 
F [8]
W sin   k cos 

Adanya air sepanjang bidang runtuh dapat dimodelkan dengan dua model seperti yang
ditunjukkan pada gambar 4. Gaya hidrostatik yang ditimbulkan oleh air yang mengisi
pada bidang runtuh untuk kedua model tersebut adalah sebagai berikut:
a. Model I
Pada model ini air mengisi bidang runtuh setinggi hw. Tekanan air tanah pada kaki
lereng adalah nol, karena air dapat terdrainase pada kaki lereng. Tekanan air pori
maksimum yaitu sebesar umax = ½ whw. Sketsa model ini diperlihatkan pada Gambar
4.(a). Gaya hidrostatik (U) yang bekerja pada bidang runtuh yaitu:
 w hw2
U [9]
4 sin 

b. Model II
Dalam model ini air mengisi bidang runtuh setinggi hw dan tidak dapat terdrainase
pada kaki lereng. Tekanan hidrostatik maksimum terletak pada kaki lereng sebesar
umax = whw. Sketsa model ini ditunjukkan pada Gambar 4.(b). Gaya hidrostatik (U)
yang bekerja pada bidang runtuh yaitu:
Analisis Bidang Runtuh Planar - 5

 w hw2
U [10]
2 sin 

(a) (b)

Gambar 4. Model distribusi tekanan hidrostatik sepanjang bidang runtuh planar


tanpa retakan tarik, (a) Model I, (b) Model II

Dalam penentuan gaya normal efektif (N′) yang bekerja pada bidang runtuh, apabila
terdapat air yang mengisi bidang runtuh maka gaya hidrostatik U dihitung dengan
menggunakan salah satu dari persamaan [7] dan [8], sesuai dengan kondisi air pada
lereng. Apabila lereng dalam kondisi kering maka gaya hidrostatik U = 0.

3. Bidang runtuh planar dengan retakan tarik

Adanya retakan pada bagian belakang permukaan lereng merupakan tanda-tanda


terdapat ketidakstabilan pada lereng, oleh karena retakan tarik tersebut harus
dimasukkan dalam analisis kestabilan lereng. Model bidang runtuh planar dengan
retakan tarik diperlihatkan pada gambar 5.

Persamaan untuk menghitung kedalaman retakan tarik (z), panjang bidang runtuh (A),
dan berat blok (W) adalah sebagai berikut:
 tan  
z  H 1    d tan   tan   [11]
 tan  
H sin(    ) z cos 
A  [12]
sin  sin(    ) sin(    )
Analisis Bidang Runtuh Planar - 6

1 sin(    ) sin(    ) 1 2 cos  cos


W  H 2  z [13]
2 sin 2  sin(    ) 2 sin(    )

(a)

(b)

Gambar 5. Bidang runtuh planar dengan retakan tarik,


(a) Geometri lereng, (b) Diagram Benda Bebas

Definisi dari variabel-variabel yang digunakan pada gambar di atas sebagai berikut:
H = Tinggi lereng
X = Jarak horisontal dari kaki lereng ke puncak lereng
d = Jarak horisontal dari puncak lereng ke retakan tarik
z = Kedalaman retakan tarik
A = Panjang bidang runtuh
W = Berat blok
Sm = Gaya penahan yang diperlukan agar blok berada dalam kondisi tepat
setimbang
N’ = Gaya normal efektif
Analisis Bidang Runtuh Planar - 7

U = Gaya hidrostatik pada bidang gelincir


V = Gaya hidrostatik pada retakan tarik
k = koefisien seismik
 = sudut kemiringan lereng
 = sudut kemiringan lereng pada bagian belakang
 = sudut kemiringan bidang runtuh

Persamaan untuk gaya normal efektif (N’) yang bekerja pada bidang runtuh adalah
sebagai berikut:

N '  W cos  k sin    U  V sin  [14]


Gaya geser yang diperlukan agar lereng berada dalam kondisi tepat setimbang yaitu
S m  W sin   k cos   V cos [15]
Tahanan geser maksimum yang tersedia (Sa) dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai
berikut:
S a  cA  N ' tan  [16]

Faktor keamanan (F) lereng adalah perbandingan antara tahanan geser maksimum yang
tersedia dengan gaya geser yang diperlukan agar lereng berada dalam kondisi tepat
setimbang. Sehingga faktor keamanan lereng adalah
Sa
F [6]
Sm
cA  W cos  k sin    U  V sin   tan 
F [17]
W sin   k cos   V cos

Gaya hidrostatik yang bekerja sepanjang bidang runtuh (U) dan gaya hidrostatik yang
bekerja pada retakan tarik (V) harus dihitung sesuai dengan kondisi air pada lereng.
Berikut ini adalah beberapa model air yang mengisi retakan tarik dan bidang runtuh.
a. Model I
Air tanah hanya mengisi retakan tarik saja dengan tinggi zw dari dasar retakan tarik,
sementara itu sepanjang bidang runtuh tidak terisi oleh air. Oleh karena itu tekanan
hidrostatik sepanjang bidang runtuh, U=0. Air tanah hanya akan menyebabkan
tekanan hidrostatik pada retakan tarik, yang besarnya
Analisis Bidang Runtuh Planar - 8

V  12  w z 2w [18]

Sketsa dari model I diberikan pada Gambar 6.(a).

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 6. Model-model air yang mengisi retakan tarik dan


sepanjang bidang runtuh

b. Model II
Pada model ini, air tanah mengisi retakan tarik dan sepanjang bidang runtuh, serta
dapat terdrainase pada kaki lereng. Tekanan air tanah dianggap mempunyai nilai
maksimum pada dasar retakan tarik, umax = wzw. Sepanjang bidang runtuh, besarnya
gaya hidrostatik yang bekerja adalah
U  12  w z w A [19]
Gaya hidrostatik yang bekerja pada retakan tarik besarnya
V  12  w z 2w [18]

Sketsa dari model II diberikan pada Gambar 6.(b).

c. Model III
Analisis Bidang Runtuh Planar - 9

Model ini sama dengan model sebelumnya, namun pada model ini tekanan air tanah
maksimum terletak pada ketinggian ½ hw dari kaki lereng yang besarnya umax = ½
whw. Gaya angkat hidrostatik yang bekerja sepanjang bidang runtuh besarnya yaitu
w 1  w hw2
U hw  z w  A  [20]
2 4 sin 
Dimana besarnya hw yaitu
hw  z w  A sin  [21]
Dengan menggunakan persamaan di atas, persamaan [20] dapat ditulis ulang sebagai
berikut:
 w sin  A2  w zw A  w z w2
U   [22]
4 2 4 sin 
Gaya hidrostatik yang bekerja pada retakan tarik besarnya
V  12  w z 2w [18]

Sketsa dari model III diberikan pada Gambar 6.(c).

d. Model IV
Dalam model ini, air mengisi retakan tarik dan sepanjang bidang runtuh, namun air
tidak dapat terdrainase pada kaki lereng, sehingga tekanan air maksimum berada
pada kaki kaki lereng, umax = whw. Gaya angkat hidrostatik yang bekerja sepanjang
bidang runtuh besarnya yaitu
w
U hw  z w  A [23]
2
Dimana besarnya hw yaitu
hw  z w  A sin  [21]
Subtitusi dari persamaan [21] ke dalam persamaan [23], menghasilkan persamaan
sebagai berikut:
 1 
U   w  z w  A sin   A [24]
 2 
Gaya hidrostatik yang bekerja pada retakan tarik besarnya
V  12  w z 2w [18]

Sketsa dari model IV diberikan pada Gambar 6.(d).


Analisis Bidang Runtuh Planar - 10

Apabila lereng dalam kondisi kering, maka tidak ada gaya hidrostatik yang bekerja pada
bidang runtuh dan retakan tarik, U=0, V=0.

4. Contoh

Contoh 1
Sebuah lereng galian mempunyai tinggi 50 m dan sudut kemiringan 45o serta bidang
runtuh yang berupa bidang planar dengan sudut kemiringan 30o. Material pada lereng
tersebut mempunyai berat satuan 27 kN/m3, kohesi 100 kPa dan sudut gesek dalam 35o.
Terdapat air yang mengisi sepanjang bidang runtuh, dengan distribusi tekanan air seperti
yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 7. Contoh 1

Data-data untuk lereng tersebut adalah sebagai berikut:


H = 50 m,  = 45o,  = 0o,  = 30o, hw = 50 m, c = 100 kPa,  = 35o,  = 27 kN/m3,
w = 9.81 kN/m3.

Perhitungan faktor keamanan untuk lereng tersebut adalah sebagai berikut:


 Panjang bidang runtuh (A)
H
A
sin 
Analisis Bidang Runtuh Planar - 11

50
A  100 [m]
sin 30 o
 Berat blok (W)
H 2 sin    
W
2 sin  sin 

W

27 x 50 2 x sin 45 o  30 o   24706.71 [kN]
2 x sin 45 o x sin 30 o
 Gaya angkat hidrostatik pada bidang runtuh (U)
 w hw2
U
4 sin 

9.81 x 50 2
U  12262.5 [kN]
4 x sin 30 o
 Gaya normal efektif yang bekerja pada bidang runtuh (N’)
N '  W cos  U

N '  24706.71 x cos 30 o  12262.5  9134.14 [kN]


 Gaya geser diperlukan agar blok tetap setimbang (Sm)
S m  W sin 

S m  24706.71 x sin 30 o  12353.36 [kN]

 Gaya geser maksimum yang tersedia untuk menahan gelinciran blok (Sa)
S a  cA  N ' tan 

S a  100 x 100  9134.14 x tan 35 o  16395.80 [kN]

 Faktor keamanan
Sa
F
Sm
F  16395.80 12353.36  1.327

Contoh 2
Sebuah lereng mempunyai tinggi 30 m dan sudut kemiringan 60o serta sudut kemiringan
bagian belakang lereng sebesar 10o. Pada bagian belakang lereng terdapat retakan tarik
pada jarak 6 m dari puncak lereng. Terdapat sebuah bidang runtuh yang berupa bidang
Analisis Bidang Runtuh Planar - 12

takmenerus yang memotong kaki lereng dengan sudut kemiringan 30o. Material pada
lereng tersebut mempunyai berat satuan 25 kN/m3, kohesi 80 kPa dan sudut gesek dalam
30o. Pembebanan seismik yang bekerja pada lereng mempunyai koefisien seismik
sebesar 0.05. Terdapat air yang mengisi sepanjang bidang runtuh dan setengah dari
tinggi retakan tarik dengan distribusi tekanan air seperti yang terlihat pada gambar di
bawah ini.

Gambar 7. Contoh 2

Data-data untuk lereng tersebut adalah sebagai berikut:


H = 30 m,  = 60o,  = 10o,  = 30o, d = 6 m, c = 80 kPa,  = 30o,  = 25 kN/m3,
w = 9.81 kN/m3, zw = 0.5 z, k = 0.05.

Perhitungan faktor keamanan untuk lereng tersebut adalah sebagai berikut:


 Kedalaman retakan tarik
 tan  
z  H 1    d tan   tan  
 tan  
Analisis Bidang Runtuh Planar - 13

 tan 30 o 
z  30 x 1  o
 
  6 x tan 10 o  tan 30 o  17.59 [m]
 tan 60 
 Tinggi air dalam retakan tarik (zw)
z w  12 z

z w  0.5 x 17.59  8.80 [m]


 Panjang bidang runtuh (A)
H sin(    ) z cos 
A 
sin  sin(    ) sin(    )

A

30 x sin 60 o  10 o


26.93 x cos10 o
 26.93 [m]

sin 60 o x sin 30 o  10 o 
sin 30 o  10 o  
 Berat blok (W)
1 sin(    ) sin(    ) 1 2 cos  cos
W  H 2  z
2 sin 2  sin(    ) 2 sin(    )

W

25 x 30 2 x sin 60 o  30 o x sin 60 o  10 o    
25 x 17.59 2 x cos10 o x cos 30 o
2 x sin 2 60 o x sin 30 o  10 o   
2 x sin 30 o  10 o
W  7149.67 [kN]
 Gaya angkat hidrostatik pada bidang runtuh (U)
U  12  w z w A

U  0.5 x 9.81 x 8.80 x 26.93  1161.92 [kN]


 Gaya hidrostatik yang bekerja pada retakan tarik (V)
V  12  w z 2w

V  0.5 x 9.81 x 8.80 2  379.58 [kN]


 Gaya normal efektif yang bekerja pada bidang runtuh (N’)
N '  W cos  k sin    U  V sin 
 
N '  7149.67 x cos 30 o  0.05 x sin 30 o  1161.92  379.58 x sin 30 o
N ' 4661.34 [kN]

 Gaya geser diperlukan agar blok tetap setimbang (Sm)


S m  W sin   k cos   V cos

 
S m  7149.67 x sin 30 o  0.05 x cos 30 o  379.58 x cos 30 o  4213.15 [kN]
Analisis Bidang Runtuh Planar - 14

 Gaya geser maksimum yang tersedia untuk menahan gelinciran blok (Sa)
S a  cA  N ' tan 

S a  80 x 26.93  4661.34 x tan 30 o  4845.48 [kN]

 Faktor keamanan
Sa
F
Sm
F  4845.48  4213.15  1.150

5. Analisis Bidang Runtuh MultiPlanar


Analisis Bidang Runtuh Planar - 15

6. Daftar Pustaka

1. Abramson, L.W., Lee, T.S., Sharma, S., and Boyce, G.M., 1996. Slope Stability and
Stabilization Methods. John Wiley & Sons Inc.
2. Giani, G. P., 1992. Rock Slope Stability Analysis, Balkema, Rotterdam.
3. Goodman, R.E. 1989. Introduction to Rock Mechanics, 2nd Ed, John Wiley & Sons,
New York.
4. Hoek, E., Bray, J.W. 1981. Rock Slope Engineering 3rd Ed., Institution of Mining
and Metallurgy, London.
5. Jaeger, J.C. 1971. Friction of Rocks and Stability of Rock Slopes. Geotechnique 21,
No.2, 97-134.
6. Kliche, C.A. 1999. Rock Slope Stability. SME, Colorado.
7. Kovari, K., Fritz, P. 1978. Slope Stability With Plane, Wedge and Polygonal Sliding
Surfaces. International Symposium Rock Mechanics Related to Dam
Foundations. September 27-19, Rio de Janeiro, Brazil.
8. Kroeger, E.B. 2000. Analysis of Plane Failures Compound Slopes. International
Journal of Surface Mining, Reclamation and Environment, Vol. 14, pp. 215-
222.