Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A. Pendahuluan

Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Oleh sebab itu, anak harus
diperlakukan sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Hanya saja, dalam
praktik pendidikan sehari-hari, tidak selalu demikian yang terjadi. Banyak contoh
yang menunjukkan betapa para orang tua dan masyarakat pada umummnya
memperlakukan anak tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Di dalam
keluarga, orang tua sering memaksakan keinginannya sesuai kehendaknya, di
sekolah guru sering memberikan tekanan (preasure) tidak sesuai dengan tahap
perkembangan anak, di berbagai media cetak/elektronika tekanan ini lebih tidak
terbatas lagi, bahkan cenderung ekstrim.

Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan
perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya
cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan
perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan anak. Berdasarkan keunikan dalam pertumbuhan
dan perkembangannya, anak usia dini terbagi dalam tiga tahapan, yaitu (a) masa
bayi lahir sampai 12 bulan, (b) masa toddler (balita) usia 1-3 tahun, (c) masa
prasekolah usia 3-6 tahun, (d) masa kelas awal SD 6-8 tahun. Pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang
tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya, yaitu pertumbuhan
dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan
komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh.
Menurut Yuliani, anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu
proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya.
Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Jadi pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini memainkan peran penting terhadap kehidupan
selanjutnya. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini harus dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya.

Sedangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan


sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang
ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal dan
informal.

Sementara itu, PAUD, menurut Bambang Hartoyo dalam bukunya yang


berjudul Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini yang dikutip oleh Mansur,
adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam
tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan nonfisik, dengan
memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual),
motorik, akal pikir, emosional, dan sosial yang tepat agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal. Adapun upaya yang dilakukan mencakup stimulasi
intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan
kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.

Dengan demikian, PAUD dapat dideskripsikan sebagai berikut: Pertama,


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pemberian upaya untuk menstimulasi,
membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan
menghasilkan kemampuan dan ketrampilan pada anak. Kedua, Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan yang
menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan
fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta,
kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap perilaku serta
agama), bahasa dan komunikasi. Ketiga, sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) disesuaikan dengan tahap-tahap
perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Jika dianalisis lebih mendalam PAUD berbeda dengan PADU. PAUD adalah
pendidikan anak adalah pendidikan luar sekolah seperti kelompok bermain,
penitipan anak dan lain sebagainya. Sedangkan PADU adalah pendidikan yang
sudah mulai dibina, seperti taman kanak-kanak dan sejenisnya.
Namun faktanya, banyak kalangan yang belum mengerti mengenai pendidikan
anak usia dini tersebut. Maka dari itu, penulis akan berusaha mengupas dan
menelaah pendidikan anak usia dini tersebut dari dasar kebijakannya.

B. Dasar Kebijakan PAUD

Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini mempunyai dasar yuridis atau


landasan yuridis sebagai berikut: Pertama adalah UUD 1945 Pasal 28b ayat
2 yang isinya Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan
berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi. Dan UUD 1945 Pasal 28c ayat 1 yang isinya Setiap orang berhak
mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni
dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat
manusia. Dalam Undang-Undang di atas, memang tidak dijelaskan mengenai
pendidikan anak usia dini secara langsung. Namun Undang-Undang di atas
menjelaskan mengenai hak yang dimiliki oleh anak. Dan untuk mengaplikasikan
hak tersebut, maka seorang anak harus mendapatkan pendidikan yang layak
dengan pelaksanaan pendidikan mulai anak usia dini.

Undang-Undang tersebut diperkuat dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 9


Ayat 1 tentang Perlindungan Anak yang berisi Setiap anak berhak memperoleh
pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Dari pasal tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa anak harus diberi pendidikan sejak usia dini, agar anak
mengerti tentang hidupnya dan mampu belajar lebih banyak dan mengembangkan
dirinya.

Kemudian dalam penerapannya Undang-Undang di atas diperkuat dengan UU RI


Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I, Pasal 1
Butir 14 yang berbunyi Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan
yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Jadi dalam pasal tersebut dijelaskan
bahwa PAUD itu dilakukan sejak lahir sampai umur 6 tahun.
Pasal di atas dijelaskan lagi pada bab selanjutnya yaitu UU RI Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI, Pasal 28 Butir 1-6:

1. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan


dasar.
2. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan
formal, nonformal, dan/atau informal.

3. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman
Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

4. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk


Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang
sederajat.

5. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk


pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

6. Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.

Dalam Undang-Undang di atas, telah dijabarkan secara mendetail mengenai


bentuk-bentuk pendidikan usia dini, baik formal, nonformal dan informal. Jadi
tidak hanya berupa pendidikan formal saja, namun juga nonformal dan informal.

C. Problematika

Berpijak dari kebijakan-kebijakan yang penulis ekplore di atas, sebenarnya


problema pendidikan anak usia dini ini cukup banyak. Problema-problema tersebut
antara lain: bagaimana bentuk pendidikan usia dini dalam bentuk informal.
Pendidikan anak usia dini dalam bentuk informal kayaknya belum begitu diatur
oleh Undang-Undang maka dari itu, penjabaran dan aplikasinya juga masih
simpang siur. Memang banyak

D. Kekuatan (Strengths)

Terdapat berbagai kekuatan dalam sebuah penyelenggaraan PAUD. Kekuatan


tersebut antara lain:
1. Manajerial lembaga di PAUD cukup memadai. Hal tersebut dibuktikan
dengan adanya beberapa substansi yang menjadi persyaratan sebuah lembaga
sudah ada dan sudah ditunjang dengan organisasi yang cukup mapan, misalnya
sudah ada kepala PAUD, guru-guru dan yayasan yang menaunginya.
2. Kurikulum sudah tertata dengan baik. Perkembangan dan mapannya suatu
lembaga pendidikan ditandai dengan tertatanya sebuah kurikulum di lembaga
pendidikan tersebut. Kurikulum di lembaga-lembaga PAUD sudah tertata dengan
cukup baik yang hal itu dibuktikan dengan adanya buku kurikulum yang meliputi
silabus, rencana pembelajaran, materi pembelajaran dan lain sebagainya.

3. Banyaknya pendidik. PAUD merupakan lembaga pendidikan nonformal


yang menjadi alternatif bagi orang yang mencari pekerjaan. Dan untuk dapat
menjadi pendidik di PAUD seseorang tidak perlu menempuh pendidikan yang
tinggi. Cukup dengan lulusan SMA dan mengikuti pelatihan atau lulusan S1.
Pendidik di lembaga PAUD biasanya seorang wanita, terutama wanita yang sudah
cukup berpengalaman.

4. Hubungan lembaga penyelenggara PAUD dengan yayasan yang


menaunginya cukup kuat dan erat, sehingga yayasan menaruh kepercayaan yang
tinggi kepada lembaga tersebut asalkan lembaga tersebut menitikberatkan
kepentingan yayasan tersebut. Yayasan juga akan berusaha mencari dana bantuan
sebanyak-banyaknya sehingga lembaga tersebut menjadi besar.

5. Dan lain-lain.

E. Kelemahan (Weaknesses)

Dalam penyelenggaraan sebuah pendidikan, disamping kekuatan pastilah juga


mempunyai kelemahan. Adapun kelemahan-kelemahan PAUD setelah penulis
mengadakan perincian adalah sebagai berikut:

1. Pendidik atau guru di PAUD hanya lulusan SMA atau yang sederajat dan
mayoritas tidak mau mengikuti pelatihan. Hal tersebut menjadi sebuah kelemahan,
karena apabila pendidik hanya lulusan SMA, maka pendidik tersebut tidak
mempunyai kompetensi paedagogik yang sesuai yang digunakan untuk mengajar.
Di samping itu, pendidik juga belum mengetahui mengenai psikologi
perkembangan anak didik atau anak usia dini.
2. Sarana dan pra sarana kurang memadai. Hal tersebut nampaknya sudah
menjadi kebiasaan pendidikan di Indonesia. Lembaga PAUD harus mempunyai
sarana dan pra sarana yang cukup guna mengimplementasikan kurikulum dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran. Namun, yang terjadi kebanyakan adalah
kendala sarana merupakan faktor penghambat berlangsungnya kegiatan
pembelajaran tersebut, terutama anak usia dini yang membutuhkan sarana yang
banyak guna melengkapi dunia bermain mereka.

3. Penerapan kurikulum masih amburadul. Dalam melakukan pembelajaran


PAUD, biasanya guru atau pendidik di lembaga tersebut kesulitan untuk
menerapkan kurikulum yang sudah dibukukan dalam buku besar kurikulum. Hal
tersebut disebabkan beberapa faktor, yang pertama adalah pendidikan pendidik
atau guru belum memadai. Kedua adalah pendidik biasanya hanya mengikuti arus
permainan anak.

4. Terdapat motif tertentu yang melatarbelakangi pengembangan lembaga


PAUD yang kurang disukai oleh masyarakat. Lembaga PAUD biasanya merupakan
lembaga yang dikembangkan oleh aliran atau golongan tertentu sehingga kurang
nasionalis dan menyebabkan pelayanan terhadap masyarakat secara umum juga
terganggu.

5. Dan lain-lain.

F. Peluang (Opportunities)

Peluang adalah faktor dari luar yang bersifat positif. Dari pembacaan kultur
terhadap lembaga PAUD, maka lembaga tersebut memiliki peluang antara lain:

1. Ketika sebuah lembaga nonformal diresmikan, maka bantuan dari


pemerintah atau non pemerintah pasti ada. Hal itu merupakan peluang tersendiri
untuk mengembangkan lembaga PAUD tersebut agar berkembang dan menjadi
besar.
2. Lembaga PAUD merupakan lembaga praktis yang disukai oleh kebanyakan
orang kota, karena mereka sibuk dengan berbagai urusannya dan tidak sempat
mendidik anaknya yang masih usia dini dengan baik. Maka alternatif yang mereka
pilih adalah mereka menitipkan anaknya di lembaga tersebut.

3. Input PAUD lama-lama semakin banyak seiring dengan perkembangan


zaman. Hal itu merupakan peluang agar PAUD mengembangkan lembaganya
menjadi lembaga yang besar dan cukup eksis. Di samping itu, dengan semakin
banyaknya input PAUD maka kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut
juga semakin tinggi, sehingga masalah pendanaan tidak menjadi masalah yang
berarti.
4. Dan lain-lain

G. Ancaman (Threats)

Di samping terdapat peluang, namun PAUD juga mendapat ancaman. Ancaman


tersebut antara lain:

1. Image negatif. Karena PAUD merupakan lembaga yang berdiri karena untuk
kepentingan golongan. Maka image negatif terhadap PAUD pasti ada dan hal itu
datang dari masyarakat yang merupakan lawan dari organisasi di balik layar PAUD
tersebut.
2. Tidak sedikit PAUD yang mengalami kategori dalam pepatah “hidup enggan
mati tak mau” yang dalam bahasa Arab disebut lâ yahya walâ yamûtu. Hal itu
nampaknya disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, masalah manajemen,
kurangnya public relation untuk menarik minat masyarakat atau mungkin bantuan
dari pemerintah yang tidak kunjung datang atau bahkan habis di tengah jalan dan
lain sebagainya.

3. PAUD agak sulit berkembang di desa, karena mayoritas masyarakat desa


tidak sibuk dan mereka masih tetap konsisten mendidik dan memelihara anaknya
sendiri.

4. Dan lain sebagainya.

H. Strategi-Strategi Pemecahan Problematika

Strategi-strategi pemecahan problematika yang penulis sebutkan di atas adalah


sebagai berikut:

1. Konsistensi niat. Membangun niat merupakan hal yang mudah,


namun istiqamah dalam niat merupakan hal yang sulit. Oleh karena itu, untuk
menjaga mutu dan eksistensi dari lembaga pendidikan Islam yang berupa PAUD
tersebut seluruh elemen kependidikan yang terkait harus senantiasa menjaga
konsistensi niat yaitu untuk beribadah dan menjadi khalifah dengan melakukan
pendidikan. Dengan niat yang sungguh-sungguh dan konsisten maka manajemen,
administrasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam akan dapat diterapkan
dengan baik. Di samping itu, dengan niat yang sungguh-sungguh maka pendidik
akan sadar dan selalu meningkatkan kompetensinya juga profesionalismenya untuk
menunjang kegiatan pembelajaran di lembaga tersebut.
2. Perbaikan manajemen dengan menerapkan manajemen Islami. Memperbaiki
manajemen yang ada di lembaga tersebut berfungsi menjadikan lembaga
berkembang eksist dan pada akhirnya dipercaya pemerintah sehingga lembaga
tersebut mendapat bantuan dari pemerintah atau non pemerintah. Di samping itu,
dengan adanya manajemen yang baik terlebih lagi manajemen yang Islami, maka
akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut dan
masyarakat akan memasukkan anaknya ke lembaga tersebut.

3. Melobi dan menggandeng berbagai elemen baik negeri maupun swasta.


Tujuannya yaitu mencari bantuan dan memanfaatkan bantuan dari pemerintah
maupun non pemerintah untuk mencukupi sarana dan pra sarana yang ada. Jika
sarana dan pra sarana terpenuhi, maka proses pembelajaran juga akan berjalan
dengan baik dan lancar juga akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk
melaksanakan proses pembelajaran. Bantuan yang sudah didapat dari pemerintah
atau non pemerintah juga dapat digunakan untuk memberi beasiswa bagi pendidik
di PAUD agar mau sekolah lagi atau melanjutkan pendidikan ke jenjang
selanjutnya sehingga pendidik memiliki kompetensi yang cukup memadai untuk
melakukan pendidikan di PAUD. Apabila pendidik memiliki kompetensi yang
cukup matang, maka pendidik juga akan mampu menjalankan kurikulum yang
sudah dijabarkan dalam buku kurikulum. Di samping itu, input PAUD yang
semakin banyak juga akan menunjang pendanaan dan hal itu bisa digunakan untuk
membiayai sarana pra sarana dan pendidikan lanjutan bagi pendidik.

4. Penerapan dan penyesuaian kurikulum. Dengan menerapkan kurikulum


sesuai dengan kurikulum yang tertera di buku induk, maka seolah lembaga tersebut
telah memperbaiki manajemen kurikulum. Penyesuaian kurikulum dengan
perkembangan pendidikan pada dekade akhir ini juga perlu dilakukan agar output
yang dihasilkan berhasil dan kepercayaan masyarakat tumbuh kembali.

5. Motivasi kepada pendidik untuk menempuh sekolah lagi. Hal itu dilakukan
untuk meminimalisir dan mengikis jumlah pendidik yang hanya lulusan SMA dan
juga untuk menunjang profesionalisme pendidik. Dengan adanya pendidik yang
profesional, maka kepercayaan masyarakat juga akan tumbuh kembali.

6. Menghindarkan diri dari kepentingan golongan. Sebuah lembaga pendidikan


harus netral dan tidak boleh terikat oleh kepentingan golongan, walaupun bernaung
di bawah golongan tertentu yang membentuk sebuah yayasan. Dengan adanya
penghindaran atau dalam kata-kata lain tidak memihak, maka lembaga pendidikan
tersebut telah berusaha menghindarkan diri image masyarakat yang negatif
terhadap lembaga pendidikan tersebut.
DAFTAR RUJUKAN

Hasan, Maimunah, PAUD: Pendidikan Anak Usia Dini, Jogjakarta: Diva Press,
2009.

Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007.

Sujiono, Yuliani Nurani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: PT
Indeks, 2009.

UUD RI 1945 Amandemen keempat

UU No.20 Tahun 2003 Tentang SIKDIKNAS

UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak