Anda di halaman 1dari 9

PROSEDUR MENILAI ATB

1. Penilaian aset tak berwujud diperlukan untuk beberapa kemungkinan penggunaan, termasuk
akuisisi dan penjualan bisnis atau bagian dari bisnis, penggabungan, penjualan aset tak berwujud,
laporan keuangan dan sejenisnya.
o Apabila tujuan penilaian membutuhkan estimasi Nilai Pasar, penilai harus menerapkan definisi,
proses, dan metodologi yang konsisten sesuai dengan SPI 1.

o Apabila diperlukan dasar nilai selain Nilai Pasar, Penilai harus secara jelas mengidentifikasi jenis nilai
yang terkait, mendefinisikan nilai tersebut, dan mengambil langkah yang diperlukan untuk
membedakan nilai yang diperkirakan dengan estimasi Nilai Pasar.
2. Jika dalam pendapat Penilai aspek tertentu dalam suatu penugasan mengindikasikan adanya
penyimpangan dari SPI, hal ini harus diungkapkan dan alasan untuk penyimpangan diungkapkan
Laporan Penilaian yang diterbitkan oleh Penilai. Persyaratan penyusunan Laporan Penilaian
tersebut akan mengikuti KEPI dan SPI 3 tentang Pelaporan Penilaian.
3. Penilai akan mengambil langkah untuk meyakinkan bahwa semua sumber data dapat diandalkan
dan layak untuk melaksanakan penilaian. Pada umumnya, adalah di luar ruang lingkup penilai
untuk melakukan verifikasi lengkap mengenai akurasi dan kelayakan sumber data sekunder atau
tersier yang akan digunakan dalam penilaian. Berkaitan dengan hal tersebut, Penilai seharusnya
memverifikasi akurasi dan kewajaran dari sumber data sebagaimana diwajibkan di pasar dan
kelaziman dalam penilaian.
4. Penilai aset tak berwujud sering kali harus bersandar kepada informasi yang diterima dari klien
atau dari perwakilan klien. Sumber data tersebut harus dikutip oleh Penilai dalam Laporan
Penilaian dan data tersebut hendaknya telah diverifikasi, jika memungkinkan. Persyaratan
pelaporan penilaian dibahas di KEPI dan SPI 3 Pelaporan Penilaian.
5. Meskipun banyak dari prinsip, metode, dan teknik penilaian aset tak berwujud sejenis dengan
bidang penilaian lainnya, penilaian aset tak berwujud memerlukan pendidikan khusus, pelatihan,
ketrampilan dan pengalaman.
6. Uraian penugasan penilaian harus mencakup :
o Identifikasi aset tak berwujud, atau hak kepemilikan atas aset tak berwujud yang dinilai;

o Tanggal Efektif Penilaian;

o Definisi Nilai;

o Pemilik Hak; dan

o Maksud dan Tujuan Penilaian


7. Faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh Penilai aset tak berwujud meliputi:
o Hak-hak, keistimewaan, atau kondisi yang melekat pada hak kepemilikan

a. Hak kepemilikan dinyatakan dalam berbagai dokumen legal. Di dalam yurisdiksi hukum Indonesia,
dokumen ini biasa disebut paten, merek dagang, cap, pengetahuan, basis data, hak penggandaan, dan
lain sebagainya.

b. Pemilik hak terikat oleh dokumen yang mencatat hak-haknya atas aset tak berwujud. Hak-hak dan
kondisi-kondisi terdapat dalam perjanjian atau pertukaran korespondensi, dan hak-hak tersebut dapat
atau tidak dapat dipindahkan kepada pemilik hak yang baru.
o Sisa umur ekonomi dan/atau umur hukum (masa berlaku) aset tak berwujud.
o Kapasitas aset tak berwujud untuk menghasilkan pendapatan.

o Sifat dan sejarah aset tak berwujud. Karena nilai merupakan manfaat dari suatu kepemilikan yang
akan datang, sejarah aset tak berwujud berguna untuk memberikan panduan mengenai harapan atas
aset tak berwujud di masa yang akan datang.

o Gambaran ekonomi yang dapat mempengaruhi aset tak berwujud, termasuk keadaan politik dan
kebijakan Pemerintah. Hal-hal seperti nilai tukar, inflasi, dan suku bunga dapat mempengaruhi aset
tak berwujud yang dioperasikan dalam sektor ekonomi secara berbeda.

o Kondisi dan gambaran masa depan dari industri spesifik yang dapat mempengaruhi aset tak berwujud.

o Nilai aset tak berwujud dapat juga terkandung dalam aset yang tak dapat dipisahkan dan biasa disebut
Goodwill. Perlu dicatat bahwa nilai Goodwill dalam konteks ini sama dengan Goodwill secara
akuntansi, dimana keduanya adalah nilai sisa (biaya historis dalam istilah akuntansi) setelah semua
aset lainnya telah diperhitungkan.

o Transaksi terdahulu dari hak kepemilikan atas aset tak berwujud.

o Data pasar lainnya, misalnya tingkat pengembalian dalam investasi alternatif dan lain-lain.

o Harga pasar untuk mengakuisisi hak atas aset tak berwujud yang sejenis atau aset tak berwujud
lainnya.

a. Biasanya, tertutama dalam penggunaan transaksi akuisisi, informasi yang memadai cukup sulit atau
bahkan tidak mungkin diperoleh. Walaupun harga transaksi aktual yang terjadi mungkin diketahui,
Penilai mungkin tidak mengetahui adanya garansi dan gantirugi yang diberikan oleh penjual, kondisi
tertentu yang diberikan atau diterima, atau pengaruh rencana perpajakan (taxation planning) terhadap
transaksi tersebut.

b. Data pembanding harus selalu digunakan dengan kehati-hatian, dan beberapa penyesuaian mungkin
harus dilakukan.
o Penyesuaian laporan keuangan historis untuk memperkirakan kemampuan ekonomis dan prospek aset
tak berwujud.

o Setiap informasi lainnya yang dipandang relevan oleh penilai.


8. Pendekatan Penilaian Aset tak Berwujud
o Pendekatan Pasar (Market Sales Comparison approach)

a. Pendekatan Pasar membandingkan aset tak berwujud yang dinilai dengan aset tak berwujud yang
sejenis atau hak kepemilikan aset tak berwujud dan sekuritas yang telah dijual di pasar bebas.

b. Dua sumber data yang umum digunakan dalam pendekatan pasar adalah pasar dimana hak
kepemilikan atas aset tak berwujud yang sejenis diperdagangkan dan transaksi terdahulu atas hak
kepemilikan aset tak berwujud yang dinilai.

i. Harus terdapat alasan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk membandingkan dan bergantung
kepada aset tak berwujud sejenis dalam pendekatan pasar. Aset tak berwujud yang sejenis ini
seharusnya dalam industri yang sama atau dalam sebuah industri yang dipengaruhi oleh faktor
ekonomi yang sama. Perbandingan harus dilakukan dengan cara yang memadai dan tidak boleh
menyesatkan.
c. Melalui analisis atas akuisisi aset tak berwujud, Penilai sering menghitung rasio penilaian, yang
umumnya adalah harga dibagi dengan beberapa ukuran pendapatan atau nilai aset bersih.
Penghitungan dan pemilihan rasio harus dilakukan dengan hati-hati.
i. Rasio yang dipilih harus memberikan informasi yang memadai tentang nilai aset tak berwujud.

ii. Data tentang aset tak berwujud sejenis yang digunakan untuk menghitung rasio harus akurat.

iii. Perhitungan rasio harus akurat.

iv. Jika data tersebut dirata-rata, maka periode waktu yang dipertimbangkan dan metode perata-rataan
(averaging method) tersebut harus sesuai.

v. Semua perhitungan harus dilakukan dengan cara yang sama, baik untuk aset tak berwujud yang
sejenis maupun aset tak berwujud yang dinilai.

vi. Data harga yang digunakan dalam rasio harus berlaku sesuai tanggal penilaian dan mencerminkan
kondisi pasar pada saat itu.

vii. Jika diperlukan, dilakukan penyesuaian agar aset tak berwujud yang sejenis dan aset tak berwujud
yang dinilai lebih bisa diperbandingkan.

viii. Penyesuaian mungkin diperlukan untuk hal-hal yang tidak biasa, sesekali terjadi, atau yang bersifat
non operasional.

ix. Rasio yang dipilih harus tepat sesuai dengan perbedaan dalam risiko dan harapan antara aset tak
berwujud yang sejenis dan aset tak berwujud yang dinilai.

x. Beberapa nilai indikasi mungkin dihasilkan karena beberapa faktor pengali penilaian mungkin dipilih
dan diaplikasikan terhadap aset tak berwujud yang dinilai.
d. Apabila transaksi sebelumnya atas aset tak berwujud yang dinilai dipergunakan sebagai panduan
penilaian, mungkin perlu dilakukan penyesuaian untuk jangka waktu yang telah berlalu dan untuk
perubahan keadaan ekonomi, industri dan aset tak berwujud.
o Pendekatan pendapatan

a. Pendekatan pendapatan memperkirakan nilai aset tak berwujud atau hak atas kepemilikan aset tak
berwujud dengan menghitung nilai kini atas keuntungan yang diantisipasi. Dua metode dalam
pendekatan pendapatan yang umum adalah Kapitalisasi Langsung Pendapatan dan analisis Arus Kas
Terdiskonto (DCF).

i. Dalam Kapitalisasi langsung, tingkat pendapatan yang dianggap mewakili dibagi dengan tingkat
kapitalisasi atau dikalikan dengan pengali pendapatan (Faktor Kapitalisasi) untuk mengkonversi
pendapatan menjadi nilai.

ii. Pendapatan biasanya dialokasikan pada berbagai aset tak berwujud oleh Penilai. Pengalokasian
pendapatan ke setiap aset individu harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melebihi pendapatan
yang tersedia untuk seluruh aset.

iii. Secara teori, pendapatan terdiri dari berbagai jenis pendapatan dan arus kas. Dalam prakteknya,
ukuran pendapatan biasanya berupa pendapatan sebelum atau setelah pajak. Bila metode kapitalisasi
dipergunakan, umur ekonomi aset haruslah tak terbatas atau sangat panjang.

iv. Dalam analisis Arus Kas Terdiskonto dan/atau Metode Dividen, penerimaan kas diperkirakan untuk
setiap periode di masa yang akan datang. Penerimaan tersebut dikonversi menjadi nilai dengan
penerapan tingkat diskonto, menggunakan teknik nilai kini. Beberapa definisi arus kas dapat
digunakan. Metode Diskonto biasanya digunakan untuk aset tak berwujud dengan umur ekonomi
yang terbatas. Periode waktu yang terdapat dalam metode diskonto biasanya menggunakan mana yang
lebih singkat antara untuk umur ekonomi atau umur hukum (periode yang terdefinisi dimana aset atau
hak yang ada dilindungi secara hukum).

 Umur ekonomi diukur sebagai periode saat aset tak berwujud diharapkan dapat memberikan tingkat
pengembalian ekonomi kepada pemiliknya. Sebagai contoh adalah perangkat lunak komputer
(computer software) yang mungkin diharapkan berumur 36 bulan sebelum perlu digantikan dengan
versi yang lebih baru.

 Umur secara hukum diukur pada periode ketika aset tak berwujud dapat dilindungi oleh hukum.
Sebagai contoh adalah hak paten yang mempunyai umur tertentu dan kemudian dengan berjalannya
waktu menjadi nol.
v. Tingkat kapitalisasi dan tingkat diskonto diperoleh dari pasar dan diekspresikan sebagai pengali harga
(didapat dari data bisnis yang diperdagangkan atau transaksi publik) atau tingkat bunga (diambil dari
data dalam investasi alternatif).
b. Pendapatan atau manfaat yang diantisipasi yang dikonversi menjadi nilai dengan menggunakan
kalkulasi yang mempertimbangkan pertumbuhan yang diharapkan dan waktu dari manfaat yang
didapatkan, resiko yang terkait dengan arus manfaat, dan nilai uang dalam waktu.
o Pendekatan Biaya sering disebut biaya pengganti dan juga dikenal sebagai pendekatan aset yang
disesuaikan.
a. Pendekatan yang didasarkan pada biaya diterapkan atas dasar prinsip substitusi yaitu sebuah aset tidak
bernilai lebih tinggi dari biaya untuk mengganti semua bagiannya.

b. Dalam penerapan pendekatan biaya, biaya setiap komponen dalam penciptaan sebuah aset, termasuk
keuntungan pengembang harus diperkirakan menggunakan pengetahuan yang dimiliki pada tanggal
penilaian.
9. Proses Rekonsiliasi
o Kesimpulan nilai didasarkan pada :

a. Definisi nilai;

b. Semua informasi yang relevan pada tanggal penilaian yang diperlukan dalam kaitannya dengan ruang
lingkup penugasan.
o Kesimpulan nilai juga didasarkan pada indikasi nilai dari berbagai metode penilaian yang digunakan.
a. Pemilihan terhadap dan keyakinan pada pendekatan, metode, dan prosedur yang sesuai adalah
tergantung pada pertimbangan Penilai.

b. Penilai harus menggunakan pertimbangannya ketika mengestimasi bobot relatif untuk setiap estimasi
indikasi nilai yang dihasilkan dalam proses penilaian. Penilai harus memberikan pertimbangan yang
rasional dalam menentukan metode penilaian yang digunakan dan bobot tertimbang atas metode
tersebut dalam mencapai kesimpulan nilai yang direkonsiliasi.
http://www.kjpp-akr.co.id/penilaian-aset-tak-berwujud.aspx

AMORTISASI ATB
Metode dan Pencatatan Amortisasi Aset Tak Berwujud

Di dalam ilmu akuntansi, kita mengenal suatu penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah aset
yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun. Aset yang mempunyai umur ekonomis
yang lebih dari satu tahun tersebut adalah Aset Tetap dan Aset Tidak Berwujud. Aset Tetap
misalnya tanah, gedung atau bangunan, mesin produksi, kendaraan operasional dan yang lainnya.
Sedangkan contoh dari Aset Tak Berwujud adalah hak paten, merk dagang, goodwill dan yang
lainnya. Semua Aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai tiap saat.
Penurunan nilai ini di dalam akuntansi dikenal sebagai penyusutan untuk Aset Tetap dan
amortisasi untuk Aktiva Tidak Berwujud.

Pengertian Amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu Aktiva tidak
berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu disetiap periode akuntansi.
Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban amortisasi
dan mengkredit akun aktiva tak berwujud.

Secara umum metode yang digunakan dalam amortisasi aset tidak berwujud menurut akuntansi
ada dua jenis, yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun. Jika mengacu pada Undang –
Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang –
Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, metode dan penilaian amortisasi aset tak
berwujud dikelompokan menurut masa manfaatnya.

Kelompok Harta Tidak Tarif Amortisasi


Masa Manfaat
Berwujud Garis Lurus Saldo Menurun
Kelompok 1 4 Tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 Tahun 12.5% 25%

Kelompok 3 16 Tahun 6.25% 12.5%

Kelompok 4 20 Tahun 5% 10%

1.Metode garis lurus

Metode penyusutan garis lurus merupakan suatu metode pengalokasian pembebanan biaya,
dimana jumlah biaya yang dialokasikan setiap tahunnya adalah sama. Dengan kata lain, untuk
metode garis lurus, nilai biaya penyusutannya konstan untuk setiap tahunnya, dari tahun
perolehan sampai dengan tahun akhir masa manfaatnya. Sebagai contoh, perusahaan anda
membeli lisensi IKEA untuk produksi furnitur rumah tangga dengan masa manfaat selama 4
tahun sebesar Rp 100.000.000,-. Maka perhitungan amortisasi pertahunnya adalah sebagai berikut

Beban amortisasi tahunan:


¼ x Rp 100.000.000,- = Rp 25.000.000,-

Dari perhitungan di atas, maka setiap tahun perusahaan anda harus melakukan amortisasi lisensi
IKEA sebesar Rp 25.000.000,-. Sehingga perhitungan akuntansinya ketika tutup buku akhir tahun
adalah sebagai berikut

Beban Amortisasi Rp 25.000.000,-


Aset tak Berwujud Rp 25.000.000,-
2.Metode saldo menurun

Sedangkan metode penyusutan saldo menurun, merupakan suatu metode pengalokasian


pembebanan biaya, dimana jumlah biaya yang dialokasikan semakin menurun tiap tahunnya
seiring bertambahnya masa manfaatnya, dan pada tahun dimana merupakan akhir masa
manfaatnya, dilakukan penyusutan sekaligus atas nilai sisa buku yang ada. Dalam metode saldo
menurun, pada tahun perolehan, biaya penyusutan akan lebih besar, dan untuk tahun berikutnya
biaya penyusutan akan semakin kecil. Jika mengikuti contoh kasus di atas, maka perhitungan
amortisasinya adalah sebagai berikut

a.Amortisasi lisensi IKEA tahun pertama


50% x Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000,-

b.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-2


50% x (Rp 100.000.000 – Rp 50.000.000) = Rp 25.000.000,-

c.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-3


50% x (Rp 50.000.000 – Rp 25.000.000) = Rp 12.500.000,-

d.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-4


Tahun keempat adalah akhir masa manfaat lisensi. Maka pada pembukuannya adalah dengan cara
mendebet sisa nilai ke dalam akun beban amortisasi dan mengkreditkan akun aset tak berwujud
atau akun lisensi. Dari perhitungan di atas, maka sisa nilai lisensi yang harus bukukan adalah
sebesar Rp 12.500.000,-

https://www.akuntansionline.id/metode-dan-pencatatan-amortisasi-aset-tak-berwujud/

D. AKTIFA TAK BERWUJUD YANG DAPAT DIIDENTIFIKASI SECARA KHUSUS.


 Paten
Dua jenis utama paten adalah paten produk (product patents), yang meliputi produk fisik aktual, dan
paen proses (process patents), yang mengatur proses untuk membuat suatu produk. Paten
memberikan kepada pemegangnya hak eksklusif untuk menggunakan, membuat, dan menjual suatu
produk atau proses selama periode 20 tahun tanpa campur tangan atau pelanggan dari pihak lain.
Dengan hak ekslusif ini, keuntungan dapat diraih.

 Hak Cipta
Hak cipta (copyrights) merupakan hak yang diberikan pemerintah kepada para penulis, pelukis,
pemusik, pematung, dan seniman lain atas kreasi dan ekspresi mereka. Hak cipta diberikan selama
umur penciptanya ditambah 50 tahun, dan memberikan kepada pemilik, atau pewarisnya, hak
ekslusif untuk memproduksi ulang dan menjual suatu pekerjaan artistik atau yang dipublikasikan.

 Merek Dagang dan Nama Dagang


Merek dagang (trademark) atau nama dagang (trade name) adalah suatu kata, frasa, atau simbul yang
membedakan atau mengidentifikasai sutu perusahaan atau produk tertentu. Untuk sejumlah
pembaharuan kembali yang tak terbatas dalam masing-masing periode selama 20 tahun, sehingga
perusahaan yang menggunakan merek dagang yang telah ditetapkan dapat menganggapnya memiliki
umur tak terbatas.

 Leasehold
Leasehold adalah suatu persetujuan kontraktual antara lessor (pemilik properti) dan lessee (penyewa
property) yang memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan property tertentu, yang dimiliki
oleh pemilik atau leesor, selama periode waktu tertentu sebagai imbalan atas pembayaran kas yang
telah ditetapkan da pada umumya secara periodic.
Masalah khusus muncul pad situasi-situasi berikut:
1. Pembayaran di muka lease.
2. Pengembagan leasehold.
3. Lease modal.
 Waralaba dan Lisensi
Suatu waralaba (franchise) adalah perjanjian kontraktual di mana pemilik waralaba (franchisor)
memberikan hak kepada pemegang waralaba (franchisee) untuk menjual produk atau jasa tertentu,
untuk menggunakan merek dagang atau nama dagang tertentu, atau melakukan fungsi-fungsi
tertentu, biasanya di daerah geografis yang telah ditentukan. D. AKTIFA TAK BERWUJUD YANG
DAPAT DIIDENTIFIKASI SECARA KHUSUS.
 Paten
Dua jenis utama paten adalah paten produk (product patents), yang meliputi produk fisik aktual, dan
paen proses (process patents), yang mengatur proses untuk membuat suatu produk. Paten
memberikan kepada pemegangnya hak eksklusif untuk menggunakan, membuat, dan menjual suatu
produk atau proses selama periode 20 tahun tanpa campur tangan atau pelanggan dari pihak lain.
Dengan hak ekslusif ini, keuntungan dapat diraih.

 Hak Cipta
Hak cipta (copyrights) merupakan hak yang diberikan pemerintah kepada para penulis, pelukis,
pemusik, pematung, dan seniman lain atas kreasi dan ekspresi mereka. Hak cipta diberikan selama
umur penciptanya ditambah 50 tahun, dan memberikan kepada pemilik, atau pewarisnya, hak
ekslusif untuk memproduksi ulang dan menjual suatu pekerjaan artistik atau yang dipublikasikan.

 Merek Dagang dan Nama Dagang


Merek dagang (trademark) atau nama dagang (trade name) adalah suatu kata, frasa, atau simbul yang
membedakan atau mengidentifikasai sutu perusahaan atau produk tertentu. Untuk sejumlah
pembaharuan kembali yang tak terbatas dalam masing-masing periode selama 20 tahun, sehingga
perusahaan yang menggunakan merek dagang yang telah ditetapkan dapat menganggapnya memiliki
umur tak terbatas.

 Leasehold
Leasehold adalah suatu persetujuan kontraktual antara lessor (pemilik properti) dan lessee (penyewa
property) yang memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan property tertentu, yang dimiliki
oleh pemilik atau leesor, selama periode waktu tertentu sebagai imbalan atas pembayaran kas yang
telah ditetapkan da pada umumya secara periodic.
Masalah khusus muncul pad situasi-situasi berikut:
1. Pembayaran di muka lease.
2. Pengembagan leasehold.
3. Lease modal.

 Waralaba dan Lisensi


Suatu waralaba (franchise) adalah perjanjian kontraktual di mana pemilik waralaba (franchisor)
memberikan hak kepada pemegang waralaba (franchisee) untuk menjual produk atau jasa tertentu,
untuk menggunakan merek dagang atau nama dagang tertentu, atau melakukan fungsi-fungsi
tertentu, biasanya di daerah geografis yang telah ditentukan.

PENCATATAN GOODWILL
Pencatatan Goodwill
1. Goodwill yang diciptakan secara Internal.
Goodwill yang dihasilkan secara internal tidak boleh dikapitalisasi dalam akun, karena pengukuran
komponen goodwiil terlalu kompleks dan menghubungkan setiap biaya dengan manfaat masa depan
sangat sulit.
2. Goodwill yang Dibeli.
Goodwill hanya dicatat jika keseluruhan perusahaan dibeli, karena goodwill merupakan suatu
penilaian “going concern” dan tidak dapat dipisahkan dari perusahaan secara keseluruhan. Untuk
mencatat goodwill, nilai pasar wajar dari aktiva berwujud bersih dan dan aktuva tak berwujud yang
dapat diidentifikasi dibandingkan dengan harga beli perusahan yang diperoleh. Perbedaaannya
dianggap sebagai goodwill, yang menyebabkan mengapa goodwill kadang-kadang disebut sebagai
akun “penyumbat” atau “pengisi kesenjangan” atau “penilaian induk (master valuation)”. Goodwill
adalah sisa: kelebihan biaya atas nilai wajar aktiva bersih yang dapat diidentifikasi yang diakuisisi.

http://kunangsenja.blogspot.co.id/2010/04/aktiva-tak-berwujud.html

Biaya Penelitian Dan Pengembangan


Dijelaskan pada PSAK 19 Revisi 2009 termasuk dalam Kieso et al (2011: 635-637)
termasuk dalam, bahwa biaya penelitian dan pengembangan dengan sendirinya bukan sebagai
aset tidak berwujud, sehingga semua biaya penelitian dan pengembangan harus dibebankan ke
beban pada saat terjadinya. Selain itu juga dijalaskan dalam PSAK 19 Revisi 2009, bahwa
tahap Pengembangan dapat dikapitalisasi sebagai aset tidak berwujud sebesar biaya perolehan
jika kriteria pengakuan terpenuhi dan aset baru hasil pengembangan siap digunakan.
Akuntansi untuk aktivitas penelitian dan pengembangan:
Kieso et al (2011: 637) menjelaskan perlakuan akuntansi terhadap biaya adalah sebagai
berikut:
1. Bahan, peralatan dan fasilitas: keseluruhan dicatat sebagai beban, kecuali jika pos memiliki
manfaat di masa depan (dalam proyek pengembangan lain) dapat dicatat sebagai persediaan
dan dikapitalisasi atau disusutkan ketika digunakan.
2. Personil (gaji, upah dan biaya terkait personil) dibebankan ketika terjadi.
3. Aset tidak berwujud yang dibeli: keseluruhan dicatat sebagai beban, kecuali jika pos memiliki
manfaat di masa depan (dalam proyek pengembangan lain) dapat dicatat sebagai persediaan
dan dikapitalisasi atau disusutkan ketika digunakan.
4. Jasa kontrak: dibebankan ketika terjadi
5. Biaya tidak langsung: dibebankan ketika terjadi.
Biaya lain yang serupa dengan biaya penelitian dan pengembangan:
Kieso et al (2011: 638-640) menjelaskan perlakuan akuntansi terhadap biaya adalah
sebagai berikut:
1. Biaya Start-Up: biaya dikeluarkan sekali untuk memulai operasi baru dan dibebankan ketika
terjadi.
2. Kerugian operasi awal: dibebankan ketika terjadi
3. Biaya iklan: dibebankan ketika terjadi atau dibebankan ketika pertama kali iklan dimuat.
4. Biaya perangkat lunak komputer: Secara umum biaya untuk pengembangan situs web tidak
dapat diakui sebagai aset tidak berwujud.
Biaya perangkat lunak secara rinci diatu dalam ISAK 14, namun pada prinsip umum ISAK
14 dipaparkan bahwa biaya untuk pengembangan web site dapat diakui sebagai aset tidak
berwujud apabila memenuhi persyaratan pengakuan pengembangan yang disyaratkan PSAK
19 (revisi 2009) mengenai aset tidak berwujud terutama mengenai kemampuan menghasilkan
manfaat ekonomi di masa depan

G. Penyajian Aset tidak Berwujud


Kieso et al (2011: 640-642) memaparkan terkait penyajian aset tidak berwujud dan pos lain
yang berhubungan:
a. Laporan Posisi Keuangan: semua aset tidak berwujud selain goodwill dilaporkan secara
terpisah, dan goodwill harus diungkapkan sebagai pos terpisah. Hal ini karena goodwill dan
aset tidak berwujud lainnya sangat berbeda dengan jenis aset lain.
b. Laporan Laba Rugi: pelaporan atas beban amortisasi dan kerugian penurunan nilai aset tidak
berwujud sebagai bagian dari operasi berjalan. Kerugian penurunan goodwill dilaporkan
terpisah, kecuali jika operasi sudah tidak berjalan.
c. Catatan pada laporan keuangan: harus meliputi informasi mengenai aset tidak berwujud yang
diakuisisi, beban amortisasi keseluruhan, perubahan jumlah catatan goodwill selama periode
berjalan.

http://fridarohmasulaeman.blogspot.co.id/2016/04/aset-tidak-berwujud_11.html