Anda di halaman 1dari 10

IV.

RADIOAKTIVITAS

Sub-pokok Bahasan Meliputi:


• Kestabilan Inti
• Peluruhan Inti
• Hukum-hukum dalam Peluruhan

4.1 KESTABILAN INTI

TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:


Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Kestabilan Inti, mahasiswa diharapkan
dapat:
• Menjelaskan konsep kestabilan inti dan memprediksi jenis pancaran radiasi
• Menjelaskan radioaktivitas alam

4.1.1 Kestabilan Inti


Hinga kini telah ditemukan sekitar 1500 inti, namun hanya ada kira-kira 400 inti
yang stabil.

120

100

80
Jumlah Netron

Garis Kestabilan
60

40 N=Z

20

0 20 40 60 80
Jumlah Proton

Gambar 4.1. Garfik Kestabilan Inti


Perhatikan bahwa inti ringan (kira-kira sampai dengan Z = 20) sangat stabil, jika
intinya mengandung jumlah proton dan netron yang sama (N = Z atau N/Z = 1). Sebagai
contoh inti helium yang mengandung 2 proton dan 2 netron adalah sangat stabil.

29
Inti berat lebih stabil jika jumlah netron melebihi jumlah proton. Begitu jumlah
proton bertambah, gaya tolak Coulomb antara proton-proton bertambah sehingga
cenderung untuk memisahkan nukleon di dalam inti. Untuk mengikat nukleon-nukleon
tetap di dalam inti, maka gaya tolak Coulomb oleh proton-proton tambahan diimbangi oleh
gaya tarik-menarik antara netron-netron tambahan. Namun karena satu proton menolak
seluruh proton lainnya, sedang satu netron hanya menarik netron-netron tetangganya, maka
jelas penambahan netron penambahan netron harus lebih besar daripada penambahan
proton. Inti berat lebih stabil jika jumlah netron kira-kira sama dengan 1,6 kali jumlah
proton (N = 1,6 Z atau N/Z = 1,6).
Hanya saja pada saat Z > 83, gaya tolak antara proton-proton tidak dapat lagi
diimbangi dengan penambahan netron. Oleh karena itu, inti-inti yang mengandung lebih
dari 83 proton (Z > 83) tidak memiliki inti yang stabil.
Adalah menarik bahwa kebanyakan inti stabil memiliki nomor massa ganjil.
Beberapa fakta menunjukkan bahwa nilai-nilai tertentu dari Z dan N berhubungan dengan
inti-inti yang lebih stabil. Nilai-nilai Z dan N disebut angka-angka ajaib, yaitu:
Z dan N = 2, 8, 20, 28, 50, 82, 126
Sebagai contoh, inti helium yang memiliki dua proton dan dua netron ( N = Z = 2)
adalah sangat stabil.
Inti ringan tidak stabil yang terletak di atas garis kesetabilan N = Z (N > Z) memiliki
kelebihan netron. Untuk mencapai kesetabilan, kelebihan netron harus diubah menjadi
proton melalui pemancaran sinar beta (elektron). Misal 146 C memiliki Z = 6 proton dan N =
8 netron, akan menjadi stabil dengan memancarkan sinar beta:
14
6 C →147 N + e −

Inti ringan yang terletak di bawah garis kestabilan (Z > N) memiliki kelebihan
proton. Untuk mencapai keadaan stabil, kelebihan proton diubah menjadi netron dengan
memancarkan positron (e+, elektron positif). Misalnya inti 11
6C akan stabil dengan

memancarkan beta positif (positron)


C →115B + e +
11
6

Inti berat (Z > 83) yang terletak di atas garis kestabilan memiliki kelebihan netron
dan proton. Untuk mencapai keadaan inti stabil, inti ini memancarkan partikel alfa
226
sehingga intinya kehilangan dua proton dan dua netron. Misalnya 88 Ra mencapai stabil

dengan memancarkan partikel alfa

30
226
88 Ra → 222
86 Rn + 2 He
4

4.1.2 Radioaktivitas Alam


Pada tahun 1896, Becquerel menemukan kristal uranium mengemisikan sinar yang
sama dengan sinar-X, yang mempunyai daya tembus tinggi, dapat menghitamkan plat
fotografi dan menyebabkan konduktivitas listrik pada gas. Penemuan Becquerel diikuti
oleh identifikasi 2 zat radioaktif lainnya, polonium dan radium oleh Piere dan Marie Currie
pada tahun 1898. Unsur berat seperti uranium atau thorium, dan unsur deret peluruhan tak
stabil mengemisikan radiasi secara alami. Uranium dan plutonium, sudah ada sejak awal
periode geologi, dan mempunyai kecepatan peluruhan yang sangat lambat. Semua nuklida
atau atom yang ada di alam dengan nomor atom lebih besar dari 82 bersifat radioaktif.

4.2 PELURUHAN RADIOAKTIF


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Peluruhan Radioaktif, mahasiswa diharapkan
dapat:
• Menjelaskan aktivitas peluruhan radioaktif
• Menjelaskan dan menghitung waktu paro dan waktu hidup rata-rata
• Menjelaskan deret radioaktif

4.2.1 Peluruhan Radioaktif


Aktivitas adalah laju peluruhan inti radioaktif. Semakin besar aktivitas, semakin
banyak inti yang meluruh per satuan waktu. Aktivitas tidak berhubungan dengan jenis
radiasi dan energi radiasi, namun hanya berhubungan dengan jumlah peluruhan per satuan
waktu tertentu.
Satuan aktivitas dalam SI adalah Becquerel (Bq). Satu Becquerel sama dengan satu
peluruhan per detik. Satuan ini terlalu kecil dan sebagai gantinya digunakan satuan Curie.
Semula, Curie didefinisikan sebagai aktivitas dari satu gram radium. Definisi ini kemudian
diubah dengan yang lebih memudahkan, yaitu:

1 Curie (Ci) = 3,7 x 1010 peluruhan / detik

1 Curie adalah satuan bilangan yang sangat besar, sehingga untuk kepentingan
praktis sering dipakai satuan milicurie (mCi) dan mikrocurie (μCi).
Satu cuplikan bahan radioaktif yang berorde beberapa gram, mengandung atom
dalam orde 1023 . Jika cuplikan ini memiliki aktivitas 1 Ci, maka akan ada sekitar 1010 inti

31
yang meluruh setiap detiknya. Dapat juga dikatakan bahwa 1 inti atom sembarang
memiliki probabilitas (1010/1023) atau 10-13 untuk meluruh setiap detiknya. Besaran ini,
yaitu probabilitas peluruhan per inti per detik, disebut dengan tetapan peluruhan dan
dinyatakan dengan λ.
Dengan demikian, maka aktivitas adalah perkalian jumlah inti radioaktif dan
probabilitasnya untuk meluruh.
A = λN (4.1)
Ketika cuplikan inti meluruh, jumlah inti yang radioaktif berkurang, maka aktivitas
juga semakin kecil. Jadi, jumlah peluruhan per detik semakin lama semakin sedikit.
Dapat dikatakan bahwa aktivitas A, pada hakikatnya adalah perubahan jumlah
(pengurangan) inti radioaktif yang meluruh setiap satuan waktu.
dN
A=− (4.2)
dt
dN/dt bernilai negatif, karena N menurun dengan bertambahnya waktu. Dari
persamaan 4.1 dan 4.2 diatas diperoleh:
dN
= − λN (4.3)
dt
Atau
dN
= −λdt (4.4)
N
Persamaan ini dapat langsung diintegrasikan, dengan hasil
ln N = −λt + c (4.5)
c adalah tetapan integrasi. Hasil ini dapat dituliskan kembali menjadi
N = e − λt + c (4.6)
Atau
N = N 0 e − λt (4.7)

Di sini ec telah diganti dengan No. Pada saat t = 0, N = No. Jadi No adalah jumlah
inti radioaktif mula-mula. Persamaan 4.7 dinamakan dengan hukum peluruhan radioaktif
eksponensial.
Pada kenyataannya kita tidapat mengukur N, sehingga diperlukan persamaan yang
lebih bermanfaat, yaitu dengan mengalikan kedua belah ruas dengan λ, yang memberikan
persamaan
A = A0 e − λt (4.8)

32
Ao adalah aktivitas mula-mula.
Jika dalam suatu cuplikan bahan radioaktif dihitung aktivitasnya, kemudian beberapa
waktu kemudian dihitung lagi aktivitasnya dan seterusnya, maka didapatkan grafik.
A

Ao

t
Gambar 4.2 Garfik Peluruhan Radioaktif
4.2.2 Waktu Paro
Setiap zat radioaktif juga memiliki waktu paro (t1/2), yaitu waktu yang diperlukan zat
radioaktif untuk meluruh sehingga tinggal setengah dari jumlah semula. Semakin pendek
waktu paro zat radioaktif, maka semakin cepat zat tersebut meluruh sehingga
kemampuannya memancarkan radiasi berkurang dengan cepat.
Ketika zat radioaktif tinggal setengahnya t = t1/2
1
N= N0 (4.9)
2
Bila N dari persamaan 4.7 disubstitusi, maka didapatkan:
1
N 0 = N 0 e −λ t1 / 2
2
0,693 = −λ t1 / 2

0,693
t1 / 2 = (4.10)
λ
Contoh
Tentukan waktu paro zat radioaktif yang memiliki konstanta peluruhan 0,01/hari
Jawab
t1 / 2 = 0,693 / 0,01 ( hari −1 ) = 69,3 hari

4.2.3 Waktu Hidup Rata-rata


Inti bahan radioaktif bisa melakukan peluruhan kapan saja, mulai dari t = 0 sampai t
= ~ setelah pengamatan. Untuk beberapa tujuan tertentu, kadang lebih mudah digunakan

33
waktu hidup rata-rata zat radioaktif tersebut. Waktu hidup rata-rata didefinisikan sebagai
jumlah waktu hidup dari setiap inti, dibagi dengan total zat radioaktif yang ada.
Laju peluruhan inti radioaktif yang mengandung N inti adalah λN. Dalam interval
waktu antara t dan t + dt, jumlah total inti yang melakukan peluruhan λN dt. Sehingga
waktu hidup semua inti adalah tλN dt. Waktu hidup rata-rata dari tiap-tiap inti τ adalah:
~
1
N 0 ∫0
τ= tλNdt (4.11)

Dengan mensubsitusikan nilai N dari persamaan 4.7, diperoleh:


~
1 1
τ= ∫
N0 0
tλN 0 e −λt dt =
λ
(4.12)

Karena λ = 0,693 / t1 / 2 , maka

τ = 1,45 t1 / 2 (4.13)

Contoh
Berapa waktu hidup rata-rata inti radioisotop dengan konstanta peluruhan 0,25/jam
Jawab
t1 / 2 = 0,693 / 0,25 jam = 2,77 jam
τ = 1,45 x 2,77 jam = 4,02 jam

4.2.3 Deret Radioaktif


Inti radioaktif tidak selalu meluruh dan menghasilkan inti anak yang stabil.
Seringkali inti anak juga tidak stabil, sehingga terjadi peluruhan berikutnya yang juga
belum tentu stabil. Setelah beberapa kali meluruh, akan terbentuk inti yang benar-benar
stabil. Tahapan-tahapan peluruhan tersebut akan mengikuti suatu urutan yang disebut deret
radioaktif. Peluruhan yang demikian disebut peluruhan berantai.
Dalam proses peluruhan radioaktif, nomor massa A inti induk akan berubah dengan 4
satuan (peluruhan alfa) atau A tidak berubah (peluruhan beta). Karena itu nomor massa A
dari isotop-isotop anggota peluruhan berantai, pasti meluruh dengan kelipatan 4. Dengan
demikian ada empat deret yang mungkin dengan nomor massa A, yang dapat dinyatakan
dengan rumus 4n, 4n + 1, 4n + 2, 4n +3, dengan n adalah bilangan bulat.
Masing-masing deret radioaktif diberi nama dengan inti induknya. Deret radioaktif
4n + 2 diberi nama deret uranium. Deret radioaktif 4n + 3 diberi nama deret aktinium.
Deret 4n diberi nama deret deret Thorium dan deret 4n + 1 diberi nama deret Neptunium.

34
Tabel. 4.1 Empat Deret Radioaktif
Deret Inti induk Waktu paro Rumus deret Inti stabil akhir
(tahun)
Thorium 232
90 Th 1,41 x 1010 4n 208
82 Pb
237 6 209
Neptunium 93 Np 2,14 x 10 4n + 1 83 Bi
238 206
Uranium 92 U 4,47 x 109 4n + 2 82 Pb
235 207
Aktinium 92 U 7,14 x 108 4n +3 82 Pb

Tiap deret mempunyai deretan yang cukup panjang sampai akhirnya menjadi inti
stabil. Berikut ini adalah tabel delapan isotop dari deret uranium
Tabel 4.2. Delapan Pertama Deret Uranium
Unsur Inti Waktu paro Radiasi Energi α dan β (MeV)
Uranium 238
U 4,5 x 109 thn α γ 4,2
92

Thorium 234
90 Th 24,1 hari β γ 0,19
234
Protactinium 91 Pa 6,75 jam α γ 2,3
Uranium 234
2,47 x 105 thn α γ 4,77
U
92
Thorium 230 8,0 x 104 thn α γ 4,68
90 Th
Radium 226
Ra 1620 thn α γ 4,78
88
Radon 222
Rn 3,82 hari α 5,49
86
Polonium 218
84 Po 3,05 menit α 6,0

4.3 HUKUM-HUKUM DALAM PELURUHAN

TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:


Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Hukum-hukum dalam Peluruhan, mahasiswa
diharapkan dapat:
• Menjelaskan hukum kekekalan massa-energi dalam peluruhan radioaktif
• Menjelaskan hukum kekekalan momentum linier dan sudutdalam peluruhan
radioaktif
• Menjelaskan hukum kekekalan muatan elektrik dan nomor massa

4.3.1 Hukum Kekalan Massa-Energi


Seandainya inti awal adalah X meluruh menjadi Y, dengan memancarkan partikel b,
maka:
m X c 2 = ( mY + mb )c 2 + Q

35
Q = ( m X − mY − mb )c 2 (4.14)
Jelas, bahwa peluruhan ini terjadi jika nilai Q (energi) positif. Kelebihan energi Q ini
muncul sebagai energi kinetik partikel-partikel hasil peluruhan:
Q = KY + Kb (4.15)

4.3.2 Hukum Kekekalan Momentum Linier


Jika inti yang meluruh pada awalnya diam, maka momentum total semua partikel
hasil peluruhannya haru nol:
pY + p b = 0 (4.16)

Biasanya, massa partikel yang dipancarakan b, lebih kecil dibanding massa inti sisa
Y, sehingga momentum pental pY menghasilkan energi kinetik KY yang kecil.
4.3.3 Hukum Kekekalan Momentum Sudut
Ada dua jenis momentum sudut, yaitu momentum sudut spin s dan momentum sudut
gerak atau orbital l. Dalam kerangka diamdari inti X, momentum sudut total sebelum
peluruhan adalah sX. Setelah peluruhan, terdapat spin inti Y dan partikel-partikel b. Juga
ada momentum sudut l = r x p dari b dan Y, yang bergerak relatif terhadap titik dalam
ruang yang semula ditempati inti X. Dengan demikian berlaku:
s X = sY + s b + lY + l b (4.17)

4.3.4 Hukum Kekekalan Muatan Elektrik


Hukum ini merupakan bagian mendasar dalam seluruh proses peluruhan. Hukum ini
menyatakan bahwa muatan elektrik sebelum dan sesudah peluruhan harus sama besar.
4.3.5 Hukum Kekealan Nomor Massa.
Hukum ini menyatakan bahwa total nomor massa sebelum reaksi harus sama dengan
nomor massa sesudah reaksi.

Soal-soal:
1. Sampel suatu unsur radioaktif memiliki aktivitas 9 x 1012 Bq. Waktu paro unsur
tersebut 80 s. Berapa waktu yang diperlukan agar aktivitasnya tinggal 2 x 1012 Bq.
226
2. Berapa aktivitas satu gram 88 Ra yang memiliki waktu paro 1622 tahun.

3. Berapa waktu yang diperlukan oleh bahan radioaktif yang berwaktu paro 2 hari, agar
63/64 bagiannya melakukan peluruhan.

36
60
4. Co yang waktu apro-nya 5 tahun sering digunakan sebagai sumber radiasi dalam
bidang kedokteran. Setelah berapa lama sejak cuplikan kobalt baru diterima dari
pesanan, aktivitasnya akan berkurang hingga tinggal 1/8 aktivitas semula.
5. Zat radioaktif a (dengan konstanta peluruhan λ a ) meluruh menjadi b yang juga

radioaktif (dengan konstanta peluruhan λb ). Buktikan bahwa jumlah zat b yang tersisa

λa N a 0 −λ t
setelah t adalah N b = N b 0 e −λbt + (e − e −λ t ) .
a b

λb − λ a

Biografi Singkat
Biografi BECQUEREL
Antonie Henri Becquerel adalah ahli fisika dan sekretaris Academie des Sciences. Pada
tahun 1896 ia menemukan radioaktivitas. Kemudian Pierre Curie dan Marie Curie mempelajari
radioaktivitas lebih lanjut. Pada tahun 1903 Becquerel, Pierre Curie dan Marie Curie, mendapat
Hadiah Nobel untuk fisika.
Becquerel lahir pada 15 Desember 1852 di Paris dan meninggal pada 25 Agustus 1908
di Le Croisic.
Ayah dan kakeknya juga ahli fisika. Nama ayahnya Alexandre Edmond Becquerel dan
nama kakeknya Antonie Cesar Becquerel.
Pada umur 20 tahun ia kuliah di Ecole Polytechnique. Tiga tahun kemudian ia diangkat
jadi dosen pada Perguruan Tinggi tersebut. Pada umur 26 tahun ia jadi guru besar di Musee
d’Histoire Naturelle, menggantikan ayah dan kakeknya. Pada umur 36 tahun ia mendapat gelar
doktor. Tahun berikutnya ia diterima sebagai anggota Academie des Sciences. Pada umur 43
tahun ia diangkat menjadi guru besar di Ecole Polytechnique.
Pada saat Rontgen menemukan sinar-X, Becquerel sangat tertarik dengan penemuan
tersebut. Sinar-X berasal dari tempat yang berpendar di dalam tabung sinar katoda. Becquerel
lalu berpikir apakah tidak ada benda lain yang juga memancarkan sinar yang sangat kuat daya
tembusnya.
Dalam percobaan yang dilakukan, sebenarnya Becquerel sedang mempelajari gejala
fluoresens dan fosforesens (yang disebabkan sinar-X). Fluoresens adalah gejala dimana suatu
benda dapat memancarkan cahaya yang berbeda ketika menerima cahaya dari luar. Fosforesens
adalah gejala dimana suatu benda dapat memancarkan cahaya beberapa selang waktu
kemudian setelah benda itu menerima cahaya dari luar, seperti pada jarum penunjuk arloji yang
bersinar pada malam hari.
Dalam penyelidikannya secara tidak sengaja, ia menemukan bahwa senyawa uranium
dapat memancarkan radiasi yang daya tembusnya sangat kuat, seperti sinar-X.
Mula-mula ia menduga bahan ini menyimpan energi matahari yang diperoleh
sebelumnya. Kemudian ia menempatkan bijih uranium dalam kotak timah yang tertutup rapat
dan menyimpannya beberapa bulan. Ternyata, meskipun sudah tertutup rapat, bahan uranium
tersebut tetap menunjukkan keaktifan radiasi, yakni dapat menghitamkan film..
Becquerel menceritakan gejala ini kepada Marie Curie. Marie Curie menamakan gejala
itu dengan radioaktivitas dan sinar yang berasal dari bijih uranium itu dinamakan sinar-
Becquerel. Jadi, radioaktivitas pertama kali ditemukan oleh dia

37
CURIE
Marie Sklodowska Curie adalah ahli fisika dan kimia. Marie Curie adalah orang
pertama yang mendapat dua kali Hadiah Nobel, yang pertama untuk fisika dan yang kedua
untuk kimia.
Bersama suaminya Piere Curie dan Becquerel pada tahun 1903 Marie Curie mendapat
Hadiah Nobel untuk fisika karena menemukan radioaktivitas. Pada tahun 1911 Marie Curie
menadapat Hadiah Nobel Kimia karena menemukan polonium, radium dan mengisolasi
radium.
Marie Curie lahir di Warsama, Polandia pada 7 November 1867 dan meninggal di
Savoy, Prancis pada 4 Juli 1934 karena menderita sakit kanker darah, akibat terlalu banyak
terkena sinar radioaktif ketika menyelidiki radium.
Sejak kecil ia adalah orang yang cerdas. Pada umur 15 tahun ia lulus Sekolah Menengah
dengan nilai tertinggi. Tapi malang, orang tuanya miskin. Pada umur 17 tahun terpaksa
mencari nafkah dengan menjadi guru privat. Pada saat itu Marie Curie ingin kuliah, tapi
kebijakan di Polandia, gadis dilarang masuk Perguruan Tinggi.
Oleh karena itu, ia menabung dan setelah tabungannya cukup ia pindah ke Paris dan
kuliah di Sorbonne, bagian dari Universitas Paris.
Pada tahun 1896 ia bertemu Pierre Curie. Tahun berikutnya ia melangsungkan
pernikahan. Ia dikaruniai anak Irene dan Eve. Irene juga mendapat hadiah Nobel untuk kimia
1935 karena membuat unsur baru yang radioaktif. Eve terkenal karena menulis riwayat hidup
ibunya.

SEABORG (Penemu Deret Radioaktif)


Glenn Theodore Seaborg adalah ahli kimia nuklir, pemenang Hadiah Nobel, dan
bersama ilmuan lain menemukan plutonium, amerisium, kurium, berkelium, kalifornium,
einsteinium, fermium, mendelevium, dan nobelium. Ia menemukan metode pemisahan kimia
untuk membuat plutonium. Ia menemukan deretan radioaktif dan konsep aktinida mengenai
kedudukan unsur-unsur berat dalam daftar periodik.
Seaborg lahir di Michigan, AS, pada 19 April 1912, keturunan imigran dari Swedia. Ia
tamat SMA pada umur 17 tahun dan melanjutkan ke Universitas California. Mula-mula ia
tertarik pada sastra. Tapi pada tahun ke-3 kuliah ia pindah jurusan. Ia menambil jurusan kimia
dan fisika karena pengaruh seorang dosen yang pandai mengajar. Ia lulus pada umur 22 tahun
dan mendapat gelar doktor pada umur 25 tahun.
Pada umur 27 tahun ia diangkat jadi instruktur di Berkeley. Di siklotron Ernest
Lawrence ia menembaki unsur-unsur biasa dan menemukan banyak isotop penting yang
dikemudian dipakai secara luas dalam bidang pengobatan dan industri.
Pada tahun 1941 Seaborg bersama Edwin M. McMillan, Joseph W. Kennedy dan
Arthur C. Wahl menemukan plutonium, unsur transuranium terpenting yang dipakai untuk
bahan bakar di reaktor-reaktor nuklir dan sebagai bahan yang aktif dalam senjata nuklir. Pada
tahun 1951 bersama Edwin M. McMillan ia mendapat Hadian Nobel karena menemukan unsur
transuranium.
Pada tahun 1958 ia diangkat menjadi rektor Universitas Berkeley. Pada tahun 1961
menjadi kepala Komisi Energi Atom AS. Pada tahun 1971 ia menjabat sebagai direktur
Laboratorium Berkeley Lawrence.

38