Anda di halaman 1dari 21

PEMBUATAN PREPARAT SEDIAAN UTUH BEBERAPA INSECTA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Mikroteknik yang Dibimbing Oleh

Drs. Sulisetijono,M.Si

Disusun oleh Offering GHI-Kesehatan

Arrum Larasati Rohmania (150342605291)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
April 2018
A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengetahui pembuatan preparat sediaan utuh serangga
bersayap dan tidak bersayap
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi preparat serangga bersayap dan tidak
bersayap
B. DASAR TEORI
Serangga (Insekta) digolongkan dalam phylum Arthropoda. Serangga sebagai
salah satu golongan hewan penghuni terbesar dimuka bumi. Diperkirakan bahwa
jumlah seluruh serangga menduduki tiga perempat bagian dari semua hewan yang
ada, dan dari jumlah tersebut 750.000 spesies telah berhasil diketahui dan diberi
nama. Jumlah tersebut merupakan lebih kurang 80% dari filumnya sendiri (Falahudin
et al, 2015).
Umumnya tubuh serangga terdiri atas 3 ruas utama tubuh (caput, torak, dan
abdomen). Morfologi serangga pada bagian kepala, terdapat mulut, antena, mata
majemuk (faset) dan mata tunggal (ocelli). Pada bagian torak, ditemukan tungkai 3
pasang dan spirakel. Sedangkan di bagian abdomen dapat dilihat membran timpani,
spirakel, dan alat kelamin (Arnest et al,1981). Pada bagian depan (frontal) apabila
dilihat dari samping (lateral) dapat ditentukan letak frons, clypeus, vertex,
gena,occiput, alat mulut, mata majemuk, mata tunggal (ocelli), postgena dan antena.
Sedangkan toraks terdiri dari protorak, mesotorak, dan metatorak. Sayap serangga
tumbuh dari dinding tubuh yang terletak dorso-lateral antara nota dan pleura. Pada
umumnya serangga mempunyai 2 pasang sayap yang terletak pada ruas meso toraks
dan meta torak. Pada sayap terdapat pola tertentu dan sangat berguna untuk
identifikasi (Borror, dkk, 1992). Tidak semua serangga memiliki sayap. Serangga
yang tidak bersayap digolongkan ke dalam subkelas Apterygota, sedangkan serangga
yang memiliki sayap digolongkan kedalam subkelas Pterygota.
Kelas Insecta terbagi menjadi sub kelas Apterygota dan Pterygota. Sub kelas
Apterygota terbagi menjadi 4 ordo, dan sub kelas Pterygota masih terbagi menjadi 2
golongan yaitu Exopterygota (golongan Pterygota yang metamorfosisnya sederhana)
yang terdiri dari 15 ordo, dan golongan Endopterygota (golongan Pterygota yang
metamorfosisnya sempurna) terdiri dari 3 ordo.
Pada praktikum ini menggunakan sediaan utuh. Sediaan utuh merupakan
sediaan keseluruhan obyek atau hanya salah satu bagian saja yang dibuat tanpa
memotong menjadi bagian-bagian yang tipis, misalnya cacing kecil, serangga kecil,
embrio atau biji, sehelai benang (serat kapas), butiran-butiran pasir, kristal-kristal
kimia, spirakulum serangga, lambung nyamuk, sisik ikan dan lain sebagainya
(Handayani, 2017). Hasil dari pembuatan preparat dengan teknik sediaan utuh akan
menghasilkan gambar yang memiliki wujud utuh seperti ketika sediaan organisme
tersebut masih dalam keadaan hidup. Teknik sediaan utuh juga memiliki beberapa
kelemahan yaitu dilakukan pada organisme yang berukuran kecil. Hal ini dikarenakan
teknik tersebut dilakukan tanpa pemotongan wujud organisme sehingga untuk
organisme yang ukuranya relatif besar akan sulit dilakukan pembuatan preparat
dengan teknik ini .
C. ALAT DAN BAHAN

ALAT BAHAN

 Kaca arloji  Serangga bersayap


 Mikroskop  Serangga tidak bersayap
 Pipet  Larutan KOH 10%
 Kaca benda  Entelan
 Kaca penutup  Alkohol 95%, Alkohol 50%,
 Jarum preparat Alkohol absolut
 Cawan petri  Xylol
 Lampu spiritus  Larutan khloroks 5%
 Pinset

 Pinset
D. CARA KERJA
 Sediaan Utuh untuk Insekta Bewarna Gelap

Insekta yang berwarna gelap direndam di dalam larutan khloroks 5% selama 5-10
menit

Dimasukkan insekta ke dalam larutan KOH 10% dingin selama 24 jam atau lebih,
atau dapat dilakukan dengan jalan didihkan dalam larutan KOH 10% selama 30
menit sampai 1 jam

Dicuci beberapa kali dengan air

Diurut tubuh insekta dengan hati-hati sehingga bagian dalamnya keluar

======= Selanjutnya dilakukan cara kerja sediaan utuh beberapa insekta

Dimasukkan beberapa insekta kecil ke dalam kaca arloji yang berisi alkohol 50%

Dipindahkan salah satu insekta dengan pipet ke atas kaca benda, diatur letaknya,
kaki-kakinya direntangkan, antena dan sayap-sayap (kalau insekta bersayap)
diluruskan
Sesudah ½ jam dihisap semua alkohol dengan sebuah pipet, dan ditambahkan
alkohol 95% secara perlahan-lahan

Sesudah 1 jam diganti dengan alkohol 95% yang baru, dan dibiarkan selama 1 jam

Selanjutnya digantilah dengan alkohol absolut selama 5-10 menit

Diamati dengan mikroskop

Apabila obyek yang dituju telah dirasa baik dan organ-organnya telah tertata
dengan baik , selanjutnya diteteskan entelan, dan kemudian ditutup dengan kaca
penutup.

= = = = = >> Apabila Insekta tidak berwarna gelap, maka langsung


menggunakan cara kerja yang sediaan utuh beberapa insekta.
E. DATA PENGAMATAN

No Gambar Keterangan
1. Pilli
2. Mandible
4 3. Chepal
Prothorax 4. Pronotum (Thorax)
5. Fore Leg Pair

Chepal 6. Chaeta
6 7. Eye Furrow
3

1 5
5
7 7

2
1

Larva Undur – Undur


4 x 10
1. Back pair of leg
Abdomen
(femur)
2. Tarsus

3 3. Metatarsus
Metathorax
2 4. Mid – pair of leg
1 5. Fore pair of leg
1

2
Mesothorax

4
Prothorax
5

Undur-undur
1. Mouthpart (Sucker)
2. Occeli
Abdomen
8 3. Femur
7
6
4. Tibia
5. Metatarsus (Claws)
Msthx 6. Elytron
Metathx
Prothx 7. Back – Wings
8. Ovopositor
3

3
Chepal
2 4
5
1

Kutu Beras
4 x 10
1st – 4th = Leg Pair

3rd 2. Mouth Parts


4th
3. Femur
2nd
Abdomen 4. Tibia
5. Tarsus
1st 6. Metatarsus

4.
2
3 Cphlthorax

4
5
6

Kutu Arachnide (Kutu anjing)


4 x 10
7 1. Femur
2. Tibia
5
4 3. Tarsus
4. Chaeta
3
2 5. Metatarsus
6. Mouth parts
Chepal 7. Claws
Abdomen 1
1st 6
5. 8. Coxa
8
3rd 1st – 3rd = Leg Pair
2nd
6

Mtthx

Pthx
Msthx

Kutu Kucing
1. Coxa
2. Tarsus
1
5
3. Meta tarsus
2 3rd Leg (Jumping point)
6. 3 4. Chaeta
4
5. Femur
Abdomen

Kutu Kucing
1st – 3rd = Leg Pair
1
1. Antennae
1
Mstx
Ptx 2. Mandible
3rd 3. Ocellus
3 Chepal
4. Femur
7. 2
Mtthx 7 1st 5. Tarsus
2nd 6. Metatarsus
6
4 5 7. Coxa

Semut Hitam
g 1. Ocellus
f 2. Bristle

5 e Abdomen 3. Wings
6 3rd d 4. Femur
Vtr
4 c 5. Tarsus
2nd Drs
b 6. Metatarsus
1st Mt a
3P 1st – 3rd = Leg Pair
Ms 2P
D a - g = abdominal segments
8. P B1
1P
M S s – b1 = wings compartments
B1
D M
2 3
1
2P
Chepal S
1P

Drosophila
7.
1. Antennae
1 2. Mandible
3
3. Ocellus
1st
2 4. Femur
Prothx
Chepal 5. Tarsus
Mesothx 1st – 3rd = Leg Pair
2nd
a – e = Abdominal segment

9. Metathx
4
3rd 5
a
b

d c Abdomen
e

Semut Hitam
6.
1. Antennae
2. Tarsus

Abdomen 3. Metatarsus
4. Wings
3 2

10.

Mesothx

Prothx 4
1

Moth Fly Clogmia Albipunctata


5.
Nyamuk Anopheles

11

Kutu Kepala

12
Semut Merah

13
F. ANALISIS DATA

Pada praktikum ini menggunakan hewan serangga yang bersayap dan tidak
bersayap. Hewan serangga yang bersayap terdiri dari kutu beras (Sitophillus oryzae),
lalat buah (Drosophila melanogaster), nyamuk Anopheles , undur-undur (Distoleon
tetragrammicus), dan Moth Fly Clogmia Albipunctata. Hewan serangga yang tidak
bersayap terdiri dari semut hitam (D. thoracicus),semut merah, kutu kepala, kutu
Arachnide (kutu pada anjing ), kutu pada kucing (Ctenocephalides felis). Pada hewan
serangga kutu beras (Sitophillus oryzae) termasuk dalam Ordo coleoptera terdiri dari
kumbang. Pada hewan serangga lalat buah (Drosophila melanogaster) termasuk
dalam ordo diptera. Pada hewan serangga nyamuk Anopheles termasuk dalam ordo
diptera. Pada hewan Moth Fly Clogmia Albipunctata termasuk dalam ordo Diptera.
Pada hewan serangga yang tidak bersayap yakni semut hitam (D. thoracicus)
termasuk dalam ordo Hymenoptera. Pada hewan serangga kutu kepala ( Pediculus
humanus capitis) termasuk dalam ordo Phthiraptera. Kutu yang terdapat pada anjing
dan pada kucing termasuk dalam ordo Siphonoptera. Pada hewan serangga semut
merah termasuk dalam ordo Hymenoptera.
G. PEMBAHASAN
Pada pembuatan preparat beberapa insecta menggunakan jenis sediaan utuh.
Sediaan utuh merupakan sediaan keseluruhan obyek atau hanya salah satu bagian saja
yang dibuat tanpa memotong menjadi bagian-bagian yang tipis, misalnya cacing kecil,
serangga kecil, embrio atau biji, sehelai benang (serat kapas), butiran-butiran pasir,
kristal-kristal kimia, spirakulum serangga, lambung nyamuk, sisik ikan dan lain
sebagainya (Handayani, 2017). Serangga yang digunakan ada yang berwarna gelap
dan ada yang berwarna terang. Serangga yang berwarna gelap karena pigmen, dapat
menyebabkan hasil yang kurang memuaskan bila dikerjakan denfan cara biasa yang
sederhana , sebab hasilnya terlalu gelap dan kabur. Warna gelap pada insecta dapat
dijernihkan dengan jalan merendamnya di dalam larutan khloroks 5% selama 5-19
menit (Handayani, 2017). Selanjutnya insekta dimasukkan ke dalam didihan larutan
KOH 10% selama 30 menit sampai 1 jam. Larutan KOH ini dapat digunakan dalam
penipisan eksoskeleton pada serangga, karena penyusun eksoskeleton serangga
adalah khitin yang berikatan dengan protein (Iswara, 2007). Proses deproteinasi akan
memecaha ikatan peptida pada molekul protein. Pecahnya ikatan peptida dalam
protein ini akan membuat eksoskeleton serangga menipis ( Fatihiyah, 2008). Proses
selanjutnya yaitu dengan ppemberian alkohol bertingkat yakni alkohol 50%, alkohol
95%, dan alkohol absolut dengan masing-masing perendaman yang berbeda-beda
yakni alkohol 50% selama ½ jam , alkohol 95% selama 1 jam pertama, lalu alkohol
95% selama 1 jam yang kedua, dan alkohol absolut selama 5-10 menit. Tahapan ini
merupakan tahapan dehidrasi yang berfungsi untuk menghilangkan atau mengambil
air yang berada di dalam jaringan (Hariono, 2009). Proses selanjutnya penjernihan
dengan xylol selama 2-5 menit. Tujuan dari penjernihan adalah menjadikan struktur
tubuh spesimen terlihat jelas pada saat pengamatan menggunakan mikroskop
(Effendi, 1997). Selanjutnya dilakukan pengamatan dengan mikroskop, apabila telah
memperoleh hasil yang baik maka selanjutnya diberi entelan. Sediaan diberikan
entelan, sehingga preparat dapat bertahan untuk waktu yang cukup lama.

Praktikum ini menggunakan beberapa insekta yang bersayap dan yang tidak
bersayap. Hewan serangga yang termasuk bersayap adalah kutu beras (Sitophillus
oryzae), lalat buah (Drosophila melanogaster), nyamuk Anopheles , undur-undur dan
Moth Fly Clogmia Albipunctata. Hewan serangga yang termasuk tidak bersayap
adalah semut hitam (D. thoracicus),semut merah, kutu kepala, kutu Arachnide (kutu
pada anjing ), kutu pada kucing (Ctenocephalides felis). Kutu beras (Sitophillus oryzae)
termasuk dalam Ordo coleoptera yang terdi Ciri khasnya terdapat pada bagian chepal
khusunya antennae, bentuk mulut penyapit, dan juga terdapat 2 compound eye di
bagian dextral dan sinistral dari oral segment. Mandibula bersegmenn di tengah
bergerak kearah horizontal. Memiliki elytron yang menutupi sayap di bagian
mesonotum. Memiliki sayap depan di bagian mesonotum dan sayap belakang di
bagian metanotum. Ujung dari metatarsus membentuk kait (claws) (Lawrence &
Splinsky, 2013; ITIS, 2003).ri dari 3 segmen yang pemutusannya kadang nampak
bersatu. Pada hewan serangga nyamuk Anopheles ,lalat buah Drosophila dan Moth
Fly Clogmia Albipunctata termasuk dalam ordo Diptera. Ordo Diptera memiliki
ukuran tubuh dari kecil sampai sedang. Sayap satu pasang dan membraneus. Tubuh
relatif lunak, antena pendek, mata majemuk besar dan metamorfosis sempurna.
Beberapa spesies dari ordo ini ada yang menjadi hama tanaman, sebagai penghisap
darah manusia atau binatang, vektor penyakit bagi manusia, penyerbuk bunga,
predator atau parasit dari tanaman. Sedangkan Undur – undur (Distoleon
tetragrammicus) memiliki struktur yang sama dari ordo sebelumnya. Ciri khas yang
dimiliki adalah larvanya yang membentuk jebakan di pasir yang dinekal dengan nama
undur – undur. Bagian mulut berbentuk capit sementara bagian thorax tersusun atas
segmen tipis Panjang. Bagian abdomen menggebung berukuran sangat besar tersusun
atas kira – kira 11 segmen. Tubuh tertutupi oleh seta Panjang yang tidak rapat. Pada
hewan yang tidak bersayap yakni yang tergolong dalam ordo Hymenoptera. Semut
yang termasuk kedalam ordo Hymenoptera juga memiliki 3 segmen yang begitu jelas
yang tidak bersayap. Ciri-ciri dari ordo Hymenoptera dapat dilihat dari tipe alat mulut,
hamuli, vipositor dan lain-lain. Alat mulu ordo Hymenoptera bertipe mandibulata,
tetapi kebanyakan serangga dari ordo ini mempunyai alat mulut yang termodifikasi
menjadi alat penghisap seperti lidah. Pada kutu kepala (Pediculus humanus capitis)
termasuk dalam ordo Phthiraptera. Kutu kepala ini memiiki bentuk pipih dan
memanjang, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dari khitir
seomennya bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata sederhana disebelah lateral,
sepasang antena pendek yang terdiri atas 5 ruas dan proboscis, alat penusuk yang
dapat memanjang. Tiap ruas yang telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang
terdiri dari 5 ruas dan berakhir sebagai satu sapit mempunyai kait yang berhadapan
dengan tonjolan tibia untuk berpegangan erat pada rambut. Kutu dari ordo
Siphonoptera memiliki segmen tubuh yang tidak jelas namun sesungguhnya segmen
terssebut terbagi menjadi chepal, thorax, dan abdomen memiliki maxylari palpus
untuk embantu mengigit. Kutu dari kelas Arachnida memiliki 8 kaki dengan bagian
chepal dan thorax tersambung membentuk chapalothorax (Gillott, 2005).

H. KESIMPULAN
 Pada pembuatan preparat beberapa insecta menggunakan jenis sediaan utuh
 Kutu beras (Sitophillus oryzae) termasuk dalam Ordo coleoptera, hewan
serangga nyamuk Anopheles ,lalat buah Drosophila dan Moth Fly Clogmia
Albipunctata termasuk dalam ordo Diptera, Semut termasuk dalam ordo
Hymenoptera, kutu kepala (Pediculus humanus capitis) termasuk dalam ordo
Phthiraptera, kutu pada kucing dan anjing termasuk dalam ordo Siphonoptera
DAFTAR RUJUKAN
Borror. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga ,edisi VI. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press

Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.

Falahudin, I ; Pane, E.R ; Mawar,E. 2015. Identifikasi Serangga Ordo Coeleptera pada
Tanaman Mentimun ( Cucumis Sativus L.) Di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti
Jaya Kabupaten Banyuasin II. Jurnal Biota Vol 1(1). Palembang

Fatihiyah, S.R. 2008. Deproteinase Kulit Udang Secara Fermentasi menggunakan Isola
Bacillus licheniformis FII pada Ekstraksi Kitin. Bogor

Gillot. C. 2005. Entomology : Third Edition. Dordrecht : Springer.

Handayani,Nursasi.2017.Penuntun Praktikum Mikroteknik Hewan. Malang: FMIPA


Universitas Negeri Malang

Hariono B. 2009. Mikroskopi Elektron: Pengenalan dan Teknik Preparasi.


Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Iswara,A; Nuroini,F. 2017. Variasi Konsentrasi KOH dan Waktu Clearing Terhadap Kualitas
Clearing Terhadap Kualitas Preparat Awetan Pediculus humanus capitis. Prosiding
Seminar Nasional. Unimus

ITIS. 2003. Sitophilus oryzae Linnaeus 1763. (Online) (https://www.itis.gov/servlet/Sin


gleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=188080#null) Diakses Tanggal 3
maret 2018 Pukul 12 : 36.

Lawrence. J, & Slipinski. A. Australian Beetles Morphology Classification and Keys. CSIRO.
2013. Vol : 16 (11). Pp. 1 – 16.

Resh. V. H, & Ring. T. C. 2009. Encyclopedia of Insects : 2 ed. San Francisco : Academic
Press

Anda mungkin juga menyukai