Anda di halaman 1dari 213

Kompetensi yang diharapkan setelah membaca buku ini : Mengenal Konsep

Kompleksitas Psikososial

Kompetensi Inti :

Memanfaatkan pengetahuan terkini tentang kompleksitas psikososial untuk membantu


proses analisis faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan fungsi psikologi dan
sosial di tengah-tengah masyarakat yang berdampak pada penurunan kualitas hidup.
Pengetahuan yang didapatkan diharapkan pula dapat membantu proses pemantauan
tahapan perkembangan dan perubahan struktur masyarkat, derajat kesehatan, dan
aktivitas interaksi di antara variabel-variabel yang terkait dalam permasalahan
psikososial. Mengaplikasikan pengetahuan kompleksitas psikososial dalam proses
memahami mata ajar-mata ajar dalam jenjang pendidikan sarjana kedokteran,
keperawatan, kebidanan, ilmu gizi, analis lingkungan, analis kimia, sosial, administrasi
publik, kebijakan publik, ilmu pemerintahan, studi pembangunan, komunikasi, psikologi,
ilmu hukum, dan kriminologi.

Komponen Kompetensi :

Menerapkan prinsip-prinsip kompleksitas psikososial untuk memetakan (


mengidentifikasi) dan memahami berbagai permasalahan yang muncul di sebuah
komunitas.

Mengaplikasikan pengetahuan kompleksitas psikososial menegakkan hipotesa tentang


pengaruh lingkungan dan perilaku manusia terhadap tatanan sosial, ekonomi, budaya, dan
lingkungan hidup.

Memanfaatkan pengetahuan kompleksitas psikososial dalam menganalisis kasus-kasus


patologi dan abnormalitas yang bersifat dapatan.

Memanfaatkan pengetahuan kompleksitas psikososial dalam proses perubahan pola


biologis yang etrcermin melalui pendekatan nutrigenomik, envirogenomik, dan
psikogenomik.

Memanfaatkan pengetahuan dasar biologi molekuler yang didapatkan sebagai alat ( tools)
dalam menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan pengembangan konsep
kebijakan ( policy making) yang berhubungan dengan kesejahteraan dan kemanusiaan (
welfare and humanity)

Sasaran Penunjang :
Menerapkan pengetahuan kompleksitas psikososial yang meliputi sub topik bahasan dan
variabel amatan sebagai berikut :

1. Pengenalan konsep dasar dan pemanfaatan kompleksitas psikososial secara umum


2. Pengenalan definisi kompleksitas psikososial secara umum
3. Pengenalan struktur dan diferensiasi sosial
4. Pengenalan konsep psikologi dan psikologi sosial
5. Pengenalan konsep keterkaitan antar variabel sosial dalam penentuan kualitas
kehidupan
6. Pengenalan konsep hubungan antara status dan amsalah psikososial dengan
derajat dan masalah kesehatan
7. Pengenalan konsep psikomatematika
8. Pengenalan konsep nutrigenomik, envirogenomik, dan psikogenomik

Bab 1
Pengantar Kompleksitas Psikososial

Psikososial acapkali didefinisikan sebagai sebuah kajian psikologi yang


membahas tentang peran kejiwaan dalam proses terjadinya suatu peristiwa di konteks
sosial. Dalam sub disiplin psikologi perkembangan kerap pula dikategorikan sebagai
salah satu indikator kematangan mental, dimana pada usia-usia tertentu seorang manusia
secara rerata dianggap harus mampu memiliki kualitas hubungan ataupun interaksi secara
sosial denganberbagai kriteria dan tingkatan. Dalam konteks yang berhubungan atau
bersinggungan dengan antropologi dan kriminologi, psikososial biasanya diasosiasikan
dengan penyalahgunaan obat terlarang ( psikotropika atau NAPZA).
Pada ranah yang akan kita bahas psikososial bahkan memiliki implikasi dan
hubungan sebab akibat dengan variabel-variabel dan ko-faktor yang jauh lebih luas.
Secara umum karena psikososial dipelajari dalam rumpun ilmu kesehatan dan kedokteran
pada khususnya, maka tujuan akhir dari proses akademik yang dijalankan diharapkan
akan menghasilkan sebuah pengetahuan yang komprehensif, dimana elemen-elemen yang
tergabung dalam disiplin psikososial ternyata mempengaruhi kualitas hidup manusia.
Untuk itu perlu dipelajari hubungan antara psikososial dengan aspek-aspek lain dalam
kehidupan. Hubungan yang nyata terjadi dan kemudian akan berdampak pada kualitas
hidup dan kesehatan baik mental maupun fisikal manusia adalah antara lain hubungan
psikososial dengan lingkungan hidup, sektor ekonomi, antropologi, politik, dan beragam
faktor lainnya yang secara parsial bersifat kontributif dalam menentukan kualitas hidup
manusia.

Untuk menelusuri jejak psikososial secara lebih terperinci kita dapat memulainya
dengan mencermati pemikiran bebeapa ahli psikologi yang menekuni aspek sosial
sebagai kajian utamanya. Tokoh dan pemikirannya yang cukup berpengaruh dalam ranah
psikososial adalah Albert Bandura. Semula Bandura amat terpengaruh oleh konsep
Robert Sears tentang perilaku sosial atau Social Behavior dan proses belajar identifikatif.
Kemudian Bandura mengembangkan sendiri konsep-konsep tentang model-model sosial
dalam pembentukan motivasi, pemikiran, dan aksi seorang manusia. Artinya dalam
memproduksi atau menghasilkan suatu produk mental seorang manusia haruslah
mengakuisis, mengaksepsi, memilah, menganalisa, dan membuat strategi kognisi-afeksi
dengan mengacu atau berdasar atau dipengaruhi oleh variabel-variabel yang terdapat di
lingkungan sosialnya. Dapat disederhanakan bahwa seorang manusia amat bergantung
dan terpengaruh oleh model-model interaksi sosial yang dijalaninya. Bandura
menamakan ini sebagai sebuah proses belajar mengobservasi atau Observational
Learning. Pada penelitian pada orang-orang yang mengalami fobia, Bandura menemukan
bahwa proses ”self efficacy” memainkan peran penting dalam menyokong fungsi
psikologis dan sosiologis seorang manusia. Dari pengertian inilah kemudian Bandura
mengembangkan teori kognisi sosial atau Social Cognitive Theory. Teori ini membahas
tentang kemampuan manusia untuk beradaptasi dan berubah dengan mengembangkan
fungsi mentalnya berdasarkan peran sentral dari kemampuan kognitif, pengendalian diri,
dan kemapuan reflektif. Kalimat kunci yang menjadikan teori kognisi sosial Bandura ini
menjadi msangat penting bagi kita dalam mempelajari masalah psikososial dapat disimak
dalam kutipan berikut : This social cognitive theory has its roots in an agentic
perspective that views people as self-organizing, proactive, self-reflecting and self-
regulating, not just as reactive organisms shaped by environmental forces or driven by
inner impulses.

Terbukti kemudian dalam perkembangan selanjutnya teori-teori Bandura banyak


dipergunakan dalam upaya mengoptimasi peran manusia dalam bisnis, olahraga,
pelayanan kesehatan, dan banyak aspek aktivitas sosial lainnya.

Psikologi Komunitas

Psikologi komunitas adalah pengembangan lain dari konsep kompleksitas


psikososial. Sebagai makhluk yang hidup dalam sebuah tatanan ekosistem manusia
menururt James Kelly berkembang berdasarkan analogi ekologis. Konsep psikologi
komunitas James Kelly bukan sekedar memetakan hubungan antara lingkungan dengan
manusia beserta pengaruh-pengaruhnya pada pembentukan produk mental seperti
perilaku atau kepribadian. Teori Kelly justru lebih mengeksplorasi bagaimana sebuah
komunitas manusia di dalam eksosistem dapat berfungsi atau menjalankan perannya.
Menurut Kelly sekurangnya terdapat 4 prinsip dasar yang membentuk dan mengatur
setting ( tatanan) sosial manusia, yaitu :

1. Adaptasi, setiap individu senantiasa mengembangkan kemampuan adaptifnya


untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang muncul karena interaksi
dengan komunitas dan lingkungannya.
2. Suksesi, setiap tatanan senantiasa mengembangkan struktur, norma, perilaku,
dan kebijakan yang secara aktif mengintervensi dan membantuk sistem. Upaya
suksesi adalah upaya untuk mempertahankan tatanan yang telah terbentuk dan
diyakini kebenrannya.
3. Siklus sumber daya, setiap tatanan komunitas senantiasa memiliki sumber daya
yang akan mereka identifikasi, kembangkan, dan perkuat baik secara individual,
kelompok, maupun secara institusional. Konsep ini secara lokal kita kenal
sebagai masyarakat adat, RT, RW, dan bahkan kelompok arisan atau pengajian.
Kecenderungan komunitas adalah mempertahankan kekuatan yang telah dimiliki
ketimbang mengaksespsi pengaruh dari luar untuk berubah. Konsep ini menjadi
sangat pentinmg untuk iketahui dalam proses pemilihan calon kepala daerah.
4. Interdependensi, sebuah tatanan komunitas terbentuk dari kompleksitas interaksi
yang memiliki hubungan asosiatif dan korelatif. Perubahan atau upaya-upaya
untuk mengubah tatanan akan menimbulkan dampak berantai yang
mempengaruhi keseluruhan tatanan komunitas.

Berangkat dari prinsip-prinsip dasar yang dirumuskan James Kelly, maka


Watzlawick dan kawan-kawan mengembangkan sebuah teori tentang tahapan perubahan
dan respon yang dikembangkan oleh komunitas dalam menyikapi suatu masalah sosial.
Secara umum tahapan respon komunitas terbagi 2, yaitu : orde pertama dan orde kedua (
first and second order change). Orde perubahan pertama terfokus pada individu dalam
tatanan komunitas yang bermasalah. Sedangkan Respon orde kedua lebih berfokus pada
perubahan sistem secara struktural yang termanifestasi dalam kebijakan.

Contoh kongkretnya adalah apabila di lingkungan kita ada beberapa orang tuna
wisma ( gelandangan), maka respon orde pertama adalah sebagian warga yang mampu
akan menyediakan penampungan sementara. Sedangkan respon orde kedua lebih bersifat
futuristik dan berimplikasi jangka panjang, yaitu mendesak sistem di tingkatan yang lebih
tinggi untuk mengembangkan kebijakan rumah murah, sehat, dan layak huni dengan
harga subsidi sehingga terjangkau oleh masyarakat yang membutuhkan. Dalam konteks
sejenis, respon orde kedua inilah yang mendasari munculnya jaminan kemananan sosial (
social security), asuransi kesehatan, atau jaminan kesehatan masyarakat ( jamkesmas).

Nilai-nilai yang terkorelasi dengan psikologi komunitas yang sekaligus menjadi


tujuan manusia membangun masyarakat atau komunitasnya adalah antara lain:

1. Penguatan ( empowerment), posisi tawar sebuah kelompok akan menjadi lebih


kuat, sinergi berbagai potensi yang ada di dalamnya akan membuat komunitas
dapat saling mengisi dan anggotanya saling berpartisipasi. Dalam bahasa Cornell
Empowerment Group : “an intentional, ongoing process centered in the local
community, involving mutual respect, critical reflection, caring, and group
participation, through which people lacking an equal share of resources gain
greater access to and control over those resources.”
2. Keadilan Sosial, psikologi komunitas menunjukkan bahwa pada hakekatnya
setiap manusia senantiasa mencari tataran keadilan dimana kebutuhan dasarnya
untuk hidup secara layak terpenuhi. Konsep layak bagi manusia antara lain
adalah terbebasnya dari kezaliman yang menindas hak-hak azasi.
3. Kenyamanan individual, atau individual wellness yang merupakan bagian dari
wellbeing
4. Keberagaman, dalam sebuah komunitas yang termanifestasi dalam konsep
diferensiasi sosial yang terdiri dari etnis, budaya, orientasi seksual, dan kelompok
profesi
5. Partisipasi masyarakat, pada dasarnya setiap anggota komunitas dapat eksis dan
mengaktualkan dirinya melalui aspek kontribusi yang dikenal pula sebagai
partisipasi aktif.
6. Kolaborasi dan kekuatan komunitas, sinergi dan kerjasama antar komponen
komunitas dan antar komunitas yang kemudian akan menghasilkan tata nilai
bebrbasis kesepahaman dan kesalingmembutuhkan.
7. Kepekaan psikologi komunitas, dimana setiap elemen di dalam komunitas
teridentifikasi memiliki beberapa variabel terukur ( indeks kepekaan psikologi
komunitas) yang merupakan faktor pendorong untuk menumbuhkan saling
pengertian, dan kepedulian terhadap sesama anggota komunitas ( faktor pelekat).

Ruang Lingkup Kompleksitas Psikososial

Kompleksitas Psikososial diajarkan di Fakultas Kedokteran Unisba dengan


maksud untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta didik bahwa
masalah kesehatan dan kualitas hidup manusia amat ditentukan oleh variabel-variabel
psikososial yang senantiasa dihadapi dalam kehidupan keseharian seorang manusia.
Faktor dan elemen utama dalam masalah psikososial adalah manusia itu sendiri. Kini
telah berkembang sebuah sub disiplin ilmu baru di ranah biologi molekuler yang
mempelajari hubungan kausalistik antara pikiran ( persepsi, kognisi, dan emosi) dengan
keluaran perilaku dan fenotip. Sub disiplin ini dikenal sebagai psikogenomik, dengan
Kazuo Murakami sebagai salah satu tokoh pencetusnya. Dalam pendekatan psikologi
genomik DNA digambarkan dapat diaktivasi atau pun sebaliknya dinonaktifkan (
dorman) melalui aktivitas mental ( pikiran). Tentu melalui serangkaian proses yang
terjadi sebagai bentuk interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Kemampuan
DNA yang didalamnya terdapat kurang lebih 30.000 gen ekspresif ( pembawa sifat)
untuk menyandi dan tidak menyandi gen tertentu, sudah dibuktikan antara lain melalui
penelitian yang dilakukan oleh Jacob dan Monod dari Pasteur Institue yang menghasilkan
Teori Operon, dimana bakteri E.Coli ternyata mampu menghentikan gen laktase di saat
mendapat nutrisi glukosa, dan juga sebaliknya dapat mengaktifkan kembali gen laktase di
saat nutrisi yang tersedia adalah laktosa ( lihat gambar) :
Teori Operon dari Jacob dan Monod yang menggambarkan bahwa setriap gen dapat diaktifkan dan
dinonaktifkan berdasar kebutuhan biologis

Pengaruh pada sistem hayati yang termaktub dalam psikologi genomik juga
terkait erat dengan interaksi manusia dengan lingkungannya. Sementara status atau
kualitas lingkungan hidup amat dipengaruhi oleh perilaku manusia dalam mengeksplorasi
dan mengeksploitasi lingkungan. Perilaku manusia yang berlebihan atau melampauia
batas pada gilirannya akan memicu berkurangnya daya dukung lingkungan secara sangat
bermakna. Kerusakan hutan yang tidak terkendali, pemanasan global karena emisi gas
buang industri, transportasi, dan eksploitasi alam melalui mekanisme domestikasi (
peternakan) untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia mengakibatkan
ketidakseimbangan ekosistem yang juga berdampak pada perubahan iklim yang berimbas
pada pranata kehidupan sosial. Penyakit infeksi dan degenerasi, serta gangguan psikologi
meningkat insidennya. Bencana alam yang disertai dengan krisis pangan karena
perubahan musim yang tidak terprediksi semakin kerap dialami oleh populasi manusia.
Berkurangnya keragaman hayati akibat musnahnya beberapa spesies juga
mengakibatkan ketidakseimbangan rantai dan piramida makanan. Vektor penyakit
merajalela karena tidak lagi memiliki kompetitor, sedangkan beberapa bakteri dan virus
yang semula tergolong non patogenik mengalami perubahan struktur genom karena
mutasi. Mutasi terjadi karena adanya perubahan lingkungan yang ekstrem sehingga
membuat mikroba harus beradaptasi. Proses mutasi juga didorong oleh intervensi dan
manipulasi manusia yang tidak berpikir jauh ke depan, misal penggunaan antibiotika
yang tidak rasional justru menghasilkan spesies mutan seperti MRSA ( Methycillin
Resistent Staphylococcus Aureus).

Upaya manusia untuk memmenuhi kebutuhan dasar hidupnyapun terkadang


dilakukan secara tidak rasional. Lahan hutan dan lahan basah ( wetland) dieksploitasi
habis-habisan, hutan hujan tropis dibabat, rawa dan situ direklamasi, dan wilayah
mangrove di sepannjang pesisir dijadikan perumahan. Lahan sawah dan perkebunan
membentang dari tepian pantai sampai dengan lereng pegunungan. Homogenisasi dapat
berakibat pada terganggunya keseimbangan populasi fauna dan juga flora yang biasanya
saling bersimbiosis dan berkontribusi menunjuang sistem kehidupan. Retensi air sulit
tercapai karena akar tanaman pangan bukan diperuntukkan bagi fungsi menahan air
dalam kapasitas tertentu. Tetapi semua itu terkalahkan oleh kebutuhan fisiologis manusia
yang populasinya justru semakin meledak. Peternakan dibangun di seantero bumi untuk
memenuhi kebutuhan protein hewani,m padahal petrenakan inilah penyumbang gas
rumah kaca terbesar yang tentu juga menjadi penyebab munculnya pemanasan global !
Pada gilirannya dampak terberat juga dialami oleh manusia. Ketersediaan
pangannya terancam, tempat tinggalnya mudah terpapar bencana, dan kesehatan serta
jiwanya sendiri menjadi teramat beresiko. Penyakit-penyakit lama yang sudah berhasil
dimusnahkan ( dieradikasi) kini muncul lagi dengan potensi mematikan baru ( new
emerging diseases).

Di sisi lain perkembangan kemampuan kognisi yang ditandai dengan semakin


canggihnya teknologi dan berbagai sistem yang diterapkan dalam kehidupan manusia
juga menimbulkan dampak munculnya eksploitasi terhadap sesama manusia. Sistem
ekonomi yang kemudian lebih berorientasi kepada kapital ( modal) menjadikan uang dan
daya beli menjadi prasyarat utama seorang manusia untuk mendapatkan hak dasarnya.
Capaian ekonomika suatu negara kemudian menjadi tolok ukur bagi pencapaian tingkat
kesejahteraan warganya. Welfare state kini mulai bergeser dari nilai-nilai yang bersifat
mental spiritual melainkan lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat finansial.
Bursa saham, komoditas, obligasi, dan pasar uang menjadi instrumen yang turut menentukan tingkat
kesejahteraan manusia

Runtuhnya sendi-sendi ekonomika di sebuah negara ataupun secara global akan


berakibat seacar fatal kepada populasi tertentu. Misal pada krisis global yang kini tengah
melanda dunia akibat kerakusan manusia dalam berbisnis yang terimplementasi dalam
bentuk penyaluran kredit irasional ( mengakibatkan skandal subprime mortgage), aksi
short selling ( membeli dan menjual kembali saham di saat harga naik-turun secara
fluktuatif), dan manipulasi mekanisme CDS ( credit default swab), dimana banyak
investor justru diuntungkan pada saat obligor gagal bayar. Secara berantai dan beruntun
dampaknya akan menerpa sektor riil dan ketenagakerjaan. Akhirnya muara dari persoalan
adalah dampak yang terpapar pada manusia. Daya beli yang melemah mengakibatkan
asupan gizi minimal tidak tercukupi, manusia terutama anak balita dan lansia serta ibu
hamil ( dan menyusui) akan menjadi rentan terhadap penyakit infeksi dan mengalami
kemunduran intelektualitas serta mengalami beberapa hendaya dalam ranah neurosains.
Gambaran kebutuhan nutrisional minimal yang dapat menunjang aktivitas mental seorang manusia agar
dapat memiliki kemampuan kognisi, afeksi, dan psikomotorik secara optimal

Maka ruang lingkup yang dipelajari dalam kompleksitas psikososial menjadi


sangat krusial karena akan membantu peserta didik untuk membangun sebuah peta
mental tentang permasalahan kesehatan dan kualitas hidup manusia secara komprehensif
dari hulu sampai ke hilir. Pemahaman sebagian pengambil kebijakan dan profesional di
bidang kesehatan saat ini bersifat parsial, sehingga berakibat pada dangkalnya kebijakan
operasional serta strategi kesehatan yang dirumuskan. Pengentasan masalah menjadi
berbingkai wilayah dan kurun waktu tertentu saja, padahal faktor kausatif yang harus
dicermati bersifat universal dan global. Tantangan di bidang kesehatan kini telah bergeser
menjadi tantangan yang kompleks dan bersifat multivariabel, mulai dari masalah
psikologis, sosiologis, politis, geografis, sampai dengan pemanfaatan teknologi dan
eksploitasi sumber daya yang berlebihan dan tidak berkesinambungan.

Bacaan 0n-line bersumber dari e-dukasi.net dan bamboomedia onnet

1. Pengertian Diferensiasi Sosial


Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-
perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis,
clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.

Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertikal seperti


halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan
lapisan rendah.

Perbedaan itu hanya secara horisontal. Perbedaan seperti ini dalam sosiologi dikenal
dengan istilah Diferensiasi Sosial. Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaan-
perbedaan yang biasanya sama. Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan
atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah
tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.

Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen
dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan
perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.

Untuk lebih jelasnya perhatikan skema di bawah ini :

1. Kemajemukan sosial ras, etnis & agama

2. Heterogenitas sosial profesi (pekerjaan), gender

Jadi kesimpulannya:
Diferensiasi sosial adalah pengelompokan masyarakat secara horisontal berdasarkan pada
ciri-ciri tertentu.

2. Ciri-ciri yang Mendasari Diferensiasi Sosial


Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai
berikut:

a. Ciri Fisik Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya:
warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.

b. Ciri Sosial Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang
menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda.
Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan.
Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang
karyawan kantor.

c. Ciri Budaya Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup


suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau
kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari
nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian,
arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.

3. Perbedaan Diferensiasi dengan Stratifikasi

Sebelum kita mempelajari stratifikasi sosial secara khusus pada modul mendatang,
dengan melihat tabel di bawah ini secara tegas dapat kita bedakan antara diferensiasi
sosial dengan stratifikasi sosial.

Diferensiasi Sosial Stratifikasi Sosial

1. Pengelompokan Secara Horisontal Pengelompokan Secara Vertikal

2. Berdasarkan Ciri dan Fungsi Berdasarkan Posisi, Status, Kelebihan yg


dimiliki, Sesuatu yang Dihargai

3. Distribusi Kelompok Distribusi Hak dan Wewenang

4. Genotipe Stereotipe

5. Kriteria Biologis/ Fisik Sosiokultural Kriteria Ekonomi, Pendidikan, Kekuasaan,


Kehormatan
Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial
Pengelompokan masyarakat membentuk delapan kriteria diferensiasi sosial.
Diferensiasi Ras
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama.
Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciriciri fisiknya, bukan
budayanya.

Secara garis besar, manusia dibagi ke dalam ras-ras sebagai berikut :


1) Menurut A.L. Krober
x Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin)
x Mongoloid -Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur) -
Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filiphina, penduduk
asli Taiwan) -American Mongoloid (penduduk asli Amerika)
x Kaukasoid -Nordic (Eropa Utara, sekitar L. Baltik) -Alpine (Eropa Tengah dan
Eropa Timur) -Mediteranian (sekitar L. Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab,
Iran) -Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka)
x Negroid -African Negroid (Benua Afrika) -Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung
Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina) -Melanesian (Irian,
Melanesia)
x Ras-ras khusus (tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok) -
Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan) -Veddoid (pedalaman Sri Langka,
Sulawesi Selatan) -Polynesian (kepulauan Micronesia dan Polynesia) -Ainu (di
pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang)

Macam-macam Ras yang Tinggal di Dunia dan ras campuran yang memiliki keunggulan
dari berbagai ras yang maujud dalam fenotip yang lebih sempurna

2) Menurut Ralph Linton


x Mongoloid, dengan ciri-ciri kulit kuning sampai sawo matang, rambut lurus, bulu
badan sedikit, mata sipit (terutama Asia Mongoloid). Ras Mongoloid dibagi
menjadi dua, yaitu Mongoloid Asia dan Indian. Mongoloid Asia terdiri dari Sub
Ras Tionghoa (terdiri dari Jepang, Taiwan, Vietnam) dan Sub Ras Melayu. Sub Ras
Melayu terdiri dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Mongoloid Indian terdiri dari
orang-orang Indian di Amerika.
x Kaukasoid, memiliki ciri fisik hidung mancung, kulit putih, rambut pirang sampai
coklat kehitam-hitaman, dan kelopak mata lurus. Ras ini terdiri dari Sub Ras
Nordic, Alpin, Mediteran, Armenoid dan India.
x Negroid, dengan ciri fisik rambut keriting, kulit hitam, bibir tebal dan kelopak mata
lurus. Ras ini dibagi menjadi Sub Ras Negrito, Nilitz, Negro Rimba, Negro Oseanis
dan Hotentot-Boysesman.

Bagaimana dengan Indonesia ? Sub ras apa saja yang mendiami negara kita ini ?
Indonesia didiami oleh bermacam-macam Sub Ras sebagai berikut:
x Negrito, yaitu suku bangsa Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
x Veddoid, yaitu suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatera Selatan, Toala dan Tomuna
di Sulawesi.
x Neo Melanosoid, yaitu penduduk kepulauan Kei dan Aru.
x Melayu, yang terdiri dari dua : -Melayu Tua (Proto Melayu), yaitu orang Batak,
Toraja dan Dayak -Melayu Muda (Deutro Melayu), yaitu orang Aceh, Minang,
Bugis/Makasar, Jawa, Sunda, dsb.

Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)


Apa yang dimaksud dengan suku bangsa atau etnis itu ? Menurut Hassan Shadily MA,
suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai
hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia
berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Namun suku bangsa memiliki ciri-
ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki
kesamaan berikut : -ciri fisik -kesenian -bahasa daerah -adat istiadat

Suku bangsa yang ada di Indonesia antara lain : -di Pulau Sumatera : Aceh, Batak,
Minangkabau, Bengkulu, Jambi, Palembang, Melayu, dsb.; -di Pulau Jawa : Sunda, Jawa,
Tengger, dsb.; -di Pulau Kalimantan : Dayak, Banjar, dsb.; -di Pulau Sulawesi : Bugis,
Makasar, Toraja, Minahasa, Toli-toli, Bolaang-Mangondow, Gorontalo, dsb.; -di Kep.
Nusa Tenggara : Bali, Bima, Lombok, Flores, Timor, Rote, dsb.; -di Kep. Maluku dan :
Ternate, Tidore, Dani, Asmat, dsb. -Irian
Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial

Diferensiasi Klen (Clan)


Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan
kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat
(tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang
sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal)
maupun garis ibu (matrilineal).

• Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada:
-Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga)
Marga Batak Karo Ginting,Sembiring,Singarimbun,Barus,Tambun,Paranginangin

Marga Batak Toba Nababan, Simatupang, Siregar

Marga Batak Harahap, Rangkuti, Nasution


Mandailing

- Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) antara lain : Mandagi, Lasut, Tombokan,
Pangkarego, Paat, Supit.

-Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) antara lain : Pattinasarani, Latuconsina,


Lotul, Manuhutu, Goeslaw.

-Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa,
Leimena, Kleden, De- Rosari, Paeira.

• Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat
Minangkabau, Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampuang-
kampuang. Nama-nama klen di Minangkabau antara lain : Koto, Piliang, Chaniago,
Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai, dsb.

Masyarakat di Flores, yaitu suku Ngada juga menggunakan sistem Matrilineal.

Anak suku Sunda salah satu suku di Indonesia yang memakai sistem patrilineal ( foto
oleh Hani Machali)

Diferensiasi Agama
Menurut Durkheim agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan
praktik yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. Agama merupakan masalah yang
essensial bagi kehidupan manusia karena menyangkut keyakinan seseorang yang
dianggap benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara moral.
Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral (umat). Umat pemeluk suatu
agama bisa dikenali dari cara berpakaian, cara berperilaku, cara beribadah, dan
sebagainya. Jadi, Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan
agama/kepercayaannya.

1) Komponen-komponen Agama
x Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu
menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya.
x Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti
keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat,
cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya.
x Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan
Roh Nenek Moyang.
x Tempat ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng.
x Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial.

2) Agama dan Masyarakat Dalam perkembangannya agama mempengaruhi masyarakat


dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis.
Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu.
Disamping itu berkembang pula agama atau kepercayaan lain, seperti Khong Hu Chu,
Aliran Kepercayaan, Kaharingan dan Kepercayaan-kepercayaan asli lainnya.

Di sinilah umatIslam melaksanakan ibadahnya ( Pusdai Bandung 2008 by Hani


Machali)

Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial

Diferensiasi Profesi (pekerjaan)


Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sebagai sumber
penghasilan atau mata pencahariannya. Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan
masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya
berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi guru memerlukan
ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb.

Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti


guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya,
perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya
melaksanakan pekerjaannya.

Diferensiasi Jenis Kelamin


Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan
seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari
struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu, terdapat
kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita.

Diferensiasi Asal Daerah


Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat
tinggalnya, desa atau kota, terbagi menjadi:
Masyarakat desa
kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa;
Masyarakat kota
kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.

Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat kita temukan dalam hal-hal berikut ini :
-perilaku
-tutur kata
-cara berpakaian
-cara menghias rumah, dsb.

Diferensiasi Partai

Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa,
maka bermunculan banyak sekali partai. Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat
dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan-kesatuan sosial,
seazas, seideologi dan sealiran.

Pengertian Stratifikasi Sosial / Pelapisan Sosial

Mari kita perhatikan masyarakat di sekitar ! Ada yang miskin, kaya, buruh, pengusaha,
sarjana, tukang, dan sebagainya. Adakah perbedaan perlakuan masyarakat terhadap
mereka ?
Oleh karena status, baik yang berupa harta, kedudukan atau jabatan seringkali
menciptakan perbedaan dalam menghargai seseorang. Dalam suatu masyarakat, orang
yang memiliki harta berlimpah lebih dihargai daripada orang yang miskin. Demikian pula
orang yang lebih berpendidikan dihargai lebih daripada yang kurang berpendidikan. Atas
dasar itu, kemudian masyarakat dikelompok kelompokkan secara vertikal atau bertingkat-
tingkat sehingga membentuk lapisan-lapisan sosial tertentu dengan kedudukannya
masing-masing.

Masyarakat sebenarnya telah mengenal pembagian atau pelapisan sosial sejak dahulu.
Pada zaman dahulu, Aristoteles menyatakan bahwa didalam setiap negara selalu terdapat
tiga unsur, yakni orang-orang kaya sekali, orang-orang melarat dan orang-orang yang
berada di tengah-tengah. Menurut Aristoteles, orang-orang kaya sekali ditempatkan
dalam lapisan atas oleh masyarakat, sedangkan orang-orang melarat ditempatkan dalam
lapisan bawah, dan orang-orang di tengah ditempatkan dalam lapisan masyarakat
menengah.

Beberapa definisi stratifikasi sosial :

a. Pitirim A. Sorokin Mendefinisikan


stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas
yang tersusun secara bertingkat (hierarki).

b. Max Weber Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang


termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut
dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.

c. Cuber Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di atas
kategori dari hak-hak yang berbeda.

Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin “stratum” (tunggal)
atau “strata” (jamak) yang berarti berlapis-lapis. Dalam Sosiologi, stratifikasi sosial dapat
diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara
bertingkat.

Perbedaan Stratifikasi Sosial dengan Status Sosial


Status atau kedudukan yaitu posisi seseorang didalam masyarakat yang didasarkan pada
hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu. Dalam teori Sosiologi, unsur-unsur dalam
sistem pelapisan masyarakat adalah status (kedudukan) dan role (peranan). Kedua unsur
ini merupakan unsur baku dalam sistem pelapisan masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa status sosial atau kedudukan sosial merupakan
unsur yang membentuk terciptanya stratifikasi sosial, sedangkan stratifikasi sosial adalah
pelapisan sosial yang disusun dari status-status sosial.

BAB 2
VARIABEL DAN HUBUNGAN KORELASIONAL DALAM RANAH
KOMPLEKSITAS PSIKOSOSIAL

Dalam ranah kompleksitas psikososial yang dipelajari di Fakultas Kedokteran


Unisba, persoalan yang dipetakan dan terkategori sebagai variabel yang berpengaruh
pada kualitas hidup manusia antara lain adalah masalah-masalah ekonomi, teknologi,
lingkungan hidup, dan kebijakan pemerintah.

Variabel Ekonomi dalam Konteks Psikososial Kompleks

Ekonomi baik makro, mikro, fiskal, moneter, maupun yang terkait dengan industri
dan perdagangan ( sektor riil) senantiasa memberikan implikasi pada kualitas hidup
manusia. Sebagai contoh krisis global yang sesungguhnya hanya dimulai di Amerika
Serikat akibat krisis kredit perumahan ( subprime mortgage) ternyata meluas dan
imbasnya terasa sampai ke Indonesia. Bursa saham Indonesia ( Bursa Efek Indonesia)
sempat ditutup karena adanya penurunan index melebihi 10%. Implikasi psikososial apa
yang menyertai fenomena tersebut ? Kelesuan global yang mendekat malaise tahun 1931
dapat mendorong pasar modal dan uang kehilangan kendali terhadap kurs atau nilai tukar.
Terjadinya kepanikan psikologis akan mendorong munculnya ”rush” penarikan dana
investor besar-besaran. Penarikan ”modal”secara mendadak ini memang tidak akan
secara langsung membuat perusahaan yang sahamnya dilepas ke bursa ( emiten) limbung,
melainkan secara bertahap akan mengakibatkan dampak terlebih dahulu pada
perusahaan-perusahaan sekuritas dan produk-produk seperti unit link yang banyak
diterapkan sebagai instrumen investasi oleh perusahaan-perusahaan asuransi. Penarikan
dana yang besar dari investor yang panik di sebuah negara adikuasa seperti Amerika yang
memiliki jejaring bisnis global juga akan berdampak pada kebutuhan otoritas
perbankannya untuk menarik sediaan mata uang dalam jumlah besar. Korporasi yang
ebrinduk di Amerika atau Eropa juga akan bersikap serupa, dalam rangka memenuhi
kebutuhan permintaan dana segar dari investornya. Akibatnya akan terjadi kekurangan
likuiditas di banyak negara, termasuk Indonesia. Akan terjadi penurunan kemampuan
ekspor seiring dengan melemahnya daya beli konsumen atau distributor akibat tingginya
suku bunga kredit karena bank memerlukan dana segar. Selain suku bunga tinggi, proses
pencairan kredit tentu juga menjadi semakin sulit. Inilah borok-borok fundamental yang
terdapat di sistem finansial global. Kapitalisasi dan arus modal yang tidak terdistribusi
secara merata pada akhirnya akan menyebabkan ”sungai kesejahteraan” mengering
disertai dengan ambruknya sendi-sendi ekonomi produktif di banyak negara. Tanpa
import dan arus lalu-lintas komoditas antar negara, maka banyak negara produsen
kehilangan cadangan devisa dan kesulitan untuk memenuhi kuota kebutuhan belanjanya (
APBN). Termasuk di sektor-sektor yang terkait dengan kesehatan, pendidikan, jaminan
sosial, dan permodalan usaha kecil serta menegah. Dengan kata lain terjadi kemunduran
secara signifikan dalam ranah kesejahteraan rakyat.
Teori ekonomi terdahulu dari David Ricardo yang menjadikan sebuah negara atau
lokus unggul karena memiliki potensi lokal yang tidak tergantikan ( keunggulan
komparatif), mulai digugurkan oleh teori Paul Krugman ( penerima hadiah Nobel
Ekonomi 2008). Teori Krugman menunjukkan bahwa kemajuan teknologi informasi,
komunikasi, dan transportasi telah merubah peta perekonomian ( geografi ekonomi).
Banyak negara yang tidak memiliki keunggulan komparatif ( seperti sumber daya
manusia murah, atau sumber daya alam seperti hasil tambang) dapat memproduksi suatu
produk dengan bantuan teknologi. Ciri dari industri ini adalah efisiensi, sehingga
mahalnya bahan baku atau sumber daya manusia dapat direduksi dengan penghematan
berbasis pengetahuan. Contoh nyatanya adalah keberhasilan Taiwan menjadi penghasil
utama notebook dan laptop. Sampai-sampai muncul anekdot ” apapun merek laptopnya,
pasti jeroannya Taiwan punya”. Padahal tenaga kerja di Taiwan tidak murah, bahan
bakupun impor ( mendatangkan dari negara yang memiliki sumber daya), tetapi karena
didukung teknologi dan kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan, penyiapan tenga
kerja tranpil ( vokasional), dan restitusi bebrgai jenis pajak serta pungutan yang
menjadikan iklim usaha kondusif, Taiwanpun merajalela di apsar dunia.
Teori Krugman juga menjelaskan bahwa fenomena globalisasi akan cenderung
menghasilkan konsentrasi, baik dalam hal barang yang diproduksi maupun lokasi barang
tersebut dibuat. Hasil dari proses ini mengakibatkan wilayah-wilayah menjadi terbagi
dalam 2 konteks, yaitu wilayah inti di perkotaan sebagai pusat konsentrasi teknologi
tinggi dan wilayah periferi yang terkebelakang.
Dahulu secara tradisional acapkali keunggulan sebuah negara atau kawasan
dianggap akan dapat mendatangkan keseimbangan atau equilibrium dengan menerapkan
prinsip komplementaritas, atau saling melengkapi. Ternyata pada kenyataannya kini
banyak negara saling berlomba dan berusaha untuk memproduksi secara sangat efisien
berbagai produk yang bersifat sejenis. Apabila kita berbicara tentang perkembangan
teknologi ke masa yang akan datang, dimana proses fabrikasi sudah terobotisasi atau
terotomasi, maka desain dari berbagai penjuru duniapun dapat diproduksi di mana saja,
dan paling mungkin adalah daerah atau wilayah dengan pasar paling potensial.
Masalah psikososial yang muncul dari krisis ekonomi global adalah melesunya
industri riil, berkurangnya lapangan kerja, dan makin tidak suburnya lahan untuk berwira
usaha. Kurs mata uang yang fluktuatif dan cenderung melemah, laju inflasi yang tinggi,
cadangan devisa negara yang tersedot untuk program-program pemulihan ekonomi, pada
gilirannya akan menimbulkan fenomena-fenomena sebagai berikut :
1. Melemahnya daya beli ( purchasing power parity), hal ini dikarenakan
pendapatan perkapita berkurang, bisnis atau usaha serta sumber
pendapatan tetap keluarga berkurang atau tetap sementara pengeluaran
bertambah ( akibat inflasi).
2. Fasilitas dan sistem kesejahteraan sosial yang menjadi bagian dari
layanan negara makin berkurang baik secara kuantitas maupun kualitas.
Hal ini dikarenakan adanya kebijakan sektor moneter yang berimbas
kepada sektor fiskal, dimana sebagian cadangan devisa dipergunakan
untuk menstabilkan sektor keuangan. Akibatnya anggaran pendididkan,
kesehatan, dan juga penyediaan infrastruktur tidak bertumbuh, bahkan
dapat saja justru dipangkas porsinya.
3. Tingkat pendidikan yang rendah dan juga kualitas pendidikan yang
tidak memadai akan saling berkelindan untuk memunculkan
mekanisme ”down grade” generation. Dimana kualitas individual dan
juga pada guilirannya komunal akan semakin terdegradasi. Aksepsi dan
pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
kehidupan seperti kesadaran untuk hidup sehat, perilaku berakhlaq
mulia ( moral hazard), dan juga pengelolaan lingkungan akan semakin
terpuruk.
4. Kualitas Kesehatan komunitas akan memburuk, dengan ciri angka
kecukupan gizi menurun, penyakit degeneratif meningkat, pola infeksi
berubah menjadi lebih patogenik dan mematikan.

Peta Psikososial Kompleks dalam Ranah Ekonomi

Kajian psikososial kompleks pada kasus-kasus yang berkaitan dengan persoalan


ekonomi amatlah luas dan dapat dilakukan secara komprehensif. Secara psikoneurosains
para pelaku ekonomi, terutama yang mengusung paham kapitalisme, diduga memiliki
kecenderungan eksploitatif berlebihan. Hal ini terbukti dengan maraknya pemberitaan
yang berisi kecaman terhadap para ”the fat cat” alias para CEO perusahaan bermodal
milyaran dollar amerika yang diduga mendapatkan bonus dan keuntungan yang
berlebihan ( tidak wajar) dan bekerja secara tidak profesional serta menimbulkan krisis
ekonomi yang berkepanjangan. Kompleksitas psikososial dapat menilai dan mengkaji
secara multi disiplin mengapa seseorang yang memiliki kekuasaan kemudian cenderung
untuk bersifat manipulatif. Kompleksitas psikososial juga dapat menilai apa yang akan
terjadi pada sebagian masyarakat terdampak. Seperti misalnya pada kasus dimana kondisi
ekonomi kemudian mengakibatkan memburuknya status gizi dan pada gilirannya akan
memperburuk kualitas kognisi ( intelektualitas) generasi penerus bangsa.

Dampak Masalah Kompleksitas Psikososial pada Kualitas Generasi Penerus


Khususnya yang Terkait dengan Asupan Gizi dan Perkembangan Otak

Bayi-bayi ”salah asuhan”

Kutipan berbagai artikel dan presentasi ilmiah berikut menunjukkan betapa


pentingnya aspek gizi dalam proses pembentukan kualitas intelektualitas dan emosi anak.
Untuk mendapatkan gambaran tentang faktor apa saja yang terlibat serta menjadi titik
terdampak akibat masalah psikososial, maka kitapun perlu menyimak proses tumbuh
kembang otak yang menjadi prosesor atau infrastruktur utama proses pembentukan
kecerdasan dan kepribadian.
Prof. Roostita L. Balia, KKNM Unpad 2008

Melihat pentingnya masalah asupan gizi dalam menunjang pola pengasuhan anak
sebagai generasi penerus bangsa, maka idealnya kitapun mesti mengetahui upaya-uapay
yang dapat mengoptimalkan aspek gizi dalam proses tumbuh kembang. Berikut adalah
kutipan kajian dan saran akademik di bidang gizi yang dapat menjadi referensi atau acuan
dalam proses edukasi masyarakat.

NUTRISI UNTUK BAYI 0 – 6 BULAN


ASI EKSLUSIF

Salah satu bentuk rangsang untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan


perkembangan otak bayi adalah dengan menerapkan pola asah, asih dan asuh
dalam perawatannya sehari-hari, dalam pemberian ASI juga perlu ditunjang
dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.
ASI merupakan sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi
usia 0-6 bulan. Untuk itu harus diterapkan pola makan yang sehat agar zat gizi
yang dibutuhkan dapat dipenuhi melalui ASI.
ASI eklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah pemberian
ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk,
ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem
pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum
mampu mencerna makanan selain ASI. anjuran pemberian ASI eksklusif 6 bulan
ini dikeluarkan juga oleh The American Dietetic Assosiation pada bulan oktober
2001 bersamaan dengan diterbitkannya panduan berjudul “ Exclusive
Breastfeeding for 6 month and Breastfeeding with Complementary Foods for at
Least 12 months is the ideal feeding pattern for infants “
MAKANAN BAYI UMUR 6 – 12 BULAN
Dalam usia ini bayi mampu berkomunikasi meski dalam bentuk sangat sederhana.
Berkat pemenuhan zat gizi yang diperolehnya dari ASI sejalan dengan peningkatan
proses tumbuh kembang yang sedang dijalani, kini ASI saja tidak cukup untuk
memenuhi zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhnya, maka mulai usia ini perlu
diperkenalkan beberapa jenis makanan padat yang disebut Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI).
KEBUTUHAN VITAMIN BAYI USIA 6-12 BULAN
VITAMIN KEBUTUHAN

Asam Folat 45 mg
B3 (Niasin) 8 mg
B6 (Pindoksin) 0,6 mg
B2 (Riboflavin) 0,6 mg
B1 (Tiamin) 0,5 mg
A 400 g
B12 1,5 g
C 35 mg
D 10 g
E 3 mg
\
KEBUTUHAN MINERAL BAYI USIA 6-12 BULAN
MINERAL KEBUTUHAN

Kalsium (Ca) 540 mg


Yodium (I) 50 g
Zat Besi (Fe) 15 mg
Magnesium (Mg) 70 mg
Fosfor (P) 360 mg
Seng (Zn) 50 mg

CONTOH POLA JADWAL PEMBERIAN MAKANAN


MENJELANG ANAK USIA 1 TAHUN

Perlu diketahui, jadwal pemberian makanan ini fleksibel (dapat bergeser,


tapi jangan terlalu jauh)
‰Pukul 06.00 : Susu
‰Pukul 08.00 : Bubur saring/Nasi tim
‰Pukul 10.00 : Susu/Makanan selingan
‰Pukul 12.00 : Bubur saring/Nasi tim
‰Pukul 14.00 : Susu
‰Pukul 16.00 : Makanan selingan
‰Pukul 18.00 : Bubur saring /nasi tim
‰Pukul 20.00 : Susu.

MAKANAN UNTUK PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-18 BULAN


Asupan zat-zat gizi yang lengkap masih terus dibutuhkan anak selama proses
tumbuh kembang masih terus berlanjut. Zat gizi yang dibutuhkan anak usia 12-
18 bulan ini porsi makanan yang dikonsumsi sekarang ini yang bertambah,
sesuai dengan pertambahan berat tubuhnya dan peniningkatan proses tumbuh
kembang yang terjadi.
Tubuh anak tetap membutuhkan semua zat gizi utama yaitu karbohidrat,
lemak, protein, serat, vitamin dan mineral. Asupan makanan sehari untuk anak
harus mengandung 10-15% kalori, 20-35% lemak, dan sisanya karbohidrat.
Setiap kg berat badan anak memerlukan asupan energi sebanyak 100
kkal.Asupan lemak juga perlu ditingkatkan karena struktur utama pembentuk
otak adalah lemak. Lemak tersebut dapat diperoleh antara lain dari minyak dan
margarine.

DAFTAR ANGKA KECUKUPAN GIZI PER HARI


ANAK USIA 12-18 BULAN

Zat Gizi Kebutuhan per hari


Vitamin B12 0,5 mg
Asam Folat 40 mg
Kalsium (Ca) 500 mg
Fosfor (P) 250 mgr
Besi (Fe) 8mgr
Seng (Zn) 10 mgr
Yodium (I) 70 mg
• Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan
kecerdasan anak. Oleh karenanya, pola makan yang baik dan teratur perlu
diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan
dan variasi makanan.
• Gizi seimbang dapat dapat dipenuhi dengan pemberian makanan sebagai
berikut:
• Agar kebutuhan gizi seimbang anak terpenuhi, makanan sehari-hari
sebaiknya terdiri atas ketiga golongan bahan makanan tersebut.
• Kebutuhan bahan makanan itu perlu diatur, sehingga anak mendapatkan
asupan gizi yang diperlukannya secara utuh dalam satu hari. Waktu-waktu
yang disarankan adalah:
• Pagi hari waktu sarapan.
• Pukul 10.00 sebagai selingan. Tambahkan susu.
• Pukul 12.00 pada waktu makan siang.
• Pukul 16.00 sebagai selingan
• Pukul 18.00 pada waktu makan malam.
• Sebelum tidur malam, tambahkan susu.
• Jangan lupa kumur-kumur dengan air putih atau gosok gigi.

Kebutuhan Anak Usia Balita dalam Sehari


Pada usia balita, anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan tajam, sehingga apa
yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia selanjutnya. Dengan memperkenalkan
anak pada jam-jam makan yang teratur dan variasi jenis makanan, diharapkan anak akan
memiliki disiplin makan yang baik. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti
pola gizi seimbang, yaitu pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan
tubuh dan diperoleh melalui makanan sehari-hari. Dengan makan makanan bergizi
seimbang secara teratur, diharapkan pertumbuhan anak akan berjalan optimal. Disadari
maupun tidak, Anda sedang mengajarkan pola hidup teratur dan sehat pada anak sejak
dini
Silahkan simak tabel sederhana yang berisikan panduan sumber nutrisi yang dapat
kita jumpai dalam keseharian berikut jenis-jenis produk yang sudah tersedia dalam keadaan
siap saji.

Sumber Pembelajaran On-Line : Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software


http://www.foxitsoftware.com
Tahapan Perkembangan dan Pendidikan Otak: Berbagai Teori dan Mitos

Perkembangan Otak Anak

Data dasar otak manusia :

1. Berat pada usia dewasa berkisar antara 1500 gram atau sekitar satu setengah kilo

2. Kandungannya terdiri dari 78% air, 0% lemak, dan 8% protein

3. Secara perbandingan dengan anggota tubuh yang lain beratnya hanya

berkisar2,5% dari berat tubuh secara keseluruhan

4. Tetapi jaringan otak mengonsumsi sekitar 20% energi.

5. Terdiri dari sekitar 100 miliar sel neuron pada saat awal kelahiran

6. Diperlengkapi dengan 1 triliun sel glial sebagai sel penyokong yang terlibat

dalam proses regenerasi sel neuron, pembentukan sirkuit, dan proses maintenance

atau pemeliharaan jaringan syaraf

7. Diprakirakan terdapat 1000 triliun titik hubungan sinaptik

8. Dan kapasitas memori pada orang normal dapat mencapai280 kuintibiliun.

( Belajar Cerdas Belajar Berbasiskan Otak, Prof Dr.Jalaluddin Rakhmat, MLC 2005)

Dalam perkembangannya semenjak di dalam kandungan sel-sel neuron, sel glia

dan jaringan syaraf pada umumnya telah terorganisasi secara sempurna. Mulai dari

pembentukan tabung neuralis, sampai terciptanya lekukan-lekukan yang kemudian

antara lain menjadi bagian Telensefalon atau end brain atau bagian induk embriologi

yang disebut proensefalon yang kemudian berkembang menjadi diensefalon dan

telensefalon.. Telensefalonlah yang kemudian menjadi bagian penting dimana fungsi-


fungsi kognitif (kecerdasan dibentuk). Untuk itu telensefalon secara kasat mata dapat

dilihat berupa belahan otak yang disebut hemisferium serebri. Hemisferium serebri

atau belahan otak ini sesungguhnya masih terdiri dari lagi atas kulit otak atau yang

sering disebut sebagai neokortex dan daerah yang disebut sebagai rhinenchephalon.

Apabila kulit otak nanti akan berkembang menjadi pusat asosiasi baik sensoris

maupun motorik serta terlibat dalam pembentukan persepsi serta bahasa, maka bagian

rhinenchepalon akan berkembang menjadi sistem limbik yang meregulasi emosi dan

memori. Di sistem inilah respon defensif manusia dibentuk. Di balik struktur

hemisferium masih terdapat struktur ganglia basalis yang bertugas menghubungkan

antara sistem limbik dengan pusat-pusat asosiasi di daerah hemisferium otak.

Pada tahap tumbuh kembang, mulai dari minggu-mimguu awal kehamilan sampai

dengan usia balita terjadi tahapan sebagai berikut :”

Perkembangan setiap individu dimulai dengan fertilisasi, yaitu saat oosit


sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma. Sebelum sperma dapat
memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapis-lapis sel
granulose yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata.
Kemudian sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata yang
berupa glikoprotein yaitu zona pelusida. Sperma dapat menembus oosit sekunder karena
baik sperma maupun oosit sekunder menghasilkan enzim dan senyawa tertentu sehingga
terjadi aktivitas yang saling mendukung. Pada sperma bagian akrosom mengeluarkan
(1) hialuronidase, enzim yang dapat melarutkan senyawa hilarunoid yang terdapat pada
lapisan korona radiata, (2) akrosin, protease yang dapat menghancurkan glikoprotein
pada zona pelusida dan (3) antifertilizin, antigen terhadap oosit sekunder sehingga
sperma dapat melekat pada oosit sekunder.

Selain sperma, oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu. Senyawa


tersebut adalah fertilizin, yang tersusun atas glikoprotein yang berfungsi (1)
mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat, (2) menarik sperma secara
kemostaksis positif, dan (3) mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.
Pada saat sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian
korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona
pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya.
Segera setelah sperma memasuki nukleus pada kepala sperma akan membesar.
Sebaliknya ekor sperma akan berdegenerasi . Kemudian inti sperma yang mengandung
23 kromosom dengan ovum yang mengandung 23 kromosom akan bersatu menghasilkan
Zigot yang selanjutnya akan ditanam pada endometrium uterus. Dalam perjalanannya
ke uterus, zigot membelah secara mitosis secara berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut
berupa sekelompok sel yang sama besarnya dengan bentuk seperti arbei yang disebut
tahap morulla.
Morulla akan terus membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut
blastula dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel. Sel-sel dalam blastosit akan
berkembang menjadi bakal embrio atau embrioblas. Pada embrioblas terdapat lapisan
jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ectoderm) dan lapisan dalam (endoderm).
Permukaan ectoderm melekuk ke dalam sehingga membentuk lapisan tengah (mesoderm).
Selanjutnya ketig lapisan tersebut akan berkembang menjadi berbagai organ
(organogenesis) pada minggu keempat sampai kedelapan. Ectoderm akan membentuk
system saraf, mata, kulit, rambut, kuku dan hidung. Mesoderm akan membentuk
tulang otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limpa dan kelenjar kelamin. Endoderm
akan membentuk organ-organ pencernaan dan pernafasan.
Sementara massa sel dalam yang menjadi embrio, lapisan sel yang di luar akan
membentuk dua membran janin yaitu karion dan amnion. Keduanya bersama membran
ketiga yang berasal dari dinding uterus ibu, membentuk kantung yang berisi cairan
amnion yang berfungsi sebagai buffer untuk melindungi embrio dari tekanan hebat yang
dialami ibu. Selain itu juga memberi temperatur merata dan bertugas menghindari
perlekatan antara embrio dan amnion.
Secara bersamaan kantung-kantung janin yang lain dibentuk, yang terpenting
menjadi tali pusat (umbilicus) yang memanjang dari embrio ke bagian dinding uterus
dimana uterus dan karion tersambung. Daerah ini disebut plasenta.
Tali pusat merupakan tali kehidupan embrio. Di dalamnya terdapat dua pembuluh
darah yang membawa darah dari embrio ke plasenta dan sebuah pembuluh balik yang
membawa darah dari plasenta ke bayi. Walau demikian hubungan antara aliran darah
bayi dan ibunya tidak terjadi secara langsung. Keduanya mengalir kearah plasenta dan
system ini selalu dipisahkan oleh dinding sel dalam plasenta. Zat yang dapat melalui
plasenta antara lain makanan dari darah ibu seperti gula, lemak dan protein. Bahan sisa
dari bayi terutama zat asam arang juga dapat melalui plasenta. Beberapa vitamin, obatobatan,
vaksin dan bibit penyakit juga dapat melalui plasenta. Dengan demikian
kesehatan ibu dapat berpengaruh bagi kesehatan janin. Hubungan langsung antara
susunan saraf ibu dan embrio tidak ada. Tetapi emosi ibu dapat mempengaruhi secara
tidak langsung fungsi fisiologis anak.
Pada minggu keempat, panjang embrio sekitar 1/5inch. Embrio tersebut telah
mempunyai bentuk mulut, bagian dalam perut (tractus gastrointestinal) dan hati. Jantung
telah terbentuk sempurna, dan kepala serta bagian otak mulai tampak jelas. Pada masa
ini embrio masih merupakan organisme primitif, ia tidak mempunyai lengan atau kaki,
dan cirri-ciri tubuh lainnya yang sempurna, hanya terdapat bentuk-bentuk dasar dari
system tubuh yang penting.
Pada usia 8 sampai 9 minggu, gambaran yang terjadi sudah berubah. Panjang
embrio sekitar 1 inchi. Wajah, mulut, mata dan telinga sudah tampak. Lengan, kaki,
telapak tangan bahkan jari-jari kaki dan tangan telah timbul. Pada tahap ini alat kelamin
mulai terbantuk. Perkembangan otot dan kerangka juga dimulai, tetapi aktivitas
neuromotorik belum ada. Organ-organ dalam seperti usus, hati, pancreas, paru-paru,
ginjal mulai terbentuk dan berfungsi. Hati misalnya mulai membentuk sel darah merah.
Periode embrio ditandai dengan perkembangan yang cepat dari susunan saraf.
Pada periode ini kepala lebih besar dibandingkan bagian badan yang lain. Ini
menunjukkan 8 minggu pertama merupakan periode sensitive untuk integritas
susunan saraf. Gangguan mekanis dan kimiawi pada tahap ini dapat menyebabkan
kerusakan permanent dari susunan saraf disbanding jika kerusakan terjadi pada waktu
selnjutnya.
Akhir bulan kedua sampai masa lahir disebut periode janin. Selama periode ini
berbagai macam system tubuh yang belum terbentuk sempurna berkembang penuh
dan mulai berfungsi. Sampai usia 8,5 minggu janin relative bersikap pasif, yaitu
melayang dengan tenang di dalam cairan amnion. Pada masa ini ia mampu bereaksi
terhadap rangsangan sentuh. Badan janin melipat dan kepalanya merentang. Sejak saat
ini fungsi motor semakin bertambah dan lebih kompleks.
Mendekati akhir minggu kedelapan,system reproduksi mulai berkembang.
Gonad (ovarium dan testes) mula-mula tampak sebagai sepasang gumpalan jaringan
pada kedua jenis kelamin. Hormone yang dihasilkan testes pria dibutuhkan untuk
merangsang perkembangan system reproduksi pria. Bila testes dihilangkan atau gagal
menjalankan fungsinya dengan baik, maka bayi yang lahir memiliki system primer
reproduksi wanita.
Pada akhir 12 minggu, panjang janin sekitar 3 inchi dan beratnya 0,75 ons. Ia
mulai berbentuk seperti manusia walaupun kepalanya lebih besar. Otot mulai
berkembang dan pergerakan spontan dari lengan dan kaki dapat dilihat. Kelopak mata
dan kuku mulai terbentuk dan jenis kelamin janin dapat dibedakan dengan mudah.
Susunan saraf masih kurang sempurna. Selama 4 minggu selanjutnya perkembangan
motorik lebih kompleks.

Berikut ringkasan tahap-tahap dalam perkembangan prenatal :


Minggu ke-1 Ovum yang dibuahi akan turun melalui tuba fallopii menuju ke
uterus
Minggu ke-2 Embrio melekatkan diri pada dinding uterus dan berkembang
dengan cepat
Minggu ke-3 Embrio mulai berbentuk : bagian kepala dan ekor dapat
dibedakan. Jantung sederhana mulai berdenyut
Minggu ke-4 Permulaan pembentukan daerah mulut, saluran pencernaan dan
hati. Jantung berkembang dengan pesat, daerah kepala dan otak
mulai dapat dibedakan.
Minggu ke-6 Tangan dan kaki mulai terbentuk, namun lengan masih terlalu
pendek dan tumpul untuk saling bertemu.
Minggu ke-8 Panjang embrio sekitar 1 inchi. Wajah, mulut, mata, dan telinga
mulai mempunyai bentuk yang jelas. Pertumbuhan otot dan
tulang dimulai.
Minggu ke-12 Panjang janin sekitar 3 inchi. Ia mulai berbentuk sebagai seorang
manusia, walaupun perbandingan kepala masih terlalu besar.
Wajah mempunyai profil seperti bayi. Kelopak mata dan kuku
mulai terbentuk, dan jenis kelamin dapat dibedakan dengan
mudah. Susunan saraf masih sangat sederhana.
Minggu ke-16 Panjang janin sekitar 4,5 inchi. Ibu dapat merasakan pergerakan
janin ekstremitas, kepala dan organ-organ dalam tubuh
berkembang dengan pesat. Perbandingan bagian-bagian tubuh
mulai lebih menyerupai bayi.
5 bulan Kehamilan hamper sempurna. Panjang janin sekitar 6 inchi dan
mampu mendengar dan bergerak lebih bebas. Tangan dan kaki
mulai lengkap.
6 bulan Panjang janin sekitar 10 inchi. Mata sudah terbentuk lengkap dan
bintik-bintik pengecap timbul pada lidah. Janin mampu bernafas
dan menangis lemah, seandainya kelahiran berlangsung
premature.
7 bulan sampai
masa kelahiran
Janin lebih siap untuk secara mandiri di luar rahim. Tegangan
otot bertambah, gerakan menjadi sering dan pernafasan menjadi
jelas, kunyahan, hisapan, dan tangisan lapar menjadi lebih kuat.

Sumber On-Line: Genetika dan Perkembangannya, Liza, STAIN Cirebon 2007

1. Pada hari ke- 23 pasca konsepsi mulai terjadi pembentukan korda otak dan spinal

2. Reaksi penglihatan dan pendengaran terbentuk dengan sempurna.

3. Pada bulan pertama sudah terlihat pembentukan daerah hemisferium

4. Pada bulan ketiga hemisferium serebral mulai tampak strukturnya secara

sempurna disertai dengan telah berkembangnya otak kecil (serebelum)

5. Pada bulan ketiga juga sudah terbentuk korpus kalosum yang menghubungkan

kedua belahan otak kanan-kiri yang disertai mulai munculnya refleks primitif

respirasi, refleks kulit, dan semakin banyaknya jumlah sel neuron yang bertumbuh
6. Pada bulan keenam struktur korpus kalosum sudah lengkap hanya saja sel

syarafnya belum berselubung mielin. Di sisi lain fungsi-fungsi pengaturan

pencernaan mulai terbentuk dengan baik layaknya bayi yang sudah siap lahir.

7. Pada bulan-bulan menjelang kelahiran kemungkinan adanya malformasi bisa

disebabkan karena adanya penurunan jumlah sel dendrit dan terdapatnya

gangguan pembentukan selubung mielin.

8. Pada saat bayi dilahirkan ukuran otaknya hanya berkisar sekitar 30% dari ukuran

otak orang dewasa.

9. Selama tahun pertama pertumbuhan ukuran otak meningkat sampai dengan 55%

ukuran otak dewasa.

10. Artinya selama periode platinum dari usia 1 sampai dengan 6 tahun kita memiliki

kemampuan untuk mengoptimasi 70% perkembangan otak.

Perkembangan otak yang dapat distimulasi melalui metoda pengasuhan yang

tepat, cara belajar dini yang tepat, dan pemilihan sarana-prasarana penunjang

pengembangan otak yang tepat adalah kata kunci dalam pengembangan kualitas

kecerdasan seorang anak. Untuk itu perlu diperhatikan data, fakta, dan juga mitos

yang berkembang dan kemudian banyak diyakini oleh masyarakat.

1. Kualitas otak hanya bergantung kepada faktor keturunan. Jadi jika salah satu

ataupun kedua orangtuanya merasa kurang cerdas atau memiliki hendaya

intelektual maka mereka yakin bahwa anak merekapun akan mewarisi

kemampuan intelektual yang sama.


a. Jelas ini pendapat yang keliru. Seorang anak terlahir dan mengembangkan

otaknya melalui serangkaian aktivitas gen (untaian sifat biologis yang

terangkum di dalam DNA), dimana gen tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-

faktor stimulus yang didapatkannya. Sebagai contoh gen atau kromosom

memang didapatkan dari ayah dan ibu, tetapi dalam pola pewarisan ada

beberapa mekanisme yang dapat mencegah sebuah sifat buruk diturunkan (dapat

dibaca di psikologi genomik). Apabila kemudain sifat buruk tersebut memang

tidak dapat dicegah dan kemudian diturunkan, maka pola pengasuhan dan

pendidikan yang tepat dapat menjadi stimulus agar dalam proses tumbuh

kembangnya dapat mendekati batasan normal. Contoh kasus adalah penanganan

ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) dan autisme. Tindakan yang

tepat dapat mengubah gen atau karakter fenotip anak. Dalam bahasa sederhana

gen dapat di”shutdown”

b. Fenomena anak kembar yang berasal dari sebuah keluarga dengan karakter

antisosial lalu dipisahkan dan diasuh oleh orangtua aslinya dan oleh orangtua

yang secara psikologi ideal. Apa yang terjadi ? Ketika dewasa kedua anak

dikumpulkan dan anak yang diasuh dengan baik ada kecenderungan mengikuti

sikap antisosial kembarannya. Mengapa ini terjadi ? Hal ini adalah pelajaran

berharga bahwa meski faktor lingkungan cukup mempengaruhi gen, kepekaan

gen terhadap stimulus yang buruk masih ada. Nilai penting yang harus

digarisbawahi disini adalah bahwa upaya untuk mengubah karakter genomik

seorang manusia haruslah memenuhi kapasitas dan intensitas tertentu yang

mampu membuat sebuah sifat permanen. Apabila diibaratkan dengan kualitas


keimanan manusia yang cenderung naik turun seiring dengan ujian yang

dihadapi, maka ekspresi genpun demikian. Semakin banyak faktor kimiawi

yang mendesak gen-gen tersebut untuk beroperasi kembali maka merekapun

akan menghasilkan protein yang memicu munculnya sifat-sifat yang tidak

diharapkan.

2. Aktivitas yang dilakukan secara tepat akan mengoptimalkan proses tumbuh

kembangnya otak, mari simak hasil-hasil penelitian di bawah ini

a. Dr.Greenough dari University of Illinois Urbana Champaign melakukan

percobaan dengan menempatkan beberapa ekor tikus dalam kandang yang

berbeda. Kandang pertama adalah kandang biasa dan diisi seekor tikus saja.

Kandang kedua disisi oleh dua ekor tikus, dan kandang ketiga diisi oleh

beberapa tikus muda dan tua. Kandang ketiga juga dilengkapi dengan

permainan dan wahana-wahana yang menyenangkan sehingga disebut sebagai

Disneyland tikus. Apa yang terjadi pada hasil percobaan itu ? Di kelompok

kandang 1 dan 2 tidak terjadi perubahan yang bermakna pada otak para tikus.

Tetapi di kandang ketiga, para tikus mengalami pertumbuhan dendrit yang pesat

disertai dengan adanya pertumbuhan pembuluh-pembuluh darah baru yang

menunjang proses perkembangan jaringan otak.. Bahkan jaringan otak tikus

yang sudah tuapun ikut teraktivasi sebagaimana tikus-tikus muda. Hal ini

menunjukkan bahwa perubahan dan perbaikan jaringan syaraf sesungguhnya

tidak mengenal usia.

b. Dr.Fred Gage dari The Salk Institute melakukan percobaan dengan memisahkan

dua kelompok tikus yang baru lahir. Dimana kelompok pertama dipelihara
dalam kandang yang biasa (standar), sementara kelompok kedua dipelihara

didalam kandang yang dipenuhi dengan berbagai permainan dan aktivitas

motorik. Apa yang terjadi ? Dengan pemindaian dan penelusuran zat tracking

diketahui bahwa para tikus di kandang pertama memiliki 270.000 sel neuron di

hipokampusnya, sementara para tikus yang dipelihara di kandang kedua

memiliki 50000 sel neuron lebih banyak di hipokampusnya (320000). Kondisi

ini menunjukkan bahwa stimulus semenjak dini dapat membantu proses

optimalisasi jaringan otak.

c. Carl Cotman melakukan penelitian hampir sejenis dengan memelihara tikus di

dalam kandang-kandang yang diperlengkapi dengan berbagai permainan yang

merangsang aktivitas motorik. Aktivitas motorik itu ternyata tidak hanya

merangsang bagian-bagian otak yang mengatur gerakan saja melainkan juga

turut mengaktifkan sisi-sisi otak yang bersifat meregulasi kemampuan kognitif

seperti memori, kemampuan belajar, dan berpikir. Dengan demikian aktivitas

fisik yang memerlukan koordinasi berbagai bagian otak ternyata dapat

mengoptimalkan fungsi otak.

3. Sentuhan dan gerakan yang tepat dapat membantu seorang anak

mengembangkan kemampuan konsentrasi dan meningkatkan fokusnya. Pada

kasus Temple Grandin seorang anak autis yang pada awalnya sama sekali

tidak mau disentuh manusia, kemudian berhasil mengembangkan mesin jepit

yang membuatnya dapat merasa lebih empati dan lebih peduli kepada sesama

a. Pada kasus lain Carla Hannaford mempelajari beberapa gerakan tertentu

ternyata dapat menenangkan pikiran dan membantu proses belajar (termasuk


belajar menulis). Bahkan sentuhan yang dilakukan pada seorang bayi dapat

menentukan karakter psikologis yang bersangkutan. Seorang peneliti neurosains

bahkan menunjukkan bahwa sentuhan pada seorang bayi dapat meningkatkan

kadar hormon oksitosinnya. Sebuah hormon yang terkait dengan rasa cinta dan

kasih sayang.

b. Anak-anak Afrika yang terbiasa memiliki sudut pandang periferal luas dalam

mengamati lingkungan menjadi sangat ahli dalam beraktivitas multibahasa.

Sebaliknya ketika masuk ke kelas formal yang lebih menekankan foveal sentral

mereka sulit untuk fokus dan belajar membaca. Apabila kita mengabaikan

potensi ini maka kita akan kehilangan masa-masa emas seorang anak dapat

mengemabngkan multi talentanya.

c. Anak pada usia tumbuh kembangnya melalui proses merangkak, banyak

orangtua justru menginginkan anak cepat berdiri dan bahkan cepat berlari.

Padahal proses merangkak adalah proses melatih korpus kalosum untuk

mengkoordinasi gerakan motorik tangan dengan koordinasi kiri-kanan dan itu

juga mengaktifkan proses belajar dan berpikir. Maka pada bayi usia-usia

tertentupun jenis permainan yang cocok sangat menentukan tingkat

perkembangannya. Misal mainan berwarna cerah dan berisik amat disukai oleh

bayi di bawah usia 6 bulan. Pada pendidikan anak usia dini kegiatan harian

semacam inilah yang harus dikuasai oleh para orangtua dan pendidik.

d. Prinsip dasar dari permainan edukatif yang harus dipenuhi adalah sebagai

berikut :

i. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak


ii. Mendorong munculnya imajinasi dan kreatifitas

iii. Meningkatkan interaksi antara orangtua dan anak atau anak

dengan tenaga pendidik dan elemen lingkungan lainnya

iv. Awet dan dapat bertahan sesuai usia pertumbuhan anak

v. Aman dan tidak mengandung zat yang berbahaya, apalagi yang

bersifat neurotoksin

4. Perhatikan dan manfaatkan benar konsep “Jendela Peluang”. Konsep ini

adalah pemetaan waktu-waktu ideal yang apabila dimaksimalkan stimulusnya

(tentu yang tepat) maka otak anak akan berkembang lebih optimal. Contoh

Jendela Peluang :

Perkembangan Motoris 10

Pengendalian Emosi

Pembentukan kosakata

Kemampuan Bahasa

Pengembangan logika-matematika

Kemampuan musikal

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Apabila kita mengacu kepada konsep Jendela Peluang ini maka program pembinaan

proses tumbuh kembang anak haruslah mengedepankan peluang-peluang waktu yang

semestinya bisa dioptimalkan agar menjadi modal perkembangan mental yang dahsyat.

5 Aspek nutrisional dan gizi dalam pembentukan karakter kecerdasan otak anak

juga wajib dan sangat penting untuk diperhatikan.


a. Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber gizi terbaik dalam usia 0 s/d24 bulan.

Kandungan Dokoheksanoat asid yang terkandung dalam ASI sangat tinggi

( 30 kali dari susu sapi), padahala DHA adalah salah satu blok pembangun

jaringan syaraf (otak), terutama dalam pembentukan selubung mielin, sel

glia, dan dendrit. Selain DHA ASI juga mengandung kolustrus atau

molekul antibodi spesifik yang amat diperlukan bayi dalam proses

beradaptasi dengan lingklungan. Kandungan protein dan asam lemak tidak

jenuh yang terkandung di dalam ASI juga memiliki proporsi yang ideal.

b. Apabila sudah tiba waktunya anak mendapatkan makanan tambahan

mohon perhatikan tidak saja sekedar makanan yang memenuhi kebutuhan

nutrisional dasar melainkan juga perhatikan kebutuhan nutrisional otak.

Salah satu kebutuhan nutrisional otak adalah bahan baku bagi pembuatan

neurotransmiter yang merupakan zat penghubung, zat belajar, dan zat

penentu mood di otak. Sebagai contoh anak harus mendapatkan sumber-

sumber serotonin yang bisa didapatkan apabila anak mengkonsumsi asam

amino triptofan. Sumber triptofan bisa berasal dari coklat, minyak ikan,

ataupun dibantu oleh vitamin B6. Tetapi untuk mendapatkan jumlah asam

amino triptofan yang memadai haruslah diimbangi dengan asupan

karbohidrat yang mencukupi. Karena jalur penyerapan asam amino

triptofan berbarengan dengan penyerapan karbohidrat.

c. Kadar-kadar neurotransmiter lainpun perlu dijaga, misal GABA (gamma

amino butiric asid) yang bersama-sama dengan serotonin mengatur mood

dan emosi serta apabila kadarnya rendah akan mendorong munculnya sifat
agresi. Ada pula neurotransmiter endorfin, asetilkolin, ataupun calpain.

Semua bahan pembentuk neurotransmiter itu berasal dari sumber

makanan.

Dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter psikologis dan pembangunan

kecerdasan yang bersifat komprehensif haruslah pula mengedepankan dan

mengeksplorasi variabel-variabel yang terlibat baik secara langsung maupun tidak

langsung. Untuk itu dalam merancang proses tumbuh kembang seorang anak yang

merupakan bagian dari regenerasi bangsa, perlu dilakukan identifikasi potensi anak,

lingkungan, dan juga potensi orangtua sendiri, termasuk pengetahuan dasarnya tentang

tumbuh kembang anak, konsep pembentukan kecerdasan, dan kemampuan meningkatkan

EQ anak.

Dapat disimak bagan berikut yang menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia

telah dikaruniakan kelengkapan gen yang mungkin bervariasi dengan kelebihan dan

kekurangan di sana-sini, tetapi dengan metoda yang tepat segala kekurangan masih

mungkin untuk diperbaiki (kasus auutis, kurang berempati, maupun sifat anti sosial) baik

dengan metoda yang didesain khusus maupun seiring dengan perubahan usia dan

perubahan biologis. Sedangkan potensi atau kelebihan yang dimiliki seorang anak,

terutama dengan mengacu kepada konsep Jendela Peluang akan dapat dimaksimalkan.
Mengenal Sistem Kognisi

Sejarah Singkat Psikologi Kognitif


Pengetahuan lahir dari pikiran. Awal mula semua ilmu di masa kini adalah filsafat.
Anda dapat berpikir dan mengingat kembali nama-nama besar seperti Plato dan
Aristoteles. Psikologi Kognitif dan ilmu tentang pikiran lainnya berupaya menjawab
pertanyaan yang paling mendasar, ”dari manakah datangnya pengetahuan dan
bagaimana itu diwujudkan dalam hati kita?” Para ahli tulisan Mesir Kuno menyatakan
bahwa pemikir di era Mesir Kuno percaya bahwa pengetahuan berkedudukan di
jantung. Hal ini didukung oleh Aristoteles namun Plato berpendapat berbeda. Ia
meyakini pengetahuan berkedudukan di otak.
Perdebatan akan wujud pengetahuan di diri manusia terus bergulir. Pada abad
kedelapan belas, psikologi filosofis dibawa ke situasi saat mulai berperannya
psikologi empiris yang dipelopori oleh George Berkeley, James Mill dan putranya
John Stuart Mill. Pada zaman ini, setidaknya ada dua postulat tentang pembentukan
gagasan internal (dalam pikiran). Yang pertama adalah perwujudan internal dibentuk
berdasarkan aturan yang jelas (ada hukumnya). Kedua, perwujudan serta
pengalihan gagasan internal membutuhkan waktu dan usaha.
Selama abad ke-19, para psikolog semakin memisahkan diri dari filsafat yang
spekulatif dan membentuk sebuah disiplin yang empiris. Di masa ini, ada dua kubu
besar yang melakukan studi tentang perwujudan internal. Ada yang dipimpin oleh
Wundt di Jerman dan oleh Titchener di Amerika Serikat yang menekankan pada
struktur perwujudan mental serta ada juga Brentano di Austria yang menekankan
pada proses atau perbuatan. Brentano menganggap bahwa wujud internal adalah
sesuatu yang statis dan tidak perlu dipelajari. Studi kerja kognitif menurut Bretano
adalah membandingkan, menilai, dan merasakan sebagai objek studi yang tepat.
Berangkat dari ide ini, psikologi semakin bergeser menuju ke arah lahirnya
behavioristik yang berpendapat bahwa perilaku yang dapat diamati yang dapat
dipelajari. Akan tetapi, behavioris seperti
Hull dan Tolman dalam postulat/teorinya
memasukkan gagasan adanya variabel
”pengantara” yang tidak dapat diamati
dalam perilaku manusia. Di masa
berkembangnya, behavioris mendominasi
Amerika yang sedikit mematikan
ketertarikan terhadap kognisi. Namun,
Perang Dunia II membawa kembali minat

pada studi tentang kognisi. Pada masa itu,


dibutuhkan pemahaman tentang human
factor. Studi dibutuhkan untuk menjawab
bagaimana prajurit dapat memusatkan
perhatian dengan lebih baik serta akurat
dalam penglihatan dan pendengaran. Hal ini
kemudian mendasari lahirnya alat tes
psikologi untuk tentara yang berhubungan
dengan inteligensi/bakat (kognisi).
Di bidang lain, lahir pula teori-teori lain
seperti Noam Chomsky dengan teori
lingustik (bahasa) yang melawan teori
Skinner dan lahirnya teori informasi yang
menjelaskan model komunikasi secara
matematis. Terakhir, tahun 1967,
peluncuran buku Cognitive Psychology oleh
Ulric Neisser menjadi gong dimulainya cabang baru dalam psikologi. Buku yang
menjadi bukti resmi diakuinya psikologi kognitif itu terdiri dari enam bab; yaitu dua
bab tentang persepsi dan perhatian, dan empat bab tentang bahasa, memori, dan
pikiran.
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com. Materi kuliah Pengantar Psikologi Kognitif Fakultas
Psikologi Universitas Surabaya
Fakta-Fakta Kompleksitas Psikososial yang Merepresentasikan Keterkaitan antara
Aspek Neurosains dengan Sifat-Sifat Manipulatif Manusia

”Saya senang dengan kondisi krisis ini karena pada saat itu banyak yang bodoh !”
Simon Cawkwell pelalu shortselling ( membeli saham-saham dengan harga murah di
saat index runtuh dan menjualnya lagi ketika ada kenaikan harga) yang dalam 1 jam
berhasil meraup 250.000 poundsterling atau sekitar 5,2 milyar rupiah karena berhasil
membeli saham dengan sangat murah saat bursa panik dan menjualnya ketika otoritas
bank sentral dan pemerintah Uni Eropa meluncurkan paket penyelamatan yang
mendongkrak harga saham ( sementara).
Joseph Stiglitz, penerima hadiah nobel ekonomi dari MIT telah mengingatkan
pemerintah Amerika Serikat bahwa melepas kendali bursa dan pasar uang ke mekanisme
pasar adalah sebuah kesalahan yang mendasar karena tidak ada lagi fungsi yang
mengontrol perilaku manusia yang terlibat di dalamnya.

Suasana bursa saham New York ( Wall Street)


Tahun 2008 diawali dengan melemahnya indeks global secara drastis, di area Asia
Pacifik bursa anjlok hingga 4-8%. Banyak kalangan menduga ini adalah multiplier effect
dari runtuhnya fondasi ekonomi Amerika Serikat. Merryll Lynch& Goldmann Sach, serta
beberapa perusahaan keuangan berskala global berguguran. Kecurigaan mengarah kepada
wind fault yang tercetus akibat kasus subprime mortgage, atau kredit perumahan jangka
menengah yang menghantam pasar uang Amerika. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan
gejala kegagalan sistem monoline insurer yang bertindak selaku pelapis keamanan bagi
municipal bonds dan structure credit product yang akhirnya menimbulkan ledakan
liquidity crunch. The Fed mengintervensi dengan segera menurunkan suku bunga,
sebesar 75 basis poin dari 4,25% hingga 3,5%. Sebuah langkah yang fatal, mengingat
rendahnya suku bunga yang pada tahap awal dimaksudkan sebagai stimulus agar pasar
menggeliat dan dana parkir di deposito berkurang, justru akan menyudutkan perbankan
karena berkurangnya likuiditas. Sementara dana cair yang menggelontor di pasar
komoditas justru akan mendorong terjadinya peningkatan laju inflasi. Mengapa Amerika
gagal mengatasi krisis subprime mortagage ini ? Menurut analisa intelijen kami, hal ini
antara lain disebabkan oleh adanya aksi hedging pada komoditas minyak mentah yang
dilakukan oleh sebuah lembaga kamuflase yang bernaung di bawah lingkungan
department of finance (DOF-USA). Lembaga keuangan terselubung tersebut melakukan
beberapa transaksi jangka panjang dengan beberapa negara produsen minyak dan juga
membuat kesepakatan-kesepakatan bisnis tertutup dengan organisasi resmi negara-negara
produsen minyak dunia (OPEC).Hasilnya adalah melambungnya harga minyak dunia
menembus 100 dolar perbarel dan tersedotnya devisa USA untuk mempertahankan
jejaring pengaman sosial (social safety net). Dari beberapa fenomena tersebut ada
bebrapa faktor kronik lain yang turut memperberat kondisi dunia pada saat ini, antara lain
kebijakan fiskal pemerintahan yang dikuasai partai Republik. Dua Bush telah mendorong
memuncaknya hutang USA sampai ke batas psikologi 9,9 triliun dolar. Apa yang akan
terjadi ? Pemerintah akan krisis anggaran dalam 2 tahun ke depan dan Amerika akan
terjungkal ke dalam resesi yang berkepanjangan. Amerika akan terjungkal ! Joseph E
Stiglitz peraih Nobel bidang ekonomi semenjak tahun 1998 telah memberikan peringatan,
yang terus menerus diabaikan. Pada tahun 2006 misalnya, pendapatan domestik bruto
dunia (global) adalah 46,66 triliun dolar, sementara USA sekitar 13 triliun atau sekitar
27,86% dari total pendapatan dunia, selain itu proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi
pada 2008 yang diprakirakan akan mencapai 1,9 persen ternyata harus direvisi menjadi
sekitar 1,5% saja. Bahkan secara global pengaruh krisis berkepanjangan di USA
mengakibatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang semula berkisar sekitar 4,4% harus
dikoreksi menjadi 4,1% saja. Sungguh suatu fenomena menjelang depresi atau malaise
yang fatal. Saat ini saja sekitar 1 triliun dolar terbenam ke dalam investasi sektor
perumahan yang bermasalah. Kondisi ini menyeret setidaknya beberapa bank besar Uni
Eropa seperti Barclays Capital, Northern Rock, HSBC, Societe General, Credit Lyonnais,
BNP Paribas, UBS, Deutsche Bank, dan Unicredit yang merupakan bank-bank papan atas
Eropa ke arah kerugian fundamental. Para Hedge Fund manager institusi keuangan global
tersebut terpikat untuk memutarkan uangnya di pasar saham (bursa) dan bersifat lintas
batas, termasuk dalam membiayai sektor perumahan di Amerika dan berspekulasi di
komoditas minyak bumi. Ada sebuah skenario besar yang menghipnotis para hedgefund
manager atau para manajer investasi dari banyak perusahaan keuangan besar tersebut.
Aktivitas Amerika dan sekutunya di Irak, Afghanistan, dan juga sebagian kawasan teluk
lainnya seolah menjadi beban yang berkepanjangan. Setelah kontrak dan konsesi
pengelolaan sumber daya alam dan konstruksi infrastruktur yang bernilai miliaran dolar
dalam proses rehabilitasi disetujui, ratusan kredit liar bernilai triliunan dihamburkan
tanpa kendali yang dapat dipertanggungjawabkan. Permainan yang tak kalah cantik juga
terjadi di saat kartel-kartel produk atau komoditas agri seperti gandum, jagung, dan
kedelai mulai memainkan kartu trufnya. Dengan teknologi pasca panen dan teknologi
penyimpanan serta pengemasan yang semakin baik, komoditas tersebut dapat dipending
untuk mengatrol harga. Apa yang terjadi ? Di negara-negara dunia ketiga yang sudah
mengalami ketergantungan kronis (bayangkan bangsa yang pendapatan perkapitanya
hanya 200 dolar setahun, mengkonsumsi makanan murah yang 60% komponennya
berbahan baku impor !), terjadi perubahan orientasi penggunaan uang. Uang beredar atau
likuiditas pasar terserap secara besar-besaran oleh komoditas pangan. Sektor lainnya
terabaikan, roda industri mulai dari jasa hingga manufaktur lemah lunglai, investasi
produktif macet, perbankan kolaps ! Di sisi lain dengan mengusung isu ”Go Green” yang
mengglobal (sampai diselenggarakan konferensi tingkat tinggi UNFCC di Bali),
pengembangan biofuel digalakkan. Pada tahun 2007 saja 1,8 juta ton kedelai dan jagung
Amerika dialokasikan sebagai bahan baku biofuel. Di satu sisi kontraksi permintaan luar
negeri akan meningkat karena langkanya pasokan, sementara di sisi lain pasar bahan
bakar nabati dalam negeri terus didorong. Pada saat yang bersamaan tren kurva elastisitas
permintaan dan kurva laju konversi bahan bakar belumlah sinkron. Apa yang terjadi ?
Dalam periode 2-3 tahun akan terjadi turbulensi ekonomi global yang memungkinkan
pihak ketiga (tak teridentifikasi) untuk melakukan transaksi-transaksi fundamental yang
menghasilkan perubahan profil kepemilikan beberapa industri strategis yang sahamnya
telah dilepas ke bursa. Institusi keuangan dan lembaga investasi adalah sasaran yang
terbuka, karena dengan menguasai kedua lembaga tersebut maka akses kepada struktur
permodalan yang berarti juga pada share kepemilikan akan terbuka. Suatu kekuatan
misterius tengah mengembangkan tentakel-tentakel kekuasaannya yang tak terlihat,
transparan, tapi pasti sebentar lagi akan membelit dengan erat.
Dari aspek power distribution terlihat adanya pendekatan egosentrisme yang
kerap menjadi pola baku, bahkan di sebuah negara demokratis sekalipun, telah
memunculkan sederet kecurigaan dengan terjadinya beberapa fenomena tak wajar pada
beberapa penguasa tertinggi Amerika. Ketidakwajaran tersebut tercermin dari kebijakan-
kebijakan politiknya yang berkesan menyimpang dari paradigma global yang berlaku.
Dua presiden Amerika yang paling memberikan dampak negatif terhadap sruktur
ekonomi dan geopolitik Amerika adalah anak-beranak Bush. Apabila dapat dilakukan
evaluasi neuroscience terhadap keluarga Bush, mungkin hasil pemindaian fMRI
(functional magnetic resonance imaging) dan Positron Emission Tomography (PET Scan)
akan menunjukkan adanya deformitas pada lobus frontalis dan nukleus kaudatus. Sebuah
lesi kecil genetik yang menghasilkan sifat dasar agresif dan posesif. Sedikit stimulasi
ringan sudah akan menimbulkan keputusan yang bersifat destruktif. Jena Bush alkoholic,
demikian pula Jeff Bush, kondisi ini adalah simtom dari kegagalan sistem limbik
mereduksi kecemasan akut. Gabungan pendekatan neuropsikologis ini menjadi sebuah
entry point yang menarik untuk mencermati apa yang terjadi di level tertinggi birokrasi
Gedung Putih.
Di Uni Eropa hal yang tak kalah mengherankan adalah keberhasilan Jerome
Kerviel menjerumuskan Socialite Generale, salah satu Bank Perancis dengan asset
terbesar, kehilangan sekitar 66 triliun rupiah melalui lantai bursa. Andrei Melnichenko
mendulang keuntungan dahsyat dari pasar uang Eropa dan banyak fenomena ganjil yang
kini berlaku. Semua berlindung di balik hipotesis John Maynard Keynes tentang pasar
uang yang gila. Naked short selling merebak di banyak bursa tanpa aturan. Pialang atau
sekuritas tanpa saham bisa melalkukan aksi jual saham dan membelinya kembali dengan
harga murah. Obligasi atas nama negar diterbitkan dengan yielding yang sangat tinggi,
semua gila ! Ini sesuatu yang tidak mungkin.
Laporan bursa lanjutan menunjukkan adanya kejatuhan bursa Indonesia (BEI) sebesar
191,35 poin atau 7,7 persen. Kedelai, terigu, dan jagung hilang dari pasar. 40% terigu dan
juga semua komoditas pangan itu dipasok dari USA, sementara saat ini USA over
produksi. Pasar mengalami anomali, cuaca mengalami anomali. Indonesia Ocean Dipole
terbentuk di samudera Hindia dan mengakibatkan perubahan iklim yang radikal.
Bayangkan sebuah bangsa besar di Asia Tenggara dengan mayoritas penduduk be-ras
campuran indomongoloid-melanesia yang secara terstruktur telah terbudayakan
mengkonsumsi terigu import dalam bahan makanan kesehariannya (mie instan), kini
harus kehilangan segalanya. Sebuah negara dengan cadangan minyak, gas alam, batubara,
dan juga emas serta tembaga kini siap untuk dicaplok siapa saja.
Tetapi sudah semestinya kita tidak hanya menilai dan mencermati aspek negatif
saja, kitapun perlu mempelajari keberhasilan orang-orang seperti Warren Buffet atau Paul
Tudor Jones Jr yang teramat peka mencermati perilaku psikologis pelaku pasar, sehingga
mereka dapat menuai untung besar dari reaksi pasar saham yang telah berhail mereka
prediksi. Paul Tudor Jones Jr tanpa bantuan komputer dan formula praduga berhasil
menyiasati peristiwa ”Black Monday”, sehingga ia untung besar di saat orang lain
merugi. Apa pula yang terjadi dalam benak Steve Jobs, Bill Gates, ataupun Barry
Marshall si penemu helikobakter piloria ? Apakah otaknya berbeda dengan kita ? Tidak !
Mereka melihat, mendengar, merasakan, merekam, menganalisa, mengakumulasikan,
mengendapkan, dan mengkristalkan, serta mengembangkan kecerdasan kognisi dan
emosi. Persis sama dengan kita ! Yang berbeda hanyalah aktivitas jaras penghubungnya
dan aktivitas sinaps beserta neurotransmiternya. Otak tidak hanya bergantung kepada
volume dan beratnya saja, kinerjanya justru lebih banyak bergantung kepada
kompleksitas dan keterlatihan serta kecepatan akses antar bagian analisisnya. Jalur yang
terbuka (broadband) dengan lebar pita (bandwith) tanpa batas akan menghasilkan solusi-
solusi jenius yang tidak terkejar oleh otak normal. Mari kita simak parade fungsi otak
yang digambarkan melalui serangkaian citra otak berikut :
Ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungannya, maka segenap indera
sensorisnya akan menerima dan mentransmisikan data. Selanjutnya data tersebut akan
ditapis di talamus dan dikirimkan ke kulit otak, sesuai dengan jenis dan proses yang
dibutuhkannya. Sekumpulan proses yang meliputi penerimaan data, transmisi
(penyaluran), analisa, dan pembentukan respon, serta proses belajar dan pengelolaan
ingatan termaktub ke dalam sebuah supra sistem manajemen operasi yang menghasilkan
produk-produk mental. Fungsi mental inilah yang kemudian dalam perjalanannya
berkembang menjadi sebuah proses yang dinamis, penuh dengan ragam, dan menjadikan
seorang manusia memiliki kemampuan mempersespsikan hidup. Perkembangan dari
proses pembentukan persepsi adalah timbulnya piranti-piranti sosial dan tumbuhnya
nilai-nilai acuan. Manusia mengklasifikasikan diri dan kepentingannya dalam bentuk
ekspektasi, prestasi, dan kemudian bahkan mengembangkan kosep frustasi atau
kekecewaan di saat fakta tidak sesuai dengan harapan. Sistem mental ini kemudian terus
bergulir dan tidak hanya mengubah pola pandang pribadi, melainkan juga menjadi dasar
atau fondasi dari proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya dan juga dengan
berbagai elemen yang terdapat di dalamnya. Dalam perkembangan selanjutnya manusia
mengembangkan berbagai sub sistem mental yang dijiwai semangat untuk
mengoptimalkan benefit yang bersifat ego atau setidaknya antroposentrik, berfokus pada
manusia sebagai subjek sekaligus objek hidup. Sumber daya alam dan sumber daya sosial
didorong secara hegemonik untuk dipahami sebagai sebuah infrastruktur hidup yang
harus dikapitalisasi. Semua potensi sumber daya itu akan dimaknai sebagai modal yang
harus mampu menghasilkan jauh lebih banyak lagi keuntungan bagi manusia. Tetapi
kemampuan mental yang semula destruktif dan bersifat eksploitatif itu lambat-laun
seiring dengan tumbuhnya kesadaran tentang perlunya sebuah proses yang
berkesinambungan, mulai mengurangi momentum kelembaman. Bisnis dan proses
produksi serta jasa di dalamnya kini berpaling pada kepedulian terhadap daya dukung
dalam bingkai waktu jangka panjang. Pengembangan produk-produk baru tidak lagi
sekedar mengacu kepada keuntungan sesaat dan kepedulian yang hanya terbatas pada
ruang lingkup yang sangat sempit. Pada hakikatnya seorang manusia memiliki internal
consciusness yang tercermin dalam pola-pola psikososial sebagaimana digambarkan
dengan sangat baik melalui riset yang dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951.
Riset psikologi sosial ini didesain sangat sederhana, sekumpulan orang diminta untuk
mengidentifikasi dan membandingkan panjang beberapa garis dengan sebuah garis yang
menjadi acuan. Sejumlah orang yang terlibat sudah ”kongkalikong” dan akan
menyatakan bahwa garis tertentulah yang sama panjangnya dengan garis acuan, meski
sebenarnya tidak begitu.

Hasil riset menunjukkan bahwa ternyata orang percobaan (probandus) cenderung untuk
menyetujui ”kesalahan” yang dilakukan oleh kelompok mayoritas, meski sesungguhnya
yang bersangkutan tahu bahwa itu salah. Interaksi sosial rupanya juga berperan sebagai
suatu upaya peneguhan keyakinan dan pendistribusian tanggungjawab. Orang akan
merasa lebih aman apabila pendapatnya sejalan dengan kecenderungan lingkungan !
Penelitian terdahulu yang dilansir pada tahun 1936 oleh Muzafer Sherif justru
menunjukkan hasil yang berbeda.

Dalam penelitian itu seseorang diminta memasuki sebuah kamar dengan sebuah bola
lampu pijar yang redup sebagai satu-satunya sumber penerangan. Lalu pada orang
percobaan tersebut ditanyakan, apakah bol lampu tersebut bergeser atau bergerak ?
Rerata mereka menjawab bahwa bola lampu tersebut bergeser atau bergerak. Tetapi
ketika sekelompok orang percobaan yang telah mengikuti tes tahap pertama (masuk
sendiri-sendiri) dimasukkan bersama-sama ke dalam ruangan tersebut, mereka bersepakat
bahwa lampu itu tidak bergerak. Dalam hal ini interaksi sosial dalam kelompok rupanya
mendorong munculnya upaya pencarian kebenaran komunal, yang bisa diterima oleh
banyak kalangan. Dengan demikian apabila kita mengacu kepada kedua hasil penelitian
tersebut, maka kita akan mendapatkan sebuah fenomena bahwa sesungguhnya manusia
akan terlepas dari paradigma dan tata nilai ”benar-salah” atau yang kemudian disebut
sebagai moralitas, dengan syarat adanya kesepakatan komunal, dengan kata lain ”yang
penting beramai-ramai”. Tampaknya dari fenomena inilah kemudian muncul konsep
konsensus atau keputusan yang berangkat dari sebuah kesepakatan bersama. Dan kini
pendulum kesepakatan itu bergeser, dari yang semula sekedar berorientasi pada profit
kini bergeser untuk mulai meraih benefit !
Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan diperberat oleh berbagai kerusuhan sosial,
gejolak sosial dan berbagai bencana telah meninggalkan rasa frustrasi pada berbagai
lapisan masyarakat. Bagaimana masyarakat tidak frustrasi jika pada saat yang bersamaan
harga-harga membumbung tinggi , daya beli masyarakat dari semua lapisan semakin
menurun. Disparitas antara harga dan daya beli itu menimbulkan rasa resah dan gelisah.
Kesenjangan yang demikian, menurut Prof. Selo Soemardjan, amatlah berbahaya karena
mudah merusak kesejahteraan dan kebahagiaan umum (dari diskusi Dampak Sosial Krisis
di Fakultas Hukum Univesitas Indonesia, Jum’at 20 Februari 1998, Depok).
Dari krisis yang berkepanjangan tersebut muncul macam-macam dampak sosial, antara
lain, (1) semakin lebarnya jurang si kaya dengan si miskin, (2) kecemasan dan frutrasi
masyarakat dengan semakin mahalnya bahan-bahan kebutuhan pokok, termasuk naiknya
harga serta langkanya obat-obatan, (3) sebagian murid dan mahasiswa ditarik keluar
karena orang tuanya tidak sanggup lagi membayar uang sekolah (termasuk para
mahasiswa dari luar negeri), (4) angka pengangguran meroket, (5) naiknya angka
kriminalitas, (6) kuantitas dan kualitas makan keluarga menurun, serta (7) kepercayaan
pada pemerintah juga menurun.
Dampak soial tak dapat dipungkiri sangat keras terasa bagi keluarga sebagai unit terkecil
dari masyarakat. Mereka harus merogoh kantung lebih dalam agar mampu bertahan pada
tingkat konsumsi yang selama ini dilakukan. Kalau tidak mampu, maka tingkat
konsumsinya akan merosot, dan bagi masyarakat lapis bawah ini berarti tingkat
kesejahteraannya secara keseluruhan juga merosot.
Kalau keluarga miskin harus merogoh kantung lebih dalam untuk membeli makanan,
berarti sisa uang yang bisa dibelanjakan untuk keperluan lain seperti pendidikan,
kesehatan, transport dan kebutuhan sehari-hari lainnya akan makin terbatas.
Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), diperoleh fakta bahwa bagi
masyarakat lapis bawah lebih dari 70 persen pengeluaran rumah-tangga mereka adalah
untuk membeli makanan, sehingga kalau harga makanan meningkat tinggi, maka mereka
yang berada pada lapis bawah yang akan paling menderita sebagai akibat kenaikan harga
pangan, dan secara relatif penderitaan mereka lebih berat katimbang masyarakat lapis
menengah ke atas, karena pola konsumsi masyarakat miskin selalu berat pada konsumsi
pangan.
Dampaknya akan sangat menekan kemampuan keluarga miskin untuk tetap
mempertahankan anak-anaknya di sekolah dengan tetap sehat, yang berarti masa depan
anak-anak keluarga miskin akan makin menjadi beban masyarakat, karena
ketidakmampuan kita mengangkat mereka dari lembah kemiskinan sekarang ini. Ada
jutaan anak yang kesusahan membayar uang pendidikan dan terpaksa keluar dari bangku
sekolah kemudian mengais rejeki di pinggir jalan, akibat ketidakmampuan orang tuanya.
Mereka beroperasi sebagai pengemis terselubung dengan sekedar gerak-gerik pengamen.
Mereka biasanya mengamen di perempatan jalan, restoran-restoran, warung-warung
pinggir jalan, bahkan ada pula yang berjalan dari rumah ke rumah sambil menyanyikan
lagu-lagu, mulai dari lagu Sheila On 7, sampai hanya sekedar lagu yang tidak pernah kita
dengar sebelumnya. Ada juga yang berprofesi sebagai penyemir sepatu, penjual koran,
penjual rokok dan pemulung barang bekas.
Fenomena ini sering terlihat di jalanan kota Medan dan kota-kota besar lain di Indonesia.
Mereka dijuluki sebagai anak jalanan, dan dianggap sebagai problem sosial akibat krisis
total oleh sementara pakar-pakar dan tokoh-tokoh sosial. Belum lagi problem kekurangan
gizi akibat makan mereka tidak terurus.
Dari hasil survey dan pemetaan terhadap anak jalanan yang dilakukan oleh UNIKA
Atmajaya Jakarta di 12 kota besar di Indonesia tahun 1999, ditemukan sebanyak 39.861
anak sedangkan menurut sensus penduduk nasional tahun 1998 jumlah anak jalanan di 12
kota tersebut ada sebanyak 44.671 anak. Sementara jumlah anak terlantar sebanyak 3,9
juta anak yang terdiri dari anak usia 6 – 18 tahun sebanyak 2.767.629 anak, balita
terlantar 1.149.750 anak dan anak rawan terlantar sebanyak 10.322.674 anak.
Sumber On-Line : Lili Garliah, Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

Variabel Geopolitik dalam Permasalahan Kompleksitas Psikososial

Permasalahan ekonomi sebagaimana yang telah kita bahas di atas terkait erat

dengan perilaku manusia. Tumbuhnya paham-paham kapitalisme, sosialisme, dan juga

berbagai ideologi lain seperti komunisme didorong oleh community sense index yang

terbangun karena adanya kesepahaman pemikiran diantara konstituen masyarakat.

Dengan kata lain paham politis adalah sebuah bentuk kesepakatan yang diawali dengan

kesepahaman. Kemudian muncul retensi atau mengendapkan di dalam pikiran sebagai

bagian dari ideologi. Maka menurut Amos Pelmutter tidak ada kawan abdi dalam politik,

kecuali apabila memiliki satu tujuan. Konsep ini mirip atau menyerupai dengan akronim

AIDA ( attention-interest-desiree-action), atau konsep periklanan yang menjadikan

paparan terhadap info baik visual ( gambar), suara, gerakan (motion), maupun semantik (

kata-kata bermakna) sebagai entry point yang diharapkan menjadi pengaruh yang

signifikan pada proses pengambilan keputusan.

Konsep geopolitik yang kemudian berkembang menjadi sumber persoalan

psikososial yang sangat kompleks berangkat dari hal yang paling fundamental, yaitu

pembangunan karakter manusia. Banyak sistem terbukti gagal dalam proses

pengembangan sumber daya manusia. Piranti hukum, perundangan, dan peraturan yang
dikeluarkan negara atau otoritas pemerintahan ( desa, kecamatan, kabupaten, dan kota,

serta propinsi) acapkali tidak teraplikasi dengan sempurna pada saat elemen masyarakat

telah terpola sebaliknya. Mari kita lihat perilaku para pengemudi angkutan kota ( angkot)

yang berhenti seenaknya hanya sekedar untuk menaikturunkan penumpang dengan

mengabaikan fakta bahwa tempat yang digunakana berhenti adalah badan jalan sehingga

menimbulkan kemacetan parah. Bahkan acapkali kita melihat angkot yang berhenti

menunggu penumpang ( ngetem) tepat di bawah rambu dilarang berhenti ( stop) atau

parkir. Demikian pula ulah penumpang, dengan seenaknya juga menyegat angkot di

tempat yang tidak semestinya, misal perempatan atau bahkan di tengah jalan.

Apa dan bagaimana proses patofisiologi yang terjadi dapat disimak di bab

psikogenomik. Tetapi secara geopolitik kondisi kompleksitas yang muncul dari lemahnya

pranata hukum dan terjadinya dissonance ( ketidakselarasan antara

idea/pemikiran/pengetahuan dengan apa yang dikerjakan/dilakukan) dapat ditelusuri awal

muasalnya. Titik amatan yang amat menarik untuk disimak adalah peran regulator

komunitas secara psikososial. Peran ini identik dengan pranata hukum dan upaya

kongkret untuk menjaga serta memastikan bahwa semua elemen yang merupakan bagian

dari sebuah komunitas melaksanakan hak dan kewajibannya. Apabila law enforcement

gagal dilaksanakan dan hukuman tidak dieksekusi maka akan terjadi destruksi atau

kerusakan sistem yang berlangsung secara kronis.

Bila Dr. Robert Hare seorang psikiater dari Amerika Serikat mendefinisikan

kondisi psikopatik antara lain ditandai dengan adanya ketidaksesuaian antara apa yang

diyakini ( diketahui dan dipahami) dengan apa yang dilakukan, cenderung bersifat

parasitik, bersikap hedonis, tidak memiliki rasa bertanggungjawab serta sulit


berkomitmen, serta tidak dapat merencanakan masa depan, maka ciri-ciri individual itu

sudah dapat teramati di masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat kita sudah

menunjukkan gejala-gejala terjadinya psikopatik massal.

Psikopat massal yang terstruktur memang memiliki banyak faktor kausatif, tetapi

faktor yang diduga memiliki pengaruh sangat kuat adalah sistem yang kondusif. Jika

dalam pengertian dasar tentang psikopat salah satu ciri yang paling banyak disebut adalah

tidak sinkronnya antara idealisme/pengetahuan dengan fakta atau apa yang dikerjakan,

maka apabila dalam 1 kota warganya menyeberang dengan santai di bawah jembatan

penyeberangan sebenarnya sudah terkategori sebagai psikopat. Sistem yang kondusif bagi

tumbuh suburnya budaya hedon adalah sistem yang mendorong terjadinya insidensi

psikopat karena membiasakan ( habituasi) orang untuk mendapatkan hasil tanpa proses

atau usaha. Mari kita lihat berapa persen orang membuat SIM melalui proses yang sesuai

( melalui ujian) ? Berapa persen orang membuat KTP tanpa melalui perantara ? Dan

masih segar dalam ingatan kita berita-berita di media massa yang melaporkan adanya

upaya-upaya guru untuk membantu muri-muridnya yang tengah mengikuti ujian nasional

dengan memberikan jawaban di saat ujian berlangsung. Mari kita simak juga betapa

buruknya sistem manajemen transportasi kita, dimana ada sebuah pesawat diterbangkan

dengan instrumen yang terbukti rusak dan harus diganti, betapa masinis kereta api

menjalankan lokomotifnya tanpa mengabaikan tanda yang diberikan oleh petugas

pengatur perjalanan KA, dan berapa kali dalam sehari orang-orang di Jakarta memasuki

jalur Busway yang jelas peruntukannya bukan bagi kendaraan pribadi.

Variabel Lingkungan dalamPermasalahan Kompleksitas Psikososial


Hubungan antara manusia dan lingkungannya, peta peruntukan lahan hidup

Pembentukan karakteristik secara terstruktur karena tata nilai yang dikembangkan

dalam berbagai tingkatan ( hirarki) komunitas pada gilirannya akan termanifestasi dalam

perilaku manusia terhadap lingkungannya. Over eksploitasi kerap terjadi dan

menimbulkan masalah berantai dari hulu ke hilir yang sulit untuk diatasi kemudian.

Sebagai contoh kita dapat melihat bagaiamana manusia mengelola sumber daya

alam dengan begitu serampangan. Hutan yang semestinya menjadi sumber oksigen dan

reservoir bagi ketersediaan sumber daya hayati dan sumber daya air dibabat habis tanpa

peduli. Mengapa ? Karena yang dipertimbnagkans aat ini hanyalah komponen hutan yang

bernama kayu. Sebagai komoditas kayu bernilai tinggi dan dapat menghasilkan

keuntungan finansial yang besar. Keuntungan finansial pada gilirannya akan menjadi alat

tukar yang paling efektif dalam memperoleh kenyamanan. Akibatnya setiap tahunnya di

Indonesia 2% hutan rusak setiap tahunnya, bahkan secara analogi kira-kira hutan seluas

300x lapangan sepakbola dibabat setiap harinya. Catatan Walhi Riau, lebih dari 40%
hutan yang semestinya menjadi bagian dari kawasan konservasi rusak dan kehilangan

fungsi utamanya.

Kerusakan secara global juga terjadi. Kemajuan teknologi yang tidak diimbangi

dengan kebijakan berkelanjutan mengakibatkan emisi gas buang dari sektor industri dan

transportasi menimbulkan efek rumah kaca. Kini kita juga turut merasakan dampaknya,

di samudera Hindia tercipta Indian Ocean Dipole

Foto satelit yang dapat memperlihatkan perubahan tekanan di kawasan ( Australia-Asia-Oceania)

yang berakibat munculnya badai dan siklon tropis di sekitar Filipina dan Cina, akibatnya

aliran uap air tertarik ke daerah badai yang bertekanan rendah dan menjauhi kawasan

Indonesia. Sebagian kawasan Indonesia mengalami kekeringan kronis disertai suhu udara

tinggi yang sangat ekstrem ( di Jatiwangi suhu dapat mencapai 37-380 C).
Peta cuaca dan sebaran suhu di Eropa

Akibat sekunder dari kenaikan suhu dan perubahan iklim yang ekstrem ( siang dan

malam selisih suhu dapat mencapai 80C) menimbulkan persoalan adapatasi fisiologis

yang mempengaruhi sistem imunitas dan tingkat kerentanan terhadap penyakit infeksi.
Peta morbiditas Influenza di USA yang semakin meluas dan semakin meningkat frekuensinya karena

perubahan iklim global dan dugaan terjadinya mutasi biologis serta perubahan pola permutasi

Tidak hanya itu saja, Prof.Amin Soebandrio, MD, PhD, SpMK deputi pengembangan

sistem iptek Kantor Menteri Negera Ristek mengutip hasil penelitian Institut Psikiatri

London yang dimuat di harian Kompas, menyebutkan bawha pengaruh peningkatan suhu

ekstrem dapat pula menyebabkan meningkatnya angka bunuh diri. Hasil penelitian dari

tahun 1993 sampai dengan 2003 di Inggris raya menunjukkan bahwa pada 222 hari

dengan suhu di atas rerata ( 180C) terjadi lebih dari 50.000 kematian akibat bunuh diri.

Dr.Lisa Page memaparkan bahwa kemungkinan peningkatan suhu menjadikan produksi

serotonin berkurang.

Kasus lain yang tidak kalah pentingnya adalah pencemaran yang terjadi akibat gas

buang berisi komponen logam berat seperti timbal. Hasil kajian D Masters dari

Darmouth College yang sudah dipublikasikan oleh Breach publisher dengan judul

Environmental Pollution, Neurotoxicity, and Criminal Violence ( Joko Subinarto

dalam Kompas, 8 Oktober 2008) mengungkapkan bahwa banyak tindak kekerasan

dan kriminalitas diduga terkait dengan cemaran timbal.


Salah satu penyumbang polusi udara, kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin yang masih

mengandung timbal

Hipotesis Masters adalah polutan termasuk timbal mengakibatkan terjadinya

gangguan belajar, perilaku agresif, dan hilangnya kontrol terhadap perilaku impulsif.

Bahkan penelitian di Bandung yang dilakukan secara multisenter ( ITB, UI, dan

Unpad) pada tahun 2007 menunjukkan bahwa 66% dari populasi penelitian yang

tediri dari siswa/pelajar memiliki kadar timbal darah melampaui ambang batas yang

telah ditetapkan WHO ( 10 ug/dL).

Sementara keberadaan partikulat asing yang tidak kompatibel bagi manusia atau

bahkan makhluk hidup lainnya, dapat termanifestasi pada terjadinya reaksi imunitas yang

bersifat patologis ( hipersensitifitas dan autoimunitas). Saat ini insidensi alergi meningkat

pesat, dimana reaksi alergi dapat dimediasi oleh IgE ( antibodi), faktor komplemen ( C3a

dan 5a), zat radioakifitas, emisi elektromagnetik, ataupun paparan kimiawi lainnya.
Reaksi alergi yang dimediasi oleh IgE

Dalam konteks yang lebih terperinci secara akademis, pengaruh paparan yang

diakibatkan oleh perubahan kondisi lingkungan ( ulah manusia) bahkan dapat dipetakan

sampai ke tingkat genomik ( lihat bab yang memuat pembahasan tentang

Envirogenomik). Bahkan Martin Chalfie salah satu penerima hadiah Nobel Kimia 2008

yang turut mengembangkan metoda Green Fluorescent Protein ( GTP) untuk menjejaki

gen dan protein di dalam sel, mengatakan : ” Kita bisa secara langsung melihat ke dalam

tubuh binatang dan mengatakan di mana gen itu mulai beraktivitas, kapan dia aktif, serta

kapan memproduksi protein, dan ke mana perginya”, ( Kompas 14 Oktober 2008).

Dengan pengembangan metoda GTP tersebut pengaruh lingkungan terhadap gen akan

semakin mudah diamati, dan tentu saja ini akan memudahkan penelitian-penelitian yang
berusaha memetakan faktor-faktor perilaku, sosial, dan lingkungan yang mempengaruhi

serta berkontribusi pada perubahan profil genomik.

5 Gelombang Kehancuran Ummat dalam Perspektif Kompleksitas Psikososial

1. Degradasi kualitas lingkungan

2. Degradasi potensi hayati

3. Degradasi potensi bathiniyah

4. Degradasi akhlaq sosial

5. Necrocommunity- thanatocomm

BAB 3
Contoh Kasus-Kasus Kesehatan yang Berhubungan Erat dengan Kompleksitas
Psikososial

Kondisi Kompleksitas Psikososial yang berkesinambungan, memiliki intensitas


khusus, berdurasi panjang akan menimbulkan masalah kesehatan yang antara lain
ditandai dengan semakin meningkatnya pola-pola penyakit infeksius, degeneratif, dan
keganasan. Semua berawal dari setting dan tata nilai yang dijadikan acuan pikiran dalam
proses pengambilan keputusan. Penyakit degeneratif terkait erat dengan mekanisme
adapatasi dan interaksi antara manusia dengan lingkungannya, adanya faktor stressor dan
perubahan gaya hidup akan menimbulkan budaya dan perilaku kesehatan yang cenderung
bersifat merusak diri sendiri. Sebagai contoh pola pikir dan pola makan instan (
cenderung menikmati saja/ hedonis) akan menghasilkan kasus-kasus obesitas yang
kompleks, karena menajdi awal dari berbagai penyakit degeneratif lainnya.
Contoh Kasus Obesitas berat dan peta obesitas di USA dengan intesitas perwilayah

Beberapa kasus penyakit akibat perubahan gaya hidup, stress, dan buruknya
kondisi lingkungan yang sangat menarik untuk diamati dan diteliti lebih mendalam
adalah Penyakit Jantung Koroner dan keganasan ( Neoplasia/ kanker).

Kisah Pak Bambang


Pak Bambang adalah seorang pengusaha sukses separuh baya. Usianya berkisar
antara 48 sampai dengan 50 tahunan. Agak kelebihan berat badan dan akhir-akhir ini
terlihat jarang sekali berolahraga. Pagi itu di jok belakang mobil mewahnya yang tengah
dikemudikan sopir untuk emnuju ke kantor, ia merasakan sakit yang menjalar dari dada
sebelah kiri menuju ke arah lengan dan tangan kiri. Keringat dingin segera saja
bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, baju setelan kerjanya yang terbalut jas
berpantalon, basah kuyup. Pak Bambang mulai merasakan ada tindihan yang berat di atas
dadanya dan perlahan ia menyadari bahwa ia semakin sukar untuk bernafas. Pak
Bambang dilanda kepanikan. Tak lama kemudian Pak Bambang kehilangan kesadaran.
Sopir yang melihat kondisi pak Bambang melalui kaca spion segera saja membawa pak
Bambang ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Dari hasil pemeriksaan sementara
dokter yang bertugas jaga diduga pak Bambang terkena serangan penyakit jantung,
tepatnya penyakit jantung koroner. Untung saja karena pak Bambang segera
mendapatkan perawatan yang dibutuhkannya, ia selamat. Dari ahsil pemeriksaan
laboratorium didapatkan adanya peningkatan beberapa kadar kimiawi tertentu di darah
pak Bambang. Parameter laboratorik yang meningkat cukup tajam itu antara lain adalah
kadar kolesterol total, trigliserida, dan homosistein. Tekanan darahnya juga didapati agak
tinggi, dua kali pengukuran yang dilakukan oleh perawat, tercatat tekanan darah pak
Bambang 165/105. Sudah melampaui batas yang diperkenankan bagi orang seusianya.
Apa yang sesungguhnya terjadai pada Pak Bambang ? Kejadian ini bukanlah kejadian
mendadak yang terjadi begitu saja. Semua proses yang terakumulasi menjadi gejala
penyakit jantung koroner itu boleh jadi merupakan akibat dari ulah pak Bambang sendiri.
Bertahun-tahun beliau mengkonsumsi menu makan yang tidak seimbang, miskin serat,
kaya garam, dan tinggi kolesterol yang dipadupadankan dengan jarangnya ia melakukan
aktivitas fisik atau olahraga yang teratur serta dibumbui dengan tingkat ketegangan dan
stress yang terus-menerus tinggi. Maklumlah, beliaukan termasuk salah satu pengusaha
tersukses di negeri ini. Semua faktor pencetus tersebut masih diperparah lagi dengan
kebisaan merokoknya yang sulit untuk dikendalikan, apalagi dihentikan.

Peta perokok di Amerika Serikat, tampak di beberapa negara bagian angkanya tinggi sekali
Kadar garam yang tinggi disertai dengan kurangnya kandungan serat di makanan
akan mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah yang disertai dengan
peningkatan kadar kolesterol atau lemak darah. Sel-sel makrofag yang bertugas untuk
menghantarkan lemak dari sekujur tubuh untuk diolah kembali di hati kewalahan,
akibatnya mekanisme kerja sistem tubuh lain yang terkait dengan tugasnya terganggu
pula. Sel-sel makrofag berlemak ini disebut sebagai sel busa (foam cell). Seiring dengan
tingginya tekanan darah maka aliran darahpun akan semakin deras. Tingkat kederasan
aliran darah ini akan melampaui batas toleransi dinding pembuluh darah bila diperberat
dengan tingkat kekentalan (viskositas), dan faktor sel dinding pembuluh darah (sel
endotel) yang tidak optimal kondisinya. Akibatnya di beberapa daerah tikungan yang
bersudut cukup tajam akan terjadi proses penggerusan yang lambat laun akan
menimbulkan kecederaan (luka). Daerah dimana arus aliran darah paling deras dan
pembuluhnya berliku-liku adalah di daerah pembuluh darah yang beranama pembuluh
koroner, alias pembuluh darah yang bertugas sebagai jalur distribusi penyuplai kebutuhan
nutrisi dan oksigen otot-otot jantung sendiri. Kerusakan di pembuluh darah koroner ini
biasanya akan berakibat dengan munculnya penyempitan dan sumbatan pembuluh darah.
Bagiaman hal tersebut dapat terjadi ? Kisahnya kira-kira begini, titik perlukaan atau
daerah yang mengalami cedera akan berusaha untuk segera memperbaiki dirinya. Dalam
upaya perbaikan tersebut dikerahkan unit-unit sel keping darah merah atau trombosit,
faktor pembekuan, dan juga faktor pertumbuhan. Kesmua faktor yang tergabung dalam
sistem imun itu berpartisipasi aktif dan saling bersinergi. Sayangnya karena ada kondisi
yang tidak menguntungkan akibat kehadiran lemak bebas yang terlalu tinggi kadarnya di
plasma darah, maka terjadilah proses penumpukan sel-sel busa beserta lemak-lemak
bebas yang sebagian diantaranya telah berubah struktur molekulnya menjadi radikal
karena teroksidasi. Proses oksidasi adalah proses pemutusan rantai molekul akibat adanya
ikatan antara atom O (oksigen) dengan atom H (hidrogen) yang selanjutnya akan
membentuk gugus hidroksil. Proses ini berkonsekuensi adanya elektron dari gugus lemak
bebas yang kehilangan pasangannya. Inilah yang disebut keadaan radikal, karean gugus
lemak bebas yang elektronnya tidak berapsangan ini cenderung akan merampas pasangan
dari gugus molekul lainnya. Mengapa sel busa yang berisi lemak dan gugus radikal lemak
bebas menempel di daerah pembuluh darah yang terluka ? Karena di sana sedang ada
proses perbaikan yang disertai dengan pertumbuhan jaringan otot polos sebagai respon
dari keadaan cedera, maka terjadi semacam tonjolan yang menghambat aliran darah.
Adanya “polisi tidur” itulah yang mengakibatkan gugus lemak radikal dan sel-sel busa
mudah menempel. Kondisi ini diperparah dengan menempelnya beberapa unsur lain yang
semestinya tidak ikut-ikutan berhenti di sana. Terbentuklah sebuah bukit kecil yang biasa
disebut ateroma. Berawal dari sinilah sumbatan dan penyempitan pembuluh darah
koroner jantung bermula.
Gejala serangan jantung yang dirasakan oleh pak Ujang

Gambar pembentukan sumbatan di pembuluh darah koroner jantung


Gambar daerah jaringan otot yang rusak akibat kekurangan oksigen

Gambar pembuluh darah koroner yang tersumbat karena proses aterosklerosis dan otot jantung yang
rusak karena kekurangan oksigen
Ilustrasi kisah ini menggambarkan pada kita semua bahwa sistem imun dapat saja
berubah menjadi faktor penyebab penyakit bila kita mengacaukan mekanisme kerja
normalnya. Bukankah sistem imun memang bertugas untuk memperbaiki jaringan yang
cedera ? Tetapi bila proses perbaikan itu diganggu dengan kehadiran unsur-unsur yang
semestinya tidak ikut campur, maka dapat saja sistem imun gagal menjalankan tugasnya,
dan pak Ujangpun akhirnya menderita Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Patofisiologi
Penyakit jantung koroner adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
tersumbatnya pembuluh arteri koroner pada jantung akibat adanya plak atau bercak –
bercak lemak pada dinding arteri koroner, yang bahkan prosesnya sudah terjadi sejak dari
kanak – kanak dan merupakan suatu fenomena alamiah dan tidak selalu harus menjadi
lesi aterosklerotik. Sekarang dianggap bahwa terdapat banyak faktor yang saling
berkaitan yang mempercepat terjadinya proses aterogenik. Telah ditemukan beberapa
faktor yang dikenal sebagai faktor resiko yang meningkatkan kerentanan terhadap
terjadinya aterosklerosis koroner pada individu – individu tertentu. Ada faktor resiko
yang dapat diubah dan ada juga faktor resiko yang tidak dapat diubah. Faktor resiko yang
tidak dapat diubah contohnya adalah usia, jenis kelamin, riwayat keluarga dan ras.
Sedangkan faktor resiko yang dapat diubah contohnya seperti hipertensi, merokok, diet
tinggi lemak jenuh, kolestrol dan kalori, gaya hidup yang kurang banyak bergerak, dan
stres psikologik. Perlu digarisbawahi faktor resiko stres psikologik. Hal itu bisa terjadi
karena berhubungan dengan sistem endokrin tubuh yang memberi respon saat terjadi
stres baik fisik ataupun psikis dengan cara meningkatkan kadarnya didalam tubuh.
Gangguan psikiatri sering muncul sebagai komplikasi atau kondisi komorbid pada
orang-orang dengan penyakit kardiovaskular. Depresi, ansietas, delirium, dan gangguan
kognitif biasa muncul.
Karena modulasi autonomik kardiak sensitif terhadap stres emosional akut, seperti
kemarahan, ketakutan, dan kesedihan yang intens, emosi akut, terutama ansietas,
mempengaruhi jantung. Kematian jantung secara tiba-tiba yang berhubungan dengan
distres emosional telah tercatat dalam sejarah di berbagai kebudayaan. Gejala ansietas
yang tinggi berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit jantung.
Pada tahun 1970 dan 1980-an, banyak penelitian mengenai hubungan antara pola
perilaku yang dikarakteristikan dengan mudah marah, ketidaksabaran, permusuhan,
bekerja keras yang kompetitif, dan terburu-buru (pola perilaku tipe A) dan penyakit
jantung koroner. Dari beberapa penelitian epidemiologi prospektif, ditemukan bahwa
pola perilaku tipe A berhubungan dengan peningkatan insidensi infark miokard dan
kematian yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner.
Hubungan antara stres, pola perilaku tipe A, dan penyakit jantung koroner
tersebut dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut:

stres atau pembawaan


situasi menantang konstitusional

Reaksi Penyakit arteri


Pola perilaku tipe A simpatetik dan koroner
kardiovasikular Faktor mediasi:
aterosklerosis, hipertensi,
agregasi platelet

Subdivisi psikoneuroimunologi mempelajari interaksi antara sistem saraf pusat,


sistem imun, dan stres. Sistem saraf dan sistem imun yang memberikan respon terhadap
berbagai rangsangan, berperan dalam regulasi homeostasis tubuh. Mekanisme kerja
antara kedua sistem tersebut dapat secara endokrin atau parakrin. Neurotransmitor,
neuropeptida, dan sitokin yang diproduksi sistem saraf pusat dapat meningkatkan atau
menghambat respon imun. Sebaliknya, mediator dan sitokin yang diproduksi sistem imun
juga dapat mempengaruhi sistem saraf.

STRES, SISTEM SARAF, DAN IMUNITAS


Berbagai defenisi mengenai stres telah dikemukakan oleh para ahli dengan
versinya masing-masing, walaupun pada dasarnya antara satu defenisi dengan defenisi
lainnya terdapat inti persamaannya. Selye (1976) mendefinisikan stres sebagai ‘the
nonspesific response of the body to any demand‘, sedangkan Lazarus (1976)
menyebutkan ‘stress occurs where there are demands on the person which tax or exceed
his adjustive resources’ (Golberger & Breznitz, 1982, hal. 39). Dari kedua defenisi diatas
tampak bahwa stres lebih dianggap sebagai respon individu terhadap tuntutan yang
dihadapinya. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu
tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan fisiologis dan tuntutan eksternal yang
muncul dalam bentuk fisik dan social. Hans Selye juga menambahkan bahwa tidak ada
aspek tunggal dari stimulus lingkungan yang dapat mengakibatkan stres, tetapi semua itu
tergabung dalam suatu susunan total yang mengancam keseimbangan (homeostatis)
individu.
Stres sebenarnya merupakan istilah fisik yang berarti kekuatan potensial yang
dapat mengubah sesuatu objek. Namun dalam hubungannya dengan konteks hidup kita,
stres berarti keadaan yang merupakan akibat uji atau ancaman terhadap kapasitas adaptif
kita, sesuatu yang menggganggu keseimbangan dinamik atau homeostatik. Dengan kata
lain, stres merupakan penilaian persepsi atau kognitif yang dibuat manusia sendiri
terhadap impak keadaan tertentu atau konstelasi kejadian dalam hidup.
Hans Selye (1950) mengembangkan konsep yang dikenal dengan Sindrom
Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrome) yang menjelaskan bila seseorang
pertama kali mengalami kondisi yang mengancamnya, maka mekanisme pertahanan diri
pada tubuh diaktifkan. Kelenjar-kelenjar tubuh memproduksi sejumlah adrenalin kortison
dan hormon-hormon lainnya serta mengkoordinasikan perubahan-perubahan pada sistem
saraf pusat. Jika tuntutan-tuntutan berlangsung terus, mekanisme pertahanan diri
berangsur-angsur akan melemah, sehingga organ tubuh tidak dapat beroperasi secara
adekuat. Jika reaksi-reaksi tubuh kurang dapat berfungsi dengan baik, maka hal itu
merupakan awal munculnya penyakit “gangguan adaptasi”. Penyakit-penyakit tersebut
muncul dalam bentuk maag, serangan jantung, tekanan darah tinggi, atau keluhan-
keluhan psikosomatik lainnya.
Lazarus dan Launier (1978) mengemukakan tahapan-tahapan proses stres sebagai
berikut :
1. Stage of Alarm
Individu mengidentifikasi suatu stimulus yang membahayakan. Hal ini akan
meningkatkan kesiapsiagaan dan orientasinya juga terarah kepada stimulus
tersebut.
2. Stage of Appraisals
Individu mulai melakukan penilaian terhadap stimulus yang mengenainya.
Penilaian ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman individu tersebut.
Tahapan penilaian ini dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Primary Cognitive Appraisal
Adalah proses mental yang berfungsi mengevaluasi suatu situasi atau stimulus
dari sudut implikasinya terhadap individu, yaitu apakah menguntungkan,
merugikan, atau membahayakan individu tersebut.
b. Secondary Cognitive Appraisal
Adalah evaluasi terhadap sumber daya yang dimiliki individu dan berbagai
alternatif cara untuk mengatasi situasi tersebut. Proses ini dipengaruhi oleh
pengalaman individu pada situasi serupa, persepsi individu terhadap
kemampuan dirinya dan lingkungannya serta berbagai sumberdaya pribadi dan
lingkungan.
3. Stage of Searching for a Coping Strategy
Konsep ‘coping’ diartikan sebagai usaha-usaha untuk mengelola tuntutan-tuntutan
lingkungan dan tuntutan internal serta mengelola konflik antara berbagai tuntutan
tersebut. Tingkat kekacauan yang dibangkitkan oleh satu stresor (sumber stres)
akan menurun jika individu memiliki antisipasi tentang cara mengelola atau
menghadapi stresor tersebut, yaitu dengan menerapkan strategi ‘coping’ yang
tepat. Strategi yang akan digunakan ini dipengaruhi oleh pengalaman atau
informasi yang dimiliki individu serta konteks situasi dimana stres tersebut
berlangsung.
4. Stage of The Stress Response
Pada tahap ini individu mengalami kekacauan emosional yang akut, seperti sedih,
cemas, marah, dan panik. Mekanisme pertahanan diri yang digunakan menjadi
tidak adekuat, fungsi-fungsi kognisi menjadi kurang terorganisasikan dengan
baik, dan pola-pola neuroendokrin serta sistem saraf otonom bekerja terlalu aktif.
Reaksi-reaksi seperti ini timbul akibat adanya pengaktifan yang tidak adekuat dan
reaksi-reaksi untuk menghadapi stres yang berkepanjangan.
Dampak dari keadaan ini adalah bahwa individu mengalami disorganisasi dan
kelelahan baik mental maupun fisik. Disamping membagi stres kedalam tahap-tahap
diatas, Lazarus juga membedakan istilah-istilah harm-loss, threat, dan challenge. Harm-
loss dan threat memiliki konotasi negatif. Keduanya dibedakan berdasarkan perspektif
waktunya. Harm-loss digunakan untuk menerangkan stres yang timbul akibat antisipasi
terhadap suatu situasi. Baik stres akibat harm-loss maupun threat pada umumnya akan
dapat berupa gangguan fisiologis maupun gangguan psikologis.
Menurut penelitian Baker dkk (1987), stress yang dialami oleh seseorang akan
merubah cara kerja sistem kekebalan tubuh. Para peneliti ini juga menyimpulkan bahwa
stress akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dengan cara
menurunkan jumlah fighting disease cells. Akibatnya, orang tersebut cenderung sering
dan mudah terserang penyakit yang cenderung lama masa penyembuhannya karena tubuh
tidak banyak memproduksi sel-sel kekebalan tubuh, ataupun sel-sel antibodi banyak yang
kalah. Dua orang peneliti yaitu Plaut dan Friedman (1981) berhasil menemukan
hubungan antara stress dengan kesehatan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa
stress sangat berpotensi mempertinggi peluang seseorang untuk terinfeksi penyakit,
terkena alergi serta menurunkan sistem autoimunnya. Selain itu ditemukan pula bukti
penurunan respon antibodi tubuh di saat mood seseorang sedang negatif, dan akan
meningkat naik pada saat mood seseorang sedang positif. peneliti yang lain yaitu Dantzer
dan Kelley (1989) berpendapat tentang stress dihubungkan dengan daya tahan tubuh.
Katanya, pengaruh stress terhadap daya tahan tubuh ditentukan pula oleh jenis, lamanya,
dan frekuensi stress yang dialami seseorang. Peneliti lain juga mengungkapkan, jika
stress yang dialami seseorang itu sudah berjalan sangat lama, akan membuat letih health
promoting response dan akhirnya melemahkan penyediaan hormon adrenalin dan daya
tahan tubuh.
Antara saraf-psikis, sistem imun dan endokrin ada aksis yang menggambarkan
sirkuit regulatori.
Indikasi stres dapat terlihat dari kadar hormon kortisol dan hormon adrenalin (
katekolamin).

KORTISOL

Kortisol disebut sebagai hormon stres. Dalam keadaan stres, kadarnya akan
meningkat. Kadar tertinggi terjadi di antara tengah malam sampai pagi. Dengan kadar
normal pagi hari 38-690 nmol/liter dan 69-345 nmol/liter di malam hari.

Jika jumlah kortisol dalam tubuh meningkat, maka fungsi imunitas dari jaringan
limfoid menurun hingga kurang dari normal.
Fungsi kortisol pada stres dan peradangan:
Stres (fisik atau neurogenik) meningkatkan sekresi ACTH.
Jenis stres yang meningkatkan pelepasan kortisol:
1. hampir semua jenis trauma
2. Infeksi
3. Kepanasan atau kedinginan yang hebat
4. Penyuntikan norepinefrin dan obat2 simpatomimetik lainnya
5. Pembedahan
6. Penyuntikan bahan yang bersifat nekrolisis di bawah kulit
7. Mengekang seekor binatang sehingga tidak dapat bergerak
8. Hampir setiap penyakit yang menyebabkan kelemahan
Mekanismenya masih belum jelas, tetapi diduga Glukokortikoid memicu
pengangkutan asam amino dan lemak dengan cepat dari cadangan sel-selnya. Asam
amino dan lemak tersebut dipakai untuk energi dan sintesis senyawa lain termasuk
glukosa yang dibutuhkan oleh berbagai jaringan tubuh yang berbeda.
Jaringan-jaringan yang rusak sementara sangat kekurangan protein, dapat
menggunakan asam amino yang baru tersedia untuk membentuk protein baru yang
penting untuk kehidupan sel.
Efek antiinflamasi kortisol :
1. Kortisol dapat menghambat tahap awal dari proses inflamasi bahkan sebelum
inflamasi itu sendiri mulai terjadi.
2. Bila proses inflamasi sudah dimulai, proses ini akan menyebabkan resolusi
inflamasi yang cepat dan meningkatkan kecepatan penyembuhan.
Akibat efek antiinflamasi tersebut, dapat terjadi beberapa hal:
1. Menyebabkan stabilisasi membran lisosom sehingga membuat membran lisosom
intraselular menjadi lebih sulit pecah daripada keadaan normal. Oleh karena itu,
sebagian besar enzim proteolitik yang dilepaskan oleh sel-sel yang rusak untuk
menimbulkan inflamasi, yang terutama disimpan dalam lisosom, dilepaskan
dalam jumlah yang sangat berkurang.
2. Kortisol menurunkan permeabilitas kapiler (mungkin sebagai efek sekunder dari
penurunan pelepasan enzim proteolitik) sehingga mencegah terjadinya kehilangan
plasma ke dalam jaringan.
3. Kortisol juga menurunkan migrasi sel darah putih ke dalam daerah inflamasi dan
fagositosis sel yang rusak. Kortisol menghilangkan pembentukan prostaglandin
dan leukotrien.
4. Kortisol menekan sistem imun karena menurunkan produksi limfosit, terutama
limfosit T.
5. Kortisol menurunkan demam terutama karena menurunkan pelepasan IL-1 dari
sel darah putih, yang merupakan salah satu perangsang utama terhadap sistem
temperatur hipotalamus.

Kortisol juga menurunkan jumlah eosinofil dan limfosit di dalam darah, serta
menyebabkan atrofi jaringan limfoid, di seluruh tubuh. Akibatnya, pengeluaran sel T dan
antibodi dari jaringan limfoid menurun sehingga tingkat kekebalan terhadap sebagian
besar benda asing yang memasuki tubuh akan berkurang.

Peningkatan kortisol mengindikasikan Cushing’s disease yang dihubungkan


dengan anxietas, depresi, dan variasi kondisi yang lain seperti sulit berkonsentrasi dan
daya ingat menurun. Seorang peneliti menyebutkan bahwa hiperkortisolemia dapat
merusak hipocampal neuron sehingga dapat membuat stres.

Pada keadaan normal, paraventricular nucleus melepaskan CRH yang


menstimulasi ACTH dari anterior pituitary. Lalu ACTH dilepaskan dengan -endorphin
dan -lipotropin (2 protein yang disintesis dari prekursor protein yang sama dari yang
mensintesis ACTH). Lau ACTH merangsang pelepasan kortisol dari adrenal cortex.
Kortisol memiliki dua mekanisme feedback:
1. Fast : Sensitif terhadap kecepatan konsentrasi kortisol, dioperasikan melalui
reseptor korstisol pd hipocampus dan penurunan pelepasan ACTH
2. Slow : Sensitif terhadap konsentrasi kortisol yang menetap, diperkirakan untuk
mengoperasikan pituitary adrenal.

ADRENALIN
Adrenalin dan noradrenalin adalah sistem pertahanan tubuh yang pertama muncul
setiap kali terjadi stres mendadak Saat stres, keluarlah hormon adrenalin yang
menyebabkan jantung berdebar keras. Dalam keadaan marah terjadi pelepasan hormon
stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang
bertambah dari keping-keping darah. Selain itu juga, detak jantung meningkat melebihi
batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh
karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung. Saat tertawa, tubuh
melepaskan hormon adrenalin dan secara otomatis tercipta efek antiadrenalin, ketegangan
mereda dan tekanan darah menurun.
Kelenjar endokrin, hormon neuroendokrin berperan dalam regulatori positif atau
negatif terhadap makrofag yang berfungsi dalam inflamasi dan respon imun. Limfosit dan
makrofag memiliki resptor untuk Adreno Corticotropic Hormone (ACTH),
glukokotikosteroid, insulin, growth hormone, prolaktin, estradiol, dan testosteron.
Limfosit juga melepas ACTH.
Dalam biakan sel, epinefrin, norepinefrin, dan 6-hidroksidopamin menekan
mitosis sel T dan diferensiasi sel B untuk menjadi sel plasma. Mediator yang dilepas
saraf diduga mempengaruhi Antigen Presenting Cell (APC) seperti makrofag dan sel
dendritik untuk mengurangi skeresi IL-1 yang akhirnya mengurangi intensitas respon sel
T misalnya terhadap rangsangan antigen secara langsung.
Antara sistem imun dan neuroendokrin ada sirkuit regulatori bidireksional.
Neuroendokrin dan sistem imun saling mempengaruhi. Neurotransmiter seperti
adrenalin (epinefrin), noradrenalin, substansi P, vasoactive intestinal peptide (VIP), dan 5
hidroksitriptamin (5HT) memiliki efek yang luas dan spesifik terhadap fungsi sistem
imun. Mekanisme efektor imun sangat terintegrasi dalam jaring yang menyangkut sistem
saraf dan endokrin.

Stres akut atau kronis menunjukkan berbagai efek terhadap sistem imun. Stres
yang berlangsung lebih dari beberapa jam, akan mempengaruhi sistem imun. Sifat
sinyalnya tergantung dari lama dan rangsangan stres. Rangsangan stres akut seperti
bising, ansietas akut meningkatkan jumlah sel T dalam sirkulasi. Hal tersebut disebabkan
oleh saraf simpatis yang melepas katekolamin (misalnya epinefrin). Serat saraf yang
melepas katekolamin menginervasi kelenjar getah bening. Kadar tinggi katekolamin juga
dilepas ke dalam sirkulasi oleh medula kelenjar adrenal. Sel T mengekspresikan reseptor
untuk epinefrin dan rangsangan terhadap reseptor tersebut mempengaruhi sel T untuk
menurunkan ekspresi molekul integrin sehingga sel T dicegah menempel pada endotel
dan bermigrasi ke jaringan. Akibatnya, sel T mengumpul dalam darah.
Sebab mengapa sel T dipengaruhi hormon adrenergik selama fase akut stres,
belum jelas. Sebagian diduga karena respon flight or fight. Saraf simpatis juga dicegah
aktivitas sistem imun, terutama hipersensitivitas tipe I. Respon fight or flight adalah
respon tubuh kita yang primitif dan otomatis, menyiapkan tubuh untuk “berkelahi” atau
“melarikan diri” dari serangan, bahaya, atau ancaman agar dapat bertahan. Respon ini
berhubungan dengan hipotalamus, yang jika distimulasi akan menginisiasi sel saraf untuk
melepaskan zat-zat seperti adrenalin, noradrenalin, dan kortisol untuk mengalir ke dalam
darah. Lalu tubuh kita akan mengalami perubahan. Pernafasan menjadi cepat, darah
mengalir lebih cepat ke otot dan ekstrimitas. Pupil berdilatasi. Detak jantung pun
meningkat.
Ketakutan dan kekhawatiran, menyebabkan penyakit jantung, penyakit mental,
kepanikan, depresi, serangan jantung, dan fobia. Ketika tubuh kita menanggapi ketakutan
dan kekhawatiran maka akan memicu pelepasan hormon adrenalin secara berlebihan,
yang menyebabkan percepatan denyut jantung, peningkatan ventilasi paru, yang
abnormal, telapak tangan berkeringat dan meningkatkan kontraksi sistem pencernaan.
Ketakutan dan kekhawatiran yang berkesinambungan dapat menyebabkan kelelahan
adrenalin, kelelahan, kegelisahan dan kepanikan, gejala sulit buang air besar dan sakit
kepala karena ketegangan. Kelelahan fisik dan emosional serta kelemahan kekebalan
tubuh dapat terjadi yang pada akhirnya terjangkitnya penyakit.
Untuk dapat memetakan hubungan antara masalah psikososial yang bersifat
kompleks dengan kondisi psikoneurosains yang berakhir dengan tercetusnya penyakit
jantung koroner, maka ada baiknya kita mengekplorasi faktor fisikawi dan fisiologi yang
menunjang terjadinya PJK.

Proses Aliran Darah Jantung


Jantung dibagi menjadi separuh kanan dan kiri dan memiliki empat bilik, bilik
bagian atas dan bawah di kedua belahannya.
Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik masuk ke atrium kanan melalui vena-
vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Tetes darah yang masuk ke atrium kanan
kembali dari jaringan tubuh, telah diambil O2nya dan ditambahi CO2. Darah yang
mengalami deoksigenasi parsial tersebut mengalir dari atrium kanan ke dalam ventrikel
kanan, yang memompanya keluar melalui arteri pulmonalis ke paru.

Di dalam paru, tetes darah tersebut kehilangan CO2 ekstranya dan menyerap O2
segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Darah kaya oksigen
yang kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa
yang mendorong darah ke semua sistem tubuh kecuali paru.
Arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri adalah aorta. Aorta
bercabang menjadi arteri besar untuk memperdarahi berbagai jaringan tubuh.
Sirkulasi sistemik menyuplai seluruh jaringan tubuh kecuali paru-paru dengan
aliran darah, hal ini juga disebut sirkulasi besar atau sirkulasi perifer.
Sirkulasi Koroner
Aatomi Fisiologik Penyediaan Darah Koroner
- Arteri koronaria utama terletak pada permukaan jantung dan arteri-arteri kecil
menembus dari permukaan masuk ke dalam massa otot jantung.
- Darah hampir seluruhnya masuk melalui arteri-arteri ini sehingga jantung menerima
pennyediaan darah nutritifnya.
- Arteri koronaria kiri terutama menyuplai bagian anterior dan lateral dari ventrikel
kiri.
- Arteri koronaria kanan menyuplai sebagian besar ventrikel kanan serta bagian
posterior ventrikel ventrikel kiri pada 80-90% orang.
- Sebagian besar aliran darah vena dari ventrikel kiri meninggalkan sinus koronarius
yang merupakan 75% dari aliran darah koroner total dan sebagian besar darah vena
dari ventrikel kanan mengalir melalui vena kardiakus anterior kecil langsung ke
dalam atrium kanan, tidak melalui sinus koronarius.

Aliran Darah Koroner Normal


- Aliran darah koroner sewaktu istirahat pada manusia rata-rata sekitar 225 ml/menit,
yaitu kira-kira 0.7-0.8 mililiter per gram otot jantung, atau 4-5% curah jantung total.
- Aliran darah di ventrikel kiri menurun hingga ke nilai yang rendah selama sistol, yang
berlawanan dengan aliran di rangkaian pembuluh lain dalam tubuh, penyebabnya
adalah kompresi yang kuat dari otot ventrikel kiri di sekeliling pembuluh
intramuskular selama sistol.
- Selama diastol, otot jantung berelaksasi dan tidak lagi menghambat aliran darah yang
melalui kapiler ventrikel kiri, sehingga darah sekarang mengalir dengan cepat selama
seluruh diastol.
- Aliran darah yang melalui arteri kapiler koroner ventrikel kanan juga mengalami
perubahan fasik selama siklus jantung, tetapi karena kekuatan kontraksi ventrikel
kanan jauh lebih kecil daripada ventrikel kiri, maka perubahan fasik yang terbalik
hanya berlangsung parsial, berbeda dengan yang terdapat di ventrikel kiri.

Aliran Darah Epikardial Dibanding Subendokardial-Pengaruh Tekanan


Intramiokardial
- Selama kontraksi jantung, semua otot jantung memeras ke arah pusat ventrikel,
artinya, otot ventrikel yang berdekatan dengan ruang ventrikel (otot subendokardial)
memeras darah dalam ventrikel, otot di lapisan tengah ventrikel memeras darah dalam
ventrikel dan otot subendokardial, dan otot yang paling luar memeras otot di bagian
tengah dan otot subendokardial juga darah dalam ventrikel.
Susunan khusus pembuluh koroner
- Arteri koronaria epikardial: pada permukaan otot jantung yang menyediakan darah
bagi jantung
- Arteri Intramuskular : lebih kecil menembus otot, menyediakan kebutuhan makanan,
untuk kemudian menuju ke endokardium.
- Tepat dibawah endokardium membentuk pleksus dari arteri-arteri subendokardial.
Pengendalian Aliran Darah Koroner

Metabolisme Lokal Sebagai Pengendali Utama Aliran Korner


- Aliran darah yang melalui sistem koroner diatur hampir seluruhnya oleh vasodilatasi
arteri lokal sebagai responnya terhadap kebutuhan otot jantung akan makanan.
- Bilamana kekuatan kontraksi meningkat, tanpa memperhatikan penyebabnya, aliran
darah koroner meningkat meningkat secra bersamaan, sebaliknya penurunan aktivitas
diikuti dengan penurunan aliran darah.

Kebutuhan Oksigen Sebagai Faktor Utama Dalam Pengaturan Aliran Darah


Lokal
- Aliran darah di sistem koroner biasanya diatur hampir sebanding dengan dengan
kebutuhan otot jantung akan oksigen.
- Penurunan konsentrasi oksigen di jantung menyebabkan dibebaskannya bahan
vasodilator dari sel-sel otot, dan hal ini menimbulkan dilatasi arteriol.
- Substansi dengan potensi vasodilator terbesar adalah adenosin.
- Dengan adanya konsentrasi oksigen yang sangat renadah di sel-sel otot, maka
sebagian besar ATP sel berubah menjadi adenosin monofosfat; kemudian sebagian
kecil mengalami penguraian lebih lanjut guna membebaskan adenosin ke dalam
cairan jaringan otot jantung.
- Sesudah adenosin menimbulkan vasodilatasi, sebagian besar diabsorbsi ke dalam sel-
sel jantung untuk digunakan kembali.

Aktivitas Listrik di Jantung


Impuls jantung berasal dari nodus SA, pemacu jantung, yang memiliki kecepatan
depolarisasi spontan ke amabng yang tertinggi. Setelah dicetuskan, potensial aksi
menyebar ke seluruh atrium kanan dan kiri, sebagian dipermudah oleh jakur
oenghantaran khusus, tetapi sebagien besar melalui penyebaran impuls dari sel kesel
melalui gap junction. Impuls berjalan dari atrium ke dalam ventrikel melalui nodus AV,
satu-satunya titik kontak listrik antara kedua bilik tersebut . Potensial aksi berhenti
sebentar di nodus AV, untuk memastikan bahwa kontraksi atrium mendahului kontraksi
ventrikel agar pengisian ventrikel berlangsung sempurna. Impuls kemudian dengan cepat
berjalan ke septum anterventrikel melalui berkas His dan secara cepat disebarkan ke
seluruh miokardium melalui serat-serat Purkinje. Sel-sel ventrikel lainnya siaktifkan
melalui penyebaran impuls dari sel ke sel melalui gap junction. Dengan demikian, atrium
berkontraksi sebagai satu kesatuan, siikuti oleh kontraksi sinkron ventrikel setelah suatu
jeda singkat.
Potensial aksi serat-serat jantung kontraktil memperlihatkan fase positif yang
berkepanjangan , atau fase datar yang disertai oleh periode kontraksi yang lama, untuk
memastikan agar waktu ejeksi adekuat. Fase datar ini terutama disebabkan oleh
pengaktifan saluran Ca lambat. Karena terdapat periode refrakter yang lama dan fase
datar yang berkepanjangan, penjumlahan dan tonus jantung tidak mengkin terjadi. Hal ini
memastikan bahwa terdapat periode kontraksi dan relaksasi yang berganti-ganti sehingga
dapat memopa darah.
Penyebaran aktivitas listrik ke seluruh jantung dapat direkam dari permukaan
tubuh. Rekaman ini, EKG, dapat m,emberi informasi penting mengenai jantung

Karakteristik Elektrokardiogram Normal

Elektrokardiogram normal terdiri atas sebuah gelombang P, sebuah kompleks


QRS, dan sebuah gelombang T. Seringkali kompleks QRS itu terdiri atas tiga gelombang
yang terpisah, yakni gelombang Q, gelombang R dan gelombang S, tetapi keadaan tidak
selalu ditemukan.
Gelombang P
Disebabkan oleh potensial listrik yang dicetuskan sewaktu atrium berdepolarisasi sbelum
berkontraksi.
Kompleks QRS
Disebabkan oleh potensial listrik yang dibangkitkan sewaktu ventrikel berdepolarisasi
sebelum berkontraksi, yaitu sewaktu gelombang depolarisasi menyebar melewati
ventrikel.
Oleh karena itu, gelombang P maupun komponen-komponen kompleks QRS disebut
sebagai gelombang depolarisasi.
Gelombang T
Disebabkan oleh potensial listrik yang dicetuskan sewaktu ventrikel pulih dari keadaan
depolarisasi.
Di dalam otot ventrikel proses ini biasanya terjadi selama 0.25-0.35 detik sesudah
depolarisasi, dan gelombang ini dikenal sebagai gelombang repolarisasi. Jadi, gambaran
elektrokardiogram terdiri atas gelombang depolarisasi dan gelombang repolarisasi.
Courtessy of Dr.dr.Yoke S ( Biomedik- STEI ITB)

Aspek Fisika Medis Sistem Aliran Sirkulasi Darah

Hubungan Antara Tekanan, Aliran Dan Tahanan.


Aliran melalui pembuluh darah ditentukan oleh dua faktor: (1) perbedaan tekanan
antara kedua ujung pembuluh (seringkah juga disebut gradien tekanan), yaitu tenaga yang
mendorong darah melalui pembuluh, dan (2) rintangan bagi aliran darah melalui
pembuluh, yang disebut tahanan vaskular. Gambar 1 menggambarkan hubungan ini,
terlihat segmen pembuluh darah yang berlokasi di manapun dalam sistem sirkulasi.

Gradien tekanan
P1 P2

Tahanan aliran darah


Gambar 1 Hubungan antara tekanan, tahanan dan aliran darah
P1 merupakan tekanan pada permulaan pembuluh; pada ujung lain tekanannya
adalah P2. Tahanan untuk aliran (R) terjadi sebagai akibat gesekan di sepanjang di bagian
dalam sel. Aliran melalui pembuluh dapat dihitung dengan rumus berikut, yang disebut
hukum Ohm:
'P
Q
R
di mana Q adalah aliran darah, AP adalah perbedaan tekanan (P1 - P2) antara kedua
ujung pembuluh darah, dan R adalah tahanan. Sebagai pengaruhnya, rumus ini
menetapkan bahwa aliran darah berbanding lurus dengan perbedaan-tekanan tetapi
berbanding terbalik dengan tahanan.
Aliran Darah
Secara sederhana, aliran darah berarti jumlah darah yang mengalir melalui suatu
titik tertentu di sirkulasi dalam satuan waktu tertentu. biasanya aliran darah dinyatakan
dalam mililiter atau liter per menit.

Aliran Darah Laminar dalam Pembuluh


Bila darah mengalir dengan kecepatan tetap melalui pemhuluh darah yang
panjang dan licin, darah mengalir dalam aliran streamline, dengan setiap lapisan darah
tetap berjarak sama dari dinding. Demikian pula, bagian sentral dari darah berada di
bagian tengah pembuluh. Tipe aliran ini disebut aliran laminar atau aliran streamline, dan
aliran ini berlawanan dengan aliran turbulen, di mana darah mengalir ke semua arah
dalam pembuluh dan secara kontinyu tercampur di dalam pembuluh.
Bentuk Kecepatan Parabolik Selama Aliran Laminar
Bila timbul aliran-laminar, kecepatan aliran di-tengah pernbuluh jauh lebih besar
daripada yang ke arah dinding luar. Hal ini terlihat pada eksperimen seperti pada Gambar
di bawah ini

B
Gambar suatu percobaan yang menggambarkan aliran darah parabolik dengan aliran yang jauh lebih cepat
di bagian tengah pembuluh. A, dua cairan terpisah sebelum aliran dimulai; B, cairan yang sama 1 detik
setelah aliran dimulai
Di dalam pembuluh A terdapat dua macam cairan, cairan di bagian kiri diwarnai
oleh zat warna dan di bagian kanan adalah cairan jernih, tetapi tidak ada aliran di
pembuluh itu. Kemudian cairan dibuat mengalir; sebuah batas parabolik timbul di antara
kedua cairan, seperti yang terlihat l detik kemudian di pembuluh B, yang memperlihatkan
bahwa bagian cairan dekat dinding pembuluh hampir tidak bergerak sama sekali, bagian
yang sedikit lebih jauh dari dinding bergerak dengan jarak pendek, dan bagian tengah
pembuluh telah bergerak lebih jauh lagi. Gejala ini disebut bentuk parabolik bagi
kecepatan aliran darah.
Penyebab dari bentuk parabolik adalah sebagai berikut: Molekul cairan yang
mengenai dinding tidak dapat bergerak karena pelekatan dengan dinding pembuluh.
Lapisan molekul berikut tergelincir di atasnya. lapisan ketiga di atas lapisan kedua,
Iapisan keempat di alas lapisan ketiga, dan seterusnya. Karena itu, cairan di bagian
tengah pembuluh dapat bergerak secara cepat karena ada banyak lapisan molekul di
antara bagian tengah pembuluh dan dinding pembuluh, dan setiap lapisan ke arah tengah
secara progresif akan mengalir lebih cepat daripada lapisan sebelumnya.
Aliran Darah Turbulen Pada Beberapa Keadaan.
Ketika kecepatan aliran darah menjadi terlalu besar, sewaktu melewati suatu
obstruksi di pembuluh, sewaktu aliran berbelok tajam, atau sewaktu mengalir mclalui
permukaan kasar, aliran dapat menjadi turbulen dan tidak laminar. Aliran turbulen berarti
bahwa darah mengalir melintang dipembuluh maupun. sepanjang pembuluh, biasanya
membentuk pusaran dalam darah yang disebut aliran eddy, Ini serupa dengan pusaran air
yang sering kita lihat di sungai beraliran cepat pada tempat adanya hambatan.
Bila terdapat aliran eddy, darah mengalir dengan tahanan yang jauh lebih besar
daripada bila mengalir laminar karena aliran eddy menambah besar seluruh gesekan
aliran dalam pembuluh.
Kecenderungan untuk timbulnya aliran turbulen meningkat sebanding dengan
kecepatan aliran darah, sebanding dengan diameter pembuluh darah, dan berbanding
terbalik dengan kositas darah.dibagi hcrat jenisnya sesuai dengan persamaan berikut:
v.d
Re
K
U
dimana:
Re = bilangan Reynold dan merupakan ukuran kecenderungan terjadinya
turbulensi
v = kecepatan aliran darah (dalam sentimeter per detik)
d = diameter
 = viskositas
 = berat jenis
Bila bilangan Reynold meningkat di atas 2000, biasanya timbul turbulensi bahkan
di pembuluh yang lurus dan halus. Bilangan Reynold sangat sering meningkat samapai
2000 di beberapa arteri besar; akibatnya hampir selalu terdapat sedikit aliran turbulen di
beberapa arteri, seperti pada ujung aorta dan pada cabang arteri utama.
Tekanan Darah
Tekanan darah hampir selalu dinyatakan dalam milimeter air raksa (mm Hg) karena
manometer air raksa telah dipakai sebagai rujukan baku untuk pengukuran tekanan
darah. Tekanan darah berarti kekuatan yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan
luas dinding pembuluh.

I.3.c. Tahanan Terhadap Aliran Darah


Tahanan adalah penghalang terhadap aliran darah dalam pemhuluh, tetapi tidak
dapat diukur dcngan cara langsung apa pun. Sebaliknya, tahanan harus dihitung dari
pengukuran aliran darah dan perbedaan tekanan dalam pembuluh. Bila perbedaan tekanan
antara dua titik dalam pembuluh adalah 1 mm Hg dan aliran adalah 1 ml/detik, tahanan
dikatakan sebesar 1 satuan tahanan perifer. biasanya disingkat PRU (peripheral resistenee
unit).
Pengungkapan tahanan dalam Satuan CGS.
Satuan fisik dasar yang disebut satuan CGS (sentimeter,.gram, detik) dipakai
untuk menyatakan tahanan. Satuan ini adalah dyne detik/sentimeter5. Tahanan dalam
satuan ini dapat dihitung dengan rumus berikut:
dyne det ik 1333 u mmHg
R (dalam )
cm5 ml / det ik
Konduktans Darah Dalam Pembuluh Dan Hubungannya Dengan Tahanan
Konduktans merupakan ukuran aliran darah yang melalui pembuluh pada
perbedaan tekanan tertentu. Pada umumnya dinyatakan dalam mililiter per detik per
milimeter tekanan air raksa, tetapi juga dapat dinyatakan dalam liter per detik per
milimeter air raksa atau dalam satuan aliran darah dan tekanan lainnya.
Segera terbukti bahwa konduktans adalah kebalikan dari tahanan sesuai dengan
persamaan berikut :
1
Konduktans =
Tahanan
Perubahan kecil pada diameter pembuluh akan menyebabkan perubahan luar
biasa terhadap kemampuan menghantarkan darah bila aliran darah bersifat laminar. Ini
digambarkan secara jelas lewat pcrcobaan yang tertera pada gamhar 3A; yang
memperlihatkan tiga pembuluh terpisah dengan, diameter relatif sebesar 1, 2, dan4 tetapi
dengan perbedaan tekanan yang sama, yaitu 100 mm Hg, antara kedua ujung pembuluh
tersebut. Meskipun diameter pembuluh-pemhuluh ini meningkat hanya empat kali, aliran
pembuluh masing-masing menjadi 1, 16, dan 256 ml/mm, atau kenaikan aliran sebesar
256 kali. Jadi, konduktans pembuluh meningkat sebanding dengan pangkat empat dari
diameter, sesuai dengan rumus berikut:
Konduktans f Diameter 4
Penyebab kenaikan konduktans yang besar ini ketika diameter meningkat dapat
diterangkan dengan melihat Gambar 3.B. yang mem erlihatkan penampang melintang
dari pembuluh besar dan pembuluh kecil.
Gambar 3. A Demonstrasi pengaruh diameter pembuluh terhadap aliran darah. B, Lingkaran konsentrik
dari darah yang mengalir pada berbagai kecepatan; semakin jauh dari dinding pembuluh, semakin cepat
aliran

Lingkaran konsentrik di dalam pembuluh menandakan bahwa kecepatan aliran


dalam setiap lingkaran berbeda dengan lingkaran Iainnya akibat aliran laminar, yang
telah dibicarakan scbelumnya. Yaitu, bahwa darah di lingkaran yang mgnyentuh dinding
pembuluh hampir tidak mengalir karena melekat pada endotelium vaskular. Lingkaran
berikutnya akan meluncur di atas lingkaran pertama, dan karena itu, mengalir lebih cepat.
Lingkaran yang ketiga, keempat, kelima, dan keenam demikian pula akan mengalir
dengan kecepatan yang makin meningkat. Jadi, darah yang berada dekat dinding
pcmbuluh mengalir sangat lambat, sedangkan yang di tengah pembuluh mengalir sangat
cepat.
I.3.c. Hukum Poiseuille.
Laju aliran darah melalui tubuh secara umum berbentuk laminar daripada
turbulen. Oleh karena itu kita dapat memperlakukan aliran darah di dalam arteri identik
ketika suatu cairan bergerak secara laminar dalam suatu pipa kecil. Karena gaya
molekular yang atraktif antara darah dengan dinding dalam dari arteri maka tidak ada
aliran darah yang berkontak langsung dengan dinding arteri. (hal ini benar juga untuk
aliran fluid di dalam pipa).
Gambar 4a Cairan viskous yang mengalir melalui pipa halus memiliki distribusi kecepatan
parabolik

Gambar 4.b. variasi kecepatan melewati diameter dari arteri disertai dengan variasi yang menekan
sel darah ke arah tengah dari arteri
Akibatnya kecepatan aliran darah adalah nol pada dinding arteri dan aliran lebih
cepat di tengah dari arteri. Adalah memungkinkan untuk mendapatkan bentuk kecepatan
aliran fluida (menggunakan metode kalkulus) sebagai fungsi dari jarak r dari tengah pipa.
Seperti yang ditunjukkan dari gambar 4.a. , kita berasumsi bahwa radius dalam a dan
panjang l dimana perbedaan kecepatan P1-P2. Jika viskositas dalam fluida adalah  maka
kecepatan adalah :

1
V= ( P1  P 2)(a 2  r 2 )
4Kl

Gambar 4.b. menunjukkan bagaiman kecepatan bervariasi terhadap diameter pipa.


Perhatikan bahwa bentuk dari kurva kecepatan adalah parabolik.
Karena aliran kecepatan berubah dengan jarak radial tabung dari arteri maka dari
persamaan Bernaulli menunjukkan bahwa harus terdapat perubahan tekanan dalam
tabung. Kecepatan yang rendah dekat dengan diniding menunjukkan adanya tekanan
yang lebih tinggi. Pada tengah tabung dimana kecepatan lebih besar tekanan relative
lebih kecil. Maka tekanan meningkat ketika jarak radial meningkat. Berbagai objek kecil
seperti sel darah merah mengalir melalui tabung selanjutnya akan mengalami perbedaan
tekanan radial. Perbedaan tekanan menghasilkan gaya yang cenderung untuk menekan sel
darah kearah tengah pada tabung. Seperti yang ditunjukan pada gambar 4.b. Kita
mengetahui dari bukti lain bahwa sel darah terkonsentrasi di tengah tabung arteri.
Kita dapat menggunakan persaman di atas untuk kecepatan (dengan metode
kalkulus) untuk menghitung laju aliran darah fluida melalui pipa. Laju aliran (flow rate)
Q diukur dalam m3/s diberikan :
Sa 4
Q ( P1  P 2)
8Kl
Persamaan di atas dikenal sebagai persamaan Poiseuille’s, setelah Fisiologis francis Jean
Marie Poisuuille (1799-1869) yang pertama kali merumuiskannya. Perhatikan bahwa Q
bergantung pada radius a; ketika a meningkat dua kali lipat Q meningkat dengan pangkat
16. Demikian juga ketika a dibuat lebih kecil, kecepatan aliran menurun secara drastic.
Jika dalam beberapa kondisi sebagai akibat dari adanya penebalan dinding arteri (yang
memberi efek menjadi semakin lebih kecil), menurunnya kecepatan aliran darah dapat
menyebabkan angina pectoris, ditandai dengan rasa sakit dada ketika aktivitas fisik.
Penyebab tersering terjadinya angina pectoris adalah arteriosclerosis, adanya penebalan
dari arteri. Menghilangkan rasa sakit dapat digunakan beberapa obat seperti
nitroglycerine yang dapat melemaskan otot dinding arteri dan jari-jari a menjadi lebih
besar, sehingga terjadi laju aliran darah dan menurunkan beban jantung.
Dari perumusan untuk v dan Q, kita dapat melihat bahwa baik kecepatan dan
aliran kecepatan bergantung pada perbedaan tekanan antara ujung bagian tabung . Lalu
bagaimna tekanan darah dari artery dapat diukur?, Kita telah mengetahui bahwa aliran
darah melalui artery secara umum berbentuk laminar. Aliran laminar darah melalui artery
adalah proses yang ‘diam’ ; sementara dilain pihak aliran turbulen adalah ‘berisik’ . jika
darah artri dibuat dalam keadaan turbulen karakteristik suara yang dihasilkan dapat
dideteksi dengan menempatkan stetoskop pada artery. Dengan jalan merasakan aliran
turbulen ini adalah metode yang umum dilakukan untuk mengukur tekanan darah. Pada
kenyataannya terdapat dua nilai tekanan yang dapat diukur . Tekanan maksimum
(systole) terjadi ketika otot jantung berkontraksi untuk mengeluarkan darah dari ventrikel
menuju aorta dan selanjtnya menuju arteri. Diantara kontraksi tekanan menurun menuju
tekanan yang paling rendah (diastolic). Ketika menggunakan teknik suara untuk
mengukur tekanan darah, diasumsikan bahwa berbagai gaya secara artifisial dengan
mngkonstriksikan arteri akan menyebabkian aliran yang turbulen.
Biasanya arteri utama di lengan bagian atas yang digunakan untuk mengukur dan
sebuah inflatable strap ditempatkan mengelilingai arm. Strap kemudian dipompakan
dengan udara dengan tekanan yang cukup untuk mengkolapskan arteri dan darah berhenti
mengalir. Pembuluih pada strip kemudian dibuka dan tekanan udara diturunkan secara
perlahan. Operator kemudian mendengarkan dengan stetoskop yang ditempatkan di arteri
(dekat dengan siku). Tidak ada suara yang terdengar sampai darah memasuki arteri yang
terkonstriksi. Hal ini terjadi karena tekanan udara yang ada pada strap telah turun
dibawah tekanan sistolik. Dengan tekanan pada starp yang semaik turun selanjutnya
aliran menjadi turbulen sampai tekanan pada strap cukup rendah sehingga tidak ada
konstriksi di dalam arteri. Tekanan pada strap ketika suara aliran turbulen berhenti
direkam sebagai tekanan diastolik.
Pada orang dewasa yang sehat tekanan sistolik diperkirakan 120 mmHg dan
diastolik diperkirakan 80 mmHg. Sehingga rata-rata tekanan darah yang meninggalkan
jantung adalah sekitar 100 mmHg. Karena kehilangan energi untuk friksi tekanan darah
menurun sepanjang system kompleks arteri kapiler dan vena. Dengan menggunakan
persamaan Poiseuille kita dapat melihat bahwa tekanan turun di aorta tidak terlalu besar.
Total kecepatan aliran darah pada tubuh manusia sekitar 80 cm3/s. Diameter aorta
diperkirakan 1 cm sehingga untuk menyelesaikan persamaan Poiseuille’s untuk (P1-P2)/l,
kita mendapatkan :
P1  P 2 8KQ 8 x(4.0 x10 3 Pa.s ) x(8 x10 5 m 3 / s )
l Sa 4 Sx(10  2 m) 4
= 80 Pa/m = 0.6 mmHg/m
ini merupakan tekanan yang turun tiap meter panjang tabung. Oleh karena itu pada aorta,
sebelum bercabang menjadi arteri besar (dengan jarak kebanyakan 0.4m), tekanan turun
dapat diabaikan dibandingkan dengan tekanan rata-rata darah yang keluar dari jantung.
Meskipun dalam kondisi yang berat, ketika laju alir mungkin ditingkatkan dengan
pangkat 5, turunnya tekanan di tabung aorta utama masih kecil.
Lebih jauh ke dalam sistem sirkulasi, tekanan yang turun menjadi terbukti.
Setelah melewati arteri besar,besarnya tekanan sekitar 90 mmHg, dan setelah melewati
arteriol (arteri kecil), tekanan hanya sekitar 25 mmHg. Ketika mencapai vena tekanan
sebesar 10 mmHg atau kurang.

Gambar 5 variasi tekanan darah rata-rata melalui sistem arteri kapiler dan vena
Gambar 5 menunjukan secara skematik tekanan menurun sepanjang sistem. Pada grafik
ini hanya menunjukan tekanan rata-rata. Dan tentu saja bahwa denyut (pulsation) adalah
tekanan yang disebabkan oleh detak jantung. Denyut tersebut menyebabkan tekanan di
aorta dan arteri untuk berosilasi di antara 120 mmHg dan sekitar 80 mmHg. Pada arteriol
denyutan sebagian tertahan dan ketika mencapai kapiler tidak ada tekanan yang berosilasi
dan aliran uniform
Laju aliran Q dapat diekspresikan sebagai hasil dari area penampang yang tegak
lurus tabung dan rata-rata kecepatan aliran v : Q = A v . Oleh karena itu kita dapat
mendapatkan v dari persamaan :
Q Q
v =
A Sa 2
Untuk aorta, a = 0.01 m dan Q = 8 x 10-5 m3/s. lalu,
8 x10 5 m 3 / s
v = 0.25m / s
Sx(0.01m) 2
Bilangan Reynold/s untuk aliran ini adalah :
ƒvd (1.05 x10 3 ) x(0.25m / s ) x(0.02m)
ƒ
K 4 x10 3 Pa.s
Nilai ini lebih kecil dari nilai kritis untuk aliran turbulen yaitu R = 2000, sehingga aliran
aorta pada kondisi inaktif adalah laminar. Selama kondisi yang berat bagaimanapun juga
laju aluran adalah meningkat. Hasil dari bilangan Reynold’s melebihi 2000 dan aliran
pada aorta menjadi turbulen. Pada tabung yang lebih kecil kecepatan berkurang dan
aliran masih laminar.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada saat mencapai suatu organ yang
diperdarahinya arteri akan bercabang-cabang menjadi banyak arteriol, yang jari-jarinya
cukup kecil untuk menimbulkan resistensi terhadap aliran. Berbeda dengan resistensi
arteri yang rendah, resistensi arteriol yang tinggi menyebabkan penurunan mencolok
tekanan rata-rata ketika darah mengalir melalui pembuluh-pembuluh ini.. Penurunan
tekanan ini membantu membentuk perbedaan tekanan yang mendorong aliran darah dari
jantung ke berbagai organ di hilir.
Dinding arteriol hanya sedikit mengandung jaringan ikat elastis. Namun
Pembuluh ini memiliki lapisan otot polos yang tebal yang banyak dipersarafi oleh serat
saraf simpatis. Otot polosnya juga peka terhadap banyak perubahan kimiawi lokal dan
terhadap beberapa hormon dalam sirkulasi. Lapisan otot polos berjalan sirkuler
mengelilingi arteriol sehingga apabila berkontriksi(vasokonstriksi), lingkaran pembuluh
(dan jari-jarinya) menjadi lebih kecil, dengan demikian resistensinya meningkat dan
aliran melalui pembuluh berkurang. Sedangkan bila terjadi vasodilatasi terjadi
pembesaran lingkaran dan jari-jari pembuluh akibat melemasnyua lapisan otot polos
menyebabkan penurunan resistensi dan peningkatan aliran melalui pembuluh yang
bersangkutan.
Beberapa faktor dapat mempengaruhi tingkat aktifitas kontraktil otot polos
arteriol, sehingga resistensi terhadap aliran di pembuluh ini juga terpengaruh. Faktor-
faktor tersebut dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan ekstrinsik (bagan I).
Kontrol lokal/instrinsik adalah perubahan-perubahan di dalam suatu jaringan yang
mengubah jari-jari pembuluh, sehingga aliran darah ke jaringan tersebut berubah melalui
efek terhadap otot polos arteriol jaringan
Kontrol ekstrinsik terhadap jari-jari arteriol mencakup pengaruh-pengaruh saraf
dan hormonal, dengan efek saraf simpatis adalah yang terpenting. Serat-serat saraf
simpatis mempersarafi otot polos arteriol di seluruh tubuh, kecuali di otak. Aktivitas
simpatis yang terus menerus ikut menentukan tonus vaskuler. Peningkatan aktivitas
simpatis menimbulkan vasokonstriksi arteriol umum. Sedangkan penurunan aktivitas
simpatis menyebabkan vasodilatasi arteriol umum.
Perubahan resistensi arteriol yang luas ini menyebakan perubahan tekanan darah
arteri rata-rata. Rumus F = P/R
Menajadi P = Fx R
Tekanan arteri rata-rata = Curah jantung X Resistensi perifer total
berlaku bagi sirkulasi keseluruhan serta sebuah pembuluh, dimana:
F = Aliran (F) ke seluruh pembuluh, setara dengan curah jantung
P =: Gradien tekanan (P) untuk sirkulasi keseluruhan adalah tekanan arteri rata-rata.
R = Resistensi total yang ditimbulkan oleh semua pembuluh perifer disebabkan oleh
resistensi arteriol karena arteriol adalah pembuluh resistensi utama.

Resistensi perifer total

Jari-jari arteriol viskositas darah

Jumlah sel konsentrasi


Darah merah protein plasma

Kontrol lokal (intrinsik) kontrol ekstrinsik


(perubahan lokal yang (penting untuk mengatur
bekerja pada otot polos tekanan darah)
artriol di sekitarnya)

Respon miogenik Vasopresin

Panas, dingin Angiotensin

Histamin Epinefrin dan nonepinefrin

Perubahan metabolik lokal


Menyangkut O2, CO2, dan aktivitas simpatis
metabolit lain
faktor utama yang mempengaruhi jari-jari arteriol

Bagan 1. : Faktor-faktor yang mempengaruhi resistensi perifer total

Tingkat resistensi perifer total yang ditimbulkan secara kolektif oleh semua
arteriol sangat mempengaruhi tekanan darah arteri rata-rata. Vasokonstriksi yang
diinduksi oleh simpatis mengurangi aliran darah ke hilir ke sel-sel jaringan, sementara itu
meningkatkan tekanan arteri rata-rata ke hulu, sehingga terjadi peningkatan gaya utama
yang mendorong darah agar dapat mengalir ke semua organ. Sehingga gaya pendorong
aliran darah ke organ-organ ditingkatkan dengan meningkatkan tekanan darah arteri rata-
rata. Dengan kata lain bahwa respon arteriol yang yang diinduksi secara simpatis
membantu mempertahankan tekanan pendorong yang sesui ke semua organ. Dengan
demikian, aktivitas simpatis tonik menyebabkan kontriksi sebagian besar pembuluh untuk
membantu mempertahankan tekanan, sehingga organ-organ dapat menyerap darah sesui
dengan keperluan melalui mekanisme lokal yang mengontrol jari-jari arteriol.

Aspek Fisiologis Kardiovaskuler yang Menyebabkan Penyakit Jantung Koroner


I. Anatomi & Histofisiologi arteri koronaria
II. Patofisiologi pembentukan plak di arteri koronaria
a. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan pembentukan plak
b. Proses pembentukan plak arteri
c. Hal-hal yang dapat mengurangi pembentukan plak /
menghilangkan plak arteri
III. Hubungan dengan sikap manusia yang bersikap tergesa-gesa, berlebih-
lebihan, dan bekeluh kesah:
a. Hubungan dengan faktor gizi; lemak
b. Hubungan dengan faktor hormonal; adrenalin
Anatomi & Histofisiologi arteri koronaria

Jantung

Sistem Vaskular Arteri  Arteri Koronaria

Kapiler

Sistem Sirkulasi Vena

Sistem Vaskular Limfatik

Arteri
Arteri membawa darah dari jantung dan mengedarkannya ke seluruh tubuh

Dinding arteri terdiri dari 3 lapisan :


1. Tunika intima
x Terdiri atas lapisan sel endotel* yang melapisi permukaan dalam
pembuluh. Sel-sel ini duduk diatas lamina basalis dan kecepatan
pergantiannya 1 % per hari.
x Di bawah endotel terdapat lapis subendotel, terdiri atas jaringan ikat
jarang yang kadang-kadang mengandung sel otot polos. Baik serat-serat
jaringan ikat maupun sel otot polos, bila ada, cenderung tersusun
memanjang.
x Lapisan intima dipisahkan dari lapisan media oleh suatu lamina elastika
interna. Lamina ini, yang terdiri atas elastin, mempunyai celah (fenestra)
yang memungkinkan senyawa-senyawa berdifusi ke dan memberi makan
sel-sel di bagian dalam dinding pembuluh darah tersebut.
2. Tunika media
x Terutama terdiri atas lapis-lapis konsentris, tersusun oleh sel-sel otot
polos* secara berpilin.
x Tersebar diantara sel-sel otot polos terdapat serat elastin dan lamella,
serat reticular (kolagennya terutama dari tipe III), dan proteoglikans
dalam jumlah yang bervariasi.
Sel-sel otot polos menjadi sumber dari matriks ekstraselular ini.
x Pada arteri yang lebih besar, sering kali ditemukan lamina elastika
eksterna yang lebih tipis memisahkan tunika media dari tunika
adventisia.
3. Tunika adventisia
x Terdiri atas serat-serat kolagen dan elastin yang tersusun memanjang.
Kolagennya adalah tipe I.
x Lapisan ini berangsur menyatu dengan jaringan ikat pembungkus organ,
tempat dilaluinya pembuluh itu.
A. koronaria dextra

Ateri Koronaria

A. koronaria sinistra

x Arteri koronaria memasok myocardium dan epicardium jantung.


x Kedua pembuluh berasal dari aorta ascendens.

Arteri Asal Lintasan Distribusi Anastomosis


A. koronaria Sinus aortae Mengikuti Atrium dextrum, Ramus
dextra dexter sulcus AV, lalu nodus SA dan circumflexus
melintas ke AV, dan bagian dan ramus IV
tepi bawah dorsal septum anterior a.
jantung; interventriculare koronaria
memasuki sinistra
sulcus IV
posterior
A. koronaria Sinus aortae Melintas dalam Hampir seluruh
sinistra sinister sulcus AV dan ventriculus dan
melepaskan atrium sinistrum,
ramus septum IV,
interventrikula fasciculus av,
ris anterior dan dapat
ramus memperdarahi
circumflexus nodus AV

Arteri koronaria merupakan cabang dari aorta tepat setelah katup aorta, dan vena
koronaria mengalirkan darah ke atrium kanan jantung. Peningkatan penyaluran darah ke
sel-sel jantung disebabkan terutama oleh vasodilatasi atau pelebaran pembuluh koroner
yang memungkinkan lebih banyak darah mengalir melalui pembuluh darah tersebut,
terutama saat diastole.
Aliran darah koroner terutama disesuaikan terhadap kebutuhan jantung akan
oksigen. Penghubung yang mengkoordinasikan aliran darah koroner dengan kebutuhan
oksigen miokardium diperkirakan adalah adenosine, yang terbentuk dari adenosine
trifosfat (ATP) selama aktivitas metabolic jantung. Adenosin yang dikeluarkan
menginduksi dilatasi pembuluh darah koroner sehingga aliran darah kaya oksigen ke sel-
sel otot jantung meningkat untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen.

* Sel-sel endotel & lapisan endotel pada pembuluh darah


Sel-sel dinding vascular ini mampu menghasilkan mediator-mediator vascular
local. Endotel merupakan sebuah sumber penting dari vasoaktif seperti nitrit oksida dan
prostasiklin. Substansi ini penting pengaruhnya untuk vasodilatasi dan inhibisi fungsi
platelet. Derivate lain dari endotel potensial menyebabkan vasokonstriksi antara lain
endotelin 1, thromboxane A2, dan prostaglandin H2.

* Sel-sel otot polos


Di seluruh vascular, otot polos vascular mampu membentuk bebagai macam
mediator di atas. Platelet teraktivasi dan monosit yang menempel di dinding vascular
merangsang dilepaskannya factor vasoaktif yang berperan dalam mempertahankan tonus
vascular. Kesimpulannya, pengaturan secara local vasokonstriksi adalah mengatur
mekanisme growth factor dalam proliferasi sel-sel otot polos vascular serta mengatur
tonus vascular pada proses patologik seperti hipertensi, hiperlipidemia, dan
atherosclerosis.

Patofisiologi pembentukan plak di arteri koronaria


Pembentukan plak adalah suatu penyakit inflamasi. Dimana terjadi penebalan dan
pengerasan vaskular diakibatkan adanya akumulasi lipid dalam dinding vaskular, dan
akumulasi tersebut dinamakan plak (plaque). Prevalensi dan tingkat keparahnnya
ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor yang paling berperan adalah usia, jenis kelamin,
dan genetic (irreversible).
Selain itu faktor lain yang memperngaruhi seperti gaya hidup, asupan makanan, dan
personal habits adalah faktor resiko yang dapat diubah (reversible). Selain itu yang dapat
diubah dan merupakan faktor resiko yang penting juga adalah hyperlipidemia,
hypertension, smoking dan diabetes.
a. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan pembentukan plak
(i) Irreversible
1. Usia. Kerentanan terhadap pembentukan plak meningkat seiring dengan
bertambahnya usia. Kerentanan ini pun meningkat 5x lipat
pada usia 40-60 tahun (laki-laki diatas 45 tahun & perempuan diatas 55 tahun)
2. Jenis kelamin. Pria cenderung lebih mudah mengalami atherosclerosis daripada
wanita. Pada wanita yang telah mengalami menopouse, insidensi atherosclerosis
meningkat, ini ada hubungannya dengan hormon estrogen.
3. Genetik. Keluarga yang mempunyai keturunan penyakit darah tinggi dan diabetes
mellitus lebih beresiko tinggi untuk terkena atherosclerosis. Riwayat penyakit
jantung koroner dalam keluarga, yaitu saudara laki-laki atau orang tua yang
menderita penyakit ini sebelum usia 50 tahun atau pada ibu atau saudara
perempuan sebelum berusia 65 tahun, hal ini dapat meningkatkan pembentukan
plak prematur.
(ii) Reversible
1. Hiperlipidemia, yaitu peningkatan kolesterol dan atau trigliserida serum di atas
batas normal ( batas atas 130-159 mg/dl, tinggi di atas 160 mg/dl). Penyebabnya
bisa obesitas, alkohol, Diabetes mellitus, dan sindrom nefrotik.
2. HDL-C rendah : lebih kecil dari 40 mg/dl
3. Hipertensi, yaitu peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya mencapai nilai 140
mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya mencapai nilai 90 mmHg.
4. Merokok. Berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap per hari, yaitu seseorang
yang merokok lebih dari satu pak rokok sehari, menjadi 2x lebih rentan terhadap
pembentukan plak daripada mereka yang tidak merokok. Hal ini dikarenakan
pengaruh nikotin terhadap pelepasan katekolamin oleh sistem saraf otonom.
5. Diabetes mellitus dapat menginduksi hiperkolesterolemia dan secara bermakna
meningkatkan timbulnya plak. Hal ini juga berkaitan dengan proliferasi sel-sel
otot polos dalam pembuluh darah arteri koroner, sintesis kolesterol, trigliserida,
fosfolipid, peningkatan kadar LDL-C dan penurunan kadar HDL-C.
6. Obesitas, abdominal. Hal ini meningkatkan kerja jantung akan kebutuhan oksigen
& berperan dalam gaya hidup pasif.
7. Ketidakaktifan fisik, dapat meningkatkan resiko CHD yang setara dengan
hiperlipidemia atau merokok
8. Hiperhomosisteinemia (lebih besar dari 15 Pmol/L). Homosistein merupakan
suatu asam amino yang dihasilkan tubuh secara alami dalam julah kecil ( N = 5-
15Pmol/L). Apabila kadarnya tinggi berkaitan dengan penyakit pembuluh darah
promotor dan menyebabkan disfungsi endotel dan mencegah fungsi antitrombosit
& vasodilator dinding pembuluh darah.
9. Stress psikososial dapat menyebabkan pelepasan katekolamin, tetapi masih
dipertanyakan apakah stress memang bersifat aterogenik atau hanya mempercepat
serangan
.
b. Proses pembentukan plak arteri
Trombosis
Pembentukan trombus arteri dipengaruhi oleh 3 bagian yang penting, yaitu
adanya keadaan subendotel vaskuler, trombin dan metabolisme asam arakhidonat.
Trombosis diawali dengan adanya kerusakan endotel, sehingga tampak jaringan kolagen
dibawahnya. Sherry mengatakan pula bahwa proses trombosis terjadi akibat adanya
interaksi antara trombosit dan dinding pembuluh darah, akibat adanya kerusakan endotel
pembuluh darah. Endotel pembuluh darah yang normal bersifat antitrombosis, hal ini
disebabkan karena adanya glikoptotein dan proteoglikan yang melapisi sel endotel dan
adanya prostasiklin (PGI2) pada endotel yang bersifat vasodilator dan inhibisi paltelet
agregasi. Pada endotel yang mengalami kerusakan, darah akan berhubungan dengan
serat-serat kolagen pembuluh darah, kemudian akan merangsang trombosit dan agregasi
trombosit dan merangsang trombosit mengeluarkan zat-zat yang terdapat didalam
granula-granula didalam trombosit dan zat-zat yang berasal dari makrofag yang
mengandung lemak.
Akibat adanya reseptor pada trombosit menyebabkan perlekatan trombosit dengan
jaringan kolagen pembuluh darah. Perlekatan tersebut ditentukan pula oleh adanya unsur-
unsur matriks pembuluh darah dan kecapatan aliran darah. Trombosit yang teraktifasi
akan berubah bentuk menjadi bulat dan menggelembung, membentuk psodopodia, dan
menampilkan glikoprotein pada permukaan membran trombosit sebagai reseptor.
Perlekatan trombosit dengan serat kolagen melalui Von Willebrand factor (VWF).
Perlekatan tersebut akan merangsang pelepasan Platelet Factor 3 (PF3=Clot accelerating
factor). Bila terdapat kerusakan pembuluh darah, akan menyebabkan bertambah
banyaknya zat-zat yang biasanya terdapat pada pembuluh darah yang normal, seperti
serat-serat kolagen, katekolamin, adrenalin, noradrenalin, dan juga ADP, dimana akan
menyebabkan bertambah eratnya perlekatan trombosit.
Pada kecepatan aliran darah yang cepat, perlekatan trombosit pada jaringan
kolagen melibatkan reseptor glikoprotein (GP) yaitu GP VI dan GP Ib-V-IX pada Von
Willebrand factor (vWF). Sedangkan pada aliran darah yang lambat, akan melibatkan
reseptor GP VI, Integrin 2 1, dan GP Ib-V-IX pada vWF.
Adanya kerusakan dinding pembuluh darah juga menyebabkan pelepasan tromboplastin
(Tissue factor III) dan faktor hageman (Contact factor XII) dari jaringan yang akan
menyebabkan pembentukan trombin dari protrombin. Trombin akan memacu agregasi
trombosit dan merangsang perubahan fibrinogen menjadi fibrin, dimana fibrin akan
mempererat perlekatan trombosit dan merangsang p-selektin sel endotel yang menambah
permeabilitas sel. Trombin mengikat trombosit melalui 2 reseptor,yaitu moderate affinity
reseptor dan high affinity receptor (GP IbV-IX dan vWF receptor). Fibrin akan memacu
adesi trombosit, hal ini terjadi karena adanya reseptor GP Iib-IIIa (integrin  IIB3) pada
fibrin tersebut.
Pengikatan trombosit dengan jaringan kolagen pembuluh darah mengaktivasi
++
trombosit untuk merangsang pelepasan Ca , juga akan merangsang pembentukan
psodopodia dan penyebaran sel trombosit. Saat trombosit mengalami adesi dan
penyebaran, -granul dan delta granul yang berada di dalam trombosit akan berkumpul
ditengah sel trombosit. Bila terdapat aktivasi, alfa dan delta granul tersebut akan berjalan
menuju ke membran trombosit, dan akan melepaskan zat-zat didalamnya, seperti ADP,
++
epinephrine, Ca , PGDF (platelet growth derived factor), -TG ( thrombo globulin),
PF-4 (platelet 4=antiheparin factor), 5HT (serotonin), vWF (von Willebrand factor), dan
fibrinogen, ATP, adenosine nukleotides, dan juga kalium ke dalam plasma darah. Zat-zat
tersebut akan merangsang terjadinya agregsi trombosit laindisekitarnya. ADP yang
berkaitan dengan reseptor P2Y1 yang terdapat pada trombosit, menyebabkan pelepasan
agregasi trombosit yang irreversibel.
Asam arakhidonik dilepaskan dari fosfolipid membran sel oleh enzim fosfolipase
A-2 atau oleh bahan kimia, hormon tertentu, stimuli mekanik, trombin, norepineprin,
bradikinin, trauma fisik dan sebagainya. Asam arakhidonat dilepaskan dari fosfolipid
membran sel oleh enzim fosfolipase A-2 atau oleh bahan kimia, hormon tertentu, stimuli
mekanik, trombin, norepineprin, bradikinin, trauma fisik dan sebagainya. Asam
arakhidonat yang dilepaskan akan dimetabolisir melalui 4 jalur, seperti bagan dibawah
ini:
1. oleh enzim cyclo-oksigenase akan dibentuk tromboksan dan prostaglansdin lain
2. oleh enzim lipooksigenase akan dibentuk hydroxy-acid (leukotriene)
3. akan terjadi reacylation sehingga terbentuk fosfolipid
4. akan terjadi hydrophic binding yang akan membentuk albumin Leukotrien
mempunyai peranan penting dala penyakit radang dan alergi. Sedangkan peranan
reacylatin dan hydrophic binding masih belum jelas.
Asam arakhidonik, oleh enzim cyclo-oxygenase, dirubah menjadi Prostaglandin G2
(PGG2), kemudian menjadi Prostaglandin-H2 (PGH2),yang merupakan peroksida yang
tidak stabil. PGH2 ini akan dirubah menjadi PGF2 (vasokonstriksi), PGE2
(vasodilatasi), PGD2(antiagregasi), Prostasiklin (PGI2) di endotel pembuluh darah dan
Tromboksan A2 (TXA2) di dalam trombosit. Perubahan ini pada keadaan normal harus
dalam keadaan seimbang. Prostasiklin (PGI2) dibentuk akibat adanya enzim prostasiklin
sintetase, dan berfungsi sebagai vasodilatasi dan anti penggumpalan trombosit.
Sedangkan Tromboksan A2 (TXA2) dibentuk akibat adanya enzim tromboksan sintetase
dan berfungsi sebagai vaso konstriksi dan pengumpulan trombosit.

PATOFISOLOGI INFARK TROMBOEMBOLI

Plak aterotrombotik yang terjadi pada pembuluh darah ekstrakranial dapat lisis
akibat mekanisme fibrinotik pada dinding arteri dan darah, yang menyebabkan
terbentuknya emboli, yang akan menyumbat arteri yang lebih kecil, distal dari pembuluh
darah tersebut. Trombus dalam pembuluh darah juga dapat akibat kerusakan atau ulserasi
endotel, sehingga plak menjadi tidak stabil dan mudah lepas membentuk emboli. Emboli
dapat menyebabkan penyumbatan pada satu atau lebih pembuluh darah. Emboli tersebut
akan mengandung endapan kolesterol, agregasi trombosit dan fibrin. Emboli akan lisis,
pecah atau tetap utuh dan menyumbat pembuluh darah sebelah distal, tergantung pada
ukuran, komposisi, konsistensi dan umur plak tersebut, dan juga tergantung pada pola
dan kecepatan aliran darah. Sumbatan pada pembuluh darah tersebut (terutama pembuluh
darah di otak) akan meyebabkan matinya jaringan otak, dimana kelainan ini tergantung
pada adanya pembuluh darah yang adekuat.
Otak yang hanya merupakan 2% dari berat badan total, menerima perdarahan
15% dari cardiac output dan memerlukan 20% oksigen yang diperlukan tubuh manusia,
sebagai energi yang diperlukan untukmenjalankan kegiatanneuronal. Energi yang
diperlukan berasal dari metabolisme glukosa, yang disimpan di otak dalam bentuk
glukosa atau glikogen untuk persediaan pemakaian selama 1 menit, dan memerlukan
oksigen untuk metabolisme tersebut, lebih dari 30 detik gambaran EEG akan mendatar,
dalam 2 menit aktifitas jaringan otak berhenti, dalam 5 menit maka kerusakan jaringan
otak dimulai, dan lebih dari 9 menit, manusia akan meninggal.
Bila aliran darah jaringan otak berhenti maka oksigen dan glukosa yang
diperlukan untuk pembentukan ATP akan menurun, akan terjadi penurunan Na-K ATP
+
ase, sehingga membran potensial akan menurun. K berpindah ke ruang CES sementara
ion Na dan Ca berkumpul di dalam sel. Hal ini menyebabkan permukaan sel menjadi
lebih negatif sehingga terjadi membran depolarisasi. Saat awal depolarisasi membran sel
masih reversibel, tetapi bila menetap terjadi perubahan struktural ruang menyebabkan
kematian jaringan otak. Keadaan ini terjadi segera apabila perfusi menurun dibawah
ambang batas kematian jaringan, yaitu bila aliran darah berkurang hingga dibawah 0,10
ml/100 gr.menit.
Akibat kekurangan oksigen terjadi asidosis yang menyebabkan gangguan fungsi
enzim-enzim, karena tingginya ion H. Selanjutnya asidosis menimbulkan edema serebral
yang ditandai pembengkakan sel, terutama jaringan glia, dan berakibat terhadap
mikrosirkulasi. Oleh karena itu terjadi peningkatan resistensi vaskuler dan ekmudian
penurunan dari tekanan perfusi sehingga terjadi perluasan daerah iskemik.
Peranan ion Ca pada sejumlah proses intra dan ekstra seluler pada keadaan ini
sudah makin jelas, dan hal ini menjadi dasar teori untukmengurangi perluasan daerah
iskemi dengan mengatur masuknya ion Ca. Komplikasi lebih lanjut dari iskemia serebral
adalah edema serbral. Kejadian ini terjadi akibat peningkatan jumlah cairan dalam
jaringan otak sebagai akibat pengaruh dari kerusakan lokal atau sistemis. Segera setelah
terjadi iskemia timbul edema serbral sitotoksik. Akibat dari osmosis sel cairan berpindah
dari ruang ekstraseluler bersama dengan kandungan makromolekulnya. Mekanisme ini
diikuti dengan pompa Na/K dalam membran sel dimana transpor Na dan air kembali
keluar ke dalam ruang ekstra seluler. Pada keadaan iskemia, mekanisme ini terganggu
danneuron menjadi bengkak. Edema sitotoksik adalah suatu intraseluler edema. Apabila
iskemia menetap untuk waktu yang lama, edema vasogenic dapat memperbesar edema
sitotoksik.
Hal ini terjadi akibat kerusakan dari sawar darah otak, dimana cairan plasma akan
mengalir ke jaringan otak dan ke dalam ruang ekstraseluler sepanjang serabut saraf dalam
substansia alba sehingga terjadi pengumpalancairan. Sehingga vasogenik edema serbral
merupakan suatu edema ekstraseluler. Pada stadium lanjut vasigenic edema serebral
tampak sebagai gambaran fingerlike pada substansia alba. Pada stadium awal edema
sitotoksik serbral ditemukan pembengkakan pada daerah disekitar arteri yang terkena.
Hal ini menarik bahwa gangguan sawar darah otak berhungan dengan meningkatnya
resiko perdarahan sekunder setelah rekanalisasi (disebut juga trauma reperfusy).
Edema serbral yang luas setelah terjadinya iskemia dapat berupa space occupying
lesion. Peningkatan tekanan tinggi intrakranial yang menyebabkan hilngnya kemampuan
untuk menjaga keseimbangan cairan didalam otak akan menyebabkan penekanan sistem
ventrikel, sehingga cairan serebrospinalis akan berkurang. Bila hal ini berlanjut,maka
akan terjadi herniasi kesegala arah, dan menyebabkan hidrosephalus obstruktif. Akhirnya
dapat menyebabkan iskemia global dan kematian otak.

c. Hal-hal yang dapat mengurangi pembentukan plak / menghilangkan plak


arteri
Pada dasarnya pembentukan plak berbahan dasar lipid. Hal-hal yang dapat
mencegah pembentukan plak adalah:
1. Diet seimbang
2. Mengurangi asupan lemak, khususnya kolesterol
3. Pola hidup sehat, bebas rokok, alkohol dsb
4. Berolahraga secara teratur
Ketika plak terbentuk, maka aliran darah akan tersumbat. Penyakit ini disebut
atherosklerosis. Hal-hal yang dapat dilakukan ketika atherosklerosis terjadi adalah
pencegahan terhadap “impact” dari atherosklerosis itu sendiri.
1. Primary Prevention
ƒ Mengontrol hipertensi
ƒ Penurunan beret badan untuk yang obese atau overweight
ƒ Meningkatkan olah raga
ƒ Pengurangan konsunsi rokok dan alkohol
ƒ Mengurangi LDL dan meningkatkan HDL
2. Secondary Prevention
Dengan cara menghindari infark miokardium

Hubungan dengan sikap manusia yang bersikap tergesa-gesa, berlebih-


lebihan, dan bekeluh kesah:
a. Hubungan dengan faktor gizi; lemak
b. Hubungan dengan faktor hormonal; adrenalin
STRESS
Sikap manusia yang tergesa-gesa dan berkeluh kesah akan menimbulkan stress.
Secara umum, seseorang akan mengalami stress ketika adanya kebutuhan yang tidak
sesuai dengan kemampuannya, dan akan menimbulkan reaksi seperti gangguan
kognitif,emosi,dan perilaku yang akan berdampak pada kesehatan.
Pada pertengahan tahun 1950, penelitian menunjukkan adanya aktivasi pada
kelenjar adrenal sebagai respon terhadap psychologic stress. Kemudian, Mason
mendeskripsikan bahwa beberapa factor seperti discomfort ( ketidaknyamanan ),
unpleasantness ( ketidaksenangan ), stress yang tiba-tiba dalam hidup dapat menimbulkan
suatu respon fisiologis. Penelitian dalam 30 tahun ini, menunjukan adanya sensitivitas
dari central nervous system dan endocrine system terhadap keadaan stress psychologic.
Stress psychologic dapat menimbulkan “reactive stress response”. Reactive stress
response adalah respon fisiologis yang terjadi akibat stress psikologis. Sebagai contoh,
stress ketika menghadapi ujian, siswa yang persiapannya kurang akan mengalami
peningkatan heart rate dan mulut kering.
Stress response dapat dibagi menjadi dua, tergantung dari penyebab stress
tersebut, yaitu:
a. Perceived stressors ( merasa )
Respon di mulai pada sistem limbic, yaitu suatu area yang responsif terhadap
emosi dan kognitif. Sistem limbic ini secara tidak langsung menimbulkan
endocrine stress response melalui stimulating neural pathway yang berperan
dalam penerimaan informasi sensoris dan respon pusat melaui perangsangan
locus coeruleus ( LC ) secara langsung.
b. Real stressors
Respon di mulai pada dan area otak yang menerima informasi sensorik.
Informasi akan di teruskan ke paraventricular nucleus ( PVN ). PVN akan
menstimulasi LC dan juga central dan endocrine stress response.
Manusia yang bersikap tergesa-gesa, berlebih-lebihan, dan berkeluh kesah

Symphathetic Nervous System

Adrenalin
(Adrenal Medulla)

Bronchodilation Lipolisis meningkat Hati

Asam Lemak bebas Sintesis Glikogen


di sirkulasi meningkat meningkat

Kekuatan dan kecepatan Pankreas


kontraksi jantung meningkat

Cardiac Output meningkat Insulin Glukagon


menurun meningkat

Pengambilan Glukosa di otot


skelet dan adipose menurun
Glukoneogenesis
meningkat

Glukosa darah
meningkat

Glikogenolisis
meningkat
Respon Neural Terhadap Real Atau Predicted Stressors

Limbic system Brainstem (termasuk locus ceruleus) sympathetic

Nervous system
Norepinephrine
Adrenal Medulla
Bagian otak yang Paraventricular nucleus (epinephrine)
menerima informasi of the hypothalamus
sensorik (CRH) dikeluarkan

Stressor
Stress Response

Limbic System hypothalamus (CRH)

pituitary
(ket.dikertas lain)
Sympathetic Nervous System

norepinephrine epinephrine

Immune Peningkatan Peningkata Bronchodila Peningkatan Liver


Peningkatan
effect Kontraksi tion lipolisis
aktivitas n
kelenjar keringat otot polosarteriol dilatasi Penurunan Pening
Peningkatan sintesis katan
free fatty glikogen glycoge
Peningkatan aud nolisis
tekanan darah disirkulasi

Pankreas
Peningkatan tekanan dan
laju kontraksi jantung
Penurunan Peningkat
Peningkat an
insulin
glukoneo
Peningkatan genesis
cardiac output
Penurunan
uptake glukosa Peningkatan gula
pada otot dan darah
adipose
Pituitary

Anterior pituitary Posterior pituitary

Vasopresin/ ADH
ACTH Growth hormon

Adrenal Peningkatan retensi


Cortisol H2O
cortex

Lipolisis Peningkatan Penurunan


gluconeogenesis sensitivitas insulin

Liver Peningkatan blood Lipolisis Penurunan sintesis protein


pressure dan cardiac
output
Peningkatan
gluconeogenesis Atropi jaringan lymphoid

Peningkatan glukosa Antiinflammatory immunosuppression Penurunan eosinophil


darah effects limfosit dan
makrofag

Penurunan Penurunan limfosit Penurunan eosinofil Penurunan


monosit/makrofag yang bersirkulasi yang bersirkulasi produksi/pengeluaran
kinin, Prostaglandin
dan histamin dari
leukosit
Patomekanisme

Lipolisis Peningkatan gula darah Peningkatan tekanan darah

VLDL

Pembentukan LDL
Dapat menimbulkan injury pada edotelial cells
yang melapisi dinding arteri

Terjadi proses inflamasi pada sel Pengeluaran growth factors (FGF Makrofag beradhesi pada endotel
endotel 4 tidak bisa membuat jumlah plalelet-derived growth factor) yang injury
antitrombotic & vasodilating
cytokines yang normal
Menstimulasi proliferasi otot polos Mengeluarkan enzyme & toxic
pada pembuluh yang injury oxygen radical yang menghasilkan
oxidize LDL

Oxidize LDL berpenetrasi ke bagian


intima arteri & di telan oleh makrofag
disebut foum cells

Lipid – laden foam cells terakumulasi


dalam jumlah yang significant

Membentuk lesi yang disebut fatty


streak

Pada tahap ini, smooth muscle cells


berproliferasi membentuk kolagen,
dan bermigrasi ke arah fatty streak

Membentuk fibrous plaque

Terjadi inflammatory activation of


proteinase seperti matrix
metalloproteinase & cathepsins

Menyebabkan plaque menjadi rupture


disebut complicated plaque

Menyebabkan platelet adhesi,


pengaktifan clotting cascade, dan
pembentukan thombus yang cepat
Poster di atas adalah hasil penelitian mahasiswa FK-Unisba angkatan 2004 yang membuktikan pada
mencit ( mus musculus spp) bahwa sifat ketergesaan dan melampaui batas yang direpresentasikan melalui
intervensi adrenalin dan kuning telur sebagai inisiator diit tinggi lemak, terbukti menimbulkan agresifitas
dan munculnya foam cells ( sel busa) atau makrofag yang menscavanging LDL di sebagian besar otot
jantung

Pengaruh Paparan Hormon Adrenalin Berkepanjangan dan Diet Kuning Telur Terhadap Kadar
Lipid dengan Ketebalan Dinding Arteri Koroner

Tujuan Umum : Membuktikan bahwa pemberian injeksi inisial adrenalin intravena yang
diteruskan pemberian diet kuning telur intermitten berpengaruh terhadap kadar lipid dan
dinding arteri koroner.
Tujuan Khusus :
a. Mengetahui pengaruh injeksi inisial adrenalin intravena terhadap kadar lipid dan
ketebalan dinding arteri koroner tikus mencit.
b. Mengetahui pengaruh pemberian diet kuning telur intermitten terhadap kadar lipid
dan ketebalan dinding arteri koroner tikus mencit.
c. Mengetahui apakah kadar lipid dan ketebalan dinding arteri koroner tikus mencit
yang diinjeksi adrenalin intravena lebih besar dibandingkan dengan kadar lipid
dan ketebalan dinding arteri koroner tikus mencit yang diberi diet kuning telur
intermitten.
d. Mengetahui pengaruh injeksi inisial adrenalin intravena yang diteruskan
pemberian diet kuning telur intermitten terhadap kadar lipid dan ketebalan
dinding arteri koroner tikus mencit.
e. Mengetahui pengaruh faktor kecemasan, tergesa-gesa dengan dianalogikan
peningkatan hormon adrenalin dan sikap berlebih-lebihan yang dianalogikan
peningkatan kadar lipid terhadap tubuh.
Metodologi : Penelitian experimental dengan design Randomized post-test Control
Group, yang dilakukan dengan acak lengkap. Perlakuan yang digunakan yaitu pemberian
injeksi inisial bitatras intravena (IV) dan diet kuning telur intermitten pada tikus dengan
keluaran (outcome) berupa perbedaan kadar lipid dan ketebalan dinding arteri koroner.
Populasi dan Jumlah Sampel : Populasi penelitiannya 20 tikus jantan galur swiss-webste
berumur 12 minggu dibagi secra acak menjadi 4 kelompok atau 5 tikus di tiap kelompok.
Klasifikasi Variabel
a. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah injeksi inisial adrenalin bitatras
intravena dan diet kuning intermitten.
b. Variabel tergantung
Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kolesterol LDL dan ketebalan
dinding arteri koroner.
Definisi operasional variabel
1. Injeksi adrenalin bitatras adalah pemberian injeksi 0.001 mg/25 gr BB adrenalin
bitatras intravena pada hari pertama.
2. Diet kuning telur intermitten adalah pemberian 1 gr kuning telur melalui sonde
lambung setiap 2 hari sekali.
3. Kadar kolesterol LDL serum darah diukur secara enzimatik dengan
spektrofotometer.
4. Ketebalan dinding arteri koroner adalah pengukuran ketebalan arteri dari tunika
intima sampai tunika adventitia (pada potong melintang arteri koroner dalam
satuan ukuran mikron yang dipulas dengan hematosiklin eosin), diamati dengan
mikroskop ocularmicrometer.
Faktor inklusi
a. Bobot badan tikus normal 25-30 gr pada umur 12 minggu.
b. Aktivitas dan tingkah laku normal.
Faktor eksklusi
Tikus mati dalam masa penelitian
Prosedur perlakuan sampel
1. Injeksi adrenalin
Injeksi adrenalin dilakukan dengan cara ; (1) Masukan tikus dalam kotak
berlubang sehingga ekor dapat ditarik keluar (2) Kompres ekor dengan kapas
yang dibasahi air hangat selama sekitar 5 menit agar terjadi dilatasi vena (3)
Injeksi vena dengan kemiringan 150, lalu diaspirasi. Apabila sudah yakin bahwa
jarum telah masuk kedalam vena (spuit terdapat darah saat diaspirasi) maka
injeksi dilakukan perlahan.
2. Diet kuning telur
Pembuatan diet kuning telur dilakukan dengan cara ; (1) Memisahkan kuning
telur dari putihnya (2) Membuat emulsi kuning telur dengan cara mengocok
perlahan (3) Menimbang emulsi kuning telur. Diet kuning telur ditentukan sebesar
3-4 % BB tikus atau sekitar 1 gr, diberikan lewat sonde lambung secara
intermitten (pada setiap satu hari sekali).

1. Sadock, Benjamin J. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavoiral


Sciences, Clinical Psychiatry, 9th ed., Lippincott Williams & Wilkins,
Philadelphia, USA: 2003
2. Rakhmat. Jalaluddin. Belajar Cerdas, belajar berbasiskan otak. Mizan

Learning Center. Bandung, 2005

3. Novitt AD. Moreno. How Your Brain Works. Ziff Davis Press
4. Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran / Arthur C. Guyton, John

E. Hall; editor bahasa Indonesia: Irawati Setiawan _ Ed. 9 _ Jakarta: EGC,

1997

5. Baratawidjaja, Karnen Garna. Imunologi Dasar, ed. 7, Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia: 2006

Tinjauan Molekuler kanker

Kanker adalah perubahan di tingkat molekuler yang disertai berbagai manifestasi


perubahan seluler. Perubahan di tingkat molekuler yang terjadi bisa bersifat keturunan
(inherited) ataupun dapatan (acquired). Terhapusnya gen normal retinoblastoma pada
pita 14 lengan q kromosom 13 terjadi semenjak sel masih berada di tingkatan germline.
Hilangnya sebagian ujung kromosom 17 pada Li-fraumeni sindrom juga menghasilkan
defisiensi gen p53 pada alel yang bersangkutan. Kelainan genetik yang terjadi memiliki
bingkai kerusakan yang menandai atau merupakan parameter tingkat kerusakan yang
terjadi. Kerusakan atau perubahan profil genetika terbesar yang terjadi adalah apabila
perubahan meliputi beberapa kromosom baik secara sekaligus maupun bertahap. Pada
kasus translokasi secara pasti telah melibatkan 2 kromosom yang berseberangan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa materi genetik yang terdapat dalam satu kromosom
adalah sekitar 5 x 106 pasang nukleotida, dimana kerusakan atau terhapusnya 2 x 106
pasang nukleotida saja masih sangat sulit untuk dideteksi secara banding. Perubahan-
perubahan lain yang dapat terjadi di tingkat molekuler adalah perubahan yang bersifat
lokal pada lokus-lokus tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya kehilangan daya
kendali represi ataupun perubahan fungsi regulasi genotip dari gen yang bersangkutan.
Perubahan yang dapat terjadi meliputi genomic imprinting dimana fungsi represi dari
suatu alel terhadap pasangannya berubah saat terjadi perubahan sekuens, ekspansi
trinukleotida dimana sekuen berulang yang tidak mengkode asam amino apapun berperan
sebagai kendali struktural genom sehingga perubahan pada sekuen mereka akan merubah
profil dan faktor promosi gen-gen tertentu, mutasi titik akan menyebabkan tidak
berfungsinya beberapa gen dengan fungsi khusus seperti tumor supressor dan faktor-
faktor pertumbuhan (IGF-1), serta defek pada keluarga DNA mismatch repair yang
diwakili oleh kelompok gena human mutS homolog-2 atau lebih dikenal sebagai MSH-2,
kegagalan perbaikan dan pemotongan sekuens yang tidak sesuai akan menghasilkan
produksi onkoprotein yang menunjang terjadinya neoplasma.
Secara teoritis onkoprotein dapat tersintesa berkat campur tangan molekul
transduktor seperti v-sis (ekstra seluler), ras, srs, abl (membran plasma), dan raf, erb-H
(sitoplasma), serta myc, myb, ski, jun, fos (intra nukleus). Yang amat menarik adalah
bahwa pada proses inisiasi neoplasma yang diperankan oleh virus onkogenik, serangan
pertama berupa insersi virus pada struktur genom host tidak memberikan dampak apapun
pada sel. Sebaliknya pada saat virus ditranskripsi menjadi virus baru atau ditrasnkripsi
balik (reverse transcriptase) bagi virus RNA diluar struktur DNA, maka sebagian gen
host (biasanya protonkogen) terbawa bersama virus dan menjadi bagian integral DNA
virus, protoonkogen ini bila diinsersikan ke sel normal lainnya akan teraktifasi oleh
promoter site virus sehingga menjadi hiper aktif. Walhasil dapat terjadi peningkatan
mekanisme transduksi (bila p-onc transduktor) dapat pula terjadi peningkatan aktifitas
faktor pertumbuhan bila p-onc adalah gen faktor pertumbuhan seperti sis untuk PDGF-E.
Secara fenotip terjadi berbagai perubahan yang sangat penting pada saat sel
mengalami perubahan menjadi neoplasma. Secara fisis pada sel terkait terjadi
pembesaran nukleoli yang disertai modifikasi struktur nukleus, hal ini disebabkan oleh
adanya peningkatan aktifitas replikasi yang ditandai dengan adanya gambaran aneuploidi
pada pemeriksaan flow cytometer (FCM), dimana fase S dari sel terkait menjadi
bertumpuk dan memberikan citra berganda. Siklus sel memang sangat terkait dengan
aktifitas enzimatik, dimana siklin D dan CDK 2,4,5,6 akan mengkatalisasi fase G1 atau
fase celah antara proses mitosis dengan fase sintesis (S). Siklin E dan CDK 2 akan
membantu persiapan fase S, dimana pada fase S sendiri siklin A1 dan CDK 2 akan
mengakatalisa proses penyiapan penggandaan DNA (replikasi). Selanjutnya siklin A dan
siklin B dengan bantuan CDC 2 (Cyclin Dependent Kinase Complex) akan
mempersiapkan sel untuk memasuki fase mitosis. Aktifitas molekuler mengalami
perubahan yang sangat penting dengan teraktifasinya faktor promoter yang menginisiasi
ekspresi gena-gena onkogen untuk mentranskripkan onkoprotein. Demikian pula terjadi
pemicuan produksi faktor-faktor pertumbuhan yang secara signifikan menstimulasi
pertumbuhan sel-sel kanker muda. Secara metabolik terjadi perubahan (alteration) proses
fosforilasi berbagai protein terjadi peningkatan bermakna laju metabolik sehingga
menimbulkan fenomena kanker kaheksia. Terjadi proses penghambatan komunikasi anatr
sel yang diperankan oleh jungsi desmosomal melalui adhesi cadherin dengan bantuan ion
Ca2+. Kontak inhibisi yang biasanya diperankan oleh protein p27 dan p57 akan kesulitan
untuk mensinergikan mekanisme penghentian pertumbuhan karena adanya hambatan
asupan informasi kontak. Terjadi peningkatan sekresi enzim protease dan enzim litik ,
dimana protease berperan sebagai sel protektor yang melindungi sel kanker dari aktifitas
faktor komplemen. Aktifitas enzim litik dan pemecah ECM seperti kolagenase
(Collagenase IV), cathepsin D, ataupun plasminogen aktifator dari golongan urokinase,
dan disamping itu terjadi pula shedding antigen yang dimaksudkan untuk
‘memperkenalkan’ diri’ pada sistem pertahanan tubuh host. Terjadi kehilangan
fibronektin eksoskeletal dan laminin, demikian pula terjadi perubahan profil glikoprotein
dan glikolipid. Cukup menarik untuk diamati adalah terjadinya peningkatan proses
aglutinisasi lektin di permukaan sel, peristiwa ini terjadi berbarengan dengan modifikasi
produksi matriks ekstra seluler dan efek interaksinya. Terjadi pula suatu peningkatan
permiabilitas yang memungkinkan terjadinya peningkatan influks kalsium yang .akan
meningkatkan aktifitas transduksi intraseluler. Peristiwa menarik lainnya adalah
terjadinya perubahan densitas muatan elektrik permukaan sel (mungkin juga densitas
muatan elektrik intraseluler ataupun nukleolar) seiring dengan adanya peningkatan
sintesis enzim permukaan dan terdapatnya beberapa antigen terkait tumor (tumor
associated antigens) yang muncul dipermukaan membran sel dwilapis lemak. Secara
intraseluler terjadi perubahan sistem pengendalian sitoskeletal yang memungkinkan sel
untuk tampil lebih dinamis dan memiliki kemampuan penetrasi dan permutasi sangat baik
dalam metastase (shape depend permutation supporting by enzymes breaker work). Sel
juga menjadi lebih aktif memfagosit dan mengendositosis, diprakirakan dalam rangka
memenuhi kebutuhan bahan baku metabolitnya.
Secara umum gen yang terlibat dalam peristiwa kanker terbagi atas kategori
tumor supressor gene yang bertugas untuk mengendalikan pertumbuhan sel-sel tumor
dengan cara meregulasi gen-gen yang terlibat dalam produksi faktor pertumbuhan dan
enzim-enzim siklus sel (enzim cyclin dan cyclin dependent kinase). Gen-gen itu adalah
p53, Retinoblastoma (Rb), BrCA-1, atau BrCA-2. Kategori yang lain adalah gen-gen
yang terkait dengan stimulasi pertumbuhan kanker seperti gen yang mentranskrip faktor-
faktor transduksi dan faktor promoter seperti c-myc, c-jun, c-fos yang berperan sebagai
internal transducer atau promoter. Ada pula gen-gen yang bertugas untuk meregulasi
aktifasi gen-gen faktor pertumbuhan seperti PDGF-E dan IGF-1 sebagai faktor
pertumbuhan dominan pada kanker. Aspek yang cukup penting untuk diamati adalah
terjadinya kegagalan dari sistem repair untuk melakukan proses perbaikan pada struktur
DNA, hal ini dapat terjadi oleh karena adanya aktifitas represi ataupun adanya mutasi
pada gen sistem repair seperti MLH-1 dan MSH-2. Onkoprotein lain yang diproduksi
oleh sel kanker dapat terjadi oleh karena adanya mutasi titik pada gen yang memproduksi
protein terkait ataupun adanya aktifasi berkelanjutan oleh faktor promoter yang
kehilangan regulasi kendali (stop kodon).
Apapun yang terjadi pada sel karsinoma kita perlu melakukan suatu evaluasi hasil
untuk melihat berbagai kemungkinan terapi dengan mengacu kepada kondisi lokal sel.
Adanya perubahan densitas muatan pada permukaan sel kanker menunjukkan adanya
perubahan elektrostatik yang bermakna pada sel. Kalsium influks yang meningkat seiring
dengan ramainya jalur transduksi dan fosforilasi protein penunjang proses replikasi
mengakibatkan adanya energi kinetik dengan potensial elektrik yang meningkat. Berdasar
hasil perhitungan teoritis fase replikasi suatu sel didapatkan besaran potensiometri
elektrik suatu sel di masa embrional (morula-blastula). Adjustifikasi besaran
potensiometer akan memberikian efek hambatan pada aktifitas transduksi dan fosforilasi
dengan demikian peristiwa replikasi dan penusunan DNA pada fase S akan terhambat.
Demikian pula perlu dipertimbangkan dan menjadi parameter acuan transduksi untuk
proses transkripsi onkoprotein akan tereduksi progresifitasnya. Meskipun pengembalian
aktifitas wild type (normal) gen-gen repair dan supressor tidak semudah itu diharapkan
bahwa represi dari faktor-faktor mutan dapat diimbangi. Sel berada dalam keadaan
dorman/mati suri sangat menguntungkan bagi sistem pertahanan tubuh untuk melakukan
proses pembersihan dan membangun suatu patern of recognition, dimana enzim litik, dan
protease tidak disekresi/berkurang sekresinya, glikoprotein dan glikolipid sulit
beregenerasi, dan TSA (Tumor Specific Antigen) muncul sebagai marker asing yang
dapat dikenali tanpa masking, dan proses shediing melambat (pengenalan ‘teman’
terhambat). Booster BCG dan imunomodulator/stimulan (e.g Phylantus niruri
spp/Meniran) lain dapat membangkitkan semangat tempur sistem pertahanan tubuh
(terutama T-limfosit). Penggunaan stem sel yang dikoleksi dari sumsum tulang panggul
dan terbebas dari memori ‘kronisme’ sel kanker akan lebih baik perannya sebagai CD-4
dan CD-8 baru. Bila perlu dapat dilakukan suatu imunosupresi total untuk mengeradikasi
unsur lama sel T yang telah membawa barcode memori sel kanker. Metoda serupa pada
kasus DM tipe I yang mendestruksi sel T dengan TNF-D akan bermanfaat untuk
mengurangi jumlah sel T yang tidak mengenali sel-sel islet hostnya. Penggantian dengan
sel T donor (autotransplan) akan mengefektifkan sistem imun seluler.
Kanker sebagaimana telah dibahas pada alinea-alinea terdahulu adalah suatu
perubahan seluler yang melibatkan banyak aspek (multi aspek) biologis. Akan tetapi
dasar dari berbagai perubahan dan implikasi perubahan yang terjadi baik di tingkat
seluler maupun jaringan, bahkan sistem semuanya diawali oleh adanya perubahan di
tingkat molekuler (struktur DNA). Ada tiga kelompok gen yang menjadi sasaran
perubahan di tingkat molekuler (molecular alteration), yaitu : protoonkogen pembantu
pertumbuhan, gen supresor tumor (penghambat pertumbuhan), dan gen yang mengatur
apoptosis.

a.Onkoprotein
Stimulasi proliferasi sel normal secara umum dipicu oleh faktor pertumbuhan
yang berikatan dengan reseptor membran sel. Sinyal yang diterima di membran sel
ditransduksikan ke sitoplasma dan akhirnya ke inti sel (nukleus) melalui mekanisme
penyeranta kedua (second messenger) seperti Ca++. Sinyal ini mengaktifasi faktor
regulator inti sel yang menginisiasi tanskripsi DNA.
Produk protoonkogen dikelompokkan di bawah ini berdasarkan
perannya dalam proses sinyal transduksi, yaitu :
x Faktor pertumbuhan, beberapa proto-onkogen (seperti c-sis) menyandi faktor
pertumbuhan seperti platelet-derived growth factor (PDGF). Banyak tumor yang
memproduksi faktor pertumbuhan sekaligus juga responsif terhadap berbagai
pengaruh faktor tersebut yang membantu pertumbuhan sehingga dapat menjadi
subyek bagi stimulasi autokrin.
x Reseptor faktor pertumbuhan, beberapa onkogen menyandi reseptor faktor
pertumbuhan. Perubahan struktural (mutasi) dan ekspresi berlebih gen reseptor
tersebut diketahui mempunyai kaitan dengan terjadinya transformasi maligna.
Mutasi pada beberapa reseptor faktor pertumbuhan jenis tirosin-kinase (seperti v-
erb B) mengakibatkan aktifasi konstitutif (berganti) reseptor tersebut tanpa
memerlukan adanya ikatan pada ligan. Ekspresi berlebih umumnya juga
melibatkan beberapa anggota keluarga reseptor-EGF, seperti c-erb B1 yang
diekspresikan secara berlebih pada karsinoma sel skuamosa paru, c-erb B2 (c-
neu) pada adenokarsinoma payudara, ovarium, paru, lambung, dan leher rahim.
Pada Ca Mammae yang telah mengalami amplifikasi c-erb B2, prognosisnya
akan lebih buruk karena sel kanker mengalami perubahan sensitifitas terhadap
faktor pertumbuhan.
x Protein sinyal transduksi, protein ini bersifat heterogen secara biokimia dan
dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yaitu :
1. Protein pengikat GTP, dalam kelompok ini terdapat protein keluarga ras
dan protein G. Sekitar 30% tumor dari seluruh jenis tumor pada manusia
memiliki mutasi pada protein ras. Protein ras normal (wild type) bersifat
dinamis dan selalu berubah bentuk dari bentuk pentransmisi sinyal
teraktifasi (terikat GTP) ke bentuk diam yang inaktif (terikat GDP).
Konversi dari protein ras aktif manjadi inaktif diperantarai oleh aktifitas
GTP-ase intrinsik, yang diperkuat oleh keluarga protein pengaktifasi
GTP-ase (GTP-ase activating protein{GAP}). Protein ras mutan
mengikat GAP, tetapi aktivitas GTP-asenya tidak bertambah, sehingga
protein ras mutan terperangkap dalam bentuk terikat GTP (aktif terus).
2. Aktifitas tirosin kinase tanpa stimulasi reseptor , contohnya adalah gen c-
abl, yang dalam keadaan normal menghasilkan aktifitas tirosin-kinase
teregulasi. Pada leukemia mieloid kronik , translokasi c-abl dan fusinya
dengan gen bcr akan menghasilkan gen hibrid dengan aktifitas tirosin-
kinase kuat yang tidak teregulasi.
x Protein regulator inti, produk onkogen seperti myc, jun, fos, dan myb adalah
protein inti. Mereka diekspresikan dalam suatu pola yang sangat teratur selama
proliferasi sel normal dan diyakini juga mengatur transkripsi gen yang
berhubungan dengan pertumbuhan.

b.Aktifasi Onkogen

Protoonkogen dapat distimulasi untuk menjadi onkogen melalui mekanisme


berikut : mutasi titik, translokasi, dan penggandaan gen.

b1.Mutasi Titik

Protoonkogen ras diaktifasi oleh mutasi titik. Sekitar 15% dari seluruh tumor
manusia mengandung mutasi onkogen H-ras atau K-ras. Salah satu kemungkinan
mekanisme dari mutasi-mutasi ini adalah akibat paparan zat-zat kimia yang bersifat
karsinogenik.

b2.Translokasi

Translokasi kromosomal diyakini dapat mengaktifasi protoonkogen melalui


mekanisme berikut :
Penempatan gen di sebelah promotor/elemen penguat. Pada limfoma Burkitt,
translokasi t(8;14) menempatkan segmen kromosom 8 pembawa c-myc dekat dengan
gen imunoglobulin rantai berat (IgH) yang terekspresi aktif di kromosom 14.
Fusi gen dengan urutan genetik baru. Pada leukemia mielogenik kronik translokasi
t(9;22) memindahkan gen c-abl dari kromosom 9 ke lokus bcr pada kromosom 22.
Gen hibrid c-abl-bcr menjadi protein kimerik (chimeric) yang memperlihatkan
aktifitas tirosin kinase.

c.Penggandaan Gen

Penggandaan protoonkogen pada proses replikasi DNA dapat mengakibatkan


terjadinya peningkatan ekspresi gen beserta aktifitas sintesa proteinnya. Pada kasus
neuroblastoma, amplifikasi N-myc berlebih (sampai sekitar 300 salinan) berkorelasi
sangat erat dengan buruknya prognosis.
Demikian pula pada kasus Ca Mammae, dimana amplifikasi berlebih gen c-erb B2
memiliki korelasi yang kuat dengan buruknya prognosis.

d.Gen Penekan Pertumbuhan Kanker

Kanker dapat diawali oleh inaktifasi gen yang pada keadaan fisiologis akan
menekan proliferasi sel (gen supresor kanker, atau antionkogen). Gen Rb yang
terdapat di kromosom 13ql4 adalah gen supresor kanker prototipik. Gen ini berkaitan
dengan patogenesis retinoblastoma. Protein Rb pada saat sel berada pada keadaan
istirahat (tidak berproliferasi) berikatan dengan molekul DP-1 dan menginaktifasi
molekul faktor transkripsi E2F (Rb dalam keadaan hipofosforilasi). Pada saat adanya
stimulasi dari faktor pertumbuhan maka protein Rb akan terfosforilasi dengan
bantuan enzim siklin A dan CDK-2, dan akan melepaskan molekul E2F untuk
menunjang proses replikasi.
Protein tumor supresor lain yang tak kalah penting fungsinya dalah p53, dimana
protein ini bertugas untuk meregulasi respon seluler yang akan dilakukan sel bila
terjadi suatu kerusakan/gangguan di tingkat sub seluler. p53 memiliki jaras
komunikasi dengan protein-protein proapoptosis dan protein repair.
Protein lain yang berindak selaku pengendali pertumbuhan sel adalah NF-1.
Protein ini adalah suatu GTPase activating protein (GAP). Dimana mekanisme
kerjanya adalah dengan menginaktifasi aktifitas protein transduksi ras melalui
stimulasi pemecahan gugus GTPnya.

e.Pengelolaan DNA, Repair, dan Apoptosis


e1. Repair
Dalam kehidupan suatu sel yang tak terlepas dari berbagai
paparan faktor eksternal seperti agen biologis, kimia, dan fisik, serta
faktor endogen seperti fluktuasi hormon, reaksi autoimun, dan rasio
faktor transduser yang tak berimbang, DNA teramat mungkin untuk
mengalami berbagai kerusakan. Kerusakan yang terjadi pada struktur
DNApun amatlah bervariasi mulai dari kerusakan dalam skala kecil
yang tergolong mutasi di tingkat mutasi titik (point mutation), mutasi
bingkai (frameshift mutation), sampai dengan kerusakan struktur
makro kromosomal seperti translokasi dan delesi. Adanya berbagai
kerusakan tersebut apabila tidak segera diatasi serta mendapatkan
penanganan di tingkat seluler-molekuler akan dapat mengakibatkan
terjadinya kerusakan-kerusakan yang bersifat permanen. Untuk itu sel
telah dibekali dengan berbagai kemampuan untuk melakukan proteksi
yaitu berupa mekanisme perbaikan (repair) dan penghancuran diri
(apoptosis). Secara sederhana mekanisme perbaikan DNA secara
swakarsa ini dapat terlihat pada penggunaan gugus timin yang berasal
dari proses metilasi gugus deoksiuridilat pada rantai DNA. Secara
kimiawi perbedaan antara timin dan urasil sebenarnya hanya terletak
pada gugus metil pada C5 timin dan gugus hidroksil pada C5 urasil.
Akan tetapi perbedaan tersebut menjadi penting dalam suatu proses
deteksi dini kerusakan DNA, dimana nukleotida sitosin sangat mudah
mengalami proses deaminasi untuk berubah menjadi nukleotida urasil.
Dengan demikian adanya pola normal dengan jenis perikatan antara A
dengan T pada struktur DNA akan menjadi mudah dibedakan dengan
perikatan tidak normal yang terbentuk antara A dengan U.
Mekanisme perbaikan yang terdapat di tingkat seluler secara
garis besar disesuaikan dengan jenis kerusakan yang tentu saja terkait
erat dengan jenis faktor penyebabnya. Secara umum mekanisme
tersebut dapat dipahami melalui sepintas bahasan berikut:
Excision repair, proses perbaikan ini diawali oleh suatu
pengidentifikasian ketidaksesuaian sekuen/ urutan DNA dalam suatu
proses pengawasan yang diperankan oleh kompleks protein enzim
endonuklease perbaikan DNA seperti MSH-2. Kompleks enzim tersebut
akan menginisiasi proses pemisahan DNA heliks utas ganda menjadi
suatu segmen utas tunggal. Dimana segmen utas tunggal tersebut
akan dipotong sebanyak kurang lebih 12 nukleotida. Kemudian enzim
DNA polimerase I akan mengaktifasi proses sintesis utas tunggal baru
dengan mengacu kepada utas lama yang tidak mengalami kerusakan
sebagai sandi nukleotida. Proses ini akan diakhiri oleh pertautan
kembali antara dua utas tunggal tersebut untuk kembali menjadi
bagian dari heliks utas ganda, dengan perantaraan enzim DNA ligase.
Photoreactivation repair, adanya kerusakan pada suatu segmen
pirimidin (timin atau sitosin) yang telah berpasangan (dimer) pada
suatu struktur DNA, akan mengaktifkan suatu proses perbaikan
dimana suatu kompleks protein enzim fotoreaktif akan memutuskan
ikatan hidrogen (memisahkan pasangan heliks utas ganda) tetapi
tanpa memutuskan ikatan fosfodiester antar nukleotida. Perubahan
urutan akan diperbaiki dengan pergantian sesama nukleotida berbasis
basa pirimidin, dan akan diikuti proses penangkupan kembali celah
yang semula tercipta.
Recombinational repair, proses ini dapat memperbaiki berbagai
kerusakan DNA yang ditandai dengan adanya perubahan urutan
nukleotida. Kerusakan tersebut pada saat DNA akan bereplikasi belum
diperbaiki. Proses perbaikan terjadi pada saat DNA melakukan
replikasi, dimana pada segmen tempat kerusakan terjadi, semisal
pada pirimidin dimer, akan dilompati pada saat proses penyandian.
Terciptanya celah pada hasil penyandian akan ditambal dengan
menggunakan molekul DNA yang homolog (pasangan seberang hasil
replikasi) sebagai cetakan. Dengan bantuan enzim DNA polimerase
maka akan terjadi penyandian sekuen nukleotida yang sesuai dengan
celah yang tercipta. Proses ini akan diakhiri oleh penyatuan kembali
dua utas tunggal DNA dengan bantuan protein enzim DNA ligase.

e2. Apoptosis
Peristiwa apoptosis adalah suatu peristiwa dimana sel melakukan
prosesi ‘bunuh diri’. Peristiwa apoptosis ini dipicu oleh adanya
kerusakan DNA yang gagal diperbaiki, efek hormon glukokortikiod,
hipertermia, infeksi, penurunan secara mendadak beberapa faktor
pertumbuhan (withdrawal), dan mekanisme remodeling pada proses
tumbuh kembang yang bersifat fisiologis.
Secara seluler peristiwa apoptosis ditandai dengan adanya
penyusutan sel (cell shrinkage), pecahnya membran (membran
blebing), kondensasi kromosom, peningkatan kalsium influks, dan
terjadinya serangan endonukleotik terhadap DNA yang berada di
kromatin pada regio internukleosomal.

Rangkaian peristiwa yang terjadi di tingkat molekuler adalah


sebagai berikut: bila suatu sel mendapatkan paparan yang
mengakibatkan terjadinya kerusakan struktural di tingkat genom,
maka regulator gen p53 akan mengaktifkan sintesa beberapa protein
yang akan menentukan respon suatu sel. Bila kerusakan yang terjadi
dianggap tidak lagi dapat diperbaiki maka sel akan melakukan transisi
arrest atau apoptosis. Protein yang terkait dengan aktifitas p53
tersebut antara lain adalah GADD 45 yang berperan sebagai pemicu
terjadinya sel arrest (sel yang dlam fase G1 dan S akan terhenti
aktifitasnya), repair, dan apoptosis. Dimana gen GADD 45 ini memiliki
suatu urutan perikatan (binding sequences) dengan p53, yang akan
mengikat protein p53 sebagai pemicu penyandian protein GADD 45
yang selanjutnya akan menghambat aktifitas PCNA serta DNA
polimerase G. Dalam proses selanjutnya GADD 45 ini juga terlibat
dalam aktifasi protein p73 yang bertanggungjawab dalam pemicuan
aktifitas sitokrom S-100 dalam peristiwa apoptosis. Selain GADD 45
p53 juga akan mengaktifasi penyandian gen MDM-2 yang merupakan
regulator negatif bagi aktifitas transkripsi sel yang terjejas serta
merupakan salah satu protein pemicu kompleks MSH-2 dalam proses
repair.
Gena lain yang terlibat dalam proses regulasi molekuler suatu sel
adalah WAF-1 yang menyandi suatu protein dengan berat molekul
18,1 kD yang bertindak selaku suatu sinyal intra nukleus. Protein
sinyal tersebut dapat berikatan dengan kompleks protein enzim Cdk-2
yang bertugas memfosforilasi enzim siklin A,D, dan E yang
bertanggungjawab dalam proses transisi sel dari fase G1 ke fase S.
Protein yang disandi dari gena WAF-1 tersebut dikenal sebagai protein
p21 setelah mendapat penambhan beberapa asam amino di nukleus
sehingga berat molekulnya menjadi 21 kD. Protein p21 ini akan
menghambat proses fosforilasi yang dilakukan oleh Cdk-2 terhadap
siklin A dan E, serta oleh Cdk-4 terhadap siklin D1 dan D2. Karena
fungsinya menghambat aktifitas fosforilasi oleh Cdk maka protein p21
juga dikenal sebagai Cdk interacting protein (CIP-1).
Protein-protein nuklear lain yang terlibat dalam regulasi siklus
sel, repair, dan apoptosis adalah antara lain adalah Bcl-2 dan Bcl-6
dari keluarga protein Bcl yang merupakan protein penghambat
apoptosis (protein anti apoptotik), sedangkan Bax adalah protein
penunjang apoptotik (protein proapoptotik) yang juga berasal dari
keluarga protein Bcl. Ada pula protein penghambat siklus sel yang
turut berperan dalam memicu proses apoptosis seperti p27 dan p57
yang memediasi reaksi transduksi akibat kontak antar sel untuk
menghentikan aktifitas siklus sel pada saat sejumlah sel dalam satu
lokasi telah memadat dan saling bersinggungan. Adanya kontak antar
sel akan memberikan rangsang transduksi kepada protein p27 dan p57
untuk menghambat aktifitas kompleks siklin dan Cdknya melalui
perikatan dengan gugus kinase monomerik. Selain protein p27 dan
p57 telah teridentifikasi pula aktifitas hambatan terhadap siklus sel
yang diperankan oleh protein p15 dan p16 yang struktur genanya
terdapat pada lokasi kromosom 9p21. Mekanisme penghambatan yang
diperankan oleh kedua protein tersebut diduga melalui perikatan
kepada Cdk4 dan Cdk6 yang mengakibatkan kedua enzim kinase
tersebut gagal membentuk kompleks enzim aktif dengan siklin D.
Adanya aktifitas protein proapoptotik yang dikoordinasi oleh p53
akan bermanifestasi di tingkat seluler sebagai berikut: terjadi
peningkatan aktifitas penyandian protein-protein enzim protease
sitosolik yang teraktifasi karena adanya perikatan reseptor dengan
ligan (misal reseptor FAS) untuk transduksi protease. Sinyal atau ligan
disintesis oleh kompleks protein proapoptotik. Protein protease yang
disandi antara lain adalah Kalpain-1 yang merupakan enzim protease
yang aktifitasnya bergantung kepada kalsium (hal ini menjelaskan
mengapa terjadi suatu peningkatan kalsium influks dalam proses
apoptosis), dan Interleukin-1E converting enzymes (Ice). Keberadaan
kedua protein protease tersebut akan merangsang terjadinya suatu
reaksi kaskade dengan urutan mekanisme sebagai berikut :
adanya peningkatan aktifitas protease yang membutuhkan kalsium
akan meningkatkan kalsium influks, yang pada gilirannya akan
meningkatkan pula kuantitas protease. Protease akan mengkatalisa
degradasi intraseluler termasuk di dalamnya fragmentasi kromatin di
nukleus yang dikatalisa oleh enzim endonuklease, pemecahan
sitoskeleton yang terdiri dari mikrotubul dengan diameter antara 20-
25nm, filamen aktin dengan diameter antara 6-8 nm, dan filamen
miosin dengan diameter 15 nm yang dihubungkan oleh berbagai
filamen intermedia dengan diameter sekitar 10 nm. Hasil akhir dari
kaskade aktifitas protease ini adalah pembentukan suatu badan
apoptotik yang mengandung beberapa organela dan komponen
sitosolik serta mengekspresikan reseptor ligan baru yang akan
berikatan dengan makrofag untuk memulai suatu proses fagositosis.

Faktor Penting dalam Neoplasia


x Peran ubiquitin dalam menghantarkan CKI menuju proteosom dan molekul-
molekul SCF dalam mengikat UQ dengan CKI.
x Peran telomer dan telomerase dalam meregulasi usia sel (imortal condition)
x Antigen karbohidrat terkait tumor, biasanya berupa berbagai jenis glikoptotein
yang mengalami glikosilasi abnormal.
x Antigen onkofetal yang tidak terkendalimsintesanya karena adanya pengaruh sel
kanker, seperti D-fetoprotein.
x Antigen spesifik diferensiasi yang diekspresikan pada tingkat diferensiasi yang
spesifik dimana sel tumor mengalami perhentian , misalnya antigen CD10
(CALLA) pada sel B progenitor ganas.

Prinsip Terapi
Secara umum perubahan fenotip yang terjadi pada proses
neoplasia dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Perubahan pengenalan sistem imunologi (immune evasion), dengan cara antara
lain gangguan pengekspresian molekul MHC-I, co-stimulator protein B-7, ICAM-
1, LFA-3, dan adanya penyelubungan mucin (Sialomucin).
2. Kegagalan pattern of repair yang diperankan oleh keluarga p53, GADD 45,
MDM-2, MLH, dan MSH.
3. Kegagalan pattern of apoptosis, yang melibatkan keluarga p21, Bcl2, Bcl6, Bax,
Bak, MgclX, ICE (IL-1 converting enzymes), sampai kaskade caspase (1-9).
4. Kegagalan pattern of suppresion yang diperankan oleh tumor suppresion protein
seperti retinoblastoma, diikuti oleh kegagalan efektor penghentian replikasi yang
diperankan oleh ubiquitin.
5. Peningkatan laju pertumbuhan akibat akumulasi protein faktor pertumbuhan dan
reseptor faktor pertumbuhan.
6. Terjadinya peningkatan aktifitas transkripsi dengan bertumpu pada over ekspresi
faktor transkripsi internal sepeti jalur myc,fos, dan jun yang diikuti dengan
terjadninya peningkatan aktfitas transduksi tyrosine kinase.
Perubahan di tingkat molekular dan seluler pada sel kanker
Berdasar perubahan-perubahan yang terjadi pada kasus neoplasia di
atas, maka dengan mengacu kepada potensi tumbuhan obat atau
bahan alam dapat dikembangkan suatu metoda terapi yang bersifat
komprehensif. Secara prinsipiil terapi tersebut diharapkan dapat
mengeradikasi sel-sel kanker melalui mekanisme berikut :
1. Perbaikan pattern of recognition sistem imunologi disertai
stimulasi pada sistem imun seluler. Mekanisme ini harus
melibatkan upaya penekanan sistem rejeksi sel kanker yang
ditandai dengan over produksi TGF beta dan prostaglandin yang
merupakan imunosupresor, perbaikan mekanisme switching
Th1-Th2 yang didominasi oleh sitokin IFN-gama serta TNF,
perbaikan ekspresi MHC-I, B-7, LFA-3, dan ICAM-1, serrta
membuka selubung mucin dengan aktfitas biofilm inhisi
glikosilasi glikoprotein.
2. Perbaikan pattern of apoptosis.
3. Perbaikan pattern of transduction serta inhibisi jalur replikasi
melalui aktifitas faktor transkripsi di jalur tyrosine kinase.
Dalam ranah bioteknologi berbagai upaya ini dapat dilakukan antara lain dengan
manipulasi gen atau terapi gen.

Pemanfaatan virus untuk menginsersikan sebuah segmen DNA yang akan


mengganti daerah-daerah yang termutasi akan menjadi sebuah metoda terapi
neoplasia yang akan memberikan harapan baru bagi penderita kanker.
Pemanfaatan pengetahuan tentang sistem imunologi dan pembentukan pattern of
recognition serta memori di kelompk sel limfosit T juga akan bermanfaat bagi
pengembangan terapi. Berkembangnya penggunaan sel punca sebagai pengganti
jaringan (tissue replacement), dapat disertai dengan upaya mengeksplorasinya sebagai
”penginstall” ulang sistem jaringan. Sehingga dalam konsep memori imunologi dapat
tercipta pola-pola pengenalan baru yang diharapkan mampu mengeliminasi atau
mengurangi imunodefisiensi.

Sayuran yang baik di konsumsi untuk pencegahan kanker


zBrokoli
zBawang putih
zBawang Sayuran sebangsa kol ( brasicca)
zKol (Kubis)
zBunga kol
zbombay
zLentinan yang berasal dari jamur shiitake

Tips pencegahan kanker


zL - Lemak dan minyak penggunaannya diturunkan sehari-hari tidak lebih dari
30% dari jumlah kalori yang kita makan.
zE - Energi yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan agar BB tetap ideal,hal ini
dibantu dengan olahraga teratur.
zS – Sayuran ,buah-buahan,umbi-umbian dan kacang-kacangan dikonsumsi setiap
hari karena bahan ini mengandung sejumlah oksidan dan sumber serat.
zA – Asap dan Alkohol harus dihindari karena dapat mempertinggi resiko
kanker.Konsumsi bahan yang diolah dengan pengasapan harus dikurangi.

zN – Natrium klorida (garam dapur),nitrit,nitrosamida,dan karsinogen lain


penggunaannya harus diturunkan seminimal mungkin.

Contoh-contoh menu untuk kanker

Sup pure kentang


Bahan :
Kaldu ayam 1 gelas
Kentang 100 g
Susu 10 cc
Seledri cincang ½ sdt
Keju parut 10 g

Cara membuat
- Kupas kentang,lalu potong potong
- Didihkan kaldu,lalu masukan kentang
- Jika kentang sudah lunak,angkat dan haluskan.
- Masukan kembali kedalam kaldu,lalu tambahkan susu.Teruskan merebus
hingga mendidih.
- Hidangkan panas-panas dalam mangkuk sup taburi dengan keju parut dan
sledri cincang.
Kandungan Gizi
Energi : 234 kalori
Protein : 4,875 g
Lemak : 5,875 g
Karbohidrat : 41,125 g

Kentang panggang
Bahan :
Kentang : 500 g
Pala : ½ sdt
Garam : ½ sdt
Margarin : secukupnnya

Cara membuat :
- Tambahkan bumbu kedalam irisan kentang
- Atur kentang selapis demi selapis dengan
piring tahan panas yang telah dioles mentega.
- Bakar dengan oven selama 20 -25 menit.
- Setelah matanng,hidangkan gendan cara membalikkan
kentang panggang diatas piring bundar.
Kandungan Gizi
Energi : 348 kalori
Protein : 10 g
Lemak : 0 g
Karbohidrat : 100 g

Kue dadar
Bahan :
- Adonan dasar kue dadar ½ resep
- Gula merah/palem 100 g
- Air ½ gelas

Cara membuat :
- Buat dadar dari adonan kue dadar dalam pan
berdasar bundar.
- Setelah matang,lipat menjadi empat atau enam
- Atur diatas piring saji.Hias diatasnya dengan kinca kental.
- Buat kinca kental.Caranya ,rebus gula dan air hingga hancur,lalu
saring.Jerangkan kembali diatas api sambil diaduk hingga kental.
- Kandungan Gizi
Energi : 720 kalori
Protein : 11,2 g
Lemak : 11,83 g
Karbohidrat : 159,5 g

Udang Rolade
Bahan :
Udang kupas : 150 g
Ayam cincang : 50 g
Telur : 2 butir
Tepung roti : 1 sdm
Susu cair : 3 sdm
Seledri : secukupnya
Bawang putih : 2 siung
Garam : secukupnya

Cara membuat :
- Haluskan udang,lalu campur dengan ayam cincang
- Haluskan bumbu,lalu masukan kedalam campur udang.Tambahkan satu
butir telur lalu aduk rata.
- Kukus hingga matang lalu angkat.
- Jika sudah dingin,iris tipis-tipis dan celupkan kedalam putih telur.Lapisi
dengan tepung panir lalu goreng hingga kecoklatan.
- Sajikan diatas piring saji.
Jus Buah dan Manfaatnya
1. Apel : Pektin yg terkandung dlm apel dpt melawan lemak &
menurunkankolesterol, sertanya membantu proses pencernaan. Dagingnya
membantu melarutkan kristal asam di dlm sendi. Baik utk artritis, konstipasi,
kolesterol, ggn hati ringan, kegemukan.
2. Wortel : Jus wortel mengandung setiap mineral yg diperlukan tubuh. Merupakan
betakaroten dan vitamin A,baik utk penyakit hati, rabun senja, menurunkan
kolesterol, ,gangguan kulit, menghilangkan lemak dan lupus.
3. Asparagus : Mengandung asparagin yg merangsang ginjal membuang sisa
metabolisme tubuh, meningkatkan sirkulasi darah dan membantu melepaskan
deposit lemak dari dinding pembuluh darah.Baik utk jerawat, eksem, gangguan
ginjal, prostat dan penurunan berat badan
4. Seledri : Kandungan natrium berfungsi sebagai pelarut utk melepaskan deposit
kalsium yg menyangkut di ginjal dan sendi. Mengandung magnesium untuk
menghilangkan stress. Baik utuk alergi, sulit konsentrasi, eksema, hiperaktifitas.
5. Mentimun : Rendah kalori dan kaya silikon dam florin. Kalium membantu
membuang sisa metabolisme dan deposit lemak.Baik utk kulit kering, kulit yang
terbakar sinar matahari, eksema, gangguan hati, kesehatan rambut dan kuku.
Sebagai pasta untuk mengobati gigitan serangga, gatal karena tumbuhan.
6. Alpukat : Asam lemak yang sehat, vitamin, dan mineral seperti kalsium.
Menurunkan lemak, baik untuk malnutrisi dan kulit kering.
7. Pisang :Pisang mengandung kalium dalam dosis besar yang diperlukan untuk
pembentukan enzim.Baik untuk ulkus, divertikulitis, heartburn, dan kelelahan.
8. Bit : Tinggi zat besi, vitamin A. Baik untuk alkoholisme, penyakit hati, PMS, dan
kanker.
9. Kubis : Kaya serat, belerang tinggi untuk menetralkan efek toksik dari kobalt,
nikel, dan tembaga yang berlebihan. Menghilangkan karsinogen, kolesterol tinggi,
DM, ulkus, menurunkan berat badan.
10. Anggur : Sangat baik untuk meningkatkan energi tubuh. Sangat baik untuk ginjal
dan hati serta utk mencegah kanker. Baik untuk mencegah serangan jantung,
spasme otot, infeksi virus, dan mencegah lubang pada gigi.
11. Selada : Zat besi dan magnesiumnya membantu kerja diuretik, merangsang
pembuluh darah, meningkatkan metabolisme. Baik untuk batuk, insomnia.
12. Melon : Kaya vitamin A dan C, melon oranye kaya akan betakaroten.Baik untuk
menghilangkan kanker paru, obesitas, gangguan lambung.
13. Bayam, kangkung, Watercress : Trio ini mengandung vitamin, mineral, termasuk
kalsium, zat besi, kalium, vitamin A dan C. Baik untuk asma, bronkitis,
pnemonia, kolik, anemia, keleahan, konstipasi, osteoporosis.
14. Tomat : Kaya vitamin C dan betakaroten. Baik untuk nafsu makan yang rendah,
gangguan hati, PMS, hipoglikemi, gangguan prostat, dan kegemukan.
15. Semangka : Kandungan air yang tinggi menjadikannya sebagai pembersih yang
baik. Kaya kalium dan kalsium. Baik untuk kolik, artritis, keracunan uremik,
gangguan kulit, gout, anemia, batu ginjal, an mengurangi mual.
Sumber pembelajaran on-line : Ilmu Gizi.pdf
BAB 4
Mengkaji Masalah Kompleksitas Psikososial dengan Pendekatan Psikomatematika

Mungkin kita pernah mengalami pengalaman sejenis dengan kisah berikut.


Seoang pengamat psikososial berjumpa dengan seorang ibu yang membawa anaknya
untuk berbelanja di sebuah pasar swalayan. Tanpa disengaja anak kecil yang atraktif itu
menjatuhkan sebungkus coklat dari rak pamer, sang Ibu marah dan mengomel tapi tanpa
sedikitpun berusaha untuk mengembalikan coklat tersebut ke tempatnya semula. Dari rak
pamer coklat dan snack itu mereka berdua beranjak menuju tempat penjualan mandiri
telur. Di sini telur ditimbang, dikemas, dan diberi harga sendiri dengan label yang
disediakan. Sebuah eksperimen menarik dari manajemen pasar swalayan itu dalam hal
memberi ruang “kejujuran”, ditengah-tengah dunia yang sesak dengan panasnya
prasangka dan kecurigaan yang berlebihan. Melihat karakter serta “akhlaq” yang
dipertontonkan ketika anaknya tadi menjatuhkan coklat, maka sang pengamat psikososial
berkecenderungan untuk membuat kesimpulan bahwa harga yang ditetapkan oleh ibu itu
di saat menimbang telur secara mandiri pastilah harga yang “tidak jujur”. Apakah
memang demikian ? Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pengambilan
keputusan seseorang ? Dan apa pula yang sebenarnya mempengaruhi tingkat kepatuhan
seseorang kepada aturan, etika, dan norma ?
Kita hidup di sebuah dunia dengan tatanan yang sarat dengan tujuan-tujuan
kebaikan yang utopis. Tujuan kebaikan bersama itu diwujudkan dalam bentuk regulasi
dan piranti-piranti hukum yang diharapkan akan melahirkan keteraturan. Singapura
sebagai contoh, adalah sebuah negara yang dikenal sebagai “fine city”, karena semua hal
yang bertentangan dengan aturan akan berakhir dengan punishment berupa denda. Dalam
artikel ini saya tidak akan mempermasalahkan teori Skinner tentang “reward and
punishmentnya” ataupun pendapat Jean Michael Focault dengan menara Benthamnya,
saya hanya ingin mengetahui seberapa terukur kemungkinan matematis orang untuk
melakukan sebuah tindakan. Dalam hal ini tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang
ekstrem dan bertentangan dengan etika tetapi sesuai dengan logika, ataupun sebaliknya
tindakan yang sesuai dengan etika tetapi bertentangan dengan logika pada saat itu. Bila
mengacu kepada bahasa pemrograman atau algoritma matematika, kondisi yang pertama
menggunakan pola yang disebut “fuzzy logic”, dimana rasionalitas akan mengalahkan
hampir semua “barrier” etika. Sebagai contoh adalah ketika seseorang diminta untuk
mencari jalur terdekat di sebuah peta yang menghubungkan 2 daerah tertentu, orang yang
taat azas akan segera menelusuri jalur-jalur jalan di peta dan berusaha menemukan
alternatif terdekat menuju titik tujuan. Tetapi seseorang yang mengedepankan logika dan
mengacu pada pernyataan matematika “mencari jalur terdekat di peta”, akan segera
membuat garis lurus yang menghubungkan kedua titik tersebut ! Tetapi pada intinya
kepatuhan seseorang untuk menjalankan sebuah perintah atau aturan didasari dan
dimotivasi oleh status kenyamanan yang akan diperolehnya dari proses yang dijalaninya.
Kegagalan menjalankan perintah atau aturan biasanya terasosiasikan secara otomatis
dengan ketidaknayamanan mental. Demikian pula sebaliknya, kepatuhan selalu
berkorelasi positif dengan “hadiah” mental. Pada tahapan ini seorang manusia akan
terpolarisasi sebagaimana yang digambarkan Millon dan Eysenk serta Thorndike, dimana
kenyamanan, orientasi, dan modifikasi atau manipulasi merupakan tonggak-tonggak
tujuan yang akan mendominasi lapang pandang seorang manusia, baik dari perspektif
biososial maupun neurofisiologis.
Regulasi dan etika moral untuk mematuhi sebuah aturan sebenarnya adalah
sebuah model matematika bersyarat, akan menimbulkan konsekuensi negatif bila ada
konstanta lain yang mempengaruhi. Dalam hal ini pengawasan dan “rasa takut”
artifisiallah yang menjadi variabel pengubah. Seberapa intenskah upaya mengatur dan
mengakomodir kepentingan bersama akan menjadi pola yang dinikmati ? Tidak jelas.
Apakah yang akan terjadi pada warga Singapura ? Apakah mereka akan mengalami
proses dehumanisasi ? Apakah mereka akan “meledak” karena sisi agresinya selama ini
direduksi oleh sebuah ketakutan yang terstruktur ? Apa yang terjadi pada sebuah
masyarakat yang terhegemoni oleh nilai-nilai yang mereka ciptakan sendiri ? Apakah
mereka akan kehilangan identitas personal dan menghablur dalam reidentifikasi diri
dengan mengacu kepada nilai-nilai komunal ? Apakah setiap orang dapat menjadi
individu yang benar-benar mengetahui tujuan hidupnya ? Fenomena yang saat ini terjadi
di Singapura, New York, Milan, London, ataupun Paris menunjukkan bahwa “ketakutan”
akan sistem yang represif akan memunculkan katarsis berupa reorientasi dan modifikasi
peran diri serta tujuan hidup. Kita kini mengenal masyarakat yang terkapitalisasi dan
menentukan sendiri nilai-nilai acuan hidupnya berdasarkan tingkat “kenyamanan” dan
“kesenangan” yang telah berubah tidak lagi sekedar menjadi obat melainkan telah
menjadi candu. Apakah kita menyadari jika perkembangan mode, gaya hidup, dan
budaya urban sesungguhnya memiliki makna lain sebagai “Tuhan-Tuhan” baru jiwa-jiwa
yang lelah dalam kecemasan ? Ansietas telah berkembang menjadi suatu gejala massal
yang ditandai dengan munculnya berbagai histeria yang amat adaptif dengan kultur
komunitasnya. Di Indonesia yang masyarakatnya lebih dicekam ketakutan karena tidak
adanya kepastian dan keteraturan, ledakan yang terjadi adalah sikap egois dan
mementingkan diri sendiri yang menjadi budaya harian. Orientasi pada model polarisasi
Millon cenderung dimodifikasi ke dalam. Apapun yang dilakukan selalu didasari pada
“keselamatan” diri. Pada saat ini terjadi, rasionalitas dimarjinalisasikan, tertepikan,
sehingga terkadang bagi pengamat yang jeli tindakan-tindakan ini tampak seperti sebuah
“perlawanan” yang keos, alias tak berpola. Sebenarnya bila dicermati ada sebuah
keteraturan sebagaimana yang digambarkan dalam kurva Mandelbrot. Dalam kurva
Mandelbrot, gerumbul semak-semak yang tampak tak teratur dan sering disebut orang
sebagai bentukan organik, ternyata bisa diurai menjadi pola sekumpulan segitiga yang
amat rapat. Demikian pula yang dapat kita amati pada kurva Ratami, dimana bentukan
geometris dasar heksagonal bisa saja “luput” dari pengamatan kita karena maujud dalam
bentukan yang sama sekali berbeda dengan struktur aslinya. Sebagai contoh pada citra
cahaya yang terdifraksi dalam percobaan Thomas Young, bentuk lingkaran bergerigi
tumpul bila diurai satu-persatu akan memberikan gambaran setumpuk bentukan
geometris yang salaing menghablur dan membaur. Bauran keteraturan yang amat rapat
sering kali dapat mengacaukan persepsi kita, sehingga tidak dapat dengan jernih
memotret persoalan yang sebenarnya.
Kurva Ratami, modifikasi Kurva Mandelbrot pada Difraksi Cahaya dan Struktur Kakbah ( Tauhid NA,2006
)
Sebaliknya pada masyarakat yang menurut kacamata kita telah mencapai suatu
strata kemakmuran seperti yang terdapat di negara-negara Anglo Saxon, fenomena
“ketakutan” dan kecemasan termanifestasi dalam sebuah histeria terhadap proses obligasi
sosial yang maujud dalam bentuk iritasi, oposisi, dan adaptasi ( Gabriel Trade) terhadap
nilai komunal yang diyakini sebagai suatu panduan dalam memunculkan perilaku dalam
ranah aksi sosial Max Weber. Dimana semua perilaku sosial sebenarnya ditujukan untuk
menghasilkan sebuah aksi yang efisien dan paling optimal dalam memberikan
kenyamanan pada individu pelakunya. Lalu pembangunan dan pembenahan secara
integratif dijadikan sebagai suatu moda bersama yang digunakan sebagai faktor pengubah
tata nilai sosial (LR Hobhouse). Sifat perubahan yang terjadi tampaknya terstruktur dan
terkendali seiring dengan rambu-rambu teori yang berusaha untuk diletakkan di tempat-
tempat yang tepat. Tetapi sesungguhnya sebuah siklus “mulur-mungkret”, atau
“kembang-kempis” terjadi. Setelah suatu masyarakat berlomba-lomba mengedepankan
liberalisme “fitrah” kemanusiaannya, maka mereka akan menemukan bahwa untuk
membangun suatu pola interaksi yang egaliter, merit, dan adil diperlukan suatu jaring
sosial yang mampu menahan laju kebebasan. Gejala post liberalisme ini berkembang
menjadi sebuah gerakan psikologi sosial protes yang digagas oleh para cendekiawan
mahzab Frankfurt (Jurgen Habermas dkk). Pola ini tampak keos dan adaptif terhadap
tuntutan perkembangan peradaban, tetapi sesungguhnya ini adalah suatu model
matematika dengan kurva perubahan yang dapat diduga (predictable).
Mari kita lihat juga bersama sebuah fenomena alam berikut; sebuah aliran sungai
kecil mengalir dengan deras di sela-sela bebatuan pegunungan yang secara geometris
“tampak” tidak teratur, apa yang terjadi ? Di setiap jeram berbatu dengan tonjolan yang
amat variatif, satu-dua gugus molekul air terlempar dan memercik ke arah yang sedikit
berbeda dengan aliran yang merupakan “mainstream”. Bila kita perhatikan dengan lebih
cermat, percikan itu tidak pernah memiliki frekuensi yang ajeg dan kuantitas serta
kualitas yang konsisten pula. Setiap percikan intensitasnya senantiasa berbeda dan terjadi
pada kurun waktu yang selangnya berbeda-beda pula. Lebih aneh lagi, arah
percikannyapun nyaris selalu berubah-ubah, tidak jatuh menetap di satu titik. Mengapa
demikian ? Padahal batunya sama, volume aliran sungainya sama, kecepatan alirnya
sama, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi berada dalam kondisi nyaris statis, alias
tidak mengalami perubahan yang berarti. Pengamatan kita dalam hal ini mungkin dpat
disamakan dengan ketika kita berusaha untuk menjawab sebuah soal cerita matematika
sederhana dalam sebuah acara games yang ditayangkan TVRI. Pertanyaannya adalah;
berapa jumlah kelereng setiap anak sebelum diberikan sebagian kepada seorang rekan
mereka yang ingin ikut bermain. Lengkapnya demikian, 4 orang anak bermain kelereng
dan kemudian datang menyusul seorang anak lain yang ingin ikut bermain tetapi tidak
memiliki kelereng sendiri. Masing-masing anak kemudian menyumbangkan sejumlah
kelerengnya agar anak tersebut dapat ikut bermain, anak pertama menyumbang sebutir,
anak kedua 2 butir anak ketiga 3 butir, dan anak keempat 4 butir. Kini total jumlah
kelereng yang tersisa pada keempat anak itu adalah 42 butir kelereng. Untuk menjawab
pertanyaan ini kita biasanya berasosiasi bahwa ada suatu pola yang ribet dan
mengharuskan kita membuat sebuah persamaan matematika yang rumit; (a-1)+(b-2)+(c-
3)+(d-4) = 42. Dimana a,b,c, dan d seolah mengalami sebuah bentuk operasi yang tidak
equal, sehingga persamaan ini menjadi sebuah persamaan non linier. Apakah benar
demikian ? Apakah fenomena percikan yang tidak terpola itu juga merupakan sebuah
persamaan non linier ? Padahal jawaban pertanyan itu sederhana saja, jumlah kelereng
masing-masing anak sebelum disumbangkan sebagian adalah 13 butir. So simple, sangat
sederhana dan linier sekali !
Fenomena psikomatematika seperti ini akan muncul dalam penerapan berbagai
perangkat dan piranti sosial, termasuk peraturan pemerintah tentang kebersihan/
persampahan. Apakah seseorang membuang sampah begitu saja dari jendela mobil akan
jauh lebih buruk daripada bila seseorang itu tidak lagi membuang sampah dari jendela
mobil tetapi beralih profesi menjadi pembunuh serial ? Tentu untuk menegakkan
kepatuhan dan menentukan batasan ideal sebuah bentuk interaksi pasca liberalisasi
(kemerdekaan yang lambat laun menghasilkan anarki), diperlukan suatu parameter
obyektif yang terukur dan dapat diformulasikan sebagai acuan yang baku. Dinamisitas
sistem sebenarnya dapat diprediksi, sebagai contoh dalam sistem biologis misalnya,
populasi suatu spesies sebenarnya amatlah sukar untuk diikuti fluktuasinya. Begitu
banyak faktor yang terlibat dan mempengaruhi, serta tidak ada satu faktor yang dominan
dan deterministik. Hampir semua faktor kontributif dan memberikan efek Lorentz. Yaitu
suatu efek yang memiliki potensi “bola salju”, sekecil apapun perubahan yang terjadi
tetap saja hasil akhirnya akan sangat jauh berbeda. Selama ini probabilitas dalam ilmu
statistika biasanya hanya terpaku pada kemungkinan biner, ya dan tidak. Sebenarnya
probabilitas selalu menyediakan opsi ketiga yang sebenarnya mungkin bukan merupakan
variabel pilihan. “tangan-tangan” tak terlihat inilah yang sebenarnya “menjamin”
hadirnya suatu keteraturan. P(Hz^Cy)+P(Hy^Cz) = P(Cy).P(Hz I Cy)+ P(Cz).P(Hy I Cz)
= (1/3.1)+(1/3.1)=2/3 (Marylin Vos Savant) Dengan demikian kemungkinan pilihan tidak
lagi hanya pada ranah ya-tidak melainkan ada alternatif ketiga yang bisa dari salah satu
opsi ataupun bukan keduanya. Kecenderungan secara psikologis untuk mendapatkan hasil
yang positif sebenarnya adalah 2/3 berbanding 1/3 bila pilihan dilakukan secara dinamis.
Ada faktor perubahan dan ada energi pengubah yang bekerja menghasilkan gaya
perubahan. Seberapa besar gaya tersebut dapat bekerja amat bergantung kepada
konstanta kesetimbangan, yaitu Nx= (Ny).(1-Ny) (Robert May, George Oster, Jim
Yorke). Dalam hal sifat dan perilaku psikologis Nx diasumsikan menjadi P dimana bila P
stabil maka perubahan perilaku ecara umum akan berada dalam bentuk kurva yang
optimal. Subtitusi dan konjungsi dari kedua rumus itu bisa menjadi demikian : 
(Ny).(1-Ny)(Hz^Cy)+  (Ny).(1-Ny)(Hy^Cz) =  (Ny).(1-Ny) [Cy].  (Ny).(1-Ny) [Hz I
Cy] +  (Ny).(1-Ny) [Cz].  (Ny).(1-Ny) [Hy I Cz] = 2/3. P sebagai besaran perubahan
perilaku positif disubstitusi oleh Nx sebagai variabel perubahan, jadi dapat disimpulkan
bahwa peluang akan semakin besar bila variabel perubahan bersifat ajeg. Konstanta ()
yang menentukan laju variabel perubahan adalah sub variabel/ faktor optimasi seperti
azas resiprositas, pengetahuan, dan “liking”. Resiprositas akan menjadi beban yang
bersifat represif pada saat sub faktor a dan a’nya menghasilkan resultante negatif,
demikian pula pengetahuan dan “perasaan menyukai”. Apabila pengetahuan dan
kepentingan serta rasa menikmati bergeser menjadi sebuah obsesi maka konstanta yang
muncul adalah konstanta yang mendorong menggejalanya fenomena obsesif-kompulsif di
masyarakat. Robert May dan kawan-kawan menemukan sebuah fenomena yang unik
pada persamaan ini, bila  kurang dari 1 maka nilai Nx atau P (probabilitas untuk patuh)
akan semakin kecil sampai tidak ada seorangpun yang akan mengikuti aturan tersebut.
Bila nilai  antara 1 dan 3 maka tingkat kepatuhan dan probabilitas untuk cenderung
patuh dan memahami peraturan meningkat pesat lalu bertahan dalam posisi stabil ( grafik
1).
Sedangkan bila nilai  lebih dari 3 maka tingkat kepatuhan akan berfluktuasi secara
dinamis yang diduga akibat adanya fenomena reluktansi dan perlawanan terhadap
pembakuan tatanan kehidupan ( grafik 2).
Peraturan dalam hal ini sudah menjadi “musuh” komunal yang membangkitkan semangat
perlawanan bersama. Hal ini mengingatkan kita kepada peristiwa jatuhnya rezim Orde
Baru. Dari rumus May didapati bahwa nilai N yang mendekati 1 menunjukkan tingginya
tingkat kepatuhan dan pemahaman terhadap aturan atau regulasi yang ditetapkan.
Sedangkan bila semakin mendekati 0 maka semakin rendah pula tingkat aksespsi
terhadap regulasi. Dari rumus tersebut sebenarnya kemungkinan seseorang utnuk
mematuhi aturan, regulasi, dan etika moral memiliki peluang untuk diaksepsi dan
diterima 100% oleh masyarakat atau subyek hukumnya. Tetapi formulasi Marylin Vos
Savant memberikan gambaran kepada kita bahwa akan selalu ada “pilihan” yang bersifat
dinamis di benak ( pikiran) manusia. Sehingga dorongan manusia untuk melakukan
pilihan “benar” memiliki peluang sebesar 66,6666%. Hal ini sesuai dan Insya Allah dapat
menajdi bukti kebenaran salah satu firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran yang
menyatakan bahwa sesungguhnya manusia itu berkecenderungan untuk berbuat baik (
Hanif).
Dari pemarapan dan penyintesaan formulasi dan model matematika di atas, maka
dapat disimpulkan kini bahwa tugas aparatur birokrasi untuk menyukseskan program
“law enforcement” di masyarkat adalah dengan sesegera mungkin merumuskan
parameter-parameter yang obyektif serta sangat terukur untuk kemudian dikelompokkan
sesuai dengan klasifikasi pengaruhnya ke dalam skala ordinal. Selanjutnya nilai dalam
skala ordinal dari masing-masing variabel pengaruh itu diklasifikasikan lagi sesuai
dengan fungsinya, mana yang menjadi bagian dari konstanta (), dan mana yang menjadi
nilai H dan C ( faktor pengubah internal). Sedangkan nilai Ny dapat diperoleh dari data
statistik tentang tingkat kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang sudah diterapkan
dalam kurun waktu tertentu di sebuah atau beberapa kota sebagai sampel representatif (
model). Dapat pula untuk menguji efektifitas penerapan peraturan pemerintah, dilakukan
sebuah penelitian garis waktu ( timeline) atau kohort prospektif agar pemerintah dapat
senantiasa memutakhirkan nilai Ny-nya.

Selain dengan model probabilitas mental berbasis pendekatan Marylin Vos


Savant, dapat pula dikembangkan metoda simulasi manipulasi komunitas dengan
menggunakan konsep Jaringan Saraf Tiruan ( Artificial Intelligence). Dimana fungsi
regulasi ( bisa sebagai fungsi sign, sigmoid, atau linier) berada di hidden layer yang
bekerja mempengaruhi keluaran hasil operasi sebuah piranti lunak peraturan.
Denny Hermawanto, Ilmu Komputer.com, 2003
Pendekatan lain adalah dengan memetakan permasalahan psikososial yang
kompleks dengan menggunakan algoritma berbasis pendekatan genetika, dimana hasil
operasi yang akan menjadi keluaran ( output) adalah hasil rekombinasi gena yang terbaik.
Proses manipulasi komunitas dengan pendekatan algoritma genetika diharapkan dapat
mengakomodir berbagai potensi yang konstruktif ( dominan) dan mengeliminir kondisi
yang tidak diharapkan ( resesif).
Dapat pula dikembangkan sebuah model matematika untuk membantu sistem
pengambilan keputusan dan mencari solusi permasalahan psikososial yang berbasis
kepada definisi dan bobot masalah serta kontribusi peran setiap variabel, seperti
tergambar dalam diagram berikut:

Diagram alir sistematika pemecahan masalah psikososial berbasis matematika

Pada prinsipnya pendekatan matematika dan metoda permodelan digunakan agar


didapatkan pemescahan terhadap masalah-masalah psikososial yang kompleks secara
terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis ( ilmiah).
BAB 5
NUTRIGENOMIK dan ENVIROGENOMIK,
Pendekatan Biologi Molekuler dalam Ilmu Gizi Klinik dan
Kesehatan Lingkungan

NUTRIGENOMIK

Apa itu nutrigenomik ? Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan


antara asupan komponen makanan dengan ekspresi gen dan interaksi yang terjadi antara
gen dengan lingkungan tempat manusia hidup.( Ruth M DeBusk, PhD, RD, Tallahase
Florida). Definisi lain yang lebih terperinci adalahh; Nutritional Genomic atau
nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara genom manusia, nutrisi,
dan kesehatan.Salah satu tujuan dari nutrigenomik adalah mempelajari dan
mengidentifikasi bagaimana makanan dapat memodulasi ekspresi gen, biosintesis protein,
dan proses metabolisme.

Fungsi zat nutrien di tingkat sel :


1. Secara langsung: sebagai ligan untuk reseptor faktor transkripsi
2. Untuk dimetabolisme oleh jalur metabolisme primer maupun sekunder, dimana
hasilnya akan mempengaruhi konsentrasi substrat yang terlibat dalam regulasi
gen atau proses sinyal transduksi
3. Mempengaruhi secara langsung jalur proses sinyal transduksi dan proses
persinyalan biokimiawi

Jika mengacu kepada hirarki fungsi nutrien di tingkat seluler dan molekuler, maka faktor
transkripsi adalah titik tangkap yang paling krusial dalam memfasilitasi pengaruh
makanan pada genom. Faktor transkripsi dalam ranah nutrigenomik adalah agen utama
dimana nutrien dapat mempengaruhi ekspresi gen. Super famili faktor transkripsi dengan
reseptor nuklear (inti) ( terdapat 48 jenis/kelompok dalam genom manusia) merupakan
kelompok sensor terpenting bagi zat nutrisi (nutrien). Banyak reseptor dari jenis ini yang
berikatan dengan nutrien dan metabolitnya. Sebagai contoh retinoic acid receptor ( RAR)
akan berikatan dengan asam retinoat ( vitamin A), sedangkan vit D receptor ( VDR) akan
berikatan dengan vit D, dan peroxisome proliferator activated receptor (PPAR) akan
berikatan dengan asam lemak (Fen Tih, 2007), dimana PPAR gamma-2 terkait dengan
sesnsitifitas reseptor terhadap hormon insulin. Pengaruh nutrin lain adalah pada faktor
transkripsi GSTM1. Dimanaq GSTM1 adalah gen yang terkait dengan fungsi antioksidan
endogen seperti glutation peroksidase, katalase, super oksid dismutase, atau enzim
peroksidase yang sangat penting dalam proses perbaikan sel, peradangan, dan munculnya
penyakit degenratif akibat paparan radikal bebas.
Penelitian dan pengujian dalam ranah nutrigenomik mengacu kepada hirarki ekspresi
DNA sehingga menggunakan teknologi ”omics” yang serupa, yaitu : transcriptomic
untuk melihat dan mengamati hasil dari proses transkripsi, daalam hal ini mRNA.
Teknologi yang dipergunakan antara lain microarray.

Hasil proses pemeriksaan DNA Microarray


Lalu dilanjutkan dengan Proteomics, yaitu pengamatgan pada protein yang meliputi:
ekspresi protein, struktur, dan fungsi.Pendekatan berikutnya adalah metabolomics yang
lebih memfokuskan pada profil metabolit seperti lemak plasma, mineral, ataupun kadar
berbagai vitamin dalam tubuh.
Istilah lain yang saat ini juga mulai dikenal di dunia medis adalah nutrigenetik.
Nutrigenetik adalah ilmu yang mempelajari respon terhadap diet/pola makan berdasar
varian genetika seseorang.
Apa yang dapat kita peroleh dengan mempelajari nutrigenomik ? Dengan
pengetahuan tentang nutrigenomik kita akan mendapatkan data terkait dengan unsur
bioaktif dalam makanan yang mempengaruhi keluaran genetik dan fungsi fisiologis.
Nutrigenomik berbasis pada pengetahuan tentang gen, DNA, proses pengekspresian
protein, dan kandungan nutrisi pada berbagai zat makanan. DNA adalah material
genetik, DNA adalah urutan linier nukleotida, Sebuah gen adalah urutan tertentu
nukleotida di DNA yang menyandikan protein (resep pembentukan protein), protein
adalah material biokimiawi yang menjalankan hampir semua fungsi di tingkat seluler.

Fungsi biologis DNA sebagai ”buku resep” pembentukanasam amino, dikutip dari Color Atlas of Genetic,
Eberhard Passarge, MD. Thieme 2001
Pada dasarnya setiap manusia memiliki susunan gen yang sama, perbedaan yang
terjadi sebagai varian di antara kelompok spesies disebut polimorfisme. Polimorfisme
yang seringa terjadi pada manusia adalah SNP ( Single Nucleotide Polymorphysm).
Perbedaan karena SNP diantara populasi hanya berkisar sekitar 1%. Sebagai contoh,
perbedaan antara protein Beta globin normal (terdapat di eritrosit/sel darah merah)
dengan protein Beta globin abnormal pada pasien Sickle Cell anemia hanya terdapat pada
1 asam amino, glutamat jika normal dan valin jika sickle cell anemia.
Polimorfisme pada manusia dapat dilihat pada pengekspresian gen 5,10-Methyl
Tetra Hydro Folate Receptor (MTHFR), perubahan terdapat di ekson 4 (daerah gen yang
membawa resep penyandi), khususnya di daerah basa nukleotida nomor 677, hanya 1
nukleotida atau basa nitrogen saja yang berubah. Dari semula S ( sitosin) menjadi T
(timin). Orang-orang dengan gen homozigot ( mengandung dua nukleotida T) akan
meningkat kadar homosisteinnya yang merupakan faktor resiko penyakit jantung. Peran
gen MTHFR dalam kondisi normal adalah menyuplai 5-methylentetrahydrofolate untuk
mengkatalisa proses remetilasi homosistein sehingga berubah menjadi metionin.
Metionin sendiri akan berperan dalam proses produksi neurotransmiter dan proses
regulasi ekspresi gen. Sementara menurut penelitian Dr. Jin-Sang Yoon et al dari
University Medical School Kwang Giu Republic Korea, kadar asam folat yang rendah
dan homosistein yang tinggi akan menyebabkan terjadinya peningkatan resiko insidensi
demensia dan gangguan kognitif.
Polimorfisme juga dapat diamati pada gen Apoliprotein E dengan isoform E2,3,
dan 4, maka pada orang dengan genotip E4 ( sekitar 25% dari total populasi) akan
cenderung lebih beresiko terhadap penyakit jantung dan cenderung memiliki kadar
kolestrol LDL tinggi. Sedangkan pada kasus polimorfisme gen PPAR terjadi pertukaran
antara asam amino prolin dengan alanin. Kasus ini terjadi pada sekitar 26% orang di
populasi. Konsekuensinya adalah munculnya kecenderungan indeks massa tubuh yang
tinggi. Menurut hasil penelitian Dr. Helen Christensen et al ( BMC Geriatric 2008) APO-
E4 diduga juga berhubungan dengan penurunan kemampuan kognisi pada kelompok
lansia berusia antara 65-69 tahun.
Polimorfisme atau mutasi pada gen reseptor vit D ( VDR) akan berakibat pada
berkurangnya respon terhadap asupan beberapa komponen makanan seperti kalsium,
lemak, dan pasti vitamin D yang tentu akan menimbulkan resiko terjadinya penyakit
tertentu. Dalam kondisi ini asupan kafein akan menjadi faktor resiko bagi terjadinya
proses pengurangan massa tulang ( osteoporosis) pada wanita yang memasuki usia
menopause.
Polimorfisme pada gen angiotensinogen, gluthathion peroxidase, dan alcohol
dehydrogenase dapat menyebabkan berbagai penyakit yang terkait dengan fungsi
proteinnya seperti hipertensi, kanker, dan sirosis hepatis. Diet serat dan selenium
misalnya, dapat membantu orang-orang yang mengalami polimorfisme pada gen
angiotensinogen dan gluthathion peroxydase. Intoleransi terhadap laktosa juga
merupakan kasus polimorfisme pada gen LCH ( lactasephlorizin hydrolase) yang terdapat
pada lokus 21 lengan panjang kromosom 2 ( 2q21). Polimorfismenya terjadi di daerah
promoter dari gen laktase, terdapat 11 varian polimorfisme. Kondisi intoleransi laktosa
dapat menyebabkan terjadinya defisiensi zat-zat nutrien tertentu seperti protein dan
kalsium dari susu.
Pada diabetes tipe 2 sensitivitas sel terhadap insulin dipengaruhi antara lain oleh
gen Sterol response element binding protein-1c atau SREBP-1c yang terlibat dalam
pengaturan metabolisme lemak dan reseptifitas insulin. Gen ini juga diduga terkait
dengan aktivitas gen PPAR yang meregulasi metabolisme lemak. SREBP-1c merupakan
faktor transkripsi yang melekat di membran sel, berfungsi mengaktivasi ekspresi
sekumpulan gen yang meregulasi sintesis dan up-take kolesterol, asam lemak,
trigliserida, dan fosfolipid. Apabila gen SREBP-1c over ekspresi, maka akan muncul
perlemakan hati (fatty liver), kenaikan kadar trigliserida, dan resistensi insulin, pada
akhirnya terjadilah diabetes tipe 2. Overekspresinya SREBP-1c distimulasi oleh
koaktivator dari PPAR yaitu PGC-1. Bersama dengan PGC-1, PGC-1 terkait dengan
homeostasis energi dan glukoneogenesis. Polimorfisme pada koaktivator inilah yang
menyebabkan terjadinya peningkatan lipogenesis dan produksi very low density
lipoprotein ( VLDL).
Polimorfisme atau varian dalam bentuk lain adalah haplotip. Contoh dari haplotip
adalah perubahan yang terjadi di Cholestrol Ester Transfer Protein Gene ( CETP).
Sebuah gen terdiri dari regio penyandian (coding region) dan regio pengendali
(control region). Faktor transkripsi berikatan dan bekerja mempengaruhi regio pengendali
gen, sementara komponen bioaktif dari makanan akan berikatan dengan faktor
transkripsi. Sehingga secara tidak langsung komponen bioaktif makanan akan
mengendalikan ekspresi sebuah gen.Sebagai contoh daerah pengendali yang dipengaruhi
PPAR gamma dan RXR memiliki korelasi dengan keberadaan PUFA dan vitamin A,
karena kedua komponen makanan itu berikatan dan mempengaruhi kinerja kedua faktor
transkripsi itu. Sementara komponen makanan lain yang merupakan basis nutrisi seperti
vitamin, mineral, asam amino, gula, dan lemak juga dapat dilacak target gennya. Omega-
3 (PUFA), asam linoleat, EPA, DHA memiliki target gen tersendiri.Flavonoid, quarcetin,
isoflavon atau isolat dari protein kedelai/ kacang-kacangan, stanol, sterol ester dan
peptida bioaktif juga sangat mempengaruhi gen. Jangan lupa bahwa flora normal usus,
kulit, dan saluran cerna serta nafas juga memiliki pengaruh pada ekspresi gen (probiotik).
Serat/serat mikro terlarut serta prebiotik juga memiliki pengaruh di regio pengendali gen.
Sementara komponen tambahan seperti ko-enzim Q10 juga dapat mempengaruhi ekspresi
gen. Pengaruh lain yang dapat mengubah ekspresi gen antara lain adalah zat aditif,
hormon, pestisida, dan zat pengawet.
Contoh salah satu upaya terapeutik melalui nutrisi ( berbasis pendekatan nutrigenomik)
pada pasien dengan kasus yang khas :
x Tujuan --> Menurunkan kadar LDL Strategi terapi -->rendah lemak jenuh, tidak
mengonsumsi lemak transisi, dan diet tinggi serat, Diet Implementatif -->
Sayuran, kedelai, sterol dari tumbuhan, buah-buahan.
x Menurunkan Trigliserida --> Strategi terapi --> Makanan-makanan dengan
indeks glikemik rendah, Implementasi Diet --> bebijian/sereal, FOS, tepung
x Meningkatkan HDL --> Strategi terapi --> olahraga, asam lemak tidak jenuh -->
implementasi diet --> protein kedelai, isoflavon, PUFA
x Mengurangi radang --> strategi terapi penurunan berat badan, pengendalian
tekanan darah, probiotik --> implementasi diet --> makanan kaya flavanoid
(kunir, jahe, temulawak, kencur, laos, dan temulawak), ikan, kedelai, kacang-
kacangan, kemiri, minyak ikan

Contoh lain aplikasi nutrigenimik dalam ranah preventif ( pencegahan):


Makanan yang baik untuk kesehatan Jantung:
x Antioksidan yang bisa didapatkan dari buah dan sayur seperti apel, wortel,
brokoli,
x Serat terlarut atau Beta Glukan yang bisa didapatkan dari biji oats, juwawut,
sayuran, FOS, dan pati
x Peptida bioaktif yang bisa didapatkan dari : protein dan lakto-tripeptida
x Flavonoid yang bisa didapatkan dari buah-buahan, rempah rimpang (curcuma
sp), teh, kopi, daun sirih
x Asam Folat, Niasin, dan Vit B12 yang bisa didapatkan dari sayur berdaun hijau
tua, jeruk, hati
x Fitosterol
x PUFA yang bisa didapatkan dari ikan yang hidup di air dingin (salmon, lele,
patin, dan jambal yang dipelihara di dataran tinggi), lemuru atau keluarga
sarden, minyak ikan, minyak nabati seperti minyak zaitun, sawit, jagung, dan
virgin cocconut oil ( VCO).
x Makanan kaya mineral seperti kacang-kacangan, susu, buah dan sayur
x Protein kedelai yang bisa didapatkan dari tempe, tahu, susu kedelai, dan kudapan
ringan berbasis kedelai
Makanan yang baik bagi kesehatan sistem Imun:
x Makanan yang mendukung detoksifikasi yang bisa didapatkan dari sayur
krusiferus ( kol atau brokoli), whole grains
x Makanan kaya serat yang bisa didapatkan dari beras dengan kulit arinya,
sayuran, juwawut, oat, buncis, kacang panjang
x Asam folat yang bisa didapatkan dari sayuran berdaun hijau tua, jeruk, whole
grains (biji-bijian)
x Likopen yang berasal dari tomat
x Fitonutrisi dari teh, kopi,anggur, apel,
x Probiotik dari keluarga laktobasilus
x Vitamin D yang bisa didapatkan dari susu dan produk susu seperti keju dan
yoghurt

Makanan yang baik bagi penderita Diabetes Melitus tipe 2 :


x Serat : sayur, buah, buncis, beras dengan kul,it ari, biji-bijian, agar-agar dari
rumput laut
x Makanan berindeks glikemik rendah, yaitu makanan-makanan yang melepaskan
glukosa ke aliran darah secara lambat
x makanan kaya mineral sepertikacang-kacangan, susu, dan bebijian
x Makanan pelindung jantung seperti serat terlarut, produk susu rendah lemak,
makanan kaya fitonutrisi, makanan kaya vitamin B, protein lakto-tripeptida,
produk sterol seperti margarin, makanan yang kaya omega-3, dan produk
kedelai.
Contoh hasil pemeriksaan laboratorium berbasis biologi molekuler yang menunjukkan fungsi dari
beberapa gen dalam proses fisiologi manusia

Nutrisi dan pola makan dapat mempengaruhi ekspresi gen dan struktur DNA
antara lain menurut Ross 2003 melalui suplai gugus metil untuk membentuk S-
adenosilmetionin (SAM) yang berlaku sebagai donor metil. Mekanisme kedua adalah
dengan mempengaruhi aktivitas enzim DNA metiltransferase, dimana semua mekanisme
tersebut mungkin dipengaruhi oleh gen pengatur proses absorbsi dan metabolisme serta
gen yang teraktifkan secara langsung oleh komponen makanan yang bersifat bioaktif.
Pemberian suplementasi kolin, betain, asam folat, Vit B12, metionin, dan zinc pada induk
tikus menghasilkan perubahan berupa peningkatan proses metilasi DNA di daerah
promoter di regio gen agouti. Perubahan ini ditandai dengan terjadinya perubahan pola
warna dan bulu anak tikus. Pada penelitian lain didapati bahwa pada penderita
ketergantungan pada alkohol, terjadi peningkatan metilasi DNA terutama yang terkait
dengan HERP ( homosisten induced reticulum endoplasmic protein). Akibatnya terjadi
peningkatan kadar homosistein yang berpotensi untuk menimbulkan penyakit jantung.
Saat ini nutrigenomik sudah sedemikian berkembang, sehingga setiap aksi dari
komponen bioaktif dalam makanan dapat ditelusuri regio gennya. Sebagai contoh adalah
gen Nuclear Factor E2p45 related factor2 ( Nrf2) dapat dipengaruhi oleh sulforafan yang
banyak dikandung oleh sayuran krusiferus seperti brokoli dan kol. Uji coba pada tikus
menunjukkan bahwa tikus yang kekurangan gen Nrf2 yang diberi sulforafan
memperlihatkan respon positif berupa peningkatan kadar glutation s-transferase,
nicotinamide adenine dinucleotide phosphate, quinone reductase, gamma-
glutamylcysteine synthase, dan epoxyde hydrolase yang biasanya terjadi pada saat Nrf2
dirilis membuktikan bawha sulforafan dapat menstimulasi hal yang sama atau memlaui
aktivasi Nrf2.Dengan demikian sulforafan secara tidak langsung dapat mengaktifkan
metabolisme enzim xenobiotik, anti oksidan, dan biosintesa enzim
Diet n-3PUFA dari minyak ikan ternyata dapat menekan ekspresi dari gen
Stearoyl-Co A desaturase ( SCD). Isoform SCD-1 merupakan aktivator dari gen SREBP-
1c yang terlibat dalam proses terjadinya diabetes tipe 2. Maka konsumsi mkinyak ikan
(PUFA) pada penderita DM tipe 2 dapat meningkatkan sensitifitas reseptor insulin.
Sebaliknya asupan kolesterol yang tinggi dapat menyebabkan stimulasi pada gen SCD-1
dan mengakibatkan overekspresinya gen SREBP-1c, sehingga memperberat resiko
kemunculan diabetes tipe 2. Selain PUFA atau minyak ikan, suplementasi pada DM tipe
2 juga terdiri atas Alpha-Lipoic-Acid (ALA) atau Thiotic Acid yang bersifat antioksidan
kuat dan dapat melindungi kerusakan degeneratif pada sel, diharapkan ALA mampu
meningkatkan reseptifitas reseptor insulin di membran sel. ALA banyak terdapat di hati,
bayam. Brokoli, dan kentang.
Selain itu kromium juga dianggap dapat memperbaiki proses transkripsi dan
ekspresi reseptor insulin. Polifenol dari berbagai tumbuhan juga banyak digunakan untuk
meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin.
Minyak ikan yang kaya akan PUFA juga terbukti mampu meningkatkan
kemampuan kognisi pada anak-anak yang disuplementasi. Hasil studi di Indonesia dan
beberapa negara berkembang lainnya, menunjukkan bahwa beberapa ratus anak yang
menjadi sampel eksperimen meningkat secara signifikan kemampuan intelektualnya.
Topik menarik lain dalam kasus-kasus pada ranah nutrigenomik antara lain adalah
pengamatan pada peran gen N- Acetyltransferase ( NAT) yang berperan sebagai
penyandi protein NAT dengan fungsi sebagai katalisator proses asetilasi. Proses asetilasi
yang diperankan NAT antara lain adalah pada gugus heterocyclic aromatic amines atau
HAA. HAA ini dapat ditemukan pada daging yang dimasak dengan suhu tinggi. Apabila
daging atau otot hewan dimasak dalam suhu tinggi maka beberapa asam amino akan
bereaksi dengan kreatin dan membentuk HAA. HAA akan berubah menjadi metabolit
aktif apabila diasetilasi. Metabolit aktif HAA akan berikatan dengan DNA dan
menimbulkan mutasi yang pada akhirnya dapat menyebabkan munculnya keganasan atau
kanker. Pada fase II pembentukan enzim pasca proses translasi terdapat dua varian NAT,
yaitu NAT 1 dan 2, orang-orang dengfan genotip yang cenderung membentuk NAT 2
memiliki tingkat kecepatan asetilasi yang lebih tinggi, maka orang-orang ini akan lebih
mudah terkena kanker.
Pada beberapa eksperimen nutrigenomik ditemukan pengaruh yang signifikan
pada intervensi nutrien seperti probiotik (Lactobacillus GG) pada pasien dengan
esofagitis. Pemberian Lactobacillus GG terbukti dapat mempengaruhi ekspresi beberapa
gen yang terlibat dalam proses respon imun dan peradangan seperti TGF-, keluarga
TNF, sitokin, nitric oxyde synthase, defensin-1, dan beberapa gen yang terlibat dalam
regulasi apoptosis serta diferensiasi sel seperti siklin, kaspase, dan onkogen. Gen lain
yang turut dipengaruhi antara lain adalah gen-gen yang terlibat dalam proses persinyalan
sel seperti keluarga ICAM dan integrin, adhesi sel (cadherin), dan faktor-faktor
transkripsi serta transduksi.
Hasil penelitian pada biomarker TNF- menunjukkan bahwa pemberian minyak
ikan dapat mereduksi ekspresi TNF- dan mengurangi gejala peradangan. Grimble et al
(2002) menyatakan bahwa orang-orang dengan tingkat produksi TNF tinggi lebih
responsif terhadap pemberian minyak ikan dalam pengendalian radangnya dibandingkan
dengan mereka yang ekspresinya rendah. Sementara itu hasil penelitian Low et al (2005)
menunjukkan bahwa pemberian Genistein (isoflavon) kedelai dapat meningkatkan kadar
estradiol, dan pada wanita yang memliki polimorfisme gen pembentuk estradiol hal ini
berarti mampu mereduksi sekitar 30% kemungkinan untuk mengidap kanker payudara.
Menurut Thomas et al ( 2004) kadar estrogen yang ditentukan oleh estradiol
mempengaruhi kesehatan tulang dan payudara.
Beberapa pola atau metoda makan dan pemilihan bahan makanan yang mengandung
nutrisi tertentu amat mempengaruhi ekspresi protein dan derivatnya seperti enzim dan
hormon. Sebagai contoh adalah hasil penelitian Dr. Karen Foster-Schubert et al dari
University of Washington School of Medicine, konsumsi protein tinggi akan menurunkan
produksi hormon Grelin ( hormon yang mempengaruhi nafsu makan), sedangkan diet
atau asupan tinggi lemak akan mengakibatkan peningkatan hormon Grelin. Sedangkan
asupan karbohidrat pada awalnya tidak meningkatkan hormon Grelin, tapi sesaat setelah
dikonsumsi akan meningkatkan hormon Grelin sangat tinggi. Sedangkan konsumsi
protein tinggi dalam jangka panjang akan mensupresi Grelin dalam jangka panjang pula.
Dengan demikian agar makan kita tidak berlebihan, semestinya pola makan harian
didahului dengan urutan protein ( baik dari segi kuantitas maupun hirarki), baru
kemudian karbohidrat, lemak, yang disertai serat mikro terlarut.
Contoh lain adalah hasil penelitian Karolinska Institute yang mendapatkan fakta
bahwa suplementasi magnesium terbukti dapat menurunkan resiko kejadian infark
serebral primer.
Pada ranah yang lebih bersifat molekuler, pendekatan nutrigenomik juga harus
dipertimbangkan tidak hanya sebagai stimulator faktor transkripsi melainkan juga sebagai
pensubstitusi protein atau peptida. Sebagai gambaran, pada kasus kanker payudara ( Ca
Mammae) proses distribusi anak sebar ( metastasis) dihambat oleh mikro protein RNA
miR 126 yang akan menginhibisi laju pembelahan ( proliferasi) sel-sel metastatik.
Sementara miR 335 dan 206 akan mengatur dan mencegah migrasi sel kanker ke daerah
paru dan tulang.
Sementara pada kasus insidensi infeksi norovirus atau lebih dikenal sebagai ”flu
perut” akibat polimorfisme atau mutasi pada gen MDA-5 dan TLR-3, dapat saja jenis-
jenis nutrien dengan konformasi asam amino sesuai dapat mensubstitusi hasil ekspresi
MDA-5 dan TLR-3. Apabila hasil penelitian di kemudian hari menunjukkan bahwa
beberapa jenis makanan atau kombinasi makanan tertentu dengan cara memasak tertentu,
maka insidensi norovirus atau bahkan rotavirus dapat dikendalikan dengan berbasis pada
pengaturan nutrisi.
Untuk mencegah rusaknya struktur dan fungsi genom akibat pengaruh
lingkungan, makanan, ataupun agen biologis, saat ini tengah dipelajari berbagai gen yang
diduga memiliki kemampuan sebagai ”gen detox” agen-agen yang bersifat genotoksik.
Gen-gen itu antara lain adalah : OB, UCP, erbB-2, ras, myc, p53, BCL-2, Ki-67, dan
HNF-1 (Wiedmann, 2005).
Nutrigenomik juga dapat dikolaborasikan dengan perkembangan terapi
kedokteran yang sudah memasuki ranah molecular medicine. Salah satu contoh terbaik
adalah sinergi atau kerjasama antara Herceptin, obat kanker payudara yang berikatan dan
memblok protein yang disandi oleh HER2/neu/ erbB2, dengan asam oleat ( mono
unsaturated fatty acid/ MUFA) yang meregulasi overekspresi dari gen tersebut. Dengan
konsumsi MUFA maka gen HER2 akan overekspresi dan memudahkan Herceptin untuk
berikatan dan melakukan proses pemblokiran.

ENVIROGENOMIK

Enviro atau Eko Genomik adalah istilah yang dipergunakan untuk


menggambarkan suatu pengetahuan berbbasis biologi molekuler yang mempelajari
hubungan atau interaksi antara gen dengan lingkungan. Konteks lingkungan dalam hal ini
adalah ekosistem dan habitat yang ditinggali dan menjadi tempat beraktivitas manusia.
Mengapa Envirogenomik penting untuk dipelajari ? Envirogenomik menjadi
sangat penting karena setiap manusia semenjak masa konsepsi atau penggabungan antara
sel sperma dan sel telur telah mendapat pengaruh lingkungan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Saat inipun terjadi degradasi atau penurunan kualitas lingkungan
hidup yang ditandai dengan semakin tidak kondusifnya habitat kita. Di dalam
populasipun angka morbiditas atau tingkat kesakitan akibat pengaruh lingkungan
meningkat pesat.
Degradasi kualitas lingkungan dapat diamati antara lain pada kualitas udara, air,
dan berbagai cemaran ( polutan) yang kadarnya semakin hari semakin melonjak di atas
ambang batas konsentrasi yang dapat ditolerir oleh makhluk hidup. Pesatnya industri dan
tingginya efek emisi gas rumah kaca seperti karbon monoksida, sulfur oksida, dan
nitrogen oksida membuat suhu atmosfer meningkat ( global warming), bocornya lapisan
ozon akibat limbah gas-gas aerosolik seperti CFC ( Chlor Fluoro Carbon) mendorong
terjadinya peningkatan kualitas radiasi ultra violet. Maraknya sektor riil dan industri
menjadikan bertumbuh pesatnya pabrik-pabrik yang terkadang berkontribusi memberikan
cemaran pada lingkungan berupa limbah zat kimia, bahan sintetik, dan limbah biologis.
Selain itu budaya manusia yang terbiasa untuk menerapkan konsep hasil lebih utama
dibandingkan proses menjadikan manusia acapkali menggunakan zat-zat berbahaya.
Banyak makanan diberi zat pengawet dan penambah cita rasa, dalam bidang pertanian
penggunaan pestisida marak dan tak lagi dapat dihindari. Cemaran logam berat dan
polusi udara juga muncul karena orang banyak sekali menggunkan kendaraan bermotor
berbahan bakar fosil/ karbon.

Contoh kromosom yang mengalami fragile X syndrome yang dapat menyebabkan mental retardasi
Dari perspektif genom atau DNA, pengaruh lingkungan dapat menimbulkan
kerusakan asam nukleat yang ditandai dengan terjadinya perubahan urutan basa
nukleotida atau bahkan rusaknya struktur dalam cakupan lebih luas. Peristiwa ini disebut
mutasi, mutasi dapat terjadi pada satu titik, bertukarnya basa, menyelipnya satu atau
beberapa basa pada daerah yang bukan urutannya ( insersi), atau bahkan terhapusnya
beberapa basa sekaligus (lihat gambar) :

Skema terjadinya proses mutasi dan akibat yang ditimbulkan yaitu perubahan asam amino sebagai hasil
penyandian disadur dari Color Atlas of Genetics, Eberhard Passarge, MD. Thieme 2001

Mutasi yang berkelanjutan dan gagal direpair atau diperbaiki oleh mekanisme
perbaikan DNA endogen akan berkembang menjadi kondisi patologis seperti munculnya
neoplasia atau kanker. Mutasi DNA pada kasus kanker mengakibatkan diproduksinya
protein-protein abnormal seperti overekspresinya faktor pertumbuhan ( growth factor),
rusak dan terganggunya kendali siklus sel ( molekul p53), dan hilangnya marka-marka
pengenal sistem imunitas di permukaan membrannya. Akibatnya sel-sel neoplasia akan
tumbuh liar tak terkendali.

Gambar kiri sel kanker Small Cell Lung Cancer di antara sel-sel paru normal dan gambar kanan adalah
molekul protein faktor pertumbuhan pada leukimia yang berikatan dengan molekul obat ”pintar” Gleevec.
Sumber: Life, The Science of Biologi, Seventh edition

Perubahan genom yang terjadi memang tidak selalu disebabkan oleh mutasi,
tetapi dapat juga merupakan bagian dari proses adaptasi. Gen manusia dan juga sel
eukariotik lainnya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan
kondisi lingkungan. Mekanisme ini diperkenalkan oleh Dr.Kazuo Murakami sebagai
mekanisme ”on-off”. Dalam bukunya beliau merujuk pada hasil penelitian dari Francois
Jacob dan Jacques Monod dari Pasteur Institute yang mengamati bahwa bakteri
Eschericiae Colli yang dibiakkan dalam medium kaya glukosa dan laktosa secara selektif
hanya akan mengolah glukosa. Sedangkan apabila dibiakkan dalam medium yang hanya
diperkaya laktosa maka laktosa itupun kemudian diolah, dimetabolisme secara
biokimiawi. Fenomena ini menunjukkan bahwa E.Colli memiliki kemampuan untuk
memproduksi enzim laktase apabila dibutuhkan. Jika enzim laktase dapat diproduksi,
maka E.Colli pastilah memiliki gen laktase yang siap untuk diekspresikan. Mengapa pada
saat medium kaya akan glukosa dan laktase E. Colli hanya mengolah glukosa ? Bukankah
E.Colli juga memiliki gen laktase ? Jawabannya sederhana, E.Colli lebih kompatibel
dengan sumber energi dari glukosa sehingga gen laktase dinonaktifkan, sedangkan pada
saat tidak ada alternatif lain selain laktosa maka gen laktase distimulasi dan kemudian
ditranskripsi.
Perubahan atau kondisi lingkungan apa saja yang dapat mempengaruhi genom ?
Secara sistematis dapat dibedakan berdasarkan karakter dan kategorisasi lingkungannya.
Secara umum faktor pengaruh lingkungan terhadap genom dapat dibagi dalam pengaruh
yang bersumber/berasal dari aspek kimiawi/biokimiawi, biologis, fisis ( meliputi radiasi
elektromagnetik, cahaya, gelombang radio, emisi, radiasi nuklir, suhu, gelombang suara),
dan meteorologi dan geofisika ( kandungan gas dalam udara atmosferik, cuaca, iklim).
Berbagai contoh berikut baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung
kiranya dapat memberikan gambaran bahwa pengaruh lingkungan terhadap gen
sesungguhnya sangat signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Helen Mayberg et al
dari University of Toronto dan tim dari Emory University School of Medicine pada
pasien-pasien yang mengalami depresi kronik menunjukkan bahwa pemasangan Deep
Brain Stimulation ( DBS) di substansia alba dekat area Cg 25 ( regio singulata subkalosa)
( di kedua sisi hemisfer) akan memperbaiki fungsi girus singulata dalam meregulasi dan
mengontrol emosi. Apa hubungannya dengan envirogenomik ? Regulasi dan kontrol
emosi oleh girus singulata, khususnya regio singulata subkalosa, diefektori oleh
neurohormon yang disebut serotonin. Artinya efek listrik atau radiasi elektromagnetik
yang dipicu oleh DBS dapat mengaktifkan proses ekspresi gen-gen yang terkait dengan
serotonin. Padahal radiasi elektromagnetik di alam sangatlah beragam dan senantiasa
memapari kita sepanjang hari.

Kaki embrio ayam yang memiliki molekul BMP4 dan tidak dilengkapi molekul Gremlin yang mencegah/
menghambat aktivitas BMP4 sehingga proses apoptosis tidak dapat berjalans, terbentuklah jari kaki yang
terpisah, sesuai dengan fungsinya

Kaki embrio bebek dengan molekul pertumbuhan BMP4 tetapi dilengkapi dengan molekul Gremlin,
sehingga tidak terjadi proses apoptosis dan terbentuklah kaki bebek dengan selaput renangnya. Sumber :
Life, The Science of Biology Seventh Eds
Ilustrasi di atas adalah contoh lain tentang kemungkinan pengaruh lingkungan
pada makhluk hidup melalui proses mutasi. Jika ayam mengalami paparan radiasi (
seperti bibit padi varietas unggul yang sengaja dimutasi dengan diradiasi nuklir) dan
mengalami kerusakan pada gen penyandi molekul tertentu sehingga menghasilkan
protein menyerupai Gremlin atau sebaliknya terjadi mutasi akibat zat kimia pada gen
penyandi molekul Gremlin, daerah ekson atau daerah regulator ( promoter dan faktor
transkripsi), pada bebek, maka kaki ayam akan berselaput dan kaki bebek berjari-jari.

Gambar kiri kaki ayam, gambar kanan kaki bebek


Kasus dan contoh lain adalah berkurangnya gejala tinitus ( suara abnormal di
saluran pendengaran/ tanpa sumber suara yang jelas) melalui terapi repetitive
Transcranial Magnetic Stimulation ( rTMS). Sementara agen kimia dan biologis sebagai
penyebab perubahan profil dan kinerja genom dapat diamati pada kasus terjadinya asma
akibat fenomena GERD atau Gastro Oeshophageal Reflux Disease. Refluks yang
menyebabkan aspirasi ke paru-paru ini ternyata kemudian mampu membangkitkan
aktivitas IgE melalui switching th1 ke jalur th2. Berarti terjadi perubahan mendasar pada
sistem imunitas humoral yang melibatkan pembentukan antibodi. Analogi sederhana itu
menunjukkan kepada kita bahwa pengaruh ”zat asing” ternyata cukup berpengaruh pada
proses pengekspresian sebuah atau beberapa gen. Jika kita melihat kompleksitas
mekanisme pengekspresian gen dan banyaknya jumlah gen yang terlibat dalam
pembentukan molekul antibodi, maka pengaruh faktor eksogen bisa saja mendistorsi dan
mensupresi fungsi beberapa gen ( lihat gambar):
Struktur antibodi ( kiri), gen yang terlibat dalam pembentukan rantai berat dan ringan di molekul antibodi
( bawah), dan konformasi gen yang terjadi dalam proses diferensiasi antibodi ( kanan).

Pengaruh lingkungan pada genom manusia yang bersifat masif dapat


mengakibatkan defek berupa abrasi kromomosom. Kasus yang berat antara lain adalah
Severe Combined Immunodeficiency Disease ( SCID) yang disebabkan karena adanya
defek pada kromosom X. Defek berakibat pada kegagalan pembentukan molekul rantai 
dari reseptor interleukin-2 ( IL-2), yang juga merupakan bagian dari molekul protein
reseptor IL-4, IL-7, IL-11, dan IL-15. Sedangkan SCID yang diakibatkan defek pada gen
autosomal resesif ( Swiss-agamaglobulinemia), terjadi kegagalan produksi enzim adeno
deaminase ( ADA), dan purin nukleosida fosforilase ( PNF). Defisiensi dari kedua enzim
ini akan mengakibatkan terjadinya penumpukan dATP dan dGTP di dalam sitoplasma (
intraseluler) yang menyebabkan stres metabolik pada sel-sel limfosit.

Skema masuknya virus dan migrasi sel limfosit, respon seluler, dan mekanisme Antigen Presenting Cells
Pengaruh lingkungan selain teridentifikasi mampu menjadi penyebab mutasi yang
berakhir dengan insidensi neoplasia ( keganasan atau kanker), juga telah teridentifikasi
dapat menyebabkan kelainan-kelainan genetik yang terkait dengan penyakit degeneratif
dan kecacatan kongenital. Polimorfisme atau mutasi pada gen Mono Amin Oksidase
(MAO) dan reseptornya dapat mengakibatkan munculnya perilaku anti sosial dan
kemungkinan tercetusnya agresivitas bila orang yang bersangkutan mengalami tekanan
dari lingkungan. Maka defek pada genom dapat menjadi pemicu atau akar masalah
psikososial.
Masalah yang kini juga menjadi variabel penting dalam ranah kesehatan kuratif,
adalah terjadinya abnormalitas imunologis atau sistem kekebalan akibat terdistorsi oleh
faktor lingkungan. Faktor lingkungan tersebut terkategori sebagai xenobiotik atau
imunotoksik xenobiotik, atau zat kimia asing bagi tubuh yang meracuni sistem imunitas.
Bahan-bahan dari lingkungan yang dapat bterkategorikan sebagai imunotoksik xenobiotik
antara lain adalah pestisida, logam berat, zat polutan, dan komposisi udara atmosferik
yang tidak lagi berimbang. Akibat dari terdistorsinya sistem imunitas tentu munculnya
berbagai kondisi immunocompromised, kerentanan terhadap infeksi, autoimun, dan
hipersensitifitas termasuk alergi.
Kita ambil satu contoh saja dari kasus interaksi antara genom dengan lingkungan,
yaitu paparan terhadap sistem respirasi. Gangguan sistem respirasi dapat terjadi antara
lain karena menghirup debu yang terkontaminasi mineral dengan kadar yang melebihi
ambang batas, antara lain dapat terdiri dari debu karbon, silikat, asbes, kaolin, besi,
kapur, dan plumbum.

Partikel karbon cemaran dari industri batubara yang terdispersi di udara

Gangguan respirasi lainnya disebabkan oleh terhirupnya atau asap yang bersifat
toksik karena mengandung zat seperti amoniak, klorin, sulfur dioksida, atau nitrogen
oksida. Xenobiotik biologis seperti jamur, virus, bakteri, atau serbuk sari ( polen) dapat
pula terhirup dan menimbulkan gangguan pada sistem respirasi.
Patofisiologi yang cukup jelas dan dapat dijadikan model untuk mempelajari efek
cemaran udara pada sistem genomik dan imunologis adalah kasus cemaran silikat. Silikat
dikenal sebagai materi yang bersifat fibrogenik, apabila terhirup sampai ke jaringan paru-
paru maka efek piezoelektriknya akan menyebabkan kerusakan jaringan melalui
pengacauan aktivitas biolistrik seluler. Hipotesa lainnya adalah silikat akan membentuk
asam silikat setelah berinteraksi dengan sitoplasma dan menyebabkan terjadinya asidosis
metabolik yang dapat berakhir dengan terjadinya nekrosis. Silikat juga dapat
membebaskan gugus fosfolipid dari membran sel, terutama pada makrofag, sehingga
terjadi kebocoran sel dan makrofag lisis. Silikat diduga pula menjadi ajuvan bagi
diekspresikannya auto antigen yang menyebabkan terjadinya reaksi autoimunitas.
Respon imunologis yang terjadi antara lain dapat diamati pada kasus asbestosis,
dimana terjadi peningkatan produksi IgA dan diekspresikannya anti nuclear factor (
ANF). Eksesnya adalah munculnya radang lokal yang diikuti pembentukan jaringan ikat.
Pemebntukan jaringan ikat atau fibrosis itulah yang menyebabkan menurunnya fungsi
paru-paru. Sebaliknya pada kasus paparan merkuri ( Hg) timbal ( Pb), dan kadmium ( Cd)
terjadi penurunan kadar IgA dan juga Ig G khusus pada keracunan merkuri. Sebagai
antibodi yang memberikan reaksi sekunder pada kejadian infeksi maka berkurangnya IgG
menjadikan manusia mengalami keadaan imunodefisiensi. Demikian pula penurunan
kadar IgA akan mengakibatkan imunitas lokal di tingkta mukosa tidak bekerja secara
adekuat. Ekses lain dari timbal adalah penurunan kemampuan fungsional dari sel-sel
fagosit, lekosit polimorfonuklear, dan produksi lisozim. (Koller, 1980 dalam Darmono,
2007).
Kerusakan di tingkat seluler dan juga jaringan bahkan organ dan sistem secara
hirarkial tentulah dimulai dari kerusakan atau defek di tingkat molekuler. Bagaimana
xenobiotik atau faktor lingkungan dapat mengubah profil genom ? Beberapa mekanisme
kerusakan DNA akibat zat genotoksik antara lain adalah melalui proses deaminasi,
metilisasi, depurinisasi, dan alkilasi ( lihat gambar) :
Sumber: Color Atlas of Genetics, Eberhard Passarge, MD. Thieme 2001

Dalam kondisi normal ( fisiologis) sesungguhnya telah terdapat mekanisme repair


yang dapat memperbaiki dan mereduksi kerusakan struktur di tingkat genom. Akan tetapi
pada kasus-kasus paparan zat pencemar dengan intensitas yang tinggi dan berkelanjutan,
maka sistem perbaikan endogen tersupresi.

BAB 6
PSIKOGENOMIK

Masyarakat adalah organisme yang hidup dan dapat mengalami kondisi patologis.
Salah satu kondisi patologis yang dapat dialami oleh masyarakat adalah terjadinya
”degenerasi” atau kemunduran fungsional. Gejala yang teridentifikasi antara lain
adalah kerap munculnya perilaku-perilaku irasional yang bahkan cenderung
abnormal di tengah-tengah masyarakat yang sakit. -Allan White
Dalam sebuah film drama musikal yang mengisahkan perjuangan seorang anak
untuk menemukan kembali orangtuanya, diungkap bahwa bakat musik seolah diturunkan
dan bahkan dapat menjadikan anak tersebut jenius musik tanpa pendidikan formal. Di
sisi lain dari kisah film tersebut terkuak pula bahwa “getaran musik” dapat membimbing
tiga orang sekeluarga yang selama ini terpisah berkumpul kembali. Apakah pengaruh gen
sekuat dan seindah itu ?
Sementara marilah kita simak kasus lain seperti Sumanto ( si pemakan mayat),
Ryan (Very Idham Henyansayah) pembunuh berantai yang motifnya diduga terkait
dengan penyimpangan orientasi seksual, Hanibbal Lector si kanibal berskala global, Jack
the Ripper pembunuh sadis dari Inggris, mahasiswa Korea pembunuh berdarah dingin di
Virginia Tech University, siswa Amerika penembak masal di sekolahnya sendiri, anggota
sekte David Koresh, istri aktivis masjid di Bandung yang membunuh 3 orang anaknya,
Rio Bullo “Martil” yang menggodam kepala korban-korbannya, atau tokoh-tokoh
koruptor “legendaris” Indonesia, apakah mereka memiliki gen yang mendorong mereka
menjadi keji dan cenderung untuk berbuat mungkar ? Apakah gen mereka berbeda
dengan kita ?
Sebaliknya kita juga dapat mencermati Ashafa Powell, Ana Ivanovic, atau Lionel
Messi yang sangat prestatif dalam olahraga, apakah mereka juga memiliki gen super ?
Demikian pula, apakah Whitney Houston, Sting, Bono U2, atau Meggy Z, seperti juga
Beethoven dan Mozart dianggap memiliki karunia berupa gen jenius musik ?
Stephen Hawking yang amat brilian dalam kajian fisika teori malah nyata-nyata
mengalami kelumpuhan akibat multiple sclerosis (MS). Jika dikatakan gennya sempurna,
maka asumsi kita keliru, karena ada sebagian gen beliau yang semestinya meregulasi
kinerja fisiknya agar sempurna gagal berfungsi. Untuk itu ada baiknya kita sepintas
mempelajari dahulu berbagai karakter manusia yang telah berhasil diidentifikasi oleh
ilmu psikologi. Pengetahuan dasar tentang pendekatan fundamental aliran psikologi yang
kini berkembang dan banyak diakui secara akademik akan menghantarkan kita kepada
pemahaman tentang peran gen dan genom di dalamnya.

Psikologi dan Gen Selayang Pandang


Dalam ilmu psikologi dikenal sekurangnya 3 aliran yang sangat berpengaruh di
tingkat praktikal. Aliran itu adalah Psikoanalisis yang diinisiasi oleh Sigmund Freud,
dimana penekanan amatannya adalah faktor internal yang melekat di manusia. Konsep
psikoanalisis yang populer adalah pembagian id, ego, dan superego serta pembentukan
kepribadian karena dorongan kekuatan yang tidak disadari dan bersifat irasional. Aliran
ini tidak menafikan faktor lingkungan, tetapi lebih mengedepankan potensi internal
sebagai variabel independen pembentukan tingkah laku manusia.
Aliran besar (arus utama) lainnya adalah Behavioristik yang digulirkan oleh Skinner.
Menurut aliran behavioristik manusia adalah makhluk yang fleksibel, peka terhadap
perubahan lingkungan, dan dalam proses perkembangan kepribadiannya mendapat
stimulus dari lingkungan (ekternal). Pendapat ini sejalan dengan hipotesa tabularasa dari
John Locke yang menyatakan bahwa sesungguhnya pikiran manusia bagaikan kertas
kosong yang siap ditulisi apa saja ketika berinteraksi dengan lingkungan.
Aliran besar ketiga adalah Humanistik dengan Abraham Maslow sebagai tokohnya.
Aliran ini meyakini bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk mulia yang cenderung
pada kebajikan. Hal ini sesuai dengan konsep manusia di dalam kitab suci Al-Quran yang
digambarkan bersifat ”hanif”. Nilai kebaikan yang diyakini ini kemudian berusaha
diaktualisasikanmelalui berbagai proses interaksi yang terjadi di lingkungan. Menurut
pendekatan humanistik, lingkungan dan potensi internal sama-sama memiliki peluang
untuk membentuk kepribadian dan perilaku seorang manusia. Potensi internal akan
beradaptasi dengan lingkungan, dan lingkungan juga dapat menjadi faktor seleksi bagi
sifat atau potensi dasar yang akan dimunculkan. Hal lain yang dapat menjadi konsekuensi
dari pendekatan humanistik adalah, kemulian yang menjadi potensi manusia ini dapat
menumbuhkan motivasi yang kuat untuk memanipulasi lingkungan dalam konteks
kebaikan bersama. Semangat pembaharuan yang berorientasi pada kepentingan manusia,
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Bila ketiga aliran ini disarikan atau dipertimbangkan sebagai elemen-elemen yang
tidak terpisahkan, dengan kata lain kita memggunakan bingkai ”Gestalt” yang berbicara
tentang kesatuan dan saling berinteraksinya setip tahapan, lapisan, maupun subsistem
dalam pembentukan karakter psikologi seseorang, maka akan didapatkan hipotesa bahwa
sesungguhnya manusia memiliki potensi dasar yang melekat pada dirinya, mampu
mengembangkan mekanisme interkasi, mampu membangung mekanisme defensif, dan
mampu mengaktualisasikan nilai-nilai yang diyakininya dan dianggap mulia.

Kotak Skinner adalah alat tes untuk mengukur kemampuan seekor tikus dalam beradaptasi dengan
lingkungan yang dikondisikan serta kemampuannya mengembangkan pola-pola cerdas yang menjamin
terenuhinya kebutuhan dasar (nutrisonal) dan kenyamanan personal (personal comfort). Secara sederhana
tikus percobaan akan mendapatkan makanan apabila tindakan yang dikalukannya benar, serta sebaliknya
ia akan tersengat listrik apabila pilihannya salah. Kondisi semacam ini yang berlangsung secara berulang
akan menjadi proses belajar yang dapat diakuisisi sebagai bagian dari pembentukan sikap dan perilaku.
Sirkuit keputusan yang terbangun dimulai dari teraktivasinya sekelompok gen pengendali perilaku

Perilaku manusia digambarkan Millon dalam salah satu teori biologi sosial
tentang polarisasi, yaitu senantiasa mengejar kesenangan dan menghindari kesakitan, lalu
secara aktif memodifikasi lingkungan dan terkadang bersifat pasif atau akomodatif,
semua itu didasari oleh orientasi pada diri sendiri atau berorientasi pada lingkungan
terdekat. Apabila kita menyepakati bahwa semua keluaran (output) psikologis itu
memiliki mekanisme dan proses dasar yang merupakan bagian integratif dari manusia
selaku makhluk biologis yang istimewa, maka kita semestinya menelusuri dan
mengeksplorasinya sampai ketingkat kendali yang paling esensial. Saat ini tingkat
kendali hayati yang dianggap paling fundamental adalah genom. Belum lama berselang
Human Genome Project mengklaim telah berhasil menyusun basis data genom manusia.

This is the outstanding achievement not only of our lifetime,


but in terms of human history. I say this because the
Human Genome Project does have the potential to impact
the life of every person on this planet.
Dr. Michael Dexter, director of The Wellcome Trust

Tahap berikutnya adalah memetakan dan mengasosiasikan setiap gen dengan


ekspresi proteinnya beserta fungsi-fungsi yang diperankannya. Metoda DNA micro array
sangat membantu dalam melacak ulang asal dari setiap protein yang terlibat dalam reaksi
biokimiawi di tubuh manusia. Terobosan teknik laboratorium yang sangat brilian, dimana
larutan pereaksi yang berisi mRNA berlabel (bisa zat warna atau kromogen, maupun
fluoresens) direaksikan (dipertemukan) dengan untai DNA yang terbuka. Dengan
demikian mRNA spesifik akan melekat dengan segmen DNA penyandinya.
Demikianlah satu demi satu sifat biokimiawi manusia mulai dapat teridentifikasi.
Ternyata mekanisme yang mengendalikan ekspresi sifat-sifat biokimiawi ini tidak
sesederhana yang kita bayangkan. Untuk menghasilkan satu molekul protein yang akan
berperan sebagai bagian dari sebuah neuropeptida otak misalnya, dibutuhkan beberapa
tahapan inisiasi sampai DNA dapat disandi. Tahapan-tahapan ini amat ditentukan dan
amat dipengaruhi oleh proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Misal jika
seseorang merasa lapar dan terstimulasi untuk mempertahankan kehidupan (respon
defensif), maka DNA akan disandi untuk menghasilkan beberapa kelompok protein yang
akan menjadi dasar reaksi proses mempertahankankan kehidupan (survival). Otak
termotivasi, sistem sensoris lebih jeli, dan sistem kognisi menjadi lebih kreatif serta
solutif. Pola-pola semacam inipun mewarnai setiap proses psikofisiologis yang setiap
detik terjadi dalam kehidupan seorang manusia.
Maka dengan mengenal konsep psikologi molekuler yang bertumpu kepada
fungsi genomik manusia dan hubungannya dengan pembentukan sikap serta perilaku, kita
akan terbantu untuk lebih dapat memahami konsep fitrah, potensi dasar, dan cara-cara
mengoptimalkan serta mengendalikan potensi yang telah melekat sebagai bagian dari
karakter genomik.

Gen dan Kromosom serta Mekanisme Kerjanya

In the deepest sense, DNA’s structure and function have


become as much a part of our cultural heritage as
Shakespeare, the sweep of history, or any of the things we
expect an educated person to know.
Microbiologist Ross L. Coppel, from his book with G.J.V. Nossal,
Reshaping Life: Key Issues in Genetic Engineering (Melbourne, Australia:
Melbourne University Publishing, 2002)

Apakah sesungguhnya gen itu ? Dan bagaimanakah sifat genetika dapat


diwariskan ? Secara teori setiap sel tubuh manusia memiliki kandungan kromosom yang
di dalamnya terdapat untaian asam nukleat yang disebut DNA. Secara struktural DNA
terbagi atas daerah-daerah yang disebut dengan ekson dan intron. Ekson adalah daerah
dimana urutan gen yang terdiri dari rangkaian nukleotida (pasangan basa) siap untuk
diekspresikan. Bagaimana caranya ?
Gen akan bertindak selaku cetakan atau resep yang siap untuk dikopi
(digandakan) oleh RNA caraka (messenger RNA) melalui konsep anti sense. Sifat dasar
DNA yang berbentuk utas rantai ganda (double helix) dengan pasangan adenin-timin dan
guanin-sitosin, pada saat penyalinan atau proses transkripsi akan dikopi ke dalam bentuk
proyeksinya (cerminan atau pasangannya). Hanya saja di RNA (ribonucleic acid) tidak
terdapat nukleotida timin melainkan diganti urasil. Sehingga bila ada nukleotida adenin
(A) di gen yang dikopi, maka RNA akan mencatatnya sebagai urasil (U). Proses
pengkopian gen ini sudah terorganisasi sedemikian sehingga penggandaan akan terbagi
dalam unit-unit kecil yang disebut kodon.
Kodon terdiri atas 3 nukleotida yang disebut sebagai kesatuan triplet. Kode
mereka bertiga inilah yang kemudian di tingkat ribosomal akan digunakan untuk
merangkai asam-asam amino (baik yang esensial maupun non esensial) untuk
membentuk protein. 1 kodon memiliki 1 asam amino, tetapi 1 asam amino dapat cocok
dengan lebih dari 1 kodon.

Apakah proses transkripsi DNA sampai menghasilkan sebuah protein khusus


sesederhana itu ? Tentu saja tidak ! Keputusan untuk memproduksi sebuah protein
memiliki algoritme komando yang sangat rumit sekaligus sangat efektif. Sel
memproduksi protein karena adanya ”kebutuhan”. Faktor kebutuhan itu antara lain
kebutuhan untuk mengganti sel atau jaringan yang rusak (proses repair), tumbuh dan
berkembang, serta menggantikan sel-sel yang mengalami penurunan kemampuan
(degenerasi).
Khusus proses repair atau pemeliharaan biologis, tidak hanya terjadi di tingkat sel
saja, melainkan juga terjadi di tingkat DNA sendiri yang dalam kehidupan keseharian
mengalami berbagai gerusan lingkungan. Ada satu nukleotida yang terhapus, atau ada
juga satu bingkai nukleotida yang rusak dan berubah strukturnya. Demikianlah sistem
repair dan maintenance hayati senantiasa mengembangkan kemampuan swakelolanya
sehingga dapat menghadirkan keselarasan yang adaptif dengan alam semesta.

Salah satu keistimewaan pola pewarisan genetika pada manusia adalah tetap dapat dipertahankannya
materi genetika (genotip) meski sel induknya membelah diri dalam proses mitosis untuk memperbanyak
jumlah dan bertumbuh
Tahapan proses pemisahan dan penggandaan kromoson yang terjadi di saat sel-sel somatik bermitosis dan
sel-sel germinal bermeosis. Pada mitosis sel anak akan bersifat diploid (memiliki kromosom lengkap),
sedangkan pada meosis sel anak akan memiliki kromosom separuh (haploid)
Jika kita menyimak paparan di atas yang menggambarkan gen sebagai ”molekul
ajaib” pembawa sifat dan pengatur hampir semua mekanisme dasar kehidupan, maka kita
perlu memgupas gen lebih mendalam lagi, baik secara struktural, fungsional, maupun
hirarkial, agar kita dapat mengorelasikannya dengan pembentukan sikap, perilaku dan
karaktyer kepribadian (ranah psikologi).
Gen sesungguhnya adalah unit fungsional yang bertindak selaku resep penghasil
protein. Setiap sel di dalam tubuh manusia memiliki gen yang sama persis satu dan
lainnya. Saat ini jumlah gen manusian yang telah teridentifikasi adalah sekitar 30.000.
Gen tergabung di dalam struktur DNA atau asam deksiribosa yang terdiri dari gugus gula
pentosa ( memiliki 5 atom C) yang salah satu atom Cnya kehilangan gugus –O (sehingga
gagal membentuk gugus hidroksil/OH). Dilengkapi gugus fosfat berupa PO4. Molekul
fosfat ini berperan sebagai jembatan penghubung antara gugus gula. Dan bagian terakhir
dari sebuah untai asam deoksiribosa adalah basa nitrogen yang terdiri dari kelompok
purin ( Adenin dan Guanin) dan kelompok pirimidin yang terdiri dari Timin dan sitosin.
Adenin akan berikatan dengan Timin dengan bantuan 2 atom hidrogen (ikatan hidrogen),
dan guanin akan berikatan dengan sitosisn dengan bantuan 3 atom hidrogen.
Bagan struktur DNA yang terdiri dari rantai double helix yang tersusun dari gugus gula pentosa, fosfat,
dan terhubung dengan ikatan hidrogen
Bentuk molekul DNA ini menyerupai pita spiral ganda yang saling berpilin
(double helix). Model molekul ini ditemukan oleh Francis Crick dan James Watson pada
tahun 1953 berdasar foto difraksi sinar X yang dibuat oleh Rosalind Franklin. Pemetaan
genom dan kemajuan proses sekuensing telah membimbing manusia untuk mengenal
setiap molekul dalam DNA dan perannya. Di dalam DNA terdapat 3 milyar pasang
basa, tersusun sedemikian sempurna dan pada fase replikasi (pembelahan sel secara
mitosis) Molekul DNA akan bergabung dengan protein histon dan non histon untuk
membentuk nukleosom dan berpilin dalam bentukan yang lebih padat (lipatan solenoid).
Selanjutnya lipatan solenoid ini akan bergabung dan membentuk kromatin.
Gambar struktural kromosom yang terdiri dari lengan p dan q yang didalamnya terdapat lokus-lokus
berisi alela atau pasangan-pasangan gen yang siap diekspresikan ataupun diturunkan baik melalui
mekanime meiosis ataupun mitosis

Selanjutnya terbentuk lengan-lengan kromatin dan jadilah kromosom. Kromosom


ini dari asal kata krom (warna) dan soma (tubuh). Diamati pertama kali oleh Waldeyer
pada tahun 18888, dan jumlahnya pada manusia diketahui 46 buah oleh Tjio (dari
Sukabumi) dan Levan pada tahun 1956.

23 pasang kromosomautosomal dan seks yang berisi untaian DNA pembawa sifat hayati

Dalam menjalankan fungsinya sebagai penentu sifat, baik kromosom maupun


DNA memiliki mekanisme pewarisan sifat yang dipelajari dalam ilmu genetika. Ilmu
genetika ini dikembangkan oleh Gregor Johann Mendel (1822-1884) Dalam konsep
genetika di setiap pasangan kromosom terdapat pasangan alel. Misal gen A memiliki alel
atau pasangan di kromosom pasangannya a. Maka dalam konsep genotip (susunan
pasangan gen) akan dikenal hukum Mendel I atau lebih dikenal sebagai ”The Law of
Segregation of Allelic Genes”. Dimana dalam hukum segregasi ini alel dapat secara
bebas memilih alel pasangannya. Misalkan genotip sebuah protein adalah Aa dan pasca
pembuahan bergabung dengan kromosom yang juga memiliki genotif Aa, maka pada
filial atau keturunan ke-2nya tidak selalu A akan berpasangan dengan A lagi, atau setiap
A berpasangan dengan a. Perhatikan kotak berikut :

A A
A AA Aa
a Aa Aa

Hukum Mendel ke II adalah hukum tentang pengelompokan gen secara bebas


atau ”The Law of Independent Assortment of Genes”. Sifat atau protein terkadang
memiliki proses pengaturan yang melibatkan sekelompok gen, misal sifat rambut yang
lurus dan pirang diatur oleh kelompok gen AABB dan rambut keriting hitam diatur oleh
aabb, maka di tingkat turunan pertama dapat terbentuk kelompok gen AaBb.
Mekanisme herediter atau penurunan sifat yang dirumuskan oleh Gregor Mendel menunjukkan rasio
kemungkinan fenotip yang dapat dimunculkan. Pada kasus kepekaan indera pengecap ( lidah) terhadap zat
PTC (phenyltiocarbamide) yang bersifat dominan, kemungkinan seseorang untuuk tidak mampu merasakan
(sifat resesif) memiliki probabilitas ¼ pada filial pertama. Variansi, polimorfisme, dan juga keberagaman
sifat genomik merupakan variabel independen yang mempengaruhi fenotip seseorang (termasuk bakat dan
potensi)

Konsep genetika lainnya yang terkait erat dengan psikologi dan perilaku adalah
pola-pola hereditas yang terkadang menyimpang dari hukum Mendel. Interaksi dari
beberapa gen yang sumber gennya di tingkat induk tidak memunculkan fenotip (sifat fisik
hasil ekspresi gen), ternyata dapat memunculkan sifat baru di tingkat turunan. Contoh
nyata adalah percobaan terkenal yang menyilangkan berbagai varietas ayam dengan jenis
jenger berbeda. Pada saat ayam berjengger menyerupai bunga mawar (rose) disilangkan
dengan ayam berjengger menyerupai bebijian (pea) maka yang didapatkan justru ayam
berjengger seperti buah walnut (sejenis kenari). Secara genotip dapat disimulasikan
demikian, bila jengger mawar disandi gen CCDD maka jengger biji disandi gen ccdd,
keturunannya tentu CcDd yang ternyata berjengger kenari.
Penyimpangan atau penulis lebih suka memaknainya sebagai bagian dari
keragaman hayati dan mekanisme adaptasi terhadap kebutuhan faktual, yang juga sangat
unik adalah mekanisme epistasis dan hipostasis. Pada mekanisme ini ada gen dominan
yang mampu menutup atau menghambat fungsi ekspresif dari gen dominan lainnya. Gen
yang mendominasi disebut epistasis dan yang terdominasi (terjajah) disebut hipostasis.
Mekanisme ini menunjukkan kepada kita bahwa meski ada beberapa sifat orangtua yang
dominan secara individual, tetapi ternyata bisa dikendalikan oleh gen dominan yang lain
ketika sudah sampai di tingkat keturunan.
Sifat hereditas lainnya yang sangat menarik adalah kriptometri. Mekanisme
kriptometri adalah mekanisme pemunculan ”bakat” terpendam, ekspresi gen dominan
yang tidak dapat muncul tanpa hadirnya sebuah atau sekelompok gen dominan lainnya.
Contoh adalah perubahan warna pada bunga Linaria Maroccana yang amat sangat
dipengaruhi lingkungan dan gen yang terkait dengan kondisi lingkungan. Linaria akan
berwarna merah apabila terdapat aktivitas ekspresi dari gen antosianin ( gen A) dan
alelnya dalam lingkungan basa (akan teraktifkan) gen b. Jadi genotip AAbb menjadikan
Linaria berwarna merah, sedangkan genotip AABB (B adalah gen yang aktif dalam
lingkungan asam) akan menghasilkan warna ungu. Dan apabila tidak terdapat gen
dominan antosianin maka perbedaan lingkungan baik asam maupun basa tidak
mempengaruhi ekspresi warna, bunga Linaria akan berwarna putih.
Kondisi yang menyerupai dapat pula dijumpai pada spesies reptil seperti buaya.
Perbedaan suhu (temperatur) pada saat proses pengeraman menjadi faktor penentu jenis
kelamin anak buaya. Demikian pula pada keluarga cacing Bonellia, kondisi lingkungan
yang ditempati larva Bonellia ( jatuh ke dalam tubuh Bonelia dewasa betina atau jatuh
dan bersentuhan langsung dengan dasar lautan) akan menjadi faktor pembeda jenis
kelamin. Larva yang jatuh menimpa tubuh bonellia betina akan menjadi bonellia jantan,
dan yang langsung bersentuhan dengan dasar samudera akan menjadi betina. Demikian
pula pada keluarga lebah, kondisi lingkungan selama proses tumbuh kembang kelak akan
mengaktifkan sekumpulan gen yang kemudian mendorong terjadinya proses diferensiasi
profesi. Ada sekelompok lebah yang berkembang menjadi kelompok pekerja, ada yang
menjadi penjaga dan pemelihara sarang, serta ada pula yang secara istimewa menjadi
pemimpin (ratu). Pada kasus ikan anemon (lebih dikenal sebagai ikan Nemo atau ikan
badut) regulator gen dalam penentuan jenis kelamin dikendalikan oleh tingkat
kematangan beberapa organ yang terdapat di dalam sistem fisiologi ikan tersebut. Ikan
baru menetas sampai usia dewasa muda menajdi ikan jantan, sementara ikan dewasa
matang akan berubah menjadi ibu. Kelompok gen kelamin ikan ini bergeser dan berubah
berdasarkan masukan dari berbagai proses interaksi yang etrjadi antara ikan dengan
lingkungannya. Demikian pula pada ikan Angler Atlantik (Angler Fish), ikan yang
pandai memancing mangsanya dengan memancarkan cahaya hasil proses bioluminensi
yang dikatalisa oleh enzim lusiferase. Selain mampu menghasilkan cahaya, sebagai
bagian dari proses adaptif tinggal di kedalaman yang gelap dan kebutuhan mencari
makan, ikan Angler juga dikenal sebagai ikan dengan perbedaan struktur pada jantan dan
betinanya. Ikan Angler berhasil mengoptimalkan semua potensi genetikanya, ia
memancarkan cahaya ”umpan”, dan ikan jantannya menjadi entitas kecil yang masuk
menyelip di tubuh ikan betina untuk menjalankan tugas utamanya : membuahi ! Sangat
efisien dan indah. Sementara pada kasus ikan Lamprey (sejenis belut penghisap darah),
yang merupakan parasit pada beberapa ikan yang jauh lebih besar, keistimewaaan yang
mereka miliki adalah sangat fleksibelnya sistem imunitas mereka. Mengapa harus
demikian ? Karena sumber nutrisinya adalah darah dari berbagai jenis ikan yang tentu
saja mengandung beragam mikroba patogen, maka ia harus berhasil mengatasinya.
Lamprey mengembangkan sistem imunitas berbeda dengan mamalia yang menggunakan
gen RAG untuk membentuk antibodi spesifik melalui sel limfosit B. Sel limfosit B akan
mengenali antigen, membentuk antibodi spesifik, dan mengingatnya sebagai bagian dari
memori. Sedangkan pada Lamprey, prosesnya menjadi jauh lebih sederhana. Lamprey
cukup mengubah-ubah pola pengenalan sel limfositnya saja, melalui sistem VLR atau
Variable Limphocyte Receptor , dimana setiap ada antigen baru limfositnya dapat
langsung memproses dan memebrikan respon yang tepat.
Keajaiban genom lainnya adalah kemampuan beberapa spesies untuk
mengembalikan fungsi pluripotensialitasnya seperti kadal dan cicak yang dapat
menumbuhkan ekornya kembali, atau bintang laut yang dapat menumbuhkan lengannya
yang putus. Kuda laut atau hipokampus sp juga memiliki kemampuan pengekspresian
gen yang memungkinkan seekor jantan memproduksi zat nutrisional yang dibutuhkan
oleh anak-anak yang tinggal di kantung bagian depan perutnya. Demikian pula burung
merpati jantan, dapat mengekspresikan gen hormon prolaktin sehingga dapat memberikan
nutrisi serupa susu pada anak-anaknya.
Sifat lainnya adalah polimeri, dimana satu gen dalam kelompok gen yang
mempengaruhi sifat dapat mempengaruhi gen lainnya meski hadir secara parsial
(sebagian). Fenomena lainnya yang dapat ditemui adalah terdapatnya kelompok gen
dalam alel yang bertautan. Sehingga apabila diturunkan ( melalui proses meiosis)
kelompok gen tersebut akan selalu bersama. Kondisi ini menyebabkan keragamannya
(variasi genomnya) akan berkurang, karena gametnya terbatas dalam kelompok.

Mutasi
Penyimpangan genetika yang juga kerapkali dijumpai adalah peristiwa mutasi.
Acapkali mutasi dikaitkan dengan berbagai fenomena patologis, baik secara
anatomifisiologis maupun secara psikologis. Mutasi adalah perubahan genom yang dapat
terjadi di tingkat kromosomal maupun di asam nukleat (DNA). Mutasi di tingkat
kromosom antara lain ditandai adanya penambahan jumlah kromosom akibat gagalnya
kontrol pada proses meoisis, misal sindroma Klinefelter dimana terdapat penambahan 1
kromosom seks pada karyotipe XX (menjadi XXY). Mutasi di tingkat kromosomal yang
melibatkan perubahan struktur DNA antara lain adalah : inversi, dimana krmosom
berpilin dan urutan DNA jadi berubah. Delesi, terhapusnya sebagian urutan nukleotida
basa dari DNA karena kerusakan struktur kromosom. Duplikasi, penambahan gen karena
mengopi dari kromosom pasangannya, translokasi yang terjadi karena adanya pertukaran
sebagaian segmen (bagian lengan kromatin) antar pasangan yang bukan homolognya.
Dan katenasi, yaitu menyatunya ekor kromosom (telomer) diantara pasangan kromosom
yang homolog.

Peta genom di setiap kromosom yang menunjukkan lokasi-lokasi mutasi dan perubahan fungsi akibat
kecacatan genetik yang diwariskan (trait)
Mutasi dapat terjadi karena adanya interaksi lingkungan dan intervensi gaya dan
materi fisika seperti radiasi kosmis, radiasi pengion, radiasi elektromagnetik, sinar ultra
violet, atau radiasi radioaktif. Sedangkan secara kimiawi dapat terjadi interferensi dengan
zat-zat kimia yang bersifat destruiktif pada struktur asam nukleat seperti yang memiliki
kemampuan mengalkilasi. Dan secara biologis mutasi dapat terjadi karena adanya
pengaruh virus, bakteri, jamur, prion, dan juga yang sangat penting dalam ranah psikologi
adalah interaksi hormonal dan molekul sinyal (bersifat aerosolik dan beredar di udara
dengan konsentrasi tertentu seperti efek feromonik pada lebah) antara sesama makhluk
hidup (manusia-manusia, manusia-tumbuhan, manusia-hewan, dan berbagai elemen alam
lainnya).
Dari berbagai pola hereditas di atas yang telah terpelajari, maka kita mendapatkan
modal dasar untuk mengembangkan model matematika prediktor. Rumus Hardy
Weinberg sebagai salah satu model untuk memetakan genotip di populasi
memperlihatkan kepda kita bahwa sebaran gen dapat dilacak dan dipetakan. Tentunya
hasil pemetaan ini kemudian akan dapat digunakan sebagai basis data dalam melakukan
intervensi preventif, baik dalam hal perencanaan manipulasi positif, mengukur tingkat
kondusifitas lingkungan bagi perkembangan hayati dan psikologis seseorang, serta dapat
pula menjadi alat analisis untuk mengkaji perilaku komunitas. Sebagai contoh, jika kita
mengetahui sebaran gen tertentu yang dalam kondisi khusus berpotensi terekspresikan
dan memicu terjadinya abnormalitas (patologis) maka kita akan dapat memprediksi
seberapa banyak orang akan terdampak dan seberapa luas aspek destruksi yang akan
terjadi. Andai kita mendapatkan data dasar tentang kasus psikopatik, maka dengan
pemetaan gen dan pengetahuan yang komprehensif terhadap pola-pola hereditasnya
(beserta penyimpangannya), kita akan dapat mengklasifikasikan masalah yang tentu saja
akan berdampak sangat besar pada kemampuan kita untuk mengendalikannya.
Apabila perilaku psikopatik atau sosiopatik diatur dan dikendalikan oleh
sekumpulan gen yang memproduksi neuropeptida kendali, maka apabila seorang
psikopatik memiliki genotip protein kendali aa, dan aa ditemukan sekitar 16% di
populasi, maka fenotip normal yang 84% harus dicari frekuensi genotipnya agar dapat
dicegah penurunan sifat patologisnya, mengingat kemunculan gen resesif dapat
mengubah frekuensi psikopatik di masyarakat. Dengan rumus frekuensi aa (a2) adalah
0,16 maka a adalah 0,4. Rumus gen adalah A+a = 1 jadi A= 1-0,4. A=0,6. Rumus
perbandingan frekuensi gen adalah AA+2Aa+aa= 1 sehingga 0,36+0,48+0,16=1. Jadi
frekeunsi genotip normal bebas psikopatik adalah 0,36 dan kemungkinan carrier atau
pembawa sifat psikopatik di masyarakat berkisar sekitar 0,48 atau 48%. Perhitungan ini
bisa berubah apabila kemudian terjadi persilangan antara karier dan penderita (genotip
aa).

Belajar dari Mikroba

Peran lingkungan dan kemampuan setiap individu untuk mengontrol dan


menempatkan dirinya dalam habitat (ruang dan sistem hidup) dapat dilihat pada sistem
adaptasi mikroba yang dikenal sebagai quorum sensing. Mikroba, dalam hal ini bakteri
memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan keberadaannya dengan membentuk koloni
yang paling efisien. Salah satu mekanisme ”pengukuran” swalayan terhadap batas-batas
optimasi koloni dilakukan dengan saling bertukar informasi dan data akhir teman-teman
satu koloninya.
Mekanisme quorum sensing pada bakteri Vibrio Fisheri misalnya menggunakan
mekanisme ekspresi acyl homoserine lactone (AHL) yang pada saat mencapai quorum
(kuota sel dalam koloni atau batas maksimal) akan menghasilkan efek bioluminensi.
Caranya dengan mengaktifkan protein pengikat yang akan mendorong faktor transkripsi
gen-gen pembentuk cahaya teraktivasi. Salah satu enzim yang terlibat adalah lusiferase
yang akan mengkatalisis substrat aldehida FMNH2 yang teroksidasi menjadi FMN dan
asam lemak. Proses pembentukan asam lemak inilah yang menghasilkan cahaya.
Sementara pada spesies Erwinia cortovora pada kondisi quorum akan
mengaktifkan gen penghasil protein antibiotika karbapenem yang berfungsi untuk
menghambat tumbuh kembang bakteri kompetitornya. Mekanisme komunikasi lainnya
yang berperan sebagai penghubung antara berbagai spesies diperankan oleh furanosil
borat diester. Sehingga apabila ada interaksi diantara bebrbagai koloni bakteri akan
tercapai kesepakatan kuorum.
Fakta yang bisa diamati di tingkat organisme sel tunggal seperti di keluarga
bakteri menunjukkan kepada kita bahwa gen bersifat adaptif dan amat dipengaruhi oleh
faktor-faktor lingkungan. Tentu saja mekanisme perubahan dan mekanisme transkripsi
yang akan menyandikan serta mengekspresikan protein tertentu haruslah melalui
serangkaian prasyarat yang harus terpenuhi. Maka secara sederhana dapat kita simpulkan
bahwa ekspresi gen yang kemudian terkait dengan pembentukan sifat serta perilaku
memiliki faktor pengaruh yang sangat kompleks.
Sebagai contoh, sekumpulan gen di sebuah sel dapat di ”shutdown” secara penuh
dan tidak diekpresikan lagi karena sel yang ditempatinya telah terdiferensiasi dan
memiliki sifat sel yang khusus. Sifat pluripotensial sel yang gennya lengkap dan bisa
menjadi apa saja, dikendalikan oleh sekumpulan protein penghambat induksi yang
membuatnya tidak dapat mengekspresikan sifat yang tidak cocok dengan tugas yang
diembannya.
Ada pula beberapa gen yang secara umum senantiasa akan diekspresikan
proteinnya meski dalam kadar terendah (basal). Kondisi ini dapat kita simak pada
beberapa enzim regulator mekanisme transduksi di dalam sebuah sel. Faktor-faktor
transduksi yang kemudian mengawali proses transkripsi, translasi, dan terlibat dalam
pembentukan molekul reseptor hampir selalu diekspresikan oleh hampir semua sel.
Perbedaan ekspresi gen di setiap jaringan yang dicirikan dengan produksi protein
dalam kapasitas yang berbeda, didasari oleh aktivitas dan mekanisme represi serta
aktivasi yang diperankan oleh aksi sekelompok protein yang berikatan di daerah regulator
(pengaturan) gen yang bersangkutan.

Regulasi Ekspresi Gen


Aktivasi daerah pengaturan pada sebuah gen distimulasi oleh keberadaan reseptor
yang berada di membran sel dan peka terhadap pengaruh hormon, hormon steroid,
molekul sinyal, ataupun peptida faktor pertumbuhan (sitokin). Sinyal komunikasi antar
sel juga dapat terjadi dengan perantaraan nitric oxide dan enzim RPTK (tirosin kinase).
DNA akan ditranskripsi atau disalin oleh mRNA dengan bantuan enzim RNA
Polymerase II. Protein enzim ini harus berikatan dengan daerah pengatur (regulator)
ekspresi gen yang disebut promoter.
Promoter ini terdiri dari 8 pasang basa dan terletak di depan urutan gen yang akan
diekpresikan. Daerah ini terdiri dari pengulangan basa timin dan adenin ( T dan A)
sehingga disebut kotak TATA yang disekitarnya ditutup oleh untaian nukleotida guanin
dan sitosin (G-C). Selain daerah promoter yang terdapat di area regulator elemen cis-
regulator . Pasangan transkripnya disebut elemen trans regulator yang biasanya berfungsi
menyandikan gen lain.
Apabila sebuah gen akan diekspresikan kotak TATA akan melakukan perlekatan
dengan protein yang disebut pengikat TATA. Molekul protein inilah yang kemudian akan
berinteraksi dengan RNA polimerase II. Proses ini akan dibantu oleh beberapa modul lain
yang berada dekat daerah regulasi, antara lain kotak CAAT dan modul kaya G-S.

Regulator ekspresi DNA lainnya adalah area enhancer yang terletak jauh dari
daerah gen yang akan disandi. Terdiri dari 7-20 pasang basa, daerah enhancer adalah
daerah yang berfungsi sebagai daerah perlekatan bagi protein yang akan mengaktifkan
gen yang akan disandi.
Daerah enhancer yang menjadi tempat melekatnya protein regulator sel spesifik
disebut sebagai respon elemen. Sebagai contoh adalah cyclic adenosin monofosfat respon
elemen binding protein akan melekat di regio cAMP respon elemen yang terdiri dari
sekuens ACGTCA.
Ada beberapa gen yang memiliki regulator protein yang senantiasa terikat
sehingga memungkinkan terjadinya proses transkripsi secara terus meneurs meskipun
hanya terstimulasi dengan intensitas rendah (tingkat basal). Sebaliknya ada pula gen yang
protein dan sistem regulatornya tidak tetap. Gen ini dapat dikondisikan, diinduksi
ataupun ditekan dengan memanipulasi faktor transkripsinya.
Untuk menjalankan fungsi regulasi penyandian DNA oleh enzim RNA polimerase
II suatui faktor transkripsi haruslah memiliki syarata sebagai berikut :
1. Memiliki daerah perikatan dengan DNA (DNA binding domain). Yang
berfungsi untuk mengenal dan berikatan dengan segmen sekuens DNA yang
spesifik.
2. Domain aktivator yang acapkali bersifat asam dan berfungsi untuk
menghubungkan protein faktor transkripsi dengan mesin transkripsi basal
(kotak TATA, protein pengikat, dan enzim RNA polimerase) serta
mengaktifkannya.
3. Memiliki 1 atau lebih pengikat ligan atau daerah fosforilasi yang diperlukan
untuk mengaktivasi faktor transkripsi.
Untuk dapat menjalankan fungsinya maka faktor transkripsi haruslah memiliki
struktur biokimiawi yang adaptif dan dapat diterima oleh DNA. Struktur molekul faktor
transkripsi tergolong dalam 3 besar yaitu, : protein HtH (Helix turn Helix) yang m,emiliki
sub unit protein alfa helix yang cocok dengan lekukan helix DNA target sehingga
memungkinkan faktor transkripsi melekat di struktur DNA. Protein jemari Z (zinc finger)
yang terdiri dari 23 asam amino yang memiliki struktur sistin dan histidin yang
membntuk formasi jemari dengan bantuan ion zinc. Struktur khas ini dapat memudahkan
masukknya ke dalam untai DNA melalui daerah lengkunag (loop). Dan bentukan terakhir
adalah ampiphatic helical proteins yang terdiri dari HlH (Helix loop Helix) protein dan
protein resleting leusin yang juga memudahkan faktor transkripsi untuk menyisip di utas
ganda DNA.

Peran Genom dalam Psikologi

I think we will view this period as a very historic time, a new


starting point.
Craig Venter, founder of Celera Genomics
Peran dan mekanisme pengaturan ekspresi gen dapat dilihat, dipelajari, dan
ditelusuri pada proses awal diferensiasi di antara fase morula menuju fase blastula.
Secara embriologis proses perkembangan dan terbentuknya berbagai organ spesifik
merupakan petunjuk penting tentang adanya mekanisme regulasi gen. Salah satu
kelompok gen yang dianggap sebagai bagian dari regulator proses diferensiasi adalah
kelompok gen Homeobox.
Kelompok gen homeobox biasanya terdiri dari gen dengan panjang sekitar 180
pasang basa dan akan mengekspresikan faktor transkripsi. Lokasi gen ini tersebar di
beberapa daerah yang termasuk dalam area promoter. Protein yang diekspresikan oleh
gen homeobox akan berikatan dengan domain DNA sebagai pengatur proses transkripsi
gen penentu dalam proses diferensiasi. Karena keberadaan sekumpulan gen regulator
inilah maka pada tingkatan pasca diferensiasi atau spesialisasi akan terjadi proses shut
down bagi beberapa gen yang fungsinya tidak diperlukan oleh sel yang bersangkutan
dalam menjalankan perannya. Sebaliknya beberapa gen yang mendukung peran pasca
spesialisasi akan didorong untuk terus diekspresikan dan menjadi karakter atau ciri
khusus sel yang bersangkutan.

Nama Kromosom Gen


HOXA1, HOXA2, HOXA3, HOXA4, HOXA5,
HOXA (atau Kromosom
HOXA6, HOXA7, HOXA9, HOXA10, HOXA11,
HOX1) - HOXA@ 7
HOXA13
Kromosom HOXB1, HOXB2, HOXB3, HOXB4, HOXB5,
HOXB - HOXB@
17 HOXB6, HOXB7, HOXB8, HOXB9, HOXB13
Kromosom HOXC4, HOXC5, HOXC6, HOXC8, HOXC9,
HOXC - HOXC@
12 HOXC10, HOXC11, HOXC12, HOXC13
HOXD - HOXD@ Kromosom HOXD1, HOXD3, HOXD4, HOXD8, HOXC9,
2 HOXD10, HOXD11, HOXD12, HOXD13
DLX DLX1, DLX2,DLX3, DLX4, DLX5, dan DLX6
HESX HESX1
Berbagai jenis gen homoebox yang terdapat di sistem genom manusia

Fakta ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mekanisme pengekspresian sebuah


gen memiliki banyak prasyarat yang harus dipenuhi, dan tidak sekedar dipengaruhi oleh
faktor tunggal. Selama ini dalam bayangan kita sebuah promoter sudah mampu untuk
mengaktifkan sebuah gen. Perlu kerjasama dari beberapa faktor sekaligus dan kesemua
faktor itu harus memenuhi syarat ! Sebagai pengetahuan dalam proses pengekspresian
sebuah atau sekumpulan gen dibutuhkan faktor-faktor transduksi, transkripsi, promoter,
protein translasi, penudungan, metilasi, sampai proses penyempurnaan di badan golgi dan
retikulum endoplasma ( 2 organela di dalam badan sel yang terlibat dalam proses sintesa
protein). Pada kalimat di atas disebut sekumpulan gen, mengapa ? Karena untuk
memproduksi sebuah protein yang sempurna secara struktur dan fungsional dibutuhkan
beberapa gen sekaligus untuk membentuk sekumpulan asam amino. Selanjutnya dari
sekumpulan asam amino inilah terbentuk molekul protein dengan tambahan gugus amin
(-NH) di ujungnya.
Selain hormon yang dapat memicu terjadinya proses ekspresi sebuah gena,
diperlukan juga kerjasama beberapa faktor transduksi yang ”mengawal” jalur-jalur
khusus respon molekuler.

Secara diagramatik proses penyalinan oleh mRNA akan dilanjutkan dengan proses pembentukan
rangkaian asam amino di ribosom dengan bantuan tRNA

Selain faktor transduksi yang terkait dengan jalur informasi molekuler, sistem
DNA yang menerima informasi tersebut juga akan mengembangkan mekanisme
penapisan melalui serangkaian pengujian terhadap intensitas dan kecocokan stimulus
dengan prasyarat dapat ditranskripsinya suatu segmen genom. Kondisi ini dalam
terminologi populer dapat diasumsikan sebagai sebuah upaya optimasi fungsi genomik.
Gen-gen yang terbaik dan nyata-nyata diperlukanlah yang akan diekspresikan. Lalu
kuantitas serta kualitas protein hasil ekspresi gen-pun dipertimbangkan agar senantiasa
sesuai dengan kebutuhan (misal menjadi enzim yang fungsional), dengan kadar yang
mencukupi (intensitas).
Kapan proses optimasi itu dapat kita mulai ? Pertanyaan ini muncul karena saat
ini ada beberapa buku atau literatur yang mengacu kepada fungsi DNA dan
menjadikannya acuan dalam proses perubahan. Untuk literatur lokal Dr. Rhenald Kasali
dari Universitas Indonesia telah mengangkat konsep DNA ini dalam konteks perubahan
dan restrukturisasi motivasi. Dari sisi spiritualpun konsep DNA ini banyak diacu. Tetapi
diantara beberapa literatur tersebut buku karya Dr. Kazuo Murakami seorang ahli
biokimia Jepanglah yang paling akurat dan dapat memberikan gambaran tentang DNA
yang sebenarnya.
Dalam bukunya, Dr.Kazuo Murakami menerangkan dengan bahasa yang sangat
mudah dimengerti bahwa ekspresi DNA dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersifat
saling terkait. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja DNA dapat berasal dari dalam
tubuh maupun dari lingkungan. Kekuatan pikiran dan niat yang membaja ternyata dapat
mempengaruhi ekspresi DNA. Pertanyaan berikutnya tentulah, melalui mekanisme apa ?
Salah satu hipotesa yang dapat dipertanggungjawabkan adalah melalui
mekanisme komunikasi antar sel yang melibatkan peran hormon, sitokin, atau faktor
pertumbuhan. Pikiran atau produk mental berhubungan dengan mekanisme kerja kelenjar
hormon yang disebut hipotalamus, atau ”induk” dari seluruh kelenjar hormon yang ada di
tubuh manusia. Tetapi untuk lebih jelasnya mari kita menjelajah dan mencermati tahapan
perkembangan manusia dan peran DNA di dalamnya, secara lebih spesifik dan terkait
dengan pendekatan biopsikologi adalah dengan mengamati perkembangan sel,
jaringangan, organ, dan sistem syaraf.
Sistem syaraf adalah sistem faali penting yang memungkinkan kecerdasan dan
intelektualitas tercipta. Sistem syaraf mulanya hanya berawal dari sebuah lapisan
embrional sederhana yang disebut ektodermal. Lapisan ektodermal yang membentuk
sistem syaraf membentang dari nodus Hensen sampai dengan daerah kranial (kepala),
selanjutnya lapisan itu menebal dan membentuk sebuah tuba atau pipa yang disebut tuba
neuralis. Di sekeliling tuba itu berkumpullah sel-sel yang berkomitmen untuk menjadi
bagian dari sistem syaraf. Kumpulan ini disebut neural kres. Bagaimana sebuah sel dapat
berkomitmen ? Bagaimana sebuah sel tahu ia akan dan harus menjadi apa ?
Pada tahap berikutnya tuba neuralis berkembang menjadi susunan syaraf pusat
yang terdiri dari serebrum (otak besar) dan medula spinalis. Sementara neural kres
berkembang menjadi sistem syaraf tepi yang bertugas antara lain menghadirkan fungsi
penerima rasa dan penghantar respon motorik melalui syaraf spinalis.
Fungsi lain yang tak kalah penting adalah fungsi otonom, dimana organ-organ
tubuh seorang manusia dapat meningkatkan dan mengurangi aktivitas biologisnya secara
mandiri (simpatis dan parasimpatis). Kehebatan tarian lempeng neural ini belumlah
terkuak semuanya, dengan dahsyat lempeng ini melekuk, bergelung, dan
menggelembung. Setiap perubahan volume selalu diikuti perubahan struktur, dan pada
gilirannya akan diikuti perkembangan fungsi. Sebagai contoh, dari gelembung otak
primer yang hanyan terdiri dari 3 bagian (prosensefalon, mesensefalon, dan
rhombensefalon), masing-masing areanya berkembang lagi secara tertata. Prosensefalon
menjadi otak besar yang terdiri dari telensefalon dan diensefalon.
Sementara itu mesensefalon (otak tengah, termasuk sistem limbik) hanya
membesar tetapi tidak mengembangkan struktur. Dan rhombensefalon berkembang
menjadi metensefalon dan mielensefalon (batang otak, pons, dan medula oblongata).
Keajaiban sistem embriologi atau permudigahan manusia tidak berhenti sampai di
sini, bayangkan sebuah kesatuan dan sinergi yang harmonis tercipta dari keterpaduan
antara sistem syaraf dan pembuluh darah. Tanpa nutrisi dan suplai oksigen sebuah
jaringan tidak saja akan gagal berkembang melainkan juga tidak akan dapat berfungsi
secara maksimal. Pemandu pertumbuhan sel syaraf yang terdiri dari sistem reseptor
(penerima) ephrin B2 dan ephrin B4 ternyata juga peka terhadap stimulus VEGF
(Vascular Endothelial Growth Factor) yang semestinya hanya kompatibel atau cocok
dengan reseptor netrin yang disandi oleh gen UNC5B. Penemuan ini membawa implikasi
ganda bahwa faktor pembentuk jaringan pembuluh darah juga dapat berperan membentuk
jejaring sistem syaraf.
Kenyataan berikutnya yang jauh lebih dahsyat adalah ternyata bahwa setiap sel
yang berkembang dalam jaringan dan membentuk organ atau sistem tubuh memiliki
mekanisme PEMANDUAN. Ada proses pengarahan (directing) dan pengaturan agar
tercipta sebuah keselarasan struktur dan fungsi.
Ekspresi gen di setiap sel amat ditentukan oleh prasyarat yang mendorong
terjadinya proses transkripsi. Dalam ranah psikoneurosains misalnya, seseorang akan
memproduksi katekolamin (serotonin atau dopamin) apabila jalur stimulusnya adekuat
(berintensitas konsisten) dan melampaui ambang batas (syarat minimal) yang dibutuhkan
sistem transduksi untuk mendorong dimulainya proses transkripsi gen-gen penunjang.
Tidak hanya itu saja, apabila neuropeptida atau neurohormon dapat diproduksi
dengan baik, belum tentu dapat berfungsi dengan baik pula. Agar suatu hormon dapat
bekerja dengan sempurna diperlukan kelengkapan lainnya seperti reseptor (penerima).
Keberadaan reseptor ini (contoh reseptor protein tirosin kinase/ RPTK) akan
mengaktifkan jalur enzim kinase yang bekerja secara hirarkial hingga mengaktifkan area
promoter dari gen yang menjadi target (sasaran). Barulah proses transkripsi dimulai dan
protein yang dibutuhkan akan ditranslasi dengan bantuan ribosom ( dengan ketersediaan
asam amino).
Kurangnya ekspresi DRD4 yang merupakan reseptor dopamin di sel otak akan
menjadikan sel-sel otak (neuron) yang bersifat dopaminergik tidak dapat bekerja dengan
sempurna. Akibatnya orang yang mengalaminya akan merasa ”tertekan”, kehilangan
gairah, berubah moodnya, dan tidak mampu merasakan kegembiraan (gejala depresi).
Jejaring syaraf di organ otak yang dapat mengembangkan sirkuit-sirkuit fungsional berdasarkan ekspresi
gen yang terjadi

Dapat dicermati pula proses pembentukan pola-pola mental yang secara


neurobiologis terbentuk melalui serangkaian proses pembangunan sirkuit otak. Proses
belajar, pembiasaan, pelatihan, dan mekanisme adaptasi sebagai bagian dari proses
interaksi dengan lingkungan, akan membentuk jalur-jalur atau sirkuit fungsional yang
disebut sirkuit neuronal.
Secara anatomis ada beberapa sirkuit yang membentuk lempeng (misal Weber
Loop yang menghubungkan antara jalur transmisi data optikus dari talamus ke pusat
penglihatan dan juga melingkar ke pusat pendengaran), tetapi secara fisiologis sirkuit
fungsional yang lebih rumit dan kompleks dapat terbentuk secara temporer (sementara)
berdasarkan kondisi yang tengah dihadapi. Sirkuit sementara ini akan menjadi semi
permanen bahkan permanen apabila stimulus yang diterima dan pola pengambilan
keputusan kita bersifat persisten (dikondisikan menetap).
Sifat malas adalah contohnya, tidak ada gen untuk sifat malas. Tetapi ada
sekumpulan gen yang mampu menghasilkan protein-protein yang ”menunjang”
munculnya sifat malas. Apabila sifat ini dikondisikan atau bahkan dipertahankan maka
akan terbentuk ”sirkuit virtual” kemalasan. Akan terjadi hiper-ekspresi dari gen-gen
penunjang kemalasan, meski seharusnya mereka hanya akan diekspresikan pada saat-saat
diperlukan. Dengan kata lain potensi sifat malas itu ada dan melekat dengan diri kita,
tetapi kapan akan diimplementasikan dan dipraktekkan, itu sepenuhnya bergantung
kepada kita selaku pengendali tubuh dan pikiran kita.
Kasus lain yang juga tidak kalah menariknya adalah ”bakat”. Sebagian ahli
berpendapat bahwa bakat adalah sesuatu yang secara genetika sulit untuk dimanipulasi
(diubah). Tetapi konsep biologi molekuler justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Orang menjadi bodoh dan kalah berprestasi dalam suatu bidang dapat dianalogikan
dengan adanya ”tingkat kesulitan” dalam mengekspresikan sekelompok gen tertentu.
Ingat tidak ada orang normal baik fenotip maupun genotip yang kehilangan gen ! Kecuali
terjadi proses delesi ataupun translokasi yang biasanya berakibat pada kecacatan
permanen.
Apabila seorang manusia dilahirkan dengan genotip dalam batas normal maka
semua gen potensi ada dan lengkap, siap untuk digunakan. Apabila ada gen terhapus atau
diturunkan kurang lengkap, maka fenotip sudah jelas akan jauh sekali berbeda,
mengingat perbedaan genotip kita dengan simpanse saja hanya berkisar 0,6%. 99,4% gen
kita identik dengan simpanse. Demikian pula dengan keluarga mencit (mus musculus sp)
yang acapkali dijadikan hewan percobaan, dan alat uji obat karena kemiripan genetiknya
dengan manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana bahwa
sesungguhnya setiap orang memiliki potensi dasar yang nyaris serupa. Perubahan yang
terjadi karena proses mutasi ataupun cacat genetika lainnya adalah bagian dari
keberagaman dan gejala patologi molekuler.
Pada sel-jaringan-organ- dan sistem faali manusia kemudian dikembangkan
sistem kendali operasi dan sistem organisasi yang efektif dan mampu menjawab
kebutuhan secara tepat. Pola-pola komunikasi intra sel (transduksi, transkripsi, translasi),
antar sel (sitokin dan faktor pertumbuhan), antar jaringan dan organ (hormon,
neurotransmiter atau neuropeptida), dan antar sistem tubuh (syaraf dan endokrin),
terbangun secara sistematis dan adekuat. Berbagai pertimbangan dalam proses
pengambilan keputusan biologis yang melibatkan aspek biokimiawi, ditentukan dan
ditetapkan secara otonom dengan mempertimbangkan variabel-variabel pengaruh yang
datang darimana saja. Semuanya menunjukkan kehebatan sebuah program yang bersifat
antisipatif dan adaptif.

Gen yang terorganisasi dalam DNA dan kromosom manusia; diekspresikan melalui serangkaian proses
biokimiawi dan komunikasi ekstra dan intra seluler

Fakta ini menunjukkan bahwa bakat dan potensi unggulan yang muncul,
ataupun hendaya dan kendala hayati dan psikologi yang kerap pula dijumpai adalah
bagian dari mekanisme pengekspresian dan pengendalian ekspresi gen. Sekumpulan
gen mempengaruhi sifat dan perilaku seksual seseorang, bila kelompok gen penghasil
protein reseptor tidak aktif, maka meski kelompok gen penghasil protein penghambat
diproduksi, mereka tidak akan dapat menjalankan mekanisme penghambatan (inhisi).
Contoh lain, apabila kadar suatu neuropeptida bersifat amat fluktuatif atau naik turun
secara ekstrem, dan tidak konsisten, maka hanya aktivitas-aktivitas mental tertentulah
yang dapat mencapai ambang batas pengekspresian gennya. Hal ini menjelaskan
berbagai fenomena kecanduan, baik pada obat terlarang, seks, rokok, maupun
makanan atau minuman tertentu dan aktivitas tertentu (main game on-line, PS, dan
berbagai gadget teknologi lainnya). Kondisi cepat naik dan cepat turun ini disebabkan
aktivitas faktor transkripsiatau faktor regulator lainnya (termasuk promoter) yang
terhabituasi untuk memiliki ambang batas sensitifitas yang relatif rendah.

Hubungan Gen, Lingkungan, dan Perilaku


GUSI 1A3
Penelitian pada monyet ( spesies Resus Makakus) menunjukkan bahwa anak-anak
monyet yang dipisahkan dari induknya atau ditinggal mati induknya pada usia dini
menunjukkan prubahan perilaku sosisl dan meningkatkan mekanisme menyamankan diri
sendiri (self comforting) seperti menghisap ibu jari (regresi). Hal ini terjadi pada bayi
monyet yang dipisahkan dari induknya pada usia 1 minggu. Kelompok lain yang
dipisahkan dari induknya ketika berusia 1 bulan, menunjukkan bahwa mereka kelak
ketika dewasa senantiasa mencari kenyamanan sosial (social comfort).
Secara biologi molekuler kemudian dilakukan pengujian terhadap ekspresi
protein, dalam hal ini kadar mRNA, di daerah lobus temporo medial kanan korpus
amigdala dengan menggunakan metoda mikroarray DNA (Affymetrix U133A 2.0 array).
Sebuah gen yang diduga bertanggung jawab terhadap pembentukan perilaku kenyamanan
sosial dipetakan ekspresinya secara hibridisasi in-situ (Insitu hybridization). Gen itu
adalah gen Guanilat Siklase 1 Alfa 3 (GUSI 1A3). Gen ini secara statistik memiliki
korelasi yang kuat dengan proses pembentukan perilaku kenyamanan sosial akut dan
jangka panjang.
Pada monyet yang dibesarkan dalam lingkungan sosial normal gen ini ditemukan
terekspresikan dengan baik. Ekspresi gen yang ditandai dengan terdeteksinya kadar
mRNA GUSI 1A3 lebih dominan di daerah amigdala dibandingkan di area otak lain yang
juga diuji. Kuat dugaan bahwa gen GUSI 1A3 ini merupakan salah satu gen yang
berperan dalam mekanisme pembentukan perilaku sosial.
Sabatini MJ, et al. Amygdala Gene Expression Correlates of Social Behavior in Monkeys
Experiencing Maternal Separation. The Journal of Neuroscience. March 21, 2007

Gen 5-HTT
Gen 5-HTT adalah gen yang mengekspresikan protein pemgangkut (transporter)
serotonin. Keberadaan serotonin yang diproduksi di nukleus raphe dan protein 5-HTT
mempengaruhi pembentukan dan pengendalian mood, emosi, sifat agresi, mekanisme
tidur-bangun, dan kecemasan.Tugas dari protein 5-HTT adalah me"re-uptake"serotonin
yang telah dirilis ke daerah presinaptik. Kekurangan protein ini akan berakibat pada
berkurangnya fungsi-fungsi yang dijalankan oleh sel-sel syaraf yang bersifat
serotoninergik.
Salah satu penyebab menurunnya kadar protein transporter serotonin 5-HTT
adalah adanya polimofisme yang terjadi di regio regulator gen 5-HTT. Mutasi pada
daerah regulator justru lebih berdampak negatif jika dibandingkan dengan mutasi yang
terjadi di daerah gen koding ( Di Bella et. al, 1996). Pada kasus mutasi di regio regulator
(VNTR) terjadi delesi (terhapusnya) 44 pasang basa yang berakibat pada menurunnya
kadar protein serotonin transporter di membran sel syaraf, yang akan mengganggu proses
pengambilan kembali (re-uptake) serotonin. Kurangnya akdar serotonin akan diikuti
dengan terjadinya depresi.
Tentu saja pembentukan mood ataupun depresi tidak hanya bergantung kepada
peran gen 5-HTT saja, melainkan juga melibatkan sekumpulan gen lainnya yang
memiliki kontribusi pada mekanisme pembentukan perilaku. Gen lain yang berkontribusi
pada munculnya kondisi depresi dan gangguan mood antara lain adalah gen Monoamin
oksidase A (MAOA) dan juga pengaruh dari beberapa neuropeptida, hormon otak, dan
faktor-faktor transduksi.

Gen yang Terkait dengan Adiksi dan Penyimpangan Perilaku


Gen penyandi Dopamin D2 Reseptor, sebagai salah satu penyandi reseptor
dopamin juga telah diteliti hubungannya dengan kebiasaan merokok dan adiksi
(kecanduan) nikotin (School of Medicine University of Pennsylvania). Gen lain yang
juga mempengaruhi kecanduan merokok adalah gen Gamma Amino Butiric Acid-B
Reseptor subunit 2 (GABAB2) di kromosom 9 dan GABA-A-Reseptor Associated
Protein (GABARAP) di kromosom 17. (Ming Li, PhD, Virginia University).
Sementara variansi (polimorfisme) gen DRD4 yang diteliti di 148 mahasiswa dan
mahasiswi Universitas Hebrew dan Universitas Ben Gurion di Nejev Israel menunjukkan
bahwa 30% penyimpangan gen DRD4 berkorelasi dengan tingginya dorongan seksual,
dan variansi lainnya terkait dengan penurunan gairah seksual. Penelitian lain
menunjukkan bahwa gen DRD4 juga berhubungan dengan kebisaan berjudi.(Dr.Richard
Ebstein).
Penyimpangan seksual juga dapat terjadi akibat adanya perubahan atau variansi
pada kromosom X lengan p lokus 22.3. Kelainan yang sudah diteliti cukup mendalam
adalah sindroma Kallman yang terjadi karena adanya mutasi pada gen yang seharusnya
memproduksi protein permukaan membran sel yang berperan sebagai pemandu proses
migrasi sel-sel Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) dari area otak dekat bulbus
olfaktorius (pusat penghiduan) ke kelenjar hipofise. Akibatnya fungsi hipofise yang
seharusnya menstimulasi pembentukan hormon testosteron di kelenjar testis terganggu
(Donald W Pfaff, Hormone Genes, and Behavior).

Gen MAOA
Penelitian aktivitas enzim MAOA pada 500 probandus pria di tahun 2002
menunjukkan rendahnya kadar enzim MAOA akan memicu seseorang menjadi pribadi
anti sosial ( anti social disorder), apabila orang tersebut mengalami perlakuan yang buruk
di masa kecil. Sebaliknya pada orang-orang dengan kadar MAOA yang tinggi (atau
gennya berpotensi mengekspresikan enzim MAOA) diketahui meski mendapat perawatan
dan perlakuan buruk (maltreated) tidak menjadikannya pribadi anti sosial. Sedangkan
pada kelompok yang memiliki potensi berkadar enzim rendah tetapi tidak mendapatkan
perlakuan buruk di masa kecil, ternyata tidak pula menjadi pribadi anti sosial.

Mengenal Dopamin dan Gennya


Aktifitas transporter dopamin di otak orang normal, pecandu obat yang sudah berhenti 1 bulan, dan yang
sudah berhenti 14 bulan

Dopamin adalah hadiah alami (natural reward) yang akan muncul pada saat
seseorang melakukan atau akan melakukan aktivitas mental yang menyenangkan. Dalam
konsep adiksi, stimulasi peningkatan dopamin dihasilkan dari manipulasi obat. Apabila
sirkuit untuk mempertahankan sensasi aktivitas yang menyenangkan ini terus diulang,
maka dopamin akan mengalami desensitisasi atau ambang batas stimulansnya terus
meningkat. Hal inilah yang antara lain kemudian mendorong terjadinya fenomena
peningkatan dosis pada penggunaan obat terlarang.
Peningkatan kadar dopamin semu ini diinternalisasi dan menjadi pola baku
produksi dan disribusi (trnasportasi dopamin). Dengan demikian terjadi perubahan profil
gen (terutama dalam hal ekspresinya) seiring dengan kebiasaan yang dilakukan seorang
manusia. Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa transportasi dopamin akan kembali
pulih setelah jangka waktu tertentu. Dengan demikian gen meskipun rumus
nukleotidanya tetap sama, tetapi dapat diekspresikan dengan kadar dan kualitas yang
berbeda-beda. “law of effect”nya Thorndike, dimana sebuah pengalaman yang
mendatangkan kesenangan akan meningkatkan dan menjadi motivasi yang luar biasa
kuatnya untuk mengulangi lagi perbuatan tersebut.
Gen dopamin, gen reseptor dopamin, dan gen protein transporter dopamin akan
teregulasi dan terekspresikan lagi dengan baik dengan umpan atau hadiah alamiah yang
positif, misal dengan mekanisme ibadah, olahraga, kegiatan sosial, dan juga proses
berkomunikasi di dalam keluarga. Bila kita perhatikan fakta di atas, dopamin dapat juga
digolongkan sebagai protein ”achievement”. Capaian prestastif tentu merupakan
”reward” yang sangat relevan dengan ekspresi keluarga dopamin.

Pembentukan Budaya Pikiran


Secara umum seorang manusia dalam perspektif psikologi faal akan
mengembangkan pola-pola mental berbasis kepada kenyamanan dan ketidaknyamanan
yang akan didapat dari suatu proses yang tengah dilakukan. Apabila ada sebuah
kesenangan atau kenyamanan yang dapat dicapai secara instan dan tidak memerlukan
proses yang menyulitkan dan menguras tenaga atau pikiran, maka manusia akan
cenderung untuk mereplikasi pola-polanya dengan jalan membangun sirkuit keputusan.
Sirkuit keputusan ini dibangun dengan memanfaatkan ekspresi neuropeptida,
neurotransmiter, dan sekumpulan sel syaraf. Sebagai contoh, fluktuasi hormon otak
tertentu dengan proporsi tertentu secara berulang akan direspon oleh sebagian jaringan
otak sebagai jalur priorotas yang harus didahulukan dan bahkan dipertahankan.

ȱ
Fluktuasikadarhormondanneuropeptidayangapabilaberlangsungdalamjangkapanjangdansenantiasa

berulangakanmendoronggendanjaringansyarafmempertahankanpoladansirkuitmentaltertentu

Gray mengkategorikan berbagai kesenangan nirproses ini sebagai sistem


penggerak perilaku atau “Behaviour Activation System”. Sebaliknya proses berliku-liku
dan berbagai ketidaknyamanan yang menyertainya akan menjadi bagian utama dari
“Behaviour Inhibition System”, dimana semuanya akan terekam di sistem limbik dan
pusat produksi hormon-hormon otak. Akibatnya bahkan sebelum proses dimulai hormon-
hormon “penolakan” telah terlebih dahulu diproduksi !
Proses pembentukan sirkuit neuronal dapat terjadi karena sel-sel neuron bersifat plastis dan dapat
bermigrasi serta dapat membangun sinap-sinap baru sesuai dengan kebutuhan

Perbedaan Sebagai Bagian dari Konsep Fitrah


Perbedaan-perbedaan awal karena pola hereditas yang memungkinkan terjadinya
kompromi di tingkat genom sesungguhnya dapat ditafsirkan sebagai mekanisme untuk
mengembangkan karakter yang istimewa dari setiap individu. Contoh nyata dapat dilihat
dari perbedaan genetika antara pria dan wanita. Perbedaan di tingkat kromosomal hanya
terjadi di kromosom kelamin, yaitu X dan Y. Secara genom, saat ini terdeteksi 9 untai
gen yang berbeda di antara kromosom X dan Y. Gen-gen itu terdeteksi antara lain
melalui ekspresi protein-protein di jaringan otak. Penelitian mendetail dengan
menggunakan teknik yang disebut RT-PCR (Reverse Transcriptase-Polymerase Chain
Reaction) atau teknik penggandaan gen dan melihat asal-usul protein melalui
pemanfaatan enzim transkriptasi terbalik, menunjukkan bahwa beberapa jenis protein
otak pria dan wanita memang berbeda.
Bila kita asumsikan bahwa perbedaan ini kemudian akan memandu pembentukan
jalur-jalur sirkuit yang berbeda pula, maka kita akan mendapati perbedaan-perbedaan
karakter fungsi luhur dan sikap mental pada pria dan wanita. Gen yang diamati adalah
Usp9y, Ube1y, Smcy, Eif2s3y, Uty, dan Dby. Sementara di kromosom X terdapat 6 gen
amatan yang terdiri dari : Usp9x, Ube1x, Smcx, Eif2s3x, Utx, dan Dbx. Hasil penelitian
juga menunjukkan bahwa 3 pasangan gen (alela) yang terdapat di pria (kromosom XY),
yaitu Usp9x/y, Ube1x/y, dan Eif2s3x/y belum dapat mengompensasi bias yang muncul
karena ketiadaan kromosom X. Secara keseluruhan kromosom X hanya memiliki sekitar
231 gen.

Kromosom X dan Y dengan peta lokus dan alelnya

Dapat disimpulkan secara genetika, bahwa pria bersifat asimetrik, dan bergantung
kepada pola dominansi dalam 1 alela, sementara seorang wanita akan memiliki peluang
untuk mengekspresikan gen-gen di kromosom kelaminnya dengan lebih stabil. Sehingga
secara aplikatif, baik pria maupun wanita apabila dapat mengembangkan potensi
genetiknya sesuai dengan arah yang telah digariskan dalam struktur genomik yang
dimilikinya akan mencapai kesuksesan paripurna (hayati, psikologi, dan sosial).
Simpulan
Berdasarkan paparan teori dan fakta pada bagian-bagian sebelumnya ada
beberapa simpulan yang dapat dipetik, untuk selanjutnya dijadikan landasan dalam
penelitian lanjutan dan aspek aplikatif behavior modification. Simpulan tersebut antara
lain sebagai berikut :
‚ Mengacu kepada pola pewarisan sifat baik yang mengikuti hukum Mendel
maupun penyimpangannya, akan ada beberapa individu yang memiliki sifat
genetis (baik genotip maupun fenotipnya) yang berbeda dengan mayoritas
populasi. Sifat ini dapat bersifat resesif non letal ataupun sifat dominan tersamar
yang muncul karena adanya interaksi antar alel. Secara faktual karakter genotip
dan fenotip ini sulit untuk berubah. Hanya mutasi radikallah yang dapat
menghapus atau mengubah genotip yang telah terbentuk, dan untuk itupun
diperlukan intensitas mutagen dan waktu perubahan yang sangat panjang. Pada
kasus mutasi gen BRCA1,2,3 yang dialami sebagian wanita, tidak semuanya
berakhir dengan insiden kanker payudara. Padahal keluarga gen BRCA telah
diketahui merupakan salah satu faktor yang turut menentukan probabilitas
munculnya kanker payudara. Demikian pula pada pola pewarisan genotip gen-
gen yang terkait dengan Alzheimer. Tidak selalu orang-orang bergenotip rentan
Alzheimer selalu terkena Alzheimer. Pemetaan genom menunjukkan bahwa
Alzheimer diduga kuat berkorelasi dengan ekspresi gen ApoE (apolipoprotein E)
yang terdapat di kromosom 19. Hasil penelitian genetika komunitas memberikan
gambaran bahwa orang yang memiliki 1 alel ApoE4 berisiko terkena Alzheimer
4x lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memilikinya. Sedangkan
bila orang memiliki 2 alel ApoE4 yang diturunkan dari kedua orangtuanya, maka
resikonya terkena Alzheimer meningkat menjadi 10x lebih tinggi. Sementara
orang-orang dengan ApoE3 dan 2 memiliki resiko yang sangat rendah. Mengacu
kepada data dan fakta ini perlu ditelusuri lebih lanjut kemungkinan adanya
faktor-faktor genom yang memiliki kemampuan menginhibisi ekspresi gen
ApoE4, ataupun gen-gen apa sajakah yang mungkin menjadi enhancernya. Selain
gen-gen yang terpetakan langsung sebagai bagian dari promotor atau inhibitor,
perlu diperhatikan juga jalur patofisiologi yang dilalui dan distimulasi oleh
keberadaan protein ApoE 4. Dengan mengetahui jalur dan hubungan antara
molekul apoE4 dengan kerusakan degeneratif jaringan syaraf akan dapat
dikembangkan sistem pencegahan atau pengendalian kerusakan jaringan. Kajian
terhadap peran single gene terhadap munculnya suatu penyakit (dianggap
korelasional kausatif) juga perlu dievaluasi secara hati-hati. Mengapa ? Sebab
ada sebuah penelitian genetika yang berusaha mengorelasikan antara keberadaan
gen HLA-A1 dengan ketrampilan menggunakan sumpit, padahal sesungguhnya
tidak ada hubungannya. Mengapa ? Karena ekspresi HLA-A1 banyak ditemukan
di populasi mongoloid atau etnis oriental, wajar bila mereka pandai
menggunakan sumpit. Dalam hal ini terjadi bias budaya dalam penelitian
genetika. Sedangkan pada riset tentang gen IGF2R (Insulin Like Growth Factor-2
Receptor) yang terdapat di kromosom 6 dan diduga sebagai gen yang
mempengaruhi tingkat intelijensia (IQ), terutama alel 5nya, ditemukan fakta
bahwa tidak selamanya orang tanpa alel 5 IQnya rendah. Ada banyak faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam menilai proses pengekspresian gen dan juga efek
yang ditimbulkannya. Contoh lainnya adalah keterkaitan antara gen SNAP-25
dengan insidensi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) tidak selalu
deterministik dan tidak dapat dikendalikan atau diubah lagi.
‚ Apabila sifat genotip ternyata dapat memberikan dampak yang kurang
menguntungkan, maka marilah kita upayakan untuk menggali secara lebih
mendalam bagaimana cara terbaik untuk menyikapinya. Sebagai contoh,
seseorang yang terlahir dengan kecacatan fisik tanpa lengan misalnya, justru
memiliki beberapa ratus juta sel neuron (yang semula diprogram untuk
mengoordinasi lengan) yang siap untuk dipergunakan dalam proses
pengembangan kemampuan mental dan fisikal lainnya.
‚ Belajar dari kemampuan adaptasi bakteri dalam quorum sensing dan kecanggihan
pola-pola komunikasi di tingkat mikroba, maka kita sesungguhnya mendapatkan
pembuktian yang kuat bahwa gen bersifat adaptif dan dapat diekspresikan serta
dikendalikan apabila prasyarat regulasinya terpenuhi. Bahkan salah satu
mekanisme penyimpangan hukum Mendel yang disebut kriptometri juga
menunjukkan bahwa segregasi alel saja dapat ditentukan oleh kondisi
lingkungan. Genom akan menyesuaikan tampilannya selaras dengan kondisi
lingkungan yang akan ditempatinya.
‚ Upaya konstruktif untuk mengendalikan sifat yang kurang menguntungkan dan
mengoptimalkan sifat-sifat yang ”super dahsyat” (terutama yang terkait dengan
fungsi mental luhur), dapat dilakukan dengan proses berlatih dan membangun
sirkuit-sirkuit neuronal yang persisten. Sebagai contoh, jaringan otak yang terus
menerus dibanjiri hormon agresivitas ataupun ketertekanan akan memiliki tingkat
sensitifitas genomik yang dijamin akan menjadi sangat peka terhadap masalah.
Akibatnya sirkuit utama yang terbentuk adalah sirkuit yang memfasilitasi
perubahan mood dan perilaku ke arah karakter negatif.
‚ Pada penelitian dengan subjek anak kembar (baik monozigot/MZ maupun
dizigotik/DZ) didapatkan hasil sedemikian : tingkat kemiripan orientasi seksual
52% pada MZ dan hanya 22% pada DZ. Sedangkan pada tes adopsi ditemukan
fakta bahwa sebagian besar anak kembar yang diasuh oleh orangtua adopsi
memiliki sifat-sifat yang lebih menyerupai orangtua angkatnya. Hal ini
menunjukkan bahwa peran genom selaku pembawa pesan memiliki peluang
deterministik yang nyaris setara dengan pengaruh lingkungan.
‚ Dari beberapa simpulan di atas dapat disarikan sebuah simpulan pamungkas
bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memberi kesempatan seluas-luasnya bagi
kita (manusia) untuk mengembangkan dan memperbaiki diri. Dimana semua
proses yang menjadi konsekuensi pengembangan diri tersebut menghablur dalam
niat, doa, ikhtiar, dan konsistensi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonimus. Wikipsychology. Wikipedia.


http://www.wikipedia.org/psychology, Oktober 2008
2. Baker C.Behavioral Genetics, an Introduction to How Genes and
Environments Interact through Development to Shape Differences in
Mood, Personality, and Intelligence.Advancing Science, Serving Society.
The Hasting Center, 2007
3. Agutter PS. Wheatley DN. About Life Concepts in Modern Biology.
Springer,2007
4. Frith C. Making up The Mind, How the Brain Creates Our Mental World.
Blackwell Publishing, 2003
5. Smith G. The Genomic Age, How DNA Technology Is Transforming the
Way We Live and Who We Are. Amacom, American Management
Association, 2005
6. Biological Sciences Curriculum Study (BSCS). 2000. Genes,
environment, and human behavior.Colorado Springs: BSCS.
7. Hergenhahn: Introduction to the History of Psychology, 4/e. Wadsworth
Publishing Co. July 2000
8. Fuller GM. Shields D. Molecular Basis of Medical Cell Biology.
Appleton& Lange, Stamford Connecticut, 1998
9. Rochman DM. Nurwiati S. Intisari Biologi untuk SMA Kelas X, XI, XII.
Pustaka Setia, Bandung, Maret 2007
10. Liza. Hubungan Genetika dengan Perilaku. Program Pascasarjana STAIN
Cirebon, 2007
11. Jun Xu et al. Human Molecular Genetics, Vol 11 No 12, 1409-1419
Oxford University Press, 2002

12. Caspi A et. al. 2003. Influence of Life Stress on Depression: Moderation
in the 5-HTT Gene. Science 301: 386-389.

13. Di Bella, D. et. al. 1996. Systematic screening for mutations in the coding
region of the human serotonin transporter (5-HTT) gene using PCR and
DGGE. Am J Med Genet. 67: 541-5.

14. Caspi A et. al. 2003. Influence of Life Stress on Depression: Moderation
in the 5-HTT Gene. Science 301: 386-389.
15. Di Bella, D. et. al. 1996. Systematic screening for mutations in the coding
region of the human serotonin transporter (5-HTT) gene using PCR and
DGGE. Am J Med Genet. 67: 541-5.

16. Caspi A et. al. 2003. Influence of Life Stress on Depression: Moderation
in the 5-HTT Gene. Science 301: 386-389.

17. Di Bella, D. et. al. 1996. Systematic screening for mutations in the coding
region of the human serotonin transporter (5-HTT) gene using PCR and
DGGE. Am J Med Genet. 67: 541-5.

18. Hasanudin. Psikologi Abd ke-20. Diktat Kuliah Fakultas Psikologi


Universitas Kristen Maranatha, 1992

19. Murakami K. The Divine Message of DNA. Mizan Publishing House,


Bandung, 2007

20. Afman L. Muller M. Nutrigenomics: From Molecular Nutrition to


Prevention of Diseases. Continuing Education Questionnaire, pg 578

21. Ju Kim H. Miyazaki M. Ntambi JM. Dietary Choolesterol Oppose PUFA-


Mediated Repression of the Steroyl Co A Desaturase Gene by SREB-1c
Independent Mechanism. Journal of Lipid Research, Vol 43, 1750-1757,
October 2002

22. Milner J. Trujillo E. Kaefer C. Ross S. Nutrigenomics. Workshop on


Collecting and Utilizing Biological Indicators and Genetic Information in
Social Science Surveys. National Academy of Sciences, Washington DC,
2006

23. __________, Life, The Science of Biology, Seventh Edition

24. Darmono. Farmakologi dan Toksikologi Sistem Kekebalan: Pengaruh,


Penyebab, dan Akibatnya pada Kesehatan Tubuh. Penerbit Universitas
Indonesia. Jakarta, 2007.

25. Sadock, Benjamin J. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry:


Behavoiral Sciences, Clinical Psychiatry, 9th ed., Lippincott Williams &
Wilkins, Philadelphia, USA: 2003
26. Rakhmat. Jalaluddin. Belajar Cerdas, belajar berbasiskan otak. Mizan
Learning Center. Bandung, 2005

27. Novitt AD. Moreno. How Your Brain Works. Ziff Davis Press

28. Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran / Arthur C. Guyton,


John E. Hall; editor bahasa Indonesia: Irawati Setiawan _ Ed. 9 _ Jakarta:
EGC, 1997

29. Baratawidjaja, Karnen Garna. Imunologi Dasar, ed. 7, Jakarta: Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia: 2006

30. Azhar TN. Dasar-Dasar Biologi Molekuler, ed 2. Widya Pajajaran.


Bandung, 2008

31. Azhar TN. Psikologi Genomik. Zip Book, MQS Publishing. Bandung,
2008