Anda di halaman 1dari 19

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN

Serambi

Profil

Sejarah

Visi dan Misi

Tugas dan Fungsi

Struktur Organisasi

Program Diklat

SDM

Pegawai BPPK

Widyaiswara

Galeri

Foto

Unit Kerja

Unit Pusat

Pusdiklat AP

Pusdiklat BC

Pusdiklat KNPK

Pusdiklat Pajak

Pusdiklat PSDM

Pusdiklat KU

STAN

Sekretariat Badan

Unit Diklat Daerah


BDK Medan

BDK Pekanbaru

BDK Palembang

BDK Cimahi

BDK Yogyakarta

BDK Malang

BDK Denpasar

BDK Pontianak

BDK Balikpapan

BDK Makassar

BDK Manado

BD Kepemimpinan Magelang

Publikasi

Artikel

Jurnal

Kajian Akademis

Konten

Berita

Pengumuman

Peraturan

Spesial

Promo

Berita Utama

Annual Report

PPID

Profil PPID BPPK

Permohonan Informasi Publik


Daftar Informasi Publik

LAKIP

LKPP

RKA K/L

Pengadaan Barang dan Jasa

Pengembangan SDM Kemenkeu

Layanan

e-Registration

e-Learning

Kalender Diklat

Live Streaming

Majalah Edukasi

Easylib

JDIH

Hubungi Kami

Lokasi

Kontak

Intranet BPPK

Serambi

Publikasi

Artikel

Artikel Pajak

PENGHITUNGAN ANGSURAN PPH PASAL 25 BAGI WAJIB PAJAK MENURUT PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR 208/PMK.03/2009

PENGHITUNGAN ANGSURAN PPH PASAL 25 BAGI WAJIB PAJAK MENURUT PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR 208/PMK.03/2009

Detail

Dibuat: Kamis, 18 Desember 2014 15:18


Ditulis oleh Johannes Aritonang, SE., MM

Latar Belakang

Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 yang
telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/ PMK.03/ 2009 tentang Penghitungan
Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan DalamTahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh
Wajib Pajak Baru,Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa, Dan Wajib Pajak Lainnya Yang Berdasarkan Ketentuan
Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha
Tertentu. Namun dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut tidak memberikan contoh
penghitungan angsuran Pajak Penghasilan.

Tulisan ini membahas penghitungan angsuran Pajak Penghasilan pasal 25 (selanjutnya disebut
angsuran PPh pasal 25) terhadap : a. Wajib Pajak baru; b. Wajib Pajak bank, badan usaha milik
Negara, badan usaha milik daerah, Wajib Pajak masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan harus membuat laporan keuangan berkala;
dan c.Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.

Kata Kunci: Angsuran Pajak Penghasilan, PPh Pasal 25.

Pembahasan

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (selanjutnya disebut Undang-Undang PPh) pada
pasal 25 mengatur penghitungan angsuran Pajak Penghasilan.Ketentuan ini mengatur tentang
penghitungan besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun
berjalan. Pasal 25 ayat 1 Undang-Undang PPh menjelaskan ketentuan besarnya angsuran PPh yaitu:
“Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:

a. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak
Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; dan

b. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24,

dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak."

Contoh berdasarkan penjelasan pasal 25 ayat 1 :

Berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2009 diketahui:

Jumlah Pajak Penghasilan yang terutang sebesar Rp 50.000.000,00


Data kredit pajak tahun 2009 adalah:

a. Pajak Penghasilan yang dipotong pemberi Kerja ( PPh Pasal 21) Rp 15.000.000,00

b. Pajak Penghasilan yang dipungut oleh pihak lain (PPh Pasal 22) Rp 10.000.000,00

c. Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak lain (PPh Pasal 23) Rp 2.500.000,00

d. Kredit Pajak Penghasilan luar negeri (PPh Pasal 24) Rp 7.500.000,00

Penghitungan angsuran Pajak Penghasilan pasal 25 tahun 2010 adalah:

Pajak Penghasilan terutang Rp 50.000.000,00

Kredit Pajak:

a. PPh pasal 21 Rp 15.000.000,00

b. PPh pasal 22 Rp 10.000.000,00

c. PPh pasal 23 Rp 2.500.000,00

d. PPh Pasal 24 Rp 7.500.000,00

Jumlah Kredit Pajak Rp 35.000.000,00

Pajak Penghasilan yang harus dibayar Rp 15.000.000,00

Besarnya angsuran Pajak Penghasilan yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2010
adalah :

Rp. 15.000.000,00 / 12 = Rp. 1.250.000,00.

Jika Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam contoh di atas berkenaan dengan penghasilan
yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi masa 6 (enam) bulan dalam
tahun 2009, besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri setiap bulan dalam tahun 2010
adalah sebesar Rp 15.000.000,00/ 6 bulan = Rp2.500.000,00.

Selanjutnya masih terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi besarnya jumlah angsuran PPh
pasal 25 yaitu:

Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu,
maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut, dan
berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak (Pasal 25 ayat 4
Undang-Undang PPh).

Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak
dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, sebagai berikut:

Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian;

Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;

Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas
waktu yang ditentukan;

Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan;

Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang
mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan; dan

terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak (Pasal 25 ayat 6 Undang-Undang PPh).

Penghitungan angsuran PPh pasal 25 selain yang telah diatur dan diberi contoh oleh Undang-Undang
PPh pada pasal 25 ayat (1), pasal 25 ayat (4), dan pasal 25 ayat (6) juga memberi kewenangan
kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak bagi: a. Wajib
Pajak baru; b. Wajib Pajak bank , badan usaha milik Negara, badan usaha milik daerah, Wajib Pajak
masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
harus membuat laporan keuangan berkala; dan c. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu
dengan tarif paling tinggi 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari peredaran usaha (pasal 25
ayat7).

Berdasarkan wewenang tersebut Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor 255/PMK.03/2008 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 208/ PMK.03/ 2009 (selanjutnya disebut PMK 208/PMK.03/2009) yang
menetapkan penghitungan besarnya angsuran Pajak Penghasilan dalam tahun pajak berjalan yang
harus dibayar sendiri oleh :

Wajib Pajakbaru

Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha MilikNegara, Badan Usaha Milik Daerah,
Wajib Pajak Masuk Bursa Dan Wajib Pajak Lainnya Yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan
Membuat Laporan Keuangan Berkala,

Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu.

Pada prinsipnya penghitungan besarnya angsuran bulanan dalam tahun berjalan didasarkan pada
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu. Namun ketentuan ini memberi
kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan dasar penghitungan besarnya angsuran
bulanan selain berdasarkan prinsip tersebut di atas. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendekati
kewajaran perhitungan besarnya angsuran pajak karena didasarkan kepada data terkini kegiatan
usaha perusahaan.

1. Penghitungan angsuran PPh pasal 25 bagi Wajib Pajak Baru

a. Ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan Peraturan Menteri Keuangan

Ketentuan Wajib Pajak baru diatur pada penjelasan pasal 25 ayat (7) huruf a Undang-Undang PPh ,
yaitu Wajib Pajak yang mulai menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam tahun pajak
berjalan. Ketentuan Wajib Pajak baru juga diatur pada pasal 1 angka 1 PMK 208/PMK.03/2009.

Wajib Pajak baru menurut Peraturan Menteri Keuangan ini adalah Wajib Pajak orang pribadi dan
badan yang baru pertama kali memperoleh penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dalam
tahun pajak berjalan. Penghitungan besarnya angsuran PPh pasal 25 untuk Wajib Pajak baru ini
diatur pada pasal 2 PMK 208/PMK.03/2009 yaitu:

(1) Besarnya angsuran PPh pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah sebesar Pajak Penghasilan yang
dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan,
dibagi 12 (dua belas).

(2) Penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :

a. dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyelenggarakan pembukuan dan
dari pembukuannya dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto fiskal
dihitung berdasarkan pembukuannya;

b. dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya menyelenggarakan
pencatatan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau menyelenggarakan
pembukuan tetapi dari pembukuannya tidak dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan,
penghasilan neto fiskal dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atas peredaran
atau penerimaan bruto.

(3) Untuk Wajib Pajak orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiskal yang disetahunkan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena
Pajak.

(4) Dalam hal Wajib Pajak baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Wajib Pajak badan yang
mempunyai kewajiban membuat laporan berkala, besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25
adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas proyeksi
laba-rugi fiskal pada laporan berkala pertama yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).

b. Ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2013 dan Peraturan Menteri Keuangan

Sehubungan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2013 Tentang Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki
Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya disebut PP 46 tahun 2013) dan ditindakdilanjuti dengan
dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.011/2013 tentang Tata Cara
Penghitungan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang
Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya disebut
PMK 107/PMK.011/2013) dijelaskan batasan Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat
final. Batasan Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final diatur pada Pasal 2 PMK
No.107/PMK.011/2013, yaitu:

(1) Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran
bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.

(2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap; dan

b. menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan
pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan
ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.

(3) Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:

a. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;

b. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan,
sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, dan penari;

c. olahragawan;

d. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;

e. pengarang, peneliti, dan penerjemah;.

f. agen iklan;

g. pengawas atau pengelola proyek;

h. perantara;

i. petugas penjaja barang dagangan;

j. agen asuransi; dan

k. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau penjualan langsung


(direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.

(4) Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Wajib
Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam
usahanya:

a. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang menetap maupun
tidak menetap; dan
b. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan
bagi tempat usaha atau berjualan.

(5) Tidak termasuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah:

a. Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial; atau

b. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial
memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah).

Pengertian peredaran bruto sebagai dasar untuk dapat dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final
dinyatakan pada pasal 3 PMK No. 107/PMK.11/2013, yaitu:

(1) Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada
peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak
yang bersangkutan.

(2) Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b ditentukan berdasarkan peredaran
bruto dari usaha seluruhnya termasuk dari usaha cabang, tidak termasuk peredaran bruto dari:

a. jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3);

b. penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;

c. usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan

d. penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

(3) Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang
bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan,
pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jumlah
peredaran bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak bersangkutan yang disetahunkan.

(4) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar pada tahun pajak 2013 sebelum Peraturan Menteri ini
berlaku, pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan
pada jumlah peredaran bruto dari bulan saat Wajib Pajak terdaftar sampai dengan bulan sebelum
berlakunya Peraturan Menteri ini yang disetahunkan.

(5) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar sejak berlakunya Peraturan Menteri ini, pengenaan Pajak
Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto
pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha yang disetahunkan.
Contoh:

1) PT Andalan yang bergerak di bidang usaha industri pengolahan gula didirikan pada bulan Agustus
2013 dan pada tahun yang sama mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak badan di KPP Z.

PT Andalan menggunakan tahun buku Januari-Desember. Sampai dengan bulan Oktober 2014 PT
Andalan masih terus melakukan kegiatan investasi dalam bentuk pembangunan pabrik dan instalasi
mesin-mesin industri dan belum melakukan kegiatan operasi secara komersial. Pada tanggal 1
November 2014 PT Andalan mulai melakukan kegiatan operasi secara komersial berupa produksi
gula dalam kemasan. Jika laporan laba rugi PT Andalan pada bulan November 2014 menyatakan
peredaran bruto Rp500.000.000,00 dan biaya-biaya fiskal Rp 400.000.000,00.

a. Berapa besaran angsuran PPh pasal 25 bulan Agustus 2013 sampai dengan Oktober 2014 ?

b. Berapa besaran angsuran PPh pasal 25 bulan November 2014?

Jawaban:

a. Masa Agustus 2013 sampai dengan Oktober 2014, PT Andalan belum mempunyai kewajiban
membayar angsuran PPh pasal 25 karena belum beroperasi secara komersial sehingga belum
mempunyai penghasilan dan Pajak Penghasilan terutang nihil (Undang –Undang PPh pasal 25).

b. Angsuran PPh pasal 25 bulan November 2014 diatur sbb:

Sesuai ketentuan Pasal 2 ayat (2), pasal 2 ayat (5), serta pasal 7 PMK 107/PMK.011/2013 maka
terhadap PT Andalan dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang PPh
sampai dengan jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial.

Peraturan yang terkait dengan tarif umum Undang-Undang PPh yaitu Undang-Undang PPh pasal 17,
pasal 25, dan pasal 31 E ; PMK 208/PMK.03/2009 pasal 2 ayat (1) dan pasal 2 ayat (2).

Penghitungan angsuran PPh pasal 25 bulan November 2014 (saat mulai beroperasi secara komersial)
berdasarkan penghasilan neto sebulan kemudian disetahunkan.

Peredaran bruto Rp 500.000.000,00

Biaya-biaya fiskal Rp 400.000.000,00

Penghasilan Neto Fiskal sebulan Rp 100.000.000,00

Penghasilan Neto Fiskal setahun Rp 1.200.000.000,00

Kompensasi Kerugian Rp 0,00

Penghasilan Kena Pajak Rp 1.200.000.000,00

Peredaran Bruto setahun adalah : 12 x Rp. Rp 500.000.000,00 = Rp 6.000.000.000,00.


Karena jumlah peredaran bruto masih dibawah Rp50.000.000.000,00 setahun maka terhadap PT
Andalan mendapat fasilitas pasal 31 E Undang-Undang PPh dalam menghitung Pajak Penghasilan
terutang.

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas adalah:

Rp 4.800.000.000,00 x Rp 1.200.000.000,00 = Rp 960.000.000,00.

Rp 6.000.000.000,00

Pajak Penghasilan terutang: 50% x 25% x Rp 960.000.000,00 = Rp 120.000.000,00

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas:

Rp1.200.000.000,00 – Rp960.000.000,00 = Rp 240.000.000,00

Pajak Penghasilan terutang: 25% x Rp 240.000.000,00 = Rp 60.000.000,00

Jumlah Pajak Penghasilan terutang: Rp 120.000.000,00 + Rp 60.000.000,00= Rp 180.000.000,00.

Angsuran PPh pasal 25 bulan November 2014: Rp180.000.000,00/ 12 = Rp15.000.000,00 dan disetor
ke Kas Negara paling lambat tanggal 15 Desember 2014.

Apabila sebagaimana dimaksud dalam contoh di atas jumlah peredaran bruto bulan November 2014
(saat mulai beroperasi secara komersial) Rp300.000.000,00 dan biaya-biaya fiskal sebesar
Rp200.000.000,00.

Jumlah peredaran bruto setahun adalah: 12 x Rp300.000.000,00 = Rp3.600.000.000,00 (masih


dibawah Rp4.800.000.000,00). Penghitungan angsuran PPh pasal 25 bulan November 2014 tetap
berdasarkan tarif umum Undang-Undang PPh seperti contoh PT Andalan di atas.

2) Tn. Bejo (subjek pajak dalam negeri) statusnya menikah dan mempunyai 3 orang anak, tinggal di
Jakarta. Pada bulan Juli 2014 memulai usaha bengkel mobil "Lari Cepat". Jumlah penghasilan selama
bulan Juli 2014 sebesar Rp500.000.000,00. Biaya – biaya yang dikeluarkan pada bulan Juli 2014
sebesar Rp450.000.000,00. Berapa besaran angsuran PPh pasal 25 bulan Juli 2014?

Jawaban:

Peraturan yang terkait adalah PMK No. 107/PMK.11/2013 pasal 2 dan pasal 3. Wajib Pajak baru
terdaftar bulan Juli 2014 (setelah berlakunya PP 46 tahun 2013 dan PMK 107/PMK.011/2013), maka
pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada bulan pertama
diperolehnya penghasilan dari usaha yang disetahunkan.

Peredaran bruto yang disetahunkan adalah : 12 x Rp500.000.000,00 = Rp6.000.000.000,00.


Karena peredaran bruto yang disetahunkan sudah melebihi Rp4.800.000.000,00, maka penghitungan
pajak penghasilan dihitung menggunakan tarif pasal 17 Undang-Undang PPh. Penghitungan
angsuran PPh pasal 25 bulan Juli 2014 adalah:

Peredaran Usaha bulan Juli 2014 Rp 500.000.000,00

Biaya-biaya fiskal Rp 450.000.000,00

Penghasilan Neto Fiskal sebulan Rp 50.000.000,00

Penghasilan Neto Fiskal setahun Rp 600.000.000,00

PTKP : K/3 Rp 32.400.000,00

Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 567.600.000,00

PPh Wajib Pajak Orang Pribadi terutang:

5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00

15% x Rp 200.000.000,00 = Rp 30.000.000,00

25% x Rp 250.000.000,00 = Rp 62.500.000,00

30% x Rp 67.600.000,00 = Rp 20.280.000,00

Rp 567.600.000,00 Rp 115.280.000,00

Angsuran PPh pasal 25 bulan Juli 2014 adalah : Rp115.280.000,00 / 12 = Rp9.606.666,00 dan paling
lambat disetor ke Kas Negara tanggal 15 Agustus 2014.

3) Tn. Kanai (subjek pajak dalam negeri) memulai usaha restoran "Enak Lezat" pada bulan Agustus
2014. Peredaran usaha bulan Agustus Rp300.000.000,00. Berdasarkan pembukuan, diketahui jumlah
biaya-biaya fiskal sebesar Rp250.000.000,00. Berapa besaran angsuran PPh pasal 25 bulan Agustus
2014?

Jawaban:

Peredaran bruto yang disetahunkan adalah : 12 x Rp300.000.000,00 = Rp3.600.000.000,00.

Karena peredaran bruto yang disetahunkan belum melebihi Rp4.800.000.000,00 maka terhadap
penghasilan bruto tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan tarif 1%.

PPh terutang bulan Agustus 2014 adalah: 1% x Rp300.000.000,00 = Rp3.000.000,00 dan tidak ada
angsuran PPh pasal 25.
2. Perhitungan angsuran PPh pasal 25 bagi Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang perbankan,
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, dan Wajib Pajak masuk bursa dan Wajib
Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat Laporan Keuangan berkala

a. Penghitungan angsuran PPh pasal 25 terhadap Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha dengan hak
opsi.

Penghitungan besarnya angsuran PPh pasal 25 diatur dalam pasal 3 PMK 208/ PMK.03/ 2009 yaitu
besarnya Pajak Penghasilan dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal
menurut laporan keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan dikurangi Pajak Penghasilan Pasal
24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12.

Contoh:

PT Bank X berdasarkan laporan keuangan triwulan Januari - Maret 2014 diketahui memperolah laba
fiskal sebesar Rp5.000.000.000,00. PPh Pasal 24 tahun 2013 sebesar Rp400.000.000,00.

Hitunglah jumlah angsuran PPh pasal 25 pada triwulan II (April – Juni 2014).

Jawaban:

Penghitungan angsuran PPh pasal 25 pada triwulan II (April – Juni 2014) didasarkan pada laporan
keuangan triwulan terakhir yaitu triwulan I (Januari-Maret 2014).

Diasumsikan bahwa peredaran bruto triwulan I setahun di atas Rp 50.000.000.000,00, maka


terhadap PT Bank X tidak mendapat fasilitas pasal 31 E Undang-Undang PPh dalam menghitung
Pajak Penghasilan terutang.

Laba Fiskal yang disetahunkan : 4 x Rp5.000.000.000,00 = Rp 20.000.000.000,00

PPh Terutang : 25% x Rp20.000.000.000,00 = Rp5.000.000.000,00

Kredit Pajak Pasal 24 tahun 2013 (Rp 400.000.000,00)

PPh yang harus dibayar sendiri Rp4.600.000.000,00

Angsuran PPh pasal 25 bulan April 2014 : Rp4.600.000.000,00 / 12 = Rp 383.333.333,00

Selanjutnya penghitungan angsuran PPh pasal 25 pada triwulan III (Juli-September) didasarkan pada
laporan keuangan triwulan II (April-Juni).

b. Penghitungan angsuran PPh pasal 25 terhadap Wajib Pajak Badan Usaha Milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah.
Penghitungannya diatur pada Pasal 4 PMK 208/ PMK.03/ 2009 yaitu:

o Besarnya Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal
menurut Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah
disahkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan
Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan Pasal 24 yang dibayar atau terutang
di luar negeri tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua belas).

o Dalam hal Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) belum disahkan, maka besarnya
angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum bulan pengesahan adalah sama
dengan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan terakhir tahun pajak sebelumnya.

Contoh:

PT MBA merupakan Badan Usaha Milik Negara berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran
Pendapatan (RKAP) tahun 2014 yang telah disahkan Rapat Umum Pemegang Saham pada bulan
Januari 2014 diketahui sbb:

Rencana Peredaran bruto tahun 2014 Rp 100.000.000.000,00

Rencana Laba Fiskal tahun 2014 sebesar Rp 10.000.000.000,00

PPh pasal 22 impor tahun 2013 sebesar Rp 150.000.000,00

PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013 sebesar Rp 100.000.000,00

PPh Pasal 24 tahun 2013 sebesar Rp 400.000.000,00

Penghitungan angsuran PPh pasal 25 tahun 2014 adalah :

Karena peredaran bruto setahun di atas Rp 50.000.000.000,00, maka terhadap PT MBA tidak
mendapat fasilitas pasal 31 E Undang-Undang PPh dalam menghitung Pajak Penghasilan terutang.

Rencana Laba Fiskal tahun 2014 Rp 10.000.000.000,00

PPh Terutang : 25% x Rp. 10.000.000.000,00 = Rp 2.500.000.000,00

Kredit Pajak :

PPh pasal 22 impor tahun 2013 sebesar Rp 150.000.000,00

PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013 sebesar Rp 100.000.000,00

PPh Pasal 24 tahun 2013 sebesar Rp 400.000.000,00

Jumlah Kredit Pajak Rp 650.000.000,00

PPh Badan terutang yang harus bayar sendiri Rp 1.850.000.000,00


Angsuran PPh pasal 25 tahun 2014 : Rp1.850.000.000,00 / 12= Rp. 154.166.666,00

c. Penghitungan angsuran PPh pasal 25 terhadap Wajib Pajak masuk bursa dan Wajib Pajak lainnya
yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat Laporan Keuangan berkala.

Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak masuk bursa dan Wajib Pajak
lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala,
penghitungannya diatur pada Pasal 5 PMK 208/ PMK.03/ 2009 yaitu sebesar Pajak Penghasilan yang
dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan keuangan berkala
terakhir yang disetahunkan dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan Pajak Penghasilan Pasal
22 dan Pasal 23 serta Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu,
dibagi 12.

Contoh:

PT ACI Tbk berdasarkan laporan keuangan berkala bulan Januari - Juni 2014 diketahui sbb:

Peredaran Bruto Januari-Juni 2014 Rp 60.000.000.000,00

Laba Fiskal Januari - Juni 2014 Rp 20.000.000.000,00

PPh pasal 22 impor tahun 2013 Rp 100.000.000,00

PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013 Rp 70.000.000,00

PPh Pasal 24 tahun 2013 Rp 300.000.000,00

Penghitungan angsuran PPh pasal 25 pada bulan setelah penyampaian laporan berkala adalah :

Peredaran bruto setahun 2 x Rp 50.000.000.000,00 = Rp 100.000.000.000,00.

Karena peredaran bruto setahun di atas Rp 50.000.000.000,00, maka terhadap PT ACI tidak
mendapat fasilitas pasal 31 E Undang-Undang PPh dalam menghitung Pajak Penghasilan terutang.

Laba Fiskal Januari-Juni 2014 Rp 20.000.000.000,00

Laba Fiskal tahun 2014 (setahun) Rp 40.000.000.000,00

PPh Terutang :

25% x Rp 40.000.000.000,00 = Rp 10.000.000.000,00

Kredit Pajak:

PPh pasal 22 impor tahun 2013 Rp 100.000.000,00

PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013 Rp 70.000.000,00


PPh Pasal 24 tahun 2013 sebesar Rp 300.000.000,00

Jumlah Kredit Pajak Rp 470.000.000,00

PPh Badan yang harus bayar sendiri Rp 9.530.000.000,00

Angsuran PPh pasal 25 bulan Juli sampai Desember 2014 : Rp 9.530.000.000,00 / 12 = Rp


794.166.666,00

3. Penghitungan angsuran PPh pasal 25 terhadap Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.

Penghitungannya diatur pada Pasal 6 PMK 208/ PMK.03/ 2009. Besarnya angsuran PPh pasal 25
untuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu, ditetapkan sebesar 0,75% (nol koma tujuh
puluh lima persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha
tersebut.

Ketentuan pelaksanaan angsuran PPh pasal 25 untuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Nomor Per-
32/PJ/2010 Tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu.

Pasal 1 Per 32/PJ/2010 menjelaskan bahwa Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah
Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha sebagai Pedagang Pengecer yang
mempunyai 1 (satu) atau lebih tempat usaha.

Pedagang Pengecer adalah orang pribadi yang melakukan:

a. penjualan barang baik secara grosir maupun eceran; dan/atau

b. penyerahan jasa, melalui suatu tempat usaha.

Contoh:

Heri Kurnia merupakan Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha perdagangan mobil bekas
yang memiliki 1 (satu) tempat kegiatan usaha dan memulai usahanya pada bulan Juli 2014.
Peredaran bruto pada bulan Juli 2014 sebesar Rp350.000.000,00.

Berapa besar angsuran PPh pasal 25 pada bulan Juli 2014?

Jawaban:
Heri Kurnia termasuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu sesuai pasal 6 PMK 208/
PMK.03/ 2009 karena dikategorikan sebagai Pedagang Pengecer (Pasal 1 Per 32/PJ/2010).

Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan
No.107/PMK.011/2013 tanggal 30 Juli 2013, pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada jumlah
peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha yang disetahunkan.

Peredaran bruto yang disetahunkan adalah : 12 x Rp 350.000.000,00 = Rp4.200.000.000,00.

Karena peredaran bruto yang disetahunkan belum melebihi Rp 4.800.000.000,00 maka terhadap
penghasilan bruto tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan tarif 1% sesuai PP
Nomor 46 tahun 2013.

PPh terutang bulan Juli 2014 adalah: 1% x Rp4.200.000.000,00 = Rp 42.000.000,00 dan tidak ada
angsuran PPh pasal 25.

Masih dengan contoh di atas, namun jika peredaran bruto Heri pada bulan Juli 2014 sebesar Rp
500.000.000,00. Berapa besar angsuran PPh pasal 25 pada bulan Juli 2014?

Peredaran bruto yang disetahunkan adalah : 12 x Rp 500.000.000,00 = Rp 6.000.000.000,00.

Karena peredaran bruto yang disetahunkan telah melebihi Rp 4.800.000.000,00 maka terhadap
penghasilan bruto tahun 2014 penghitungan pajak penghasilan dihitung menggunakan tarif pasal 17
Undang-Undang PPh.

Penghitungan angsuran PPh pasal 25 dihitung sesuai Pasal 6 PMK 208/ PMK.03/ 2009 dan Per
32/PJ/2010.

Angsuran PPh Pasal 25 bulan Juli 2014 = 0,75% x Rp 500.000.000,00 = Rp 3.750.000,00.

Angsuran tersebut dibayar paling lambat tanggal 15 bulan Agustus 2014.

Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember 2014 adalah 0,75%
dikalikan peredaran bruto pada bulan yang bersangkutan.

Kesimpulan

Penghitungan besarnya angsuran PPh pasal 25 dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak baru, bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, badan usaha milik negara,
badan usaha milik daerah, Wajib Pajak masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan
ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi
pengusaha tertentu seperti yang diatur pada PMK 208/ PMK.03/ 2009 ternyata masih harus
memperhatikan ketentuan yang ada pada PP 46 tahun 2013 dan aturan pelaksanaannya pada PMK
107/PMK.011/2013. Ketentuan tersebut diantaranya adalah: batasan jumlah peredaran bruto
setahun atau disetahunkan (Rp4.800.000.000,00), ketentuan mengenai jenis penghasilannya
(apakah penghasilannya berasal dari pekerjaan bebas atau tidak); kapan penghasilan tersebut
diperoleh; ketentuan apakah dikenai tarif umum Pajak Penghasilan, atau tarif khusus Pajak
Penghasilan atau dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.

Diharapkan dengan pemahaman penghitungan angsuran PPh pasal 25 di atas akan membantu
pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam upayanya mencapai target penerimaan pajak yang
diamanahkan kepada Direktorat Jenderal Pajak melalui penghitungan ulang angsuran PPh pasal 25
Wajib Pajak. Semoga.

Daftar Pustaka:

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan

Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha
Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Suandy,Erly., Hukum Pajak , Jakarta, Salemba Empat, 2002.

Soemitro, Rochmat, Asas dan dasar Perpajakan 1, edisi revisi, Bandung, PT.Refika Aditama,
2004.

Mulyono, Djoko. 2010. Panduan Brevet Pajak: Pajak Penghasilan, Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.

Barata, Atep Adya. 2011. Panduan Lengkap Pajak Penghasilan, Jakarta : Visimedia

Waluyo, 2008. Akuntansi Pajak, Jakarta: Penerbit Salemba Empat

Paling Banyak Dibaca

PERATURAN BARU JABATAN FUNGSIONAL WIDYAISWARA: ADA PELUANG, ADA TANTANGAN

Penulis: Ariefina Sri Indaryani/Aniek Juliarini *) ABSTRAKTerkait dengan terbitnya Undang-undang


Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, maka terbit pula…

Baca Selengkapnya

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Perekonomian Indonesia

Oleh G.T. Suroso Widyaiswara BPPK Abstrak Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015
merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara…

Baca Selengkapnya
Industri Perbankan Syariah Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 : Peluang dan
Tantangan Kontemporer

Oleh : Azwar, Pelaksana Balai Diklat Keuangan Makassar Pendahuluan Tepat pada tanggal 1 Januari
2015 yang lalu bangsa-bangsa di kawasan Asia…

Baca Selengkapnya

Eselon I Kementerian Keuangan

Hakcipta © BPPK | Peta Situs| Tentang Kami| Email BPPK| FAQ| Prasyarat| Hubungi Kami| Ikuti
Kami

Jalan Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan . Telp: 021-29054300 . Fax: 021-7244912

Ke Atas