Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

“Kesenjangan Pendapatan”

Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat,
rahmat serta karunia-Nya yang diberikan kepada kita, terutama nikmat iman dan nikmat Islam,
nikmat sehat wal'afiat serta nikmat panjang umur, sehingga alahamdulillah kita ( penyusun )
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Kesenjangan Pendapatan “ dan semua cita-
cita serta harapan yang ingin kita kami capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Bapak dan Ibu Guru SMA
Negeri 19 Garut khususnya Ibu Essy Solihati selaku Guru Ekonomi kami serta teman-teman
sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini
terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal
pengkonsolidasian kepada Bapak dan Ibu Guru serta teman-teman sekalian, yang kadangkala
hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami, ada kritik dan saran yang
membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini adalah mudah-mudahan apa
yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin
mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini “Kesenjangan
Pendapatan” sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.
Garut, 02 April 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di Negara Indonesia sendiri kemiskinan dan kesenjangan pendapatan warga negaranya


terlihat perbedaan yang sangat mencolok antar warga negaranya. Hal ini semakin terlihat dengan
status kemiskinan di indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kemiskinan dan
kesenjangan pendapatan menimbulkan berbagai perilaku negatif warga negaranya.
Negara Indonesia dikenal sebagai Negara agraris, atau yang biasa dikenal sebagai
Negara yang sebagian besar penduduknya bergerak dalam bidang pertanian. Dalam Pembukaan
UUD 1945 mengamanatkan pemerintah Indonesia agar memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan bangsa. Namun dalam kenyataannya pemerintah tidak mempunyai kepekaan yang
serius terhadap kaum miskin.
Kesenjangan merupakan problematika kemanusiaan yang mendunia dan hingga kini
masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan
adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh negara-negara berkembang
melainkan juga negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat.
Pada hal ini penyusun mencoba memaparkan kesenjangan pendapat di Negara Indonesia
. Kesenjangan pendapatan merupakan hal yang kompleks kerana menyangkut berbagai macam
aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya.
Agar pendapatan di Indonesia dapat menurun, diperlukan dukungan dan kerja sama dari pihak
masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.

1.1 Perumusan Masalah


Dalam tugas terstruktur kelompok ini, penyusun yang membahas mengenai masalah
kesenjangan pendapatan, didapatkan rumusan masalah yang akan di bahas dalam analisis
permasalahan. Rumusan masalah tersebut, adalah sebagai berikut :
a) Apa yang menjadi maksud dari kesenjangan pendapatan ?
b) Apa yang menjadi masalah dasar dalam pengentasan kesenjangan pendapatan di Indonesia ?
c) Apa yang menjadi penyebab dari kesenjangan pendapatan?
d) Apa dampak yang ditimbulkan dari masalah kesenjangan pendapatan dan bagaimana cara
mengatasi masalah ini ?

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dibuat makalah yang membahas tentang kemiskinan dan kesenjangan
pendapatan di Indonesia ini adalah sebagai berikut:
1. Menumbuhkan kesadaran masyarakat Indonesia yang mampu dalam hal materi agar ikut
berperan serta untuk mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia.
2. Memberikan informasi kepada masyarkat Indonesia untuk menghadapi kemiskinan dan
kesenjangan pendapatan yang merupakan tantangan global dunia ketiga.
3. Untuk mengetahui sejauh mana upaya yang dilakukan Pemerintah dalam mengentaskan
kemiskinan.

1.3 Manfaat

1. Bagi penulis
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari
mata pelajaran ” Ekonomi ”. Serta mampu menjadi sumber informasi bagi para pelajar, para
pembaca ataupun masyarakat.
2. Bagi pihak lain
Makalah ini diharapakan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan
permasalahan dan upaya penyelesaian kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia.

1.5 Ruang lingkup

Makalah mengambil sampel ruang lingkup berupa masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
Daftar Isi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kesenjangan Pendapatan
Ketimpangan pendapatan yang terjadi di Indonesia sangat terlihat jelas, dari istilah yang
kayak semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Hal ini sangat berdampak pada
pendapatan tersebut tidak cukup hanya bicara mengenai subsidi modal terhadap kelompok
miskin maupun peningkatan pendidikan ( ketrampilan ) tenaga kerja di Indonesia. Lebih penting
dari itu ,persoalan yang terjadinya sesungguhnya adalah akibat kebijakan pembangunan ekonomi
yang kurang tepat dan bersifat struktural. Maksudnya kebijakan masa lalu yang begitu
menyokong sektor industri dengan mengorbankan sektor lainnya patut direvisi karena telah
mendorong munculnya ketimpangan sektoral yang berujung kepada kesenjangan pendapatan.
Dari perspektif ini agenda mendesak bagi Indonesia adalah memikirkan kembali secara serius
model pembangunan ekonomi yang secara serius model pembangunan ekonomi yang secara
serentak bisa memajukan semua sektor dengan melibatkan seluruh rakyat sebagai partisipan.
Sebagian besar ekonom meyakini bahwa strategi pembangunan itu adalah modernisasi pertanian
dengan melibatkan sektor industri sebagai unit pengolahnya.
Ketimpangan atau kesenjangan pendapatan adalah menggambarkan distribusi pendapatan
masyarakat di suatu daerah atau wilayah pada waktu tertentu. Kaitan kemiskinan dengan
ketimpangan pendapatan ada beberapa pola yaitu :
a) Semua anggota masyarakat mempunyai income tinggi ( tak ada miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya tinggi.
b) Semua anggota masyarakat mempunyai income tinggi ( tak ada miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya rendah ( ini yang paling baik).
c) Semua anggota masyarakat mempunyai income rendah ( semuanya miskin) tetapi ketimpangan
pendapatannya tinggi.
d) Semua anggota masyarakat mempunyai income yang rendah (semuanya miskin) tetapi
ketimpangan pendapatannya rendah.
e) Tingkat income masyaraka bervariasi ( sebagian miskin,sebagian tidak miskin)tetapi
ketimpangan pendapatannya tinggi.
f) Tingkat income masyarakat bervariasi (sebagian miskin, sebagian tidak miskin)tetapi
ketimpangan pendapatannya rendah.

2.2 Masalah Dasar

Di Indonesia pada awal pemerintahan Orde Baru, pemerintah menetapkan kebijaksanaan


pembangunan yang disebut dengan “TRICKLE DOWN EFFECTS” yaitu bagaimana mencapai
laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam suatu periode yang relatif singkat. Pembangunan
ekonomi nasional dimulai dari Pulau Jawa (khususnya jawa Barat), dengan alasan bahwa di
Pulau Jawa sudah tersedia infrastruktur, dengan harapan bahwa hasil-hasil pembangunan itu
akan menetes ke sektor dan wilayah lain di Indonesia. Akan tetapi sejarah menunjukkan bahwa
setelah 10 tahun berlalu sejak Pelita I (1969) ternyata efek tersebut tidak tepat. Perekonomian
Indonesia pada 2010 tumbuh 6,1 persen, melampaui target 5,8 persen. Nilai produk domestik
bruto naik dari Rp 5.603,9 triliun pada 2009 menjadi Rp 6.422,9 triliun tahun lalu. Namun,
pertumbuhan ekonomi ini menimbulkan kesenjangan di masyarakat. Pengamat ekonomi
mengatakan, kelompok masyarakat yang sangat kaya masih menjadi penyokong utama
pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi rumah tangga mereka. Hal ini sangat jelas bahwa
orang yang sangat kaya memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia.
Pengentasan kesenjangan pendapatan tetap merupakan salah satu masalah yang paling
mendesak di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari
AS$2-per hari hampir sama dengan jumlah total penduduk yang hidup dengan penghasilan
kurang dari AS$2- per hari dari semua negara di kawasan Asia Timur kecuali Cina. Komitmen
pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan
Kemiskinan (SNPK). Di samping turut menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau
Millennium Development Goals) untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah
menyusun tujuan-tujuan pokok dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk
target ambisius untuk mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi
8,2 persen pada tahun 2009. Walaupun angka kesenjanganpendapatan nasional mendekati
kondisi sebelum krisis, hal ini tetap berarti bahwa sekitar 40 juta orang saat ini hidup di bawah
garis kemiskinan. Lagi pula, walaupun Indonesia sekarang merupakan negara berpenghasilan
menengah, proporsi penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2-per hari sama
dengan negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kesenjangan pendapatan di Indonesia.
1. Banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan
PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi
rentan terhadap kemiskinan.
2. Ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas
kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong (miskin dari segi
pendapatan) dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan
dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia.
3. Perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.
Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan nasional
sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional. Hampir 42
persen dari seluruh rakyat.
Kemiskinan dari segi non-
pendapatan adalah masalah yang lebih serius dibandingkan dari kemiskinan dari segi
pendapatan. Bidang-bidang khusus yang patut diwaspadai adalah:
· Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun terakhir:
seperempat anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk di Indonesia, dengan angka gizi
buruk tetap sama dalam tahun- tahun terakhir kendati telah terjadi penurunan angka kemiskinan.
· Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di kawasan yang sama,
angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000 kelahiran hidup), tiga kali lebih
besar dari Vietnam dan enam kali lebih besar dari Cina dan Malaysia hanya sekitar 72 persen
persalinan dibantu oleh bidan terlatih.
· Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke sekolah menengah
masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin: di antara kelompok umur 16-18 tahun
pada kuintil termiskin, hanya 55 persen yang lulus SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya
adalah 89 persen untuk kohor yang sama.
· Rendahnya akses terhadap air bersih, khususnya di antara penduduk miskin. Untuk kuintil
paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki akses air bersih di daerah pedesaan, sedangkan
untuk perkotaan, 78 persen.
· Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan puluh persen penduduk
miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap
tangki septik, sementara itu hanya kurang dari satu persen dari seluruh penduduk Indonesia
yang terlayani oleh saluran pembuangan kotoran berpipa.
Perbedaan antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Keragaman antar daerah
merupakan ciri khas Indonesia, di antaranya tercerminkan dengan adanya perbedaan antara
daerah pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan, terdapat sekitar 57 persen dari orang miskin di
Indonesia yang juga seringkali tidak memiliki akses terhadap pelayanan infrastruktur dasar
hanya sekitar 50 persen masyarakat miskin di pedesaan mempunyai akses terhadap sumber
air bersih, dibandingkan dengan 80 persen bagi masyarakat miskin di perkotaan. Tetapi yang
penting, dengan melintasi kepulauan Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam
kantong-kantong kemiskinan di dalam daerah itu sendiri.
Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan
data BPS mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas).
Demikian pula pengertian pendapatan yang artinya pembayaran yang di dapat karena
bekerja atau menjual jasa tidak sama dengan pengertian kekayaan. Kekayaan seseorang bisa jauh
lebih besar dari pada pendapatannya.
Boleh dikatakan bahwa baru sejak akhir 1970-an pemerintah Indonesia ulai
memperlihatkan kesungguhan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak saat
itu aspek pemerataan dalam trilogi pembangunan semakin di tekankan dan ini diidentifikasikan
dalam delapan jalur pemerataan, sudah banyak program-program dari pemerintah pusat hingga
saat ini mencerminkan upaya tersebut seperti:
a) Program serta kebijakan yang mendukung pembangunan industri kecil
b) Rumah tangga dan koperasi
c) IDT
d) Program keluarga sejahtera
e) Program keluarga berencana (kb)
f) Program makanan tambahan bagi anak sekolah dasar
g) Program transmigrasi
h) Peningkatan UMR atau provinsi (UMP)
i) Jaringan pengamana sosial yang di sponsori bank dunia

2.3 Faktor Penyebab Kesenjangan Pendapatan

Secara teoritis perubahan pola distribusi pendapatan di perdesaan di sebabkan oleh


faktor-faktor berikut:
1. Akibat arus penduduk/L dari perdesaan ke perkotaaan yang selama Orde Baru berlansung sangat
pesat.
2. Struktur pasar dan besarnya distoris yang berbeda di perdesaan dengan perkotaan.
3. Dampak positif dari proses pembanguan ekonomi nasional diantaranya:
a. Semakin banyaknya kegiatan-kegiatan ekonomi di perdesaan di luar sektor pertanian seperti
industri manufaktur.
b. Tingkat produktivitas dan pendapatan (dalam nilai riil) L di sektor pertanian meningkat.
c. Potensi SDA ( sumber daya alam) yang ada di perdesaan semakin baik karena di manfaatkan
oleh penduduk desa (pemakain semakin optimal)
Tingkat kesenjangan distribusi pendapatan diIndonesia dapat juga di ukur dengan metode
Bank Dunia, yakni membagi jumlah populasi ke dalam tiga kelompok yakni:
a. 40% berpedapatan rendah
b. 40% berpendapatan menengah
c. 20 % berpendapatan tinggi
Kelompok pertama adalah bagian dari populasi terkaya sedangkan kelompok ke tiga
adalah bagian dari populasi termiskin dan kelompok kedua sering di sebut/ dikatakan sebagai
masyarakat kelas menengah.
Di Indonesia kemiskinan dan kesenjangan pendapatan merupakan salah satu masalah
besar. Terutama melihat kenyataan bahwa laju penguranag jumlah orang miskin di tanah air
bedasarkan garis kemiskinan yang berlaku jauh lebih lambat dibandingkan laju
perekonomian pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu sejak PELITA I hingga 1997( sebelum
krisi ekonomi).
Adapun indikator – indikator kesenjangan pendapatan antara lain sebagai beikut :
1. UMR yang ditentukan pemerintah antara pegawai swasta dan pegawai Pemerintah yang berbeda.
2. PNS ( golongan atas ) lebih sejahtera dibandingkan petani.
3. Pertanian kalah jauh dalam menyuplai Produk Domestik Bruto ( PDB ) yang hanya sekitar 9.3
% di tahun 2011, padahal Indonesia merupakan Negara agraris.
Selain itu,penyebab kesenjangan pendapatan di negara Indonesia adalah :
a. Laju Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan penduduk Indonesia terus menigkat di setiap 10 tahun menurut hasil sensus
penduduk.Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin terpuruk dengan
keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan
jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban
ketergantungan yang harud ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
b. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran.
Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan
tenaga kerja. Yang tergolong tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia
kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Batas usia
kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi
setiap orang atau semua penduduk kesenjangan dikatakan lunak,distribusi pendapatan nasional
dikatakan cukup merata.
c. Tingkat pendidikan yang rendah.
Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara.
Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja.
Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry, jelas sekali dibutuhkan lebih banyak
tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.
d. Kurangnya perhatian dari pemerintah.
Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadi salah
satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memutuskan kebijakan yang mampu
mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya. Faktor lain yang masih memperlambat
pencapaian penurunan kemiskinan sebagai berikut :
1. Belum meratanya program pembangunan,khususnya di pedesaan,luar Pulau Jawa,daerah
terpencil,dan daerah perbatasan. Sekitar 63.5% penduduk miskin hidup di daerah pedesaan.
Kemiskinan diluar Pulau Jawa termasuk Nusa Tenggara, Maluku dan Papua juga lebih tinggi
dibandingkan di Pulau Jawa. Oleh karena itu, upaya penanganan kemiskinan seharusnya lebih
difokuskan di daerah-daerah tersebut.
2. Masih terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar.
3. Masih besarnya jumlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin,baik karena guncangan
ekonomi,bencana alam,dan juga akibat kurangnya akses terhadap pelayanan dasar dan sosial.
4. Kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kebutuhan pokok. Sehubungan
dengan itu ,upaya penanggulangan kemiskinan melalui stabilitas harga kebutuhan pokok harus
dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Hal ini bertujuan agar penanggulangan
kemiskinan,baik di perdesaan maupun perkotaan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

2.4 Dampak Kemiskinan dan Cara Mengatasinya.

Kemiskinan merupakan suatu fenomena yang sering ditemui, entah itu di negara maju atau pun
di negara berkembang seperti Indonesia. Banyaknya masalah kemiskinan di Indonesia itu
tentunya disebabkan oleh beberapa faktor pemicu. Dari faktor pemicu inilah akan tercipta suatu
dampak kemiskinan.
Dampak dari kesenjangan pendapatan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan
kompleks yaitu :
- Pengangguran
Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan yang sesuai dengan usahanya mereka tidak
mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya
saing dan beli masyarakat. Sehingga,akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat
pendapatan,nutrisi,dan tingakt pengeluaraan rata-rata.
- Kekerasan
Sesungguhnya kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini efek dari pengangguran. Karena seseorang
tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tidak ada lagi
jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan
pintas pun dilakukan,seperti merampok,menodong,mencuri atau menipu ( dengan cara
mengintimidasi orang lain) didalam kendaraan umum.
- Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini.Mahalnya biaya
pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau
pendidikan. Mereka tidak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab
mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Tingginya
tingkat putus sekolah berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu
akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
- Kesehatan
Seperti kita ketahui,biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan
apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya
melangit. Sehingga ,biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
- Konflik sosial bernuasa SARA
Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas
kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi
Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan”keamanan” dan perlindungan hukum dari
negara,persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas
yang subjtektif.
Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung
terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar
kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia ,baik di pedesaan
maupun di perkotaan.
Pada prinsipnya, pemerintah dalam program pembangunannya telah menjadikan kemiskinan
sebagai salah satu fokus utamanya. Program umum pemerintah sendiri adalah program
pembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi
dan perluasan lapangan kerja.
Banyak kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat mengatasi berbagai macam
masalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Kebijaksanaan tidak langsung
Kebijaksanaan tidak langsung diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan
setiap upaya penanggulangan kemiskinan. Kondisi yang dimaksudkan antara lain adalah suasana
sosial politik yang tentram, ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang.
2. Kebijaksanaan langsung
Kebijaksanaan langsung diarahkan kepada peningkatan peran serta dan produktifitas sumber
daya manusia ,khususnya golongan masyarakat berpendapatan rendah. Melalui penyediaan
kebutuhan dasar seperti sandang,pangan dan papan, kesehatan dan pendidikan, serta
pengembangan kegiatan – kegiaatan sosial ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong
kemandirian golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.
Selain dari pihak pemerintah, dari pihak masyarakaat yang bersangkutan pun juga mengatasi
kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di negeri ini ,langkah-langkah tersebut adalah :
1. Usaha individu
Seseorang boleh berusaha untuk menyelesaikan maslah kemiskinan yang dihadapinya oleh
dirinya. Pada lazimnya seseorang itu dapat mengatasi kemiskinan dirinya dengan cara penerusan
pendidikan ke jenjang yang tinggi.
2. Penyedekahan
Penyedekahan merupakan saru cara yang baik untuk membantu golongan termiskin dalam
masyarakat .Tetapi ia tidak dapat mengatasi masalah kemiskinan secara keseluruhan.
3. Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi dengan cara penambahan barang-barang dan perkhidmatan yang
ditawarkan dalam pasaran di sebuah negara, pembangunan ekonomi merupakan cara yang paling
berkesan untuk mengatasi masalah kemiskinan.
4. Pembangunan Masyarakat
5. Pasaran Bebas
Jika ada pembangunan ekonomi ada pula pengurangan kemiskinan. Jika KDNK tumbuh dengan
1% kemiskinan akan dikurangi dengan lebih kurang 1%.
Selain dengan cara –cara diatas , kemiskinan dan kesenjangan pendapatan juga dapat diatasi
dengan cara sebagai berikut :
1. Bantuan kemiskinan atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi
bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
2. Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan termasuk hukuman,pendidikan,kerja
sosial,pencarian krja,dan lain-lain.
3. Persiapan bagi yang lemah . daripada memaberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin ,banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai
oran g yang lebih miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan , atau keasdaan
yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Jadi kesimpulan yang telah kita buat di atas, disini tingkat kemiskinan dan kesenjangan
pendapatan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan bahkan sangat erat kaitannya dan ini
merupakan masalah ekonomi indonesia yang masih belum bisa di selesaikan. Tahun ini tingkat
kemiskinan di indonesia semakin meningkat, dimana sedikitnya lapangan kerja untuk
masyarakat dan kemampuan/keterampilan. Masyarakat tidak bisa dimilikinya, karena kurangnya
pendidikan di indonesia masih menjadi masalah. Maka dari itu pemerintah harus memberikan
lapangan pekerjaan bagi para pengangguran dan membuat bangunan sekolahan untuk masyarakat
yang tidak mampu.
Masalah kemiskinan di Indonesia memang sangat rumit untuk dipecahkan. Dan tidak
hanya di Indonesia saja sebenarnya yang mengalami jerat kemiskinan, tetapi banyak negara di
dunia yang mengalami permasalahan ini.
Upaya penurunan tingkat kemiskinan sangat bergantung pada pelaksanaan dan
pencapaian pembangunan di berbagai bidang. Oleh karena itu, agar pengurangan angka
kemiskinan dapat tercapai,dibutuhkan sinergi dan koordinasi program-program pembangunan di
berbagai sektor,terutama program yang menyumbang langsung penurunan kemiskinan. Negara
yang ingin membangun perekonomiannya harus mamou meningkatkan standar hidup penduduk
negaranya, yan gdiukur dengan kenaikan penghasilan riil per kapita. Indonesia sebagai negara
berkembang memenuhi aspek standar kemiskinan diantaranya merupakan produsen barang
primer,memiliki masalah tekanan penduduk,kurang optimalnya sumber daya alam yang
diolah,produktivitas penduduk yang rendah karena keterbelakangan pendidikan,kurangnya
modal pembangunan,dan orientasi ekspor barang primer karena ketidakmampuan dalam
mengolah barang-barang tersebut menjadi lebih berguna.
3.2 Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih
kreatif,inovatif dan eksploratif. Selain itu,globalisasi membuka mata bagi Pegawai
pemerintah,maupun calon pegawai pemerintah agar berani mengambil sikap yang lebih tegas
sesuai dengan visi dan misi bangsa Indonesia ( tidak memperkaya diri sendiri dan kelompoknya).
Dan mengedepankan partisipasi masyarakat Indonesia untuk lebih eksploratif. Di dalam
menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM
dalam pengetahuan,wawasan,skill,mentalitas dan moralitas yang standarnya adalah standar
global.