Anda di halaman 1dari 7

Rumusan Masalah

1. Apakah kemungkinan yang terjadi setelah Anita ditabrak sepeda motor dan mengeluh kesakitan?
Anita kemungkinan mengalami luka tumpul akibat ditabrak oleh stang sepeda motor di bagian
pinggang kanannya, kemudian terjatuh ke bagian jalan dan mengenai perut bagian bawah.
Sehingga Anita mengeluh kesakitan karena terdapat trauma pada ginjal dan kandung kemih.

TRAUMA VESIKA URINARIA


1. Definisi
Trauma vesika urinaria atau trauma buli-buli merupakan keadaan darurat bedah yang
memerlukan penatalaksanaan segera, bila tidak ditanggulangi dapat menimbulkan komplikasi
seperti perdarahan hebat, peritonitis dan sepsis. Secara anatomi buli-buli terletak di dalam rongga
pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera. (Sjamsuhidajat R, de Jong
W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke dua. Jakarta: PenerbitBuku Kedokteran EGC)

2. Klasifikasi
Cedera vesika urinaria diklasifikasikan menurut American Association for the Surgery
of Trauma (AAST) - Organ Injury Scale (OIS) menjadi 5 grade, yaitu :
Grade (AAST) : Jenis Cedera Deskripisi Kerusakan
I Hematoma Kontusio dan hematoma
Laserasi intramural
Laserasi sebagian dari
dinding buli - buli
II Laserasi Laserasi dari dinding
ekstraperitoneal buli – buli <
2 cm
III Laserasi Laserasi dari dinding
ekstraperitoneal > 2 cm atau
intraperitoneal < 2 cm
IV Laserasi Laserasi ekstraperitoneal > 2
cm
V Laserasi Laserasi intraperitoneal atau
ekstraperitoneal yang meluas
ke dalam kandung kemih
leher atau muara uretra
trigonum.
Grade I Grade II
Kontusio dan hematoma intramural Laserasi dari dindingekstraperitoneal
Laserasi sebagian dari dinding buli – buli buli – buli < 2 cm

Grade III
Laserasi dari dinding ekstraperitoneal > 2 cm atau intraperitoneal < 2 cm

Grade IV Grade V
Laserasi ekstraperitoneal > 2 cm Laserasi intraperitoneal atau ekstraperitoneal
yang meluas ke dalam leher
kandung kemih atau muara uretra (trigonum).

Selain itu dari Konsensus Societe Internationale D'Urologie mengklasifikasikan cedera


kandung kemih menjadi empat jenis dengan tidak memperhitungkan panjang atau luas dari laserasi
dinding kandung kemih, yaitu :
3. Tipe 1 adalah memar kandung kemih
4. Tipe 2 yaitu ruptur dinding intraperitoneal
5. Tipe 3 yaitu ruptur dinding ekstraperitoneal
6. Tipe 4 yaitu gabungan antara ruptur dinding intraperitoneal dan ektraperitoneal
3. Epidemiologi
Penyebab trauma kandung kemih paling sering adalah kecelakaan kendaraan bermotor, di
mana kedua sabuk pengaman mengkompresi kandung kemih. Sekitar 60 - 90 % (rata-rata 80 %)
dari pasien cedera kandung kemih akibat trauma tumpul biasanya disertai dengan fraktur tulang
panggul dan 30% dari pasien dengan fraktur tulang panggul terdapat cedera pada kandung kemih,
termasuk kontusio kandung kemih. Sekitar 25% dari ruptur intraperitoneal kandung kemih terjadi
pada pasien tanpa fraktur panggul. Ruptur intraperitoneal tercatat sekitar sepertiga dari cedera
kandung kemih . Sedangkan untuk ruptur ekstraperitoneal tercatat 60 % dari sebagian besar
cedera kandung kemih dan biasanya berhubungan dengan fraktur panggul.

4. Etiologi
Trauma vesika urinaria terbanyak terjadi karena kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja
yang menyebabkan fragmen dari fraktur tulang pelvis mencederai kandung kemih. Kemungkinan
cedera kandung kemih dapat bervariasi berdasarkan dari isi kandung kemih, sehingga apabila
kandung kemih penuh lebih mungkin untuk terjadinya cedera dibandingkan pada saat kandung
kemih kosong. Fraktur tulang pelvis dapat menimbulkan kontusio atau ruptur kandung kemih,
pada kontusio kandung kemih hanya terjadi memar pada dinding buli-buli dengan hematuria
tanpa eksravasasi urin. (Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke dua.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC)
Ruptur dinding ekstraperitoneal kandung kemih biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur
tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Pada kejadian ini terjadi
ekstravasasi urin dari rongga perivesikal. Trauma tumpul kandung kemih dapat menyebabkan
ruptur kandung kemih terutama bila kandung kemih penuh atau terdapat kelainan patologik
seperti tuberkulosis, tumor atau obstruksi sehingga menyebabkan ruptur. Trauma vesika urinaria
tajam akibat luka trusuk atau luka tembak lebih jarang ditemukan. Luka dapat melalui daerah
suprapubik ataupun transperineal. Penyebab lain adalah instrumentasi urologik missal perforasi
iatrogenik pada kandung kemih pada reseksi transurethral sistoskopi (TUR). (Sjamsuhidajat R, de
Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke dua. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC)

5. Patofisiologi
Kandung kemih dilindungi dengan baik oleh tulang pelvis sehingga ketika terjadi fraktur
pelvis yang disebabkan oleh trauma tumpul maka fragmen dari fraktur pelvis dapat mencederai
kandung kemih dan dapat terjadi ruptur ekstraperitoneal. Apabila terdapat urin yang terinfeksi
dapat mengakibatkan abses dalam pelvis dan infeksi pelvis yang berat. Pada saat kandung kemih
terisi penuh kemudian tiba – tiba terjadi benturan atau pukulan langsung ke perut bagian bawah
dapat menyebabkan gangguan pada kandung kemih. Jenis gangguan biasanya adalah gangguan
intraperitoneal. Ruptur intraperitoneal terjadi ketika ada pukulan atau kompresi pada perut bagian
bawah pasien dengan kandung kemih yang penuh sehingga menyebabkan peningkatan mendadak
tekanan intraluminal kandung kemih kemudian menyebabkan pecahnya puncak yang merupakan
bagian terlemah dari kandung kemih. Puncak dari lengkungan kandung kemih ditutupi oleh
peritoneum, maka cedera yang terjadi di daerah ini akan menyebabkan ekstravasasi
intraperitoneal. Jika diagnosis segera ditegakkan dan jika urin sudah steril, maka tidak ada gejala
yang dapat ditemukan selama beberapa hari, tetapi jika terdapat urin yang terinfeksi, maka akan
cepat berlanjut menjadi peritonitis dan akut abdomen.

6. Manifestasi Klinis
Sekitar 90% kasus ruptur kandung kemih disertai dengan fraktur panggul. Diagnosis fraktur
panggul awalnya bisa dibuat di ruang gawat darurat dengan kompresi lateral pada tulang panggul,
karena daerah yang patah tulang akan menunjukkan adanya krepitasi dan nyeri saat penekanan.

Tanda dan gejala :


1. Riwayat trauma perut bagian bawah
2. Mengeluh tidak bisa buang air kecil, kadang keluar darah dari uretra
3. Gross hematuria
4. Jejas / hematoma pada abdomen bagian bawah / suprapubik
5. Nyeri tekan di daerah suprapubik di tempat hematom atau jejas
6. Ketegangan otot dinding perut bawah
7. Akut abdomen
8. Trauma tulang panggul
9. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat
10. Syok hemoragik

7. Diagnosis
Setelah pasien mengalami cedera pada abdomen bagian bawah, pasien mengeluh nyeri di
daerah suprasimfisis, miksi bercampur darah atau mungkin pasien tidak dapat miksi. Gambar
klinis tergantung dari etiologi trauma, bagian kandung kemih yang mengalami cedera yaitu
intraperitoneal atau ekstraperitoneal, adanya organ lain yang mengalami cedera, serta penyulit
yang terjadi akibat trauma. Pemeriksaan pencitraan berupa sistografi yaitu dengan memasukan
kontras ke dalam kandung kemih sebanyak 300 – 400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui
kateter peruretra. (Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke dua. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC).

Pemeriksaan Radiologi
Indikasi untuk pencitraan adalah Gross hematuria dengan fraktur pelvis merupakan indikasi
mutlak untuk mengevaluasi kandung kemih pada pasien trauma karena pasien tersebut memiliki
kemungkinan resiko tinggi cedera. Morey et al, melaporkan bahwa dari 53 pasien dengan cedera
kandung kemih, semua mengalami hematuria dan 85% mengalami fraktur tulang panggul.
Quagliano et al, melaporkan bahwa 32% pasien dengan fraktur panggul dan gross hematuria
ditemukan memiliki cedera kandung kemih. Gross hematuria tanpa fraktur panggul dan
mikrohematuria dengan fraktur panggul dianggap indikasi relatif untuk mengevaluasi kandung
kemih dengan pencitraan yang direkomendasikan pada pasien dengan gejala klinis seperti nyeri
suprapubik atau kesulitan buang air kecil.
a. X-Ray
 Radioanatomi
Sistogram yang normal berupa garis lingkar, dindingnya rata bundar dan oval.
Sumber : Philp W. Ballinger, M.S., R.T. (R). Merrill’s Atlas Radiographic Positions and
Radiologic Procedures. 8nd ed. Volume 1 and 2. The Ohio State University,
Columbus, Ohio, 1995.

Gambar Buli-buli yang terisi penuh oleh kontras


 Cystography
Sistografi adalah pencitraan pada buli – buli dengan memakai kontras. Melalui
sistoskop / kateter dimasukkan kontras pada vesika urinaria dan dapat menilai apakah terdapat
filling defect, robekan buli – buli yang terlihat sebagai ekstravasasi kontras ke luar buli – buli,
adanya divertikel. Cystography memiliki tingkat akurasi 85 - 100% untuk mendeteksi cedera
kandung kemih dan idealnya harus dilakukan dengan bimbingan dari fluoroscopic. (AJR)
Gambar
Ruptur Ekstraperitoneal Vesika Urinaria. Tampak ekstravasasi (tanda panah) terlihat di luar
kandung kemih pada pelvis pada pemeriksaan sistogram.

Gambar
Ruptur Intraperitoneal Vesika Urinaria. Pada gambaran sistogra menunjukkan kontras yang
mengisi di sekitar usus.
8. Penatalaksanaan
Bila penderita datang dalam keadaan syok, harus diatasi dengan pemberian cairan intravena
atau darah. Bila sirkulasi telah stabil, baru dilakukan reparasi buli – buli. Prinsip pemulihan ruptur
kandung kemih adalah penyaliran ruang perivesikal, pemulihan dinding, penyaliran kandung
kemih dan perivesikal, dan jaminan arus urin melalui kateter. (Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku
Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke dua. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC)
Pada kontusio buli-buli, cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk
memberikan instirahat pada buli-buli. Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh setelah 7 - 10
hari. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparatomi untuk mencari robekan
pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. Jika tidak dioperasi, terjadi ekstravasasi
urin ke rongga intraperitoneum dan dapat menyebabkan peritonitis. Rongga intraperitoneum
dicuci, robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis, kemudian dipasang kateter sistostomi yang
dilewatkan di luar sayatan laparatomi.
Pada cedera ekstraperitoneal, robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal) dianjurkan
untuk memasang kateter selama 7-10 hari, tetapi sebagian ahli lain menganjurkan untuk
melakukan penjahitan buli-buli denagn pemasangan kateter sistostomi. Namun tanpa tindakan
pembedahan kejadian kegagalan penyembuhan luka ± 15%, dan kemungkinan untuk terjadinya
infeksi pada rongga perivesika sebesar 12 %. Oleh karena itu jika bersamaandengan rupture buli-
buli terdapat cedera organ lain yang membutuhkan operasi, sebaiknyadilakukan penjahitan buli-
buli dan pemasangan kateter sistostomi. Untuk memastikan bahwa buli-buli telah sembuh,
sebelum melepas kateter uretra ataukateter sistostomi, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan
sistografi guna melihatkemungkinan masih adanya ekstravasasi urin. Sistografi dibuat pada hari
ke 10-14 pasca trauma. Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi dipertahankan sampai 3
minggu.

9. Komplikasi
Pada cedera buli-buli ekstraperitoneal, ekstravasasi urine ke rongga pelvis yang dibiarkan
dalam waktu lama dapat menyebabkan infeksi dan abses pelvis. Yang lebih berat lagi adalah
robekan buli-buli intraperitoneal, jika tidak segera dilakukan operasi, dapat menimbulkan
peritonitis akibat ekstravasasi urine pada rongga intra peritoneum. Kedua keadaan itu dapat
menyebabkan sepsis yang dapat mengancam jiwa. Kadang-kadang itu dapat menyebabkan sepsis
yang dapat mengancam jiwa. Kadang-kadang dapat pula terjadi penyulit berupa keluhan miksi,
yaitu frekuensi dan urgensi yang biasanya akan sembuh sebelum 2 bulan.

10. Prognosis
Prognosis akan baik jika penatalaksanaan dilakukan segera. Pasien dengan laserasi yang
memanjang sampai ke area neck bladder mungkin untuk terjadi inkontinensia sementara.

Anda mungkin juga menyukai