Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KONSELING LINTAS BUDAYA

Sensitifitas Budaya dalam Konseling


(Multicultural Sensitivities in Counseling)

Dosen : Drs. Akhmad Mile, M.Pd

NAMA KELOMPOK:

FEBRIANIS SOLEKAH 1605095049


FENI INDAF RIANTI 1605095053
MUHAMMAD ALFAYED 1605095076
PELIPUS LAHANG 1605095050
SITI NUR HIKMAH 1605095078

PROGRAM STUDI BIMIBINGAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN 2017
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam melaksankan konseling, konselor hendaknya selalu peduli terhadap
perbedaan budaya serta atributnya antara konseli dan konselor yang
berdamapak pada munculnya jarak antara konseli dan konselor. Konseling
dengan usaha menghindari terjadinya kesalahpahaman atau bias-bias budaya
didalamnya karna adanya perbedaan budaya disebut dengan konseling lintas
budaya (cross-culture counseling).

Konseling lintas budaya di Indonesia makin terasa menantang mengingat


penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang memilki beraneka
corak sub-kultur yang berbeda-beda karakteristik sosial budaya masyarakat
yang majemuk itu tidak dapat diabaikan dalam perencanaan dan
penyelenggaraan bimbingan dan konseling.

Pelayanan BK yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan


meningkatkan mutu kehidupan serta martabat manusia Indonesia harus berakar
pada budaya bangsa Indonesia sendiri. Hal ini berarti bahwa penyelenggaraan
BK harus dilandasi dan mempertimbangkan keanekaragaman sosial budaya
yang hidup dalam masyarakat, disamping kesadaran akan dinamika sosial
budaya itu menuju masyarakat yang lebih maju.(Adhiputra,2010.190)

Masalah
1. Konsep sensitifitas budaya dalam konseling
2. Kendala ras dan etnis dalam konseling
3. Pentingya konselor peka-budaya
4. Karakter konselor peka budaya

1
B. KAJIAN TEORI

Kutipan Teori

Interaksi antar konselor dengan klien mungkin dapat dilihat sebagai


intervensi disengaja dalam aktivitas klien- konstruk wawasan dan pemahamanya,
serta kebaikannya untuk memuaskan klien atas efektivitas yang diperbaiki.para
partisipan semestinya menciptakan setiap interface akan menompang hubungan
konseling dan menompang mampaat penerimaan interface klien yang begitu luas
adalah dibutuhkan dengan sungguh-sungguh dan kehangatan, serta membangkitkan
rasa empatinya. Konsep ahirnya adalah mengkritisi komonikasi antar budaya,
semenjak di sarankan empati ketentuan pertalian dan hubungan berdasarkan atas
kesamaan antar kedua partisipan konseling antar budaya, mungkin tidak adanya
definisi interaksi yang akurat secara menyeluruh, semenyak empati, menjelaskan
pemahaman orang lain atas kesulitan bersama, tidak akan terjadi. Sebelum
menjauhi kemungkinan konseling antar budaya, kita selalu melihat kebutuhan yang
serupa untuk menompang empati.

Seperti halnya ras dan etnis yang tumbuh dan menonjol serta mempengaruhi
kelompok budaya dominan, konsep “pluralism budaya” dikemabangkan menjadi
daya tarik khusus orang amerika yang digambarkan secara ideal melalui demokrasi
dan toleransi, menurut Zintz (Adhiputra 2013: 170).

Dedi Supriadi (Nugraha, 2010: 9) memaparkan perlunya konselor yang


memiliki kepekaan multibudaya (culturally sensitive counselor) untuk dapat
memahami dan membantu klien/konseli. Profil konselor tersebut merupakan
seorang konselor yang menyadari benar bahwa dilihat dari sisi budaya, inidvidu
memiliki karakteristik yang unik dan dibawa dalam proses konseling sehingga
secara tidak langsung diperlukan pemahaman yang benar dan mendalam tentang
latar belakang budaya konseli.

Dedi Supriadi (Nugraha, 2010: 7) juga menyatakan proses konseling yang


dilakukan oleh konselor sejauh ini hanya menitikberatkan pada aspek-aspek
psikologis (kecerdasan, minat, bakat, kepribadian, dll) dan masih kurang

2
memperhatikan terhadap latar belakang budaya konselor maupun konseli yang ikut
membentuk perilakunya dan menentukan efektivitas proses konseling. Konselor
dalam melaksanakan tugasnya harus tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi
untuk menghambat proses konseling. Terutama yang berkaitan dengan nilai, norma
dan keyakinan yang dimiliki oleh suku agama tertentu. Terelebih apabila konselor
melakukan praktik konseling di Indonesia yang mempunyai lebih dari 357 etnis dan
5 agama besar serta penganut aliran kepercayaan.

Dedi Supriadi (dalam Adiphura 2013) Konselor berwawasan dan peka


dengan lintas budaya adalah konselor yang memiliki kepekaan budaya dan mampu
melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas
budaya, dan memiliki keterampilan yang responsive secara kultural. Dari segi ini,
maka konseling berwawasan lintas budaya pada dasarnya merupakan sebuah
"pejumpaan budaya" (cultural encounter) antara konselor dengan budayanya
sendiri dengan klien dari budaya berbeda atau sama dengan yang melayaninya.

Menjawab Permasalahan

1. Konsep sensitifitas budaya dalam konseling

Sensitifitas budaya adalah tingkat kepekaan terhadap perbedaan budaya


yang melekat pada dirinya dan pada orang lain.bila dihubungkan dengan
konseling maka perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan kebudayaan antar
akonselor dan konselee. Perbedaan budaya terbentuk karna adanya perbedaan
suku, ras, etnik, agama yang melatarbelakangi konselor dan konseleenya.
Bahkan bila keduanya barasal dari lingkungan fisik yang sama sekalipun, bisa
saja tetap terjadi perbedaan kebudayaan yang berada pada tingat individu.
Karna itu konselor membutuhkan kemampuan untuk memahami seseorang
dengan baik.

Konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri


dari bias-bias budaya yang bisa saja terjadi, mengerti dan dapat mengapresiasi

3
perbedaan budaya tersebut, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang
responsif secara kultural.

Empati bisa menjadi pondasi dalam membangun komunikasi dengan


konselee, kondisi saling memahami antara konselor dan konselee akan
mencegah terjadinya bias-bias kebudayaan meskipun perbedaan muncul disaat
konseling.

2. Kendala ras dan etnis dalam konseling

Klien yang berasal dari sub-budaya yang berbeda akan menjadi suatu
kendala bagi konselor untuk menyelesaikan, mencegah dana tau meringankan
kesulitan diri klien. Dalam konseling, konselor direkomendasikan untuk
membantu klien beranjak dari pengaruh ras dan budaya kepada suatu status dan
gaya hisupnya.

3. Pentingya konselor peka-budaya

Pentignya konselor yang memiliki kepekaan budaya (culturally sensitive


counselor) untuk dapat memahami dan membantu klien. Konselor yang
demikian adalah yang menyadari benar bahwa secara kultural, individu
memiliki karakteristik yang unik dan kedalam proses konsleing ia membawa-
serta karakteristik tersebut. Hal yang sama sesungguhnya berlaku kepada
konselor sebagaimana dilukiskan terdahulu. Dengan kesadaran budaya ini,
maka konselor akan terhindar dari kecenderungan untuk memukul rata semua
individu yang ditanganinya yang notabene berasal dari lingkungan sosial
budaya yang berbeda-beda serta menimbulkan kesalahpahaman ataupun bias
kebudayaan selama proses konseling.

4
4. Karakter konselor peka budaya

a). Konselor lintas Budaya sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimiliki dan
asumsi-asumsi terbaru tentang prilaku manusia

b). Konselor lintas budaya sadar terhadap karakteristik konseling secara


umum

c). Konselor lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan dan mereka
mempunyai perhatian terhadap lingkungannya

d). Konselor lintas budaya tidak boleh mendorong seseorang (klien) untuk
dapat memahami budayanya (nilai-nilai yang dimiliki konselor)

5
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Sensitifitas budaya adalah tingkat kepekaan terhadap perbedaan budaya


yang melekat pada diri konselor dan pada konselee, yang muncul pada saat proses
konseling berlangsung. Perbedaan ras dan etnis dalam konseling bisa saja memicu
kendala bagi konselor untuk membantu konselee. Dan untuk menghindari hal
tersebut, sangat penting dan dianjurkan untuk konselor meningkatkan kepekaannya
terhadap perbedaan budaya serta kemampuan untuk membangun empati.

Adapun cara untuk meningkatkan kepekaan terhadap budaya adalah dengan


memahami nilai-nilai pribadi yang konselor miliki, mendalami karakteristik
konseling, mempelajari lingkunga sekelilingnya, dan tidak mendorong konselee
untuk memahami dirinya.

Saran

Hendaknya kita lebih mendalami materi Sensitifitas Budaya dalam


Konseling, terutama dalam hal pemahaman akan lintas kebudayaan. Juga mulai
sekarang membangun karakter konselor yang peka dengan budaya.

6
DAFTAR PUSTAKA

Adhiputra, Anak Agung Ngurah. 2013. Konseling Lintas Budaya. Yogyakarta :


Graha Ilmu

Sutardi, Tedy. (2007). Antropologi Mengungkap Keragaman Budaya. Bandung:


PT. Setia Purna Inves

Winkel, WS, Sri Hastuti.2007.Bimbingan dan Konseling di Institusi


Pendidikan.Yogyakarta: Media abadi

Akhmadi, Agus. 2013. PENINGKATAN KESADARAN MULTIKULTURAL


KONSELOR (GURU BK). Dapat ditemukan di
http://journal.umpo.ac.id/index.php/muaddib/article/view/86. Diakses pada
tanggal 15 Februari 2018

Nugraha, Agung . 2010. Kepekaan Multibudaya Bagi Konselor Dalam Layanan


Konseling. Dapat diakses di https://media.neliti.com/media/publications/225017-
kepekaan-multibudaya-bagi-konselor-dalam-71fcca6d.pdf. Diakses pada tanggal
15 Februari 2018