Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

Lima Kekuatan Dasar Persaingan Dalam Industri (Five


Competitive Forces)

Oleh :

Angel Mandagi

Politeknik Negeri Manado

Jurusan Akuntansi

2018
DAFTAR ISI

Daftar Isi ……………………………………..............2

BAB I Pendahuluan ……………………………………..........................3

BAB II Tinjauan Pustaka ……………………………………..........................4

BAB III Penutup ………………………………………...….11

Daftar Pustaka …………………………………………....12

2
BAB I

Pendahuluan

Suatu industri berbeda antara satu dan lainnya didasarkan atas karekteristik
ekonomi, situasi persaingan, dan prospek perkembangannya di masa datang.
Tingkat perubahan berbagai faktor seperti teknologi, ekonomi, pasar dan
persaingan akan bergerak dalam satu range tetentu mulai dari yang lambat sampai
dengan yang cepat. Analisis industri dan persaingan akan menggunakan alat dan
teknik tertentu bagi perusahaan untuk dapat menyesuaikan dengan perubahan dan
kemudian membentuk kekuatan dalam menghadapi persaingan.1
Pengertian industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah
atau barang setengah jadi menjadi barang, jadi barang jadi yang memiliki nilai
tambah untuk mendapatkan keuntungan.1
Beberapa hal yang dapat diidentifikasikan sebagai faktor ekonomi yang utama
yang berpengaruh dalam membentuk kekuatan suatu industri adalah market size,
lingkup persaingan, tingkat pertumbuhan pasar dan siklus kehidupan industri,
jumlah pesaing dan besaran relatif dari masing-masing perusahaan pesaing, jumlah
dan besaran relatif pembeli potensial, dorongan untuk melakukan integrasi ke depan
dan ke belakang, serta kemudahan dan hambatan untuk memasuki atau keluar dari
jenis industri.
Industri sangat erat kaitannya dengan persaingan. Karena tak mungkin suatu
industri hanya berdiri sendiri tanpa adanya hubungan dengan industri lain. Suatu
industri memproduksi suatu produk tentunya juga menggunakan bahan yang
diperoleh dari industri lain. Untuk itu, satu industri dengan industri lain itu selalu
berhubungan dan tak jarang melakukan persaingan.

3
BAB II

Tinjauan Pustaka

Porter (1993) menyatakan, bahwa “persaingan adalah inti dari


keberhasilan”. Persaingan antar perusahaan sejenis yang sangat tajam, pesaing baru
dapat masuk ke industry dengan relatif mudah, serta pemasok dan pelanggan dapat
meningkatkan kekuatan tawar-menawar mereka (David, 2006). Agar dapat
memenangkan setiap persaingan, setiap perusahaan harus memiliki strategi
bersaing. Tujuan akhir strategi bersaing adalah untuk menanggulangi kekuatan
lingkungan demi kepentingan perusahaan. Menurut Hunger & Wheelen (2001),
strategi bersaing sering juga disebut dengan strategi bisnis, berfokus pada
peningkatan posisi bersaing produk dan jasa perusahaan dalam industri atau segmen
pasar tertentu yang dilayani perusahaan. Strategi bersaing merupakan upaya
mencari posisi bersaing yang menguntungkan dalam suatu industri, arena
fundamental di mana persaingan belangsung. Strategi bersaing bertujuan membina
posisi yang menguntungkan dan kuat dalam melawan kekuatan yang menentukan
persaingan dalam industri. Oleh karena itu, strategi bersaing bukan hanya
merupakan tanggapan terhadap lingkungan melainkan juga upaya membentuk
lingkungan tersebut sesuai dengan keinginan perusahaan (Porter, 2003).1

A. Lima Kekuatan Porter

Kodrat (2009) mengatakan bahwa tujuan dari analisis lima kekuatan


Porter adalah untuk menentukan keunggulan bersaing dan keunggulan
kompetitif perusahaan. Menurut David (2006), Model Lima Kekuatan Porter
tentang analisis kompetitif adalah pendekatan yang digunakan secara luas untuk
mengembangkan strategi di banyak industri. Menurut Porter, hakikat
persaingan suatu industri dapat dilihat sebagai kombinasi atas lima kekuatan,
yaitu persaingan antar perusahaan sejenis, kemungkinan masuknya pesaing
baru, potensi pengembangan produk substitusi, kekuatan tawarmenawar
penjual/pemasok, kekuatan tawar-menawar pembeli/konsumen (David, 2009).1

4
1. Persaingan Antar Perusahaan Sejenis

Kekuatan ini adalah penentu utama, perusahaan harus bersaing


secara agresif untuk mendapatkan pangsa pasar yang besar. Perusahaan kita
akan semakin diuntungkan apabila posisi perusahaan kita kuat dan tingkat
persaingan pada pasar (Market) yang sama tersebut yang rendah. Persaingan
semakin ketat akan terjadi apabila banyak pesaing yang merebut pangsa
pasar yang sama, loyalitas pelanggan yang rendah, produk dapat dengan
cepat digantikan dan banyak kompetitor yang memiliki kemampuan yang
sama dalam menghadapi persaingan.2

Persaingan antar perusahaan saingan (Rivalry Among Existing


Firms) biasanya merupakan kekuatan terbesar dalam lima kekuatan
kompetitif. Strategi yang dijalankan oleh perusahaan dapat berhasil jika ia
memberikan keunggulan kompetitif dibanding strategi yang dijalankan
perusahaan pesaing. Perubahan strategi oleh satu perusahaan mungkin akan
mendapat serangan balasan, seperti menurunkan harga, meningkatkan
kualitas, penambahan fitur, penyediaan layanan, memperpanjang garansi,
dan meningkatkan iklan (David, 2006).1

5
Intensitas persaingan diantara perusahaan sejenis yang bersing
cenderung meningkat karena jumlah pesiang semakin bertambah karena
pesaing semakin seragam dalam hal ukuran dan kemampuan dan
permintaan untuk produk industry menurun, dan karena pemotongan harga
semakin umum. Persaingan juga meningkat ketika pelanggan dapat
berpindah merek dengan mudah ketika produk mudah rusak, perusahaan
pesiang berbeda dalam hal strategis, tempat mereka berasal dan budaya,
merger dan akuisisi menjadi umum dalam suatu industry, serta persaingan
antar perusahaan sejenis semakin intensif, laba perusahaan menurun, dalam
beberapa kasus bahkan membuat suatu industri menjdi sangat tidak menarik
(David, 2006).1

Perseteruan diantara perusahaan yang bersaing cenderung


meningkat kalau jumlah pesaing bertambah karena perusahaan yang
bersaing menjadi setara dalam ukuran dan kemampuan, permintaan produk
industry menurun, dan potongan harga menjadi biasa. Strategi yang
dijalankan oleh salah satu perusahaan dapat berhasil hanya sejauh bahwa
strategi itu menyediakan keunggulan bersaing atas strategi yang dijalankan
oleh perusahaan pesaing (David, 2011).1

2. Masuknya Pesaing Baru

Kekuatan ini menentukan seberapa mudah (atau sulit) untuk masuk


ke industri tertentu. Jika Industri tersebut bisa mendapatkan profit yang
tinggi dengan sedikit hambatan maka pesaing akan segera bermunculan.1

Menurut Porter (1987) menyatakan bahwa ancaman masuknya


pendatang baru ke dalam industri tergantung pada rintangan masuk yang
ada, digabung dengan reaksi dari para pesaing yang sudah ada yang dapat
diperkirakan oleh si pendatang baru. Jika rintangan atau hambatan ini besar
dan/atau pendatang baru memperkirkan akan ada perlawanan yang keras
dari muka-muka lama, maka ancaman masuknya pendatang baru akan
rendah. Ada enam sumber utama rintangan yang masuk yaitu Porter (1987)

6
yaitu : skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, biaya beralih
pemasok, akses ke saluran distribusi, dan biaya tak menguntungkn terlepas
dari skala.1

3. Pengembangan Produk Substitusi

Semua perusahaan dalam suatu industri bersaing, dalam arti yang


luas dengan industri-industri yang menghasilkan produk pengganti. Produk
pengganti membatasi laba potensial dari industri dengan menetpkan harga
pagu (ceiling price) yang dapat diberikan oleh perusahaan dalam industri.
Makin menarik alternative harga yang ditawarkan oleh produk pengganti,
makin ketat pembatasan laba industri. Mengenali produk-produk subtitusi
(pengganti) adalah persoalan mencari produk lain yang dapat menjalankan
fungsi yang sama seperti produk dalam industri. Posisi dalam menghadapi
produk pengganti mungkin merupakan persoaln tindakan industri secara
kolektif. Produk pengganti menempatkan batas atas dari harga yang dapat
ditetapkan sebelum konsumen akan peindah ke produk pengganti. Kekuatan
persaingan dari produk pengganti paling baik diukur dengan pangsa pasar
yang direbut oleh produk tersebut, di samping rencana perusahaan itu yang
meningkatkan kapasitas dan penetrasi pasar (David, 2011).1

Pengantian ini terjadi apabila pembeli/konsumen mendapatkan


produk pengganti yang lebih murah atau produk pengganti yang memiliki
kualitas lebih baik dengan biaya pengalihan yang rendah. Semakin sedikit
produk pengganti yang tersedia di pasaran akan semakin menguntungkan
perusahaan kita.2

4. Kekuatan Tawar-menawar Penjual/Pemasok

Daya tawar pemasok yang kuat memungkinkan pemasok untuk


menjual bahan baku pada harga yang tinggi ataupun menjual bahan baku
yang berkualitas rendah kepada pembelinya. Dengan demikian, keuntungan
perusahaan akan menjadi rendah karena memerlukan biaya yang tinggi

7
untuk membeli bahan baku yang berkualitas tinggi. Sebaliknya, semakin
rendah daya tawar pemasok, semakin tinggi pula keuntungan perusahaan
kita.2

Daya tawar pemasok menjadi tinggi apabila hanya sedikit pemasok


yang menyediakan bahan baku yang diinginkan sedangkan banyak pembeli
yang ingin membelinya, hanya terdapat sedikit bahan baku pengganti
ataupun pemasok memonopoli bahan baku yang ada.2

Daya Tawar Pemasok (Bargaining power of supplier) dapat menjadi


sebuah ancaman bagi perusahaan yang selama ini memperoleh input dari
pemasok apabila terjadi ketergantungan perusahaan pada salah satu
pemasok yang menjadi semakin besar dari waktu ke waktu. Indikator yang
dapat digunakan untuk melihat ketergantungan perusahaan kepada salah
satu pemasok adalah indikator rasio konsentrasi (concentration ratio) yang
dapat menunjukkan rasio antara jumlah nilai pasokan dari pemasok tertentu
dengan keseluruhan nilai persediaan yang dipasok oleh berbagai pemasok.
Pemasok dapat menggunakan kekuatan tawar menawar terhadap para
peserta industri dengan mengamcam akan menaikkan harga atau
menurunkan mutu produk atau jasa yang dibeli. Pemasok yang kuat
karenanya dapat menekan kemampulabaan industri yang tidak mampu
mengimbangu kenaikan hargnya (Porter, 1987).1

5. Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli / Konsumen

Kekuatan ini menilai daya tawar atau kekuatan penawaran dari


pembeli/konsumen, semakin tinggi daya tawar pembeli dalam menuntut
harga yang lebih rendah ataupun kualitas produk yang lebih tinggi, semakin
rendah profit atau laba yang akan didapatkan oleh perusahaan produsen.
Harga produk yang lebih rendah berarti pendapatan bagi perusahaan juga
semakin rendah. Di satu sisi, Perusahaan memerlukan biaya yang tinggi
dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Sebaliknya, semakin
rendah daya tawar pembeli maka semakin menguntungkan bagi perusahaan

8
kita. Daya tawar pembeli tinggi apabila jumlah produk pengganti yang
banyak, banyak stok yang tersedia namun hanya sedikit pembelinya.2

Kekuatan tawar-menawar konsumen juga lebih tinggi ketika yang


dibeli adalah produk standar atau tidak terdirefensiasi. Ketika kondisinya
seperti ini, konsumen sering kali dapat bernegosiasi tentang harga jual,
cakupan garansi, dan paket aksesori hingga ke tingkat yang lebih tinggi
(David, 2006). Disamping itu, Kekuatan menawar konsumen juga lebih
besar kalau produk yang dibeli standar atau tidak berbeda. Perusahaan
pesaing mungkin menawarakan garansi lebih panjang atau pelayanan
khusus untuk memperoleh loyalitas pelanggan kalau kekuatan menawar dari
konsumen luar biasa. Konsumen sering dapat melakukan negosiasi harga
jual, jaminan, dan asesoris kemasan sampai tingkat tertentu (David, 2011).1

Kelima kekuatan bersaing menurut Porter diatas dapat dikategorikan


sebagai faktor eksternal. Definisi dari faktor eksternal perusahaan itu sendiri adalah
lingkungan bisnis yang melengkapi operasi perusahaan yang memunculkan
peluang dan ancaman. Faktor ini mencakup lingkungan industri dan lingkungan
bisnis makro, yang membentuk keadaan dalam organisasi dimana organisasi ini
hidup. Elemen-elemen dari Faktor eksternal tersebut adalah pemegang saham,
pemerintah, pemasok, komunitas lokal, pesaing, pelanggan, kreditur, serikat buruh,
kelompok kepentingan khusus, dan asosiasi perdagangan. Lingkungan kerja
perusahaan umumnya adalah industri dimana perusahaan dioperasikan.

Lingkungan bisnis makro atau lingkungan sosial terdiri dari kekuatan umum
yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas-aktivitas jangka pendek
organisasi tetapi dapat dan sering mempengaruhi keputusan-keputusan jangka
panjang. Perusahaan-perusahaan besar membagi membagi lingkungan sosial dalam
satu wilayah geografis menjadi empat kategori, terdiri dari faktor ekonomi,
sosiokultural, teknologi dan politik-hukum dalam hubungannya dengan lingkungan
perusahaan secara keseluruhan.

9
Sehingga apabila dilihat dari penjelasan mengenai definisi Faktor Eksternal
perusahaan dikaitkan dengan 5 kekuatan bersaing M. Porter,maka 5 kekuatan
bersaing Porter merupakan Faktor Eksternal. Penjelasan lebih lanjut menganai
analisis Faktor Eksternal adalah faktor ini dibagi menjadi dua, yakni Peluang
(opportunities) dan Ancaman (threats). Ancaman adalah suatu kondisi dalam
lingkungan umum yang dapat menghambat usaha-usaha perusahaan untuk
mencapai daya saing strategis. Sedangkan peluang adalah kondisi dalam
lingkungan umum yang dapat membantu perusahaan mencapai daya saing strategis.

10
BAB III

Penutup

Kesimpulan

Intinya sebenarnya Porter menilai bahwa perusahaan secara nyata tidak


hanya bersaing dengan perusahaan yang ada dalam industri saat ini. Analisis yang
biasa digunakan sebuah perusahaan adalah siapa pesaing langsung perusahaan
tersebut dan akhirnya mereka terjebak dalam ”competitor oriented ”, sehingga
tidak mempunyai visi pasar yang jelas. Dalam five forces modeldigambarkan bahwa
kita juga bersaing dengan pesaing potensial kita, yaitu mereka yang akan masuk,
para pemasok atau suplier,para pembeli atau konsumen, dan produsen produk-
produk pengganti.3

11
Daftar Pustaka

1. Foris,P.J, dan Ronny Mustamu. 2015. Analisis Strategi Pada Perusahaan Plastik
Dengan Poster Five Forces. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra.
2. Kho, Budi. 2017. Analisis Lima Kekuatan Porter (Porter’s Five Forces Analysis).
https://ilmumanajemenindustri.com/analisis-lima-kekuatan-porter-porters-
five-forces-analysis. Diakses 31 Agustus 2018
3. Prakoso, Kukuh. 2012. 5 Kekuatan Bersaing Perusahaan (Michael Porter).
https://kukuhprakoso.wordpress.com/2012/10/01/5-kekuatan-bersaing-
perusahaan-michael-porter. Diakses 31 Agustus 2018

12

Anda mungkin juga menyukai