Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Resiko selalu dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya kerugian suatu usaha,


baik usaha perseorangan maupun usaha perusahaan. Setiap kegiatan usaha senantiasa
berhadapan dengan resiko. Resiko yang dihadapi setiap pelaku usaha tentunya akan
berbeda-beda. Tergantung dari jenis usaha yang dilakukan. Resiko usaha dibidang
manufaktur tentu akan berbeda dengan resiko usaha yang dihadapi pada usaha dagang
maupun jasa.

Identifikasi resiko pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan


semua informasi yang berkaitan yang berkaitan dengan kegiatan usaha. Kemudian
menganalisisnya untuk menemukan setiap eksposure resiko yang dimungkinkan dapat
menjelma menjadi bentuk kerugian. Pengindentifikasian resiko merupakan proses
analisis untuk menemukan secara sistematis dan berkenambungan, resiko (kerugian
potensial) yang menantang perusahaan (Herman Darmawi, 1994: 34).

Identifikasi resiko dilakukan untuk mengidentifikasi risiko-risiko apapun yang


dihadapi oleh pelaku usaha. Banyak resiko yang dihadapi oleh pelaku usaha., mulai
dari resiko-resiko kecil seperti kecerobohan pegawai, sampai resiko--resiko yang
besar dan luas. Kondisi resesi dunia dapat beresiko menurunkan nilai suatu investasi.
Terdapat beberapa teknik untuk mengidentifikasi resiko, salah satunya dengan
menelusuri sumber resiko sampai terjadinya peristiwa yang tidak diehendaki hingga
menjadi penyebab terjadinya kerugian. Contohnya, kerugian karena tabrakan
kendaraan. Setelah ditelusuri, ternyata frekuensi terjadinya tabrakan pada
pengendaara-pengendara yang masih relatif muda umurnya. Mereka yang umurnya
masih sangat muda tersebut tingkat emosinya masih sangat tinggi. Tentunya hal ini
berpengaruh terhadap perusahaan dalam menyeleksi dan menerima seseorang untuk
dijadikan Driver. Identifikasi semacam dilakukan dengan melihat sekuen sumber
resiko sampai ke terjadinya peristiwa yang merugikan. Pada beberapa situasi, resiko
yang dihadapi perusahaan cukup standar: sebagai contoh, bank menghadapi resiko
utama adalah resiko kredit, kemungkinan debitur tidak melunasi hutangnya atau
resiko pasar.

1
Identifikasi resiko dapat dilakukan dengan bantuan penggunaan checklist, untuk
menginventarisir semua kerugian potensial yang dihadapi dari setiap bagian usaha
yang dilakukan. Sumber checklist dapat diperoleh dari: perusahaan asuransi; badan
ppenerbitan asuransi; Asosiasi Manajemen Amerika (AMA); serta ikatan manajemen
resiko dan asuransi. Disamping itu, perusahaan juga harus membuat checklist sendiri
mengantisipasi hal-hal yang belum terekan dalam checklist tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka permasalahn yang dibahas dalam


makalah ini adalah :

1. Klasifikasi Kerugian Potensial


2. Metode-Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi Resiko
3. Sumber-Sumber dan jenis-jenis Informasi yang digunakan dalam identifikasi resiko

1. 3 Tujuan

1. bagi penulis
Tujuan dari penulisan makalah ini selain sebagai pemenuh tugas mata kuliah
Manajemen Resiko, juga sebagai media untuk mempraktekan ilmu yang telah
dipelajari
2. bagi pembaca
Tujuan bagi pembaca khususnya kawan-kawan sesama mahasiswa yang
mengambil mata kuliah Manajemen Resiko adalah untuk mengedukasi mata
kuliah yang perlu diperlajari dalam mata kuliah ini.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori
Manajemen Risiko dapat diartikan sebagai proses terstruktur dan sistematis dalam
mengidentifikasi, mengukur, memetakkan, mengembangkan alternatif penanganan risiko,
dan memonitor serta mengendalikan implementasi penanganan risiko. Perusahaan selalu
dihadapi dengan berbagai macam risiko. Kesanggupan manajemen untuk mengelola
berbagai macam risiko ini menjadi suatu keharusan. yang dimaksud dengan manajemen
risiko menurut Ronny Kountour adalah cara-cara yang digunakan manajemen untuk
menangani berbagai permasalaha yang disebabkan oleh adanya risiko.
Menurut Djojosoedarso manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi-fungsi
manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh
organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat. Jadi mencakup kegiatan merencanakan,
mengorganisir, menyusun, memimpin/mengkordinir, dan mengawasi (termasuk
mengevaluasi) program penanggulangan risiko.
Menurut Fahmi Manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang
bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan
yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan
sistematis.

2.2 Pembahasan
2.2.1 Pengertian Identifikasi Resiko
Pengidentifikasian resiko adalah suatu proses dengan mana suatu perusahaan
secara sistematis dan terus menerus mengidentifikasi property, liability dan
personnel exposures sebelum terjadinya peril. Jadi yang diidentifikasi adalah peril
yang dapat menimpa harta milik dan personil perusahaan serta kewajiban yang
menimbulkan kerugian.
Kegiatan pengidentifikasian adalah hal yang sangat penting bagi seorang
Manajer Risiko. Sebab seorang Manajer Risiko yang tidak mengidentifikasi semua
kerugian potensiil tidak akan dapat menyusun strategi yang lengkap untuk
menanggulangi semua kerugian potensiil tersebut.
Hal – hal yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk perusahaannya :
a) Mengetahui kemungkinan – kemungkinan terjadinya suatu kerugian dan harus
berhati – hati atas kemungkinan timbulnya setiap kerugian dan hal ini
merupakan tugas utama seorang manajer risiko.
b) Memperkirakan frekuensi dan besar kecilnya risiko sehingga dapat diperkirakan
kemungkinan kerugian maksimum dari risiko yang berasal dari berbagai
sumber.
c) Memutuskan pemakaian metode pengolahan risiko yang terbaik dan paling
ekonomis,apakah dengan jalan menghapuskan, mengurangi, membatasi,

3
menanggung sendiri, memindahkan atau mengkombinasikan metode – metode
tersebut.
d) Mengadministrasikan program –program manajemen risiko termasuk
mengadakan penilaian kembali atas program – program, pencatatan –
pencatatan dan lain sebagainya.

2.2.2 Manfaat Daftar Kerugian Potensial


Daftar kerugian potensial bagi suatu perusahaan pada hakekatnya merupakan :
a) Daftar yang dapat menunjang pencapaian berbagi tujuan, yang berkaitan
dengan pengelolaan bisnis pada umumnya. Jadi tidak hanya untuk
kepentingan manajemen risiko saja.
b) Suatu cara yang sistematis guna mengumpulkan informasi mengenai
perusahaan-perusahaan lain yang mungkin ada kaitannya dengan aktivitas
bisnisnya.
Jadi daftar kerugian potensial sangat bermanfaat bagi kegiatan pengelolaan bisnis
secara keseluruhan, tidak hanya di bidang penanggulangan risiko saja. Sedang
manfaat daftar kerugian potensial bagi Manajer Risiko antara lain:
a) Mangingatkan manajer risiko tentang kerugian-kerugian yang dapat menimpa
bisnisnya.
b) Sebagai tempat mengumpulkan informasi yang akan menggambarkan dengan cara
apa dan bagaimana bisnis-bisnis khusus yang dapat dimanfaatkan untuk
menanggulangi risiko potensial yang dihadapi bisnisnya.
c) Sebagai bahan pembanding dalam me-review dan mengevaluasi program
penanggulangan risiko yang telah dibuat, yang dapat mencakup premi yang sudah
dibayar. Pengamanan-pengamanan yang telah dilakukan kerugian-kerugian yang
timbul dan sebagainya.

2.2.3 Klasifikasi Daftar Kerugian Potensial


Seluruh kerugian potensial yang dapat menimpa setiap bisnis pada pokoknya dapat
diklasifikasikan ke dalam:
a) Kerugian atas harta kekayaan (property exposures), yang meliputi :
 Kerugian langsung yaitu kerugian yang langsung dapat dihubungkan dengan
biaya penggantian atau perbaikan terhadap harta yang terkena peril (gedung
yang terbakar, peralatan yang dicuri).
 Kerugian tidak langsung yaitu kerugian yang tidak dapat secara langsung
dihubungkan dengan peril yang terjadi, yaitu kerugian yang diakibatkan oleh
rusaknya barang yang terkena peril.Contoh: rusaknya bahan-bahan yang
disimpan dalam lemari pendingin (cold storage). Karena tidak berfungsinya alat
pendingin akibat gardu listriknya rusak disambar petir. Upah yang harus tetap
dibayar, pada saat perusahaan tidak berproduksi, karena ada alat-alat
produksinya yang terkena peril.
 Kerugian atas pendapatan, misalnya sebagai akibat tidak berfungsinya alat
produksi, karena terkena peril. Contoh: batalnya kontrak penjualan,karena
perusahaan tidak berproduksi untuk sementara waktu, sebab alat produksinya
mengalami rusak berat.

4
b) Kerugian berupa kewajiban kepada pihak lain (Lilability losses/exposures) adalah
kerugian yang berupa kewajiban kepada pihak lain yang merasa dirugikan, akibat
kesalahan dari bisnisnya. Contoh: Ganti rugi yang harus diberikan oleh perusahaan
angkutan umum kepada penumpang yang cedera akibat kecelakaan, yang ada oleh
kesalahan pengemudinya.
c) Kerugian personil (Personnel losses/ exposures) adalah kerugian akibat peril yang
menimpa personil atau orang-orang yang menjadi anggota dari karyawan
perusahaan (termasuk keluarganya). Contoh:
 Kematian, ketidakmampuan karena cacat, ketidakmampuan karena usia tua dari
karyawan atau pemilik perusahaan.
 kerugian yang menimpa keluarga karyawan akibat kematian, ketidakmampuan
dan pengangguran.
Dengan melihat jenis dan kondisi dan kerugian potensial yang yang demikian itu, maka
seorang manajer harus selalu :
a) Mempelajari dan mengevaluasi peristiwa-peristiwa kerugian yang telah diderita.
b) Mengikuti dan mempelajari peristiwa-peristiwa kerugian yang dilaporkan lewat
publikasi-publikasi
c) Menghadiri pertemuan-pertemuan para manajer di dalam intern perusahaan.
Pertemuan dengan Manajer-manajer di tingkat regional, nasional maupun
internasional.

2.2.4 Metode Pengidentifikasian Resiko


Pengidentifikasian risiko dapat dilakukan dengan:
 Studi Dokumen/Analisis data historis,
 Observasi,
 Pengacuan (benchmarking) dan
 Pendapat ahli.
a) Studi Dokumen/Analisis Data Historis
Studi dokumen dilakukan dengan mempelajari data dan informasi dari berbagai
laporan, manual dan materi tertulis lainnya yang terdapat pada unit kerja
yang diidentifikasi dan unit lainnya untuk mengetahui kejadian apa saja yang
pernah terjadi dan kemungkinan penyebabnya. Data-data sekunder tentang risiko
juga dapat diperoleh dari beberapa lembaga, seperti kepolisian, perusahaan
asuransi dan instansi terkait lainnya.
Apabila suatu pekerjaan belum dilakukan dan masih dalam tahap perencanaan,
sehingga belum ada data-data dan tidak bisa dilakukan observasi maka dapat
dilakukan dengan mempelajari bagan alur proses dan berbagai bentuk perencanaan
lainnya seperti strategi, kebijakan, prosedur dan program.
b) Observasi/Pengamatan dan Survei
Observasi adalah melakukan pengamatan langsung terhadap obyek yang
diidentifikasi. Jika akan mengidentifikasi risiko di bagian produksi, maka hal yang
perlu diamati bagaimana proses produksi itu berlangsung, selanjutnya
mengidentifikasi dimana saja risiko dapat terjadi, kejadian apa saja yang dapat
menimpa dan apa penyebabnya. Demikian juga jika ingin melakukan identifikasi
risiko di bagian lainnya. Hal yang dilakukan adalah mengamati bagian tersebut,

5
mencari tahu risiko apa saja yang dapat terjadi pada bagian tersebut, kejadian apa
yang bisa menimpa dan apa saja penyebabnya.
c) Pengacuan
Dilakukan dengan cara mencari informasi tentang risiko di tempat atau
perusahaan lain, contohnya, jika kita sedang mengidentifikasi resiko peralatan
permainan di taman impian jaya ancol, kita perlu menggunakan acuan alat yang
sama yang digunakan ditempat lain seperti disney land
d) Pendapat Tenaga Ahli
Mencari informasi dari ahli di bidang risiko tertentu, apabila kita kesulitan
menggunakan ketiga metode diatas karea ketidak tersediaan data maka bertayalah
kepadah ahlinya. contohnya dari bertanya pada dokter, dapat diketahui bahwa
orang dengan tingkat kolesterol tinggi beresiko kena penyakit jantung

2.2.5 Sumber Informasi Risiko


a) Dokumen Internal
Dokumen yang berasal di dalam internal perusahaan yang dapat dimanfaatkan
untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai resiko yang bisa terjadi.
Dokumen Internal merupakan target pencarian yang pertama dalam identifikasi
risiko tetapi seringkali tidak semua dokumen tertata dengan baik. Misalnya;
Laporan keuangan, strategi dan rencana, standar dan prosedur operasi, dokumen
SDM, surat perintah, dll.
b) Dokumen Eksternal
Dokumen yang berasal di lingkungan eksternal perusahaan, sumber informasi
ini tersebar dimana mana tergantung pada resiko apa yang sedang di identifikasi.
Harus bisa memilah dan memilih informasi yang penting bagi perusahaan.
Misalnya: koran, majalah, data publikasi, statistic keuangan dan ekonomi, dan
sumber lainnya.
c) Pihak Internal Perusahaan
Contoh: karyawan yang mengoperasikan mesin selama bertahun-tahun dapat
menjadi narasumber yang kompeten.
Masalahnya karyawan seringkali tertutup dan berpersepsi semakin banyak risiko
di unit kerjanya, semakin buruklah cara kerja mereka. Ini tentu saja salah. Tidak
ada hubungan antara jumlah risiko dan kualitas kerja.
e) Pihak Eksternal Perusahaan (konsumen, pemasok, pengamat, tenaga ahli, pesaing,
dll)
Melalui Focus Group Discussion yang melibatkan mereka yang dianggap ahli.
Kriteria ahli: (a) secara rutin menangani obyek yang sedang diidentifikasi
risikonya; (b) orang di sekitarnya yang berpengaruh atau bisa mempengaruhi,
misalnya atasannya atau rekan kerjanya; dan (c) ahli dalam bidang akademik
mengenai obyek ybs.

2.2.6 Jenis Informasi


a) Informasi PLESTER (Politik, Lingkungan, Ekonomi, Sosial, Teknologi, dan
Regulasi).

6
Kata “PLESTER” merupakan singkatan dari Politik, Lingkungan, Ekonomi,
Sosial, Teknologi, dan Regulasi. Informasi PLESTER merupakan informasi
eksternal. Informasi ini bisa didapat dari berbagai sumber atau dari para ahli dan
pengamat.
· Contoh Tabel PLESTER:
Jenis Informasi Masa Lalu Saat Ini Trend ke Depan Dampak pada Risiko yang
Perusahaan Dapat Muncul

b) Informasi Keuangan
Laporan Keuangan dapat dijadikan rujukan untuk identifikasi risiko, misalya
dengan melakukan ALK dengan rasio-rasio keuangan. Misalnya resiko nilai tukar
dapat di identifikasi dari naik turunnya nilai pinjaman yang menggunakan valas,
masalah likuidasi dapat di identifikasi dari fluktuasi arus kas. Contoh Infomasi
keuangan; Neraca, Laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas.
c) Informasi Proses.
Didasarkan atas aliran produk dari awal proses hingga akhir yaitu sampai
produk tersebut diterima konsumen. Biasanya perusahaan memiliki diagram alur
produksi.
Identifikasi risiko dimulai dari unit yang kecil hingga yang paling besar
(perusahaan), misalnya risiko Unit Penjualan dan Unit Periklanan menjadi risiko
Bagian Pemasaran, dst. Pertanyaannya apakah semua risiko harus kita identifikasi?
Idealnya, ya. Namun, dalam kenyataannya, sulit untuk melakukannya. Risiko bisa
muncul di mana saja dan kapan saja, tidak ada habis-habisnya. Proses identifikasi
menyeluruh juga akan memakan biaya, energi, dan waktu. Tentu saja, ini menjadi
tidak efektif.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut kita menerapkan Hukum Pareto. Ahli
ekonomi Vilfredo Pareto (1848-1923) mengamati, pada umumnya, 80% kekayaan
negara dikuasai oleh hanya 20% penduduk. Kalau kita terapkan ini dalam
manajemen risiko, kita bisa mengatakan, “80% kerugian perusahaan disebabakan
oleh hanya 20% risiko yang krusial”. Artinya, jika kita mampu menangani risiko
yang krusial (20%) kita dapat menghindari 80% kerugian perusahaan.
Kita juga perlu identifikasi titik titik kritis dalam proses tersebut, semakin baik
mengidentifikasi titik titik kritis semakin baik dalam melakukan identifikasi resiko
Namun demikian, kita tetap perlu mengevaluasi juga titik-titik yang dianggap
tidak krusial (tidak kritis) karena di dalam proses yang tidak kritis tersebut mungkin
ada risiko yang cukup potensial, karena risiko yang bersifat dinamis.
f) Informasi Aliran Dokumen
Melacak resiko berdasarkan aliran dokumen. Penyimpangan aliran dokumen
atau tidak lengkapnya otorisasi , atau menyimpangnya pihak yang memberikan
otorisasi, menunjukkan adanya risiko. Kita dapat melakukan survey terhadap aliran
dokumen atau mengevaluasi proses aliran dokumen untuk melihat titik kritis dan

7
mengidentifikasi risiko. Evaluasi proses aliran dokumen memang lebih mudah
tetapi sebaiknya pastikan ada tidaknya risiko berdasarkan data historis maupun
pendapat para ahli.
g) Informasi Kontrak
Informasi yang diperoleh dengan cara mengevaluasi dokumen kontrak
perusahaan dengan karyawan, pemasok, konsumen, pemerintah, kontraktor
Misalnya: kontrak dengan karyawan, pemasok, konsumen, pemerintah,
kontraktor, dsb. Risiko dapat timbul dari loop hole (celah) yang ada dalam kontrak
yang dapt dimanfaatkan para pihak. Analisis kontrak sebaiknya melibatkan ahli
hukum.

8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Risiko merupakan suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan dimana
terdapat kemungkinan yang merugikan. Oleh karenanya, identifikasi resiko dapat dijabarkan
sebagai proses dimana perusahaan secara terus menerus mengidentifikasi kerugian property,
liability, personal sebelum terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian atau
kerusakan (penyebab langsung terjadinya kerugian). Kegiatan pengidentifikasian adalah hal
yang sangat penting bagi seorang Manajer. Sebab dalam pengidentifikasian risiko akan
menghasilkan daftar kerugian potensial yang sangat penting bagi seorang manajer untuk dapat
menyusun strategi yang lengkap guna menanggulangi semua kerugian potensial tersebut.

3.2 Saran
Penyusun menyarankan agar setiap manajer organisasi dalam mengambil keputusan
strategi selalu mempertimbangkan risiko yang akan timbul serta terlebih dahulu
mengidentifikasi risiko sehingga kemungkinan terjadinya kerugian akan terminimalisir dengan
baik.

9
Daftar Pustaka

10