Anda di halaman 1dari 7

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN RELEVANSINYA

UNTUK INDONESIA

Lahirnya Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

Sampai dengan dekade 1980-an perencanaan dan strategi pembangunan


masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi (economic growth). Filosofi
pertumbuhan ekonomi dilatarbelakangi oleh Teori Neo-Klasik. Dampak dari
penerapan filosofi tersebut telah menimbulkan kemiskinan yang merajalela.
Jika ekonomi dan lingkungan dikelola dengan baik maka pertumbuhan
ekonomi akan terjadi dalam lingkungan yang terpelihara kelestariannya.
Ada berbagai definisi dari pembangunan berkelanjutan tapi semua definisi
berfokus pada bagimana agar perekenomian dapat tetap berlanjut dalam jangka
panjang terutama untuk memberi kesempatan pada generasi yang akan dating
memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi
kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan
datang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Secara teoritis prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dapat diterakan
pada berbagai sector pembangunan. Sebagai contoh diambil pada sector pertanian.
Penerapan konsep, prinsip dan tujuan pembangunan berkelanjutan dalam
pembangunan secara luas dapat dilakukan dengan menetapkan kaidah-kaidahnya :
1. Pemerataan dan keadilan (Equity and Justice)
2. Pendekatan integrative (Integrative Approach)
3. Perspektif jangka panjang (Long Term Perspective)
4. Keberlanjutan Ekologis (Ecological Sustainability)
5. Keberlanjutan Ekonomi (Economic Sustainability)
6. Keberlanjutan Ekonomi (Economic Sustainability)
7. Keberlanjutan Politik (Political Sustainability)
8. Keberlanjutan Pertahanan dan Keamanan (Defense and Security Sustainability).

Yang implementasinya dari kedelapan kaidah di atas sejauh ini dapat


dikelompokkan ke dalam tiga kelompok analisa, yaitu analisa biaya ekonomi
(economic cost analysis), analisa biaya lingkungan (environtmental cost analysis),
dan analisia biaya sosial (sosial cost analysis).
Indikator keberhasilan pembangunan dari Negara-negara berkembang
tersebut, yaitu : Pendapatan Nasional; Pertumbuhan Ekonomi; Pendapatan per
Kapita; Distribusi Pendapatan Nasional; Kemiskinan; Kesehatan Masyarakat;
Pendidikan Masyarakat; Produktivitas Masyarakat; Pertumbuhan Penduduk;
Pengangguran dan Setengah Menganggur.

1. Pendapatan Nasional
Pendapatan Nasional Bruto (Gross National Product/GNP) suatu Negara adalah
hasil dari aktivitas perekonomian secara keseluruhan dari Negara tersebut.

2. Pertumbuhan Ekonomi
Tingkat Pertumbuhan Ekonomi diukur dengan prosentase peningkatan GNP atau
GDP dari tahun ke tahun. Menurut system klasifikasi PBB, Negara-negara yang
tergolong “paling tidak berkembang” (underdeveloped) hanya mempunyai rata-
rata pertumbuhan GNP minus 0,3% per tahun antara tahun 1965 sampai 1985.

3. Pendapatan rata-rat per Kapita


Pendapatan rata-rata per kapita diukur dari GDP pada tahun tertentu dibagi
jumlah Penduduk pada tahun yang sama, biasanya dikalkulasi dalam Dollar
Amerika Serikat (US$).

4. Distribusi pendapatan nasional


Selanjutnya ukuran distribusi pendapatan dapat diukur dengan “Rasio
Konsentrasi Gini “ (Gini Consentration Ratio) atau lebih sederhana disebut
dengan Koefisien Gini.

Koefisien Gini adalah ukuran ketidakseimbangan/ketimngan (pendapatan,


kesejahteraan) agregat (keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol
(pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna).

5. Kemiskinan
Tingkat kemiskinan diukur dengan menentukan konsep “Kemiskinan Absolut”
(Absolute Poverty) atau “Garis Kemiskinan” (Poverty Line) yaitu : “tingkat
pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum
terhadap makanan, pakaian dan perumahan untuk menjamin kelangsungan
hidup”.

6. Kesehatan Masyarakat
Tingkat kesehatan masyarakat dapat terukur dari “Harapan Hidup rata-rata “ (Life
Expectancy Rate) dan “Tingkat Kematian Bayi Rata-rata” (Infact Mortality Rate)
yaitu jumlah bayi yang mati sebelum usia 1 tahun setiap 1000 kelahiran.

7. Pendidikan Masyarakat
Salah satu indicator penting untuk mengukur tingkat pendidikan masyarakat
adalah “Tingkat Melek Huruf” (Literacy) atau sebaliknya “Tingkat Buta Huruf”
(Literacy).

8. Produktivitas masyakat
Produktivitas masyarakat adalah kemampuan individu-individu dalam masyarakat
tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Hal itu meliputi
keterampilan, kemampuan manajerial, daya kreasi, serta emosi dan ambisi untuk
hidup lebih sejahtera.

9. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan Penduduk (Population Growth) dihitung dari “Tingkat Kelahiran
“(Birth Rate) dikurangi “Tingkat kematian” (Mortality Rate).

10. Tingkat pengangguran dan Setengah Menganggur


Pengertian dari “Setengah menganggur” (underemployment) adalah penduduk
kota atau desa yang bekerja di bawah jam kerja normal (harian, mingguan, atau
musiman), meliputi juga mereka yang bekerja secara normal dengan waktu
penuh tapi produktivitasnya rendah. Tingkat pengangguran terbuka di Dunia
ketiga saat saat ini kira-kira 10% hingga 15% dari angkatan kerja perkotaan.

Pendahuluan
Pulau Madura memiliki luas 5.304 km2 dan kondisi sosial, ekonomi, dan
lingkungan yang terbatas. Hal ini menyebabkan Pulau Madura tertinggal dari
kawasan lainnya di Jawa Timur (Moh. Adib, 2009). Ketertinggalan ini mendorong
diterapkannya strategi pembangunan.
Karena itu diperlukan kerangka kerjasama dan perencanaan partisipasi yang
lebih jelas untuk mewujudkan pembangunan pulau Madura yang berkelanjutan,
terutama di Kabupaten Bangkalan.
Sebagai sebuah rumusan, kajian ini difokuskan dalam dua masalah penting:
apakah ada faktor-faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mendukung
kerangka kerjasama dan perencanaan partisipatif di Bangkalan ? dan bagaimana
memanfaatkan faktor-faktor tersebut untuk mewujudkan kerjasama dan
perencanaan partisipatif untuk rencana industrialisasi Bangkalan?
Adapun tujuan dari kajian ini adalah untuk beberapa hal. Pertama,
memetakan potensi dan kendala sosial, ekonomi, dan lingkungan yang
memengaruhi kerjasama dan perencanaan partisipatif. Kedua, menyusun usulan
kerangka kerjasama dan perencanaan partisipatif untuk revitalisasi kota dan
kabupaten. Ketiga, memberikan saran-saran strategi secara kualitatif untuk
pembangunan Madura yang berkelanjutan secara umum.
Kemudian, manfaat dari kajian ini adalah terwujudnya “Pembangunan
Berkelanjutan” atau Sustainable Development” di Pulau Madura, terutama di
Kabupaten Bangkalan.
Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development didefinisikan
sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa memkompromikan
kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya (WCED, 1987).
Seharusnya masyarakat miskin diperhatikan dalam sebuah pembangunan
berkelanjutan.
Untuk mengatasi permasalahan pembangunan itu, Todaro, M.P., Smith S.C.,
ed. (2003) mengusulkan 3 tujuan dari pembangunan yang perlu diperhatikan.
Pertama, untuk meningkatkan ketersediaan dan melebarkan distribusi dari
kebutuhan dasar bertahan hidup seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan
perlindungan. Kedua, untuk meningkatkan level kehidupan termasuk pendapatan
yang lebih baik, pekerjaan yang lebih banyak, pendidikan yang lebih baik, dan
perhatian terhadap budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, untuk memperluas
pilihan-pilihan ekonomi dan sosial bagi individu-individu dan bangsa-bangsa dengan
membebaskan mereka dari perbudakan dan ketergantungan dari orang lain dan
Negara lain, serta membebaskan dari pengabaian dan kesengsaraan.
Selama ini pembangunan di Indonesia hanya berpusat pada masalah fisik.
Karena itu dibutuhkan perubahan paradigm semua pihak yang berkepentingan di
kota dan kabupaten tentang pembangunan berkelanjutan.
Diperlukan sebuat kerangka pembangunan berkelanjutan di kota atau
kabupaten di Indonesia yang memerhatikan kondisi sosial ekonomi lingkungan yang
ada. Selain itu partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk menerapkan
perencanaan partisipatif dan langkah-langkah pembangunan selanjutnya.
Terdapat beberapa faktor sosial, ekonomi dan lingkungan yang mendukung
kerangka kerjasama dan perencanaan partisipatif, diantaranya : status pendidikan;
status kemiskinan; budaya demokrasi atau pengambilan keputusan; transparansi
proses pembangunan dan pihak-pihak; akuntabilitas pihak-pihak; keadilan hukum;
budaya kerjasama; konflik sosial; dan ketersediaan sumber daya (sumber daya air,
daya dukung tanah, jaringan perhubungan, dan kesuburan tanah).
Untuk status pendidikan, mayoritas penduduk Bangkalan memiliki pendidikan
yang terbatas. Sebanyak 42% penduduk merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) dan
Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebaliknya hanya 2% penduduk yang
merupakan Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK).
Mengenai status kemiskinan, mayoritas penduduk Bangkalan, hidup di bawah
garis kemiskinan. Hal ini disebabkan karena di Bangkalan, subsistemnya
menggunakan pertanian tadah hujan (lading atau tegalan).
Konflik sosial di Madura, terutama Bangkalan, terjadi sangat sering. Konflik-
konflik sosial yang ditemukan pada penelitian Puslitbang Sosekling diantaranya
ialah :
1. Konflik birokrasi pemerintahan di antaranya tumpang tindihnya kewenangan
BPWS dan Pemda Kabupaten Bangkalan.
2. Konflik tanah, di antaranya terkait penolakan masyarakat terhadap
pembebasan lahan dan penggusuran makan leluhur.
3. Konflik wisata dan asusila terjadi karena ketidakjelasan aturan privatisasi
pengelolaan wisata.
4. Konflik industry dan pertambangan juga terjadi berupa penolakan dan
perusakan fasilitas oleh masyarakat terhadap pengeboran karena dampak
negative terhadap lingkungan.
5. Konflik perhubungan diataranya : ketidakjelasan atau perebutan trayek
angkutan, penolakan masyarakat terhadap pembangunan terminal bus.
6. Konflik nelayan di antaranya: pertikaian nelayan, penolakan masyarakat
terhadap Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Usulan Kerangka Kerjasama dan Perencanaan Partisipatif


Dalam kerangka kerjasama untuk revitalisasi kota dan kabupaten ini
diusulkan sebuah integrasi pendekatan baru pada kerangka perencanaan nasional
sampai lokal yang selama ini dikenal sebagai Musyawarah Rembug Warga untuk
pembangunan atau Musrembang.
Tiga langkah usulan yang baru ialah studi sosial ekonomi lingkungan;
evaluasi kelayakan dan integrasi rencana pembangunan dalam perencanaan tata
ruang serta forum diskusi penyusunan tata ruang serta forum diskusi penyusunan
rencana pembangunan dan rencana tata ruang kota/kabupaten.

Kesimpulan
Kerangka kerjasama dan perencanaan partisipatif yang lebih jelas untuk
mewujukan pembangunan pulau Madura yang berkelanjutan, terutama di Kabupaten
Bangkalan. Dan ditemukan bahwa Kabupaten Bangkalan. Dan ditemukan bahwa
Kabupaten Bangkalan ternyata memiliki karakter sosial, ekonomi dan lingkungan
yang unik.
Karena itu diusulkan beberapa rekomendasi yang terkait dengan revitalisasi
rencana tata ruang kabupaten-kabupaten di Pulau Madura. Kemudian diusulkan
pula peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pembebasan lahan,
konstruksi, operasi, dan pemeliharaan infrastruktur. Terakhir, diusulkan peningkatan
insfrastruktur jalan dan instalasi air baku dan distribusinya di Pulau Madura terutama
untuk kawasan industri terpadu.
Strategi ini diusulkan bersamaan dengan kerangka kerjasama dan
perencanaan partisipatif. Sebuah intergrasi tiga langkah usulan baru pada kerangka
perencanaan nasional sampai local. Tiga langkah usulan yang baru ialah Studi
Sosial Ekonomi Lingkungan; Evaluasi Kelayakan dan Integrasi Rencana
Pembangunan dalam Perencanaan Tata Ruang serta Forum Diskusi Penyusunan
Renana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang Kota / Kabupaten.
Kerangka ini sudah disosialisasikan dalam diskusi dengan para ahli dan
diskusi stake holders. Tetapi ternyata kerangka ini belum bisa diterima karena
penyebabnya terdapat perbedaan kepentingan antara pemerintah pusat, pemerintah
kabupaten dan masyarakat. Karena itu diperlukan sosialisasi dan penyempurnaan
kerangka ini di masa mendatang.