Anda di halaman 1dari 16

perencanaan dan formulasi kebijakan serta

manajemen proyek pembangunan


Mei 27, 2013eriza12 administrasi negara Tinggalkan komentar

Pengertian Perencanaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perencanaan berasal dari kata dasar rencana yang
artinya konsep, rancangan, atau program, dan perencanaan berarti proses, perbuatan, cara
merencanakan. Selain itu, rencana dapat diartikan sebagai pengambilan keputusan tentang apa
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, proses perencanaan harus dimulai
dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analis kebutuhan serta dokumen yang lengkap,
kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuantersebut.

Menurut H.B. Siswanto (2007:42) perencanaan adalah proses dasar yang digunakan untuk
memilih tujuan dan menentukan cakupan pencapaiannya. Menurutnya, merencanakan berarti
mengupayakan penggunaan sumberdaya manusia (human resources), sumber daya alam (natural
resources), dan sumberdaya lainnya (other resources) untuk mencapai tujuan .

George R. Terry dan Leslie W. Rue (2009:9) menyatakan bahwa planning atau perencanaan
adalah menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan
apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu. Sementara itu, Mulyasa
(2006:223) menjelaskan bahwa perencanaan adalah suatu bentuk dari pengambilan
keputusan(decisionmaking).

Hamzah B. Uno (2008: 2) juga menyatakan perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan
untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang
antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perencanaan


mengandung paling sedikit 4 unsur yaitu:
a. ada tujuan yang harus dicapai
b. ada strategi untuk mencapai tujuan
c. sumber daya yang mendukung
d. implementasi setiap keputusan
Perencanaan yang baik harus dapat menjawab enam pertanyaan yang disebut sebagai unsur-
unsur perencanaan yaitu :
1. Tindakan apa yang harus dikerjakan
2. Apa sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan
3. Dimana tindakan tersebut dilakukan
4.Kapantindakan tersebut dilakukan
5. Siapa yang akan melakukan tindakan tersebut
6. Bagaimana cara melaksanakan tindakan tersebut.
Perencanaan selalu mempunyai arah yang hendak dicapai yaitu tujuan yang harus dirumuskan
dalam bentuk sasaran yang jelas dan terukur. Strategi untuk mencapai tujuan berkaitan dengan
penetapan keputusan yang harus dilakukan oleh seorang perencana. Penetapan sumber daya yang
dapat mendukung diperlukan untuk mencapai tujuan meliputi penetapan sarana dan prasarana
yang diperlukan, anggaran biaya dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan. Implementasi adalah pelaksanaan dari strategi dan penetapan sumber daya.

Perencanaan adalah suatu cara untuk membuat suatu kegiatan dapat berjalan dengan baik,
disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif untuk memperkecil kesenjangan yang ada dan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan merupakan hasil proses berpikir dan
pengkajian dan penyeleksian dari berbagai alternatif yang dianggap lebih memiliki nilai
efektivitas dan efisiensi, yang merupakan awal dari semua proses pelaksanaan kegiatan yang
bersifat rasional.

Tujuan dan Manfaat Perencanaan

Menurut Bintoro Tjokroaminoto, perencanaan ialah proses mempersiapkan kegiatan-


kegiatan secara sistimatis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Tujuan Perencanaan :
1. Standar pengawasan, yaitu mencocokan pelaksanaan dengan perencanaan
2. Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan
3. Mengetahaui struktur organisasinya
4. Mendapatkan kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan
5. Memimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif
6. Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan
7. Menyerasikan dan memadukan beberapa subkegiatan
8. Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui
9. Mengarahkan pada pencapaian tujuan
10. Menghemat biaya, tenaga dan waktu

Tujuan perencanaan pembangunan nasional menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004,


antara lain:

1. Mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan


2. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar-daerah, antar-ruang,
antar-waktu, antar-fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan
dan pengawasan Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dan menjamin tercapainya
penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan

Manfaat Perencanaan

Adapun manfaat dari perencanaan yaitu Manfaat Perencanaan :

1. Standar pelaksanaan dan pengawasan


2. Pemilihan sebagai alternatif terbaik
3. Penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan
4. Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi
5. Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan
6. Alat memudahakan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait
7. Alat meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti

Perencanaan dalam Pembangunan

Menghadapi realitas kehidupan yang menunjukkan adanya kesenjangan kesejahteraan


mengakibatkan adanya pekerjaan berat kepada para ahli pembangunan termasuk di dalamnya
para pembuat kebijakan. Ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul
akibat kesenjangan kesejahteraan, perlu dilakukan upaya pembangunan yang terencana. Upaya
pembangunan yang terencana dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan yang
dilakukan. Lebih jauh lagi berarti perencanaan yang tepat sesuai dengan kondisi di suatu wilayah
menjadi syarat mutlak dilakukannya usaha pembangunan.

Perencanaan ada sebagai upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang
bersifat akumulatif. Artinya perubahan pada suatu keseimbangan awal dapat mengakibatkan
perubahan pada sistem sosial yang akhirnya membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan
awal. Perencanaan sebagai bagian daripada fungsi manajemen yang bila ditempatkan pada
pembangunan daerah akan berperan sebagai arahan bagi proses pembangunan berjalan menuju
tujuan di samping itu menjadi tolok ukur keberhasilan proses pembangunan yang dilaksanakan.

Menurut Tjokroamidjojo (1992), perencanaan dalam arti seluas-luasnya tidak lain adalah suatu
proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai
sesuatu tujuan tertentu. Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-
baiknya dengan sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif.

“Melihat ke depan dengan mengambil pilihan berbagai alternative dari kegiatan untuk mencapai
tujuan masa depan tersebut dengan terus mengikuti supaya pelaksanaan tidak menyimpang
tujuan”, Albert Waterston mendefinisikan perencanaan pembangunan seperti demikian.

Berbagai ahli memberikan definisi perencanaan. Bahkan ada yang memberikan pengertian lebih
luas contohnya Prof. Jan Tinbergen mengemukakan lebih kepada kebijaksanaan pembangunan
(development policy) bukan hanya perencanaan (plans) semata.

Perencanaan dapat dilakukan dalam berbagai bidang. Namun tidak semua rencana merupakan
perencanaan pembangunan Terkait dengan kebijaksanaan pembangunan maka pemerintah
berperan sebagai pendorong pembangunan (agent of development), ini terkait dengan definisi
perencanaan yang merupakan upaya institusi public untuk membuat arah kebijakan
pembangunan yang harus dilakukan di sebuah wilayah baik negara maupun di daerah dengan
didasarkan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh wilayah tersebut.

Perencanaan pembangunan memiliki ciri khusus yang bersifat usaha pencapaian tujuan
pembangunan tertentu. Adapun ciri dimaksud antara lain:
1. Perencanaan yang isinya upaya-upaya untuk mencapai perkembangan ekonomi yang kuat
dapat tercermin dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi positif.
2. Ada upaya untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.
3. Berisi upaya melakukan struktur perekonomian
4. Mempunyai tujuan meningkatkan kesempatan kerja.
5. Adanya pemerataan pembangunan.

Dalam prakteknya pelaksanaan pembangunaan akan menemui hambatan baik dari sisi pelaksana,
masyarakat yang menjadi obyek pembangunan maupun dari sisi luar semua itu. Lebih rinci
alasan diperlukannya perencanaan dalam proses pembangunan sebagai berikut:

1. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan memberikan perubahan yang sangat


cepat dalam masyarakat.
2. Perencanaan merupakan tahap yang penting apabila dilihat dari dampak pembangunan
yang akan muncul setelah proses pembangunan selesai.
3. Proses pembangunan yang dilakukan tentu saja memiliki keterbatasan waktu
pelaksanaan, biaya serta ruang lingkup pelaksanaannya.
4. Perencanaan juga dapat berperan sebagai tolok ukur keberhasilan pelaksanaan
pembangunan sehingga proses pembangunan yang dilakukan dapat dimonitor oleh pihak-
pihak terkait tanpa terkecuali masyarakat.

Perencanaan yang baik seperti sebuah perjalanan yang sudah melewati separuh jalan, karena
sisanya hanyalah tinggal melaksanakan dan mengendalikan. Apabila dalam pelaksanaannya
konsisten, pengendalian yang efektif, dan faktor-faktor pengganggu sedikit atau tidak memberi
pembiasan pelaksanaan pembangunan, maka pembangunan dapat dikatakan tinggal menanti
waktu untuk mencapai tujuan. Negara besar sekalipun tetap menghadapi berbagai masalah
pembangunan yang bertahap harus diselesaikan. Ada berbagai alasan sebagai pendorong untuk
melakukan perencanaan seperti menonjolnya kemiskinan, adanya perbedaan kepentingan,
keterbatasan sumber daya, sistem ekonomi pasar dan adanya tujuan tertentu yang ditetapkan.
Jadi Perencanaan pembangunan menjadi prioritas utama.

Proses Pembuatan Perencanaan

1. Menetapkan tugas dan tujuan


Antara tugas dan tujuan tidak dapat dipisahkan, suatu rencana tidak dapat difrmulir tanpa
ditetapkan terlebih dahulu apa yang menjadi tugas dan tujuannya. Tugas diartikan sebagai apa
yang harus dilakukan, sedang tujuan yaitu suatu atau nilai yang akan diperoleh.
2. Observasi dan analisa
Menentukan factor-faktor apa yang dapat mempermudah dalam pencapaian tujuan (Observasi)
bila sudah diketahui dan terkumpul, maka dilakukan analisa terhadapnya untuk ditentukan mana
yang digunakan.
3. Mengadakan kemungkinan-kemungkinan
Faktor yang tersedia memberikan perencanaan membuat beberapa kemungkinan dalam
pencapaian tujuan. Dimana kemungkinan yang telah diperoleh dapat diurut atas dasar tertentu,
misalnya lamanya penyelesian, besarbya biaya yang dibutuhkan efisiensi dan efektivitas dan lain
sebagainya.
4. Membuat sintesa
Sintesa yaitu alternatif yang akan dipilih dari kemungkinan-kemungkinan yang ada dengan cara
mengawinkan sitesa dari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Kemungkinan-kemungkinan yang
ada mempunyai kelemahan-kelemahan.

Pembuat Perencanaan

1. Panitia Perencanaan
Panitia ini terdiri dari beberapa unsure yang mewakili beberapa pihak, yang masing-masing
membawakan misinya untuk menghasilkan suatu rencana, dengan harapan rencana yang dibuat
akan lebih baik.
2. Bagian Perencanaan
Seringkali tugas perencanaan, merupakan tugas rutin dalam suatu organisasi atau perusahaan. Ini
merupakan satu unit dalam suatu organisasi yang bertugas khusus membuat rencana. Jadi disini
tidak ada unsur perwakilan yang mewakili suatu bagian dalam organisasi.
3. Tenaga Staf
Pada sebuah organisasi atau perusahaan ada dua kelompok fungsional yaitu :
– Pelaksana, tidak disamakan dengan pimpinan yaitu kelompok yang langsung menangani
pekerjaan
– Staf (pemikir) yaitu kelompok yang tidak secara langsung menghasilkan barang atau produk
perusahaan, tugasnya menganalisa fakta-fakta untuk kemudian merencanakan sesuatu guna.

Bentuk Perencanaan

1. Recana Global (Global Plan)


Analisa penyusunan recana global terdiri atas:
– Strenght yaitu kekuatan yang dimiliki oleh organisasi yang bersangkutan
– Weaknesses, memperhatikan kelemahan yang dimiliki organisasi yang bersangkutan.
– Opportunity yaitu kesempatan terbuka yang dimiliki oleh organisasi
– Treath yaitu tekanan dan hambatan yang dihadapi organisasi
2. Rencana Stategik (Strategic Plan)
Bagian dari rencana global yang lebih terperinci. Dimana dengan menyusun kerangka kerja yang
akan dilakukan untuk mencapai rencana global, dimensi waktunya adalang jangka panjang.
Dalam pencapaiannya dilakukan dengan system prioritas. Mana yang akan dicapai terlebih
dahulu.
Merupakan proses prencanaan jangka panjang yang tersusun dan digunakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan bersama. Tiga alasan penggunaan perencanaan strategic ini yaitu :
1. Memberikan kerangka dasar bagi perencanaan lainnya yang akan dilakukan
2. Mempermudah pemahaman bentuk-bentuk perencanaan lainnya.
3. Titik permulaan pemahaman dan penilaian kegiatan manajer dan organisasi.
3. Rencana Operasional ( Operational Plan )
Rencana ini meliputi perencanaan terhadap kegiatan-kegiatan operasional dan bersifat jangka
pendek.
– Rencana sekali pakai ( single use plan ) yaitu kegiatan yang tidak digunakan lagi setelah
tercapainya tujuan dan ini sifatnya lebih terperinci hanya sekali pakai, misalnya rencana
pembelian dan pemasangan mesin komputer dalam suatu perusahaan.
– Rencana Tetap ( Standing Plan ) yaitu berupa pendekatan-pendekatan standar untuk
penanganan-penanganan situasi yang dapat diperkirakan terlebih dahulu dan akan terjadi
berulang-ulang.

Implementasi Perencanaan

Perencanaan sebagai analisis kebijakan

 Didasari oleh logika berpikir ilmu manajemen, administrasi publik, ekonomi


neoklasik dan teknologi informasi.
 Tujuannya adalah untuk membantu pengambil keputusan untuk memahami
konsekuensi dari alternatif2 keputusannya.
 Perencana sebagai analis/teknokrat
 Msyarakat sebagai obyek dari rekayasa pemerintahan

Perencanaan sebagai pembelajaran sosial

 Ide dasarnya adalah merubah kedudukan masyarakat dari obyek menjadi subyek
pembangunan
 Berawal dari kritik dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan bukan building
block untuk rekonstruksi sosial. Pengetahuan diperoleh dari
pengalaman dan disempurnakan melalui praktek
 Dilakukan dengan dialog antara masyarakat dengan pemegang kekuasaan
 Penekanan pembelajaran sosial adalah pada proses dialogis, relasi non hirarkis,
komitmen pelaksanaan eksperimen sosial, toleransi terhadap perbedaan dan
mengutamakan transaksi sosial

Perencanaan sebagai Perubahan Sosial

 Pelembagaan praktek perencanaan à peran negara dominan à menempatkan


perencanaan merupakan bagian dari aparatur pemerintah
 Penekanan pada upaya penemuan cara paling efektif bagi negara dalam perencanaan
 Perencana sebagai teknokrat à perencana harus mendengarkan suara masyarakat
tetapi tidak harus memperhatikannya.
 Perubahan sosial dipengaruhi oleh tradisi pemikiran positivisme dari pada penekanan
terhadap keterlibatan aktor sosial dalam proses perencanaan
 Tradisi ini bersifat top down, karena masyarakat dianggap masih belum mempunyai
kompetensi perencanaan

Perencanaan sebagai mobilisasi sosial

 Merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam perencanaan


 Penekanan kepada emansipasi kemanusiaan terhadap penindasan sosial
 Tipe perencanaan ini akan selalu berhadapan dengan segala kekuatan penindas, baik
yang terstruktur (birokrat) maupun yang kecil (preman)
 Prinsip tipe ini adalah kebebasan merupakan hak individu yang dibatasi oleh
kebebasan individu lainnya.
 Perencanaan ini disebut pula sebagai perencanaan yang radikal
 Peran perencana sebagai fasilitator atau penasehat masyarakat dan tidak membuat
jarak dengan masyarakat

Apa itu Formulasi Kebijakan

 Formulasi kebijakan publik adalah langkah yang paling awal dalam proses kebijakan
public secara keseluruhan. Oleh karenanya, apa yang terjadi pada fase ini akan sangat
menentukan berhasil tidaknya kebijakan publik yang dibuat itu pada masa yang akan
datang.
 Menurut Anderson (Dalam Winarno, 2007 : 93) formulasi kebijakan menyangkut upaya
menjawab pertanyaan bagaimana berbagai alternatif disepakati untuk masalah
masalahyang dikembangkan dan siapa yang berpartisipasi.
 Lindblom (dalam Solichin Abdul Wahab, 1997:16)mendefinisikan formulasi kebijakan
publik ( public policy making ) sebagai berikut:

merupakan proses politik yang amat kompleks dan analisis dimana tidak mengenal saat dimulai
dan diakhirinya dan batas dariproses itu sesungguhnya yang paling tidak pasti,serangkaian
kekuatan yang agak kompleks itu kita sebut sebagai pembuatan kebijakan publik, itulah yang
kemudian membuahkan hasil yang disebut kebijakan

Model-model Formulasi Kebijakan

ü Model Elite

 Kebijakan sebagai Preferensi Elite


 Rakyat dibuat apatis dan miskin informasi sehingga elitlah yang membentuk pendapat
umum serta kebijakan mengalir dari elit ke massa melalui administrator-administrator
(pejabat pemerintah,birokrat).
 Masyarakat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kecil (elit ) yang mempunyai
kekuasaan dan kelompok besar (massa) yang tidak mempunyai kekuasaan. Hanya elit
yang menentukan kebijakan sedangkan massa tidak menentukan kebijakan
 Kelompok kecil yang memerintah pada umumnya mempunyai kedudukan sosial ekonomi
yang tinggi.
 Kebijaksanaan negara tidak memantulkan kebutuhan-kebutuhan rakyat tetapi lebih
banyak mengutamakan kepentingan elit, oleh karena itu perubahan terhadap kebijakan
lebih banyak dilakukan secara lamban danbertahap (inkremental) daripada bersifat
revolusioner.
 Untuk mencapai stabilitas dan menghindari terjadinya revolusi, bergeraknya kelompok
non-elit ke posisi elitdibuat secara lamban dan harus dikendalikan secarakontinyu karena
hal itu dipandang dapat membahayakan kepentingan elit.
 Elit secara aktif selalu berusaha agar dapa tmempengaruhi massa yang sifatnya pasif dan
apatis.Elit lebih banyak mempengaruhi melalui para administrator dan selanjutnya para
administrator yang menjabarkan kebijaksanaan pemerintah kepada masyarakat.
ü Model Kelompok

 Individu-individu yang memiliki kepentingan yang samamengikat baik secara formal


maupun non-formal kedalam kelompok kepentingan yang dapat mengajukandan
memaksakan kepentingannya kepada pemerintah.
 Interaksi dalam kelompok akan menghasilkankeseimbangan dan keseimbangan adalah
yang terbaik.
 Mengandaikan kebijakan publik sebagai titikkeseimbangan. Untuk menjaga
keseimbangan itu makatugas atau peranan sistem politik adalah unaukmenengahi konflik
yang terjadi diantara kelompok-kelompok tersebut.
 Kelompok-kelompok kepentingan berusaha untukmempengaruhi isi dan bentuk
kebijakan secara interaktif.

ü Model Kelembagaan

 Kebijakan dianggap sebagai hasil dari lembaga-lembagapemerintah (parlemen,


kepresidenan, kehakiman,pemerintah daerah dan sebagainya) yang meliputiproses-proses
perumusan, pelaksanaan dan pemeksaansecara otoritatif oleh lembaga-lembaga
pemerintahtersebut.
 Pemerintah memberikan legitimasi terhadapkebijaksanaan yang akan ditempuhnya,
sedangkanrakyat sebagai penerima kebijakan tersebut.
 Pemerintah melaksanakan kebijakannya secarauniversal dan tidak ada seorangpun yang
bisamenghindar. Hanya pemerintah yang berhakmemaksakan pelaksanaan kebijakan
kepadamasyarakat.

ü Model Proses

 Menekankan pada bagaimana tahapan aktivitas yangdilakukan para aktor politik dalam
menghasilkankebijakan.
 Kebijakan dimaknai sebagai suatu aktivitas yang menyertakan rangkaian-rangkaian
kegiatan (yangberproses) yang berakhir pada evaluasi kebijakan.
 Dalam memformulasikan kebijakan ada standar-standar yang seharusnya dilakukan oleh
para formulator kebijakan agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan apa yang hendak
dicapai

ü Model Rasionalisme

 Bagaimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah harus memperhitungkan rasionalistas


costs ang benefitsnya bagi masyarakat melalui cara-cara :
 Mengetahui pilihan-pilihan dan kecenderungan-kecenderungan yang diinginkan oleh
masyarakat
 Menemukan pilihan-pilihan kebijakan yang mungkinuntuk diimplementasikan
 Menilai perbandingan perhitungan untung-rugi yangakan diperoleh apabila kebijakan
itudiimplementasikan
 Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien danekonomis.
ü Model Inkremental

 Model formulasi kebijakan publik yang berusahamerevisi formulasi model rasional.


 Model formulasi kebijakan yang ³melanjutkan´ atau³memodifikasi´ kebijakan-kebijakan
yang tengahberlangsung ataupun kebijakan-kebijakan yang telahlalu.
 Biasa disebut dengan model praktis karenapendekatannya yang terlalu sederhana dan
praktis
 Banyak digunakan oleh negara-negara berkembangkarena pemerintah-pemerintah negara
berkembang selalu berhadapan dengan berbagai problem dari keterbatasan waktu untuk
menyelesaikan permasalahan yang terus berkembang, keterbatasan dana yangdimiliki.
 Asumsi dasar dari model ini adalah bahwa perubahaninkremental (penambahan) adalah
proses perubahan kebijakan yang paling aman dan tidak menimbulkan resiko dengan
melanjutkan kebijakan sesuai dengan arah tujuan kebijakan lama.
 Model ini membatasi pertimbangan-pertimbangankebijakan alternatif dengan kebijakan-
kebijakan yangsecara relatif mempunyai tingkat perbedaan yang kecildengan kebijakan
yang sudah berlaku.
 Kebijakan selalu bersifat serial, fragmentary dan sebagian besar remedial

ü Model Teori Permainan

 Kebijakan publik berada dalam kondisi kompetisi yangsempurna, sehingga pengaturan


strategi agar kebijakanyang ditawarkan pada pengambil kepeutusan lain dapatditerima,
khususnya oleh para penentang.
 Pengaturan/pemilihan strategi menjadi hal yang palingutama.
 Serasional apapun kebijakan yang diajukan tetapi tidakpandai mengatur strategi, maka
sangat dimungkinkankebijakan publik yang baik dan rasional justru tidakbanyak
didukung oleh para pengambil keputusan.Sebaliknya apabila ada kebijakan yang tidak
terlalu baikuntuk publik, tetapi sang inisiator kebijakan mampumengatur strategi dengan
baik, maka akan sangatmungkin kebijakan yang ditawarkan akan banyakmendapat
dukungan.

ü Model Pilihan Publik

 Kebijakan yag dibuat oleh pemerintah haruslah kebijakanyang memang berbasis pada
public choice ( pilihan public)
 Asumsinya dalam negara yang demokratis yangmengedepankan one-men-one-vote, maka
siapa yang dapatmenghimpun suara terbanyak dialah yang akan menjadipemegang
kekusaan/keputusan.
 Kebijakan yang mayoritas merupakan konstruksi teori kontraksosial, sehingga ketika
kebijakan akan diputuskan akansangat tergantung pada preferensi publik atas pilihan-
pilihanyang ada.
 Ketika ada satu pilihan dari banyak pilihan yanmg ditawarkanoleh pemerintah dipilih
oleh mayoritas publik/warga negara,maka serta merta pilihan publik itulah yang menjadi
kebijakan.

ü Model Sistem
 Kebijakan merupakan hasil dari sistem politik
 Kebijakan sebagai interaksi yang terjadi antaralingkungan dengan para pembuat
kebijakan dalam suatuproses yang dinamis.
 Model ini mengasumsikan bahwa dalam pembuatankebijakan terjadi interaksi yang
terbuka dan dinamisantara pembuat kebijakan dengan lingkungannya.Interaksi yang
terjadi dalam bentuk keluaran danmasukan ( input dan output ). Keluaran yang
dihasilkanoleh organisasi pada akhirnya akan menjadi bagianlingkungan dan seterusnya
akan berinteraksi denganorganisasi.
 Kebijakan publik dipandang sebagai taggapan darisistem politik terhadap tuntutan-
tuntutan yang timbul darilingkungan yang merupakan kondisi atau keadaan yangberada
di luar batas-batas sistem politik.
 Kekuatan-kekuatan yang timbul dari lingkungan danmempengaruhi sistem politik
dipandang sebagaimasukan-masukan (input) bagi sistem politik sedangkanhasil-hasil
yang dikeluarkan oleh sistem politik yangmerupakan tanggapan terhadap tuntuta-tuntutan
tadidipandang sebagai keluaran (output) dari sistem politik.
 Sistem politik adalah sekumpulan struktur dan prosesyang saling berhubungan yang
berfungsi secara otoritatif untuk mengalokasikan nilai-nilai bagi masyarakat.Keluaran-
keluaran (output) dari sistem politik merupakanalokasi-alokasi nilai secara otoritatif dari
sistem danalokasi-alokasi ini merupakan kebijakan publik.

ü Model Mixed Scanning

 Model formulasi kebijakan hibrida (gabungan unsur-unsur kebaikan yang ada pada model
rasional dan inkremental)
 Model pengamatan terpadu diajurkan pertama kali oleh AmitaiEtzioni yang merupakan
perbaikan dari model inkrementaldan resionalisme sekaligus.
 Model ini memberikan jalan bagi pengambilan keputusanyang memperhitungkan baik
keputusan yang bersifatpundamental maupun keputusan yang bersifat
inkremental.Etzioni mengilustrasikannya dengan dua buah kamera, yaitukamera pertama
memiliki sudut lebar yang mampumenjelajahi seluruh permukaan langit, tetapi tidak
terlalu rincidan kamera yang kedua yang berfungsi untuk memfokuskanpengamatan pada
daerah yang memerlukan pengamatanyang lebih rinci. Dengan demikian, model ini
akanmemungkinkan penggunaan model rasionalisme maupuninkremental pada situasi
yang berbeda beda.

Tahap-tahap Formulasi Kebijakan

Winarno (2002:80-84) membagi tahapan Formulasikebijakan publik menjadi empat tahap, yaitu:
perumusanmasalah, (defining problem), agenda kebijakan,pemilihan alternatif kebijakan untuk
memecahkanmasalah dan tahap penetapan kebijakan.

A.Perumusan Masalah

 Mengenali dan merumuskan masalah


 mengidentifikasi problem yang akan dipecahkan,kemudian membuat perumusan yang
sejelas- jelasnya terhadap problem tersebut.
B. Agenda Kebijakan

Tidak semua permasalahan akan masuk dalamagenda kebijakan. Masalah-masalah tersebut


saling berkompetisi antara satu dengan yang lain. Hanyamasalah-masalah tertentu saja yang pada
akhirnyaakan masuk dalam agenda kebijakan.

C. Pemilihan Alternatif Kebijakan

Setelah permasalahan dapat didefinisikan dengan baikdan para perumus kebijakan sepakat untuk
memasukan masalah-masalah tersebut dalam agenda kebijakan,maka langkah selanjutnya adalah
membuat pemecahan masalah. Di sini para perumus kebijakan akan berhadapan dengan
alternatif-alternatif pilihan kebijakan yang dapat diambil untuk memecahkan permasalahan.

Islamy (1984:92) menyebut tahap ini dengan perumusanusulan kebijakan. Dalam hal ini
perumusan usulan kebijakan adalah kegiatan menyusun dan mengembangkan serangkaian
tindakan yang perlu untuk memecahkan masalah. Perumusan usulan kebijakan ini terdiri dari
kegiatan mendefinisikan dan merumuskan alternatif, menilai masing-masing alternatif yang
tersedia, dan memilih alternatif yang memuaskan atau paling memungkinkan untuk
dilaksanakan. Dalam tahap ini para perumus kebijakan akan berhadapan pada pertarungan
kepentingan antar berbagai aktor yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Dalam kondisi
seperti ini,maka pilihan-pilihan kebijakan akan didasarkan padakompromi dan negosiasi antar
aktor yang berkepentingan dalam pembuatan kebijakan tersebut (Winarno, 2002:83-84).

D. Penetapan Kebijakan

Setelah salah satu dari sekian alternatif kebijakan diputuskan diambil sebagai cara untuk
memecahkan masalah kebijakan,maka tahap yang paling akhir dalam pembuatan kebijakan
adalah menetapkan kebijakan yang dipilih tersebut sehingga mempunyai kekuatan hukum yang
mengikat (Winarno,2002:84).

Aktor dalam Formulasi Kebijakan

 Jones (1991:142-149) secara garis besar membagi aktor-aktor yang terlibat dalam proses
formulasi kebijakan menjadi dua, yaitu aktor-aktor di dalam pemerintahan dan aktor-
aktor di luar pemerintahan. Aktor-aktor dalam pemerintahan dapat
diidentifikasikanmenjadi dua yaitu eksekutif dan legislatif , Sedangkan aktor-aktor di luar
pemerintahan menurut Jones (1991:146-147) terdiri dari organisasi masyarakat,dan
swasta, organisasi nirlaba (non profit ), maupun organisasi-organisasi atau lembaga-
lembaga yangmemberikan pelayanan umum.
 Winarno (2000:84) membagi aktor-aktor dalam perumusan kebijakan publik menjadi
dua, yaitu : pemeran serta resmi dan pemeran serta tidak resmi. Pemeran serta resmi
terdiri dari agen-agen pemerintah(birokrasi), presiden (eksekutif), legislatif dan
yudikatif.Sedangkan pemeran serta tidak resmi adalah kelompok-kelompok kepentingan,
partai politik dan warga negaraindividu.

Tipe Golongan/Aktor yang terlibat Dalam Formulasi :


Golongan rasionalis

Golongan rasionalis mempunyai ciri dalam melakukanpilihan alternatif kebijakan selalu


menempuh metode-metode atau langkah-langkah yang terstruktur, yaitu : mengidentifikasi
masalah, merumuskan tujuan dan menyusunnya dalam jenjang tertentu, mengidentifikasi semua
alternatif kebijakan, meramalkan dan memprediksikan akibat-akibat dari setiap
alternatif,membandingkan akibat-akibat tersebut dengan selalu mengacu pada tujuan dan
memilih alternatif yangterbaik. Golongan aktor rasionalis ini identik dengan perencana dan
analis kebijakan professional dan terlatih.

Golongan teknisi

Golongan teknisi adalah aktor yang dilibatkan karena bidang keahliannya atau spesialisasinya,
dengan tujuan yang sudah ditetapkan oleh pihak lain. Peran yang dimainkan adalah sebagai
seorang spesialis atau ahli yang dibutuhkan tenaganya untuk menangani bidang-bidang tertentu.

Golongan Inkrementalis

Golongan inkrementalis menurut Solichin Abdul Wahab(1997:30) dapat diidentikan dengan para
politisi, karena cenderung memiliki sikap kritis namun acap kali tidaksabaran terhadap gaya
kerja para perencana danteknisi walaupun sebenarnya mereka sangat tergantung pada mereka.

Kebijakan menurut golongan inkrementalis cenderung dilihat sebagai suatu perubahan yang
terjadi sedikit demi sedikit,serta tujuan kebijakan dianggap sebagai konsekuensi dariadanya
tuntutan-tuntutan, baik karena didorong kebutuhan untuk melaksanakan sesuatu yang baru atau
karenakebutuhan untuk menyesuaikan dengan apa yang sudah dikembangkan dalam teori.
Golongan inkrementalis inidikategorikan sebagai aktor yang mampu melakukan tawar-
menawar atau bargaining secara teratur sesuai dengan tuntutan, menguji seberapa jauh intensitas
tuntutan tersebut dan menawarkan kompromi.

Golongan Reformis

Golongan reformis merupakan golongan yang berpendirian bahwa keterbatasan informasi dan
pengetahuan adalah yang mendikte gerak dan langkah dalam proses pembuatan kebijakan
dengan tekanan perhatian pada tindakan sekarang karena urgensi permasalahan yang dihadapi.
Pendekatan iniumumnya ditempuh oleh para lobbyist.

Nilai yang Berpengaruh dalam Formulasi Kebijakan

Nilai-nilai politik

yaitu dasar yang dipakai oleh parapembuat keputusan untuk menilai alternatif-
alternatif kebijakan berupa kepentingan partai politik beserta kelompoknya (clientele group).

Nilai-nilai organisasi
dipakai para pembuat keputusankhususnya birokrat karena organisasi-organisasimenggunakan
banyak imbalan (reward ) dan sanksi dalamusahanya untuk mempengaruhi anggota-anggotanya
agar menerima dan bertindak atas dasar nilai-nilai organisasiyang telah dirumuskan. Keputusan
individu bisa jugadiarahkan oleh pertimbangan-pertimbangan semacamkeinginan-keinginan
untuk melihat organisasi agar tetapeksis, untuk memperbesar program atau kegiatan,kekuasaan
atau hak istimewanya.

Nilai-nilai pribadi

yaitu kriteria keputusan yangdidasarkan usaha untuk melindungi danmengembangkan


kepentingan ekonomi, reputasi ataukedudukan.

Nilai-nilai kebijakan

yaitu tindakan pembuat keputusandengan dasar persepsi mereka tentang kepentinganmasyarakat


atau kepercayaan-kepercayaan mengenaiapa yang merupakan kebijakan publik secara
moralbenar atau pantas.

Nilai-nilai ideologi

adalah seperangkat nilai dankepercayaan-kepercayaan yang berhubungan secaralogis yang


memberikan gambaran dunia yangdisederhanakan dan merupakan pedoman bagi rakyatuntuk
melakukan tindakan.

Definisi Manajemen Proyek Pembangunan

Proyek merupakan tugas yang perlu dirumuskan untuk mencapai sasaran yang dinyatakan secara
konkrit serta harus di selesaikan dalam suatu priode tertentu dengan menggunakan tenaga
manusia dan alat-alat yang terbatas dan begitu kompleks sehingga dibutuhkan pengelolaan dan
kerjasama yang berbeda sari yang biasanya digunakan. Cirri-ciri proyek meliputi : sasaran yang
diarahkan pada perubahan atau pembaharuan, proyek bersifat antar disiplin, ada batasan awal
dan batasan akhir pelaksanaan proyek.

Definisi dari manajemen proyek yaitu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan ketrampilan,
cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang
telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, waktu, mutu dan
keselamatan kerja. Dalam manajemen proyek, perlunya pengelolaan yang baik dan terarah
karena suatu proyek memiliki keterbatasan sehingga tujuan akhir dari suatu proyek bisa tercapai.
Yang perlu dikelola dalam area manajemen proyek yaitu biaya, mutu, waktu, kesehatan dan
keselamatan kerja, sumberdaya, lingkungan, resiko dan sistem informasi.

Tahapan dalam sebuah Proyek

1. Perencanaan
Untuk mencapai tujuan, sebuah proyek perlu suatu perencanaan yang matang. Yaitu dengan
meletakkan dasar tujuan dan sasaran dari suatu proyek sekaligus menyiapkan segala program
teknis dan administrasi agar dapat diimplementasikan.Tujuannya agar memenuhi persyaratan
spesifikasi yang ditentukan dalam batasan waktu, mutu, biaya dan keselamatan kerja.
Perencanaan proyek dilakukan dengan cara studi kelayakan, rekayasa nilai, perencanaan area
manajemen proyek (biaya, mutu, waktu, kesehatan dan keselamatan kerja, sumberdaya,
lingkungan, resiko dan sistem informasi.

2. Penjadwalan

Merupakan implementasi dari perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal
rencana dan kemajuan proyek yang meliputi sumber daya (biaya, tenaga kerja, peralatan,
material), durasi dan progres waktu untuk menyelesaikan proyek. Penjadwalan proyek
mengikuti perkembangan proyek dengan berbagai permasalahannya. Proses monitoring dan
updating selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis agar sesuai dengan
tujuan proyek. Ada beberapa metode untuk mengelola penjadwalan proyek, yaitu Kurva S
(hanumm Curve), Barchart, Penjadwalan Linear (diagram Vektor), Network Planning dan waktu
dan durasi kegiatan. Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana semula, maka dilakukan
evaluasi dan tindakan koreksi agar proyek tetap berada dijalur yang diinginkan.

3. Pengendalian Proyek

Pengendalian mempengaruhi hasil akhir suatu proyek. Tujuan utama dari utamanya yaitu
meminimalisasi segala penyimpangan yang dapat terjadi selama berlangsungnya proyek. Tujuan
dari pengendalian proyek yaitu optimasi kinerja biaya, waktu , mutu dan keselamatan kerja harus
memiliki kriteria sebagai tolak ukur. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengendalian yaitu
berupa pengawasan, pemeriksaan, koreksi yang dilakukan selama proses implementasi.

Peran Manajer dalam Proyek

Keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada bagaimana seorang manajer berinovasi dan
mengambil keputusan dengan tepat.Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
manajer proyek handal adalah kemampuan dalam melakukan manajemen ruang lingkup proyek.
Dalam hal ini, seorang manajer proyek harus mampu memastikan bahwa seluruh aktivitas yang
dilakukan dalam proyek adalah aktivitas yang berhubungan dengan proyek dan aktivitas tersebut
telah memenuhi kebutuhan proyek. Dengan kata lain, manajemen ruang lingkup proyek memiliki
fungsi untuk mendefinisikan serta mengendalikan aktivitas-aktivitas apa yang bisa dilakukan dan
aktivitas-aktivitas apa saja yang tidak boleh dilakukan dalam menyelesaikan suatu proyek.

Terdapat beberapa proses yang perlu dilakukan seorang manajer proyek dalam melakukan
manajemen ruang lingkup proyek, yaitu :

1. Perencanaan ruang lingkup proyek.


Pada tahap ini, manajer proyek akan mendokumentasikan bagaimana ruang lingkup proyek akan
didefinisikan, diverifikasi, dikontrol dan menentukan bagaimana WBS akan dibuat serta
merencanakan bagaimana mengendalikan perubahan akan ruang lingkup proyek.

2. Mendefinisikan ruang lingkup proyek.

Pada tahap ini, ruang lingkup proyek akan didefinisikan secara terperinci sebagai landasan untuk
pengambilan keputusan proyek dimasa depan.

3. Membuat Work Breakdown Structure.

WBS merupakan pembagian deliverables proyek berdasarkan kelompok kerja. WBS dibutuhkan
karena pada umumnya dalam sebuah proyek biasanya melibatkan banyak orang dan deliverables,
sehingga sangat penting untuk mengorganisasikan pekerjaan-pekerjaan tersebut menjadi bagian-
bagian yang lebih terperinci lagi.

4. Melakukan verifikasi ruang lingkup proyek.

Tahap ini merupakan tahap dimana final project scope statement diserahkan kepada stakeholder
untuk diverifikasi.

5. Melakukan kontrol terhadap ruang lingkup proyek.

Dalam pelaksanaan proyek, tidak jarang ruang lingkup proyek mengalami perubahan. Untuk itu,
perlu dilakukannya kontrol terhadap perubahan ruang lingkup proyek. Perubahan yang tidak
terkendali, akan mengakibatkan meluasnya ruang lingkup proyek.

Manajemen waktu proyek juga merupakan salah satu kompetensi yang harus dimilikioleh
seorang manajer proyek. Manajemen waktu proyek dibutuhkan manajer proyek untuk
memantau dan mengendalikan waktu yang dihabiskan dalam menyelesaikan sebuah proyek.
Dengan menerapkan manajemen waktu proyek, seorang manajer proyek dapat mengontrol
jumlah waktu yang dibutuhkan oleh tim proyek untuk membangun
deliverables proyek sehingga memperbesar kemungkinan sebuah proyek dapat diselesaikan
sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Terdapat beberapa proses yang perlu dilakukankan seorang manajer proyek dalam
mengendalikan waktu proyek yaitu :

1. Mendefinisikan aktivitas proyek.

Merupakan sebuah proses untuk mendefinisikan setiap aktivitas yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan proyek.

2. Urutan aktivitas proyek.


Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan hubungan antara tiap-tiap
aktivitas proyek.

3. Estimasi aktivitas sumber daya proyek.

Estimasi aktivitas sumber daya proyek bertujuan untuk melakukan estimasi terhadap penggunaan
sumber daya proyek.

4. Estimasi durasi kegiatan proyek.

Proses ini diperlukan untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan proyek.

5. Membuat jadwal proyek.

Setelah seluruh aktivitas, waktu dan sumber daya proyek terdefinisi dengan jelas, maka seorang
manager proyek akan membuat jadwal proyek. Jadwal proyek ini nantinya dapat digunakan untu
menggambarkan secara rinci mengenai seluruh aktivitas proyek dari awal pengerjaan proyek
hingga proyek diselesaikan.

6. Mengontrol dan mengendalikan jadwal proyek.

Saat kegiatan proyek mulai berjalan, maka pengendalian dan pengontrolan jadwal proyek perlu
dilakukan. Hal ini diperlukan untuk memastikan apakah kegiatan proyek berjalan sesuai dengan
yang telah direncanakan atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Sudiri, haryono. 2002. Pengantar Study Administrasi Pembangunan. Jakarta : Bumi Aksara.

Gatot, Antonius. 2009. Perencanaan Proyek Berbasis Risiko Pembangunan Sistem Informasi
Manajemen Aset Di PDAM Kotamadya Malang, (online), (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-
Master-17044-Paper-pdf.pdf , diakses 07 mei 2012)

http://aguswibisono.com/2010/manajemen-proyek/

http://www.scribd.com/doc/36045930/Manajemen-Proyek-Pembangunan

http://manajemenproyek.net/manajemen-ruang-lingkup-proyek.html

http://manajemenproyek.net/manajemen-waktu-proyek.html