Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Infeksi HIV/AIDS (Human hnmunodeficiency virus/Acquired
lmmune Deficiency Syndrome) pertama kali dilaporkan di
Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa homoseksual,
sedangkan pada bayi tahun 1983. Enam tahun kemudian
(1989), AIDS sudah merupakan penyakit yang mengancam
kesehatan bayi di Amerika. Di seluruh dunia AIDS
menyebabkan kematian pada lebih dari 8,000 orang seriap hari
saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik. Karena itu infeksi
HIV dianggap senagai penyebab kematian tertinggi akibat satu
jenis agen infeksius.
Sejak dimulainya epidemi HIV AIDS telah mematikan lebih
dari 25 juta orang; lebih dari 14 iuta bayi kehilangan salah satu
atau kedua orang tuanya akibat AIDS. Setiap tahun
diperkirakan 3 juta orang meninggal karena AIDS; 500.000
diantaranya adalah bayi di bawah umur 15 tahun. Setiap
tahun pula terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di
negara terbelakang dan berkembang; 700.000 diantaranya
terjadi pada bayi-bayi. Dengan angka transmisi sebesar ini
maka dari 37.8 iuta orang pengidap infeksi HIV/AIDS pada
tahun 2005, terdapat 2.l juta bayi-bayi di bawah 15 tahun.
Sejauh ini lebih dari 6,5 juta perempuan di Indonesia jadi
populasi rawan tertular HIV. Lebih dari 24.000 perempuan usia
subur telah terinfeksi HIV, dan sedikitnya 9000 perempuan
hamil terinfeksi HIV positif setiap tahun. Bila tidak ada
program pencegahan, lebih dari 30% diantaranya melahirkan

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 1


bayi yang tertular HIV. Pada tahun 2015, diperkirakan akan
terjadi penularan pada 38.500 bayi yang dilahirkan dari ibu
yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006, diprediksi 4.360 bayi
terkena HIV dan separuh diantaranya meninggal dunia. Saat
ini diperkirakan 2.320 bayi terinfeksi HIV.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan HIV?
2. Bagaimbayiah epidemiologi HIV pada bayi sekarang ini?
3. Bagaimana cara penularan HIV pada bayi?
4. Siapa saja yang bias menjadi factor resiko penularan HIV ?
5. Apa manifestasi klinik dari ODHA pada bayi?
6. Bgaimana diagnose, HIV pada bayi dan bayi?
7. Bagaimana cara pengobatan dan pencegahan ODHA pada
bayi?
8. Bagaiamana prognosis hiv/aids pada bayi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan HIV/AIDS
2. Untuk mengetahui epidemiologi HIV pada bayi sekarang ini
3. Untuk mengetahui cara penularan HIV pada bayi
4. Untuk mengetahui siapa saja yang bias menjadi factor
resiko penularan HIV
5. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari ODHA pada bayi
6. Untuk mengetahui diagnose, HIV pada bayi dan bayi
7. Untuk mengetahui cara pengobatan dan pencegahan ODHA
pada bayi
8. Untuk mengetahui Bagaiamana prognosis hiv/aids pada
bayi

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 2


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom
cacat kekebalan dapatan merupakan epidemi mikroorganisme
terpenting dari abad ke-20, yang untuk pertama kalinya
disinyalir di AS pada awal tahun 1980-an (Nursalam, 2008).
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah
kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system
kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi
Human Immunodeficiency virus (HIV). AIDS adalah Runtuhnya
benteng pertahanan tubuh yaitu system kekebalan alamiah
melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, yaitu dengan
hancurnya sel limfosit T (sel-T) (Rampengan dan Laurentz,
1995)

B. Diagnosis HIV pada Bayi


Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal
secara klinis selama periode neonatal. Penyakit penanda AIDS
tersering yang ditemukan pada bayi adalah pneumonia yang
disebabkan Pneumocystis carinii. Gejala umum yang ditemukan
pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh
kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau
hepatosplenomegali (pembesaran hati dan lien). Karena
antibody ibu bisa diseteksi pada bayi sampai bayi berusia 18
bulan, maka tes ELISA dan Western Blot akan positif meskipun
bayi tidak terinfeksi HIV Karena tes ini berdasarkan ada atau
tidaknya antibody terhadap virus HIV.

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 3


Tes paling spesifik untuk mengidentifkasi HIV adalah PCR
untuk DNA HIV. Kultur HIV yang positif juga menunjukkan
pasien terinfeksi HIV. Untuk pemeriksaan PCR, bayi harus
dilakukan pengambilan sampel darah untuk tes PCR pada dua
saat yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat bayi
berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitive selama periode
satu bulan setelah lahir. CDC merekomendasikan pemeriksaan
DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia empat
bulan. Jika tes ini negative, maka bayi tidak terinfeksi HIV.
Tetapi, bila bayi tersebut mendapatkan ASI, maka bayi beresiko
tertular HIV sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi
disapih. Pada usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa
dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan
yang lain.
Bayi-bayi berusia berusia lebih dari 18 bulan bisa
didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala
klinis dan pemeriksaan laboratorium. Bayi dengan HIV sering
mengalami infeksi bakteri kumat – kumatan, gagal tumbuh
atau wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan
berkembang, sariawan pada mulut dan faring. Bayi usia lebih
dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi
lain seperti pada dewasa. Terdapat dua klasifikasi yang bisa
digunakan untuk mendiagnosis bayi dan bayi dengan HIV yaitu
menurut CDC dan WHO.

C. Epidemiologi
Tiga populasi pediatric utama yang beresiko infeksi HIV-1
adalah bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terkontaminasi
HIV- sebelum tahun 1985-198. Dan remaja yang mendapat

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 4


infeksi yang akut secara seksual atau karena penggunaan obat-
obatan intravena.
AIDS pada bayi pertama kali dilaporkan oleh Oleske,
Rubinstein dan Amman pada tahun 1983 di Amerika serikat
sejak itu laporan jumlah AIDS pada bayi di Amerika makin
lama makin meningkat. Pada bulan Desember 1989 di Amerika
telah dilaporkan 1995 bayi yang berumur kurang dari 13 tahun
yang menderita AIDS dan pada bulan Maret 1993 terdapat
4.480 kasus. Jumlah ini merupakan l,5 % dari seruruh jumlah
kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di Eropa sampai
tahun 1988 terdapat 356 bayi dengan AIDS. Kasus infeksi HIV
terbanyak pada orang dewasa maupun bayi-bayi tertinggi di
dunia adalah di Afrika terutama negara-negara Afrika Sub-
Sahara.
Di Asia Tenggara Thailand yang pertama kali melaporkan
AIDS pada bayi tahun 1988. Meskipun saat ini tingkat
prevalens HIV masih tergolong rendah di Asia Tenggara, tetapi
pertumbuhan prevalensnya saat ini paling tinggi sedunia.
Penyebabnya adalah jumlah populasi yang besar, kemiskinan,
ketidaksetaraan gender, dan stigmatisasi sosial. Diperkirakan
pada tahun 2005 terdapat 6.7 juta orang yang menjadi
pengidap HIV/AIDS, tetapi yang mengetahui status HIVnya
diperkirakan kurang dari 10%. Negara dengan tingkat infeksi
tertinggi.adalah India, Thailand, Myanmar dan Indonesia.
Umumnya infeksi di Asia Tenggara disebarkan melalui
hubungan seksual heteroseksual yang tidak aman. Pemakaian
jarum suntik tidak steril pada pencandu narkoba suntik
menambah cepatnya penyebaran infeksi HIV Sekitar setengah
dari pengguna narkoba suntik di Nepal, Myanmar, Thailand,

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 5


Indonesia dan Distrik Manipur dan Nagaland di India sudah
terinfeksi HIV
Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi
HIV pada bayi secara universal adalah dengan mengurangi
penularan dari ibu ke bayinya (mother-to.child Transtmission
(MTCT). Namun demikian setiap hari terjadi 1800 infeksi baru
pada bayi umur kurang dari 15 tahun, 90%nya di negara
berkembang atau terbelakang dan melalui penularan dari ibu
ke bayinya.

D. Cara Penularan
Cara penularan HIV yang paling penting pada bayi adalah
dari ibu kandungnya yang sudah mengidap HIV baik saat
sebelum dan sesudah kehamilan. Penularan lain yang juga
penting adalah dari transfusi produk darah yang tercemar HIV
kontak seksual dini pada perlakuan salah seksual atau
perkosaan bayi oleh penderita HIV, prostitusi bayi, dan sebab-
sebab lain yang buktinya sangat sedikit.
Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap
HIV seperti air ludah (saliva) dan air mata serta urin, namun
ciuman, berenang di kolam renang atau kontak sosial seperti
pelukan dan berjabatan tangan serta dengan barang yang
dipergunakan sehari-hari bukanlah merupakan cara untuk
penularan. Oleh karena itu, seorang bayi yang terinfeksi HIV
tetapi belum memberikan gejala AIDS tidak perlu dikucilkan
dari sekolah atau pergaulan.
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus
tersebut ke bayi yang dikandungnya. Cara transmisi ini
dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat
terjadi melalui plasenta (intrauterin) intrapartum, yaitu pada

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 6


waktu bayi terpapar dengan darah ibu atau sekret genitalia
yang mengandung HlV selama proses kelahiran, dan post
partum melalui ASI. Transmisi dapat terjadi pada 20-50 %
kasus.
Penularan HIV ke bayi dan bayi bisa dari ibu ke bayi,
penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks
(pelecehan seksual pada bayi). Penularan dari ibu ke bayi
terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar
(85%) berusia subur
Faktor prediktor penularan adalah stadium infeksi ibu,
kadar Limfosit T CD4 dan jumlah virus pada tubuh ibu,
penyakit koinfeksi hepatitis B, CMV atau penyakit menular
seksual lain pada ibu, serta apakah ibu pengguna narkoba
suntik sebelumnya dan tidak minum obat ARV selama hamil.
Proses intrapartum yang sulit juga akan meningkatkan
transmisi, yaitu lamanya ketuban pecah, persalinan
pervaginam dan dilakukannya prosedur invasif pada bayi.
Selain iru prematuritas akan meningkatkan angka transmisi
HIV pada bayi.
HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV
di dalam tubuhnya baik dari cairan ASI maupun sel-sel yang
berada dalam cairan ASI (limfosit, epitel duktus laktiferus).
Risiko untuk rertular HIV melalui ASI adalah ll-29%. Bayi yang
lahir dari ibu HIV (+) dan mendapat ASI tidak semuanya
tertular HIV dan hingga kini belum didapatkan jawaban pasti,
tetapi diduga IgA yang terlarut berperan dalam proses
pengurangan antigen. WHO menganjurkan untuk negara
dengan angka kematian bayi tinggi dan akses terhadap
pengganti air susu ibu rendah, pemberian ASI eksklusif sebagai
pilihan cara nutrisi bagi bayi baru lahir dari ibu HIV (+).

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 7


Transmisi melalui perawatan ibu ke bayinya belum pernah
dilaporkan.

E. Faktor Risiko
Dari cara penulaian tersebut di atas maka faktor risiko
untuk tertular HIV pada bayi dan bayi adalah:
1) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual,
2) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan beganti,
3) Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna
obat intravena,
4) Bayi atau bayi yang mendapat transfusi darah atau produk
darah berulang,
5) Bayi yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual
(perlakuan salah seksual), dan
6) Bayi remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti
pasangan.

F. Manifestasi klinik
Manifestasi klinis infeksi HIV pada bayi bervariasi dari
asimtomatis sampai penyakit berat yang dinamakan AIDS.
AIDS pada bayi terutama terjadi pada umur muda karena
sebagian besar (>80%) AIDS pada bayi akibat transmisi vertikal
dari ibu ke bayi. Lima puluh persen kasus AIDS bayi berumur
< I tahun dan82o/o berumur <3 tahun. Meskipun demikian
ada juga bayi yang terinfeksi HIV secara vertikal belum
memperlihatkan gejala AIDS pada umur 10 tahun.
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh
mikloorganisme yang ada di lingkungan bayi. Oleh karena itu,
manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik berupa
gagal tumbuh, bera.t badan menurun, anemia, panas berulang,
limfadenopati, dan hepatosplenomegali.

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 8


Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV
adalah adanya infeksi oportunistik, yaitu infeksi dengan
kuman, parasit, jamur, atau protozoa yang lazimnya tidak
memberikan penyakit pada bayi normal. Karena adanya
penurunan fungsi imun, terutama imunitas selular maka bayi
akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme tersebut, yang
biasanya lebih lama, lebih berat serta sering berulang. Penyakit
tersebut antara lain kandidiasis mulut yang dapat menyebar ke
esofagus, radang paru karena Pnetnnocystis carinii, radang
paru karena mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak.
Bila bayi terserang Mycobacterium tuberculosis, penyakitnya
akan berjalan berat dengan kelainan luas pada paru dan otak.
Bayi sering juga menderita diare berulang. Manifestasi klinis
lainnya yang sering ditemukan pada bayi adalah pneumonia
interstisialis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung
disebabkan oleh HIV pada jaringan paru. Manifestasi klinisnya
berupa hipoksia, sesak napas, jari tabuh, dan limfadenopati.
Secara radiologis terlihat adanya infiltrat retikulonodular difus
bilateral, terkadang dengan adenopati di hilus dan
mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan
ensefalopati kronik yang mengakibatkan hambatan
perkembangan atau kemunduran keterampilan motorik dan
daya intelektual, sehingga terjadi retardasi mental dan motorik.
Ensefalopati dapat merupakan manifestasi primer infeksi HIV
Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan kadangkala
terdapat kalsifikasi. Antigen HIV dapat ditemukan pada
jaringan susunan saraf pusat atau cairan serebrospinal.

G. Pengobatan

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 9


Tatalaksana pada pendeita HIV atau yang terpapar HIV
harus lengkap, meliputi pemantauan tumbuh kembang,
nutrisi, imunisasi, tatalaksana medikamentosa, tatalaksana
psikologis dan penanganan sisi social yang akan beperan dalam
kepatuhan program pemantauan dan terapi. Pemberian
imunisasi harus mempertimbangkan situasi klinis, status
imunologis serta panduan yang berlaku. Panduan imunisasi
WHO berkenaan dengan bayi pengidap HIV adalah, selama
asimtomatik, semua jenis vaksin polio oral dan BCG sebaiknya
di hindari.
Pengobatan mendikametosa mengcakupi pemberian obat-
obat propilaksis infeksi oportunistik yang tingkat morbiditas
dan mortalitasnya tinggi. Riset yang luas telah di lakukan dan
menunjukka kesimpulan rekomendasi pemberian
kotrimoksasol pada penderita HIV yang berusia kurang dari 12
bulan dan siapun yang memiliki kadar CD4 < 15% hingga
dipastikan bahaya infeksi pnemonia akibat parasit
pneumocystis jiroveci dihindari. Pemberian isoniazid (INH)
sebagai propilaksis penyakit TBC pada pendeita HIV masih di
perdebatkan. TBC yang berat , dan harus di buktikan dengan
metode diagnosis yang handal. Kalangan yang menolak
menganggap bahwa di negara TBC, kemungkinan infeksi TBC
natural sudah terjadi. Langkah diagnosis perlu dilakukan
untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan pengobatan
dan yang tidak.
Obat pofilaksis lain adalah preparat nistatin untuk
antikadida, pirimetamin untuk toksoplasma, preparat sulfa
untuk malaria, dan obat lain yang di berikan sesuai kondisi
klinis yang ditemukan pada penderita. Untuk itu banyak
panduan yang cukup baik di jadikan bahan bacaan.

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 10


Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau
ARV. Riset mengenai obat ARV terjadi sangat pesat, meskipun
belum ada yang mampu mengeradikasi virus dalam bentuk
DNA proviral pada stadium dorman di sel CD4 memori.
Pengobatan inffeksi HIV dan AIDS sekarang menggubayian
paling tidak 3 gelas anti virus, dengan sasaran molekul virus di
mana tidak ada homolog manusia. Obat pertama di temukan di
temukan 1990 yaitu azidothymidine (AZT) suatu analog
nukleosid deoksitimidin yang bekerja pada tahap
penghambatan kerja enzim tanskriptase riversi. Bila obat ini
digunakan sendiri,secara bermakna dapat mengurangi kadar
RNA HIV plasma selama beberapa bulan atau tahun. Biasanya
progresivitas penyakit HIV tidak di pengaruhi oleh pemakaian
AZT, karena pada jangka panjang virus HIV berevolusi
membentuk mutan yang resisten terhadap obat.

H. Pencegahan.
Pemberian zidovudin terhadap wanita hamil yang
terinfeksi HIV-I menguranggi penularan HIV-1 terhadap bayi
secara dramatis. Penggunaan zidovudin (100 mg secara oral
lima kali 24 jam) pada wanita HIV-1 positif dari 14 minggu
kehamilan sampai kelahiran dan persalinan dan selama 6
minggu pada neonatus (180 mg/m2 secara oral setiap 6 jam )
mengurangi penularan pada 26 % resipien placebo sampai
makna.
Pelayanan Kesehatan masyarakat A.S telah menghasilkan
pedoman untuk penggunaan zidovudin pada wanita hamil HIV-l
positif untuk mencegah penularan HIV-1 perinatal. Wanita yang
HIV- I positif, hamil dengan masa kehamilan 14-34 minggu,
mempunyai angka limfosit CD4+ 200/mm3 atau lebih besar, dan

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 11


sekarang tidak berbeda pada berada pada terapi antiretrovirus
dianjurkan menggunakan zidovudin.
Wanita HIV-1 positif yang dikenali sesudah kehamilan 34
minggu atau yang berada dalam persalinan juga, didorong
untuk menggunakan zidovudin. Zidovudin intravena (dosis
beban 1 jam 2mg/ kg/ jam diikuti dengan infus terus-menerus
1mg/kg/jam sampai persalinan) dianjurkan selama proses
klahiran.
Pada semua keadaan dimana ibu mendapat zidovudin,,
untuk mencegah penularan HIV-1, bayi harus mendapat sirup
zidovudin (2mg/kg setiap 6 jam selama usia 6 minggu pertama
yang mulai 8-12 jam sesudah lahir) jika ibu HIV-1 positif dan
tidak mendapat zidovudin, zidovudin harus dimulai pada bayi
baru lahir, tidak ada bukti yang mendukung kemanjuran obat
dalam mencegah infeksi HIV-1 bayi baru lahirr sesudah 24jam.
Ibu dan bayi yang diobati dengan zidovudin harus
diamati dengan ketat untuk kejadian-kejadian yang merugikan
dan didaftar pada PPP untuk menilai kemungkinan kejadian
yang merugikan jangka lama. Saat ini, hanya anaemia ringan
reversibel yang telah di temukann pada bayi.umtuk
melaksbayian pendekatan ini secara temu semua wanita harus
mendapat perwatan perinatal yang tepat, dan wnita hamil harus
di uji untuk positivitas HIV-1.

I. PROGNOSIS
Prognosis bayi-bayi pengidap HIV berbeda-beda sesuai
stadium klinis dan terutama persentase CD4 yang di miliki
sebelum terapi ARV. Secara umum tercapainya stadium AIDS
pada bayi lebih cepat pada orang dewasa. Bila pada orang
dewasa ada sejumlah pengidap HIV yang dapat tetap sehat

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 12


dengan hitung CD4 tetap normal bertahun-tahun lamanya,
maka pada bayi di dapatkan studi kohord dengan hati yang
sebanding. Tetapi memang di temukan bayi-bayi yang hingga
usia paling tidak 8 tahun tidak memiliki gejala infeksi HIV dan
hitung CD4 nya normal, meskipun HIV seropositif. Studi awal
menunjukkan bahwa pada bayi-bayi terinfeksi HIV yang
sebelum usia 1 tahun pun sudah memerlukan terapi ARV.
Dengan perkembangan riset obat ARV pada bayi dan
keberhasilan hidup bayi pengidap HIV lebih tinggi di masa yang
akan datang.

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 13


STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah
kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system
kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh
infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV). AIDS adalah
Runtuhnya benteng pertahanan tubuh yaitu system
kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus
HIV, yaitu dengan hancurnya sel limfosit T (sel-T)
2. Cara penularan HIV yang paling penting pada bayi adalah
dari ibu kandungnya yang sudah mengidap HIV baik saat
sebelum dan sesudah kehamilan. Penularan lain yang juga
penting adalah dari transfusi produk darah yang tercemar
HIV kontak seksual dini pada perlakuan salah seksual atau
perkosaan bayi oleh penderita HIV, prostitusi bayi, dan
sebab-sebab lain yang buktinya sangat sedikit.
3. Dari cara penulaian tersebut di atas maka faktor risiko
untuk tertular HIV pada bayi dan bayi adalah:
a. Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual dan
pasangan beganti
b. Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna
obat intravena, Bayi atau bayi yang mendapat transfusi
darah atau produk darah berulang,Bayi yang terpapar
pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah
seksual), dan Bayi remaja dengan hubungan seksual
berganti-ganti pasangan.

B. Saran

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 15


Semoga dalam pembuatan makalah ini dapat berguna bagi
seluruh para pembaca yang ingin belajar mengenai perawatan
HIV/AIDS pada bayi dan bias mengaplikasikannya pada orang
yang membutuhkan. Segala kritik dan saran penulis sangat
mengharapkan hal itu.

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 16


DAFTAR PUSTAKA

Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Bayi,


cetakan kedua, EGC, Jakarta.

STIKes GRAHA Edukasi Makassar Page 17