Anda di halaman 1dari 6

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

PEMERIKSAAN PENCEGAHAN KECACATAN AKIBAT KUSTA


UPTD PUSKESMAS KEDUNGWUNGU

A. PENDAHULUAN

Penyakit Kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh


kuman Mycobacterium leprae yang terutama menyerang syaraf tepi, kulit dan organ
tubuh lain kecuali susunan syaraf pusat. Penderita kusta yang tidak diobati
berpotensi menularkan kepada orang laindengan kontak erat dan dalam kurun
waktuyang lama.
Salah satu alasan penderita kusta tidak berobat karena stigma di masyarakat.
Sehingga penderita Kusta sering kali datang ke fasilitas pelayanan kesehatan sudah
dalam keadaan terlambat dan dalam keadaan cacat. Padahal penyakit kusta
sebenarnya dapat disembuhkan tanpa harus disertai kecacatan. Kuncinya adalah
penemuan secara dini , pengobatan secara tepat dan tuntas

B. LATAR BELAKANG
Upaya pencegahan kecacatan pada penderita kusta dapat dilakukan dengan
pengobatan secara rutin. Di tempat pelayanan kesehatan terutama di Puskesmas
sudah menyediakan obat untuk penderita Kusta PB (Pausi Baciler) yang
pengobatannya harus di konsumsi selama 6 bulan, sedangkan untuk kusta MB
(Multi Basiler) Pengobatan dilakukan selama 12 bulan.
Puskesmas Kedungwungu terdiri dari 4 Desa dimana penderita Kusta masih
sering ditemukan. Pada tahun 2016 Puskesmas Kedungwungu berhasil
menemukan 4 penderita sedangkan tahun 2017 Puskesmas Kedungwungu
menemukan 2 penderita dan semuanya Kusta tipe Multibacillary ( MB ).

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mencegah agar tidak terjadi kecacatan pada penderita kusta

2. Tujuan Khusus
a. Mencegah terjadinya cacat sedini mungkin
b. Mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan
D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
1. Kegiatan Pokok
Melakukan Pemeriksaan Pencegahan kecacatan pada setiap penderita kusta
baik yang masih berobat maupun yang sudah RFT
2. Rincian Kegiatan
a. Persiapan pemeriksaan fungsi syaraf
1. Siapkan form POD, jangan lupa menulis tanggal pemeriksaan
2. Siapkan ballpen yang ringan untuk test rasa raba
3. Penderita diminta duduk dengan santai berhadap dengan pemeriksa
4. Periksalah secara berurutan dari kepala sampai kaki agar tidak ada
yang terlewatkan.
b. Cara pemeriksaan fungsi syaraf
I. Mata
1. Penderita diminta memejamkan mata
2. Dilihat dari depan/samping apakah mata menutup dengan sempurna
(tidak ada celah)
3. Bagi mata yang menutup tidak rapat, diukur lebar celahnya, lalu
dicatat. Mis : lagophthalmus ya/tidak
II. Anggota Badan Bagian Atas
1. Memeriksa syaraf ulnaris
a. Tangan kanan pemeriksa memegang lengan bawah penderita
dengan posisi siku sedikit ditekuk sehingga lengan penderita
dalam keadaan relax
b. Dengan jari telunjuk tengah kiri pemeriksa mencari nervus Ulnaris
disulcus ulnaris yaitu pada lekukan diantara tonjolan tulang dan
tonjolan kecil dibagian medial (epicendilus medialis)
c. Dengan memberi tekanan ringan ulnaris digulir halus sambil
melihat mimik/reaksi pendita tanpak kesakitan atau tidak
kemudian dengan prosedur yang sama memeriksa n. Ulnaris kiri
(tangan kiri pemeriksa memegang lengan kiri penderita dan
tangan kanan pemeriksa meraba N. ulnaris kiri penderita dst.)

2. Memeriksa kekuatan ibu jari


a. Tangan kanan pemeriksa memegang jari telunjuk sampai
kelingking tangan kanan penderita agar telapak tangan penderita
menghadap keatas, dan dalam posisi ekstensi
b. Dengan tangan kiri pemeriksa membawa ujung jari pasien untuk
ditegakan ke atas sehingga tegak lurus terhadap telapak tangan
pasien (seakan-akan menunjuk kearah hidung) dan pasien diminta
untuk mempertahankan posisi
c. Dengan jari telunjuk dan tangan kiri pemeriksa menekan pangkal
ibu jari pasien yaitu dari bagian batas antara punggungan telapak
tangan kearah menjauhi hidung/ke arah datangnya ibu jari.
Kesimpulan :
Bila tegak keatas (+) tahanan (+) kuat/K
- Bila tegak keatas (+), tahanan (-) ………lemah tahanan/LT
- Bila tegak keatas (=), gerak keatas terbatas ……….. Lemah
gerak/LG
- Bila tegak keatas (-), hanya bergerak horisontal sejajar telapak
tangan ……… lumpuh/P dengan cara yang sama memeriksa ibu
jari tangan kiri
3. Pemeriksaan kekuatan jari kelingking
a. Tangan kiri pemeriksa memegang ujung jari : 2,3 dan 4 tangan
kanan pasien dengan telapak tangan pasien menghadap keatas
dan posisi ekstens (jari kelingking bebas bergerak tidak
terhalang oleh tangan pemeriksa
b. Pasien diminta menggerakkan jari kelingking ke lateral …………
media (bukan kesamping - menutup ke arah jari manis)
c. Bila pasien dapat membuka dan menutup jari dengan sempurna,
pasien diminta menjapit sehelai kertas yang diletakkan diantara
jari manis dan jari kelingking tersebut, lalu pemeriksa menarik
kertas tersebut sambil menilai dan tidaknya tahanan/jepitan
terhadap kertas tersebut
Kesimpulan :
- Bila tahanan (+) ………kuat/K
- Bila menutup (+), tahanan (-) ………lemah tahanan/LT
- Bila menutup (-), gerak lateral media yang terbatas
…………lemah gerak/LG
- Bila gerakan buka-tutup (-), hanya bisa bergerak ke atas
bawah ……..lumpuh/P
4. Memeriksa kekuatan pergelangan tangan
a. Tangan kiri pemeriksa memegang punggung lengan bawah
tangan kanan pasien
b. Pasien diminta menggerakan pergelangan tangan kanan atas
dan ke bawah/ekstensi fleksi
c. Pasien diminta bertahan pada posisi ekstensi (keatas) lalu
dengan tangan kanan pemeriksa menekan tangan pasien
kebawah kearah fleksi
Kesimpulan :
- Bila tahanan (+) ………. Kuat /k
- Bila tahanan (-) ………..lt/lemah tahanan
- Bila gerakan fleksi-ekstensi (+) terbatas ……… lg/lemah
gerak
- Bila gerakan ekstensi (-) ………….lumpuh/P
5. Pemeriksaan rasa raba
a. Alat : bolpen plastik yang ringan
b. Cara : ujung bolpen diletakan secara ringan/lembut pada titik-
titik yang diperiksa dan segera diangkat kembali (dengan gaya
berat tanpa tekanan)
c. Posisi pasien : tangan yang akan diperiksa diletakkan diatas
meja/paha pasien atau belum pada tangan kiri pemeriksa
sedemikian rupa, sehingga semua ujung jari tersanggah
(tangan pemeriksa yang menyesuaikan diri dengan keadaan
tangan pasien) misalnya claw hand
d. Pra pemeriksaan :
- Memeriksa penjelasan pada pasien apa yang akan di lakukan
padanya, dan memperagakan dengan menyentuhkan ujung
bolpen pada lengannya
- Bila penderita merasakan sentuhan tersebut diminta untuk
menunjuk tempat sentuhan tersebut dengan jari tangan yang
lain
- Test diulangi sampai penderita mengerti dan kooperatif
e. Pemeriksaan sesungguhnya :
- Penderita diminta menututup mata atau menoleh menjahui
dari tangan yang diperiksa
- Penderita diminta menunjuk tempat yang terasa disentuh
- Dengan ujung bolpen pemeriksa menyentuh tangan penderita
pada titik-titik sesuai dengan gambar pada POD
- Usahakan pemeriksaan titik-titik tersebut tidak berurutan
- Penyimpangan letak titik tersebut tidak berurutan (secara
acak)
Kesimpulan : - bila rasa (+)……….v
- bila rasa (-) ……….x

III. Anggota badan bagian bawah


1. Pemeriksaan N. peroneus communis
a. Penderita diminta duduk dengan kaki dalam keadaan relax
b. Pemeriksa berada dihadapan penderita dengan tangan kanan
pemeriksa kaki kiri dan tangan kiri memeriksa kaki kanan
c. Pemeriksa dengan jari telunjuk dan tengah meraba caput fibula (di
bawah lutut, tulang yang paling menonjol ke samping luar/lateral),
N. Peroneus terletak persis di belakang caput fibula tersebut
d. Dengan tekanan yang ringan syaraf tersebut digulir bergantian kiri
dan kanan sambil melihat mimik/reaksi penderita apakah kesakitan.
2. Pemeriksaan N. tibialis posterior
lokasi : di bawah belakang dan bawah dari mata kaki sebelah dalam
(maleulus medialis)
a. Penderita masih dalam posisi duduk relax
b. Dengan jari telunjuk dan tengah pemeriksa meraba nervus tibialis
posterior pada bagian belakang dan bawah maleolus medialis , lalu
digulir santai sambil melihat mimik/ reaksi dari penderita
3. Pemeriksaan kekuatan kaki
a. Penderita diminta mengangkat ujung kaki dengan tumit tetap
terletak dilantai / ekstensi maksimal (seperti berjalan dengan tumit)
b. Penderita diminta bertahan pada posisi ekstensi tersebut lalu
pemeriksa dengan kedua tangan menekan yang punggungan kaki
penderita kebawah / kelantai
Kesimpulan :
- Bila tahanan (+) ………… kuat / k
- Bila ekstensi (+), tahanan (-) ……… lemah tahanan / lt
- Bila gerakan ekstensi terbatas ………… lemah gerak /lg
- Bila gerakan ekstensi (-) ………. Lumpuh / P
4. Pemeriksaan rasa raba kaki
a. Kaki kanan penderita diletakkan pada paha kiri, usahakan telapak
kaki mengadap keatas
b. Tangan kiri pemeriksa menyanggah ujung jari kaki penderita
c. Cara pemeriksaan sama seperti pada rasa raba tangan, titik-titik
yang diperkirasa sesuai dengan form pod
d. Pada daerah yang menebal boleh sedikit menekan dengan
cekungan berdiameter 1 cm
e. Jarak penyimpangan yang bisa diterima maximal 2,5 cm
Kesimpulan:
- Bila rasa (+) …………….v
- Bila rasa (+) …………… x

E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN:


1. Memastikan bahwa penderita terdiagnosa Kusta
2. Memberikan KIE tentang Pemeriksaan
3. Melakukan Pemeriksaan
4. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan di Kartu Penderita

F. SASARAN
Semua pasien yang terdiagnosa Kusta

G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


NO KEGIATAN BULAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Pemeriksaan POD √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
H. EVALUASI KEGIATAN
Evaluasi hasil pemeriksaan dilakukan oleh petugas pemegang program setiap
selesai pemeriksaan

I. PENCATATAN DAN PELAPORAN


1. Pemegang program mendokumentasikan hasil pemeriksaan pencegahan
kecacatan (POD) di kartu penderita
2. Pelaporan kegiatan ini dilakukan setiap bulan saat rapat koordinasi Bulanan
kepada PJ pengembangan esensial dan Koord P2P

J. PEMBIAYAAN
-

Kedungwungu, 10 Januari 2018


Mengetahui ;
Kepala UPTD Puskesmas Kedungwungu Koordinator Program P2 Kusta

Dr. H. Budi Kasiyono Purwohadi, S.Kep.Ners


Pembina Penata Muda
NIP.19650603 200212 1 001 NIP.19790308 200212 1 026