Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

PELAYANAN KESEHATAN JIWA TKI

Disusun oleh :

Klompok 4
1. Distya Alfiatun N. (201601071) 8. Maharani Saskya P.(201601091)
2. Erra Dini Yuninda S. 9. Meidiana Sara’is
3. Istiningrum H. M. (201601085) 10. Romdhoni F. R. (201601110)
4. Nanang Hendry S. (201601098) 11. Tinsi Ari R. (201601119)
5. Nanda Tri S. (201601099) 12. Yoga Sukma D. (201601121)
6. Nia Pramesty (201601100) 13. Yunita Risky K. (201601124)
7. Nisa Ayu F. M. (201601102) 14. Sherin Rosa Linda (201601114)

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah Keperawatan Jiwa yang berjudul “Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI“
dengan baik. Shalawat serta salam kami sampaikan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang mukmin yang
tetap istiqamah di jalan-Nya.
Makalah ini kami susun berdasarkan data-data yang telah kami ambil dari
Buku maupun internet. Hambatan yang kami temui pada penyusunan Makalah ini
adalah kurangnya waktu penyusunan dan kurangnya sumber di perpustakaan.

Selesainya makalah ini tentunya tidak terlepas dari bantuan banyak pihak.
Dalam penyusunan Makalah ini penulis juga memberi kesempatan kepada
pembaca, kiranya berkenan memberi kritikan dan saran yang bersifat membangun
dengan maksud meningkatkan pengetahuan penulis agar lebih baik dalam
penyusunan makalah yang akan datang menjadi lebih baik.

Terima kasih

Ponorogo, Agustus 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 3

1.3 Tujuan ................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dari pelayanan kesehatan jiwa TKI .................................... 4

2.2 Alasan Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI................................................. 5

2.3 Klasifikasi Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI .......................................... 6

2.4 Dampak Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI ........................................ 7

2.5 Terapi Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI .......................................... 8

2.6 Pencegahan Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI ................................... 12

2.7 Opini Kasus menurut Kelompok........................................................... 13

BAB III PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 14

3.2 Saran ...................................................................................................... 14

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa menurut WHO (World Health Organization) adalah ketika


seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan
hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana seharusnya serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan jiwa
adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,
dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Kondisi
perkembangan yang tidak sesuai pada individu disebut gangguan jiwa (UU
No.18 tahun 2014).

Menurut WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60


juta orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, serta 47,5 juta
terkena dimensia. Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini
adalah 236 juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 6% dari
populasi dan 0,17% menderita gangguan jiwa berat, 14,3% diantaranya
mengalami pasung. Tercatat sebanyak 6% penduduk berusia 15-24 tahun
mengalami gangguan jiwa. Dari 34 provinsi di Indonesia, Sumatera Barat
merupakan peringkat ke 9 dengan jumlah gangguan jiwa sebanyak 50.608
jiwa dan prevalensi masalah skizofrenia pada urutan ke-2 sebanyak 1,9
permil. Peningkatan gangguan jiwa yang terjadi saat ini akan menimbulkan
masalah baru yang disebabkan ketidakmampuan dan gejala-gejala yang
ditimbulkan oleh penderita (Riskesdas 2013).

Laporan ruangan Psychiatric High Care Unit di RSJ Mutiara Sukma NTB
dalam 5 tahun terakhir menyebutkan bahwa pada tahun 2011 terdapat 40
orang mantan TKI yang dirawat, pada tahun 2012 meningkat menjadi 83
orang, pada tahun 2013 mencapai 47 orang, pada tahun 2014 mencapai 65
orang dan pada tahun 2015 mencapai 27 orang (Darthayasa, Winarni, &
Lestari, 2016).

1
Masalah kesehatan jiwa pada pekerja migran di luar negeri terus
mengalami peningkatan. Hal ini diakibatkan karena kerentanan para pekerja
migran terhadap masalah hukum, kekerasan fisik, sosial ataupun psikis.
Banyak pekerja migran di luar negeri berada dalam situasi lingkungan kerja
yang kurang aman, lingkungan perumahan yang minim sanitasi, rumah tak
layak huni, kurangnya akses ke pelayanan kesehatan dan mengalami berbagai
perlakuan kekerasan selama menjalankan pekerjaan (Darthayasa, Winarni, &
Lestari, 2016).

Kementerian Kesehatan sedang melakukan berbagai upaya untuk


penanggulangan masalah kesehatan jiwa, yaitu: Pengendalian masalah pasung
di Indonesia; Penguatan upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif di
tingkat primary health care agar kasus-kasus di tingkat lebih lanjut dapat
diminimalisasi; dan Pemetaan untuk pemerataan sumber daya kesehatan,
termasuk tenaga kesehatan jiwa. Berbagai program kesehatan sedang
dijalankan Kemkes, guna menciptakan masyarakat yang berkesehatan jiwa,
meliputi Pemberdayaan masyarakat; Penyelenggaraan hotline service number
500-454, untuk konsultasi gangguan kejiwaan; Program dispersi pecandu
narkoba sesuai dengan UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dan PP
No.25 tahun 2011 tentang wajib lapor bagi pecandu narkoba; Perhatian
terhadap masalah etika dan perlindungan penderita gangguan jiwa Perhatian
terhadap kelompok berisiko seperti Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah
(TKI-B), korban kekerasan, dan masyarakat di lokasi bencana.

Profesi kesehatan jiwa diharapkan dapat proaktif dalam mencari solusi


untuk penanggulangan masalah kesehatan jiwa baik di institusi pelayanan
maupun di komunitas, seperti meningkatkan jumlah psikiater dan pemerataan
pendistribusiannya; dokter plus yang terlatih di bidang kesehatan jiwa;
mendorong penyediaan layanan tersier spesialistik; mendidik masyarakat
dalam mengurangi stigma negatif masyarakat tentang rumah sakit jiwa; serta
mampu menghasilkan inovasi, rekomendasi profesi atau institusi pendidikan
dalam menciptakan pedoman penanggulangan masalah kesehatan jiwa di
Indonesia (Depkes, 2011).

2
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian dari pelayanan kesehatan jiwa TKI ?


2. Apa Alasan Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI ?
3. Bagaimana Klasifikasi Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI ?
4. Bagaimana Dampak Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI ?
5. Bagaimana Terapi Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI ?
6. Bagaimana Pencegahan Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI ?
7. Bagaimana Opini Kasus menurut Kelompok ?

1.3 Tujuan

 Tujuan Umum

Agar mahasiswa/I mampu mengetahu pelayanan kesehatan jiwa bagi TKI dan
dapat mengaplikasikan proses pelayanan .

 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui Pengertian dari pelayanan kesehatan
jiwa TKI
2. Mahasiswa dapat mengetahui Alasan Pelayanan Kesehatan Jiwa
TKI
3. Mahasiswa dapat mengetahui Klasifikasi Pelayanan Kesehatan Jiwa
TKI
4. Mahasiswa dapat mengetahui Dampak Permasalahan Kesehatan
Jiwa TKI
5. Mahasiswa dapat mengetahui Terapi Permasalahan Kesehatan Jiwa
TKI
6. Mahasiswa dapat mengetahui Pencegahan Permasalahan Kesehatan
Jiwa TKI
7. Mahasiswa dapat mengetahui Opini Kasus menurut Kelompok

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian alat yang bersifat


tidak kasat mata (tidak dapat diraba), yang terjadi akibat interaksi antara
konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh
perusahaanpemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan
persoalan konsumen (Gronroos, 1990 dalam Ratminto dan Winarsih, 2005).

Kesehatan Jiwa menurut UU Republik Indonesia Nomer 14 Tahun 2014


Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang
secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,
dan mampu memberikan kontribusi.

Menurut pasal 1 bagian 1 Undang-Undang nomer 39 Tahun 2004 tentang


penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, TKI
adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di
luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dalam
menerima upah.

Pengertian TKI secara umum adalah setiap warga negara Indonesia yang
memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam jangka waktu tertentu
berdasarkan perjanjian kerja melalui prosedur penempatan TKI.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian dari definisi pelayan kesehatan


jiwa TKI adalah suatu aktivitas yang memberikan pelayanan kesehatan pada
warga negara Indonesia yang bekerja sebagai TKI dan pelayanan
tersebutberupa pelayanan mental, spiritual, dan sosial sehingga individu
tersebut mampu menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan,
dapat bekerja secara produktif dan lain sebagainya.

4
2.2 Alasan Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI

Pada hakikatnya setiap warga negara berhak atas kehidupan yang layak.
Oleh karena itu, setiap orang berhak untuk mendapatkan pelindungan
kesehatan jiwa, baik yang sehat, berisiko maupun Orang dengan Gangguan
Jiwa (ODGJ). Meningkatnya prevalensi gangguan jiwa memaksa kita untuk
menyelami kembali fokus pelindungan masyarakat terhadap risiko gangguan
jiwa. Mencegah lebih baik daripada mengobati, oleh karena itu pelindungan
terhadap mereka yang berisiko penting untuk memutuskan mata rantai
penyakit ini. Usaha untuk melindungi kesehatan jiwa sudah sampai pada taraf
internasional, dimana WHO mendorong setiap negara untuk melindungi
masyarakatnya dengan perangkat hukum yang komprehensif.

PEMELIHARAAN KESEHATAN JIWA

Pasal 3

Dalam bidang kesehatan jiwa usaha-usaha Pemerintah meliputi:

a. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan


anak-anak;
b. enggunakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan
tenaga selaras dengan bakat dan kemampuannya;
c. perbaikan tempat kerja dan suasana kerja dalam perusahaan dan
sebagainya sesuai dengan ilmu kesehatan jiwa;
d. mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya
dengan keluarga dan masyarakat; dan
e. usaha-usaha lain yang dianggap perlu oleh Menteri Kesehatan.

Usaha pelindungan masyarakat terhadap gangguan kejiwaan kemudian


dilanjutkan dengan adanya Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, yaitu pada Pasal 144 sampai Pasal 150 dengan memberi fokus
pada penyebarluasan informasi, terjaminnya akses pelayanan kesehatan bagi
semua orang, penyembuhan, pemeriksaan kesehatan jiwa untuk kepentingan
hukum. Sedianya, aturan ini diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah.

5
Namun, setelah 4 tahun berlakunya Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 ini,
belum ada peraturan pemerintah yang dibuat, sehingga pelaksanaannya di
daerah menjadi terhambat (Andina, 2013).

2.3 Klasifikasi Pelayanan Kesehatan Jiwa TKI

Jenis pelayanan kesehatan jiwa meliputi pelayanan non-medik dan pelayanan


medik. Termasuk pelayanan non-medik adalah:

Sedangkan yang termasuk

a. Penyuluhan

b. Pelatihan

c. Deteksi dini

d. Konseling

e. Terapi okupasi

pelayanan medik adalah:

a. Penyuluhan

b. Penilaian psikiatrik

c. Deteksi dini

d. Pengobatan dan tindakan medik-psikiatrik

e. Konseling

f. Psikoterapi

g. Rawat inap

6
2.4 Dampak Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI
1. Dampak terhadap Kesehatan Fisik

Permasalahan Fisik yang dimaksud disini adalah permasalahan yang


dialami pada bagian tubuh (badan) seseorang. Kekerasan fisik adalah
perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
Jenis kekerasan ini paling mudah diidentifikasi karena meninggalkan
bekas seperti luka memar dan perdarahan.

Berkisar antara dijambak, ditendang, dilukai, disetrika, sampai


pemukulan berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Menurut Heise (1999) dampak kekerasan fisik adalah gangguan
terhadap kesehatan fisik seperti: trauma/luka fisik, kehamilan yang
tidak diinginkan, penyakit menular seksual, keguguran dini, sakit
kepala, masalah ginekologis serta gangguan pencernaan.

2. Dampak terhadap Kesehatan Psikologis

Permasalahan psikis merupakan segala permasalahan yang dialami


TKI yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan. Berbagai keluhan
psikis banyak dialami oleh para pekerja migran, diantaranya adalah
kesulitan tidur, ketakutan dan kesedihan yang mendalam.

Kekerasan psikologis dapat mengakibatkan ketakutan, hilangnya


rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak
berdaya dan/ atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Dalam
konteks beban kerja yang berat dan jam kerja yang panjang para
majikan sering meningkatkan stress dan tekanan yang dirasakan oleh
pekerja dengan seringnya berteriak dan memaki.

3. Dampak Kesehatan dari Aspek Sosial

Semua informan TKI ilegal menyatakan trauma dan tidak ingin


kembali bekerja keluar negeri. Peneliti melihat kecenderungan sikap
menarik diri dari lingkungan sosial dan berbicara seperlunya pada
informan TKI2 yang merupakan TKI ilegal. Krech dalam Suminar

7
(2004) menyebutkan bahwa harga diri merupakan penilaian seseorang
terhadap dirinya sendiri apakah seseorang mampu, berarti dan berhasil
yang diekspresikan melalui sikap-sikapnya. Lebih lanjut menurut
Coopersmith dalam Suminar (2004), orang yang memiliki harga diri
rendah cenderung merasa takut untuk melakukan hubungan social
dengan orang lain, sehingga menyebabkan individu menarik diri dari
lingkungannya. Hal yang sama juga ditekankan oleh WHO dengan
menyatakan ciri jiwa yang sehat adalah seseorang akan merasa nyaman
berhubungan dengan orang lain.

4. Dampak kesehatan dari Aspek Ekonomi

Kekerasan ekonomi adalah segala upaya eksploitasi seseorang


untuk menghasilkan uang bagi yang mengeksploitasi atau upaya
pembatasan kegiatan untuk membuat ketergantungan finansial
seseorang pada orang lain sehingga menimbulkan perasaan tidak
berdaya pada dirinya. Informan mengungkapkan perasaan kecewa dan
penyesalan yang disebabkan oleh kerugian-kerugian ekonomi yang
mereka alami berkaitan dengan masalah penipuan yang dialami pada
saat pra pemberangkatan serta masalah gaji/upah. Kekecewaan ini
disebabkan karena alasan terpenting bagi semua informan saat
memutuskan untuk menjadi TKI adalah karena ingin mendapatkan
penghasilan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan penghasilan di
dalam negeri (Agustin, 2008).

2.5 Terapi Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI

A. Stres tidak dapat dicegah akan tetapi dapat dikendalikan, berikut ini
terdapat 12 langkah pengendalian stres:

1. Merencanakan masa depan dengan lebih baik: Belajar hidup tertib dan

teratur dan menggunakan waktu sebaik-baiknya.

2. Menghindari membuat beberapa perubahan besar dalam saat yang

8
bersamaan: Misalnya pindah rumah, pindah pekerjaan dan sebagainya.

3. Memberi waktu untuk menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang

baru sebelum melangkah lebih lanjut.

4. Menerima diri sendiri sebagaimana adanya.

5. Menerima lingkungan sebagaimana adanya.

6. Berbuat sesuai kemampuan dan minat.

7. Membuat keputusan yang bijaksana.

8. Berpikir positif.

9. Membicarakan persoalan yang dihadapi dengan orang lain yang dapat

dipercaya.

10. Memelihara kesehatan diri sendiri.

11. Membina persahabatan dengan orang lain.

12. Meluangkan waktu untuk diri sendiri: Jika merasa tegang dan letih perlu

istirahat atau rekreasi. Melakukan relaksasi: Melalukan releksasi selama 10-

15 menit setiap hari untuk mengendorkan ketegangan otot yang diakibatkan

oleh stress (FATAYATI, 2009).

B. Komuniksi Terapeutik

Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan


memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia
sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi
terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.

KOMUNIKASI yang terjadi antara orang tersebut dengan dirinya sendiri.


Komunikasi intrapersonal memiliki unsur sebagai berikut:

9
• Sensasi

Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang
menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon,
“Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan
penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali
berhubungan dengan kegiatan alat indera.”

Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari


lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera.
Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan
sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal)
atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor
(misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor
(misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg
propriseptor (misalnya, organ vestibular).

• Persepsi

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-


hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory
stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi
ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang
memengaruhi persepsi, yakni perhatian.

• Perhatian(Attention)

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi
menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E.
Andersen)

• Memori

Dalam komunikasi Intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam


memengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang

10
sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta
tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing
perilakunya (Schlessinger dan Groves). Memory melewati tiga proses yaitu:

1. Perekaman

2. Pencatatan

3. Pemanggilan

KOMUNIKASI INTERPERSONAL, yang terjadi antara seseorag dengan


orang lain. Disini yang terjadi adalah komunikasi yang terjalin antara perawat
degan klien.

Unsure-unsur komunikasi interpersonal adalah :

• Hubungan saling percaya

• Sikap saling terbuka

• Sikap saling menghargai

• Sikap saling menghormati

• Dapat memberikan dukungan

KOMUNIKASI PUBLIK adalah milik umum,setiap orang mengetahui


pesan-pesan komunikasi karena komunikasi berjalan cepat maka pesan yang
akan disampaikan kepada khalayak akan silih berganti tanpa mengenaln
waktu. (de vito). Dalam hal ini, komunikasi publik berjalan antara perawat,
pasien dengan para tenaga medis yang lain,yang berhubungan dengan proses
penyembuhan pasien.

Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan
Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal,
tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.

Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan


keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal

11
terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih
akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk
mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau
menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan
arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi
verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon
secara langsung.

2.6 Pencegahan Permasalahan Kesehatan Jiwa TKI

Mekanisme koping yang muncul dapat berupa mekanisme koping yang


bersifat konstruktif maupun destruktif. Mekanisme yang bersifat konstruktif
berkaitan dengan kemampuan penyesuaian dan kemampuan penyelesaian
masalah, sementara mekanisme destruktif cenderung lebih bersifat negatif
dan menghindari resolusi (Darthayasa, Winarni, & Lestari, 2016).

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan


kejiwaan bagi kelompok berisiko ini, antara lain:

a. Meningkatkan pengetahuan, informasi dan pendidikan

Pengetahuan, informasi dan pendidikan merupakan modal bagi seseorang


untuk melakukan penolakan, pengolahan, dan pencarian alternatif solusi
dalam menghadapi faktor risiko yang dihadapinya. Hal ini didukung data
Riskesdas 2007 yang menunjukkan bahwa orang yang tidak sekolah paling
berpotensi terganggu mental emosionalnya.

b. Meningkatkan akses terhadap informasi, layanan pencegahan, dan


layanan kesehatan jiwa lanjutan.

Riskesdas 2007 menemukan bahwa secara nasional, sebanyak 94,1%


rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana
pelayanan kesehatan dan sebanyak 90,8% rumah tangga dapat mencapai
sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit.

c. Mengondisikan lingkungan

12
Mengondisikan lingkungan di sekitar indvidu berisiko gangguan jiwa
perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang memungkinkan
pemicuan tekanan. Iskandar (2012:49) menulis bahwa seseorang berinteraksi
dengan stimulus lingkungan yang dapat menimbulkan stres bagi seseorang,
maka di dalam dirinya akan muncul gejala-gejala aktivitas saraf otonom
meningkat (Andina, 2013).

2.7 Opini Kasus

a. Analisis

1. Ny.Sad merupakan seorang TKI illegal yang tidak memiliki perlindungan


hukum, sehingga jika terjadi sesuatu yang buruk beliau tidak dapat menuntut
hak untuk dibela karena beliau tidak memiliki penanggung jawab
keberangkatan TKI.

2. Kasus kekerasan yang dialami Ny.Sad adalah salah satu contoh gagalnya
Pemerintah dalam pengelolaan TKI ke luar negeri

3. Kekerasan yang dialami oleh Ny.Sad mengakibatkan trauma maupun


dampak pisikologi bagi Ny. Sad

4. Ny. Sad mengalami gangguan psikologi sehingga di pulangkan oleh


majikannya ke rumahnya.

b. Dampak

Dampak pisikologi

Ny Sad akan mengalami trauma dan bias jadi terjadi gangguan pola pikirnya
yang menyebabkan gangguan jiwa

Dampak social

Ny Sad yang semula mengalami kekerasan oleh majikannya akan menjadi


lebih pendiam dan tidak mau bergaul dengan orang yang ada di sekitarnya
lagi karena Ny Sad akan berpersepsi kalau orang di sekitarnya akan
melukainya lagi

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa pengertian dari definisi pelayan kesehatan jiwa


TKI adalah suatu aktivitas yang memberikan pelayanan kesehatan pada warga
negara Indonesia yang bekerja sebagai TKI dan pelayanan tersebutberupa
pelayanan mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut mampu
menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara
produktif dan lain sebagainya.

PEMELIHARAAN KESEHATAN JIWA

Pasal 3

Dalam bidang kesehatan jiwa usaha-usaha Pemerintah meliputi:

a. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan


anak-anak;
b. enggunakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan
tenaga selaras dengan bakat dan kemampuannya;
c. perbaikan tempat kerja dan suasana kerja dalam perusahaan dan
sebagainya sesuai dengan ilmu kesehatan jiwa;
d. mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya
dengan keluarga dan masyarakat; dan
e. usaha-usaha lain yang dianggap perlu oleh Menteri Kesehatan.

3.2 Saran

Untuk dapat mengupayakan partisipan yang mewakili juga support system


dalam keluarga. Selain itu, penelitian dengan menggunakan pendekatan yang
berbeda seperti menggunakan pendekatan etnografi dapat dipertimbangkan
sehingga dapat diketahui secara utuh pengalaman TKI selama menjadi TKI di
luar negeri.

14
Bagi institusi pelayanan baik itu di tingkat Puskesmas maupun Rumah
Sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat yang dapat
menjangkau kelompok beresiko seperti TKI termasuk didalamnya menyusun
standar operasional prosedur dalam pemberian asuhan keperawatan
psikososial pada TKI.

15
DAFTAR PUSTAKA

Agustin, H. (2008). DAMPAK KESEHATAN AKIBAT KEKERASAN. Jurnal


Kesehatan Masyarakat , 169-174.

Andina, E. (2013). PELINDUNGAN BAGI KELOMPOK BERISIKO


GANGGUAN JIWA. Aspirasi Vol. 4No. 2, Desember , 143-154.

Darthayasa, I. N., Winarni, I., & Lestari, R. (2016). PENGALAMAN TENAGA


KERJA INDONESIA (TKI) YANG MENGALAMI ABUSE. Jurnal Ilmu
Keperawatan – Volume 4, No. 2 , 145-160.

Depkes. (2011). KEMENTERIIAN KESEHATAN PRIIORIITASKAN


KESEHATAN JIIWA. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia , 1-2.

FATAYATI, I. S. (2009). KESEHATAN JIWA DI TENGAH MASYARAKAT.

16