Anda di halaman 1dari 10

1

PERAN SERANGGA YANG MENGUNTUNGKAN

PAPER

OLEH:

JOSUA FERNANDO NADEAK


160301221
HPT – 2016

N E M A T O L O GI

PR O G RAM S T U D I AG R O T E K N O LO G I

FAK U LTAS PE R TAN IAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2

2 0 1 8

PERAN SERANGGA YANG MENGUNTUNGKAN

Serangga merupakan kelompok hewan yang paling dominan di muka

bumi, yaitu dengan jumlah spesies hampir 80% dari jumlah total hewan di bumi.

Total dari 751.000 spesies golongan serangga, sekitar 250.000 spesies terdapat di

Indonesia (Kalshoven 1981) dan sebanyak 1.413.000 spesies telah dikenal serta

hampir setiap tahunnya terjadi penambahan spesies baru yang ditemukan.

Pengetahuan tentang serangga yang kita amati selama ini memberikan

manfaat kepada lingkungan maupun makhluk hidup yang ada didalam nya dan

terjadi interaksi didalamnya. Kita sebagai mahasiswa mendapat kewajiban untuk

menjaga ekosistem antara keduanya sebab sebagian besar kerusakan pada

tanaman disebabkan oleh serangga sebagai hama. Serangga hama tidak saja

menyebabkan kerusakan pada tanaman yang berada dilingkungan tetapi juga

menimbulkan kerusakan pada tanaman atau hasil tanaman yang berada ditempat

pentimpanan.

Alasan ini yang menyebabkan serangga berhasil dalam mempertahankan

kelangsungan hidupnya pada habitat yang bervariasi, kapasitas dalam

bereproduksi yang tinggi, serta kemampuan memakan jenis makanan yang

berbeda dan dalam mengindari predator. Berdasarkan kondisi tersebut, keberadaan

serangga sebagai bagian ekosistem, dan perannya dalam kehidupan manusia

sangat besar. Pemanfaatan yang bijak dapat memberikan manfaat dalam

kehidupan manusia, baik yang dibuat ataupun yang alami, seperti pemanfaatan

serangga di bidang kedokteran, pertanian, pangan dan lain sebagainya. Begitupun


3

sebaliknya,populasi serangga yang tidak terkontrol dapat menyebabkan wabah

penyakit, bersifat sebagai hama, dan bahkan merugikan pertanian.

Serangga tidak hanya memberikan dampak negatif terhadap tanaman,

disisi lain ia memiliki dampak positif bagi tanaman diantara lain:

1. Serangga sebagai pollinator

Serangga yang berperan dalam polinasi ini disebut sebagai enthomophily.

Polinasi merupakan proses kompleks dan sangat dipengaruhi oileh temperature,

kelembapan dan adanya polliner dapat dilakukkan oleh serangga yang salah satu

contohnya yaitu lebah madu. Selain itu lebah madu juga dapat membantu

penyerbukan silang. Mekanismenya yaitu polen ditransfer dari satu varietas

tanaman ke varietas tanaman yang lain. Sedangkan penyerbukan sendiri, pollen

ditransfer dari anther menuju stigma pada bunga yang sama, bunga berbeda dari

tanaman yang sama atau bunga tanaman lain pada varietas yang sama.

Lebah juga bukan merupakan satu-satunya serangga yang bertugas

memperlancar penyerbukan bunga. Namun ia merupakan satu-satunya

serangga yang saat melakukan polinasi tidak menimbulkan efek samping

yang merugikan bagi tanaman. Berbeda dengan kupu-kupu, misalnya tak ada

yang menyangkal bahwa kupu- kupu yang mengisap madu itu mampu membantu

menempelkan serbuk sari pada kepala putik sebuah bunga, dan itu akan

mempermudah proses pembentukan buah. Lebah sendiri merupakan pollinator

tanaman yang paling penting di alam dibandingkan angin, air dan serangga

lainnya.

2. Serangga sebagai decomposer


4

Salah satu proses penting di alam yang belum dapat dilakukan

sepenuhnya oleh manusia adalah proses pembentukan tanah. Proses

pembentukan tanah sendiri merupakan proses lanjutan dari proses

penguraian. Proses penguraian diartikan sebagai proses penghancuran

senyawa organik dari makhluk hidup yang telah mati. hanya 5% dari

sampah organik akan terurai bila tidak terdapat serangga dan mikroba.

Peran serangga dalam proses dekomposisi sebagian besar dipengaruhi

oleh aktivitas mereka. Banyak serangga menggunakan sampah-sampah

organik sebagai sumber makanan, menggali tanah untuk membuat sarang,

dan memindahkan sampah-sampah tersebut. Kegiatan serangga ini

menghasilkan kotoran, meningkatkan jumlah pori-pori pada tanah yang

berfungsi meningkatkan aliran udara pada tanah, meningkatkan daya tampung

air, dan menyediakan habitat untuk sebagai tumbuh bagi jamur dan bakteri.

Satu serangga yang manfaatnya sebagai dekomposer adalah rayap.

Dijelaskan, dalam biosfera pada dasarnya rayap merupakan bagian dari komponen

lingkungan biotik yang memerankan peranan penting, seperti dapat membantu

manusia menjaga keseimbangan alam dengan cara menghancurkan kayu untuk

mengembalikannya sebagian unsur hara dalam tanah.

Rayap merupakan serangga yang dianggap penting sebagai dekomposer,

dapat diinformasikan bahwa kehadiran rayap sejak awal mula adalah sebagai

organisme pemakan kayu (bahan organik). Namun karena perubahan kondisi

habitat akibat aktifitas manusia sehingga mengubah status rayap menjadi serangga

hama yang merugikan. Rayap adalah hama penting pada tanaman karet, Rayap

menyerang pada akar dan batang tanaman karet yang mengakibatkan pelukaan
5

jaringan sehingga mengalami kerusakan. Pada tingkat serangan yang berat

mengakibatkan tanaman karet mengalami kematian dan rebah. Rayap banyak

mengganggu tanaman tetapi rayap berguna juga untuk keseimbangan tanah.

3. Serangga sebagai parasitoid dan predator

Serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada tubuh serangga

lain ( serangga inang ), dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna

karena membunuh serangga hama. Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil

sebagai parasitoid serangga hama . Parasitoid yang aktif adalah stadia larva

sedangkan imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidupnya dari nectar,

embun madu, air dll. Ada pula jenis lalat yang bentuknya mirip lalat rumah yang

sebenarnya adalah parasitoid ulat. Beberapa jenis lalat meletakkan telur atau

tempayak hidup pada punggung ulat. Tempayak kemudian memakan ulat. Lalat

parasitoid jenis lain meletakkan telurnya pada daun yang dimakan ulat, kemudian

dengan cara itu dapat masuk ke dalam tubuh ulat. Parasitisasi oleh tawon dan lalat

merupakan pengendalian secara alami yang mencegah telur, larva dan kepompong

menjadi dewasa yang dapat berkembangbiak. Banyak macam parasitoid

membutuhkan sari madu dari bunga untuk mendukung perkembangbiakan yang

lebih baik. Jadi keberadaan bunga (bunga tanaman teh dan tanaman lainnya di

dalam ataupun sekitar kebun) penting sekali. Tanaman berbunga dapat ditanam di

pinggir kebun teh atau dalam pekarangan kita.

Serangga predator adalah jenis serangga yang memangsa serangga hama

atau serangga lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemanfaatan serangga

predator sudah dikenal sebelum tahun 1888 dengan suksesnya pengendalian hama

cottony-cushion scale pada jeruk dengan menggunakan musuh alami Rodolia


6

cardinalis di Los Angeles pada tahun 1876. Laba-laba adalah contoh pemangsa

lain yang dikenal secara umum. Beberapa jenis laba-laba membuat jaring. Laba-

laba tersebut menunggu di jaringnya sampaiserangga yang terbang terperangkap.

Laba-laba mendekati serangga itu dengan cepat, menggigit dan langsung

memakannya. Kadang-kadang menyimpannya untuk dimakan kemudian.

Beberapa jenis laba-laba lainnya tidak membuat jaring, tetapi berpindah-pindah

dalam kebun untuk memburu mangsa. Hal yang sama juga dilakukan oleh banyak

jenis serangga pemangsa. Serangga tersebut berburu, membunuh dan memakan

serangga lain. Contohnya adalah tawon kertas. Selain itu, ada juga yang disebut

serangga pemangsa telur yang mencari dan memakan telur hama seperti telur

penggulung pucuk. Contohnya adalah cecopet. Serangga lain yang merupakan

pemangsa termasuk belalang sembah, kumbang kubah kumbang harimau,

kumbang tanah, lalat buas, capung, dan beberapa macam kepik.

4. Serangga sebagai bioindikator lingkungan

Penggunaan serangga sebagai bioindikator kondisi lingkungan atau

ekosistem yang ditempatinya telah lama dilakukan. Jenis serangga ini mulai

banyak diteliti karena bermanfaat untuk mengetahui kondisi kesehatan suatu

ekosistem. Penggunaan bioindikator akhir-akhir ini dirasakan semakin penting

dengan tujuan utama untuk menggambarkan adanya keterkaitan dengan kondisi

faktor biotik dan abiotik lingkungan. Pentingnya penentuan dan pemanfaatan

serangga sebagai indikator serta pengujian hipotesis dalam menominasikan suatu

spesies atau kelompok serangga tertentu sebagai suatu bioindikator. bioindikator

atau indikator ekologis adalah taksa atau kelompok organsime yang sensitif
7

terhadap dan memperlihatkan gejala terpengaruh terhadap tekanan lingkungan

akibat aktifitas manusia atau akibat kerusakan sistem biotik.

Serangga akuatik selama ini paling banyak digunakan untuk mengetahui

kondisi pencemaran air pada suatu daerah, diantaranya adalah beberapa spesies

serangga dari ordo Ephemeroptera, Diptera, Trichoptera dan Plecoptera yang

kelimpahan atau kehadirannya mengindikasikan bahwa lingkungan tersebut telah

tercemar atau tidak, karena serangga ini tidak dapat hidup pada habitat yang sudah

tercemar. Larva Odonta juga berpotensi sebagai bioindikator pencemaran air,

karena larva ini sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Bila kualitas air

sungai sebagai habitatnya tercemar, maka larva odonata akan mati. Tidak adanya

serangga Ephemeroptera menandakan lingkungan tersebut telah tercemar, karena

serangga ini tidak dapat hidup pada habitat yang sudah tercemar. Serangga lainnya

yang juga berpotensi sebagai bioindikator di antaranya Lepidoptera yaitu sebagai

indikator terhadap perubahan habitat, kumbang Carabidae sebagai bioindikator

manajemen lahan pertanian dan spesies semut untuk indikator kondisi

agroekosistem pada suatu daerah.

5. Serangga sebagai penghasil bahan-bahan yang berguna bagi manusia

Indonesia maupun di negara lain, telah menggunakan serangga sebagai

bahan konsumsi karena serangga memiliki protein yang tinggi, energi, dan

sejumlah vitamin dan mineral. Di Thailand, masyarakat disana biasanya memakan

serangga dalam bentuk telur, larva, atau dewasa baik dimakan mentah maupun

olahan yang dapat meningkatkan aroma dan cita rasa dari serangga. Di Indonesia,

hanya beberapa masyarakat yang mengkonsumsinya. Serangga yang biasanya

dikonsumsi seperti laron, capung, belalang,jangkrik, rayap dan ulat sagu.


8

Berdasar hasil penelitian serangga berkhasiat sebagai obat. Misalnya,

undur-undur yang mengobati diabetes. Binatang ini mengandung zat sulfonylurea.

Kerja sulfonylurea pada undur-undur adalah melancarkan kerja pancreas dalam

memproduksi insulin. Ulat juga sering dikonsumsi. Dalam 100 gram ulat yang

dikeringkan terkandung 53 gram protein dan 15 persen lemak. Kandungan

protein dalam ulat bahkan lebih tinggi dibanding ikan dan daging. Kumbang

mengandung 36 gram protein dalam satu sajian kecil. Selain itu hewan ini

juga mengandung mineral seperti kalsium, zat besi, dan zinc. Jangkrik dan

semut juga dijadikan sumber makanan protein hewani, selain sebagai pakan

burung, ikan hias, udang, umpan pancing, dan banyak spesies lainnya yang

berguna bagi kehidupan.

Telur Belalang berkhasiat untuk mengobati jerawat. Belalang bersifat

panas dan kering, konsumsi dalam jumlah banyak dapat melangsingkan

tubuh. Belalang juga mempunyai khasiat untuk mengobati berbagai penyakit,

seperti sakit kuning, sesak nafas karena batuk, setip/kejang dan infeksi

sumsum tulang. Untuk mengobati sakit kuning, dilakukan dengan menghirup

asap pembakaran sepuluh ekor belalang. Sesak nafas karena batuk dapat

diobati dengan mengkonsumsi ramuan tepung belalang (5ekor) yang

dicampur dengan 1 sendok makan arak manis, setiap pagi dan sore.
9

KESIMPULAN

1. Serangga sebagai pollinator yaitu salah satu contohnya lebah. Lebah membawa

terbang pollen dari satu varietas tanaman ke varietas tanaman lainnya.

2. Serangga sebagai decomposer salah satu contohnya yaitu rayap. Rayap

melakukan decomposer pada kayu busuk yang dihinggapinya.

3. Serangga sebagai parasitoid dan predator dapat membantu dalam hal

membunuh hama.

4. Serangga sebagai bioindikator lingkungan yaitu serangga mengurangi

pencemaran air dan mengetahui kondisi pencemaran air di suatu tempat.

5. Serangga sebagai bahan berguna untuk manusia yaitu dengan cara dikonsumsi,

untuk obat juga untuk dijadikan bahan dasar produk untuk dijual.
10

DAFTAR PUSTAKA

Borror et al. 1998. Pengenalan Pelajaran Serangga. 8 th Ed. Terjemahan dari


an Introduction to Study of Insect oleh Soetiyono Partosoedjono.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Haryanto S. 2005. 30 Jenis Hewan Penakluk Penyakit. Penebar Swadaya, Jakarta.

Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta

Kalshoven LGE. 1981. Pest of Crops in Indonesia. Van der Laan PA,
penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. (Terjemahan dari: De
Plagen van deCultuurgewassen in Indonesie).

Wardhani, T.S., 2007. Perbandingan Populasi Larva Odonata di Beberapa


Sungai di Pulau Pinang dan Hubungannya dengan Pengaruh Habitat
dan Kualiti Air. Universiti Sains Malaysia.