Anda di halaman 1dari 19

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

REPUBLIK INDONESIA
NOMOR P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018
TENTANG
PEMANTAUAN KUALITAS AIR LIMBAH SECARA TERUS MENERUS DAN
DALAM JARINGAN BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 68 Undang-


Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, setiap orang yang
melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban
memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat,
terbuka dan tepat waktu serta mentaati ketentuan
mengenai baku mutu lingkungan hidup dan/atau baku
kerusakan lingkungan hidup;
b. bahwa untuk memperoleh informasi yang terkait dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara
benar, akurat, terbuka dan tepat waktu serta ketaatan
mengenai baku mutu lingkungan hidup dan/atau baku
kerusakan lingkungan hidup, perlu dilakukan
pemantauan kualitas air limbah secara terus menerus
dan dalam jaringan bagi usaha dan/atau kegiatan;
-2-

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
tentang Pemantauan Kualitas Air Limbah secara Terus
Menerus dan Dalam Jaringan bagi Usaha dan/atau
Kegiatan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor 153, Tambahan Lembar Negara Republik
Indonesia Nomor 4161);
3. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 tentang
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 17);
4. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Nomor 18 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 713);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN
KEHUTANAN TENTANG PEMANTAUAN KUALITAS AIR
LIMBAH SECARA TERUS MENERUS DAN DALAM JARINGAN
BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN.

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Air Limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau
kegiatan yang berwujud cair.
-3-

2. Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah secara Terus


Menerus dan Dalam Jaringan selanjutnya disebut
Sparing adalah sistem yang dipergunakan untuk
memantau, mencatat dan melaporkan kegiatan
pengukuran kadar suatu parameter dan/atau debit air
limbah secara otomatik, terus menerus dan dalam
jaringan.
3. Alat Pemantauan Air Limbah Terus Menerus dan Dalam
Jaringan selanjutnya disebut Alat Sparing adalah alat
yang dipergunakan untuk mengukur kadar suatu
parameter kualitas air limbah dan debit air limbah
melalui pengukuran dan pelaporan debit air limbah
secara otomatik, terus menerus dan dalam jaringan.
4. Baku Mutu Air Limbah adalah ukuran batas atau kadar
unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan
dibuang atau dilepas ke dalam media air dari suatu
usaha dan/atau kegiatan.
5. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.

Pasal 2
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam
melakukan pemantauan kualitas air limbah dan
pelaporan pelaksanaan pemantauan kualitas air limbah
wajib memasang dan mengoperasikan Sparing.
(2) Usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan memasang
dan mengoperasikan Sparing sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. industri rayon;
b. industri pulp dan kertas;
c. industri kertas;
d. industri petrokimia hulu;
e. industri oleokimia dasar;
f. industri kelapa sawit;
g. industri kilang minyak;
-4-

h. eksplorasi dan produksi minyak dan gas;


i. pertambangan emas dan tembaga;
j. pertambangan batubara;
k. industri tekstil dengan debit lebih besar atau sama
dengan dari 1.000 (seribu) m3/hari;
l. pertambangan nikel;
m. industri pupuk; dan
n. kawasan industri.

Pasal 3
(1) Sparing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
meliputi:
a. Alat Sparing;
b. data logger yang mencatat, menyimpan dan
mengirim ke pusat data; dan
c. pusat data yang menerima dan mengolah data hasil
pemantauan kualitas air limbah.
(2) Mekanisme kerja Sparing sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan
bagian tidak terpisah dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 4
Tahapan Sparing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) meliputi:
a. pemasangan Alat Sparing;
b. pengoperasian Sparing;
c. perhitungan beban pencemaran air; dan
d. pelaporan data pemantauan kualitas air limbah.

Pasal 5
(1) Pemasangan Alat Sparing sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 huruf a harus memenuhi ketentuan:
a. dipasang pada lokasi yang ditetapkan sebagai titik
penaatan;
b. digunakan untuk memantau parameter kualitas air
limbah tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
-5-

Menteri ini; dan


c. menggunakan spesifikasi teknis Alat Sparing paling
sedikit tercantum dalam Lampiran III yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(2) Dalam hal titik penaatan lebih dari 1 (satu), Alat Sparing
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dipasang
pada titik penaatan yang memiliki beban terbesar
dan/atau menentukan salah satu titik dalam hal beban
sama besar.

Pasal 6
(1) Titik penaatan yang dipasang Alat Sparing wajib
dilengkapi dengan:
a. nama titik penaatan; dan
b. titik koordinat.
(2) Nama dan titik koordinat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) digunakan sebagai pengkodean dalam Sparing.

Pasal 7
Data hasil pengoperasian Sparing sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 huruf b dianggap sahih apabila Sparing:
a. telah lulus uji konektivitas dengan pusat data yang
berada di Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan;
b. dibangun sesuai dengan spesifikasi dan kelengkapan
yang disyaratkan dalam petunjuk operasional;
c. dioperasikan sesuai dengan instruksi kerja sebagaimana
tertulis dalam petunjuk operasional alat;
d. dioperasikan sesuai dengan jaminan mutu yang tertulis
dalam petunjuk operasional alat;
e. berfungsi dengan baik;
f. dilakukan pemantauan setiap 1 (satu) jam; dan
g. dihitung berdasarkan data rata-rata harian paling sedikit
85% (delapan puluh lima persen) atau 20 (dua puluh)
data hasil pembacaan yang sah.
-6-

Pasal 8
(1) Data hasil pengoperasian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 wajib memenuhi baku mutu air limbah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam hal terjadi kondisi tidak normal, hasil
pemantauan kualitas air limbah dapat melebihi baku
mutu air limbah paling banyak 5% (lima persen) dari data
rata-rata harian pemantauan selama 1 (satu) bulan
berturut-turut.
(3) Kondisi tidak normal sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) meliputi:
a. penghentian sementara dan penyalaan kembali
operasi produksi;
b. kalibrasi peralatan; dan/atau
c. kondisi lain yang menyebabkan sparing tidak dapat
digunakan secara optimal.
(4) Dalam hal terdapat kadar suatu parameter di atas kadar
yang telah ditetapkan, penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan wajib melakukan perbaikan terhadap
sistem pengolahan air limbah.
(5) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
mendokumentasikan dan melaporkan kondisi tidak
normal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam
jangka waktu 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam
setelah terjadinya kondisi tidak normal kepada
bupati/wali kota setempat.

Pasal 9
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib
melakukan perawatan dan uji kelaikan Alat Sparing
secara periodik.
(2) Kalibrasi dari Alat Sparing dilakukan setiap bulan sekali
atau disesuaikan dengan persyaratan yang terdapat
dalam petunjuk operasional alat, serta dinyatakan telah
memenuhi persyaratan.
-7-

(3) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan melakukan


pencatatan dan pendokumentasian kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 10
(1) Selain kewajiban pengoperasian Sparing sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pemantauan
kualitas air limbah secara manual terhadap:
a. parameter yang tidak dilakukan pemantauan
kualitas air limbah terus menerus;
b. titik penaatan yang tidak dipasang alat sparing; dan
c. parameter yang diwajibkan dalam pemantauan
kualitas air limbah terus menerus dalam hal Alat
Sparing mengalami kerusakan dan tidak dapat
digunakan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling
lama 3 (tiga) bulan.
(2) Pemantauan kualitas air limbah secara manual
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b
dilakukan 1 (satu) bulan sekali.
(3) Pemantauan kualitas air limbah secara manual
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan 1
(satu) minggu sekali.
(4) Pemantauan kualitas air limbah dengan cara manual
dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan oleh
laboratorium terakreditasi dan/atau teregistrasi di
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pasal 11
(1) Hasil pemantauan kualitas air limbah secara terus
menerus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal
8, serta hasil pemantauan kualitas air limbah secara
manual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 wajib
dilakukan penghitungan beban pencemaran air.
(2) Tata cara perhitungan beban pencemaran sebagaimana
dimaksud ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
-8-

Pasal 12
(1) Laporan pemantauan kualitas air limbah secara terus
menerus meliputi:
a. angka kualitas air limbah setiap setiap 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) jam untuk parameter yang dipantau
secara terus menerus;
b. Angka beban pencemaran air setiap 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) jam untuk parameter yang dipantau
secara terus menerus;
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
disampaikan kepada Menteri, gubernur, bupati/wali kota
melalui pusat data Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.
(3) Rekapitulasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilaporkan setiap 1 (satu) bulan sekali melalui sistem
pelaporan dalam jaringan.
(4) Format laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 13
Laporan pemantauan kualitas air limbah secara manual
dilakukan berdasarkan persyaratan dalam izin lingkungan
dan izin pembuangan air limbah.

Pasal 14
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib memasang
Sparing paling lama 2 (dua) tahun setelah Peraturan Menteri
ini ditetapkan.

Pasal 15
(1) Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, gubernur
dan bupati/wali kota wajib menyiapkan pusat data
pemantauan air limbah secara terus menerus.
(2) Pusat data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
-9-

a. desktop PC (Personal Computer) atau peralatan


setara yang mampu mengolah dan menyimpan data;
b. jaringan yang terhubung internet; dan
c. sumber daya manusia yang kompeten.

Pasal 16
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
-10-

Agar setiap mengetahuinya, memerintahkan pengundangan


Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita
Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 31 Agustus 2018

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN


KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

ttd.

SITI NURBAYA

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 6 September 2018

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

WIDODO EKATJAHJANA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2018 NOMOR 1236

Salinan sesuai dengan aslinya


KEPALA BIRO HUKUM,

ttd.

KRISNA RYA
-11-

LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018
TENTANG
PEMANTAUAN KUALITAS AIR LIMBAH SECARA TERUS MENERUS
DAN DALAM JARINGAN BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

MEKANISME KERJA SPARING

Sarana dan prasarana sparing perlu didukung oleh beberapa teknologi, yaitu
teknologi pengambilan sampel, teknologi jaringan dan komunikasi data serta
teknologi pengelolaan data dan sistem informasi.
Berikut mekanisme kerja sparing:
1. teknologi pengambilan sampel dilakukan menggunakan multiprobe sensor
kualitas air limbah yang dapat dicelupkan secara langsung ke dalam air
limbah pada titik penaatan;
2. teknologi jaringan dan komunikasi data menggunakan teknologi
komunikasi bergerak (Global System Mobile/GSM) atau internet agar
dapat menjangkau lokasi di remote area tanpa harus membangun
inftrastruktur jaringan. Teknologi ini digunakan sebagai media
komunikasi antara pusat data dan Remote Terminal Unit (RTU) di lokasi
pemantauan; dan
3. teknologi pengelolaan data dan sistem informasi dapat menggunakan
aplikasi berlisensi berbasis windows atau aplikasi sumber terbuka (open
source software) untuk mengurangi biaya investasi perangkat lunak.
-12-

Gambar 1. SPARING

Kegiatan pemantauan kualitas air limbah secara terus menerus dan dalam
jaringan dilaksanakan dengan ruang lingkup kegiatan sebagai berikut:
1. penentuan lokasi pemantauan berdasarkan kriteria berikut:
a. titik penaatan; dan
b. lokasi mudah dijangkau dan mudah dalam pemasangan dan
perawatan.
2. pengadaan peralatan Remote Terminal Unit (RTU) di lokasi pemantauan,
yaitu:
a. multiprobe sensor sebagai sistem pengukuran beberapa parameter
kualitas air;
b. smart data logger berbasis komputer sebagai sistem pengendali
pemantauan kualitas air limbah; dan
c. solar cell dan aki kering sebagai sistem kelistrikan perangkat RTU
untuk lokasi di remote area dan sambungan listrik PLN 220Volt
untuk logger berbasis PC.
-13-

Gambar 2 Ilustrasi pemasangan sistem Remote Terminal Unit (RTU)

3. Pengadaan dan pembangunan pusat data, yaitu:


a. Perangkat komputer berkonfigurasi server untuk pusat data yang
dioperasikan terus menerus 24 jam setiap hari.
b. Perangkat lunak berbasis web sebagai sistem informasi pemantauan
kualitas air limbah.
c. Perangkat komunikasi data menggunakan modem internet atau GMS
sebagai media komunikasi antara komputer pusat data dan RTU.

Salinan sesuai dengan aslinya MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN


KEPALA BIRO HUKUM, KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd. ttd.

KRISNA RYA SITI NURBAYA


-14-

LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018
TENTANG
PEMANTAUAN KUALITAS AIR LIMBAH SECARA TERUS MENERUS
DAN DALAM JARINGAN BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

PARAMETER YANG DIPANTAU BERDASARKAN USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


No Jenis Industri Parameter
1 Rayon pH, COD, TSS, Debit
2 Pulp & Paper pH, COD, TSS, Debit
3 Petrokimia Hulu pH, COD, TSS, Debit
4 Kertas pH, COD, TSS, NH3-N, Debit
5 Oleokimia Dasar pH, COD, TSS, Debit
6 Kelapa Sawit pH, COD, TSS, Debit
7 Kilang Minyak pH, COD, TSS, NH3-N, Debit
8 Eksplorasi dan Produksi Migas pH, COD, TSS, NH3-N, Debit
9 Tambang Emas dan Tembaga pH, TSS, Debit
10 Tambang Batu Bara pH, TSS, Debit
11 Tekstil pH, COD, TSS, Debit
12 Tambang Nikel pH, TSS, Debit
13 Pupuk pH, COD, TSS, Debit
14 Kawasan Industri pH, COD, TSS, Debit
Keterangan :
pH = potential Hydrogen
COD = Chemical Oxygen Demand
TSS = Total Suspended Solid
NH3-N = Amoniak sebagai Nitrogen

Salinan sesuai dengan aslinya MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN


KEPALA BIRO HUKUM, KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd. ttd.

KRISNA RYA SITI NURBAYA


-15-

LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018
TENTANG
PEMANTAUAN KUALITAS AIR LIMBAH SECARA TERUS MENERUS
DAN DALAM JARINGAN BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

SPESIFIKASI TEKNIS ALAT SPARING


Spesifikasi Teknis Multiprobe Sensor
Sensor dirancang untuk pemantauan air limbah secara terus menerus dan
dalam jaringan serta merupakan merk yang sudah dikenal dan terbukti sudah
digunakan untuk memantau kualitas air limbah di berbagai tempat, baik di
dalam maupun di luar negeri. Sensor dapat mengukur parameter utama
setidaknya mempunyai range sebagai berikut:
1. Chemical Oxygen Demand (COD) dengan satuan mg/l, range 0,1 ~
5.000mg/l
2. pH, range 0 ~ 14 units
3. TSS dengan range 0 ~ 3.000 mg/l
4. Ammonium dengan satuan mg/l, range 0 to 10.000 mg/L as N
5. Material Chasing yang terbuat dari stainless steel

Salinan sesuai dengan aslinya MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN


KEPALA BIRO HUKUM, KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd. ttd.

KRISNA RYA SITI NURBAYA


-16-

LAMPIRAN IV
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018
TENTANG
PEMANTAUAN KUALITAS AIR LIMBAH SECARA TERUS MENERUS
DAN DALAM JARINGAN BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

CONTOH LAPORAN KUALITAS AIR LIMBAH HASIL PEMANTAUAN TERUS


MENERUS PER 1 JAM DALAM 1 HARI

FORMAT INVENTARISASI PEMANTAUAN KUALITAS AIR LIMBAH


SECARA TERUS MENERUS DAN DALAM JARINGAN
NAMA PERUSAHAAN :
JENIS USAHA DAN/ ATAU KEGIATAN :
ALAMAT KEGIATAN :
Kab/ Kota
Provinsi
No.telp/Fax
Email
IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR
Sumber Koordinat Jenis Status Izin
Air Nama Teknologi
Instansi Tanggal
No Limbah Titik Pengolah Nomor
LS BT Penerbit Izin
Penaatan an Air Izin
Izin Terbit
Limbah
1 Air Outlet Aerob
limbah Utama 1
produks
i
2
3 Dst
-17-

Beban
Konsentrasi Pencemar
ID Titik Suhu (mg/l) Debit an Air
Tanggal Jam pH
Penaatan [oC] (m3/hari) (kg/hari)
TS
COD TSS COD
S
Outlet 02/02/ 0:00:0 7,1 146,
26,9 100 800 117 80
Utama 1 2018 0 3 49
Outlet 02/02/ 1:00:0 7,1 144,
26,7 80 850 123 68
Utama 1 2018 0 1 43
Outlet 02/02/ 2:00:0 7,1 143,
26,5 70 815 117 57
Utama 1 2018 0 2 77
Outlet 02/02/ 3:00:0 7,1 144,
26,3 60 820 118 49
Utama 1 2018 0 8 43
Outlet 02/02/ 4:00:0 145,
26,1 7,2 55 900 131 50
Utama 1 2018 0 1
Outlet 02/02/ 5:00:0 7,2 145,
25,9 85 817 119 69
Utama 1 2018 0 1 5
Outlet 02/02/ 6:00:0 7,1 146,
25,6 90 820 120 74
Utama 1 2018 0 9 82
Outlet 02/02/ 7:00:0 145,
25,3 7,2 90 850 124 77
Utama 1 2018 0 69
Outlet 02/02/ 8:00:0 7,2 145,
25 90 800 116 72
Utama 1 2018 0 2 07
Outlet 02/02/ 9:00:0 7,2
25 147 90 800 118 72
Utama 1 2018 0 4
Outlet 02/02/ 10:00: 7,2 148,
25 85 890 132 76
Utama 1 2018 00 7 05
Outlet 02/02/ 11:00: 7,2 146,
25,5 85 900 132 77
Utama 1 2018 00 5 88
Outlet 02/02/ 12:00: 7,2 147,
26,1 75 900 132 68
Utama 1 2018 00 5 21
Outlet 02/02/ 13:00: 7,2 146,
26,6 70 812 119 57
Utama 1 2018 00 4 57
Outlet 02/02/ 14:00: 7,2 144,
27,3 70 815 118 57
Utama 1 2018 00 5 5
-18-

Outlet 02/02/ 15:00: 7,2 143,


27,8 70 825 118 58
Utama 1 2018 00 2 26
Outlet 02/02/ 16:00: 7,2 142,
28,1 65 830 118 54
Utama 1 2018 00 1 3
Outlet 02/02/ 17:00: 7,1 141,
28,3 65 870 123 57
Utama 1 2018 00 7 63
Outlet 02/02/ 18:00: 7,0 140,
28,4 65 820 115 53
Utama 1 2018 00 9 35
Outlet 02/02/ 19:00: 140,
28,2 7 70 845 118 59
Utama 1 2018 00 06
Outlet 02/02/ 20:00: 7,0 138,
28 70 867 120 61
Utama 1 2018 00 6 88
Outlet 02/02/ 21:00: 7,0 137,
27,9 80 898 124 72
Utama 1 2018 00 5 83
Outlet 02/02/ 22:00: 7,0 137,
27,8 85 856 117 73
Utama 1 2018 00 7 12
Outlet 02/02/ 23:00: 7,1 136,
27,7 90 865 118 78
Utama 1 2018 00 6 32

contoh grafik konsentrasi cod per jam dalam 1 hari pada laporan online
-19-

contoh rekapitulasi laporan bulanan hasil pemantauan kualitas air limbah


terus menerus dan dalam jaringan
Pemantauan terus menerus dan Jumlah Data yang Persentase
dalam jaringan Memenuhi Baku Pemenuhan Baku
Mutu Air Limbah Mutu Air Limbah
Bulanan Bulanan
Ph 28 93
COD 26 87
TSS 30 100

contoh logbook pelaksanaan pemantauan kualitas air limbah terus menerus


a. catatan aktivitas kalibrasi (meliputi penanggungjawab, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi hasil kalibrasi), perbaikan, pemeliharaan, serta
penyesuaian yang dilakukan termasuk rekaman digital dan/atau rekaman
grafik.
b. petunjuk operasional pemantauan dan data dari hasil sparing.
c. catatan kejadian kondisi tidak normal, tanggal mulai kejadian, penyebab
kejadian, keluhan masyarakat dan upaya penanganan yang dilakukan
dalam jangka waktu 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam setelah
terjadinya kondisi tidak normal.

Salinan sesuai dengan aslinya MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN


KEPALA BIRO HUKUM, KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd. ttd.

KRISNA RYA SITI NURBAYA