Anda di halaman 1dari 17

Spesifikasi Teknis

SPESIFIKASI TEKNIS

Peserta pelaksanaan konstruksi harus membaca dan mempelajari seluruh


Gambar Kerja, Rencana Anggaran Biaya, serta Rencana Kerja dan Syarat ini dengan
seksama dan memahami benar-benar maksud dan isi dokumen ini tersebut secara
keseluruhan maupun setiap bagian. Tidak ada gugatan yang disebabkan karena peserta
tidak membaca, tidak memahami, tidak memenuhi petunjuk, ketentuan dalam gambar
atau pernyataan kesalah pahaman apapun mengenai isi dari dokumen ini.

KETENTUAN-KETENTUAN TEKNIS

PASAL 1
PENJELASAN UMUM

1.1. Data Pekerjaaan


Program : Program Penyediaan Dan Pemeliharaan Sarana Dan
Prasarana Publik
Kegiatan : Penyediaan Dan Pemeliharaan Sarana Dan Prasarana Publik
Pekerjaan : Perencanaan Pembangunan Gerbang Depan Masjid Nurul
Falah

Kegiatan tersebut di atas akan dilaksanakan sesuai dengan:


1. Gambar Bestek dan detail.
2. Uraian Kerja (Berita Acara) dan syarat-syarat dan pasal-pasal berikutnya.
3. Petunjuk-petunjuk dari Pengawas/Direksi.

PASAL 2
JADWAL PELAKSANAAN

2.1. Sebelum pekerjaan bangunan dimulai, maka Pelaksana/Kontraktor wajib membuat


jadwal pelaksanaan (Time schedule) yang memuat uraian pekerjaan, bobot
pekerjaan, dan grafik hasil pekerjaan, jadwal penggunaan material serta tenaga
kerja secara terperinci.
2.2. Dalam pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana/Kontraktor harus membuat:
a. Rencana Kerja Harian, Mingguan, dan Bulanan yang diketahui/disetujui oleh
Pengawas/Direksi.
Spesifikasi Teknis

b. Gambar Kerja, untuk pegangan/pedoman Kepala Tukang yang harus


diketahui Pengawas/Direksi.
c. Daftar yang memuat pemasukan bahan bangunan yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan bangunan.
2.3. Pelaksana/Kontraktor membuat rencana kerja/jadwal kegiatan pekerjaan sesuai
waktu dan jumlah kegiatan yang telah ditetapkan.
2.4. Rencana Kerja (Time Schedule) harus mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi..
2.5. Rencana Kerja (Time Schedule) harus sudah selesai dibuat oleh
Pelaksana/Kontraktor paling lambat 7 (tujuh) hari kalender setelah Surat Perintah
Kerja diterima.
2.6. Pelaksana/Kontraktor harus memberikan Rencana Kerja (Time Schedule)
sebanyak 1 (satu) lembar kepada Pengawas/Direksi dan 1 (satu) lembar harus
dipasang pada dinding bangsal kerja.
2.7. Pelaksana/Kontraktor harus membuat Shop Drawing, Asbuild Drawing, back up
data dan Laporan Kemajuan Fisik Pekerjaan Harian, Mingguan, dan Bulanan yang
diketahui/disetujui oleh Pengawas/Direksi.
2.8. Pengawas/Direksi akan menilai prestasi pekerjaan Pelaksana/Kontraktor
berdasarkan Rencana Kerja (Time Schedule) yang ada.

PASAL 3
LOKASI PEKERJAAN

Pekerjaan yang akan dilaksanakan berada di Kelurahan Tanah Grogot Kecamatan


Tanah Grogot.

PASAL 4
PEKERJAAN PERSIAPAN

4.1. Pembersihan Lokasi


4.1.1. Pembersihan Lokasi wajib dilakukan oleh Pelaksana/Kontraktor.
4.1.2. Pembersihan lokasi sebelum pekerjaan berlangsung dan selama
pekerjaan berlangsung dan hingga selesai pekerjaan. Batas lokasi
menggunakan gambar rencana disertai konsultasi dengan pihak owner
dan perencana/pengawas.
4.1.3. Lokasi/tanah harus dibersihkan dari tanam-tanaman, pepohonan, semak
belukar maupun hasil dari bongkaran dan diratakan terlebih dahulu
dengan melihat batas-batas tanah yang telah ada pada gambar.
Spesifikasi Teknis

4.1.4. Bahan hasil pekerjaan pembersihan lokasi harus dibuang/disingkirkan


dari lokasi/lapangan pekerjaan dan dibuang ke tempat pembuangan yang
tidak mengganggu aktifitas pekerjaan maupun aktifitas umum.
4.1.5. Bila Pengawas/Direksi memandang bahwa pekerjaan pembersihan
belum selesai, maka Pelaksana/Kontraktor harus menyelesaikan
pekerjaan yang ditunjukan oleh Pengawas/Direksi tersebut.
4.2. Pengukuran dan Pemasangan Bowplank
4.2.1. Pengukuran dilaksanakan dalam pengawasan konsultan pengawas,
ukuran papan bouwplank yang digunakan adalah lebar 15 cm tebal 2 cm
yang direntangkan pada patok-patok perentangan bouwplank, papan
bouwplank harus dibuat lurus sebelum dipasang/direntangkan.
4.2.2. Bouwplank harus kuat dan tidak mudah berubah posisinya, tanda-tanda
untuk sumbu-sumbu ukuran yang diteliti dan dicat dengan jelas
menggunakan cat yang warnanya mudah terlihat.
4.2.3. Pelaksana/Kontraktor harus menyediakan personil ahli dalam cara-cara
pengukuran dalam pembacaan alat-alat ukur seperti waterpass, prisma
silang dan alat ukur yang dipergunakan menurut kondisi dan situasi
tanah yang akan didirikan bangunan.
4.2.4. Penetapan ukuran dan sudut-sudut siku, harus diperhatikan dan diteliti
ketepatannya hal ini menjadi tanggung jawab Pelaksana/Kontraktor
sampai pekerjaan selesai.
4.2.5. Sebelum pemasangan titik ukur dilaksanakan, tanah harus dibersihkan
dan diratakan terlebih dahulu dengan melihat batas-batas tanah yang
telah ada pada gambar.
4.2.6. Pada patok tersebut harus dijelaskan (diberi tanda) garis tengah (as
sumbu).
4.2.7. Tanda-tanda tersebut harus tetap, tidak boleh berubah sampai
penyerahan pertama pekerjaan.
4.2.8. Pemasangan titik ukur harus lurus dan rata air (waterpass) dan harus
kuat.
4.2.9. Pengukuran dilaksanakan bersama-sama dengan Konsultan
Perencana/Pengawas.
4.2.10. Pemasangan bouwplank dibuat diluar rencana perletakan bangunan
serta diperhitungkan kekuatan kedudukan pasangan bouwplank dengan
adanya galian pondasi tersebut.
4.2.11. Untuk keperluan di lapangan, Pelaksana/Kontraktor harus membuat
bangsal kerja untuk penyimpanan material. Lokasi penempatan atas
persetujuan Direksi.
Spesifikasi Teknis

4.2.12. Pelaksana/Kontraktor harus melakukan pemeriksaan situasi tempat


pekerjaan guna menentukan bagian posisi taman, kantor direksi dan
gudang.
4.3. Pasang Papan Proyek
Sebelum pekerjaan dimulai, maka Pelaksana/Kontraktor harus membuat dan
memasang papan nama proyek dengan ukuran minimal 80 x 120 cm dengan
warna dasar kuning dan tulisan hitam yang cukup jelas terbaca serta memuat
informasi tentang kegiatan yang dilaksanakan.
4.4. Pelaksana/Kontraktor diwajibkan mempelajari seluruh gambar dan uraian syarat
teknis. Bila dalam rencana tersebut ada sesuatu perbedaan ukuran diantara
gambar, maka Pelaksana/Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada
Pengawas/Direksi untuk mendapat keputusan. Pelaksana/Kontraktor tidak
dibenarkan memperbaiki sendiri perbedaan ukuran yang terdapat dalam
perencanaan tersebut akibat kelalaian Pelaksana/Kontraktor, seluruhnya akan
menjadi tanggung jawab Pelaksana/Kontraktor.
4.5. Pelaksana/Kontraktor harus menyediakan air bersih untuk keperluan pelaksanaan
pekerjaan, baik air suplai dari PDAM maupun air dari sumur pompa dan
diendapkan pada reservoir/bak air. Air selalu bersih, bebas dari lumpur, minyak
dan bahan kimia lainnya yang merusak, serta pengadaan tenaga listrik.
4.6. Pelaksana/Kontraktor bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan
menurut ketentuan peil-peil dan ukuran yang ditetapkan dalam gambar kerja,
rencana kerja dan syarat-syarat teknis.
4.7. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Pelaksana/Kontraktor terlebih dahulu
mengukur kembali ketetapan peil-peil yang tercantum dalam gambar dan syarat-
syarat teknis.
4.8. Ketetapan dalam ukuran peil mutlak diperhatikan dan jika terjadi kesalahan yang
dilakukan oleh Pelaksana/Kontraktor dan tidak dapat ditotelir maka
Pengawas/Direksi berhak memerintahkan untuk membongkar dan akibat tersebut
menjadi tanggung jawab Pelaksana/Kontraktor.

PASAL 5
BAHAN-BAHAN DAN PERALATAN

5.1. Untuk kelancaran pekerjaan, Pelaksana/Kontraktor diwajibkan mendatangkan


bahan-bahan keperluan untuk pembangunan tersebut tepat pada waktunya
dengan kualitas yang dapat diterima Direksi.
5.2. Bahan-bahan tersebut harus didatangkan dalam keadaan baru sama sekali,
kecuali ditentukan lain dalam persyaratan kontrak.
5.3. Menyediakan peralatan bantu dan pekerja/tenaga yang diperlukan.
Spesifikasi Teknis

5.4. Alat-alat yang disediakan harus betul-betul dapat dimanfaatkan sesuai dengan
fungsi alat tersebut.
5.5. Persyaratan Bahan:
5.5.1. Bahan yang digunakan harus memenuhi standar Persyaratan Bahan-
bahan PUBB 1970/PBI-1971 dan SNI.
5.5.2. Pasir pasang/pasir beton adalah pasir bersih yang berasal dari sungai
dengan diameter rat-rata 0,5 s/d 2 mm dan bebas dari kandungan tanah,
kandungan zat-zat organic dan kimia, dipakai untuk pasangan
batu/beton.
5.5.3. Bahan agregat pasir harus didatangkan dari tempat-tempat yang telah
disetujui mutunya oleh Pengaws/Direksi dan harus memenuhi syarat-
syarat mutu.
5.5.4. Bahan agregat pasir dan semen harus ditempatkan sedemikian rupa
sehingga tidak bercampur dengan bahan-bahan yang dapat merusak
mutu bahan sebelum pemakaian.
5.5.5. Agregat pasir yang akan digunakan sebagai campuran semen tidak
boleh mengandung lumpur lebih dari 5%. Apabila kadar lumpur lebih dari
5%, maka agregat pasir harus dicuci.
5.5.6. Untuk membuktikan banyaknya kadar lumpur di lapangan, maka
dilaksanakan dengan menggunakan gelas ukur. Gelas ukur tersebut diisi
dengan pasir sampai garis angka 100. Kemudian isikan air sampai garis
angka 200. Kocok gelas sampai airnya keruh dan selanjutnya didiamkan
sampai airnya bersih kembali. Maka di antara pasir akan terdapat lumpur
yang akan dibuktikan banyaknya.
5.5.7. Besi beton harus bebas dari karat, sisik dan lain-lain lapisan yang dapat
mengurangi lekatnya pada beton. Ukuran semua diameter tulangan
menggunakan ukuran asli (ukuran dalam gambar adalah ukuran yang
terpasang).
5.5.8. Perlengkapan besi beton, meliputi semua peralatan yang diperlukan
untuk mengatur jarak tulangan/besi beton dan mengikat tulangan-
tulangan pada tempatnya.
5.5.9. Untuk mendapatkan jaminan akan kualitas besi yang diminta, maka
disamping adanya sertifikat dari pabrik, juga harus ada/dimintakan
sertifikat dari laboratorium baik pada saat pemesanan maupun pada saat
periodik minimum masing-masing 2 contoh percobaan (stresstrain) dan
pelengkungan untuk setiap 20 ton besi. Pengetesan dilakukan pada
laboratorium yang disetujui oleh Pengawas/Direksi.
5.5.10. Jenis semen yang dipakai harus jenis semen type satu sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan dalam SNI.
Spesifikasi Teknis

5.5.11. Semen yang didatangkan ke lokasi kegiatan, harus disimpan pada


gudang yang berlantai kering sedemikian rupa, sehingga terjamin tidak
akan rusak dan/atau tercampur bahan lain yang dapat merusak mutu
semen.
5.5.12. Pada pemakaian semen yang dibungkus, penimbunan semen yang baru
datang tidak boleh dilakukan di atas timbunan yang telah ada dan
pemakaian semen harus dilakukan menurut urutan pengirimannya.
5.5.13. Split/Kerikil yang digunakan adalah yang berkualitas baik, bersih, keras,
berat dan padat dengan gradasi 10-30 mm.
5.5.14. Air yang dipakai harus bersih, tawar dan bebas dari bahan kimiawi yang
dapat merusak beton, asam alkali atau bahan organik. Air yang
mengandung garam dan/atau bahan lain yang dapat merusak beton tidak
boleh dipakai.
5.5.15. Bila terdapat keragu-raguan terhadap air yang dipakai, maka contoh air
tersebut harus diperiksakan di laboratorium dibawah tanggung jawab
kontraktor.
5.5.16. Bila pemeriksaan air tersebut tidak memenuhi syarat untuk bahan
campuran beton, maka air tersebut tidak boleh dipakai.

PASAL 6
PEKERJAAN GALIAN

6.1 Pelaksana/Kontraktor bertanggung jawab atas tata letak yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan. Sebelum penataan, Pelaksana/Kontraktor harus
menyerahkan rencana tata letak untuk mendapat persetujuan dari
Direksi/Pengawas. Bench Mark yang bersifat tetap ataupun sementara harus
dijaga dari kemungkinan gangguan atau pemindahan.
6.2 Pada pekerjaan ini galian tanah dilaksanakan untuk :
a. Pekerjaan pondasi
b. dan pada bagian lain yang ditunjukan dalam gambar rencana.
6.3. Dalam hal ini metode pekerjaan dengan tangan yang harus dilaksanakan secara
mekanik. Penggunaan mesin untuk penggalian diperbolehkan, kecuali untuk
tempat-tempat dimana penggunaan mesin-mesin tersebut dapat merusak benda-
benda yang berada di dekatnya, bangunan-bangunan ataupun pekerjaan yang
telah rampung.
6.4. Galian tanah harus dilakukan sesuai dengan batas-batas peil dan kemiringan
sesuai pada gambar rencana. Galian harus mempunyai ukuran yang cukup agar
pelaksanaan penempatan konstruksi dapat dilakukan dengan baik sesuai dimensi
yang tertera pada gambar rencana.
Spesifikasi Teknis

6.5. Galian tanah harus dibuang di luar bouwplank dan diratakan sedemikian rupa
hingga tidak mudah jatuh kembali kedalam lubang galian.
6.6. Bentuk galian untuk pondasi harus dibuat dengan kemiringan yang disesuaikan
dengan jenis/sifat tanah setempat untuk menjaga agar lobang galian tidak longsor.
6.7. Semua tempat penggalian harus dilindungi agar bebas dari rembesan air, banjir,
genangan air dan segala macam jenis kotoran. Tidak diperkenankan adanya
genangan air di dalam lokasi pekerjaan.
6.8. Semua benda di permukaan seperti pohon, akar dan tonjolan, serta rintangan-
rintangan dan lain-lain yang berada di dalam batas daerah pembangunan yang
tercantum dalam gambar harus dibersihkan.
6.9. Kecuali pada tempat-tempat yang harus digali, lubang-lubang bekas pepohonan
dan lubang-lubang lain, harus diurug kembali dengan bahan-bahan yang baik dan
harus dipadatkan.
6.10. Pelaksana/Kontraktor bertanggung jawab untuk membuang sendiri tanaman-
tanaman dan puing-puing ke tempat yang ditentukan oleh Direksi/Pengawas.
6.11. Selama pelaksanaan pekerjaan tanah, Pelaksana/Kontraktor harus diwakili oleh
seorang pengawas ahli yang sudah berpengalaman dalam bidang pekerjaan
penggalian, yang mengetahui semua aspek pekerjaan yang harus dilaksanakan
sesuai kontrak.

PASAL 7
PEKERJAAN URUGAN

7.1. Pekerjaan Urugan Tanah Biasa


7.1.1. Sebelum pengurugan dilakukan, lokasi harus dibersihkan dari segala
macam kotoran.
7.1.2. Tanah yang digunakan untuk urugan adalah jenis tanah yang tidak
mengandung lumpur.
7.1.3. Urugan di bagian samping pondasi/pengurugan kembali bekas galian
konstruksi dilakukan dengan urugan tanah urug hingga mencapai tanah
asli/sampai dengan level sesuai yang tercantum dengan gambar
pelaksanaan, baik di bagian luar maupun bagian dalam bangunan.
7.1.4. Pekerjaan urugan tanah harus dilakukan dengan pemadatan yang
dilaksanakan lapis demi lapis, masing-masing setebal 10 cm, kemudian
disiram air sampai merata lalu dipadatkan menggunakan alat pemadat
(stamper), sehingga urugan tersebut benar-benar padat.
7.1.5. Pekerjaan pada Pasal 7.1.4. dilakukan berulang-ulang hingga mencapai
ketinggian yang sesuai dengan gambar rencana.
7.2. Pekerjaan Urugan Pasir
Spesifikasi Teknis

7.2.1. Pasir urug yang digunakan adalah pasir yang sudah bersih dan bebas
dari zat-zat non organic dan bebas dari lumpur.
7.2.2. Pekerjaan urugan pasir harus dilakukan dengan pemadatan yang
dilaksanakan lapis demi lapis, masing-masing setebal 5 cm, kemudian
disiram air sampai merata lalu dipadatkan menggunakan alat pemadat
(stamper), sehingga urugan tersebut benar-benar padat.
7.2.3. Pekerjaan pada Pasal 7.2.2. dilakukan berulang-ulang hingga mencapai
ketinggian yang sesuai dengan gambar rencana.
7.3. Pekerjaan Urugan Tanah Hitam
7.3.1. Sebelum pengurugan dilakukan, lokasi harus dibersihkan dari segala
macam kotoran.
7.3.2. Tanah yang digunakan adalah jenis tanah humus.
7.3.3. Urugan dilakukan berulang-ulang hingga sesuai dengan level yang
tercantum dalam gambar rencana.
7.4. Pekerjaan Urugan Tanah Subur/Tanah Media
7.4.1. Sebelum pengurugan dilakukan, lokasi harus dibersihkan dari segala
macam kotoran.
7.4.2. Tanah yang digunakan adalah jenis tanah humus.
7.4.3. Urugan dilakukan berulang-ulang hingga sesuai dengan level yang
tercantum dalam gambar rencana.
7.5. Pekerjaan pengurugan harus dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
7.6. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pengurugan harus diketahui dan
disetujui oleh Pengawas/Direksi.
7.7. Pekerjaan pengurugan dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 8
PEKERJAAN PONDASI

8.1. Pondasi terbuat dari pasangan batu gunung dengan camp. 1:4 seperti yang
dinyatakan di dalam gambar rencana baik mengenai ukuran dan bentuknya.
8.2. Semen Portland yang digunakan harus memenuhi syarat, seperti yang
dicantumkan dalam " PBI 1971 dan SNI. Jenis semen dapat dipilih dari salah satu
merk semen saja, hal ini mengikat untuk seluruh pekerjaan.
8.3. Pasir yang digunakan adalah pasir yang berbutir tajam, keras bersih dan tidak
mengandung bahan-bahan organis.
8.4. Air yang digunakan tidak boleh mengandung minyak, asam alkali, garam, bahan
organis atau bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan, atau
jaringan kawat baja.
Spesifikasi Teknis

8.5. Sebelum pondasi dipasang, terlebih dahulu dibuat profil-profil/bentuk pondasi dari
kayu pada setiap ujung, yang bentuk dan ukurannya sesuai dengan gambar
pelaksanaan dan telah mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas.
8.6. Pekerjaan pasangan pondasi dinyatakan selesai apabila telah mendapat
persetujuan dari Pengawas/Direksi.

PASAL 9
PEKERJAAN PEMBESIAN

9.1. Besi Beton


9.1.1. Besi beton harus dari besi baja U 24 dengan tegangan leleh 100 kg/cm²
dan tegangan-tegangan yang diijinkan 1400 kg/cm² dan harus memenuhi
ketentuan-ketentuan PBI 1971 dan SNI.
9.1.2. Kawat pengikat/bendrat harus dari baja lunak dengan diameter minimum
1 mm serta tidak bersepuh seng dan yang telah dipijarkan terlebih
dahulu.
9.1.3. Penyimpanan harus tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di
udara terbuka terlalu lama. Sebelum dicor semua besi harus bebas
minyak, kotoran, cat, karat dan dipasang pada posisi yang tepat hingga
tidak dapat berubah atau bergeser sewaktu adukan digetarkan atau
dipadatkan.
9.2. Besi Wiremesh, M-8
9.2.1. Besi Wiremesh yang digunakan adalah Wiremesh M-8 dan harus
memenuhi ketentuan-ketentuan PBI 1971 dan SNI.
9.2.2. Kawat pengikat/bendrat harus dari baja lunak dengan diameter minimum
1 mm serta tidak bersepuh seng dan yang telah dipijarkan terlebih
dahulu.
9.2.3. Penyimpanan harus tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di
udara terbuka terlalu lama. Sebelum dicor semua besi harus bebas
minyak, kotoran, cat, karat dan dipasang pada posisi yang tepat hingga
tidak dapat berubah atau bergeser sewaktu adukan digetarkan atau
dipadatkan.
9.3. Pembesian beton dan diameter beton yang dipakai, harus sesuai dengan gambar
rencana dan apabila menurut pendapat pemborong ditemui kekeliruan atau perlu
penyempurnaan pembesian pada gambar kerja maka pemborong berhak untuk
mengusulkan gambar penyempurnaan yang dimaksud kepada pemberi tugas
untuk persetujuan atau pengecekan kembali.
9.4. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembesian harus diketahui dan
disetujui oleh Pengawas/Direksi.
Spesifikasi Teknis

9.5. Pekerjaan pembesian dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 10
PEKERJAAN BETON

10.1. Air
Air untuk adukan beton dan perawatannya harus air bersih, bebas dari bahan-
bahan yang merusak beton dan baja tulangan atau bercampur dengan bahan yang
mempengaruhi daya lekat semen.
10.2. Pasir, Kerikil atau Batu Pecah
Pasir, kerikil dan batu pecah harus bersifat kekal, bersih serta tidak mengandung
bahan-bahan yang mempengaruhi kekuatan atau kekekalan konstruksi beton pada
setiap umur termasuk daya tahannya terhadap karat baja tulangan beton.
10.3. Semen
Semen yang digunakan harus disetujui dan disahkan yang berwenang dan
memenuhi syarat PBI 1971 dan SNI. Pengangkutan harus terhindar dari air/hujan
dan bebas dari kelembaban. Semen harus diletakkan pada ketinggian 30 cm dari
permukaan lantai/tanah, penumpukan tidak lebih dari 20 meter, dalam
pengirimannya yang baru harus dipisahkan dengan yang lama, sehingga
pemakaian semen sesuai dengan urutan pengiriman.
10.4. Cetakan dan Acuan
10.4.1. Cetakan harus dibuat dari papan kayu/plywood bermutu baik dengan
ketebalan bergantung dari kualitas dan jarak penguat cetakan tersebut.
10.4.2. Cetakan dirakit dan diberi penguat serta disangga sedemikian rupa,
sehingga tidak ada perubahan bentuk akibat getaran atau lengkungan
dikarenakan tekanan adukan beton yang cair/padat. Pada cetakan kolom
dan dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk membersihkan
kotoran dan keperluan pengecoran. Cetakan beton harus bersih dan
dibasahi sebelum pengecoran dan dicegah penggenangan air pada
bagian bawah cetakan.
10.5. Adukan Beton
10.5.1. Pekerjaan konstruksi beton untuk kolom praktis uk. 12/12 cm, sloof 12/15
cm, sloof 12/34 cm, plat sepatu kolom taman, ringbalk 12/12 cm, plat
penutup kolom dan beton pengunci floor drain dibuat dengan memakai
campuran 1 PC : 2 Pasir : 3 Split.
10.5.2. Pekerjaan konstruksi beton untuk lantai taman dan tangga menggunakan
beton Ready Mix Mutu K.225.
Spesifikasi Teknis

10.5.3. Sebelum pasir dan split diaduk, semua harus dibersihkan dari segala
kotoran dan lumpur.
10.5.4. Bahan-bahan yang digunakan sesuai dengan peraturan spesifikasi
bahan bangunan.
10.5.5. Komposisi bahan harus ditakar dengan seksama, volume atau beratnya.
Bilamana campuran yang telah ditentukan itu tidak ditepati, maka
konstruksi beton yang telah dicor itu akan diperintahkan untuk dibongkar
atas tanggungan Pelaksana/Kontraktor.
10.5.6. Bahan campuran tambahan dibolehkan jika disetujui oleh pemberi tugas
atau apabila ada ketentuan lain.
10.5.7. Adukan beton sudah harus digunakan dalam waktu 1 jam setelah
pengadukan dengan air dikerjakan.
10.5.8. Adukan beton harus diangkut sedemikian rupa sehingga dapat dicegah
terjadinya pemisahan unsur-unsur bahan, dan tidak boleh dijatuhkan
lebih dari 2 jam.
10.6. Pengecoran Beton
10.6.1. Pengecoran kedalam cetakan harus selesai sebelum adukan mulai
mengental, yang dalam keadaan normal biasanya dalam waktu 30 menit.
10.6.2. Pengecoran pada suatu bagian dari pekerjaan harus dilakukan tanpa
berhenti dan tidak boleh terputus tanpa adanya persetujuan dari pemberi
tugas, tidak mengecor pada waktu hujan, kecuali jika
Pelaksana/Kontraktor mengambil tindakan pencegahan kerusakan yang
dapat disetujui pemberi tugas.
10.6.3. Sebelum melaksanakan pengecoran pada bagian-bagian utama dari
pekerjaan, maka Pelaksana/Kontraktor harus memberi tahu kepada
pemberi tugas untuk mendapat persetujuan.
10.6.4. Pengecoran harus dipadatkan dengan baik dan memakai alat penggetar
(vibrator) yang berfrekuensi paling sedikit 3.000 rpm dan tidak boleh
menggetarkan adukan lebih dari 20 detik.
10.7. Perawatan Beton
10.7.1. Selama beton dalam proses mengeras, maka diadakan perawatan dan
perlindungan terhadap sinar matahari, angin hingga tidak terjadi
penguapan yang cepat.
10.7.2. Setelah pengecoran, beton harus dibasahi terus (disiram) terus
sekurang-kurangnya 7 hari.
10.7.3. Pada beton yang menurut pemberi tugas belum cukup umur tidak
diperkenankan untuk menaruh atau menahan bahan-bahan atau beban-
beban berat.
10.8. Pembongkaran Cetakan
Spesifikasi Teknis

10.8.1. Cetakan tidak diperkenankan dibuka/dibongkar sebelum beton mencapai


kekuatan kubus yang cukup untuk memikul 2 x beban sendiri.
10.8.2. Pelaksana/Kontraktor harus memberitahu kepada Pengawas/Direksi jika
akan membongkar cetakan, terutama pada bagian konstruksi utama dan
minta persetujuannya. Perlu ditekankan bahwa Pelaksana/Kontraktor
bertanggung jawab penuh atas keamanan konstruksi, walaupun adanya
persetujuan pemberi tugas, tidak berarti Pelaksana/Kontraktor lepas dari
tanggung jawab.
10.8.3. Semua prosedur pembongkaran cetakan harus memperhatikan
ketentuan-ketentuan dalam PBI 1971 dan SNI.
10.9. Cacat Pada Beton
Meskipun hasil pengujian kubus-kubus memuaskan, pemberi tugas pekerjaan
berwenang untuk menolak beton yang cacat seperti sebagai berikut :
a. Beton yang sangat keropos
b. Beton yang tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan posisinya tidak
seperti yang tertera dalam gambar.
c. Beton yang tidak tegak lurus/rata seperti yang dikehendaki.
d. Beton yang berisikan potongan kayu atau benda-benda lainnya.
e. Semua akibat dan biaya perbaikan atau pembuatan beton kembali menjadi
tanggungan Pelaksana/Kontraktor.
10.10. Semua pekerjaan pembetonan harus dikerjakan sesuai dengan Gambar Kerja.
10.11. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembetonan harus diketahui dan
disetujui oleh Pengawas/Direksi.
10.12. Pekerjaan pembetonan dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan
dari Pengawas/Direksi.

PASAL 11
PEKERJAAN PASANGAN BATA

11.1. Pondasi taman menggunakan rolag pasangan 1 bata dengan campuran 1:2.
11.2. Dinding kolom taman menggunakan pasangan ½ bata dengan campuran 1:4.
11.3. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pasangan bata harus diketahui dan
disetujui oleh Pengawas/Direksi.
11.4. Pekerjaan pasangan bata dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan
dari Pengawas/Direksi.
Spesifikasi Teknis

PASAL 12
PEKERJAAN PROFILAN BETON, PLESTERAN DAN ACIAN

12.1. Profilan Beton


12.1.1. Profilan beton ornament kolom menggunakan campuran 1:4.
12.1.2. Profilan plat penutup kolom menggunakan cor beton dengan memakai
campuran 1 PC : 2 Pasir : 3 Split.
12.2. Plesteran dan Acian
12.2.1. Sebelum beton diplester siar harus dikorek sedalam 1,5 cm untuk
mendapatkan ikatan yang lebih baik. Kelembaban plester harus dijaga
sehingga pengeringan bidang plesteran stabil dan kemudian diperhalus
dengan acian semen.
12.2.2. Plesteran menggunakan campuran 1:4.
12.2.3. Apabila pekerjaan plesteran sudah selesai dilaksanakan, maka
dilanjutkan dengan pekerjaan acian.
12.2.4. Jenis semen yang dipakai untuk plesteran dan acian harus jenis semen
type satu sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dalam PBI 1971
dan SNI.
12.2.5. Air yang dipakai harus bersih, tawar dan bebas dari bahan kimiawi yang
dapat merusak beton, asam alkali atau bahan organik. Air yang
mengandung garam dan/atau bahan lain yang dapat merusak beton tidak
boleh dipakai.
12.3. Pekerjaan profilan, plesteran dan acian dinyatakan selesai apabila telah mendapat
persetujuan dari Pengawas/Direksi.

PASAL 13
PEKERJAAN BATU ALAM

13.1. Batu alam yang digunakan adalah batu temple hitam/batu candi.
13.2. Batu alam harus benar-benar dipasang dengan baik dan rapi.
13.3. Pekerjaan batu alam dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 14
PEKERJAAN KERAMIK

14.1. Ukuran keramik


14.1.1. Keramik lantai taman dan tangga menggunakan keramik ukuran 40x40
cm, anti slip.
Spesifikasi Teknis

14.1.2. Lantai mozaik menggunakan keramik mozaik 100 x 100 cm, unpolish.
14.2. Motif dan warna keramik akan ditentukan kemudian sesuai dengan petunjuk
Direksi/Owner.
14.3. Pada bagian mozaik dipasang koral sikat.
14.4. Pekerjaan keramik dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 15
PEKERJAAN PAGAR

15.1. Pagar taman dibuat dari besi hollow 40/40 mm dan 10/10 mm.
15.2. Pagar harus dikerjakan sesuai dengan Gambar Kerja.
15.3. Warna pagar akan ditentukan kemudian sesuai dengan petunjuk Direksi/Owner.
15.4. Pekerjaan pagar harus dilaksanakan dengan halus, siku dan berkualitas dan
dipasang secara waterpass dan tegak lurus.
15.5. Pekerjaan keramik dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 16
PEKERJAAN DRAINASE DAN PERPIPAAN

16.1. Floor drain yg digunakan adalah floor drain plastik.


16.2. Instalasi air kotor menggunakan pipa PVC Type AW diameter 3” dan Elbow
diameter 3”.
16.3. Pekerjaan drainase dan perpipaan dinyatakan selesai apabila telah mendapat
persetujuan dari Pengawas/Direksi.

PASAL 17
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

17.1 Lampu taman memakai bola lampu setara Phillips Tornado SL 20 watt.
17.2 Tiang lampu taman setara Artoria Octagonal 82.51,SR -0-2,5 cabang 1 tinggi 2,5
m.
17.3 Kabel yang digunakan adalah kabel tipe NYM 2×2.5.
17.4 Peralatan elektrikal lainnya yang digunakan adalah magnetic contactor 50 A, Timer
Control LED Display, MCB 10A, MCCB 3 Phase 50 A, Fuse Boutton Switch 32 A.
17.5 Pekerjaan elektrikal harus dikerjakan dengan baik dan rapi, serta sesuai dengan
persyaratan SNI.
Spesifikasi Teknis

17.6 Pekerjaan elektrikal dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 18
PEKERJAAN TAMAN

18.1. Tanaman yang digunakan adalah bunga campuran, ditanam dengan jarak yang
cukup sesuai dengan kondisi di lapangan.
18.2. Jenis rumput yang digunakan adalah rumput manila.
18.3. Selama masa pelaksanaan pekerjaan Pelaksana/Kontraktor wajib menyiram,
memupuk dan memelihara rumput dan tanaman yang sudah ditanam.
18.4. Pekerjaan taman dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 19
PEKERJAAN PENGECATAN

19.1. Pengecatan bidang yang tampak harus dicat dengan cat eksterior (Weathershield).
19.2. Warna cat akan ditentukan kemudian sesuai dengan petunjuk Direksi/Owner.
19.3. Sebelum pengecatan dilakukan permukaan yang akan dicat harus diplamir terlebih
dahulu hingga merata dan diamplas halus. Kemudian baru dilakukan pengecatan
minimal 1 lapis cat dasar dan 2 lapis cat penutup jenis weathershield atau sampai
mencapai hasil yang rata dan baik.
19.4. Pekerjaan pengecatan dinyatakan selesai apabila telah mendapat persetujuan dari
Pengawas/Direksi.

PASAL 20
PEKERJAAN PEMBERSIHAN
DAN PENGAMANAN SETELAH PEMBANGUNAN

20.1. Pembersihan lokasi pembangunan konstruksi dan pembersihan semua pekerjaan


yang termasuk dalam lingkup pekerjaan ini, serta semua barang atau bahan
bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi setelah pekerjaan selesai
menjadi tanggung jawab Pelaksana/Kontraktor.
20.2. Semua bekas bongkaran dan sebagainya harus dikeluarkan dari lokasi
pembangunan konstruksi.
20.3. Selama pembangunan berlangsung, Pelaksana/Kontraktor harus menjaga
keamanan bahan/material, barang maupun bangunan yang dilaksanakannya
sampai tahap serah terima.
Spesifikasi Teknis

PASAL 21
PENUTUP

21.1. Untuk kelancaran pekerjaan, maka Pelaksana/Kontraktor diharuskan:


a. Mendatangkan bahan-bahan/material yang diperlukan untuk pekerjaan
tersebut tepat pada waktunya dengan kualitas dan kuantitas yang seusai
dengan rencana.
b. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Pelaksana/Kontraktorg harus memberikan
contoh material: split, pasir, kayu, dan semen untuk mendapat persetujuan
Pengawas/Direksi.
c. Menyediakan alat-alat bantu dan pekerja/tenaga yang diperlukan.
21.2. Semua bahan yang telah masuk di site dan menyimpang dari ketentuan dalam
spesifikasi, maka bahan tersebut harus dikeluarkan dari site dalam waktu 1 x 24
jam sejak diketahuinya penyimpangan itu oleh Pengawas/Direksi.
21.3. Meskipun dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini pada uraian pekerjaan
dan uraian bahan-bahan tidak dinyatakan kata-kata yang harus dipasang oleh
Pelaksana/Kontraktor atau yang harus disediakan oleh Pelaksana/Kontraktor,
tetapi tidak disebutkan atau diuraikan dalam penjelasan pekerjaan pembangunan
ini, perkataaan-perkataan tersebut di atas tetap dianggap ada dan dibuat dalam
RKS ini.
21.4. Pekerjaan yang nyata-nyata menjadi bagian dari pekerjaan pembangunan tetapi
tidak dimuat atau diuraikan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini
tetapi tertuang di dalam RAB atau Gambar Kerja, harus tetap diselenggarakan dan
diselesaikan oleh Pelaksana/Kontraktor dan harus dianggap seakan-akan
pekerjaan ini dimuat dan diuraikan kata demi kata pada Rencana Kerja dan
Syarat-syarat (RKS) ini untuk menuju penyerahan selesai yang lengkap dan
sempurna sesuai menurut pertimbangan Direksi.
21.5. Asbuild Drawing dan laporan kemajuan fisik pekerjaan ditanda tangani oleh
Konsultan Pengawas dan Pengawas Lapangan dan Pengelola Kegiatan (Direksi),
serta diserahkan kepada Pengelola Kegiatan sebelum serah terima pekerjaan
dilakukan.
21.6. Bila ternyata ada perbedaan ketentuan antara bestek dengan kontrak atau bestek
dengan gambar rencana atau bestek dengan RAB atau RAB dengan gambar
rencana atau hal-hal lainnya yang dapat menimbukan keragu-raguan sehingga
akan menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam pekerjaan, maka
Pelaksana/Kontraktor harus segera melaporkan dan mengkonsultasikannya
dengan Pengawas/Direksi sesegera mungkin.
Spesifikasi Teknis

21.7. Satu dan lain hal yang menyimpang dari hal-hal tersebut di atas akan
ditentukan/diputuskan oleh Pengawas/Direksi/Owner.

Tana Paser, .…………………… 2014

Konsultan Perencana,
CV. FIZDTOR WIDYA REKAYASA

M. IRWANSYAH, ST
Direktur