Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN ANALISIS TES

MATA PELAJARAN IPA KELAS VI SD

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas


mata kuliah Evaluasi Pembelajaran SD (GD519)
Dosen Drs. Yaya Sunarya, M.Pd. (1005)

Oleh

Bella Nur Andani

1003310

3 Matematika

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


JURUSAN PEDAGOGIK
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2012
BAB I

PENDAHULUAN

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematik dalam


menentukan tingkat pencapaian tujuan instruksional yang diraih siswa. Evaluasi
adalah proses kegiatan yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran di
kelas, pendidikan di sekolah. Hasil dari kegiatan evaluasi berguna untuk
kepentingan perbaikan pembelajaran, untuk menentukan tingkat keberhasilan
belajar siswa, untuk kepentingan administrasi, dan sebagainya.

Evaluasi seringkali melibatkan pengukuran dan biasanya diikuti dengan


judgement untuk pengambilan keputusan. Pengukuran merujuk pada suatu proses
kegiatan yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang besar-kecilnya
perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil belajar dalam bentuk kuantitaf.
Alat yang dipergunakan dalam pengukuran disebut tes. Tes diartikan sebagai
sejumlah pertanyaan yang oleh subjek dijawab benar atau salah, atau sejumlah
tugas yang oleh subjek dilaksanakan dngan berhasil atau gagal sehingga
kemampuan subyek dapat dinyatakan dengan skor atau dinilai berdasarkan skala
tertentu.

Mengingat pentingnya evaluasi dalam pembelajaran, seorang guru sudah


seharusnya memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan evaluasi.
Kemampuan-kemampuan yang perlu dimiliki yaitu kemampuan mengembangkan
instrumen, khususnya tes, mengadministrasikan tes atau instrumen yang lainnya
dan mengolah serta menafsirkan data hasil belajar. Dari serangkaian kemampuan
tersebut, terdapat kemampuan yang perlu juga dikuasai oleh seorang guru yaitu
kemampuan menganalisis tes, sebagai salah satu dari keterampilan melakukan
evaluasi. Tes sebagai alat evaluasi diharapkan dapat menghasilkan skor yang
obyektif. Oleh karena itu perlu diusahakan agar tes yang diberikan kepada peserta
didik memiliki mutu yang cukup baik dilihat dari berbagai segi. Tes hendaknya
disusun sesuai dengan prosedur dan prinsip penyusunan tes. Kemudian setelah tes
digunakan, dengan menganalisis tes tersebut guru dapat mengetahui apakah tes
tersebut obyektif dan efektif atau sebaliknya.
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Analisis Tes


Analisis tes merupakan suatu kegiatan dalam rangka mengkonstruksi tes
untuk mendapatkan gambaran tentang kualitas tes, baik kualitas keseluruhan
tes maupun kualitas tiap butir soal yang menjadi bagian dari tes tersebut.

B. Tujuan Analisis Tes


1. Untuk mengkaji dan menelaah tes agar diperoleh soal yang bermutu.
2. Untuk mengetahui apakah tes atau soal yang digunakan untuk
mengevaluasi sudah mampu mengukur apa yang sebenarnya ingin diukur
melalui tes atau soal tersebut.
3. Untuk mengetahui sejauh mana data yang dihasilkan oleh tes atau soal
dapat berguna bagi proses pembelajaran.

C. Manfaat Analisis Tes


1. Hasil analisis tes dapat dapat menjadi umpan balik untuk perbaikan/
peningkatan kualitas tes.
2. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam membuat tes
yang baik dan efisien.
3. Guru dapat membuat „bank soal‟ yakni kumpulan soal-soal yang sudah
teruji kebaikannya.
4. Memberi masukan kepada guru tentang kesulitan siswa.

D. Cakupan Kegiatan Analisis Tes


1. Analisis validitas tes
Validitas tes adalah tingkat keabsahan atau ketepatan suatu tes. Tes yang
valid adalah tes yang benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Tes
IPA kelas VI SD, hendaknya benar-benar mengukur hasil belajar IPA siswa
kelas VI SD. Validitas tes selalu terkait dengan pertanyaan : valid dalam hal
apa dan untuk siapa? Tes yang valid untuk siswa SMP kelas VIII, tidak valid
untuk siswa sekolah dasar. Dengan demikian, menguji validitas suatu tes
berarti kita membandingkan tes yang telah dibuat dengan suatu kriteria
tertentu.
Berdasarkan cara/ prosedur pengujian validitas, terdapat dua cara yaitu
analisis rasional dan analisis empiris. Analisis rasional dilakukan dengan
judgement, sedangkan analisis empiris adalah analisis dengan menggunakan
data empiris hasil di lapangan. Berdasarkan standar yang digunkan, ada
empat macam validitas tes, yakni :
a. Validitas permukaan (face validity)
Tingkat validitas permukaan diketahui dengan melakukan analisis atau
telaah rasional (berdasarkan pertimbangan logis, bukan pada hitungan
angka-angka empirik). Untuk melakukan analisis validitas permukaan, hal
yang dapat dijadikan kriteria adalah aturan penulisan soal. Indeks validitas
yang didapat adalah prosentase. Berapa persen soal-soal yang dibuat sesuai
dengan kriteria penulisan soal. semakin besar prosentase yang diperoleh
maka semakin valid tes tersebut. Akan tetapi, perlu diingat bahwa validitas
permukaan tergolong analisis paling lemah, namun lebih baik daripada tidak
dilakukan analisis sama sekali. Sehingga lebih baik bila tes tersebut
dianalisis lebih lanjut lagi.
b. Validitas isi (content validity)
Tingkat validitas isi juga diketahui dengan analisis rasional. Pada
prinsipnya dilakukan pemeriksaan terhadap tiap butir soal, apakah soal
sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus atau dengan kompetensi
yang hendak diukur atau dengan indikator keberhasilan siswa. Untuk
validitas isi, kriteria yang dapat digunakan adalah kisi-kisi penulisan soal
yang disusun berdasarkan silabus.
c. Validitas kriteria (criterion validity)
Validitas ini diketahui dengan cara empirik, yakni menghitung
koefisien korelasi antara tes bersangkutan dengan tes lain yang sudah
dianggap valid sebagai kriterianya. Sebagai contoh, skor tes Matematika
buatan guru dikorelasikan dengan skor tes Matematika yang telah
dibakukan. Dengan rumus korelasi Pearson‟s Product Moment dan
menggunakan kalkulator, perhitungan validitas kriteria tersebut tidak terlalu
sulit, apalagi bila menggunakan komputer. Kesulitan utama dalam
menentukan validitas kriteria ialah mencari skor tes yang akan dijadikan
kriteria. Bila kriterianya buruk atau tidak valid, maka validitas tes yang
diperoleh akan percuma saja.
d. Validitas ramalan (predictive validity)
Validitas ini menunjukkan sejauh mana skor tes bersangkutan dapat
digunakan meramal keberhasilan siswa di masa mendatang dalam bidang
tertentu. Cara menghitungnya sama seperti validitas kriteria, dalam hal ini
skor tes dikorelasikan dengan keberhasilan siswa di masa datang.
Suatu tes yang baik biasanya memiliki angka validitas 0,50 atau lebih;
tentu saja angka itu makin tinggi makin baik. Suatu tes dengan angka
validitas kurang dari 0,50 belum tentu buruk. Mungkin kriterianya yang
buruk atau keliru menentukan kriteria.

2. Analisis reliabilitas tes


Reliabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsistensi) suatu tes, yakni
sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang tidak
berubah-ubah walaupun diteskan pada situasi dan waktu yang berbeda-beda.
Ada tiga cara mengetahui reliabilitas tes. Pada prinsipnya diperoleh
dengan menghitung koefisien korelasi antara dua kelompok skor tes. Tiga
cara itu sebagai berikut.
a. Tes-retest method (metoda tes ulang)
Suatu tes diujikan terhadap kelompok siswa tertentu dua kali dengan
jangka waktu tertentu (misalnya satu semester atau satu catur wulan ). Skor
hasil pengetesan pertama dikorelasikan dengan skor hasil pengetesan kedua.
b. Paralel test method (metoda tes paralel)
Cara ini mengharuskan adanya dua tes yang paralel, yakni dua tes yang
disusun dengan tujuan yang sama (hanya sedikit perbedaan redaksi,isi atau
susunan kalimatnya). Dua tes tersebut diadministrasikan pada satu
kelompok siswa dengan perbedaan waktu beberapa hari saja. Skor dari
kedua macam tes tersebut kemudian dikorelasikan.
c. Split-half method (metode belah dua)
Cara ini paling mudah karena tidak perlu mengulangi pelaksanaan tes
atau menyusun tes yang paralel. Cukup satu tes dan diadministrasikan satu
kali kepada sekelompok siswa (minimal 30 siswa). Pada saat penyekoran,
tes dibelah menjadi dua sehingga tiap siswa memperoleh dua macam skor,
yakni skor yang diperoleh dari soal-soal bernomor genap. Skor total
diperoleh dengan menjumlah skor ganjil dan genap. Selanjutnya skor-ganjil
dikorelasikan dengan skor- genap, hasilnya adalah koefisien korelasi rgg.
Atau koefisien korelasi ganjil-genap.

3. Analisis butir soal


Baik buruknya tes tergantung pada butir-butir soal yang ada di dalamnya.
Oleh sebab itu untuk mendapatkan tes yang baik perlu dipilih butir-butir yang
baik. Butir yang buruk harus dibuang, yang kurang baik perlu direvisi. Untuk
mengetahui kualitas tiap butir soal perlu analisis satu persatu. Analisis butir
soal meliputi:
a. Analisis daya pembeda tiap butir soal.
Daya pembeda menunjukkan sejauh mana tiap butir soal mampu
membedakan siswa yang menguasai bahan dan siswa yang tidak menguasai
bahan. Butir soal yang daya pembedanya rendah, tidak ada manfaatnya,
malahan dapat merugikan siswa yang belajar sungguh-sungguh.
b. Analisis tingkat kesukaran tiap butir soal.
Tingkat kesukaran menunjukkan apakah butir soal tergolong sukar,
sedang atau mudah. Tes yang baik memuat kira-kira 25 % soal mudah, 50 %
sedang dan 25 % sukar. Butir soal yang terlalu sukar sehingga hampir tidak
terjawab oleh semua siswa atau terlalu mudah sehingga dapat dijawab oleh
hampir semua siswa, sebaiknya dibuang karena tidak bermanfaat.
c. Analisis pengecoh (distraktor) pada setiap butir soal.
Analisis pengecoh/option diperlukan hanya pada tes bentuk pilihan
ganda dimana siswa harus memilih satu dari beberapa alternatif jawaban.
Tiap pengecoh/distraktor hendaknya bermanfaat, yakni ada sejumlah siswa
yang memilihnya. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali berarti tidak
bermanfaat, sedang pengecoh yang dipilih oleh hampir semua siswa berarti
terlalu mirip dengan jawaban yang benar.
d. Analisis homogenitas tiap butir soal.
Tingkat homogenitas (tingkat konsistensi) soal menunjukkan apakah
tiap butir soal mengukur aspek atau kompetensi yang sama, atau sejauh
mana tiap butir soal menyumbang skor total tiap siswa.
Butir soal yang homogen adalah yang menunjang skor total.
Sebaliknya, butir soal yang tidak seiring dengan skor-total dikatakan tidak
homogen, dan lebih baik dibuang atau direvisi.

Kegiatan analisis tes pada bentuk pilihan ganda maupun pada tes bentuk
uraian/ essay prinsipnya sama, namun ada sedikit perbedaan dalam teknik
pelaksanaan analisis.

E. Aturan Penulisan Soal Pilihan Ganda


1. Soal harus sesuai dengan indikator.
2. Pengecoh harus berfungsi.
3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar.
4. Pokok soal harus dirumuskan secara singkat, jelas dan tegas.
Contoh soal yang pernyataannya tidak jelas dan tegas :
Pada umumnya, kata berimbuhan adalah ….
a. berani c. beringin
b. beringas d. beranjak (B. Indonesia SD)
5. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan
yang diperlukan saja.
6. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
Contoh soal yang memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar :
Generator listrik di Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura
digerakkan oleh tenaga ….
a. air c. gas bumi
b. uap panas d. solar (IPA SD)
7. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Contoh soal yang mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda :
Nama bangun geometri di bawah ini bukan merupakan bangun ruang,
kecuali ….
a. segitiga samakaki c. prisma segitiga
b. segitiga samasisi d. bujur sangkar (Matematika SD)
8. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
9. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
10. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban
di atas salah/benar”.
Contoh :
Orang yang berhati bersih akan selalu ….
a. bersikap tekun
b. berbuat sopan
c. memperlihatkan keberanian
d. semua pilihan jawaban di atas salah (PKn SD)
11. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis waktunya.
12. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal
harus jelas dan berfungsi.
13. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang
bermakna tidak pasti seperti : sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.
14. Butir soal jangan bergantung pada jawaban sebelumnya. Ketergantungan
pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab
benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya.
15. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya
meliputi: a) pemakaian kalimat: 1) unsur subjek, 2) unsur predikat, 3) anak
kalimat; b) pemakaian kata: 1) pilihan kata, 2) penulisan kata,; c)
pemakaian ejaan: 1) penulisan huruf, 2) penggunaan tanda baca.
16. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya
mudah dimengerti siswa.
17. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku di setempat jika soal akan
digunakan untuk daerah lain atau nasional.
18. Pilihan jawaban jangan mengulang kata/ frase yang bukan merupakan satu
kesatuan pengertian. Letakkan kata/ frase pada pokok soal.
Contoh :
Tanah humus dapat dimanfaatkan untuk pertanian karena ….
a. berasal dari daun-daun yang telah mengering
b. berasal dari pembakaran daun kering
c. berasal dari kayu dan daun yang membusuk
d. berasal dari abu letusan gunung berapi (IPS SD)

F. Aturan Penulisan Soal Essay


1. Soal sesuai dengan indikator
2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas
3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran
4. Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah,
atau tingkat kelas .
5. Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya
atau perintah yang menuntut jawaban terurai
6. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal
7. Ada pedoman penskoran
8. Gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya disajikan dengan jelas dan
terbaca
9. Rumusan kalimat soal komunikatif
10. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
11. Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan
penafsiran ganda atau salah pengertian.
12. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat.
13. Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung
perasaan siswa.
BAB III

HASIL ANALISIS TES

Tes yang dianalisis diambil dari soal Ujian Akhir Semester mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI di SDN Mengger Girang 1 Bandung. Tes
tersebut terdiri dari 35 soal pilihan ganda dan 5 soal essay. Sampel hasil tes yang
dianalisis berjumlah 30 siswa. Untuk analisis tes pilihan ganda ini cakupan
kegiatannya meliputi analisis validitas, realibilitas, daya pembeda, tingkat
kesukaran, dan pengecoh/ option. Sedangkan untuk analisis tes essay meliputi
analisis validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran. Berikut hasil
analisis tes tersebut.

A. Analisis Tes PG
1. Analisis validitas tes PG
Hasil analisis secara rasional yaitu dengan menggunakan validitas
permukaan menunjukkan bahwa dari 35 soal pilihan ganda yang telah
ditelaah, terdapat 11 soal yang tidak sesuai kriteria. Perhitungan validitas
permukaan/ tampilan tes tersebut adalah (24:35) x 100% = 68,57 %.
Berdasarkan pertimbangan logis, soal-soal yang tidak sesuai dengan
kriteria tersebut perlu direvisi atau diperbaiki. Soal-soal tersebut diantaranya
 Soal pada no 1 tidak sesuai dengan indikator. Pada kisi-kisi soal
tertulis indikatornya menyebutkan ciri-ciri burung hantu.
 Perumusan soal no 2 agar lebih komunikatif sebaiknya menjadi
“Bunglon menangkap mangsanya dengan cara ….”
 Soal no 4 tidak sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Kemudian
terdapat pengecoh yang kurang bermanfaat, yaitu pada option D.
 Pada soal no 6 terdapat gambar dimana gambar pada soal tersebut
kurang jelas.
 Pada soal no 7 agar pengecoh berfungsi sebaiknya option berisi tanda-
tanda perubahan primer pada laki-laki. Kemudian option pada soal
tersebut tidak homogen dan logis karena berisi tanda-tanda pubertas
pada perempuan.
 Soal no 17 tidak sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Kemudian
pengecohnya tidak berfungsi karena tidak homogen. Sebaiknya semua
option pada soal tersebut merupakan bahan yang dijadikan bumbu
masakan.
 Soal no 18 pengecohnya tidak berfungsi karena pilihan jawabannya
tergolong.
 Pada soal no 22 dan no 23 pilihan jawabannya tidak homogen.
 Penulisan soal no 24 tidak terdapat subjek kalimat. Agar lebih jelas
sebaiknya perumusan soalnya seperti “Berdasarkan tabel di samping,
bahan yang termasuk konduktor panas ditunjukkan oleh nomor ….”
 Penulisan soal no 25 juga tidak terdapat subjek kalimatnya dan tidak
ada penggunaan tanda baca yang tepat. Perumusan soal sebaiknya
“Pada gambar di samping, bagian yang merupakan konduktor panas
ditunjukkan oleh huruf ….”

2. Analisis reliabilitas tes PG


Setelah menganalisis tiap lembar jawaban soal PG setiap siswa (30
siswa) diperoleh skor tiap lembar jawaban dengan 3 macam skor : jumlah
skor total, jumlah skor soal bernomor ganjil, dan jumlah skor soal bernomor
genap (tabel analisis skor terdapat di lampiran). Dari jumlah skor ganjl dan
genap dicari koefesien korelasi ganjil-genap. Kemudian koefesien korelasi
tersebut digunakan untuk menghitung reliabilitas. Indeks reliabilitas berkisar
antara 0 - 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1),
makin tinggi pula keajegan/ketepatannya.
Rumus koefesien reliabilitas tes metode belah dua (split half method)

2 𝑥 𝑟𝑔𝑔
rtt =
1+ 𝑟𝑔𝑔

Ket : rtt = koefesien reliabilitas tes

𝑟𝑔𝑔 = koefesien korelasi ganjil-genap


Koefesien Koefesien
korelasi ganjil- reliabilitas tes
genap

0.627050393 0.773006135

Dari hasil perhitungan, diperoleh koefesien reliabilitas tes sebesar 0,77.


Hal tersebut menunjukkan tes pilihan ganda ini memiliki tingkat reliabilitas
yang cukup baik. Artinya tes ini cukup dapat menghasilkan skor yang ajeg/
konsisten dimana skor yang dihasilkan relatif tidak berubah meskipun waktu
dan situasi saat tes digunakan berbeda-beda.

3. Analisis Butir Soal PG


a. Analisis daya pembeda pada setiap soal PG
Untuk menganalisis daya pembeda, terlebih dahulu skor total disusun
dari yang tertinggi hingga terendah. Ambil 27% siswa yang skor totalnya
tinggi (kelompok unggul atau atas) dan 27% siswa yang skor totalnya
rendah (kelompok asor atau bawah) sehingga diambil masing-masing
kelompok unggul dan asor 8 siswa. Kemudian dihitung jumlah jawaban
yang benar, baik pada kelompok unggul maupun pada kelompok asor (tabel
analisis skor terdapat di lampiran).
Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda yakni:

𝐵𝑈 −𝐵𝐴
DP = x 100%
𝑁𝑈

Ket:
DP = Indeks daya pembeda butir soal tertentu (satu butir soal)
BU = jumlah jawaban benar pada kelompok unggul atau atas
BA = jumlah jawaban benar pada kelompok asor atau bawah
NU = jumlah siswa pada salah satu kelompok U atau kelompok A
Kriteria daya pembeda sebagai berikut.
Negatif – 9% = sangat rendah
10% - 19% = rendah
20% - 29% = cukup baik
30% - 49% = baik
50% ke atas = sangat baik

Tabel Hasil Perhitungan Daya Pembeda PG


No Jumlah Jumlah
Daya Pembeda
Soal Benar Benar Ket DP
(DP)
PG KU KA
1 8 7 12.50% rendah
2 8 6 25% cukup baik
3 5 4 12.50% rendah
4 8 8 0% sangat rendah
5 8 6 25% cukup baik
6 8 5 37.50% baik
7 8 5 37.50% baik
8 8 7 12.50% rendah
9 8 1 87.50% sangat baik
10 7 6 12.50% rendah
11 8 8 0% sangat rendah
12 6 3 37.50% baik
13 8 5 37.50% baik
14 8 8 0% sangat rendah
15 8 8 0% sangat rendah
16 6 3 37.50% baik
17 8 6 25% cukup baik
18 8 8 0% sangat rendah
19 8 5 37.50% baik
20 8 3 62.50% sangat baik
21 8 4 50% sangat baik
22 8 4 50% sangat baik
23 8 2 75% sangat baik
24 8 8 0% sangat rendah
25 8 7 12.50% rendah
26 8 2 75% sangat baik
27 6 0 75% sangat baik
28 7 4 37.50% baik
29 7 4 37.50% baik
30 5 2 37.50% baik
31 8 6 25% cukup baik
32 8 5 37.50% baik
33 6 2 50% sangat baik
34 8 8 0% sangat rendah
35 8 7 12.50% rendah

Tabel di atas menunjukkan hasil dari perhitungan daya pembeda tiap


butir soal pilihan ganda. Variasi tingkat daya pembeda yang didapat dari
perhitungan diantaranya sangat rendah, rendah, cukup baik, baik, dan sangat
baik. Sebanyak 7 soal memiliki tingkat daya pembeda sangat rendah, 6 soal
memiliki tingkat daya pembeda yang rendah, 4 soal memiliki tingkat daya
pembeda yang cukup baik, 10 soal tingkat daya pembedanya baik, dan 8
soal tingkat daya pembedanya sangat baik.
Persentase daya pembeda pada soal-soal tes ini yaitu 20% sangat
rendah, 17,14% rendah, 11,43% cukup baik, 28,57% baik, dan 22,86%
sangat baik. Berikut grafik lingkaran dari persentase daya pembeda soal
pilihan ganda.

Daya Pembeda Soal PG

sangat rendah
23% 20%
rendah
cukup
17%
29% baik
11%
sangat baik

Indeks daya pembeda mulai dari cukup sampai sangat baik dapat
dikategorikan baik. Sedangkan untuk indeks daya pembeda mulai dari
sangat rendah sampai rendah dikategorikan rendah. Jadi sebanyak 62,86 %
soal pada tes pilihan ganda ini memiliki indeks daya pembeda yang baik,
yang artinya soal tersebut mampu membedakan peserta didik mana yang
belajar dan tidak belajar atau dengan kata lain dapat membedakan antara
peserta didik yang menguasai dan yang tidak menguasai materi. Sedangkan
sebanyak 37,14 % soal pada tes pilihan ganda ini memiliki indeks daya
pembeda yang rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa soal-soal tersebut
tidak dapat membedakan antara peserta didik yang menguasai materi
dengan yang tidak.

b. Analisis tingkat kesukaran pada setiap soal PG


Tabel skor yang digunakan untuk menghitung tingkat kesukaran sama
dengan tabel skor untuk menghitung daya pembeda.
Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda yakni:

𝐵𝑈 +𝐵𝐴
TK = x 100%
𝑁𝑈 +𝑁𝐴

Ket:
TK = Indeks tingkat kesukaran butir soal tertentu (satu butir soal)
BU = jumlah jawaban benar pada kelompok unggul atau atas
BA = jumlah jawaban benar pada kelompok asor atau bawah
NU = jumlah siswa pada kelompok unggul
NA = jumlah siswa pada kelompok asor

Kriteria tingkat kesukaran sebagai berikut.


0% - 15% = sangat sukar
16% - 30% = sukar
31% - 70% = sedang
71% - 85% = mudah
86% - 100% = sangat mudah
Tabel Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran PG
No Jumlah Jumlah Tingkat
Soal Benar Benar Kesukaran Ket TK
PG KU KA (TK)
1 8 7 93.75% sangat mudah
2 8 6 87.50% sangat mudah
3 5 4 56.25% sedang
4 8 8 100% sangat mudah
5 8 6 87.50% sangat mudah
6 8 5 81.25% mudah
7 8 5 81.25% mudah
8 8 7 93.75% sangat mudah
9 8 1 56.25% sedang
10 7 6 81.25% mudah
11 8 8 100% sangat mudah
12 6 3 56.25% sedang
13 8 5 81.25% mudah
14 8 8 100% sangat mudah
15 8 8 100% sangat mudah
16 6 3 56.25% sedang
17 8 6 87.50% sangat mudah
18 8 8 100% sangat mudah
19 8 5 81.25% mudah
20 8 3 68.75% sedang
21 8 4 56.25% sedang
22 8 4 56.25% sedang
23 8 2 62.50% sedang
24 8 8 100% sangat mudah
25 8 7 93.75% sangat mudah
26 8 2 62.50% sedang
27 6 0 37.50% sedang
28 7 4 68.75% sedang
29 7 4 68.75% sedang
30 5 2 43.75% sedang
31 8 6 87.50% sangat mudah
32 8 5 81.25% mudah
33 6 2 50% sedang
34 8 8 100% sangat mudah
35 8 7 93.75% sangat mudah
Berdasarkan tabel di atas, variasi indeks tingkat kesukaran pada tes
pilihan ganda ini terdiri dari sangat mudah, mudah, dan sedang. Sebanyak
15 soal memiliki indeks tingkat kesukaran sangat mudah, 6 soal memiliki
indeks tingkat kesukaran mudah, dan 14 soal memiliki indeks tingkat
kesukaran sedang.
Persentase tingkat kesukaran pada soal-soal tes pilihan ganda ini yaitu
42,86 % soal sangat mudah, 17,14% soal mudah, dan 40% soal sedang.
Berikut persentase tingkat kesukaran digambarkan dalam grafik.

Tingkat Kesukaran Soal PG

sangat mudah
40% 43%
mudah
sedang
17%

c. Analisis pengecoh/ option pada setiap soal PG


Indeks pengecoh/ option dihitung dengan rumus :

𝑛𝑃𝑐
IPc = x 100%
𝑁−𝑛𝐵 /(𝐴𝑙𝑡 −1)

Ket : IPc = indeks pengecoh/ option


nPc = jumlah siswa yang memilih pengecoh/ option itu
N = jumlah seluruh subjek yang ikut tes
nB = jumlah subjek yang menjawab benar pada butir soal itu
Alt = banyak alternatif jawaban/ option (3, 4, atau 5)

Keterangan kualitas pengecoh/ option :


** kunci jawaban
++ sangat baik (IPc = 76% - 125% atau mendekati 100%)
+ baik (IPc = 51% - 75% atau 126% - 150%)
- kurang baik (IPc = 26% - 50% atau 151% - 175%)
-- buruk (IPc = 0% - 25% atau 176% - 200%)
--- sangat buruk (IPc = lebih dari 200%)

No 1
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 29 0 1
IPc 0% ** 0% 303%
Kualitas pengecoh -- ** -- ---

No 2
Option a b c d
Siswa yg memilih 1 1 0 28
IPc 151% 151% 0% **
Kualitas pengecoh - - -- **

No 3
Option a b c d
Siswa yg memilih 2 11 13 4
IPc 35% 194% ** 70%
Kualitas pengecoh - -- ** +

No 4
Option a b c d
Siswa yg memilih 30 0 0 0
IPc ** 0% 0% 0%
Kualitas pengecoh ** -- -- --
No 5
Option a b c d
Siswa yg memilih 2 0 27 1
IPc 200% 0% ** 100%
Kualitas pengecoh -- -- ** ++

No 6
Option a b c d
Siswa yg memilih 26 2 0 2
IPc ** 150% 0% 150%
Kualitas pengecoh ** + -- +

No 7
Option a b c d
Siswa yg memilih 2 0 3 25
IPc 120% 0% 180% **
Kualitas pengecoh ++ -- -- **

No 8
Option a b c d
Siswa yg memilih 28 2 0 0
IPc ** 298% 0% 0%
Kualitas pengecoh ** --- -- --

No 9
Option a b c d
Siswa yg memilih 7 3 17 3
IPc 161% 69% ** 69%
Kualitas pengecoh - + ** +
No 10
Option a b c d
Siswa yg memilih 3 22 1 4
IPc 112% ** 37% 149%
Kualitas pengecoh ++ ** - +

No 11
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 30 0 0
IPc 0% ** 0% 0%
Kualitas pengecoh -- ** -- --

No 12
Option a b c d
Siswa yg memilih 2 19 7 2
IPc 54% ** 190% 54%
Kualitas pengecoh + ** -- +

No 13
Option a b c d
Siswa yg memilih 1 0 2 27
IPc 100% 0% 200% **
Kualitas pengecoh ++ -- -- **

No 14
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 29 0 1
IPc 0% ** 0% 303%
Kualitas pengecoh -- ** -- ---
No 15
Option a b c d
Siswa yg memilih 1 0 29 0
IPc 303% 0% ** 0%
Kualitas pengecoh --- -- ** --

No 16
Option a b c d
Siswa yg memilih 8 2 3 17
IPc 184% 46% 69% **
Kualitas pengecoh -- - + **

No 17
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 1 3 26
IPc 0% 75% 225% **
Kualitas pengecoh -- + -- **

No 18
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 0 30 0
IPc 0% 0% ** 0%
Kualitas pengecoh -- -- ** --

No 19
Option a b c d
Siswa yg memilih 22 3 5 0
IPc ** 112% 187% 0%
Kualitas pengecoh ** ++ -- --
No 20
Option a b c d
Siswa yg memilih 2 22 6 0
IPc 74% ** 224% 0%
Kualitas pengecoh + ** --- --

No 21
Option a b c d
Siswa yg memilih 2 1 24 3
IPc 100% 50% ** 150%
Kualitas pengecoh ++ - ** +

No 22
Option a b c d
Siswa yg memilih 20 2 4 4
IPc ** 60% 120% 120%
Kualitas pengecoh ** + ++ ++

No 23
Option a b c d
Siswa yg memilih 3 19 4 4
IPc 81% ** 108% 108%
Kualitas pengecoh ++ ** ++ ++

No 24
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 27 2 1
IPc 0% ** 200% 100%
Kualitas pengecoh -- ** -- ++
No 25
Option a b c d
Siswa yg memilih 1 29 0 0
IPc 303% ** 0% 0%
Kualitas pengecoh --- ** -- --

No 26
Option a b c d
Siswa yg memilih 20 1 7 2
IPc ** 30% 210% 60%
Kualitas pengecoh ** - --- +

No 27
Option a b c d
Siswa yg memilih 13 1 14 2
IPc 243% 18% ** 37%
Kualitas pengecoh --- -- ** -

No 28
Option a b c d
Siswa yg memilih 20 1 7 2
IPc ** 30% 210% 60%
Kualitas pengecoh ** - --- +

No 29
Option a b c d
Siswa yg memilih 3 19 4 4
IPc 81% ** 108% 108%
Kualitas pengecoh ++ ** ++ ++
No 30
Option a b c d
Siswa yg memilih 4 13 5 8
IPc 70% ** 88% 141%
Kualitas pengecoh + ** ++ +

No 31
Option a b c d
Siswa yg memilih 1 0 1 28
IPc 149% 0% 149% **
Kualitas pengecoh + -- + **

No 32
Option a b c d
Siswa yg memilih 5 24 0 1
IPc 250% ** 0% 50%
Kualitas pengecoh --- ** -- -

No 33
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 2 12 16
IPc 0% 43% 257% **
Kualitas pengecoh -- - --- **

No 34
Option a b c d
Siswa yg memilih 0 1 29 0
IPc 0% 303% ** 0%
Kualitas pengecoh -- --- ** --
No 35
Option a b c d
Siswa yg memilih 1 0 0 29
IPc 303% 0% 0% **
Kualitas pengecoh --- -- -- **

B. Analisis Tes Essay


1. Analisis validitas tes essay
Analisis validitas rasional juga dilakukan untuk menganalisis soal essay
ini yaitu dengan validitas tampilan/ permukaan. Setelah membandingkan 5
soal essay dengan kriteria penulisan soal essay, soal tes ini sudah memenuhi
kriteria-kriteria tersebut. Dengan demikian, tes essay ini dapat dikatakan
valid.

2. Analisis reliabilitas tes essay


Setelah menganalisis tiap lembar jawaban soal essay setiap siswa (30
siswa) diperoleh skor tiap lembar jawaban dengan 3 macam skor : jumlah
skor total, jumlah skor soal bernomor ganjil, dan jumlah skor soal bernomor
genap (tabel analisis skor terdapat di lampiran). Dari jumlah skor ganjl dan
genap dicari koefesien korelasi ganjil-genap. Kemudian koefesien korelasi
tersebut digunakan untuk menghitung reliabilitas. Indeks reliabilitas berkisar
antara 0 - 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1),
makin tinggi pula keajegan/ketepatannya.
Rumus untuk mencari reliabilitas pada soal essay sama dengan rumus
untuk mencari reliabilitas pada soal pilihan ganda. Setelah melakukan
perhitungan diperoleh :

Koefesien korelasi genap-ganjil = 0.236875


Koefesien reliabilitas tes = 0.387096

Hasil koefesien reliabilitas tes essay menunjukkan bahwa tes ini sifatnya
tidak reliabel. Hal ini berarti soal essay pada tes ini tidak menghasilkan skor
yang konsisten. Apabila diteskan pada waktu dan situasi berbeda maka skor
yang dihasilkan dapat berbeda.

3. Analisis butir soal essay


a. Analisis daya pembeda setiap soal essay
Untuk menganalisis daya pembeda pada soal essay sama dengan
menganalisis daya pembeda pada soal PG. Skor total disusun dari yang
tertinggi hingga terendah. Ambil 27% siswa yang skor totalnya tinggi
(kelompok unggul atau atas) dan 27% siswa yang skor totalnya rendah
(kelompok asor atau bawah) sehingga diambil masing-masing kelompok
unggul dan asor 8 siswa. Kemudian dihitung jumlah jawaban yang benar,
baik pada kelompok unggul maupun pada kelompok asor (tabel analisis
skor terdapat di lampiran). Hal yang membedakan antara analisis daya
pembeda pada essay dengan analisis daya pembeda pada PG yaitu rumus
yang digunakannya.
Rumus untuk menghitung daya pembeda pada soal essay :

𝑆𝑈 − 𝑆𝐴
DP = x 100%
𝐸𝑈

Ket :
DP = indeks daya pembeda butir soal tertentu
SU = jumlah skor kelompok unggul pada butir soal yang diolah
SA = jumlah skor kelompok asor pada butir soal yang diolah
EU = jumlah skor ideal salah satu kelompok (unggul/asor) pada butir
soal yang sedang diolah
Kriteria daya pembeda pada soal essay sama dengan kriteria daya
pembeda pada soal PG (pilihan ganda).
Tabel Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal Essay
No Jumlah Jumlah
Daya Pembeda
Soal Benar Benar Ket DP
(DP)
Essay KU KA
36 8 2 75% sangat baik
37 6 2 50% sangat baik
38 8 8 0% sangat rendah
39 6 1 62,5% sangat baik
40 4 0 50% sangat baik

Hasil perhitungan tabel di atas menunjukkan indeks daya pembeda


soal essay terdiri dari sangat rendah dan sangat baik. Pada tes ini terdapat
satu soal yang indeks daya pembedanya sangat rendah dan empat soal
yang indeks daya pembedanya sangat baik. Soal dengan no 36, 37, 39, dan
40 dapat membedakan antara peserta didik yang belajar dengan yang tidak
belajar. Sedangkan soal no 38 sama sekali tidak dapat membedakan antara
peserta didik yang belajar dengan yang tidak belajar.

b. Analisis tingkat kesukaran setiap soal essay


Tabel skor yang digunakan untuk menghitung tingkat kesukaran sama
dengan tabel skor untuk menghitung daya pembeda. Hal yang
membedakan antara analisis tingkat kesukaran pada essay dengan analisis
tingkat kesukaran pada PG yaitu rumus yang digunakannya.
Rumus untuk menghitung tingkat kesukaran pada soal essay :

𝑆𝑈 − 𝑆𝐴
TK = x 100%
𝐸𝑈

Ket :
TK = indeks tingkat kesukaran butir soal tertentu
SU = jumlah skor kelompok unggul pada butir soal yang diolah
SA = jumlah skor kelompok asor pada butir soal yang diolah
EU = jumlah skor ideal pada kelompok unggul
EA = jumlah skor ideal pada kelompok asor
Kriteria tingkat kesukaran pada soal essay sama dengan kriteria
tingkat kesukaran pada soal PG.

Tabel Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal Essay


No Jumlah Jumlah Tingkat
Soal Benar Benar Kesukaran Ket TK
Essay KU KA (TK)
36 8 2 62.5% sedang
37 6 2 50% sedang
38 8 8 56.25% sedang
39 6 1 44% sedang
40 4 0 25% sukar

Berdasarkan tabel di atas, soal-soal essay pada tes ini memiliki indeks
tingkat kesukaran yang terdiri dari sedang dan sukar. Pada tes ini terdapat
empat soal (no 36, 37, 38, dan 39) yang memiliki indeks tingkat kesukaran
yang sedang dan satu soal (no 40) yang memiliki indeks tingkat kesukaran
yang sukar.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan analisis tes mulai dari analisis validitas hingga analisis
butir soal didapatkan hasil sebagai berikut.
1. Analisis Soal PG
a. Validitas
Hasil perhitungan validitas tampilan soal PG pada tes ini adalah 68,75%.
Ini artinya 68,75% soal yang secara tampilan valid. Tes ini sebesar
68,75% soal mengukur apa yang hendak diukur yaitu mengukur hasil
belajar IPA siswa SD kelas VI.
b. Reliabilitas
Koefesien reliabilitas tes sebesar 0,77 (cukup baik). Ini artinya tes ini
cukup reliabel atau ajeg. Tes ini cukup dapat menghasilkan skor yang
konsisten walaupun diujikan pada situasi dan waktu yang berbeda-beda.
c. Butir soal
1) Daya Pembeda
Persentase daya pembeda pada soal-soal tes ini yaitu 20% sangat
rendah, 17,14% rendah, 11,43% cukup baik, 28,57% baik, dan
22,86% sangat baik. Daya pembeda yang rendah tidak ada
manfaatnya, karena dapat merugikan peserta didik yang belajar
sungguh-sungguh. Oleh karena itu, soal-soal yang memiliki daya
pembeda yang rendah perlu direvisi atau diperbaiki sehingga soal-
soal tersebut dapat membedakan antara peserta didik yang
menguasai materi dengan yang tidak menguasai.
2) Tingkat Kesukaran
Persentase tingkat kesukaran pada soal-soal tes pilihan ganda ini
yaitu 42,86 % soal sangat mudah, 17,14% soal mudah, dan 40% soal
sedang. Pada tes ini tidak ada soal yang tingkat kesukarannya sukar.
Soal-soal yang tingkat kesukarannya sangat mudah sebaiknya
dibuang atau direvisi sehingga soal tersebut memuat tingkat
kesukaran mudah, sedang , dan sukar. Tes yang baik memuat kira-
kira 25 % soal mudah, 50 % sedang dan 25 % sukar.
3) Pengecoh/ option
Banyak soal yang pengecohnya tidak berfungsi, yang pengecohnya
sama sekali tidak ada siswa yang memilih. Selain itu, ada pengecoh
yang dipilih siswa jumlahnya hampir mendekati jumlah kunci
jawaban yang dipilih siswa. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa
pengecoh/ option-nya menyesatkan siswa. Tetapi ada beberapa soal
yang semua pengecohnya sudah berfungsi/ bermanfaat.

2. Analisis Soal Essay


a. Validitas
Berdasarkan tampilan/ permukaan, soal-soal essay pada tes ini sudah
sesuai dengan kriteria. Maka dari itu, tes ini dikatakan valid secara
rasional.
b. Reliabilitas
Hasil koefesien reliabilitas tes ini adalah 0.38. Angka tersebut
menunjukkan bahwa tes ini tidak reliabel.
c. Butir soal
1) Daya pembeda
Pada tes ini terdapat satu soal yang indeks daya pembedanya sangat
rendah dan empat soal yang indeks daya pembedanya sangat baik.
Soal dengan daya pembeda sangat rendah perlu direvisi yaitu soal no
38.
2) Tingkat kesukaran
Pada tes ini terdapat empat soal yang memiliki indeks tingkat
kesukaran sedang dan hanya satu soal yang memiliki indeks tingkat
kesukaran sukar. Soal essay pada tes ini tidak memuat indeks tingkat
kesukaran yang mudah. Suatu tes yang baik soal-soalnya memuat
kira-kira indeks tingkat kesukaran 20 % mudah, 50% sedang, dan
25% sukar.
B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil keseluruhan analisis tes, soal-soal pada tes ini sudah dapat
mengukur hasil belajar peserta didik tetapi pada tes ini masih terdapat
kekurangan pada beberapa soal. Soal-soal PG dan essay pada tes ini dapat
digunakan kembali dengan melakukan beberapa revisi atau perbaikan pada soal-
soal tersebut sehingga tes ini menjadi lebih obyektif dan efektif. Dengan
demikian, guru dapat membuat kumpulan soal yang dapat digunakan kembali
untuk melakukan evaluasi pembelajaran IPA kelas VI SD.
DAFTAR PUSTAKA

________. 2010. Panduan Analisis Butir Soal. [Online]. Tersedia :


http://gurupembaharu.com/home/panduan-analisis-butir-soal/ (24 Desember
2012)

Anisa, Alita arifiana . 2012. Analisis Kualitas Tes dan Butir Soal. [Online].
Tersedia : http://re-alitha.blogspot.com/2012/05/analisis-kualitas-tes-dan-
butir-soal.html (24 Desember 2012)

To, Karno. 2003. Mengenal Analisis Tes. Bandung : Jur PPB FIP UPI.

Wahyudin, Uyu. 2006. Evaluasi Pembelajaran SD. Bandung : UPI PRESS.