Anda di halaman 1dari 13

Makalah Konsep Dasar, Dampak, Komitmen Mencegah

dan Pemberantasan Korupsi


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Yang dibimbing oleh Ibu Yayik Sayekti

Disusun oleh :
Kelompok 10 Offering H
1. Siti Bachrotus Recha Nur Fa’ida 170342615509
2. Wulan Dwi Saputri 170342615523

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 BIOLOGI
Februari, 2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

BAB II PEMBAHASAN

2.1

2.2

2.3

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Konsep Dasar, Dampak,
Komitmen, Mencegah dan Pemberantasan Korupsi yang telah selesai tepat
pada waktunya.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkandari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah ini dapat memberikan
manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Malang, 4 Februari 2018

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia telah mengibarkan bendera dan menyatakan perang
mewan korupsi. Dalam kaitan itu, perang terhadap koruptor harus
dicanangkan sebagai gerakan kultural dan kepentingan nasional yang sangat
mendesak yang tidak perlu ditunda lagi.
Secara etimologi kata “Korupsi” berasal dari berasal dari bahasa latin
yaitu “Corruptio” atau “Corruptus” yang artinya penggambara suatu
rangkaian jahat, kata tersebut berarti merusak keutuhan. Korupsi juga
diartikan berbagai macam dari beberapa pihak namun pada akhirnya
disimpulkan bahwa korupsi merupakan sesuatu yang busuk, jahat dan
merusak, menyeleweng, tidak bermoral. Dengan demikian, perbuatan korupsi
merupakan perbuatan yang amoral (Hakim, 2016)

1.2 Rumusan Masalah


1. Analisislah faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi!
2. Langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat, maupun negara
dalam menanggulangi terjadinya tindak pidana korupsi baik secara
individu maupun kelompok?
3. Dampak apakah yang ditimbulkan oleh adanya korupsi baik perorangan
maupun kelompok terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun
bernegara?
4. Salah satu bentuk korupsi adalah perbuatan curang. Analisislah perbuatan
curang yang bisa dikategorikan ke dalam korupsi, termasuk misalnya
korupsi waktu, apakah juga termasuk tindakan korupsi? Berikan alasan
rasional dan upaya menanggulanginya.
5. Budaya korupsi sudah berlangsung sejak lama, bahkan mulai dari zaman
kerajaan di Indonesia sampai dengan masa sekarang (Era Reformasi).
Analisislah hal tersebut jika memang pertanyaan teersebut benar, apa
penyebabnya tumbuh menjadi budaya korupsi!

1.3 Tujuan
1. Mengetahui faktor-faktor terjadinya korupsi.
2. Mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan oleh masyarakat.
maupun negara dalam menanggulangi terjadinya tindak pidana korupsi,
baik secara individu maupun kelompok.
3. Mengetahu dampak yng ditimbulkan oleh adanya korupsi baik perorangan
maupun kelompok terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun
bernegara.
4. Menganalisis perbuatan curang yang bisa dikategorikan ke dalam korupsi,
termasuk korupsi waktu.
5. Menganalisis kebenaran bahwa korupsi sudah berlangsung sejak lama,
bahkan mulai dari zaman kerajaan di Indonesia sampai dengan masa
sekarang(Era Reformasi) dan penyebab tumbunya menjadi budaya korupsi
1. 4 Manfaat
1. Dapat mengetahui faktor-faktor terjadinya korupsi.
2. Dapat mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan ole masyarakat.
maupun negara dalam menanggulangi terjadinya tindak pidana korupsi,
baik secara individu maupun kelompok.
3. Dapat mengetahui dampak yng ditimbulkan oleh adanya korupsi baik
perorangan maupun kelompok terhadap kehidupan bermasyarakat,
berbangsa maupun bernegara.
4. Dapat menganalisis perbuatan curang yang bisa dikategorikan ke dalam
korupsi, termasuk korupsi waktu.
5. Dapat menganalisis kebenaran bahwa korupsi sudah berlangsung sejak
lama, bahkan mulai dari zaman kerajaan di Indonesia sampai dengan masa
sekarang(Era Reformasi) dan penyebab tumbunya menjadi budaya korupsi

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Faktor Penyebab Korupsi

Perbuatan atau tindak korupsi sebagai suati tindakan tidak terpuji yang
meletakkan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya di atas
kepentingn bangsa dan negara seerta cita-cita bangsanya. Tindakan korupsi
dapat terjadi di sektor swasta maupun sektor pemerintah, atau secara
kolaboratif dlakukan keduanya, sehingga merupakan tindakan yang tidak
berdiri sendiri. Faktor-faktor penyebab korupsi dilihat dari internal pelaku-
pelaku korupsi, yakni lingkungan, situasi atau kondisi yang kondusif bagi
seseorang untuk melakukan korupsi. Faktor-fktor penyebab korupsi dapat
dijelaskan sebagai berikut.

2.1.1 Faktor Internal

Faktor internal yaitu faktor pendorong seseorang melakukan tindak


korupsi yang berasal dari dalam diri pelaku. Faktor-faktor internal
tersebut dapat dirinci sebagai berikut.

a. Faktor Perilaku Individu


1. Berasal dari ketamakn/ kerusakan manusia.
Perilaku korupsi dilakukan karena seserorang memiliki
kekuasaan, kewenangan, dan jaringan jahat, oleh karenanya
korupsi merupakan suatu kejahatan yang dilkukan orang
professional, berkuasa, berwenang yang rakus, licik. Sudah
lebih kaya, tapi serakah, tamak dan rakus sehingga mempunyai
hasrat besar untuk memperkaya diri dan keluarganya.
2. Berasal dari Kelemahan Moral Pelaku.
Kelemahan moral seringkali mendorong pelaku korupsi
untuk tergoda untuk melakukan korupsi. Kelemahan dalam
menilai mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang
haram, mana yang halal.
3. Berasal dari gaya hidup yang konsumtif
Kehidupan yang bersifat materialistis, hedonis mendorong
seseorang bergaya hidup konsumtif yang didorong oleh
perilaku suka pamer. Perilaku konsumtif bila tidak diimbangi
dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang
seseorang untuk melakukan berbagai tindakan untuk
memenuhi keinginannya. Salah satunya yaitu korupsi.
b. Faktor Sosial
Perilaku korupsi dapat terjadi karena dorongan dari lingkungan
sekitar, dan lingkungan terdekat yaitu keluarga dan kerabat.
Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa tergantung dan saling
berhubungan dengan orang lain. Dalam hal ini perbuatan korupsi,
diberikan pada pengaruh keluarga secara kuat dan dapat
mengalahkan sifat baik dan bermoral dari individu. Lingkungan
terdekat berkontribusi memberi dorongan bukan malah hukuman
pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.

2.1.2 Faktor Eksternal

Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri pelaku
korupsi. Faktor eksternal ini sangat kompleks dan mempengaruhi
pelaku korupsi. Faktor eksternal korupsi yaitu meliputi.

a. Berasal dari sikap masyarakat terhadap korupsi


Pada kehidupan suatu organisasi biasanya jajaran manajemen
selalu menutupi tindak korupsi yang dilakukan olehsegelintir
oknum dalam organisasinya, dengan banyak alasan antara
lainmenjaga citra organisasi agar kelihatan di mata publik tetap
bersih. Akibat sifat tertutup ini pelanggaran korupsi justru terus
berjalan dengan berbagai bentuk. Oleh karena itu sikap masyarakat
yang berpotensi menyuburkan tindak korupsi terjadi karena banyak
nilai yang ada di masyarakat justru kondusif bagi tumbuh
kembangnya korupsi, kesadaran masyarakat akan korban korupsi
belum tepat, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk
memberantas korupsi.
b. Berasal dari faktor ekonomi
Keinginan untuk mencukupi kebutuhan adalah manusiawi,
tetapi kenyataannya banyak manusia yang tidak pernah memenuhi
kebutuhannya. Pada situasi demikian, dimana seseorang mengalami
kesulitan ekonomi, menjadi pendorong seseorang untuk korupsi
demi terpenuhinya kebutuhan bahkan keinginan mereka, dengan
cara apapun dengan menghalalkan berbagai cara seperti korupsi.
c. Berasal dari faktor politis
Korupsi terjadi karena faktor politis, kontrol sosial
merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mempengaruhi
orang-orang agar bertingkah laku sesuai dengan harapan
masyarakat. Kontrol sosial tersebut dijalankan dengan
menggerakkan berbagai aktivitas yang melibatkan penggunaan
kekuasaan negara, sebagai suatu lembaga yang diorganisasikan
secara politik melalui lembaga-lembaga yang dibentuknya. Dengan
demikian hal tersebut sangat berpotensi menyebabkan perilaku
korupsi.
d. Berasal dari faktor organisasi
Faktor organisasi tidak jarang medorong perilaku korupsi
pada anggota organisasi tersebut karena kurang adanya sikap
keteladanan pemimpin, kultur organisasi yang kurang benar, sistem
akuntabilitas yang tidak memadai, kelemahan sistem pengendalian
manajemen, dan lemahnya pengawasan pada berabagai instansi dan
kurangnya profesional pengawasan serta kurangnya kepatuhan
pada etika hukum maupun pemerintahan oleh pengawas sendiri.
2.2 Langkah-langkah Menanggulangi Terjadinya Korupsi
Seluruh negara pada prinsipnya telah menyatakan perang terhadap korupsi
dan koruptor, bahkan di banyak negara memberlakukan hukuman mati bagi
pelakunya, hal ini sebagai bukti bahwa Negara-negara di dunia menganggap
korupsi merupakan kejahatan luar biasa. Indonesia dalam rangka pencegahan
dan pemberantasan korupsi telah menyusun undang-undang tersendiri untuk
mencegah dan memberantas korupsi. Beberapa upaya lain yang harus
dilakukan untuk memberantas korupsi dan para koruptor yaitu membangun
strategi pemberantasan tindak korupsi. Beberapa strategi pemberantasan tindak
korupsi menurut Hongkong denga ICAC-nya, dengan tiga pendekatan yang
dapat dideskripsikan sebagai berikut.
A. Strategi preventiv
Strategi preventiv merupkan strategi yang dilakukan dalam upaya
pencegahan korupsi melalui perbaikan sistem dan prosedur dengan
membangun budaya organisasi yang mengedepankan prinsip-prinsip
fairness, transparency, accountability, and responsibility, yang
mampu mendorong setiap individu untuk melaporkan segala bentuk
korupsi yang terjadi.
B. Strategi Investigatif
Strategi investigative merupakan strategi yang dilakukan dalam
upaya memerangi korupsi melalui deteksi, investigasi dan penegakan
hukum terhadap para peku korupsi.
C. Strategi Edukatif
Strategi edukatif merupakan strategi yang dilakukan dalam upaya
pemberntasan korupsi dengan mendorong masyarakat untuk
mengambil bagian secara aktif memerangi korupsi sesuai dengan
kapasitas dan kewenangan masing-masing. Untuk itu, masyarakat
perlu ditanamkan nilia-nilai kejujuran, serta kebencian terhadap
korupsi melalui pesan-pesan morl (Kementrian Kesehatan RI.2014).
Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak
pidana korupsi menurut UU No.31 tahun 1999 antara lain adalah sebagai
berikut.
1. Hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya
dugaan tindak pidana korupsi.
2. Hak untuk memperoleh layanan dalam mencari, memperoleh, dan
memberikan informasi adanya dugaan tindak pidana korupsi
kepada penegak hukum.
3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab
kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana
korupsi.
4. Hak memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporan yang
diberikan kepada penegak hukum waktu paling lama 30 hari.
5. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum.
Strategi pemberantasan korupsi perlu terus dimantapkan agar tindak
pidana korupsi semakin diminimalkan dan akhirnya terhapus dari negeri ini.
Menurut hasil penyelidikan Transperency Internasional, Indonesia sudah
pada warna merah, artinya tingkat korupsinya tinggi, dari negara di dunia
yang diukur dari negara yang bersih dari korupsi Indonesia pada deretan
bawah yakni urutan 107, artinya negeri ini menempati tingkat korupsi yang
tinggi.

2.3 Dampak Korupsi terhadap Aspek Kehidupan

Korupsi merupakan tindakan jahat yang tidak bermoral, dengan adanya


korupsi maka banyak pihak-pihak yang merasa dirugikan. Sehingga korupsi
berdampak besar pada askpek kehidupan. Dampak-dampak korupsi tersebut
meliputi.

2.3.1 Dampak pada Aspek Ekonomi


Dampak korupsi berpengaruh pada pembangunan ekonomi
dengan membuat ketidakefisienan yang tinggi, juga dapat
berkurangnya investasi dari modal baik dari dalam negeri maupun luar
negeri karena para investor membayar biaya yang lebih tinggi atas
rencana investasinya, dikarenakan banyaknya biaya yang tidak perlu
dari semestinya dalam berinvestasi. Bagi masyarakat miskin terdapat
dua dampak yang saling bertaut satu sama lain. Pertama, damapak
langsung yang dirasakan oleh rakyat miskin yaitu semakin berat beban
hidup yang ditanggung, mahalnya jasa pelayanan publik, rendahnya
kualitas pelayanan, terjadi pembatasan akses terhadap pelayanan vital
seperti air, kesehatan, dan pendidikan. Kedua dampak yang secra tidak
langsung dirasakan oleh rakyat miskin yaitu pengalihan sumber daya
milik publik untuk kepentingan sendiri atau kelompok, yang
seharusnya diperuntukkan guna kemajuan sektor sosial dan orang
miskin.

2.3.2 Dampak pada Aspek Politik

Dampak pada aspek politik bahwa korupsi akan menghasilkan


pemerintahan dan pemimpin masyarakat yang tidak baik di mata
publik. Aspek politik berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan, dimana pemerintah merupakan sebuah kekuasaan besar
yang sangat berpengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, yang erat hubungannya dengan
pelayanan publik dan sebagai pelaksana jalannya roda pemerintahan
birokasi merupakan institusi yang rentan terhadap jerat korupsi yang
dapat melemahkan peran dan fungsinya sebagai tulang pungggung
negaara. Contoh kasus korupsi Gayus Tambunan, Naarudin, Anas
Urbaningrum, dan lain-lain yang berdampak menambah citra buruk
pejabat publik dengan kekuasaan politik yang dijalankan penuh
korupsi.

2.3.3 Dampak pada Aspek Sosial


Dampak korupsi pada aspek sosial berpengaruh negatif terhadap
rsa keadilan sosial dan kesetaraan sosial. Korupsi menyebabkan
perbedaan yang tajam diantara kelompok sosil dan individu baik
dalam hal pendapatan, kesejahteraan, kekuasaan dan lain-lain. Pada
aspek sosial korupsi berdampak pada pembagian yang tidak merata
dalam distribusi sumber-sumber. Banyak kajian menunjukkan si kaya
dan yang menyandang hak istimewa yang diuntukkan oleh korupsi
dan kaum miskin, orang pedesaan serta mereka yang kurang
beruntunglah yang dirugikan. Fakta menujukkan semakin tinggi
tingkat korupsi, semakin besar pula kejahatan yang terjadi di
masyarakat.

2.3.4 Dampak terhadap Penegakan Hukum

Penegakan hukum dilakukan melalui pembuatan peraturan


perundang-undangan lebih sempurna dengan harapan aparat penegak
hukum dapat menegakkan atau menjalankan hukum ersebut dengan
sempurna. Namun yang terjadi kenyataannya justru sebaliknya budaya
suap, penegak hukum korup telah menggerogoti kinerja aparat
penegak hukum dalam melakukan penegakan hukum sebagai
pelaksanaan produk hukum di Indonesia. Ungkapan penegakan hukum
di Indonesia “tumpul ke atas tajam ke bawah ” mengandung makna,
keadilan hukum dipeuntukkan bagi mereka yang kaya dan berkuasa,
sedangkan yang memiskin dan tak berdaya tidak akan mendapat
keadilan hukum. Demikian dampak korupsi dalam penegakkan
hukum.

2.3.5 Dampak terhadap Kerusakan Lingkungan

Korupsi yang merajalela di lingkungan pemerintah akan


menurunkan kredibilitas pemerintah yang berkuasa. Ia meruntuhkan
kepercayaan masyarakat terhadap berbagai tindakan pemerintah. Jika
suatu pemerintah tidak lagi mampu memberi pelayanan terbaik bagi
warganya, maka rasa hormat rakyat dengan sendirinya akan luntur.
Jika pemerintah justru memakmurkan praktik korupsi maka lenyap
pula unsur hormat dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahan.
Karenanya, praktik korupsi yang kronis menimbulkan demoralisasi di
kalangan masyarakat.

2.3.6 Dampak pada Aspek Birokasi Pemerintahan

Dampak korupsi pada aspek birokasi pemerintahan baik sipil


maupun militer, menyebabkan tidak efisiennya dan meningkatnya
biaya administrasi dlam birokrasi. Birokrasi merupakan kelompok
yang paling rawan terhadap tindak korupsi. Karena hakekatnya pada
birokrasilah kekuasaan dan kewenangan penyelenggaraan
pemerintahan berada untuk memenuhi kebutuhan semua warganya.
Korupsi politik, dilakukan penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan
senyatanya menciptakan dampak negatif terhadap kinerja suatu sistem
politik atau pemerintahan, yaitu:

1. Korupsi jelas mengganggu kinerja sistem politik yang


berlaku.

2. Publik cenderung meragukan citra dan kredibilitas suatu


lembaga yang diduga terkait dengan tindak korupsi.

3. Lembaga politik menjadi alat untuk menopang terwujudnya


berbagai kepentingan pribadi dan kelompok.

Dampak korupsi politik juga menghambat jalannya fungsi


pemerintah, sebagai pelaksana kebijakan negara, yaitu korupsi
menghambat peran negara dalam pengaturan alokasi, korupsi
menghambat negara melakukan pemerataan akses dan aset, korupsi
memperlemah peran pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi
dan politik. Berdasarkan kenyataan demikian, dapat disimpulkan
bahwa suatu pemerintahan yang penuh korupsi tidak akan
terselenggara pemerintahan yang layak karena penyelenggranya tidak
melaksanakan kewajiban.