Anda di halaman 1dari 15

Tugas

HUBUNGAN EKONOMI INTERNASIONAL DAN EKONOMI


MONETER INTERNASIONAL

OLEH KELOMPOK :

1. TENRY SYAWAL (A11114022)


2. SAMSUALAM (A11114028)
3. ASTY NUR NAZIRAH (A11114033)
4. FLORITA KARARBO (A11114703)
5. JUHASNI (A11115008)

ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018
Hubungan Ekonomi Internasional dan Ekonomi Moneter Internasional

Ekonomi Internasional merupakan suatu kajian yang mempelajari sistem perekonomian


dalam lingkup global. Ekonomi internasional memiliki prinsip-prinsip yang digunakan oleh
suatu negara untuk membangun kesejahteraan serta mendukung perkembangan negara ke arah
yang lebih maju. Dalam melakukan kegiatan perekonomian, tentunya diperlukan suatu sistem
yang berguna untuk mengatur jalannya sistem perekonomian itu sendiri. Salah satu contoh
sistem yang dibutuhkan oleh negara dalam melakukan interaksi dibidang ekonomi dengan
negara lain yakni adanya sistem moneter internasional, yang merupakan suatu sistem yang
berfungsi sebagai sarana stabilitas fluktuasi nilai tukar. Selain itu, sistem moneter internasional
juga dapat dikatakan sebagai penentu arah dalam hal perdagangan global, arus investasi asing,
ketergantungan suatu negara dengan negara lain dalam melakukan kerjasama ekonomi dan lain
sebagainya. Interaksi yang dilakukan oleh negara dengan negara lain dalam bidang ekonomi
membuat sistem moneter internasional menjadi penting untuk dikaji oleh penstudi hubungan
internasional.

Dominick Salvatore (2013) dalam tulisannya yang berjudul The International Monetary
System: Past, Present and Future menjelaskan, bahwa sistem moneter internasional merupakan
suatu aturan, fasilitas serta organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam sistem transaksi
ataupun pembayaran dalam level internasional (Salvatore, 2013). Salvatore (2013) menjelaskan
bahwa sistem moneter internasional dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yakni fixed
exchange rate dan floating exchange rate. Pembagian dua jenis sistem moneter tersebut
diklasifikasikan berdasarkan sistem nilai tukar penetapan standar serta aturan mengenai
cadangan aset yang ada dalam suatu negara (Salvatore, 2013). Dalam hal ini, Salvatore (2013)
berpendapat bahwa selain dua jenis klasifikasi yang telah disebutkan, terdapat pula sistem yang
menggabungkan antara fixed exchange rate dan floating exchange rate. Selain itu, sistem
moneter internasional yang ada juga harus memenuhi klasifikasi dalam mengatur arus
perdagangan sekaligus investasi dalam skala global agar keuntungan yang diperoleh dalam
sistem perekonomian dapat didistribusikan secara adil dan merata ke negara-negara yanga ada
dalam sistem internasional (Salvatore, 2013).

Lebih lanjut, Salvatore (2013) memiliki pandangan bahwa sistem moneter internasional
harus memiliki dan memenuhi syarat atas tiga komponen yang ada, yakni adjustment,
liquidity dan confidence. Dalam hal ini, adjustment merupakan suatu metode yang digunakan
oleh suatu negara untuk mengatasi ketidakstablian nilai tukar uang yang ada dalam suatu
negara. Selain nilai tukar, adjustment ini juga berfungsi untuk menstabilkan perekonomian
internasional yang meliputi ekspansi ekonomi dan fluktuasi transaksi yang ada dalam
perdagangan internasional. Liquidity merupakan cadangan atau pasokan dana yang digunakan
untuk mendanai suatu negara dalam melakukan perdagangan baik domestik maupun
internasional. Money supply yang terdapat dalam liquidity ini dapat dikatakan sebagai pengatur
cadangan finansial dalam perdagangan internasional. Confidence merupakan metode dalam
sistem moneter internasional yang bersifat regulatif, efisien dan integratif yang direalisasikan
melalui institusi untuk mewujudkan sistem perekonomian dunia yang stabil (Salvatore, 2013).

Robert Gilpin (1987) dalam tulisannya yang berjudul International Money


Matters menjelaskan, bahwa sistem moneter internasional yang pertama yakni terjadi pada
masa classical gold standard atau standarisasi logam emas sebagai nilai tukar dalam melakukan
sistem perdagangan dunia (Gilpin, 1987). Gilpin (1987) menjelaskan standarisasi emas pada
dasarnya memiliki sifat yang bertolak belakang dengan prinsip serta asumsi yang dimiliki oleh
ekonomi liberal yang otomatis, impersonal dan aktor yang terlibat bersifat simetris. Hal ini
dapat terjadi karena sistem moneter standarisasi emas membutukan pihak bank sentral yang
berfungsi sebagai pengatur dan pendistibusi dalam menjaga stabilitas nilai tukar yang ada.
Selain itu, sistem moneter internasional standarisasi emas membutuhkan seorang pemimpin
yang memiliki wewenang untuk mengatur stabilitas sistem moneter internasioanl dalam
perdagangan dunia. Standarisasi emas yang yang telah diberlakukan pada dasarnya memiliki
konsep dimana negara penganut harus menentukan harga emas dalam nilai tukar mata uang
yang dimilikinya, kemudian negara-negara dalam sistem standarisasi emas akan melakukan
kegiatan jual beli emas sesuai dengan nilai tukar mata uang yang telah ditetapkan atau
disepakati (Gilpin, 1987). Menambahkan, Jeffrey A Frieden (2006) dalam tulisannya yang
berjudul The Bretton-Woods in Action menjelaskan bahwa ada masa standarisasi emas, bank
sentral negara dituntut untuk memiliki cadangan emas serta menjaga agar cadangan emas yang
tersedia sesuai dengan jumlah uang yang dimiliki oleh negaranya. Sistem standarisasi emas
yang pernah menjadi sistem moneter internasional ini pertama kali diberlakukan pada tahun
1819 oleh Britania Raya (Frieden, 2006).

Selanjutnya, Salvatore (2013) menjelaskan bahwa sistem moneter standarisasi emas


mengalami keruntuhan yang diakibatkan oleh munculnya Perang Dunia I dan II. Hal ini dapat
terjadi karena perang menimbulkan berbagai macam kehancuran yang merugikan negara
sehingga mengalami keterpurukan dalam menjalankan sistem perekonomiannya (Salvatore,
2013). Kehancuran sistem moneter yang terjadi pada standarisasi emas diperparah dengan
adanya Great Depression yang terjadi pada tahun 1929 (Frieden, 2006). Namun pada tahun
1944, Amerika Serikat dan Inggris melakukan inisiasi dengan membentuk sistem moneter
internasional baru dalam konferensi keuangan dunia yang dihadiri oleh 44 negara dan
dilaksanakan di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Konferensi ini
menghasilkan keputusan dimana dollar yang dimiliki oleh Amerika Serikat menjadi nilai tukar
dalam melakukan ekonomi internasional. Selain itu, konferensi Bretton Woods ini juga
menghasilkan tiga institusi besar yang berfungsi untuk mengatur dan menjaga stabilitas
perekonomian dan perdagangan internasional, yakni IMF, World Bank dan GATT (Frieden,
2006). Namun pada tahun 1976, sistem Bretton Woods mengalami keruntuhan yang
mengakibatkan sistem moneter nilai tukar internasional disesuaikan dengan mekanisme yang
ada dalam pasar, yakni supply dan demand (Frieden, 2006).

Jadi berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan oleh penulis dapat diambil
kesimpulan, bahwa sistem moneter internasional merupakan suatu aturan, fasilitas serta
organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam sistem transaksi ataupun pembayaran dalam
level internasional. sistem moneter internasional dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian,
yakni fixed exchange rate dan floating exchange rate. Sistem moneter internasional harus
memiliki dan memenuhi syarat atas tiga komponen yang berfungsi untuk menjaga agar sistem
moneter dan nilai tukar tetap stabil, yakni adjustment, liquidity dan confidence. Sistem moneter
internasional mengalami dinamika dan perkembangan dari masa ke masa. Hal ini dapat dilihat
pada masa standarisasi emas, masa Perang Dunia, masa Bretton Woods dan masa pasca Bretton
Woods. Perkembangan yang ada dalam sistem moneter internasional dapat dikatakan sebagai
sarana dunia untuk membangun serta menjaga stabilitas perekonomian dan perdagangan
internasional.
Resume Jurnal “Financial Development and Economic Growth: A Case of Indian
Economy”

Perkembangan Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi: Kasus Ekonomi India

ABSTRAK

Pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang tinggi membutuhkan mobilisasi


sejumlah besar tabungan dan kemudian alokasinya ke aset/proyek pengembalian
tertinggi. Untuk efisiensi tersebut, sistem keuangan yang berkembang dengan baik
selalu menjadi persyaratan. Upaya dalam penelitian ini telah dilakukan untuk menguji
apakah perkembangan sektor keuangan di ekonomi India sejak tahun 1981 telah
memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang ekonomi. Untuk tujuan
ini, sebuah indeks pengembangan keuangan telah diformulasikan dengan menggunakan
analisis komponen utama, dengan menggunakan variabel dari sektor perbankan maupun
pasar saham, yang menangkap hampir keseluruhan sistem keuangan. Studi ini
memanfaatkan data yang terbentang dari tahun 1981-2011 termasuk jeda tahun 1991
ketika sistem keuangan India mengalami reformasi keuangan yang penting. PDB pada
dolar AS konstan telah digunakan sebagai variabel proxy untuk pertumbuhan ekonomi
negara ini. Dua pendekatan variabel Engle-Granger telah digunakan untuk mengetahui
hubungan ekuilibrium jangka panjang antara perkembangan keuangan dan pertumbuhan
ekonomi dalam konteks ekonomi India. Studi menegaskan hubungan jangka panjang
antara perkembangan keuangan dan pertumbuhan ekonomi di India. Namun, Error
Correction Model (ECM) tidak mendukung hubungan jangka pendek.

1. PENGANTAR

Setiap ekonomi memerlukan sistem keuangan yang canggih dan efisien untuk
maju karena sistem keuangan yang sehat sama sekali tidak bersumber dari fundamental
ekonomi yang baik. Sistem keuangan dalam ekonomi memanfaatkan sumber daya
produktif yang tersedia untuk mempromosikan pembentukan modal. Sistem keuangan
yang berkembang dengan baik dapat menyalurkan sumber daya ke proyek yang paling
sesuai dan produktif. Memastikan alokasi dana yang optimal untuk mencapai proyek
investasi yang sesuai merupakan agenda utama bagi sistem keuangan suatu
negara. Mobilisasi dan penyatuan tabungan, mengurangi pertukaran barang dan jasa
adalah fitur utama dari sistem keuangan yang berkembang dengan baik. Semakin
berkembang sistem keuangannya, semakin tepat alokasi dana akumulasi.

Penyebaran dana pada proyek investasi dengan return tinggi merupakan basis
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pengembangan keuangan mendorong pertumbuhan
ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap
akumulasi modal dan faktor produksi atau saluran efisiensi. Hubungan antara
perkembangan keuangan dan pertumbuhan ekonomi telah diperlakukan secara luas
dalam penelitian teoritis dan empiris. Pengembangan sektor keuangan mencakup
financial widening dan financial deepening. Hal ini dapat berupa peningkatan kuantitas,
kualitas dan efisiensi layanan intermediasi keuangan. Pengembangan keuangan
merupakan perbaikan dalam layanan keuangan yang memfasilitasi akses yang lebih
besar terhadap perantara keuangan, pengurangan asimetri informasi yang mengarah ke
alokasi yang lebih baik, diversifikasi yang lebih baik, pemantauan manajer yang lebih
baik dan tingkat kontrol perusahaan yang tinggi yang membantu pengurangan risiko.

2. HUBUNGAN KEUANGAN-PERTUMBUHAN

Hubungan antara perkembangan keuangan dan pertumbuhan ekonomi tetap


menjadi isu perdebatan sengit sejak lama. Perkembangan keuangan telah ditelusuri
kembali ke Schumpeter (1911) yang menunjukkan peran positif perkembangan
keuangan dalam pertumbuhan ekonomi. Sejak saat itu, telah mendapat perhatian besar
dalam literatur teoritis dan empiris. Ada kepercayaan kuat di kalangan ekonom dan
analis bahwa perkembangan keuangan memegang peranan penting dalam pertumbuhan
ekonomi. Pembangunan keuangan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
terutama melalui dua saluran. Pertama, dengan meningkatkan efisiensi akumulasi modal
yang mengarah pada peningkatan produktivitas marjinal modal; dan kedua, dengan
meningkatkan tingkat tabungan dan karenanya investasi melalui peningkatan jumlah
lembaga keuangan yang berkinerja baik. Saluran efisiensi telah dipertimbangkan lebih
kuat. Dalam literatur, faktor-faktor spesifik telah diidentifikasi yang memperhitungkan
pengaruh pertumbuhan finansial pada pertumbuhan ekonomi. Pengembangan pasar
keuangan ( i ) mengurangi biaya transaksi dan memfasilitasi risiko manajemen, (ii)
memobilisasi dan menggaet tabungan, (iii) memudahkan pertukaran barang dan jasa,
(iv) menyediakan informasi yang diperlukan untuk investasi yang mungkin, dan (v)
memantau investasi dan menjalankan tata kelola perusahaan.

3. TINJAUAN PUSTAKA

Sejumlah besar literatur ada yang mempelajari hubungan antara perkembangan


keuangan dan pertumbuhan ekonomi. Banyak penelitian dalam literatur telah mengakui
hubungan positif dan signifikan antara keduanya. Secara umum, ada empat pandangan
mengenai perhubungan pertumbuhan keuangan. Pandangan pertama menunjukkan
bahwa ada dampak positif dari perkembangan keuangan terhadap pertumbuhan
ekonomi suatu negara.Pandangan ini diajukan oleh Schumpeter (1911), Gurley dan
Shaw (1955), Goldsmith (1969), Hicks (1969), McKinn on (1973). Banyak empiris
terbaru seperti Thornton (1994), Ahmed & Ansari (1998), Calderon & Liu (2003),
Bhattacharya & Sivasubramanian (2003), Fase & Abma (2003), Christopoulos & Tsioa
(2004), Liu & Hsu (2006), Yang & Yi (2008), Ang (2008), Wadud (2009),
Esso (2010), Bittencourt (2012), Bojanic (2012) dan Hussain & Chakraborty (2012) (dal
am kasus negara India) dan lain-lain telah menganalisis peran aktif yang dimainkan oleh
sektor keuangan maju dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang lain adalah sisi
permintaan, yang menekankan bahwa hubungan pertumbuhan keuangan ada
dalam sebab terbalik. Robinson (1952), Friedman dan Schwartz (1963), Jung
(1986) mendukung pandangan ini. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa permintaan
akan jasa keuangan yang ditimbulkan dari pertumbuhan ekonomi merupakan faktor
pendorong bagi perkembangan sektor keuangan. Dengan kata lain, permintaan akan
layanan keuangan meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi
yang sesungguhnya.

4. RUANG LINGKUP DAN TUJUAN STUDI

Literatur yang meneliti peran pembangunan di sektor keuangan dalam


mendorong pertumbuhan ekonomi didominasi oleh studi lintas negara dan
panel. Mungkin karena kurangnya data deret waktu untuk sebagian besar negara
berkembang bahwa studi deret waktu empiris untuk negara ndividual kurang. Meskipun,
studi empiris baru-baru ini seperti Bhattacharya &
Sivasubramanian (2003), Hondroyianniset. Al. (2005), Liang & Teng (2006), Liu &
Hsu (2004), Ang & Mckibbin (2007), Yang & Yi
(2007), Ang (2008), Adamopoulos (2008), Handa & Khan (2008) , Abu-Bader & Abu-
Qarn (2008), Wolde-Rufael ( 2009), Anwar & Nguyen (2009), Chimobi (2010), Answer
& Sun (2011), Bojanic (2012) tersedia, namun hanya sedikit yang berfokus pada
ekonomi India. Studi ini menawarkan kontribusi terhadap literatur yang ada dalam
kasus ekonomi India dengan mengembangkan indeks pengembangan keuangan
komposit dengan menggunakan analisis komponen utama. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menganalisis hubungan kausal jangka panjang antara perkembangan
keuangan dan pertumbuhan ekonomi dalam konteks India. Pendekatan time series
menggunakan VAR (Vector Auto Regresif) telah digunakan untuk menganalisis
hubungan dinamis jangka pendek juga.Sebuah terobosan telah dimasukkan dalam studi
ini sehingga dapat mengakomodasi reformasi keuangan penting yang mungkin
berdampak pada hubungan tersebut.

5. DATABASE DAN METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan data time series yang mencakup periode 1981-2011
yang mencakup periode 30 tahun. Data tersebut telah dikeluarkan dari database World
Development Indicators (2011) oleh Bank Dunia, Statistik Keuangan Internasional
(2011) oleh Dana Moneter Internasional dan Buku Pegangan Statistik (2011) yang
diterbitkan oleh Reserve Bank of India. Untuk tujuan mengukur tingkat perkembangan
keuangan dalam perekonomian, indeks pengembangan keuangan (INDEX) telah
dirumuskan. Sepanjang, berbagai proksi (variabel) untuk mengukur perkembangan
keuangan telah digunakan dalam literatur yang ada. Setelah mengeksplorasi semua ini,
penelitian kami mencoba mengukur perkembangan keuangan di India dengan
mengambil beberapa variabel ini sebagai proxy, dan membangun indeks komposit
(INDEX) pengembangan keuangan. Enam variabel proxy yang mewakili pasar uang
dan pasar modal, telah dipertimbangkan. Variabel ini adalah total bisnis perbankan
(rasio (total kredit + total simpanan) terhadap PDB), rasio kredit, rasio monetisasi
(M3/GDP), rasio nilai tukar (nilai saham diperdagangkan/PDB), rasio omset (nilai dari
saham yang diperdagangkan/kapitalisasi pasar saham), rasio kredit terhadap sektor
swasta terhadap PDB.
Teknik Principal Component Analysis (PCA) telah digunakan untuk
mengembangkan indeks komposit (INDEX). Keuntungan menggunakan teknik ini
untuk membangun sebuah indeks adalah dengan menggunakan satu variabel komposit
berdasarkan pembebanan faktor yang diberikan oleh komponen utama pertama (yang
menjelaskan varians maksimum dalam data), daripada menggunakan berbagai variabel
yang berkorelasi.

PDB riil, yaitu PDB dengan harga konstan, telah digunakan sebagai ukuran
pertumbuhan. Untuk menangkap dampak pemutusan struktural yang diakibatkan oleh
penerapan kebijakan liberalisasi, privatisasi, dan globalisasi, variabel dummy (D1)
dengan nilai nol sampai dengan 1991 dan 1 kemudian telah digunakan. Inilah tahun
dimana pecahnya pertumbuhan ekonomi yang telah terdeteksi. Logaritma natural dari
semua variabel telah digunakan sehingga mencapai stasioner pada urutan keteraturan
yang lebih rendah.

6. KESIMPULAN

Penelitian ini merupakan usaha untuk menguji hubungan kausal jangka panjang
antara perkembangan keuangan dan pertumbuhan ekonomi jika terjadi di India. Di sini,
sebuah usaha telah dilakukan untuk menyelidiki peran aktif akses luas terhadap
keuangan dan pengembangan keuangan dalam bentuk peningkatan efisiensi modal
dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hasil empiris berdasarkan co integration
dan ECM memberikan bukti hubungan ekuilibrium jangka panjang antara
perkembangan keuangan dan pertumbuhan ekonomi jika terjadi ekonomi India. Hasil
jelas menggambarkan kausalitas jangka panjang dari perkembangan finansial hingga
pertumbuhan ekonomi. Tapi selama periode singkat yang bersangkutan, tidak ada
hubungan seperti itu yang telah disimpulkan dari ECM. Namun, temuan ini adalah
spesifik ekonomi India dan generalisasi apapun dari hal ini dapat
menyesatkan. Implikasi kebijakan yang diambil dari temuan ini adalah; Perhatian harus
diberikan pada kebijakan seperti penciptaan baru dan peningkatan di lembaga keuangan
yang ada baik di pasar perbankan maupun pasar saham sambil menyusun kebijakan
ekonomi jangka panjang. Selain itu, dummy signifikan dan positif yang ditemukan
dalam waktu singkat menyiratkan bahwa India perlu terus melakukan reformasi sektor
keuangan dari waktu ke waktu sehingga dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Resume Jurnal “A Simple Framework for International Monetary Policy Analysis”

Kerangka Sederhana untuk Analisis Kebijakan Moneter Internasional

ABSTRAK

Kami mempelajari masalah kebijakan moneter internasional dua-negara dalam


mengoptimalkan harga, dimana masing-masing negara menghadapi perdagangan jangka
pendek antara output dan inflasi. Model ini cukup mudah untuk dipecahkan secara
analitis. Kami menemukan itu di Nash ekuilibrium, masalah kebijakan untuk masing-
masing bank sentral adalah isomorfis terhadap yang akan dihadapinya jika itu adalah
ekonomi tertutup. Keuntungan dari kerja sama muncul, bagaimanapun, itu berasal dari
dampaknya aktivitas ekonomi asing pada biaya produksi marjinal domestik. Sementara
di bawah Nash bank sentral hanya perlu menyesuaikan tingkat suku bunga sebagai
respons terhadap inflasi domestik, di bawah kerja sama mereka harus merespon inflasi
asing juga. Dalam skenario kedua, fleksibel nilai tukar yang diinginkan.

1. PERKENALAN

Adanya perdagangan jangka pendek output antara dan inflasi adalah


pusat hambatan bagi kelancaran pengelolaan kebijakan moneter. Dalam perekonomian
terbuka, tentu saja, ada komplikasi tambahan: Tidak hanya harus bank sentral
ambil memperhitungkan nilai tukar dalam situasi ini, namun berpotensi juga umpan
balik tanggapan bank sentral asing terhadap tindakan kebijakannya.

Dalam tulisan ini kami meninjau kembali masalah klasik ini dengan
mengembangkan dua negara sederhana model yang berguna untuk analisis kebijakan
internasional. Konsisten dengan banyak Literatur terbaru, kerangka kerja kami berbasis
optimasi dan cukup mudah ditaati mengakui sebuah solusi nalytical . Dalam sebagian
besar pekerjaan ini (terutama pekerjaan itu murni analitis), pengaturan harga nominal
dilakukan pada periode per periode, memimpin untuk dinamika yang sangat tidak
realistis. Kami malah menggunakan model penetapan harga terhuyung itu telah menjadi
pekerja keras analisis kebijakan moneter dalam ekonomi tertutup, danmenambahnya
dengan membiarkan untuk perdagangan jangka pendek dengan cara yang tidak
berkorban traktilitas. Dengan demikian, kita dapat menyelidiki secara kualitatif
implikasinya pertimbangan internasional untuk manajemen kebijakan moneter tanpa
harus abstrak dari masalah pokok yaitu perdagangan off pose.

Kerangka kerja kami pada dasarnya adalah sebuah versi dua negara dari
ekonomi terbuka kecil model yang kami kembangkan di Clarida dkk. (CGG) (2001),
yang pada gilirannya didasarkan pada Galí dan Monacelli (1999). Dalam tulisan ini
kami menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu Masalah kebijakan moneter isomorfik
terhadap masalah ekonomi tertutup belajar di CGG (1999). Dalam setting ini, sesuai
dengan wawasan kualitatif Manajemen kebijakan moneter sangat mirip dengan apa
yang muncul untuk ekonomi tertutup. Pertimbangan internasional, bagaimanapun,
mungkin memiliki implikasi kuantitatif, seperti keterbukaan tidak mempengaruhi
parameter model dan dengan demikian koefisien yang optimal kebijakan umpan balik.
Selain itu, keterbukaan menimbulkan perbedaan penting antara keduanya inflasi indeks
harga konsumen (c.p.i.) dan inflasi domestik. Sampai ada dengan nilai tukar yang
sempurna, kami menemukan bahwa bank sentral harus menargetkan inflasi domestik
dan memungkinkan nilai tukar melayang, terlepas dari dampak inflasi menghasilkan
variabilitas nilai tukar pada c.p.i.

Dalam setting dua negara yang kita pelajari di sini, masalah kebijakan moneter
sensitif dengan sifat interaksi strategis antara bank sentral. Dengan tidak adanya kerja
sama (kasus 'Nash'), hasil 'isomorfisma' kami sebelumnya dipertahankan. Setiap negara
menghadapi masalah kebijakan yang secara kualitatif sama dengan yang
tertutup ekonomi akan hadapi. Kerangka dua negara, meskipun, memungkinkan kita
untuk mengkarakterisasi nilai tukar ekuilibrium dan menggambarkan secara konkret
bagaimana perdagangan jangka pendek mati pertimbangan meningkatkan keinginan
nilai tukar fleksibel.

Hasil isomorfisma yang ketat, bagaimanapun, rusak saat kita


membiarkannya kemungkinan koordinasi moneter internasional. Ada potensi
keuntungan dari kerja sama dalam kerangka kerja kita, meskipun sifatnya agak
berbeda daripada ditekankan dalam literatur tradisional, karena mereka adalah sisi
penawaran. Secara khusus, biaya produksi marjinal domestik dan output potensial
domestik tergantung pada syarat perdagangan, yang pada gilirannya tergantung pada
aktivitas ekonomi asing. Dengan mengkoordinasikan kebijakan untuk memperhitungkan
tumpahan ini lebih dari itu, bank sentral pada prinsipnya bisa meningkatkan
kesejahteraan Seperti yang kita tunjukkan, koordinasi mengubah ekuilibrium Nash
menjadi sederhana dan cara mudah. Antara lain, kami menunjukkan bahwa itu
mungkin menerapkan kebijakan optimal yang di koordinasi dengan masing-masing
bank sentral Kaji aturan umpan balik tingkat suku bunga dari bentuk yang optimal di
bawah Nash (a jenis aturan Taylor), namun ditambah untuk merespon inflasi luar negeri
maupun inflasi domestik.

2. MODEL

Kerangka kerja ini merupakan varian dari model New Keynesian yang dinamis
yang diterapkan pada ekonomi terbuka, dengan semangat banyak
menerima literatur . Ada dua negara, rumah dan asing, yang berbeda ukuran tapi
sebaliknya simetris. Negara asal (H) memiliki massa rumah tangga 1 - γ dan negara
asing (F) memiliki massa γ. Jika tidak preferensi dan teknologi sama di seluruh negara,
meskipun guncangan mungkin terjadiberkorelasi tidak sempurna di setiap negara,
rumah tangga mengkonsumsi makanan dalam negeri diproduksi baik dan barang
impor. Rumah tangga di kedua negara juga ada akses ke sekumpulan sekuritas Arrow-
Debreu yang bisa diperdagangkan keduanya di dalam negeri dan internasional.

Produksi dalam negeri berlangsung dalam dua tahap. Pertama, ada rangkaian
dari perusahaan barang setengah jadi, masing-masing menghasilkan masukan material
yang berbeda. Terakhir produsen barang kemudian menggabungkan input ini menjadi
output, yang mereka jual rumah tangga. Produsen barang menengah adalah pesaing
monopoli yang masing-masing menghasilkan produk terdiferensiasi dan menetapkan
harga nominal secara staggered. Terakhir produsen barang sangat kompetitif. Kami
berasumsi bahwa jumlah final barang perusahaan di masing-masing negara sama
dengan jumlah rumah tangga. Padahal, kita menormalisasi jumlah perusahaan barang
setengah jadi di negara masing-masing.

Hanya harga nominal yang lengket. Seperti diketahui, dengan tidak adanya friksi
lainnya, dengan pengaturan harga forward forward forward tidak ada perdagangan
jangka pendek off antara output dan inflasi. Untuk memperkenalkan perdagangan
jangka pendek off dengan cara yang analitis penurut, kita berasumsi bahwa rumah
tangga memiliki beberapa kekuatan pasar di pasar tenaga kerja , dan kemudian
mengenalkan variasi eksogen dalam kekuatan pasar ini sebagai cara mudah untuk
melakukannya menghasilkan tekanan dorongan biaya pada inflasi.

3. KESEIMBANGAN

Kita mulai dengan mengkarakterkan equilibrium conditional pada


output. Bagaimana modelnya ditutup tergantung pada perilaku harga dan kebijakan
moneter. Kami pertama ciri keseimbangan harga yang fleksibel, dimana solusi yang
tepat tersedia, dan kemudian beralih ke kasus pengaturan harga terhuyung, yang
perkiraan solusi tersedia.

3.1. Equilibrium dengan harga yang fleksibel

Kami mempertimbangkan ekuilibrium dengan harga fleksibel dimana tanda


upahnya up adalah tetap di nilai steady-state 1 + μʷ. Kami fokus pada kasus ini karena
kami ingin mendefinisikan mengukur tingkat output alami yang memiliki fitur fluktuasi
siklik konstruksi ini tidak mencerminkan variasi tingkat efisiensi (oleh karena itu kita
mematikannya variasi dalam tanda upah naik). Pendekatan ini juga masuk akal jika kita
pikirkan variasi dalam tanda upah up sebagai berdiri di untuk rigiditas upah.

Selain itu, kita membuat perbedaan antara ekuilibrium yang muncul saat harga
fleksibel di rumah, mengambil output luar negeri seperti yang diberikan, dan yang
muncul ketika harga fleksibel di seluruh dunia. Kami menyebut yang pertama sebagai
''domestik keseimbangan harga yang fleksibel'' dan yang terakhir sebagai (hanya) ''harga
ekuilibrium yang fleksibel''. Perbedaan antara kedua konsep ini menjadi sangat relevan
saat kita bandingkan Nash versus keseimbangan kooperatif.

3.2. Dinamika keseimbangan di bawah harga yang lengket

Kami sekarang mengekspresikan sistem dengan harga yang lengket sebagai


log aproksimasi linier tentang keadaan mapan yang menentukan perilaku bersyarat di
jalan untuk nominal suku bunga. Kami menggunakan variabel huruf kecil untuk
menunjukkan penyimpangan log dari deterministik steady state.
4. KESEJAHTERAAN DAN KEBIJAKAN YANG OPTIMAL: KASUS NON-
KOPERASI

Pada bagian ini kami menganalisis masalah bank sentral domestik yang
berusaha memaksimalkan utilitas rumah tangga domestik, sambil mengambil seperti
yang diberikan ekonomi asing aktivitas. Kami berasumsi bahwa otoritas fiskal memilih
tingkat subsidi yang membuat tingkat output alami sesuai dengan tingkat efisiensi
dalam inflasi nol yang stabil negara. Secara khusus, kami berasumsi bahwa otoritas
fiskal memilih tingkat subsidi τ bahwa memaksimalkan utilitas rumah tangga dalam
keadaan stabil inflasi nol (yaitu, dengan tidak adanya guncangan biaya-dorongan),
sambil mengambil sebagai variabel asing yang diberikan.

5. EKUILIBRIUM KOOPERATIF

Selanjutnya kita anggap kebijakan optimal di bawah kerja sama. Kami


berasumsi bahwa keduanya bank sentral setuju untuk menerapkan kebijakan yang
memaksimalkan rata-rata tertimbang utilitas rumah tangga dan rumah tangga asing,
dengan bobot yang ditentukan oleh ukuran relatif dari dua ekonomi. Sedangkan di
bawah Nash, setiap bank sentral merancang yang optimal kebijakan mengambil
ekonomi negara lain seperti yang diberikan, dalam hal ini ada yang
eksplisit koordinasi. Seperti yang kita tunjukkan lebih jauh, keuntungan dari koordinasi
kebijakan berasal dari efek aktivitas ekonomi asing terhadap biaya produksi marjinal
domestik.

6. PENUTUP

Sebuah kebajikan dari kerangka kerja kita adalah bahwa kita dapat memperoleh
hasil analisis yang tajam, sementara masih memungkinkan setiap bank sentral
menghadapi perdagangan jangka pendek off antara output daninflasi, berbeda dengan
sebagian besar literatur yang ada. Tentu saja, kami memperoleh ini hasil dengan
membuat beberapa asumsi kuat. Akan sangat diinginkan untuk
mempertimbangkan Implikasi dari relaksasi asumsi ini, termasuk: memungkinkan untuk
tidak sempurna berbagi risiko konsumsi, harga ke pasar, dan perdagangan input
menengah. Kita temukan mengingat yang terakhir ini sangat menarik, karena akan
memberi tambahan efek keterbukaan pada biaya marjinal, yang merupakan jalan di
model kita yang melaluinya ada keuntungan dari kerja sama.

Akhirnya, sementara kita telah mempertimbangkan keuntungan dari kerja sama,


kita belum mempertimbangkannya Keuntungan dari komitmen yang muncul dalam
varian ekonomi tertutup kita kerangka kerja (lihat, misalnya,Clarida et al., 1999;
Woodford, 1999). Ini sangat mudah memungkinkan komitmen, dan kami berharap hal
itu akan menghasilkan beberapa hal menarik implikasi terhadap perilaku nilai tukar
ekuilibrium.