Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial
maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat dan
juga sebaliknya,perkembangan ilmu dapat memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat
telah berhasil merubah pola pikir bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan
mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia
beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi para dewa. Karena itu
para dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Dengan
filsafat pola pikir yang selalu tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang
bergantung pada rasio. Kejadian alam seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai
kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh
matahari, bulan, dan bumi pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan
menimpa sebagian permukaan bumi.
Menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu bertujuan membahas dan
mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan
pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Pembahasan filsafat ilmu sangat
penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat
ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-
nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis,
epistemologis maupun aksiologi.
Untuk itulah penulis mencoba memaparkan mengenai tujuan dan manfaat
filsafat ilmu sehingga diharapkan para pembaca dapat memahami pentingnya filsafat
ilmu dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa hubungan filsafat dengan ilmu ?
2. Apa manfaat filsafat dalam perkembangan ilmu pengetahuan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian filsafat dan ilmu.
2. Untuk mengetahui apa hubungan filsafat dengan ilmu.
3. Untuk mengetahui apa manfaat filsafat dalam perkembangan ilmu
pengetahuan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia : philein yang
artimya cinta, mencintai, sedangkan philosa artinya pecinta, kata sophia berati
kebijaksanaan atau hikmat. Dengan demikian filsafat artimya cinta akan
kebijaksanaan atau pecinta kebijaksanaan. Filsafat dalam segi Bahasa: Philos = cinta
atau suka, sophia = pengetahuan atau kebenaran, maka philosophia adalah cinta pada
pengetahuan / kebijakan / kebenaran.Secara umum Filsafat adalah pandangan hidup
seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan
yang dicita-citakan.Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pencari
kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminalogi sangat beragam. Para filsuf merumuskan
pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang
dimilikinya.Berbicara tentang kelahiran dan perkembangan filsafat pada awal
kelahirannya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan (ilmu) pengethauan yang
munculnya pada masa peradaban kuno (masa yunani).

B. Pengertian Ilmu
Pengertian Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan alam manusia.
Sedangkan Pengertian Pengetahuan adalah informasi yang telah diproses dan
diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang
terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan ke dalam masalah/proses bisnis tertentu.
Lalu Pengertian Ilmu Pengetahuan Secara umum adalah suatu sistem berbagai
pengetahuan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan

3
secara teliti dengan menggunakan metode-metode tertentu. Secara etimologi, ilmu
berasal dari bahasa arab dari kata ilm yang berarti memahami, mengerti, atau
mengetahuai. Jadi dapat artikan bahwa ilmu pengethuan adalah memahami suatu
pengetahuan.

C. Hubungan Filsafat dengan Ilmu


Secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu kesatuan,
namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih
kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada upaya untuk
memposisikan keduanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing,
bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan
keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah intelektual manusia.
Ada kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan
antara ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu
dan filsafat, disamping dikalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan pandangan
dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu, dimikian juga dikalangan filsuf terdapat
perbedaan pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat. Menurut Sidi
Gazalba ada dua tugas filsafat yang tidak ada pada ilmu yaitu (1) Refleksi terhadap
dunia menyeluruh, khususnya terhadap makna, tujuan, dan nilai; (2) Menguji
pengertian-pengertian, baik yang dipakai oleh ilmu atau oleh anggapan umum secara
kritis. (Gazalba, 1992)
Adapun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah
bahwa keduanya menggunakan metode berpikir reflektif dalam upaya
menghadapi/memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal- hal tersebut
baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berpikiran terbuka serta sangat komitmen
pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisir dan
sistematis. Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan titik
tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat analitis dan
deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi, eksperimen dan

4
klasifikasi data pengalaman indra serta berupaya untuk menemukan hukum- hukum
atas gejala-gejala tersebut, sedangkan filsafat berupaya mengkaji pengalaman secara
menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam
berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan sinoptis dan
kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan secara menyeluruh
dan utuh, filsafat lebih tertarik pada pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam
mempertanyakan masalah hubungan antara fakta khusus dengan skema masalah yang
lebih luas, filsafat juga mengkaji hubungan antara temuan-temuan ilmu dengan klaim
agama, moral, dan seni.
Perbedaan ilmu dan filsafat secara jelas dapat diamati pada tabel berikut.

ILMU FILSAFAT
Mengkaji bidang yang Mengkaji pengalaman secara
terbatas menyeluruh, bersifat inklusif
Ilmu lebih bersifat analitis Bersifat sintetis dan sinoptis
dan deskriptif dalam
pendekatannya
Ilmu menggunakan Pertanyaan kenapa dan
observasi, eksperimen dan
bagaimana dalam
klasifikasi data pengalaman
mempertanyakan masalah
indera hubungan antara fakta khusus
dengan skema masalah yang
lebih luas
Berupaya untuk Mengkaji hubungan antara
menemukan hukum-hukum temuan-temuan ilmu dengan
atas gejala-gejala klaim agama, moral, dan seni
Kebenarannya sepanjang Kebenarannya sepanjang
pengalaman pemikiran

Dengan memperhatikan paparan tersebut nampak bahwa filsafat mempunyai


batasan yang lebih luas dan menyeluruh ketimbang ilmu, ini berarti bahwa apa yang
sudah tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat berupaya mencari jawabannya,

5
bahkan ilmu itu sendiri bisa dipertanyakan atau dijadikan objek kajian filsafat
(Filsafat Ilmu), namun demikian filsafat dan ilmu mempunyai kesamaan dalam
menghadapi objek kajiannya yakni berpikir reflektif dan sistematis, meski dengan
titik tekan pendekatan yang berbeda.
Dengan demikian, ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat
dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak
bisa dijawab oleh ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama
merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat
dan jawabannya bersifat mutlak/dogmatis. Menurut Sidi Gazalba, Pengetahuan ilmu
lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset dan/atau eksperimen); batasnya
sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan
filsafat: segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami
(bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun demikian ia juga mencoba
memikirkan sesuatu yang diluar alam, yang disebut oleh agama “Tuhan”. (Gazalba,
1992).

D. Manfaat Filsafat dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan


Tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika
(kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian). Oleh
karena itu, dengan berfilsafat, seseorang akan lebih menjadi manusia, karena terus
melakukan perenungan akan menganalisa hakikat jasmani dan hakikat rohani
manusia dalam kehidupan di dunia agar bertindak bijaksana. Dengan berfilsafat
seseorang dapat memaknai makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi
maupun sosial.
Kebiasaan menganalisis segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan
dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan
objektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga
mampu meraih kualitas, keunggulan dan kebahagiaan hidup.
Belajar filsafat akan melatih seseorang untuk mampu meningkatkan kualitas

6
berfikir secara mandiri, mampu membangun pribadi yang berkarakter, tidak mudah
terpengaruh oleh faktor eksternal, tetapi disisi lain masih mampu mengakui harkat
martabat orang lain, mengakui keberagaman dan keunggulan orang lain. Dengan
berfilsafat manusia selalu dilatih, dididik untuk berpikir secara universal,
multidimensional, komprehensif, dan mendalam.
Belajar filsafat akan memberikan dasar-dasar semua bidang kajian
pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis atau pemahaman atas hakikat
kesatuan semua pengetahuan dan kehidupan manusia lebih dipimpin oleh
pengetahuan yang baik. Berfilsafat ialah berusaha menemukan kebenaran tentang
segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius. Plato menghendaki
kepala negara seharusnya seorang filsuf. Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk
latihan untuk memperoleh kemampuan memecahkan masalah secara serius,
menemukan akar persoalan yang terdalam, menemukan sebab terakhir satu
penampakan. Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan
memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari, memberikan pandangan
yang luas, merupakan sarana latihan untuk berpikir sendiri, memberikan dasar-dasar
untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan
dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.
Manfaatnya filsafat adalah sebagai alat mencari kebenaran dari gejala fenomena
yang ada, mempertahankan, menunjang dan melawan/berdiri netral terhadap
pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan
hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang
berguna dalam kehidupan. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan.
Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek
kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dll.
Jadi untuk memahami landasan filosofik dalam memahami berbagai konsep dan
teori suatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah.
Selanjutnya dikatakan pula bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam 2 fungsi, yaitu:
Sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendeskripsikan relasi normatif antara

7
hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupa menjelaskan
berbagai fenomena kecil ataupun besar sederhana.
Manfaat lainnya dalam kaitannya terhadap ilmu:
1. Agar tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual;
2. Kritis terhadap aktivitas ilmu / keilmuan;
3. Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus menerus
sehingga ilmuwan tetap berada dalam koridor yang benar;
4. Mempertanggungjawabkan metode keilmuwan secara logis dan rasional;
5. Memecahkan masalah keilmuwan secara cerdas dan valid;
6. Berfikir sintesis aplikatif (lintas ilmu kontekstual);

Manfaat lain filsafat ilmu dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara
gading”yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengaitkannya
dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Padahal setiap aktivitas keilmuwan
nyarisnyaris tidak dapat dilepaskan dalam konteks kehidupan sosial
kemasyarakatan. Jadi filsafat ilmu diperlukan kehadirannya di tengah
perkembangan IPTEK yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu
pengetahuan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmumaka para ilmuwan akan
menyadari keterbatasan dirinya dan tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi
intelektual. Hal yang diperlukan adalah sikap keterbukaan diri di kalangan
ilmuwan sehingga mereka dapat saling menyapa dan mengarahkan seluruh
potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan umat manusia.
2. Mengembangkan ilmu, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai ontologis.
Melalui paradigma ontologism diharapkan dapat mendorong pertumbuhan
wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme segala
ilmu.

8
3. Mengembangkan ilmu, teknologi dan pertindustrian dalam batasan nilai
epistemologis. Melalaui paradigma epistemologis diharapkan akan mendorong
pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap
ilmiah.
4. Mengembangkan ilmu, teknologi dan perindustrian dalam batasan akiologi.
Melalui paradigma aksiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-
nilai etis, serta mendorong perilaku adil dan membentuk moral tanggung jawab.
Segala macam ilmu dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan unntuk
kepentingan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek semua sebagai
sumber kehidupan.
5. Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berpikir dan
bersikap sempit dan tertutup.
6. Menjadikan diri bersifat dinamis dan terbuka dalam menghadapi berbagai
problem.
7. Menyadari akan kedudukan manusia baik sebagai pribadimaupun dalam
hubungannya dengan orang lain, alam sekitar,dan Tuhan YME.
8. Filsafat ilmu bermanfaat untuk menjelaskan keberadaan manusia di dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan alat untuk
membuat hidup menjadi lebih baik
9. Filsafat ilmu bermanfaat untuk membangun diri kita sendiri dengan berpikir
secara radikal (berpikir sampai ke akar-akarnya), kita mengalami dan menyadari
keberadaan kita.
10. Filsafat ilmu memberikan kebiasaan dan kebijaksanaan untuk memandang dan
memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang
hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi
melihat pemecahannya.
11. Filsafat ilmu memberikan pandangan yang luas, sehingga dapat membendung
egoisme dan ego-sentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan
kepentingan dan kesenangan diri sendiri).

9
12. Filsafat ilmu mengajak untuk berpikir secara radikal, holistik dan sistematis,
hingga kita tidak hanya ikut-ikutan saja, mengikuti pada pandangan umum,
percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis
menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, dengan
cita-cita mencari kebenaran.
13. Filsafat ilmu memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama
dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi,
ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.
14. Filsafat ilmu bermanfaat sebagai pembebas. Filsafat bukan hanya sekedar
mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai
mitos dan mite, melainkan juga merenggut manusia keluar dari penjara itu.
Filsafat ilmu membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis dan
dogma.
15. Filsafat ilmu membantu agar seseorang mampu membedakan persoalan yang
ilmiah dengan yang tidak ilmiah.
16. Filsafat ilmu memberikan landasan historis-filosofis bagi setiap kajian disiplin
ilmu yang ditekuni.
17. Filsafat ilmu memberikan nilai dan orientasi yang jelas bagi setiap disiplin ilmu.
18. Filsafat ilmu memberikan petunjuk dengan metode pemikiran reflektif dan
penelitian penalaran supaya manusia dapat menyerasikan antara logika, rasio,
pengalaman, dan agama dalam usaha mereka dalam pemenuhan kebutuhannya
untuk mencapai hidup yang sejahtera.
19. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap
metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara
logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.
20. Menghindarkan diri dari memutlakan kebenaran ilmiah, dan menganggap bahwa
ilmu sebagai satu-satunya cara memperoleh kebenaran
21. Menghidarkan diri dari egoisme ilmiah, yakni tidak menghargai sudut pandang
lain di luar bidang ilmunya.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berfikir guna mencapai kebaikan dan
kebenaran, berfikir dalam filsafat bukan sembarang berfikir namun berpikir
secara radikal sampai ke akar-akarnya.

2. Persesuaian antara ilmu dan filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan


metode berpikir reflektif dalam upaya memahami fakta-fakta dunia dan
kehidupan. Oleh karena itu filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berpikiran
terbuka serta sangat komitmen pada kebenaran, disamping perhatiannya pada
pengetahuan yang terorganisir dan sistematis.

3. Manfaatnya filsafat adalah sebagai alat mencari kebenaran dari gejala fenomena
yang ada, mempertahankan, menunjang dan melawan/berdiri netral terhadap
pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup,
pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan
etika yang berguna dalam kehidupan. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman
untuk kehidupan. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam
berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dll.

B. Saran
Sudah selayaknya kita mengoptimalkan akal ini untuk berfikir, jangan sampai
kita terus memanjakan akal ini dengan berfikir hal – hal yang mudah, sekali –
kali marilah kita belajar Filsafat, agar akal ini mampu berkembang dan berfikir
secara dalam. ingatlah perkataan dari KH. Abdul Rahmat bahwa seorang
pahlawan itu adalah orang yang mampu berfikir secara dalam dan mempunyai
pandangan yang luas.

11
DAFTAR PUSTAKA

Aris Setiyani. HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAIN.


Jurnal Doctoral Management Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat : UMB

DR. W. Poespoprodjo, SH.,SS.,BPh.,LPh. 1999. Filsafat Moral. Bandung : CV


Pustaka Grafika

Drs.H.Burhanuddin Salam. 2000. Pengantar Filsafat. Jakarta : PT.Bumi Aksara

Drs, Muhammad As Said, M.Pd.I. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta:


Mitra Pustaka

Setya Widyawati. FILSAFAT ILMU SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN


ILMU PENDIDIKAN. Jurnal Mahasiswa Jurusan Seni Tari Fakultas Seni
Pertunjukan ISI Surakarta, Volume 11 No. 1 Juli 2013, Surakarta : ISI

Sidi Gazalba, 1992. Sistimatika Filsafat Jilid 1-2. Jakarta: Bulan Bintang

Widyawati. Manfaat Filsafat ilmu sebagai Landasan Pendidikan .http://jurnal.isi-


ska.ac.id/index.php/gelar/article/viewFile/1441/1415. Diakses 18 Agustus 2017

12